Anda di halaman 1dari 21

MARKAS BESAR

KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA


BADAN PEMELIHARA KEAMANAN

KEPUTUSAN KEPALA BADAN PEMELIHARA KEAMANAN POLRI


Nomor : Kep / 521 / X / 2015

tentang

PEDOMAN PENILAIAN PENERAPAN


SISTEM MANAJEMEN PENGAMANAN SWAKARSA
BERDASARKAN PERATURAN KAPOLRI NOMOR 24 TAHUN 2007

KEPALA BADAN PEMELIHARA KEAMANAN POLRI

Menimbang : 1. bahwa Kepolisian Negara Republik Indonesia sebagai inti


pembina Kamtibmas bertugas dan bertanggung jawab
untuk melaksanakan pembinaan kepada masyarakat guna
meningkatkan peranserta masyarakat dalam sistem
keamanan swakarsa;
2. bahwa dalam rangka menunjang terselenggaranya
pembinaan keamanan swakarsa terhadap Organisasi,
Perusahaan dan/atau Instansi/ Lembaga Pemerintah dalam
membangun pengamanan swakarsa di lingkungannya,
dipandang perlu untuk menetapkan keputusan.

Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian


Negara Republik Indonesia (Lembaran Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan
Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4168);

2. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia


Nomor 24 Tahun 2007 tentang Sistem Manajemen
Pengamanan, Organisasi, Perusahaan dan/atau
Instansi/Lembaga Pemerintah (Lembaran Berita Negara
Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 50).

Memperhatikan : 1. Penjabaran standar dan penerapan sistem manajemen


pengamanan berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 24
Tahun 2007;

2. Pertimbangan dan saran Staf Baharkam Polri.

MEMUTUSKAN.....
2 LAMPIRAN KEPUTUSANKABAHARKAM
KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
POLRI
NOMOR NOMOR
: KEP/ : KEP/
521 521 / /X X //2015
2015
TANGGAL : 8
TANGGAL : OKTOBER
8 OKTOBER 2015

MEMUTUSKAN

Menetapkan : KEPUTUSAN KEPALA BADAN PEMELIHARA KEAMANAN


POLRI TENTANG PEDOMAN PENILAIAN PENERAPAN SISTEM
MANAJEMEN PENGAMANAN SWAKARSA BERDASARKAN
PERATURAN KAPOLRI NOMOR 24 TAHUN 2007.

1. mengesahkan Pedoman Penilaian Penerapan Sistem


Manajemen Pengamanan Swakarsa Berdasarkan
Peraturan Kapolri Nomor 24 Tahun 2007
sebagaimana tersebut dalam lampiran keputusan ini,
sebagai pedoman teknis dalam pelaksanaan penilaian
penerapan sistem manajemen pengamanan
swakarsa;
2. Dirbinmas Baharkam Polri secara berjenjang
berkewajiban menindaklanjuti pedoman tersebut
sebagaimana dimaksud pada butir 1 di atas yang
dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan;
3. Dirbinmas Baharkam Polri dan para Kepala Kepolisian
Daerah c.q Dirbinmas Polda mensosialisasikan dan
mendorong terlaksananya penilaian penerapan sistem
manajemen pengamanan swakarsa dalam rangka
pencepatan penjabaran dan implementasi Peraturan
Kapolri Nomor 24 Tahun 2007;
4. keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.

Kepada Yth.
1. Para Kapolda.
2. Dirbinmas Baharkam Polri.

Tembusan:
1. Kapolri.
2. Wakapolri.
3. Irwasum Polri.
4. Para Kaba Polri.
MARKAS BESAR LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
KEPOLISIAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
BADAN PEMELIHARA KEAMANAN TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

PEDOMAN PENILAIAN PENERAPAN


SISTEM MANAJEMEN PENGAMANAN SWAKARSA
BERDASARKAN PERATURAN KAPOLRI NOMOR 24 TAHUN 2007

I. PENDAHULUAN

1. Umum.

a. Peraturan Kapolri Nomor 24 Tahun 2007 tentang Sistem


Manajemen Pengamanan Organisasi, Perusahaan dan/atau
Instansi/Lembaga Pemerintah, merupakan pedoman induk dan
instrumen hukum dalam membangun pengamanan swakarsa yang
profesional di lingkungan organisasi, perusahaan, instansi dan
lembaga pemerintah. Tata kelola pengamanan swakarsa yang ada
pada Peraturan Kapolri tersebut sudah mengacu kepada tatanan
yang berlaku pada Organisasi Standarisasi Internasional dan sudah
diharmonisasikan dengan regulasi keamanan nasional dengan
pemenuhan kompetensi kepolisian terbatas sehingga penerapan
sistem manajemen pengamanan dapat diberi pengukuhan sebagai
bentuk pengamanan swakarsa sesuai dengan amanat Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2002;
b. dalam rangka pengawasan dan pengendalian guna memastikan
penerapan Sistem Manajemen Pengamanan (SMP) pada organisasi,
perusahaan dan/atau instansi/lembaga pemerintah dilaksanakan
kegiatan audit yang meliputi audit kecukupan, audit kesesuaian dan
audit pengawasan. Audit dilaksanakan oleh Badan Audit Publik
nasional yang independen yang ditunjuk Polri sesuai ketentuan
yang berlaku dan selanjutnya berdasarkan hasil evaluasi dan
penilaian (verifikasi) atas laporan audit SMP oleh Polri, Polri
memberikan penghargaan sesuai tingkat pencapaian penerapannya
dalam bentuk sertifikat;
c. mekanisme sertifikasi melalui tahapan audit oleh badan audit dan
penerbitan sertifikat oleh Polri sebagai implementasi dari amanah
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 Pasal 14 ayat (1) huruf f
bahwa Polri bertugas melaksanakan koordinasi, pengawasan dan
pembinaan teknis terhadap bentuk-bentuk pengamanan swakarsa.
Sertifikat yang diterbitkan Polri merupakan bentuk penghargaan
atas tata kelola penyelenggaraan pengamanan swakarsa yang
profesional dan sekaligus jaminan tertulis atas pengakuan
penerapan sistem manajemen pengamanan dalam rangka
membangun pengamanan swakarsa di lingkungannya;

d. dalam….
2 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

d. dalam rangka pemastian dan keseragaman dalam penilaian


penerapan sistem manajemen pengamanan swakarsa organisasi,
perusahaan dan/atau instansi / lembaga pemerintah, maka
diperlukan adanya panduan teknis penilaian penerapan sistem
manajemen pengamanan swakarsa berdasarkan Peraturan Kapolri
Nomor 24 Tahun 2007.

