Anda di halaman 1dari 76

LAPORAN KEMAJUAN

HIBAH FUNDAMENTAL UNPAD (RFU)

ANALISIS MODEL PEMBIAYAAN BAGI INDUSTRI KREATIF


DI KOTA BANDUNG

TIM PENELITI

Ketua : Rivani, S.IP.,MM., DBA. (NIDN. 0007017703)


Anggota : 1. Dr.Muhammad Rizal, SH., MH. (NIDN. 0019017104)
2. Dr.Rudi Saprudin Darwis, S.Sos., M.Si. (NIDN. 0028026901)

TAHUN KE 1 DARI 2 TAHUN

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
AGUSTUS 2018
RINGKASAN

Laporan akhir ini mengenai laporan kegiatan penelitian yang berjudul “Analisis Model
Pembiayaan Bagi Industri Kreatif Di Kota Bandung”. Penelitian ini bertujuan untuk mencari
permasalahan utama khususnya bidang pembiayaan untuk sektor industri kreatif, untuk
mencari alternatif model pembiayaannya, dan terakhir untuk mencoba merancang model
pembiayaan untuk sektor industri kreatif. Metode penelitian yang digunakan adalah
kuantitatif dengan studi eksploratif. Berdasarkan hasil kalkulasi regresi linier sederhana pada
kedua variabel, dapat disimpulkan bahwa memang karakteristik industri kreatif tidak ada pengaruh
yang signifikan terhadap karakteristik kredit usaha perbankan secara umum. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa memang karakteristik industri kreatif ini memerlukan alternatif model
pembiayaan yang berbeda dengan pola pembiayaan dari perbankan yang umum, yang lebih sesuai
dengan kebutuhan karakteristik dari industri kreatif itu sendiri dimana diantaranya adalah umumnya
tidak punya aset besar untuk jaminan pembiayaan, lebih banyak melibatkan unsur kreativitas, serta
tingkat persaingan usaha yang tinggi.
KATA PENGANTAR

Alhamdulilahirabbil’alamiin ... Puji Syukur pada Allah SWT yang atas berkah dan
rahmat-Nya jualah, akhirnya laporan kemajuan yang berjudul “Analisis Model Pembiayaan
Bagi Industri Kreatif Di Kota Bandung” telah selesai disusun.
Laporan ini membahas kemajuan proses penelitian yang bertujuan untuk mencari
permasalahan utama khususnya bidang pembiayaan untuk sektor industri kreatif, untuk
mencari alternatif model pembiayaannya, dan terakhir untuk mencoba merancang model
pembiayaan untuk sektor industri kreatif.
Meski demikian, penyusun menyadari adanya keterbatasan kondisi maupun
pengetahuan, sehingga diharapkan adanya masukan yang membangun untuk proses
peningkatan kualitas konten dari buku ini secara berkesinambungan.

Bandung, Desember 2018

Penyusun
DAFTAR ISI

Hal

LEMBAR PENGESAHAN ................................................................ i


RINGKASAN ................................................................ ii
PRAKATA ................................................................ iii

BAB I. PENDAHULUAN ................................................................ 1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................ 13

BAB III. TUJUAN DAN MANFAAT ................................................................ 33

BAB IV. METODE PENELITIAN ................................................................ 35

BAB V
HASIL DAN LUARAN YANG
DICAPAI ................................................................ 38

BAB VI
RENCANA TAHAPAN
BERIKUTNYA ................................................................ 60

BAB VII
KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 61

DAFTAR PUSTAKA ................................................................ 63


BAB I.
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Saat ini industri kreatif di berbagai negara maju dan berkembang sedang tumbuh.
Di Indonesia sendiri, Hasil survey BPS di tahun 2015 menunjukkan industri
kreatif tumbuh 4,38 persen. Kontribusi industri kreatif terhadap perekonomian
Indonesia mencapai 7,38 persen dari total perekonomian nasional. Jika
dirupiahkan, nilainya mencapai Rp 852,24 triliun. Industri ini mampu
memberikan lapangan kerja bagi sedikitnya 15,9 juta orang serta berkontribusi
terhadap nilai ekspor sebesar US$ 19,4 Miliar.

(Bekraf & BPS, 2017)

Berdasarkan riset (Bekraf, 2017) ada beragam masalah yang dapat menghambat
pertumbuhan ekonomi kreatif, yakni: kualitas-kuantitas SDM, aspek teknologi,
akses pasar, kolaborasi stakeholder, dan yang cukup dominan adalah akses
permodalan yang minim. Minimnya akses modal dikarenakan karakteristik
industri kreatif yang unik dan beresiko ini menyebabkan mayoritas pelaku harus
memodali usahanya sendiri, sedikit sekali yang mampu

(Bekraf & BPS, 2017)

9
mengakses bank, dan kurang dari 1% dibiayai dari modal ventura. Oleh karena
itu, bisnis kreatif ini membutuhkan tipe akses permodalan yang tidak biasa,
dimana hal ini tidak memerlukan jaminan, tingkat kepercayaan penuh, serta dapat
mentolerir tingkat resiko kegagalan usaha yang tinggi. Umumnya alternatif
permodalan untuk startup bisnis kreatif ini didapat dari angel investor, ataupun
memanfaatkan dana hibah dari pemerintahan / CSR (Corporate Social
Responsibility) dari perusahaan besar.

Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai analisis model pembiayaan bagi
industri kreatif, sehingga diharapkan ditemukan suatu alternatif model
pembiayaan yang dapat lebih sesuai dengan karakteristik industri kreatif yang
unik ini.

1.2. TUJUAN RISET

Tujuan yang ingin diraih dari penelitian ini terbagi menjadi dua garis besar, yakni
tujuan secara praktis, dan tujuan umum. Tujuan umum yang ingin diraih adalah
untuk pengembangan ilmu administrasi bisnis, khususnya di bidang model
pembiayaan untuk industri kreatif.

Sedangkan tujuan secara praktis adalah :

1. Menemukan profil kendala dan masalah pada skema pembiayaan indutri kreatif
di Kota Bandung.

2. Menemukan alternatif model pembiayaan bagi industri kreatif di Kota


Bandung.

