Anda di halaman 1dari 12

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur saya panjatkan keadirat Tuhan Yesus Kristus karena atas cinta dan

kasih-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan “Makalah Tentang Banjir”. Harapan dari

penulis adalah semua isi dari penulis adalah semua isi ini dapat dipahami oleh pembaca, dan juga

sebagai informasi.

Namun dalam hal ini penulis menyadari sebagai manusia yang punya keterbatasan dan

masih banyak kekurangan, sekalipun dikerahkan segala kemampuan untuk lebih teliti, tapi masih

dirasakan banyak kekurangtepatan, oleh karena itu penulis menarapkan saran yang membangun

agar tulisan ini lebih bermanfaat bagi yang membutuhkan.

Tomohon, 28 Agustus 2019

Penulis
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Banjir adalah peristiwa tergenang dan terbenamnya daratan (yang biasanya

kering) karena volume air yang meningkat. Hampir seluruh negara di dunia mengalami

masalah banjir, tidak terkecuali di negara-negara yang telah maju sekalipun.

Penyebab banjir biasanya dikarenakan adanya curah hujan yang tinggi, permukan tanah

yang lebih rendah dibandingkan permukaan laut, pemukiman yang membangun pada

dataran sepanjang sungai atau kali, adanya sampah sehingga aliran sungai tidak lancar.

Di saat sekarang ini masyarakat sudah tidak peduli lagi terhadap lingkungan hidup

tempat mereka tinggal. Hal ini telihat dari semakin sedikitnya masyarakat yang peduli

terhadap kelestarian lingkungan. Banyak masyarakat yang masih membuang sampah

sembarangan juga menggundulkan hutan.

Merusak lingkungan atau mengeksploitasi lingkungan secara berlebihan dapat

menyebabkan terjadinya banjir.

Berdasarkan kondisi dan keadaan di lingkungan tersebut, kami menyusun makalah ini

agar masyarakat memiliki kesadaran tersendiri bahwa menjaga kebersihan dan

kelestarian lingkungan itu sangat penting.


BAB III

PEMBAHASAN

A. Definisi Banjir

Banjir didefinisikan sebagai tergenangnya suatu tempat akibat meluapnya air

yang melebihi kapasitas pembuangan air disuatu wilayah dan menimbulkan kerugian

fisik, sosial dan ekonomi (Rahayu dkk, 2009). Banjir adalah ancaman musiman yang

terjadi apabila meluapnya tubuh air dari saluran yang ada dan menggenangi wilayah

sekitarnya. Banjir adalah ancaman alam yang paling sering terjadi dan paling banyak

merugikan, baik dari segi kemanusiaan maupun ekonomi (IDEP, 2007).

Banjir adalah suatu kondisi dimana tidak tertampungnya air dalam aliran

pembuang (palung sungai) atau terhambatnya aliran air di dalam saluran pembuang,

sehingga meluap menggenangi daerah (dataran banjir) sekitarnya (Suripin 2003 dalam

Setyowati 2016)

B. Faktor-Faktor Penyebab Banjir

Penyebab timbulnya banjir pada dasarnya dapat dibedakan menjadi tiga

faktor (Yulaelawati dan Usman 2018) yaitu :

1. Pengaruh aktifitas manusia, seperti :


a. Pemanfaatan dataran banjir yang digunakan untuk pemukiman dan

industry.

b. Pengundulan hutan dan kemudian mengurangi resapan pada tanah dan

meningkatkan larian tanah permukaan.

c. Permukaan didataran banjir dan pembangunan didaerah dataran banjir dan

mengubah saluran-saluran air yang tidak direncanakan dengan baik.

d. Membuang sampah sembarangan dapat menyumbat saluran-saluran air,

terutama di perumahan-perumahan.

2. kondisi alam yang bersifat tetap (statis) seperti :

a. Kondisi geografi yang berada pada daerah yang sering terkena badai atau

siklon.

b. Kondisi topografi yang cekung, yang merupakan dataran banjir.

c. Kondisi alur sungai, seperti kemiringan dasar sungai yang datar, berkelok-

kelok, timbulnya sumbatan atau berbentuk seperti botol (bottle neck) dan

adanya sedimentasi sungai membentuk sebuah pulau (ambal sungai).

3. peristiwa alam yang bersifat dinamis, seperti :

a. Curah hujan yang tinggi

b. Terjadinya pembendungan atau arus balik yang sering terjadi dimuara

sungai atau pertemuan sungai besar

c. Penurunan muka tanah atau amblesan

d. Pendangkalan dasar sungai karena sedimentasi yang cukup tinggi.


C. Dampak Banjir

Mistral (2007) mengungkapkan bahwa dampak banjir akan terjadi pada beberapa

aspek dengan tingkat kerusakan berat pada aspek-aspek berikut :

1. Aspek Penduduk, antara lain berupa korban jiwa/meninggal, hanyut, tenggelam,

luka-luka, korban hilang, pengungsian, berjangkitnya wabah dan penduduk

terisolasi.