2. Maksud dan Tujuan.

a. Maksud.
Pedoman ini dimaksudkan sebagai salah satu jabaran dari
Peraturan Kapolri 24 Tahun 2007 yang digunakan sebagai panduan
penilaian penerapan sistem manajemen pengamanan Organisasi,
Perusahaan dan/atau Instansi Pemerintah oleh Badan Audit Publik
yang ditunjuk untuk melaksanakan audit eksternal, Polri dalam
rangka pelaksanaan pengawasan, dan Organisasi, Perusahaan
dan/atau Instansi Pemerintah di wilayah hukum Negara Kesatuan
Republik Indonesia dalam persiapan penilaian penerapan SMP.

b. Tujuan.
Pedoman penilaian ini bertujuan untuk terwujudnya kesamaan
persepsi dalam penilaian penerapan sistem manajemen
pengamanan swakarsa terhadap organisasi, perusahaan,
instansi/lembaga pemerintah secara profesional dan dapat
dipertanggung jawabkan.

3. Dasar.
a. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara
Republik Indonesia (Lembaran Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2002 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik
Indonesia Nomor 4168);
b. Undang-undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan
(Lembaran Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2003
Nomor 39, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia
Nomor 4279);
c. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2003 tentang Penetapan
Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun
2002 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme (Lembaran
Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 45);
d. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan
Bencana (Lembaran Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2007
Nomor 66);
e. Undang.....
3 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

e. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standardisasi dan


Penilaian Kesesuaian (Lembaran Berita Negara Republik Indonesia
Tahun 2014 Nomor 216;
f. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 102 Tahun 2000
tentang Standardisasi Nasional;
g. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2004
tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP);
h. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2012,
tentang Tata Cara Pelaksanaan Koordinasi, Pengawasan dan
Pembinaan Teknis terhadap Kepolisian Khusus, Penyidik Pegawai
Negeri Sipil dan Bentuk-bentuk Pengamanan Swakarsa;
i. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 50 tahun 2012,
tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja;
j. Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor : Per. 05 /MEN/1996
tentang Sistem Manajemen Keselamatan, dan Kesehatan Kerja;
k. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 23
Tahun 2007 tentang Sistem Keamanan Lingkungan;
l. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 24
Tahun 2007 tentang Sistem Manajemen Pengamanan, Organisasi,
Perusahaan dan/atau Instansi/Lembaga Pemerintah;
m. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 24
tahun 2010 tentang Tata Cara Audit untuk penerbitan Surat
Rekomendasi dan Surat Ijin Operasional Badan Usaha Jasa
Keamanan;
n. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 26
Tahun 2010 tentang Tata Cara Pembentukan Peraturan Kepolisian;
o. Peraturan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor 3
Tahun 2015 tentang Pemolisian Masyarakat;
p. Peraturan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Nomor : PM.106/
PW.006/MPEK/2011 tentang Sistem Menajemen Pengamanan
Hotel;
q. Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Nomor 5 Tahun
2012 tentang Sistem Standarisasi Kompetensi Kerja Nasional;
r. Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia Nomor:
Kep/678/IX/2013 tanggal 30 September 2013 tentang Pedoman
Teknis Tata Cara Penyelenggaraan Pelatihan bagi anggota Satuan
Pengamanan;

s. Surat…..
4 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

s. Surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia


No. Pol. : Skep/47/VI/2009 tanggal 2 Juni 2009 tentang Pedoman
Teknis Sistem Registrasi dan Penerbitan Kartu Tanda Anggota
Satuan Pengamanan dan Pekerja di Bidang Industri Pengamanan;
t. Surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
No. Pol. : Skep/99/XI/2009 tanggal 5 November 2009 tentang
Pedoman Teknis Penunjukan Badan Audit Publik Untuk
Melaksanakan Audit Penerapan Sistem Manajemen Pengamanan;
u. Surat Keputusan Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia
No. Pol. : Skep/591/XI/2009 tanggal 5 November 2009 tentang
Pedoman Spesifikasi Teknis Seragam dan Atribut Satuan
Pengamanan;
v. Keputusan Kabaharkam Polri Nomor : Kep/74/IX/2013 tanggal 4
September 2013 tentang Pedoman Tata Cara Sertifikasi Penerapan
Sistem Manajemen Pengamanan Swakarsa Berdasarkan Peraturan
Kapolri Nomor 24 Tahun 2007.

4. Ruang Lingkup.
Pedoman ini meliputi penjelasan tentang:
a. standar dan elemen SMP;
b. kriteria penilaian elemen standar SMP;
c. penetapan parameter penilaian tiap kriteria elemen standar SMP;
d. ketentuan penilaian hasil audit SMP;
e. tingkat pencapaian penerapan SMP.