3. Merancang prototipe model pembiayaan bagi industri kreatif di Kota Bandung.

1.3. JENIS STUDI

Penelitian ini akan memetakan permasalahan pada skema pembiayaan pada


industri kreatif, sekaligus menemukan alternatif model pembiayaan yang lebih

10
sesuai dengan kebutuhan industri kreatif di Kota Bandung, sehingga jenis studi
yang akan digunakan adalah studi eksploratif, karena penelitian ini tidak hanya
mendeskripsikan obyek studi, tapi juga menemukan alternatif model yang lebih
sesuai dengan kebutuhan obyek studi tersebut.

1.4. RUMUSAN MASALAH UMUM

Untuk membatasi lingkup penelitian, maka permasalahan penelitian ini secara


umum akan difokuskan pada menemukan alternatif model pembiayaan yang lebih
selaras dengan karakterisktik industri kreatif di Kota Bandung.

1.5. ALUR RISET

Pada tahun 2016, peneliti sudah terlibat penelitian tentang survey industri kreatif
di Kota Bandung yang menghasilkan database industri kreatif di Kota Bandung,
yang berdasarkan 16 subsektor bidang industri kreatif. Pada tahun 2017, peneliti
kembali terlibat didalam penelitian strategi aktivasi industri kreatif di Kota
Bandung, dimana hasilnya adalah ukuran kontribusi 16 subsektor bidang industri
kreatif terhadap perekonomian Kota Bandung. Pada penelitian tersebut juga
didapatkan bahwa salah satu permasalahan yang krusial dalam pengembangan
industri kreatif adalah aspek pembiayaannya. Oleh karena itu, kali ini penelitian
lebih difokuskan kepada mengeksplor lebih dalam mengenai permasalahan
pembiayaan, serta merancang alternatif model pembiayaan untuk industri kreatif
di Kota Bandung ini. Untuk lebih jelasnya, alur riset ini dapat dilihat pada
diagram tulang ikan (fishbone) berikut ini :

11
Survey Awal Aktivasi Sektor Analisis Model

Prototipe Model
Pembiayaan
untuk Industri
Kreatif

Kontribusi Model
Database
Ekonomi Pembiayaan

Gambar 1. Diagram Fishbone Alur Penelitian

12
BAB II.
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Sejarah Industri Kreatif

Sejarah industri kreatif muncul pertama kali pada dekade 1990-an di


Australia dalam kaitannya dengan usulan untuk melakukan reformasi radikal di
bidang justifikasi dan mekanisme pendanaan yang berkaitan dengan kebijakan di
sektor seni dan budaya. Namun istilah tersebut menjadi lebih dikenal luas ketika
Industri Kreatif dikembangkan oleh Pemerintah Inggris. (Basuki Antariksa,
2012:4). Saat itu ketika kota-kota di Inggris mengalami penurunan produktivitas
dikarenakan beralihnya pusat-pusat industri dan manufaktur ke negara-negara
berkembang yang menawarkan bahan baku, harga produksi dan jasa yang lebih
murah seperti India dan China. Menanggapi kondisi perekonomian yang
terpuruk, calon perdana menteri Tony Blair dan New Labour Party menawarkan
agenda pemerintahan yang bertujuan untuk memperbaiki moral dan kualitas hidup
warga Inggris dan memastikan kepemimpinan Inggris dalam kompetisi dunia di
milenium baru, salah satunya dengan mendirikan National Endowment for
Science and the Art (NESTA) yang bertujuan untuk mendanai pengembangan
bakat-bakat muda di Inggris. Setelah menang dalam pemilihan umum 1997, Tony
Blair sebagai Perdana Menteri Inggris melalui Department of Culture, Media and
Sports (DCMS) membentuk Creative Industries Task Force yang bertujuan untuk
meningkatkan kesadaran masyarakat tentang kontribusi industri kreatif terhadap
perekonomian Inggris. Pada tahun 1998, DCMS mempublikasikan hasil
pemetaan industri kreatif Inggris yang pertama.

Industri kreatif di Indonesia memiliki kondisi yang berbeda dengan negara


maju di Eropa dan Amerika. Di Eropa, industri kreatif muncul karena indusri
manufakturnya sudah mengalami penurunan sehingga mereka mencari alternatif
industri yang baru. Di Indonesia, berbeda karena berangkat dari potensi yang ada.
Banyak komunitas kreatif di masyarakat yang belum diangkat menjadi industri
dan mendorong perekonomian. Jadi bukan karena industri manufaktur yang

13
menurun, tapi banyak potensi ekonomi rakyat yang belum diberdayakan atau
belum diberi kesempatan. Kota Bandung merupakan kota yang memiliki
kontribusi tertinggi setelah Jawa Tengah dan Bali dari bidang Industri kreatif,
hampir setiap bulan Kota Bandung mengadakan festival atau gelaran yang
sifatnya kreatif. Mayoritas kontribusi industri kreatif terbesar Kota Bandung
adalah dari Insustri Fashion distro, Musik, d

Komunitas kreatif merupakan modal utama dari penggerak Industri dan


Ekonomi kreatif yang telah dipaparkan diatas. Spirit kreatif tersebut lahir dari
gagasan diri sendiri kemudian menular kepada beberapa orang disekitar dan
menjadi komunitas yang disebut komunitas kreatif. Komunitas kreatif
adalah kelompok komunitas yang mendorong lahirnya gagasan dan inovasi
melalui kreatifitas dibidang seni, budaya, pengetahuan dengan memanfaatkan
media dan teknologi” (Budpar, 2009). Menurut budayawan, Andar Manik
mengatakan bahwa Komunitas dibangun secara informal dan mengalir oleh
orang-orang dengan minat dan kepedulian sama. Beberapa diantara mereka
mungkin saja kemudian menjadikan minatnya itu sebagai bisnis. Komunitas tidak
sama g UKM” K k ko s-komunitas masyarakat kreatif
tersebut biasanya selalu tampil dengan nilai tambah yang khas; unik secara
produk yang dihasilkan maupun cara pemasarannya; menyerap tenaga kerja serta
pemasukan ekonomis; dan cenderung men k s ”- s ”
oko o k s k ko o
ko sk k s k k gk
k k s s g s s g o k