2. Aspek Pemerintahan, antara lain berupa kerusakan atau hilangnya dokumen,arsip,

peralatan, perlengkapan kantor dan terganggunya jalan pemerintahan.

3. Aspek Ekonomi, antara lain berupa hilangnya mata pencaharian, tidak

berfungsinya pasar tradisional, hilangnya harta benda, ternak dan terganggunya

perekonomian masyarakat.

4. Aspek Sarana dan prasarana, antara lain berupa kerusakan rumah penduduk,

jembatan, jalan, bangunan, gedung perkantoran, fasilitas social dan fasilitas

umum, instalasi listrik, air minum dan jaringan komunikasi.

5. Aspek Lingkungan, antara lain berupa keruskan ekosistem, objek wisata,

persawahan atau lahan pertanian, sumber air bersih dan kerusakan tanggul atau

jaringan irigasi.

Disamping itu, dampak banjir juga menimbulkan beberapa penyakit (Depkes

2014) diantaranya:

1. Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA)

2. Diare

3. Penyakit kulit
4. Kecelakaan (tersengat listrik, tenggelam, terbawah arus)

5. Leptospirosis

6. Konjungtivitas

7. Gigitan binatang

D. Jenis-Jenis Banjir

Ada 3 tiga jenis banjir yang umumnya terjadi. Ketiga jenis tersebut (Yulaelawati dan

Usman, 2008) adalah :

1. Banjir bandang

Banjir bandang adalah banjir besar yang terjadi secara tiba-tiba dan berlansung

hanya sesaat. Banjir bandang umumnya terjadi hasil dari curah hujan berintensitas

tinggi dengan durasi (jangka waktu) pendek yang menyebabkan debit sungai naik

secara cepat.

2. Banjir sungai

Banjir sungai biasanya disebabkan ole curah hujan yang terjadi di daerah aliran

sungai (DAS) secara luas dan berlangsung lama. Selanjutnya air sungai yang ada

meluap dan menimbulkan banjir dan menggenangi daerah disekitarnya.

3. Banjir pantai

Banjir ini berkitan dengan adanya badai siklon tropis dan pasang surut air laut.

Banjir besar yang terjadi dari hujan sering diperburuk oleh gelombang badai yang

diakibatkan oleh angin yang terjadi disepanjang pantai.


E. Upaya Penanggulangan Banjir

Ada upaya yang harus dilakukan petugas kesehatan sebelum, saat dan setelah terjadi

banjir (Depkes, 2014) adalah:

1. Sebelum banjir

a. Membuat peta rawan dan jalur evakuasi

b. Menyusun rencana kontijensi (perencanaan kegiatan penanggulangan

bencana yang disusun sebelum bencana terjadi).

c. Meningkatkan kegiatan penyuluhan kesehatan lingkungan

d. Membentuk tim kesehatan disetiap jejaring administrasi

e. Menyiapkan obat dan logistic kesehatan lain, (PAC, Kaporit, kantong

sampah, dll)

f. Meningkatkan kemampuan petugas dengan pelatihan

g. Menyiapkan sarana komunikasi dan transportasi

h. Menyiapkan perlengkapan lapangan (tenda velbet, genset, dll)

2. Saat Banjir

a. Mengaktifkan unit pelayanan kesehatan dan membuat pos kesehatan di

lokasi.

b. Memberikan pelayanan kesehatan dan rujukan

c. Melakukan penilaian cepat kesehatan (Rapid Helth Assessment)

3. Setelah Banjir

a. Melakukan perbaikan kualitas air bersih

b. Melakukan surveilans penyakit potensi

c. Membantu perbaikan kualitas jamban dan saluran pembuangan limbah.\


F. Cara Menanggulangi Banjir

1. Memfungsikan sungai dan selokan sebagaimana mestinya. Karena sungai dan

selokan merupakan tempat aliran air, jangan sampai fungsinya berubah menjadi

tempat sampah.

2. Larangan membuat rumah di dekat sungai. Biasanya, yang mendirikan rumah di

dekat sungai adalah para pendatang yang datang ke kota besar hanya dengan

modal nekat. Akibatnya, keberadaan mereka bukannya membantu peningkatan

perekonomian, akan tetapi malah sebaliknya merusak lingkungan. Itu sebabnya

pemerintah harus tegas, melarang membuat rumah di dekat sungai dan melarang

orang-orang tanpa tujuan tidak jelas datang ke kota dalam jangka waktu lama atau

untuk menetap.

3. Menanam pohon dan pohon-pohon yang tersisa tidak ditebangi lagi. Karena pohon

adalah salah satu penopang kehidupan di suatu kota. Banyangkan, bila sebuah kota

tidak memiliki pohon sama sekali. Apa yang akan terjadi? Pohon selain sebagai

penetralisasi pencemaran udara di siang hari, sebagai pengikat air di saat hujan

melalui akar-akarnya. Bila sudah tidak ada lagi pohon, bisa dibayangkan apa yang

akan terjadi bila hujan tiba.