5. Sistematika.
Tata Urut dalam Pedoman ini meliputi:
a. BAB I PENDAHULUAN
b. BAB II PENILAIAN ELEMEN STANDAR SMP
c. BAB III PENUTUP

6. Pengertian.
a. Pengamanan Swakarsa adalah satu bentuk (sistem) pengamanan
yang diadakan atas kemauan, kesadaran, dan kepentingan
masyarakat sendiri yang kemudian memperoleh pengukuhan dari
Kepolisian Negara Republik Indonesia;
b. Kepolisian Terbatas adalah kewenangan dari Pengamanan
Swakarsa dalam lingkungan kuasa tempat (teritoir gebied/ruimte
gebied) meliputi lingkungan permukiman, lingkungan kerja dan
lingkungan pendidikan;

c. Industrial…..
5 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

c. Industrial Security adalah segala upaya yang berkaitan dengan


perlindungan terhadap instalasi, sumberdaya, utility, material dan
informasi rahasia industri dalam rangka mencegah terjadinya
kerugian dan kerusakan;
d. Aset adalah property organisasi dan personel yang dimiliki oleh
organisasi atau individual yang dapat dirasakan atau tidak, dan
dapat diberikan nilai moneter;
e. Resiko pengamanan adalah potensi/kemungkinan kerugian yang
ditimbulkan akibat ancaman atau gangguan (kejahatan, bencana)
pada suatu organisasi pada kurun waktu tertentu yang berdampak
pada keamanan;
f. Keadaan darurat adalah keadaan sukar/sulit yang tidak disangka-
sangka yang memerlukan penanggulangan segera;
g. Klasifikasi dokumen/informasi adalah pembagian atau
pengelompokan dokumen/informasi di lingkungan organisasi
menurut tingkat kerahasiaan yang ditetapkan berdasarkan
kajian resiko atas dampak ancaman/gangguan terhadap
dokumen/informasi organisasi;
h. Klasifikasi area pengamanan adalah pembagian atau
pengelompokan daerah/kawasan/area di lingkungan organisasi,
perusahaan, instansi atau lembaga menurut tingkat intensitas
pengamanan yang ditetapkan berdasarkan hasil penilaian resiko
pengamanan;
i. Penerapan SMP adalah dipraktekkannya tata kelola pengamanan
sesuai dengan persyaratan spesifik elemen standar SMP guna
mengembangkan dan menetapkan kebijakan pengamanan, sasaran
pengamanan, proses untuk mencapai komitmen kebijakan, dan
kegiatan yang dibutuhkan untuk meningkatkan kinerja
pengamanan organisasi, dengan memperhatikan penjelasan, tipe-
tipe masukan, proses penerapan dan tipe-tipe keluaran di setiap
elemen standar SMP;
j. Kriteria elemen standar SMP adalah ukuran yang menjadi dasar
penilaian dalam pemenuhan persyaratan penerapan elemen
standar SMP;
k. Penilaian penerapan SMP adalah suatu metodologi yang bertujuan
untuk mengukur tingkat pemenuhan persyaratan spesifik
penerapan elemen standar SMP sesuai dengan kriterianya;
l. Pengawasan adalah proses kegiatan yang bertujuan untuk
memastikan tingkat kesesuaian antara satu kondisi yang
menyangkut kegiatan dari suatu identitas dengan kriterianya;

m. Audit…..
6 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

m. Audit adalah proses kegiatan yang bertujuan untuk memastikan


tingkat kesesuaian antar suatu kondisi yang menyangkut kegiatan
dari suatu identitas dengan kriterianya yang dilakukan oleh Tim
Audit yang berkompeten dan independen dengan mendekatkan dan
mengevaluasi bukti-bukti pendukungnya secara sistimatis, analistis,
kritis dan selektif guna memberikan pendapat atau kesimpulan dan
rekomendasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan;
n. Auditor SMP (dalam pedoman ini disebut sebagai Auditor) adalah
seseorang yang memiliki kompetensi dan telah tersertifikasi oleh
Polri untuk melakukan audit SMP;
o. Badan Audit Publik adalah suatu badan independen yang telah
diakreditasi oleh KAN dan mendapat penunjukan dari Polri untuk
melakukan audit SMP;
p. Laporan Audit adalah laporan hasil audit yang dilakukan oleh Badan
Audit kepada Kabaharkam Polri c.q. Dirbinmas Baharkam Polri yang
berisi bukti-bukti, kesimpulan dan rekomendasi dalam pelaksanaan
audit pada Organisasi, Perusahaan dan/atau Instansi/Lembaga
Pemerintah sebagai bagian dari rangkaian kegiatan sertifikasi
penerapan SMP;
q. Verifikasi adalah kegiatan evaluasi dan penilaian terhadap laporan
hasil audit dari Badan Audit terhadap penerapan SMP pada
Organisasi, Perusahaan dan/atau Instansi/Lembaga Pemerintah;
r. Sertifikasi adalah suatu proses yang meliputi kegiatan audit dan
penerbitan sertifikat atas penerapan SMP;
s. Sertifikat adalah jaminan tertulis yang diterbitkan oleh Polri atas
pengakuan penerapan sistem manajemen pengamanan swakarsa
yang telah sesuai dengan kriterianya pada Organisasi, Perusahaan
dan/atau Instansi/Lembaga Pemerintah dalam rangka membangun
pengamanan swakarsa di lingkungannya;
t. Kabaharkam Polri adalah unsur pimpinan pada Badan Pemelihara
Keamanan Polri (Baharkam Polri) yang berkedudukan di bawah dan
bertanggung jawab kepada Kapolri dan dalam melaksanakan tugas
sehari-hari berada dibawah kendali Wakapolri, bertugas membina
fungsi pemeliharaan keamanan pada seluruh jajaran Polri dan
melaksanakan tugas lain sesuai perintah Kapolri;
u. Dirbinmas Baharkam Polri adalah unsur pimpinan pada Ditbinmas
Baharkam Polri (unsur pelaksana utama dibawah Baharkam Polri)
yang bertanggung jawab kepada Kabaharkam Polri dan dalam
melaksanakan tugas sehari-hari bertanggungjawab kepada
Wakabaharkam Polri, bertugas menyelenggarakan fungsi
pembinaan masyarakat, dan dalam batas kewenangan yang
ditetapkan menyelenggarakan fungsi pembinaan masyarakat pada
tingkat pusat dalam rangka pemeliharaan keamanan guna
terwujudnya situasi dan ketertiban masyarakat yang kondusif;