Beberapa contoh komunitas di Bandung adalah; Common room yang


kemudian menampung berbagai komunitas kreatif di Bandung, Open Labs;
komunitas musik elektronik, Komunitas Bandung Oral Histrory; komunitas
sejarah Kota Bandung lengkap dengan mitos-mitos dan isu-isu urban perkotaan
yang kemudian sering melakukan tour kota (City walking), komunitas Ujung
Berung; merupakan komunitas musik independent tertua di Kota Bandung.
(BCCF) atau Bandung Creative City Forum merupakan lembaga sosial yang

14
menjadi penampung o s ko s k Ko g K
s k ko s s k g s sk k
sos g k

Komunitas tersebut perlu didukung dengan pengetahuan dan iklim untuk


menciptakan kreatifitas. Misalnya dukungan fasilitas untuk berkumpul
menciptakan ruang diskusi, atau lebih lagi sampai dukungan Hak cipta dan
dukungan finansial. Disisi lain bagi mereka kebutuhan diapresiasi dengan layak
atas karya-karyanya hingga kebebasan mengeksplorasi segala sum s
s s k g ko s g - s s

Dalam kegiatan pengembangan pariwisata di Kota Bandung, tentu saja


iklim kreatif di kota tersebut sudah sangat kental terasa. Mulai dari keberadaan
distro-distro, kuliner unik, musik yang beragam, event-event yang berkaitan
dengan kreatifitas dan sebagainya. Kota bandung merupakan role model
pengembangan industri kreatif di Asia Timur, hal itu ditetapkan dalam seminar
Industri kreatif di Yokohama, Jepang pada 2007 lalu. Perkembangan berbagai
aspek kreatif di Kota Bandung tumbuh dengan pesat karena telah terciptanya
iklim-iklim atau suasana kreatif tersebut. Beberapa produk dari komunitas kreatif
di Kota Bandung, sebut saja Kickfest; sebuah gelaran tahunan pameran clothing
and apparel distro, Bandung Berisik; helaran festival musik independent, Rebel
Nation; sebuah pameran komunitas musik independent Ujung Berung, yang
merupakan pameran komunitas musik independent pertama di
Indonesia, Bandung Deathfest: Festival musik metal di Kota Bandung. dalam
aspek musik banyak bermunculan group band-group band yang berkualitas baik
dari sisi independent maupun mayor label, yang kemudian menjadikan kota
bandung sebagai barometer musik Indonesia. Produk-produk dari Komunitas
kreatif di kota bandung kemudian dapat dikatakan sebagai pioneer
o k k ko s g

Semua daerah di Indonesia bisa menjadikan kota Bandung sebagai role


model pengembangan Industri kreatif, salah satu cara yang terpenting adalah
dengan membuat lingkungan atau iklim yang kreatif, contoh kecil adalah

15
membuat ruang publik dan infrastruktur yang aman sehingga masyarakat dapat
beraktifitas di luar ruangan (Outdoor)dengan nyaman. Ruang publik dan
infrastruktur kota yang inovatif, unik dan responsif akan dengan mudah
memunculkan ide-ide kreatif dan gagasan yang inspiratif. Ide-ide kreatif akan
banyak lahir dalam perbincangan cair antar warga yang bertatap muka sambil
menikmati suasana senja kota. Kehangatan kehidupan bertetangga hadir di ruang-
ruang publik seperti taman atau fasilitas publik yang nyaman. Kejenuhan akan
rutinitas hilang ketika suasana kota tersebut menghadirkan estetika seni.
Kemudian festival kebudayaan atau acara-acara masyarakat ker k
k ko k g

Menurut Enrique Penelosa, mantan Wali Kota Bogota ”Kota yang baik
adalah kota yang bisa merangsang warganya keluar rumah dengan sukarela”.
Logikanya semakin banyak warga dalam sebuah kota tersebut senang untuk
keluar rumah dengan sukarela, maka itulah indikator kota yang sukses mengelola
warganya. Dan sebaliknya ketika warganya enggan untuk keluar rumah karena
alasan infrastruktur pedestrian yang buruk, fasilitas transportasi yang ti k
k s o s g gg k k k ko s
g g k g s

Iklim kota yang baik atau produk-produk komunitas yang disebutkan


diatas pada khsususnya tentu saja merupakan objek dan daya tarik wisata yang
menarik dan dapat mengundang wisatawan untuk datang ke Kota Bandung. Kita
dapat melihat bagaimana festival musik Woodstock di Amerika, Summersonic di
Jepang, dan Rock Im Ring di Jerman. banyak orang-orang dari negara sekitar
datang hanya untuk melihat sebuah pertunjukan musik, atau bagaimana wisatawan
yang terus berdatangan ke London, Paris atau Venezia hanya untuk melihat kontur
kota, ruang publik, alat transportasi atau bangunan-bangunan unik dan inspiratif.
Lalu kondisi tersebut tentunya berdampak besar pada perekonomian minimal
usaha-usaha informal masyarakat lokal. Bagaimana pun juga pariwisata sangat
bertumpu pada atraksi yang dimiliki dari destinasi atau kota tersebut, fasilitas
yang dimiliki dan infrastruktur baik sarana maupun prasarana dasar. Kesemua itu

16
dapat terbangun bersama apabila pemerintah fokus melihat potensi lokal dari
warganya, bagaimana ruang publik yang seharusnya dibangun untuk mendukung
suasana yang inspiratif, atau jalur pedestrian dan transportasi umum yang nyaman
dan bantaran sungai atau kolong-kolong jembatan memberikan kesan menarik.
Semua itu dapat mudah dicapai apabila melibatkan warga lokal atau masyarakat
sekitar untuk ikut diberi kontribusi untuk merubah dan mendesign lingkungannya
sendiri. Hal tersebut bukan saj gk k g ko ks
s s g o k k
s

2.2. Konsep Industri Kreatif

Industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang berasal dari


pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan
kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan
memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut (Kemendag, 2008).
Lebih sederhana dapat disebutkan bahwa danya suatu inovasi dalam suatu
perusahaan dapat dikategorikan industri kreatif (Green et al, 2007).

