Anda di halaman 1dari 17

MAKALAH

Keperawatan Bencana
“ Kecelakaan Transportasi’’

DISUSUN OLEH :

Kelompok5
Khoiromi putri sari
Kurnia syafitri khaz
Lisa
Muhamad abdul kodir

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


STIKes PAYUNG NEGERI
PEKANBARU
2019
KATA PENGANTAR

Penulis mengucapkan syukur kehadirat Allah Swt, hanya karena izin-


Nya makalah ini dapat diselesai tepat pada waktunya. Shalawat dan salam
penulis ucapkan kepada jujungan Nabi Muhammad saw beserta keluarganya,
para sahabatnya dan seluruh insan yang dikehendakinya. Penulisan makalah
ini bertujuan untuk memenuhi tugas Keperawatan bencana. Materi di dalam
makalah ini menguraikan tentang kecelakaan transportasi.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen
KeperawatanBiostatistik Ns.Dendy Kharisn, M.Kep..Penulis menyadari
bahwa makalah ini masih banyak terdapat kekurangan baik dari segi
penyusunan bahasa maupun aspek lainnya. Jadi, penulis mengharapkan kritik
dan saran dari pembaca.
Penulis berharap makalah ini dapat bermanfaat dan membuka
wawasan pembaca, sehingga dapat memahami tentangKonsep Dasar
Statistikdan pembaca dapat mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dari
makalah ini.

Pekanbaru, Oktober 2019

Kelompok5

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................. i


DAFTAR ISI ............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ............................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .......................................................................... 2
C. Tujuan Penulisan ........................................................................... 3
BAB II PEMBAHASAN
A. Konsep teori kecelakaan transportasi ............................................. 4
B. Sitem penanggulangan bencana ..................................................... 5
C. Kebutuhan korban kecelakaan transportasi .................................... 6
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan .................................................................................... 7
B. Saran .............................................................................................. 7
DAFTAR PUSTAKA ............................................................................... 8

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia yang terdiri dari gugusan kepulauan mempunyai potensi
bencana yang sangat tinggi dan juga sangat bervariasi dari aspek jenis
bencana. Kondisi alam tersebut serta adanya keanekaragaman penduduk
dan budaya di Indonesia menyebabkan timbulnya resiko terjadinya
bencana alam, bencana ulah manusia dan kedaruratan kompleks, meskipun
disisi lain juga kaya akan sumberdaya alam. Pada umumnya risiko
bencana alam meliputi bencana akibat factor geologi (gempa bumi,
tsunami dan letusan gunung api), bencana akibat hydrometeorology
(banjir, tanah longsor, kekeringan, angina topan),bencana akibat factor
biologi (wabah penyakit manusia, penyakit tanaman/ternak, hama
tanaman) serta kegagalan teknologi (kecelakan industri, kecelakaan
transportasi, radiasi nuklir, pencemaran bahan kimia). Bencana akibat ulah
manusia terkait dengan konflik antar manusia akibat perebutan
sumberdaya yang terbatas, alasan ideologi, religius serta politik.
Sedangkan kedaruratan kompleks merupakan kombinasi dari situasi
bencana pada suatu daerah konflik. Kompleksitas dari permasalahan
bencana tersebut memerlukan suatu penataan atau perencanaan yang
matang dalam penanggulangannya,
sehingga dapat dilaksanakan secara terarah dan terpadu.
Penanggulangan yang dilakukan selama ini belum didasarkan
padalangkah-langkah yang sistematis dan terencana, sehingga seringkali
terjadi tumpang tindih dan bahkan terdapat langkah upaya yang penting
tidak tertangani.Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang
Penanggulangan Bencana mengamanatkan pada pasal 35 dan 36 agar
setiap daerah dalam upaya penanggulangan bencana, mempunyai
perencanaan penanggulangan bencana. Secara lebih rinci disebutkan di
dalam Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2008 tentang