II. PENILAIAN…..
7 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

II. PENILAIAN ELEMEN STANDAR SMP

7. Standar SMP

a. Standar SMP ditetapkan berdasarkan pada metodologi yang berlaku


umum seperti standar sistem manajemen lainnya yang berlaku
pada banyak organisasi yang mengelola kegiatan organisasi melalui
pola suatu sistem dari proses dan interaksinya, antara lain:
1) perencanaan (Plan), yaitu penetapan arahan kerangka kerja
SMP dan komitmen dari seluruh tingkatan manajemen untuk
menerapkan SMP, serta menetapkan suatu sasaran dan
proses yang dibutuhkan untuk mencapai hasil sesuai dengan
kebijakan organisasi;
2) pelaksanaan (Do), yaitu implementasi dari proses atau
pelaksanaan dari kebijakan pengamanan, sasaran
pengamanan dan implementasi peraturan yang berlaku;
3) pemeriksaan (Check), yaitu pemantaun dan pengukuran
proses pelaksanaan dari kebijakan dan sasaran
pengamanan, peraturan dan persyaratan lainnya, serta
pelaporan dari hasil pelaksanaan pengamanan;
4) peningkatan (Action), yaitu penetapan tindakan untuk
perbaikan berkelanjutan kinerja penerapan SMP.

b. Standar SMP memberikan persyaratan persyaratan untuk


penerapan SMP agar organisasi dapat mengendalikan ancaman dan
mengembangkan kinerja pengamanan organisasi serta
mengembangkan suatu kebijakan pengamanan, memasukkan
tanggung jawab terhadap pemenuhan persyaratan peraturan
perundangan dan resiko ancaman keamanan, menetapkan sasaran
dan proses untuk mencapai komitmen-komitmen dari kebijakan,
melaksanakan kegiatan yang dibutuhkan untuk meningkatkan
kinerja dan menunjukkan pemenuhan terhadap persyaratan–
persyaratan dari standar SMP. Standar SMP berisi elemen-elemen
yang dapat dinilai melalui kegiatan audit, yakni
1) pemeliharaan dan pembangunan komitmen;
2) pemenuhan aspek peraturan perundang-undangan
keamanan;
3) manajemen resiko pengamanan;
4) tujuan dan sasaran;
5) perencanaan dan program;
6) pelatihan, kepedulian dan kompetensi pengamanan;
7) konsultasi, komunikasi dan partisipasi;

8) pengendalian…..
8 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

8) pengendalian dokumen dan catatan;


9) penanganan keadaan darurat;
10) pengendalian proses dan infrastruktur;
11) pemantauan dan pengukuran kinerja;
12) pelaporan, perbaikan dan pencegahan ketidaksesuaian;
13) pengumpulan dan penggunaan data;
14) audit;
15) tinjauan manajemen;
16) peningkatan berkelanjutan.

8. Kriteria Penilaian Elemen Standar SMP


Penentuan kriteria penerapan sistem manajemen pengamanan swakarsa
berpedoman pada penjelasan penerapan sistem manajemen pengamanan
berdasarkan Peraturan Kapolri Nomor 24 Tahun 2007 yang dimaksudkan
untuk mempermudah penilaian penerapan SMP. Kriteria penerapan
sistem manajemen pengamanan merupakan inti penjabaran penerapan
SMP baik penjelasan tentang penerapan tiap elemen, tipe-tipe masukan,
proses penerapannya maupun tipe-tipe keluaran di setiap elemen standar
SMP. Kriteria penilaian elemen standar SMP tersebut adalah:

a. Elemen 1 : Pemeliharaan dan pembangunan komitmen


1) terdapat dokumen kebijakan pengamanan yang bertanggal
dan ditanda-tangani oleh pimpinan puncak organisasi yang
menunjukkan komitmen formal organisasi, sekaligus sebagai
pedoman untuk menetapkan arah dan kerangka prinsip-
prinsip kegiatan organisasi serta menjadi pedoman
penetapan sasaran pengamanan organisasi;
2) kebijakan pengamanan ditetapkan sesuai dengan sifat dan
skala resiko ancaman, mencakup komitmen untuk
memenuhi peraturan pengamanan dan komitmen untuk
peningkatan berkelanjutan;
3) kebijakan pengamanan yang ditetapkan merupakan hasil
tinjauan ulang secara berkala untuk memastikan kesesuaian
dan kelayakannya bagi organisasi;
4) mengkomunikasikan kebijakan pengamanan kepada pihak
internal organisasi seperti unsur manajemen,
pegawai/karyawan melalui tata cara yang efektif sehingga
sadar dan memiliki tanggung jawab individu di bidang
pengamanan organisasi;

5) mengkomunikasikan…..
9 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

5) mengkomunikasikan kebijakan pengamanan kepada pihak


eksternal seperti mitra kerja, tamu organisasi, dan
masyarakat dengan tata cara yang efektif sehingga mengerti
dan patuh membantu pengamanan organisasi;
6) terdapat penunjukan manajemen khusus (perwakilan
manajemen) dari salah satu anggota pimpinan puncak oleh
Pimpinan Puncak, perwakilan manajemen tersebut diberi
tanggung jawab dan wewenang untuk menerapkan sistem
manajemen pengamanan, menyusun sasaran pengamanan
dan memastikan pengamanan telah dikelola dalam area
yang menjadi tanggung jawabnya;
7) terdapat penetapan struktur organisasi pengamanan yang
didokumentasikan, dikomunikasikan dan harus disediakan
personil yang cukup dan memadai untuk melaksanakan
tugas-tugas pengamanan;
8) terdapat penetapan, pendokumentasian, dan
pengkomunikasian tanggung jawab dan wewenang dari
seluruh personil yang menyelenggarakan tata kelola
pengamanan dan tugas-tugas pengamanan organisasi;
9) terdapat sumber daya (manusia dan keahliannya),
infrastruktur (sarana dan prasarana) serta terinventarisasi
guna menunjang penerapan sistem manajemen
pengamanan yang sudah ditetapkan;
10) terdapat alokasi anggaran dan/atau biaya pengamanan
organisasi guna menunjang penerapan sistem manajemen
pengamanan yang sudah ditetapkan.