Definisi Industri Kreatif berdasarkan UK DCMS Task force 1998 (dalam


Siti Nurjanah, 2013) adalah : “Creatives Industries as those industries which have
their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for
wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual
property and content”

Industri kreatif menjadi salah satu bidang yang sangat dipertimbangkan di


era ekonomi kreatif saat ini. Industri kreatif memiliki potensi yang sangat besar
bagi kesejahteraan dan penciptaan lapangan pekerjaan. Banyak studi mengenai
industri kreatif menyatakan kontribusi industri kreatif terhadap ekonomi terutama
pada penciptaan lapangan pekerjaan, pembangunan daerah dan dinamika kaum
urban. Aktivitas industri kreatif ini bersandar pada kreatifitas individual, keahlian
dan bakat. Berbeda dengan kebanyakan industri lainnya yang output utamanya

17
adalah produk material atau layanan yang segera digunakan, industri kreatif
outputnya berupa kekayaan intelektual.

Pengertian industri kreatif yang paling banyak dijadikan rujukan sampai


saat ini adalah definisi dari by the Creative Industries Task Force of DCMS yaitu:
“Creatives Industries as those industries which have their origin in individual
creativity, skill & talent, and which have a potential for wealth and job creation
through the generation and exploitation of intellectual property and content”
(Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025, 2008: 4)

Pengertian industri kreatif di Indonesia mengacu pada pengertian dari


Creative Industries Task Force of DCMS adalah sebagai berikut :

ndustri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, ketrampilan serta


bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan
melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu
tersebut (Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia 2025, 2008: 4)

Jadi dari pengertian industri kreatif di atas menyatakan bahwa inti dari
industri kreatif adalah pemanfaatan kreativitas, keterampilan dan bakat individu
sebagai ouput dengan proses perubahan melalui daya kreasi dan daya cipta
sehingga keluarannya berupa produk kreatif.

Selanjutnya pengertian lain dikemukakan oleh (Bilton and Leary,2002 :50)


“Creative industries” produce “symbolic goods” (ideas, experiences,
images) where value is primarily dependent upon the play of symbolic
meanings. Their value is dependent upon the end usr (viewer, audience,
reader, consumer) decoding and finding value within these meanings; the
value of “symbolic goods” is therefore dependent upon the user’s
perception as much as on the creation of original content, and that value
may or may not translate into a financial return”
Pengertian di atas menyatakan bahwa industri kreatif memproduksi barang
simbolis yang berupa ide, pengalaman atau citra dimana persepsi nilainya
tergantung dari para pengguna akhir seperti penonton, pembaca, pendengar atau
konsumen dan terkadang tidak dapat diterjemahkan dalam keuntungan finansial.

s K g k s g k k v s ko o g

18
terkait dengan penciptaan atau penggunaan pengetahuan dan informasi, yang
juga dikenal dengan istilah lain Industri Budaya atau juga Ekonomi Kreatif
(Hesmonddhalgh, 2002; Howkins 2014).
K P g g sk s k
industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat
individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan
menghasilkan dan mengeksploitasi daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.
Selain klasifikasi di atas, Inggris menggunakan pendekatan Creative
Business Model Framework untuk menafsirkan sektor kreatif dengan
mengumpulkannya ke dalam empat lingkaran: Konten Kreatif, Jasa Kreatif,
Kreatif Asli dan Pengalaman Kreatif.

Gambar 2.1. Creative Business Model Framework

19
Berdasarkan Perpres Nomor 72 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas Peraturan
Presiden Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif telah
mengklasifikasi ulang sub-sektor industri kreatif 16 sub-sektor, yaitu :

1. Aplikasi dan Game


2. Arsitektur
3. Desain Interior
4. Desain Komunikasi Visual
5. Desain Produk
6. Fashion
7. Film, Animasi dan Video
8. Fotografi
9. Kriya
10. Kuliner
11. Musik
12. Penerbitan
13. Periklanan
14. Seni Pertunjukan
15. Seni Rupa
16. Televisi dan Radio

2.3.Industri Kreatif di Indonesia


Di Indonesia industri kreatif mulai tumbuh sekitar tahun 2006 yang
melampaui pertumbuhan ekonomi nasional. Pertumbuhan ekonomi kreatif tahun
2006 mencapai 7,3%, sementara pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB)
nasional hanya 5,6%. Kemudian selama kurun waktu 2002-2006, industri kreatif
menyerap sekitar 5,9 juta tenaga pekerja dan memberi kontribusi devisa sebesar
81,5 triliun rupiah atau 9,13% terhadap total ekspor nasional (Ernawan, 2009).
Hasil kajian Departemen Perdagangan RI tahun 2007 beberapa indikator
dampak industri kreatif yang digunakan di Indonesia, secara umum adalah sebagai
berikut :

20
IDENTITAS BISNIS

Warisan Budaya Menciptakan pasar bagi


Membangun Budaya usaha lain.
Menjaga Nilai-Nilai
Kebermaknaan Mendukung sektor lain.

DAMPAK SOSIAL

KONTRIBUSI EKONOMI Pembangunan


Manusia Kualitas
EKONOMI
KREATIF Hidup
Lapangan Kerja PENTING BAGI
Kemakmuran
Pendapatan Nilai INDONESIA
Tukar Rupiah

CITRA

INOVASI & Pemasaran


Turisme
KREATIVITAS KOMUNIKASI
Icon Nasional

Ide dan Gagasan


Penciptaan Nilai Forum Diskusi
Pemecahan
Masalah

Sumber: Kementerian Perdagangan (2007)


Gambar 2. Arti Penting Industri Kreatif

Ekonomi kreatif digerakkan oleh sektor industri g s ‘ s


k ’ s k R P g g Eko o K -
5 g k k g g s ‘ s k ’ gs
ini banyak digunakan adalah berdasarkan definisi dari UK DCMS Task Force 1998.
Definisi yang sama juga digunakan oleh Departemen perdagangan untuk menjelaskan
industri kreatif di Indonesia, yaitu: “Industri yang berasal dari pemanfaatan

21
kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta
lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta
individu tersebut.”