1
Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana. Kecelakaan lalu lintas
merupakan fenomena yang sering terjadi, hal ini disebabkan oleh
kecenderungan para pengemudi angkutan umum maupun kendaraan
pribadi untuk mengambil jalan pintas dengan tujuan agar laju
kendaraannya tidak tersendat atau terjebak kemacetan dan mengejar
waktu. Kecenderungan tersebut adalah salah satu faktor utama penyebab
terjadinya kecelakaan lalu lintas (Sumarno, 2007).
Faktor-faktor lainnya seperti kendaraan (yang buruk),
(keteledoran) manusia, keadaan alam (yang kurang bersahabat),
meningkatnya perkembangan pengguna lalu lintas, kecenderungan untuk
melanggar lalu lintas, terbatasnya personil yang berwenang mengatur lalu
lintas, tidak seimbangnya pertambahan kendaraan bermotor berpengaruh
terhadap pergerakan lalu lintas, dapat mengakibatkan peningkatan jumlah
pelanggaran dan kecelakaan perkara lalu lintas. (Sumarno, 2007).

B. Rumusan Masalah
Apa itu kecelakaan transportasi ?

C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mahasiswa mampu mengetahui tentang sistem penanggulangan
bencana kecelakaan transportasi.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswamampumenjelaskandanmemahamitentangkonsep teori
kecelakaan transportasi.
b. Mahasiswamampumenjelaskandanmemahamitentangsistem
penanggulangan bencana.
c. Mahasiswamampumenjelaskandanmemahamitentangkebutuhan
korban kecelakaan transportasi.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Konsep Teori Kecelakaan Transportasi


1. Bencana kecelakaan transportasi
Bencana adalah peristiwa atau rangkaian peristiwa yang
mengancam dan mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat
yang disebabkan, baik oleh factor alam dan/atau factor nonalam
maupun faktor manusia sehingga mengakibatkan timbulnya korban
jiwa manusia, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan
dampak psikologis. Kecelakan ( accident ) adalah peristiwa hukum
pengangkutan berupa kejadian atau musibah, yang tidak dikehendaki
oleh pihak – pihak, terjadi sebelum, dalam waktu atau sesudah
penyelenggaraan pengangkutan karena perbuatan manusia atau
kerusakan alat pengangkutan sehingga menimbulkan kerugian
material, fisik, jiwa, atau hilangnya mata pencaharian bagi pihak
penumpang, bukan penumpang, pemilik barang, atau pihak
pengangkut. Kecelakaan transportasi adalah peristiwa atau kejadian
pengoperasian sarana transportasi yang mengakibatkan kerusakan
sarana transportasi , seperti korban jiwa dan kerugian harta benda.
2. Faktor – faktor yang mempengaruhi kecelakaan
Menurut BNPB yang di tulis di buku saku tanggap tangkas tangguh
menghadapi bencana edisi 2012, terdapat faktor-fakto yang
mempengaruhi kecelakaan transportasi dan mitigasi upayauntuk
mengurangi resiko sebagai berikut :
a. Faktor Manusia
Faktor manusia merupakan faktor yang paling dominan dalam
kecelakaan. Hampir semua kejadian kecelakaan didahului dengan
pelanggaran rambu – rambu lalu lintas. Pelanggaran dapat terjadi
karena sengaja melanggar, ketidaktahuan terhadap arti aturan yang

3
berlaku ataupun tidak melihat ketentuan yang diberlakukan atau
pura – pura tidak tahu.
b. Faktor Kendaraan
Faktor kendaraan yang paling sering adalah kelalaian perawatan
yang dilakukan terhadap kendaraan. Untuk mengurangi faktor
kendaraan perawatan dan perbaikan kendaraan diperlukan, di
samping itu adanya kewajiban untuk melakukan pengujian
kendaraan bermotor secara reguler.
c. Faktor Jalan
Faktor jalan terkait dengan kecepatan rencana jalan, geometrik
jalan, pagar pengaman di daerah pegunungan, ada tidaknya median
jalan, jarak pandang dan kondisi permukaan jalan. Jalan yang rusak
atau berlobang sangat membahayakan pemakai jalan.
d. Faktor Cuaca
Hari hujan juga mempengaruhi unjuk kerja kendaraan seperti jarak
pengereman menjadi lebih jauh, jalan menjadi lebih licin, jarak
pandang juga terpengaruh karena penghapus kaca tidak bisa
berkerja secara sempurna atau lebatnya hujan mengakibatkan jarak
pandang menjadi lebih pendek. Asap dan kabut juga bisa
menggangu jarak pandang, terutama didaerah pergunungan.
3. Mitigasi dan upaya pengurangan resiko bencana kecelakaan
transportasi
a. Hati – hati dalam berkendara baik di darat, laut maupun udara
b. Cek kondisi mesin saat akan melakukan perjalanan agar dapat
terhindar dari kecelakaan transportasi yang disebabkan oleh
kondisi mesin kendaraan yang tidak layak jalan.
c. Patuhi peraturan lalu lintas yang berlaku dijalan, baik di darat, laut
maupun udara.
d. Jaga kondisi tubuh dan mental pengemudi agar dapat mengemudi
dengan benar.