b. Elemen 2 : Pemenuhan peraturan perundangan keamanan


1) terdapat prosedur yang terdokumentasi untuk
mengidentifikasi, memperoleh, menetapkan, menerapkan
dan memelihara peraturan perundangan keamanan dan
persyaratan pengamanan lainnya yang dapat diterapkan
organisasi;
2) terdapat daftar (hasil indentifikasi) dan dokumen peraturan
perundangan keamanan dan menjaga catatan tersebut tetap
terkini (up to date);
3) terdapat catatan bukti kegiatan sosialisasi /
pengkomunikasian informasi tentang peraturan
perundangan keamanan dan peraturan lainnya yang relevan
kepada orang yang bekerja untuk dan atas nama organisasi
serta pihak terkait lainnya;

4) persyaratan…..
10 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

4) persyaratan peraturan perundangan keamanan dan


persyaratan pengamanan lainnya yang relevan, dijadikan
rujukan dalam prosedur dan petunjuk kerja pengamanan;
5) terdapat bukti penerapan peraturan perundangan keamanan
baik terkait persyaratan administrasi, personil, sarana dan
prasarana serta operasional pengamanan.

c. Elemen 3 : Manajemen resiko pengamanan


1) terdapat dokumen kerangka kerja dan panduan praktis
dalam melaksanakan manajemen resiko pengamanan;
2) terdapat catatan tabel hasil penilaian resiko pengamanan
yang meliputi identifikasi aset organisasi (materiil, personel,
dokumen/informasi dan kegiatan), penilaian dan penetapan
ancaman/gangguan, penetapan resiko kerugian (dampak
kejadian), peluang kejadian (frekuensi kejadian) dan
penetapan tingkat resiko pengamanan (level resiko);
3) hasil manajemen resiko pengamanan dikerjakan oleh
personel yang memiliki kompetensi yang relevan;
4) terdapat penetapan pilihan mitigasi resiko pengamanan
untuk setiap fungsi di organisasi untuk mengurangi resiko
kejadian baik secara fisik (dengan sarana dan prasarana
pengamanan), penggunaan personel, penyusunan prosedur
dan yang berkaitan dengan proses/kegiatan pengamanan;
5) terdapat penetapan sumber data dan informasi sebagai
dasar dalam penilaian resiko pengamanan organisasi seperti
data kriminal dari kepolisian, laporan kriminal internal, intel
dasar meliputi data demografi, geografi dan kondisi sosial
serta data terkait lainnya yang relevan;
6) terdapat penilaian ulang (re-assessment) resiko
pengamanan.

d. Elemen 4 : Tujuan dan sasaran


1) terdapat pernyataan terdokumentasi yang menetapkan,
menerapkan dan memelihara tujuan dan sasaran
pengamanan di setiap fungsi dan tingkatan yang relevan
dalam organisasi;
2) penetapan sasaran pengamanan harus terukur dengan
indikator yang jelas untuk setiap sasaran pengamanan;

3) penetapan…..
11 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

3) penetapan sasaran pengamanan harus selaras dengan


kebijakan pengamanan, termasuk komitmen untuk
mencegah terjadinya ancaman, memenuhi persyaratan
perundangan dan perbaikan berkelanjutan;
4) penetapan dan peninjauan sasaran pengamanan harus
memasukkan tanggung jawab untuk memenuhi persyaratan
peraturan perundangan dan persyaratan lainnya serta resiko
pengamanan yang ada;
5) sasaran pengamanan yang ditetapkan organisasi harus
dapat dilaksanakan atau organisasi memiliki kemampuan
untuk mencapainya.

e. Elemen 5 : Perencanaan dan program


1) terdapat dokumen program pengamanan organisasi untuk
mencapai tujuan dan sasaran pengamanan yang berisi
pengembangan dari strategi dan kegiatan pengamanan yang
harus relevan dengan hasil rekomendasi penilaian resiko
pengamanan dan mitigasi resikonya;
2) terdapat penunjukan penganggung jawab di setiap fungsi
yang relevan dan tingkatan dalam organisasi dalam
pelaksanaan program pengamanan untuk mencapai sasaran
pengamanan organisasi;
3) penetapan program pengamanan yang terdokumentasi
harus menetapkan target waktu pencapaiannya;
4) terdapat bukti terdokumentasi berupa dokumen rencana
pengamanan, rencana kontijensi, rencana kegiatan yang
masing-masing menguraikan tentang penyelenggaraan
manajemen pengamanan secara ringkas dan jelas tentang
potensi ancaman, sasaran, sumber daya dukung dan strategi
pencapaiannya (konsep pengamanan, target pengamanan,
dan cara bertindak) selama periode atau waktu tertentu;
5) pelaksanaan program pengamanan harus dipantau, ditinjau,
dicatat secara berkala dan terencana terhadap pencapaian
sasaran pengamanan.

f. Elemen 6 : Pelatihan, kepedulian dan kompetensi pengamanan


1) terdapat prosedur yang terdokumentasi tentang pengelolaan
pelatihan terkait aspek kompetensi pengamanan organisasi
terhadap setiap personel yang mempengaruhi kinerja
pengamanan;