Terlepas dari kontribusinya yang signifikan terhadap perekonomian nasional,


upaya pengembangan indutri kreatif di Indonesia juga memiliki tantangan.
kemenparekraf telah mengidentifikasi sedikitnya terdapat tujuh isu strategis yang
menjadi potensi sekaligus tantangan yang perlu mendapatkan perhatian para
pemangku kepentingan dalam pengembangan industri kreatif mendatang. Tujuh isu
strategis dalam pengembangan industri kreatif meliputi:

1. Ketersediaan sumber daya kreatif yang profesional dan kompetitif;


2. Ketersediaan sumber daya alam yang berkualitas, beragam, dan kompetitif; serta
sumber daya budaya yang dapat diakses secara mudah;
3. Industri kreatif yang berdaya saing, tumbuh, dan beragam;
4. Ketersediaan pembiayaan yang sesuai, mudah diakses dan kompetitif;
5. Perluasan pasar bagi karya kreatif;
6. Ketersediaan infrastruktur dan teknologi yang sesuai dan kompetitif;
7. Kelembagaan yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif.
Pada tahun 2015, Bank Indonesia melakukan pemetaan secara geografis industry
kreatif di Indonesia. Untuk skala menengah dan besar didapat peta berikut:

22
Gambar 3. Peta Lokasi Industri Berdaya Saing Skala Besar dan Menengah

Sumber : Bank Indonesia (2015) Kajian Peningkatan Akses Pembiayaan Bagi


Industri Kreatif
Di Indonesia Sektor Industri Kerajinan)
Dalam upaya melakukan analisis deskriptif serta mengidentifikasi dan
menganalisis pola industri kreatif berdaya saing di sejumlah provinsi yang telah

dibahas di atas maka digunakan pendekatan tipologi klassen7. pendekatan tipologi


klassen sebenarnya lebih sering digunakan untuk mengetahui pola dan struktur
ekonomi suatu daerah atau lebih dikenal sebagai analisis tipologi daerah (kuncoro,
2004), namun dalam kajian ini alat tersebut akan digunakan untuk melihat pola atau
karakteristik industri yang ada dengan sedikit memodifikasi klasifikasi serta variabel
kunci yang digunakan. Tabel 1 menunjukkan tipologi dari sektor industri skala
menengah besar yang berdaya saing di beberapa provinsi yang telah dibahas
sebelumnya.

23
Industri kreatif sering pula diasosiasikan dengan industri skala kecil dan
mikro atau UkM karena usaha- usaha industri kreatif lebih banyak memanfaatkan
kreativitas dan inovasi dari sumber daya manusia dalam jumlah yang terbatas.
Industri kreatif juga banyak diasosiasikan dengan UKM karena banyak pelaku usaha
industri kreatif berbentuk start-up business, yaitu pelaku usaha yang baru memulai
usaha.

Metode analisis daya saing dan pemetaan yang dilakukan untuk data industri
besar dan menengah juga diterapkan untuk data industri kecil dan mikro. Secara
sektoral, hasil data analisis menunjukan bahwa dari lima sektor industri kreatif yang
dianalisis hanya empat sektor industri kreatif yang dapat digolongkan sebagai
berdaya saing, yaitu sektor industri kerajinan, fesyen, desain, dan percetakan dan
penerbitan. Secara geografis, hasil data analisis menunjukan bahwa hanya 10 provinsi
yang setidaknya memiliki satu sektor industri kreatif skala kecil dan mikro yang
berdaya saing, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DkI Jakarta, Jawa Barat,
Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan
Sulawesi Selatan

Industri kreatif sering pula diasosiasikan dengan industri skala kecil dan
mikro atau UkM karena usaha- usaha industri kreatif lebih banyak memanfaatkan
kreativitas dan inovasi dari sumber daya manusia dalam jumlah yang terbatas.
Industri kreatif juga banyak diasosiasikan dengan UkM karena banyak pelaku usaha
industri kreatif berbentuk start-up business, yaitu pelaku usaha yang baru memulai
usaha.

Metode analisis daya saing dan pemetaan yang dilakukan untuk data industri
besar dan menengah juga diterapkan untuk data industri kecil dan mikro. Secara
sektoral, hasil data analisis menunjukan bahwa dari lima sektor industri kreatif yang
dianalisis hanya empat sektor industri kreatif yang dapat digolongkan sebagai
berdaya saing, yaitu sektor industri kerajinan, fesyen, desain, dan percetakan dan

24
penerbitan. Secara geografis, hasil data analisis menunjukan bahwa hanya 10 provinsi
yang setidaknya memiliki satu sektor industri kreatif skala kecil dan mikro yang
berdaya saing, yaitu Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DkI Jakarta, Jawa Barat,
Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Banten, Bali, Nusa Tenggara Barat, dan
Sulawesi Selatan

Sektor industri fesyen skala kecil dan mikro yang berdaya saing dapat
dijumpai di provinsi Sumatera Barat, Sumatera Selatan, DkI Jakarta, Jawa Barat, D.I
Yogyakarta, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan. Hal ini sebagaimana ditunjukan
dalam pemetaan menggunakan analisis GIS yang ditampilkan dalam gambar 2
dibawah ini.