4
e. Persiapan perjalanan sebaik mungkin, sehingga dapat
meminimalisir terjadi kecelakaan transportasi.
f. Tidak mengendarai kendaraan pada saat mengantuk atau kurang
kesadaran
g. Membawa kendaraan tidak dengan kecepatan tinggi
h. Menahan diri untuk tidak menggunakan hanphone, dan alat
komunikasi lainnya
i. Selalu memakai sabuk pengaman dan helm sebelum menjalan kan
kendaraan
4. Dampak kecelakaan transportasi
1). Dampak Psikologis
Kecelakaan lalu lintas selalu memberikan dampak kepada korban
mapun keluarga hingga orang yang melihat kecelakaan. Dampaknya
berupa dampak secara fisik maupun dampak secara psikologis.
Dampak psikologis ada beberapa diantaranya yaitu:
a. Kecemasan
Faktor - faktor yang mempengaruhi kecemasan seseorang meliputi
beberapa aspek antara lain; komponen genetik terhadap
kecemasan, scan otak dapat melihat perbedaan terutama pada
pasien kecemasan yang respon dengan signal berbahaya, sistem
pemrosesan informasi dalam seseorang berjalan dengan singkat
(hal ini dapat direspon dengan suatu ancaman sebelum yang
bersangkutan menyadari ancaman tersebut), akar dari gangguan
kecemasan mungkin tidak akan menjadi pemisahan mekanisme
yang menyertainya namun terjadi pemisahan mekanisme yang
mengendalikan respon kecemasan dan yang menyebabkan situasi
diluar kontrol. ada beberapa respon psikologis terhadap
kecemasan, yaitu:
1) Perilaku; Gelisah, tremor/getaran, gugup, bicara cepat dan
tidak ada koordinasi, menarik diri, dan menghindar.

5
2) Kognitif; Gangguan perhatian, konsentrasi hilang, mudah
lupa, salah tafsir, bloking, bingung, lapangan persepsi
menurun, kesadaran diri yang berlebihan, kawatir yang
berlebihan, obyektifitas menurun, takut kecelakaan, takut
mati dan lain-lain.
3) Afektif; Tidak sabar, tegang, neurosis, tremor, gugup yang
luar biasa, sangat gelisah dan lain-lain.
b. Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) /Trauma
Trauma berasal dari bahasa Yunani yang berarti luka Cerney. Kata
trauma digunakan untuk menggambarkan kejadian atau situasi
yang dialami oleh korban. Kejadian atau pengalaman traumatik
akan dihayati secara berbeda-beda antara individu yang satu
dengan lainnya, sehingga setiap orang akan memiliki reaksi yang
berbeda pula pada saat menghadapi kejadian yang traumatik.
Pengalaman traumatik adalah suatu kejadian yang dialami atau
disaksikan oleh individu, yang mengancam keselamatan dirinya.
Oleh sebab itu, merupakan suatu hal yang wajar ketika seseorang
mengalami shock baik secara fisik maupun emosional sebagai
suatu reaksi stres atas kejadian traumatik tersebut. Kadangkala efek
after shock ini baru terjadi setelah beberapa jam, hari, atau bahkan
berminggu – minggu.
c. Depresi
Depresi merupakan salah satu gangguan mood (mood disorder).
Depresi sendiri adalah gangguan unipolar, yaitu gangguan yang
mengacu pada satu kutub (arah) atau tunggal, yang terdapat
perubahan pada kondisi emosional, perubahan dalam motivasi,
perubahan dalam fungsi dan perilaku motorik, dan perubahan
kognitif . Depresi adalah gangguan penyesuaian diri atau gangguan
dalam perkembangan emosi jangka pendek atau masalah-masalah
perilaku, dimana dalam kasus ini, perasaan sedih yang mendalam
dan perasaan kehilangan harapan atau merasa sia-sia, sebagai