G. Cara Penanggulangan Banjir

Ketika banjir datang, selalu terjadi saling menuding tentang siapa yang salah. Di

lain pihak, para ahli cendekia lalu sibuk mengeluarkan pendapat tentang apa dan

mengapa terjadi banjir. Ketika banjir surut, perhatian akan banjir ikut surut pula.

Kemudian ribut-ribut lagi ketika musim berganti dan banjir datang berulang.

Secara filosofis, ada tiga metode penanggulangan banjir.


Pertama, memindahkan warga dari daerah rawan banjir. Cara ini cukup mahal dan

belum tentu warga bersedia pindah, walau setiap tahun rumahnya terendam banjir.

Kedua, memindahkan banjir keluar dari warga. Cara ini sangat mahal, tetapi sedang

populer dilakukan para insinyur banjir, yaitu normalisasi sungai, mengeruk endapan

lumpur, menyodet-nyodet sungai. Faktanya banjir masih terus akrab melanda

permukiman warga.

Ketiga, hidup akrab bersama banjir. Cara ini paling murah dan kehidupan sehari-hari

warga menjadi aman walau banjir datang, yaitu dengan membangun rumah-rumah

panggung setinggi di atas muka air banjir.

Secara normatif, ada dua metode penanggulangan banjir.

Pertama, metode struktur yaitu dengan konstruksi teknik sipil, antara lain membangun

waduk di hulu, kolam penampungan banjir di hilir, tanggul banjir sepanjang tepi

sungai, sodetan, pengerukan dan pelebaran alur sungai, sistem polder, serta

pemangkasan penghalang aliran.

Anggaran tak seimbang dalam pertemuan-pertemuan antarpemangku kepentingan

(stakeholder) tentang penanggulangan banjir, telah ada political will dari pemerintah,

yaitu akan melaksanakan penanggulangan banjir secara hibrida, dengan melaksanakan

gabungan metode struktur dan nonstruktur secara simultan. Bahkan, telah dibuat dalam

perencanaan jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Namun, dalam

implementasinya, penanggulangan banjir yang dilakukan pemerintah masih sangat

sektoral, alokasi anggaran antarsektor tidak seimbang. Anggaran penanggulangan


banjir metode struktur alias konstruksi teknik sipil lebih besar dibandingkan dengan

anggaran metode nonstruktur yang lebih berbasis masyarakat.

.
BAB III

PENUTUP

A. KESIMPULAN

Bencana banjir ini sangatlah rawan dan banyak terjadi di berbagai daerah di negeri

kita, misalnya di Jakarta, Bandung, dan kota lainnya yang tidak kalah besar dan

banyak memakan korban.

Sebenarnya penyebab utama dari banjir itu adalah akibat dari perbuatan manusia

sendiri, misalnya saja adanya penebangan pohon secara liar di hutan, maka terjadilah

banjir, kemudian adanya pembuangan sampah sembarangan sehingga mengakibatkan

aliran air tersumbat, maka terjadilah banjir.

Cara yang paling efektif untuk mencegah banjir adalah dengan adanya sikap atau

perilaku menjaga kebersihan lingkungan hidup kita. Dan cara yang efektif untuk

menganggulangi ketika terjadinya banjir adalah membuat rumah akrab banjir.

B. SARAN

a. Saran dari penyusun adalah “Marilah Kita Menjaga Lingkungan Ini Agar Tidak

Terjadi Hal-hal yang Tidak Diinginkan Semisal Banjir”.

b. Lingkungan ini adalah lingkungan kita yang penting untuk dijaga kebersihan dan

kelestariannya untuk meningkatkan kualitas hidup kita.

c. Jaga kebersihan dan kelestarian lingkungan juga merupakan kewajiban bagi kita

agar terhindar dari bencana banjir yang akan membawa bencana yang lainnya,

seperti kematian yang diakibatkan penyakit yang menyerang saat banjir.


DAFTAR PUSTAKA

A, Ritonga. 2001. Lingkungan Hidup. Jakarta: Lembaga Penerbit FEUI.

Brown, L.R. 1992. Penanggulangan Banjir. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Darmawijaya, Isa. 1990. Bencana Banjir. Yogyakarta: Gajahmada University Press.

http://www.google.co.id/search?hl=id = banjir+laut+pasang =UTF (24 Januari 2013)

http://yuliee.wordpress.com/2010/02/20/pengertian-banjir/ (24 Januari 2013)

http://www.g-excess.com/499/pengetahuan-penyebab-banjir/ (24 Januari 2013)

http://pinrangword.blogspot.com/2012/08/cara-mencegah-banjir.html (24 Januari 2013)

http://blogger-indonessia.blogspot.com/2012/01/cara-mengatasi-banjir-html (24 Januari 2013)

http://solusibsjirindonesia.wordpress.com/2012/04/28/jenis-jenis-banjir/ (24 Januari 2013)

http://etijaulighani.blogspot.com/2012/10/pengertian-penyebab-dampakaidan-cara.html (24
Januari 2013)