Gambar 4. Industri UKM Fesyen

25
PROVINSI LQ DLQ
Sumatera Barat 2.13 1.13
Sumatera Selatan 1.81 2.47
Jawa Timur 1.72 1.15
Jawa Tengah 1.71 0.51
Lampung 1.55 0.55
Bali 1.54 0.79
DI Yogyakarta 1.39 1.01
Jawa Barat 1.32 1.57
DKI Jakarta 1.26 2.64
Sulawesi Selatan 1.21 1.06
NTB 0.88 1.23
Banten 0.83 0.33
Tabel 1. Analisis Daya Saing Industri Kreatif Fesyen

Hasil analisis daya saing yang dilakukan terhadap sektor fesyen skala kecil
dan mikro yang ditunjukan dalam tabel 2 menunjukkan bahwa sektor industri fesyen
yang paling berdaya saing berada di provinsi Sumatera Barat jika diukur dari
produktivitas tenaga kerja pada saat ini, terlihat dari nilai LQ (LQ= 2,13) yang lebih
tinggi dibandingkan provinsi lainnya. Namun, di masa mendatang potensi
keunggulan dari perkembangan produktivitas tenaga kerja sektor industri fesyen di
provinsi Sumatera Barat masih kalah dibandingkan dengan provinsi DkI Jakarta,
yang terlihat dari nlai DLQ provinsi DkI Jakarta yang lebih tinggi dibandingkan nilai
DLQ provinsi lainnya (DLQ = 2,64).

Sedangkan Jawa Barat untuk fesyen masih di bawah Sumatera Barat namun
potensi keunggulan masih lebih tinggi dari Sumatera Barat.

26
Sektor industri desain skala kecil dan mikro yang berdaya saing dapat
dijumpai hanya di dua provinsi, yaitu Jawa Barat dan Jawa Timur. Hal ini
sebagaimana ditunjukan dalam pemetaan menggunakan analisis GIS yang
ditampilkan dalam gambar 3 dibawah ini.

Gambar 5. Lokasi Industri Desain Berdaya Saing Skala Kecil dan Mikro

Hasil analisis daya saing yang dilakukan terhadap sektor desain skala kecil
dan mikro yang ditunjukan dalam tabel 3 menunjukkan bahwa sektor industri desain
di provinsi Jawa Timur lebih unggul dibandingkan di Jawa Barat jika dilihat dari
keunggulan produktivitas tenaga kerja yang diukur pada saat ini (dilihat dari nilai
LQ) dan diukur pula potensinya untuk waktu mendatang (dilihat dari nilai DLQ).

27
Tabel 2. Analisis Daya Saing Sektor Industri Desain Skala Kecil dan Mikro

PROVINSI LQ DLQ
Banten 7.02 0.72
Lampung 3.13 0.34
Jawa Timur 3.05 3.24
DKI Jakarta 2.98 N/A
Jawa Barat 2.13 1.57
DI Yogyakarta 1.97 0.77
Jawa Tengah 0.92 2.7

Provinsi Jawa Barat memiliki DLQ lebih besar dibandingkan Jawa Timur,
sehingga hal ini menjelaskan bahwa sektor industri desain skala kecil dan menengah
di provinsi Jawa Barat lebih mampu menciptakan pertumbuhan nilai tambah yang
lebih besar.

2.4. Jenis Sumber Pembiayaan

Menurut Riyanto (2002) jenis sumber pembiayaan itu secara garis besar ada
dua : Dari internal (dari dalam perusahaan), dan dari eksternal (dari luar perusahaan).
Lebih spesifik dijelaskan bahwa jenis-jenis pembiayaan usaha itu adalah sebagai
berikut :

1. Dana sendiri

2. Patungan (join saham)

3. Pinjaman, baik itu dari sektor formal (bank, lembaga keuangan mikro, dsb)
maupun informal (pinjaman dari saudara, dsb).

28
4. Hibah, baik itu dari sektor formal (program pemerintah, dsb) maupun informal
(hibah dari keluarga, dsb)

2.5. Alternatif Pembiayaan di Era Digital.

Salah satu alternatif sumber pembiayaan di era sekarang ini adalah :


crowdfunding, dimana proses penggalangan dana yang difasilitasi oleh platform
digital. Adapun Crowdfunding dapat dibedakan menjadi 4 kategori utama, yaitu
(Husain & Root, 2015):

1. Donation-based, berbasis donasi biasanya untuk kepentingan sosial.

2. Reward-based, mirip donasi, tetapi pembuat proyek menawarkan hadiah atas


donasinya.

3. Lending-based, galang dana ini bersifat pinjaman yang menawarkan keuntung


bunga atau bagi hasil.

4. Equity-based, galang dana ini menawarkan keuntungan sebagian saham


perusahaannya.

2.6. Faktor Keputusan Pembiayaan

Menurut Riyanto (2002) faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan


pendanaan adalah tingkat bunga, stabilitas earning, susunan aktiva, kadar risiko dari
aktiva, jumlah modal yang diperlukan, keadaan pasar modal, sifat manajemen dan
ukuran perusahaan. Weston dan Brigham (1997) mengungkapkan bahwa faktor-
faktor yang mempengaruhi keputusan pendanaan adalah stabilitas penjualan,
likuiditas, struktur aktiva, operating leverage, tingkat pertumbuhan, profitabilitas,
produktivitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, kondisi pasar keuangan dan
fleksibilitas keuangan. Menurut Sartono (2001), faktor-faktor yang mempengaruhi

29
keputusan pendanaan adalah tingkat penjualan, struktur aset, tingkat pertumbuhan
perusahaan, profitabilitas, variabel laba dan pajak, skala perusahaan, kondisi internal
perusahaan, dan ekonomi makro.

2.7.Strategi Keuangan Industri Kreatif

Salah satu aspek yang kurang diperhatikan dalam pembentukan strategi


perusahaan, khususnya pada usaha mikro, kecil dan menengah, adalah mengenai
keputusan keuangan. Analisis dan perencanaan keuangan merupakan faktor dasar
yang dapat mendukung strategi perusahaan yang tidak ditemui pada usaha mikro,
kecil dan menengah, bahkan menjadi kendala yang dipaksakan saat pengambilan
keputusan keuangan perusahaan. Strategi keuangan merupakan jalan untuk mencapai
tujuan, arah atau alternatif yang dirancang untuk meningkatkan dan mengoptimalkan
manajemen keuangan dalam rangka mencapai hasil perusahaan (López, 2006).