6
reaksi terhadap stressor, dengan kondisi mood yang menurun.
Depresi adalah suatu kondisi yang lebih dari suatu keadaan sedih,
bila kondisi depresi seseorang sampai menyebabkan terganggunya
aktivitas sosial sehari-harinya maka hal itu disebut sebagai suatu
gangguan depresi Gangguan Disosiatif (Dissociative Disorders)
Gangguan Disosiatif adalah perubahan kesadaran mendadak yang
mempengaruhi memori dan identitas. Para individu yang menderita
gangguan disosiatif tidak mampu mengingat berbagai peristiwa
pribadi penting atau selama beberapa saat lupa akan identitasnya
atau bahkan
B. Sistem Penanggulangan Bencana

Menurut BNPB No.1088, 2014. Rencana Penanggulangan Bencana


terdiri dari 5 sistem yaitu:
1. Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
Pemerintah dan pemerintah daerah bertanggung jawab dalam
penyelenggaraan penanggulangan bencana. Sebagaimana didefinisikan
dalam UU 24 Tahun 2007 tentang PenanggulanganBencana,
penyelenggaraan Penanggulangan Bencana adalah serangkaian upaya
yang meliputi penetapan kebijakan pembangunan yang berisiko
timbulnya bencana, kegiatan pencegahan bencana, tanggap darurat, dan
rehabilitasi. Rangkaian kegiatan tersebut apabila digambarkan dalam
siklus penanggulangan bencana adalah sebagai berikut :
Pada dasarnya penyelenggaraan adalah tiga tahapan yakni :
a. Pra bencana yang meliputi :
- situasi tidak terjadi bencana
- situasi terdapat potensi bencana
b. Saat Tanggap Darurat yang dilakukandalam situasi terjadi bencana
c. Pascabencana yang dilakukan dalam saat setelah terjadi bencana
Tahapan bencana yang digambarkan di atas, sebaiknya tidak
dipahami sebagai suatu pembagian tahapan yang tegas, dimana kegiatan
pada tahap tertentu akan berakhir pada saat tahapan berikutnya dimulai.

7
Akan tetapi harus dipahami bahwa setiap waktu semua tahapan
dilaksanakan secara bersama-sama dengan porsi kegiatan yang berbeda.
Misalnya pada tahap pemulihan, kegiatan utamanya adalah pemulihan
tetapi kegiatan pencegahan dan mitigasi juga sudah dimulai untuk
mengantisipasi bencana yang akan datang.
2. Perencanaan dalam Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana
Secara umum perencanaan dalam penanggulangan bencana
dilakukan pada setiap tahapan dalam penyelenggaran penanggulangan
bencana. Dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, agar setiap
kegiatan dalam setiap tahapan dapat berjalan dengan terarah, maka
disusun suatu rencana yang spesifik pada setiap tahapan
penyelenggaraan penanggulangan bencana.
a. Pada tahap Prabencana dalam situasi tidak terjadi bencana,
dilakukan penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana (Disaster
Management Plan), yang merupakan rencana umum dan
menyeluruh yang meliputi seluruh tahapan/bidang kerja
kebencanaan. Secara khusus untuk upaya pencegahan dan mitigasi
bencana tertentu terdapat rencana yang disebut rencana mitigasi
misalnya Rencana Mitigasi Bencana Banjir DKI Jakarta.
b. Pada tahap Prabencana dalam situasi terdapat potensi bencana
dilakukan penyusunan Rencana Kesiapsiagaan untuk menghadapi
keadaan darurat yang didasarkan atas skenario menghadapi bencana
tertentu (single hazard) maka disusun satu rencana yang disebut
Rencana Kontinjensi (Contingency Plan).
c. Pada Saat Tangap Darurat dilakukan Rencana Operasi (Operational
Plan) yang merupakan operasionalisasi/aktivasi dari Rencana
Kedaruratan atau Rencana Kontinjensi yang telah disusun
sebelumnya.
d. Pada Tahap Pemulihan dilakukan Penyusunan Rencana Pemulihan
(Recovery Plan) yang meliputi rencana rehabilitasi dan rekonstruksi
yang dilakukan pada pasca bencana. Sedangkan jika bencana belum