2) terdapat…..
12 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

2) terdapat catatan hasil identifikasi dan proses analisa


kebutuhan pelatihan kompetensi pengamanan yang sesuai
dengan resiko pengamanan dan sistem manajemen
pengamanan;
3) terdapat program pelatihan aspek keamanan sesuai dengan
hasil identifikasi dan analisa kebutuhan pelatihan;
4) terdapat bukti pemenuhan kompetensi untuk setiap personel
yang mempengaruhi kinerja pengamanan;
5) terdapat catatan hasil analisa dan evaluasi efektifitas
pelaksanaan pelatihan dan/atau efektifitas hasil pelatihan
terkait aspek kompetensi pengamanan;
6) terdapat prosedur yang terdokumentasi dalam pengelolaan
kesadaran pengamanan terhadap setiap personel yang
mempengaruhi kinerja pengamanan;
7) terdapat catatan rekaman hasil kegiatan program kesadaran
pengamanan kepada karyawan di semua tingkatan dan
fungsi dalam organisasi dan mitra kerja;
8) terdapat bukti tentang efektifitas hasil kegiatan kesadaran
pengamanan.

g. Elemen 7 : Konsultasi, komunikasi dan partisipasi


1) terdapat penetapan, penerapan dan pemeliharaan prosedur
konsultasi dan komunikasi dengan pihak internal (seluruh
tingkatan dan fungsi yang ada) dan eksternal dengan
personel yang bekerja untuk dan atas nama organisasi;
2) terdapat penetapan, penerapan dan pemeliharaan prosedur
partisipasi dengan pihak internal serta dengan pihak
eksternal dalam rangka penerapan SMP organisasi;
3) terdapat catatan rekaman hasil kegiatan konsultasi dan
komunikasi terkait aspek keamanan baik dengan pihak
internal maupun eksternal organisasi;
4) terdapat catatan rekaman hasil kegiatan partisipasi dengan
pihak internal maupun eksternal organisasi dalam rangka
penerapan SMP organisasi;
5) terdapat catatan rekaman hasil kegiatan sosial organisasi
dalam pelaksanaan tanggung jawab sosial organisasi beserta
analisa dan evaluasinya dalam aspek keamanan.

h. Elemen 8…..
13 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

h. Elemen 8 : Pengendalian dokumen dan catatan


1) terdapat penetapan, penerapan dan pemeliharaan prosedur
pengelolaan dan pengendalian dokumen SMP organisasi;
2) terdapat penetapan, penerapan dan pemeliharaan prosedur
pengelolaan dan pengendalian catatan kegiatan operasional
aspek pengamanan organisasi;
3) terdapat pemastian bahwa dokumen yang digunakan
tersedia dalam versi relevan sesuai dengan penggunaannya
untuk mencegah penggunaan dokumen yang usang;
4) terdapat pemastian bahwa setiap dokumen memiliki status
yang teridentifikasi (klasifikasi dokumen) termasuk
perubahan dan revisi terbaru;
5) terdapat pemastian dokumen eksternal yang dibutuhkan
telah diidentifikasi dan dikendalikan;
6) terdapat catatan daftar dokumen SMP organisasi;
7) terdapat catatan pemastian distribusi dokumen SMP
organisasi.

i. Elemen 9 : Pengendalian keadaan darurat


1) terdapat prosedur yang terdokumentasi untuk
mengidentifikasi potensi keadaan darurat (bencana alam,
bencana akibat manusia, kriminalitas, pelanggaran
keamanan organisasi), penanganan situasi darurat dan
petunjuk pelaksanaan tim keadaan darurat;
2) terdapat prosedur yang terdokumentasi tentang koordinasi
dengan instansi terkait dalam penanganan keadaan darurat
keamanan;
3) terdapat catatan pelaksanaan kegiatan koordinasi dengan
instansi terkait yang berwenang untuk kegiatan dan instalasi
atau peralatan yang mempunyai potensi ancaman besar;
4) terdapat penetapan personil di setiap fungsi yang relevan di
organisasi yang bertanggung jawab melaksanakan
penanganan dan pemulihan keadaan darurat keamanan;
5) terdapat catatan rekaman hasil kegiatan uji coba prosedur
(simulasi) penanganan keadaan darurat yang dilaksanakan
secara berkala untuk menguji kehandalannya dan agar
terlatih kemampuan personelnya;
6) terdapat evaluasi pengujian penanganan keadaan darurat
yang berguna untuk meninjau ulang prosedur penanganan
keadaan darurat;

7) terdapat….
14 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

7) terdapat catatan rekaman hasil kegiatan pelatihan


peningkatan kompetensi tim penanganan keadaan darurat
keamanan.

j. Elemen 10 : Pengendalian proses dan infrastruktur (operasional)


1) terdapat pengendalian operasional pangamanan terhadap
kegiatan operasional, produk barang dan/atau jasa dengan
prosedur / instruksi kerja, infrastruktur fisik / fasilitas
(perimeter, pagar, penerangan, dan lain-lain), personil dan
alat bantu pengamanan disesuaikan dengan resiko ancaman
(tingkat/level resiko) yang telah teridentifikasi terhadap
setiap aset penting organisasi;
2) terdapat bukti/catatan tinjauan secara periodik terhadap
prosedur/instruksi kerja/ketentuan pengendalian operasional
pengamanan untuk menilai kecukupan dan efektifitasnya;
3) terdapat infrastruktur/fasilitas dan alat bantu pengamanan
yang digunakan dalam pengendalian operasional
pengamanan dan dipastikan dalam kondisi layak pakai
(baik/tersertifikasi/dikalibrasi) untuk menjaga
kehandalannya;
4) terdapat catatan/rekaman kegiatan pengendalian
operasional pengamanan tempat kerja, infrastruktur dan
fasilitas organisasi;
5) terdapat bukti penetapan dan pengendalian klasifikasi area
pengamanan sesuai dengan hasil penilaian resiko
pengamanan;
6) terdapat bukti penerapan pengendalian operasional terhadap
karyawan, mitra kerja, dan pengunjung antara lain tetapi
tidak terbatas pada : pemeriksaan fisik (orang, barang,
kendaraan), pemeriksan identitas, pengendalian akses,
penerangan, CCTV, penghalang (tembok, pagar dan pintu)
dan rambu-rambu peringatan keamanan;
7) terdapat bukti penerapan pengendalian terhadap pengadaan
barang dan jasa;
8) terdapat bukti penerapan pengendalian pada penerimaan,
penyimpanan dan pemindahan barang;
9) terdapat bukti penetapan klasifikasi dokumen/informasi
organisasi sesuai tingkat kerahasian dan prosedur yang
terdokumentasi tentang pengendalian pengamanan
dokumen/informasi organisasi;
10) terdapat bukti penerapan pengendalian terhadap
dokumen/informasi organisasi;
11) terdapat bukti evaluasi secara periodik dari kinerja
pengamanan mitra kerja (perusahaan).