Strategi keuangan terdiri dari tiga jenis keputusan yang saling terkait, yaitu
keputusan investasi, pendanaan dan pembagian laba (Ross, Westerfield & Jordan,
2000). Keputusan investasi berhubungan dengan alokasi modal untuk melaksanakan
peluang investasi yang berharga (membawa nilai) kepada perusahaan, dengan
mempertimbangkan besarnya, peluang dan risiko dari arus kas masa depan dari
investasi. Keputusan pendanaan menyangkut campuran spesifik utang jangka panjang
dan modal yang digunakan perusahaan untuk membiayai operasinya, yaitu struktur
modal yang optimal. Keputusan pembagian laba merupakan keputusan untuk
menentukan besarnya persentase laba yang dibagikan sehingga dapat meningkatkan
kemakmuran pemilik modal.

Dengan asumsi tujuan perusahaan adalah untuk memaksimalkan keuntungan,


penting bagi perusahaan untuk mencari kombinasi optimal dari tiga jenis keputusan
keuangan. Mallette (2006) berpendapat bahwa strategi keuangan organisasi sangat

30
penting untuk perusahaan yang harus dievaluasi dan disesuaikan dengan strategi
operasional. Mallette (2006) juga mengatakan bahwa evaluasi strategi keuangan
harus konsisten dengan operasi, kebutuhan dan kekhususan bisnis.

Jog dan Srivastava (1994) melakukan penelitian dengan mengamati proses


pengambilan keputusan keuangan perusahaan-perusahaan Kanada, serta teknik yang
digunakan oleh perusahaan tersebut untuk membuat keputusan tentang anggaran
modal, biaya dan sumber pendanaan, dan dividen. Hasil penelitian mereka
menunjukkan bahwa keputusan investasi berhubungan erat dengan peluang
pendanaan, dan bahwa metode yang digunakan untuk anggaran modal adalah tingkat
pengembalian internal dan nilai bersih sekarang.Mereka juga menemukan bahwa
sebagian besar perusahaan Kanada menentukan utang yang optimal dan rasio ekuitas.
Berkenaan dengan keputusan dividen, laba sekarang dan masa depan merupakan
faktor pertimbangan perusahaan yang paling relevan ketika memutuskan kebijakan
dividen.

Kelompok penelitian lainmenganalisis perusahaan menggunakan 'teknik


analisis keuangan tertentu. Lazaridis (2002) dan Pohlman et. Al. (1988) menyelidiki
cara di mana perusahaan menghasilkan informasi untuk menghitung arus kas, dan
menemukan sejumlah besar perusahaan menggunakan metode subjektif untuk
meramalkan arus kas dan hanya beberapa perusahaan mengadopsi teknik canggih.
Kamath (1997) mempelajari keputusan pendanaan jangka panjang di perusahaan
besar dan menemukan bahwa sebagian besar perusahaan tidak menjaga tujuan dalam
struktur utang dan ekuitas mereka, lebih memilih hirarki keuangan. Mereka juga
menunjukkan bahwa masalah utama dalam keputusan pembiayaan yang berkaitan
dengan mempertahankan fleksibilitas keuangan dan memastikan kelangsungan hidup
dalam jangka panjang. Zopounidis dan Doumpos (2002) meneliti teknik yang disebut
"Multi-criteria decision Aid" " (MCDA) yang membantu pengambilan keputusan
keuangan, dengan mengevaluasi aspek-aspek seperti kinerja perusahaan, investasi,
masalah keuangan dan kredit.

31
Demikian juga, telah ada penelitian yang menitikberatkan pada analisis
keputusan keuangan dan dampaknya pada penciptaan nilai bagi investor. Escalera dan
Herrera (2006) dalam Lovez (2012) mempelajari hubungan antara pengambilan
keputusan keuangan dan penciptaan nilai ekonomi di perusahaan Meksiko. Mereka
menemukan bahwa perusahaan yang menggunakan pembiayaan pemasok lebih
mungkin untuk menciptakan nilai ekonomi selama mereka tidak memiliki pinjaman
bermasalah, dan bahwa keputusan investasi harus melakukan inventarisasi ke
rekening. Namun, penelitian mereka didasarkan pada persepsi pemilik usaha kecil
mengenai pentingnya keputusan, dengan mengesampingkan studi variabel seperti
kinerja bisnis dan daya saing ketika melaksanakan strategi keuangan.

Untuk itulah mengapa strategi keuangan harus dikaji lebih mendalam karena
terkait erat dengan keputusan keuangan yang akan diambil oleh perusahaan, terutama
berkaitan dengan keputusan investasi, keputusan pendanaan, dan keputusan
pembagian keuntungan. Kondisi pada usaha kecil tentu akan berbeda dengan kondisi
pada usaha besar sehingga strategi keuangan pada usaha kecil tentunya akan berbeda
pula dengan strategi keuangan yang digunakan dalam usaha besar lainnya.

32
BAB III.
TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN

3.1. Tujuan Penelitian


Berdasarkan latar belakang sebelumnya dapat disimpulkan bahwa, salah satu
kendala paling signifikan dalam pengembangan industri kreatif adalah akses
pembiayaan yang terbatas. Hal ini dikarenakan skema pembiayaan yang umum
sekarang kurang dapat memfasilitasi karakteristik khas dari industri kreatif yang
relatif terkait dengan aset yang intagible, bisnis yang tidak stabil, serta ukuran usaha
yang umumnya kecil. Oleh sebab itu tujuan penelitian ini dilakukan adalah :

1. Untuk menemukenali masalah sesungguhnya dari skema pembiayaan yang ada


selama ini untuk industri kreatif.

2. Untuk menemukan alternatif model pembiayaan untuk industri kreatif.

3. Untuk menyusun rancangan prototipe model pembiayaan untuk industri


kreatif.

3.2. Manfaat Penelitian

Adapun mengenai beberapa manfaat penelitian ini yang ingin dicapai adalah
sebagai berikut :

1. Bagi peneliti, sebagai pengembangan ilmu pengetahuan di bidang


administrasi bisnis, khususnya pada perancangan model alternatif
pembiayaan yang sesuai dengan sektor industri kreatif di Kota Bandung
khususnya, dan Indonesia secara umum.
2. Bagi Masyarakat, sebagai salah satu rujukan untuk mengetahui
permasalahan secara khusus pada aspek pembiayaan industri kreatif,

33
sekaligus mendapatkan alternatif model pembiayaan yang lebih sesuai
dengan karakteristik industri kreatif.