8
terjadi, maka untuk mengantisipasi kejadian bencana dimasa
mendatang dilakukan penyusunan petunjuk/ pedoman mekanisme
penanggulangan pasca bencana.
3. Perencanaan Penanggulangan Bencana
Perencanaan penanggulangan bencana disusun berdasarkan hasil
analisis risiko bencana dan upaya penanggulangannya yang dijabarkan
dalam program kegiatan penanggulangan bencana dan rincian
anggarannya. Perencanaan penanggulangan bencana merupakan bagian
dari perencanaan pembangunan. Setiap rencana yang dihasilkan dalam
perencanaan ini merupakan program/kegiatan yang terkait dengan
pencegahan, mitigasi dan kesiapsiagaan yang dimasukkan
dalamRencana Pembangunan jangka Panjang (RPJP), jangka Menengah
(RPJM) maupun Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahunan. Rencana
penanggulangan bencana ditetapkan oleh Pemerintah dan pemerintah
daerah sesuai dengan kewenangan untuk jangka waktu 5 (lima)
tahun.Penyusunan rencana penanggulangan bencana dikoordinasikan
oleh:
a. BNPB untuk tingkat nasional;
b. BPBD provinsi untuk tingkat provinsi; dan
c. BPBD kabupaten/kota untuk tingkat kabupaten/kota.
Rencana penanggulangan bencana ditinjau secara berkala setiap
2 (dua) tahun atau sewaktu-waktu apabila terjadi bencana.
4. Proses Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana
Secara garis besar proses penyusunan/penulisan rencana
penanggulangan bencana adalah sebagai berikut :
Pengenalan dan pengkajian bahaya

Pengenalan kerentanan

Analisis kemungkinan dampak bencana

9
Pilihan tindakan penanggulangan bencana

Mekanisme penanggulangan dampak bencana

Alokasi tugas dan peran instansi

5. Uraian Proses Perencanaan Penanggulangan Bencana


Sebagaimana diuraikan di atas bahwa langkah pertama adalah
pengenalan bahaya / ancaman bencana yang mengancam wilayah
tersebut. Kemudian bahaya / ancaman tersebut di buat daftar dan
disusun langkah-langkah / kegiatan untuk penangulangannya. Sebagai
prinsip dasar dalam melakukan Penyusunan Rencana Penanggulangan
Bencana ini adalah menerapkan paradigma pengelolaan risiko bencana
secara holistik. Pada hakekatnya bencana adalah sesuatu yang tidak
dapat terpisahkan dari kehidupan. Pandangan ini memberikan arahan
bahwa bencana harus dikelola secara menyeluruh sejak sebelum, pada
saat dan setelah kejadian bencana.

C. Kebutuhan Dasar Bencana Kecelakaan Transportasi

1. Kebutuhan akan pertolongan pertama


Ada beberapa langkah yang perlu dilakukan ketika mendapati
korban kecelakaan. Pertama, adalah memastikan keamanan diri sendiri
sebagai penolong. Lihat area sekitar, sterilkan agar tak ada korban
tambahan akibat area berbahaya. Kedua, minta orang di sekitar
menelepon layanan darurat dan mencari alat-alat pertolongan
pertama.Ketiga, memeriksa napas korban yang tidak sadarkan diri. Jika
masih bernapas pastikan posisi jalan napas tetap terbuka dan teruslah
bicara pada korban. Keempat, pindahkan korban sadar ke tempat aman.
Bantu korban tetap hangat dan tenang, lalu hubungi keluarga terdekat.
Carilah kemungkinan adanya pendarahan dan luka yang mengancam