k. Elemen 11…..
15 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

k. Elemen 11 : Pemantauan dan pengukuran kinerja


1) terdapat prosedur dan mekanisme pemantauan dan
pengukuran yang berkaitan dengan kinerja pengamanan
baik pengukuran secara kualitatif maupun kuantitatif sesuai
kebutuhan organisasi, efektifitas pengendalian pengamanan,
dan evaluasi pematuhan peraturan perundangan aspek
keamanan;
2) organisasi harus mengidentifikasi parameter kinerja dari
kinerja pengamanan secara menyeluruh untuk organisasi
terkait kebijakan dan sasaran, program pengamanan, umpan
balik dari kelemahan sistem, dan kegiatan
pelatihan/peningkatan kesadaran pengamanan;
3) terdapat catatan hasil pemantauan pelaksanaan
perencanaan dan progam sistem manajemen pengamanan
yang telah ditetapkan;
4) terdapat prosedur pemeliharaan dan kalibrasi yang
terdokumentasi untuk peralatan yang dipersyaratkan untuk
kegiatan pemantauan dan pengukuran;
5) terdapat catatan hasil pelaksanaan pemeliharaan dan
kalibrasi peralatan untuk kegiatan pemantauan dan
pengukuran yang dipersyaratkan;
6) terdapat catatan hasil pemantauan dan pengukuran
ketidaksesuaian kinerja pengamanan.

l. Elemen 12 : Pelaporan, perbaikan dan tindakan pencegahan


ketidaksesuaian
1) terdapat prosedur yang terdokumentasi mengenai pelaporan
internal terkait semua hasil pelaksanaan pemantauan dan
pengukuran, audit dan tinjauan ulang sistem manajemen
pengamanan;
2) terdapat prosedur yang terdokumentasi mengenai pelaporan
eksternal yang dipersyaratkan terkait aspek keamanan;
3) terdapat catatan bukti pelaporan internal dan eksternal
pelaksanaan sistem manajemen pengamanan organisasi;
4) terdapat prosedur yang terdokumentasi tentang penanganan
ketidaksesuaian, tindakan perbaikan dan pencegahannya;
5) terdapat catatan hasil penanganan tindakan ketidaksesuaian
termasuk penanganan tindakan kriminal/pelanggaran dalam
pelaksanaan sistem manajemen pengamanan.

m. Elemen 13…..
16 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

m. Elemen 13 : Pengumpulan dan analisa data


1) terdapat catatan data/informasi yang menunjukkan
kesesuaian dan keefektifan penerapan sistem manajemen
pengamanan;
2) terdapat metode analisa data aspek keamanan yang
terdokumentasi untuk mendapatkan gambaran kondisi
keamanan dan potensi ancaman/gangguan yang ada di
organisasi;
3) terdapat catatan hasil analisa data aspek keamanan yang
berisi tentang kondisi pengamanan saat ini, potensi
ancaman dan kenerja pengamanan organisasi.

n. Elemen 14 : Audit
1) terdapat ketentuan untuk pelaksanaan audit sistem
manajemen pengamanan;
2) terdapat penetapan audit yang dilaksanakan secara berkala;
3) terdapat penetapan frekuensi audit didasarkan pada tinjauan
ulang hasil audit sebelumnya dan adanya bukti sumber
ancaman/ gangguan yang ada;
4) terdapat auditor (internal/eksternal) yang memiliki
kompetensi sesuai ketentuan penerapan SMP;
5) terdapat catatan hasil audit sistem manajemen pengamanan
dan tindak lanjutnya guna memberikan umpan balik untuk
semua pihak yang terkait.

o. Elemen 15 : Tinjauan manajemen


1) terdapat mekanisme pelaksanaan tinjauan manajemen yang
terdokumentasi tentang penerapan sistem manajemen
pengamanan untuk menjamin kesesuaian dan keefektifan
yang berkesinambungan dalam pencapaian kebijakan dan
tujuan pengamanan;
2) terdapat penetapan tinjauan manajemen yang dilakukan
secara berkala;
3) terdapat bukti pelaksanaan pimpinan puncak dalam rapat
tinjauan manajemen SMP;
4) terdapat catatan hasil pelaksanaan tinjauan manajemen
sistem manajemen pengamanan yang disyahkan oleh
pimpinan puncak organisasi meliputi evaluasi penerapan
kebijakan pengamanan, tujuan, sasaran dan kinerja
manajemen pengamanan, hasil temuan audit SMP, evaluasi
efektifitas penerapan SMP dan kebutuhan untuk mengubah
SMP serta perubahan struktur organisasi.

p. Elemen 16…..
17 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

p. Elemen 16 : Peningkatan berkelanjutan


terdapat bukti penerapan peningkatan berkelanjutan untuk
mencapai keefektifan sistem manajemen pengamanan melalui
pemakaian kebijakan keamanan, tujuan keamanan, hasil audit,
analisis data, tindakan koreksi dan pencegahan serta tinjauan
manajemen.

9. Penetapan parameter penilaian tiap kriteria elemen standar SMP

a. pelaksanaan penilaian dilakukan berdasarkan penetapan parameter


penilaian setiap kriteria elemen standar SMP dengan skor nilai
angka 0, 1 dan 2;

b. skor nilai angka 0, 1 dan 2 dengan penjelasan sebagai berikut:


1) skor nilai angka 0 diberikan apabila dalam penerapan kriteria
elemen standar SMP tidak dilaksanakan sesuai dengan
kriteria yang telah ditetapkan;
2) skor nilai angka 1 diberikan apabila dalam penerapan kriteria
elemen standar SMP tidak sepenuhnya dilaksanakan sesuai
dengan kriteria yang telah ditetapkan;
3) skor nilai angka 2 diberikan apabila dalam penerapan kriteria
elemen standar SMP dilaksanakan sesuai dengan kriteria
yang telah ditetapkan.

c. penetapan skor nilai 0, 1 dan 2 tersebut, berlaku untuk penilaian


seluruh kriteria dalam elemen standar SMP.

10. Ketentuan penilaian hasil audit SMP

a. penilaian hasil audit SMP dengan menetapkan bobot prinsip pada


setiap standar SMP dengan besaran nilai yaitu:
1) kebijakan dengan bobot nilai 5%;
2) perencanaan dengan bobot nilai 25%;
3) pelaksanaan dengan bobot nilai 40%;
4) pemeriksaan dengan bobot nilai 20%;
5) peningkatan dengan bobot nilai 10%.

b. setiap elemen standar SMP ditetapkan bobot nilainya yang


merupakan bagian dari bobot standar SMP yang sudah ditetapkan,
yaitu:

1) standar.....
18 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

1) standar kebijakan (bobot nilai 5%):


Elemen 1. pemeliharaan dan pembangunan komitmen,
dengan bobot nilai 5%.
2) stadar perencanaan (bobot nilai 25%):
a. Elemen 2. pemenuhan aspek peraturan perundang-
undangan keamanan, dengan bobot nilai 5%;
b. manajemen resiko pengamanan, dengan bobot
nilai 10%;
c. tujuan dan sasaran , dengan bobot nilai 5%;
d. perencanaan dan program, dengan bobot nilai 5%.
3) standar pelaksanaan (bobot nilai 40%):
a. pelatihan, kepedulian, dan kompetensi pengamanan,
dengan bobot nilai 5%;
b. konsultasi, komunikasi, dan partisipasi, dengan bobot
nilai 5%;
c. pengendalian dokumen dan catatan, dengan bobot
nilai 5%;
d. penanganan keadaan darurat, dengan bobot
nilai 10%;
e. pengendalian proses dan infrastruktur, dengan bobot
nilai 15%.
4) standar pemeriksaan (bobot nilai 20%):
a. pemantauan dan pengukuran kinerja, dengan bobot
nilai 5%;
b. pelaporan, perbaikan dan pencegahan
ketidaksesuaian, dengan bobot nilai 5%;
c. pengumpulan dan penggunaan data, dengan bobot
nilai 5%;
d. audit, dengan bobot nilai 5%.
5) standar peningkatan ( bobot nilai 10%):
a. tinjauan manajemen, dengan bobot nilai 5%;
b. peningkatan berkelanjutan, dengan bobot nilai 5%.

c. perhitungan hasil nilai tiap elemen standar SMP adalah jumlah skor
nilai kriteria yang diaudit dalam satu elemen, dibagi dengan jumlah
kriteria yang diaudit dalam satu elemen dikalikan 2 (skor nilai
tertinggi 2), dan dikalikan dengan bobot nilai tiap elemen.

jumlah skor nilai kriteria


dalam satu elemen yang diaudit nilai
X bobot nilai tiap elemen = tiap
Jumlah kriteria yang diaudit elemen
dalam satu elemen X 2

d. hasil…..
19 LAMPIRAN KEPUTUSAN KABAHARKAM POLRI
NOMOR : KEP/ 521 / X / 2015
TANGGAL : 8 OKTOBER 2015

d. hasil pencapaian tingkat kesesuaian penerapan sistem manajemen


pengamanan swakarsa pada organisasi adalah penjumlahan dari
hasil nilai tiap elemen standar SMP.

e. terhadap organisasi yang baru menerapkan SMP, pada saat


sertifikasi pertama terdapat beberapa elemen dan kriteria yang
tidak dilakukan penilaian yaitu:
1) elemen 16. Peningkatan berkelanjutan;
2) kriteria 3 pada elemen 1. Pemeliharaan dan pembangunan
komitmen;
3) kriteria 6 elemen 3. Manajemen resiko pengamanan;
4) kriteria 2 pada elemen 10. Pengendalian proses dan
infrastruktur;
5) kriteria 3 pada elemen 14. Audit.

11. Tingkat pencapaian penerapan SMP

Berdasarkan hasil pencapaian tingkat kesesuaian penerapan sistem


manajemen pengamanan, tingkat pencapaian penerapan sistem
manajemen pengamanan ditetapkan sebagai berikut:
a. pencapaian tingkat kesesuaian sebesar 0 – 59 %, adalah
mendapatkan tindakan pembinaan;
b. pencapaian tingkat kesesuaian sebesar 60 – 84 %, adalah
mendapatkan penghargaan berupa sertifikat dan plakat perak;
c. pencapaian tingkat kesesuaian sebesar 85 – 100%, adalah
mendapatkan penghargaan berupa sertifikat dan plakat emas.

V. PENUTUP

12. Hal-hal teknis yang belum tercakup dalam pedoman ini dan dipandang
perlu akan dituangkan secara tersendiri yang merupakan bagian tidak
terpisahkan dari pedoman ini.

Ditetapkan di : Jakarta
pada tanggal : 8 Oktober 2015
8
KEPALA BADAN PEMELIHARA KEAMANAN POLRI

Drs. PUTUT EKO BAYUSENO, S.H.


KOMISARIS JENDERAL POLISI