10
jiwa. Jika terdapat pendarahan atau patah tulang, beri pertolongan.
Caranya perban bagian tubuh yang patah dengan papan dan kain untuk
menghindari pergerakan yang membuat kondisi semakin parah. Sikap
merespons cepat membantu korban kecelakaan termasuk di jalan raya
setidaknya bisa menekan risiko korban tak tertolong nyawanya. Ini bisa
terjadi bila ada kesadaran bahwa kecelakaan bisa menimpa siapa saja
termasuk bagi orang-orang yang selama ini tak peduli untuk memberi
pertolongan.
2.Kebutuhan pelayanan kesehatan
sarana pelayanan kecelakaan lailu lntas yang ada di Puskesmas
atau rumaj sakit yaitu tersedianya semua peralatan penanganan kegawat
daruratan, tersedianya sarana penanganan gawat darurat, ambulance yang
dilengkapi peralatan untuk pertolongan gawat darurat, tersedianya telepon
dan radio medik, adanya tempat pelayanan khusus dengan jam pelayanan
penuh 24 jam tanpa libur, adanya dana operasional yang digunakan khusus
untuk penanganan kasus kecelakaan lalu lintas bagi korban yang tidak
mampu membayar.
Korban bencana, baik secara individu maupun berkelompok,
terutama untuk kelompok rentan, dapat memperoleh bantuan pelayanan
kesehatan. Bantuan pelayanan kesehatan diberikan dalam bentuk :

1). Pelayanan kesehatan umum meliputi :


a. Pelayanan kesehatan dasar.
b. Pelayanan kesehatan klinis.
Standar Minimal Bantuan :
a. Pelayanan kesehatan didasarkan pada prinsip-prinsip pelayanan
kesehatan primer yang relevan.
b. Semua korban bencana memperoleh informasi tentang pelayanan
kesehatan.

11
c. Pelayanan kesehatan diberikan dalam sistem kesehatan pada
tingkat yang tepat : tingkat keluarga, tingkat puskesmas, Rumah
Sakit, dan Rumah Sakit rujukan.
d. Pelayanan dan intervensi kesehatan menggunakan teknologi yang
tepat dan diterima secara sosial budaya.
e. Jumlah, tingkat, dan lokasi pelayanan kesehatan sesuai kebutuhan
korban bencana.
f. Tiap klinik kesehatan memiliki staf dengan jumlah dan keahlian
yang memadai untuk melayani kebutuhan korban bencana. Staf
klinik maksimal melayani 50 pasien per hari.
g. Korban bencana memperoleh pelayanan obat-obatan sesuai
dengan kebutuhan.
h. Korban bencana yang meninggal diperlakukan dan dikuburkan
dengan cara yang bermartabat sesuai dengan keyakinan, budaya,
dan praktek kesehatan.

12
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Kecelakaan transportasi adalah peristiwa atau kejadian pengoperasian
sarana transportasi yang mengakibatkan kerusakan sarana transportasi ,
seperti korban jiwa dan kerugian harta benda. Faktor-faktor lainnya seperti
kendaraan (yang buruk), (keteledoran) manusia, keadaan alam (yang kurang
bersahabat), meningkatnya perkembangan pengguna lalu lintas,
kecenderungan untuk melanggar lalu lintas, terbatasnya personil yang
berwenang mengatur lalu lintas, tidak seimbangnya pertambahan kendaraan
bermotor berpeng aruh terhadap pergerakan lalu lintas, dapat mengakibatkan
peningkatan jumlah pelanggaran dan kecelakaan perkara lalu lintas.
Sistem Penanggulangan Bencana Penyelenggaraan Penanggulangan
Bencana, Perencanaan dalam Penyelenggaraan Penanggulangan Bencana,
Perencanaan Penanggulangan Bencana, Proses Penyusunan Rencana
Penanggulangan Bencana, Uraian Proses Perencanaan Penanggulangan
Bencana
B. Saran
Dengan mempelajari makalah tentang kecelakaan transportasi,
diharapkan pembaca mampu melakukan penelitian lebih lanjut demi lebih
sempurnanya pembahasan tentang kecelakaan transportasi.

13
DAFTAR PUSTAKA

BNPB No.1407. 2014. Bantuan, pemenuhan, kebutuhan dasar,pemberian, tata


cara dan pedoman. Jakarta : BNRI

BNPB No.1088, 2014.Peraturan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Nomor


4 Tahun 2008 Tentang Pedoman Penyusunan Rencana Penanggulangan
Bencana
BNPB.2012.Buku Saku Tanggap Tangkas Tangguh Menghadapi Bencana Edisi
2012
Sumarno, et al. 2007. Konsep kecelakaan lalulintas. Bogor : ITB

14