34
BAB IV.
METODE PENELITIAN

4.1. Rancangan Riset

Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian
kuantitatif, dimana fokus dari penelitian ini adalah untuk mencari dan mengukur pola
keterkaitan korelasi antar variabel. Jenis pendekatan yang digunakan adalah analisis
deskripsi kuantitatif dengan penelitian expanotory research (Kuncoro, 2007:56).
Penelitian explanatory research merupakan penelitian yang menjelaskan hubungan
antara variabel-variabel X dan Y. Menurut Singarimbun dan Effendi (1995:5)
penelitian explanatory adalah penelitian yang menjelaskan hubungan antara
variabel-variabel penelitian dan pengujian hipotesis yang telah dirumuskan
sebelumnya. Kemudian metode penelitian yang digunakan adalah metode survey,
dimana biasanya dilakukan dengan menyebarkan kuesioner atau wawancara, dengan
tujuan untuk mengetahui: siapa mereka, apa yang mereka pikir, rasakan, atau
kecenderungan suatu tindakan. Menurut Singarimbun dan Effendi (1995:5) metode
survey adalah metode yang mengambil data dari satu populasi dan menggunakan
kuisioner sebagai pengumpulan alat data yang pokok sehingga penelitian survey
bertujuan untuk mengetahui pendapat responden, data yang akan diperoleh dari
pengambilan sampel dalam populasi yang akan diteliti.

4.2. Data, Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data

Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dimana menurut
Sumarsono (2004:77) data primer adalah seluruh data dan informasi yang didapat
langsung pada obyek penelitian, sedangkan data sekunder adalah data pendukung
terkait dengan tema riset yang sumbernya didapat secara tidak langsung dari obyek
riset, baik itu online maupun offline seperti misalnya : laporan, jurnal, buku literatur,

35
peraturan, dan sebagainya. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi
langsung ke lapangan, menyebarkan angket, dan wawancara kepada responden.

4.3. Pengambilan dan Pemilihan Sampel

Instrumen penelitian utama dari riset ini adalah wawancara dengan informan
yang kompeten, diantaranya dari pelaku industri kreatif, pejabat dinas terkait,
perwakilan komunitas industri kreatif, serta pakar pembiayaan dari akademisi. Pada
penelitian ini, populasinya adalah seluruh industri kreatif di Kota Bandung, dimana
jumlahnya belum diketahui secara pasti. Sementara jumlah sampel yang diambil
adalah 120 responden yang diambil dengan cara cluster sampling, dimana
pengambilan sampling diambil dengan cara membagi populasi menjadi beberapa
kelompok bagian (Jogianto, 2016).

4.4. Analisis Data

Analisis data pada dasarnya yaitu memperkirakan atau dengan menentukan besarnya
pengaruh secara kuantitatif dari perubahan suatu (beberapa) kejadian terhadap sesuatu
(beberapa) kejadian lainnya, serta memperkirakan atau meramalkan kejadian lainnya.
Kejadian (event) dapat dinyatakan sebagai perubahan nilai variabel. Dalam penelitian
kuantitatif, analisis data merupakan kegiatan setelah data dari seluruh responden atau
sumber data lain terkumpul. Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan
data berdasarkan variabel dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel
dari seluruh responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti. melakukan
perhitungan untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk
menguji hipotesis yang telah diajukan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis
regresi linier sederhana, karena variabel yang terlibat dalam penelitian ini ada dua,
yaitu kemampuan karakteristik industri kreatif sebagai variabel bebas dan

36
dilambangkan dengan X serta karaktersitik modal usaha sebagai variabel terikat dan
dilambangkan dengan Y serta berpangkat satu.

Analisis regresi linier sederhana dilakukan dengan membuat persamaan regresi


sederhananya, dan menguji keberartian dan kelinieran regresi. Semua tahap analisis
data kuantitatif yang dilakukan oleh peneliti akan dilakukan dengan menggunakan
teknik statistik uji dengan SPSS 16.0 untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh antara
2 variabel yang telah dijelaskan di atas. Hal ini untuk memperkuat analisis yang
dilakukan oleh peneliti.

4.6. Lokasi dan Waktu Riset

Pelaksanaan riset ini akan mengambil lokasi di Kota Bandung, dan


rencananya dialokasikan waktu pelaksanaannya selama 2 tahun, dari bulan April
2018 s/d November 2019.

37
BAB V.
HASIL DAN LUARAN YANG DICAPAI

5.1 Gambaran Umum Pelaku Usaha Industri Kreatif Kota Bandung

Pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh pemerintah kota Bandung


bertujuan untuk mencapai masyarakat yang adil, makmur dan sejahtera. Salah satu
perhatian pemerintah kota Bandung dalam pembangunan ekonomi yang dilakukan
adalah pertumbuhan industri kreatif. Pelaku Usaha Kecil dan Menengah pada
industry kreatif di Kota Bandung tersebar di 30 Kecamatan Kota Bandung. Adapun
usaha yang digeluti oleh pelaku usaha kecil dan menengah meliputi 16 sektor usaha
yang termasuk dalam industri kreatif, dan untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada
tabel bawah ini :
Tabel 3. Sub Sektor Industri Kreatif di Kota Bandung
No Sub Sektor Jumlah
1. Photografi 28
2. Kuliner 381
3. Riset dan Pengembangan 9
4. Televisi dan Radio 23
5. Layanan Komputer dan Piranti Lunak 11
6. Penerbitan dan Percetakan 77
7. Seni Pertunjukkan 5
8. Musik 28
9. Permainan Interaktif 6
10. Film & Video 2
11. Fashion 1.244
12. Desain 73
13. Kerajinan 395
14. Pasar Barang Seni dan Barang Antik 46
15. Arsitektur 15
16. Periklanan 14
Jumlah 2.357
Sumber : Survei, 2017

38
Pelaku usaha kecil dan menengah industri kreatif di Kota Bandung paling
banyak bergerak di sub sektor fashion, kemudian menyusul sub sektor kerajinan dan
kuliner. Sedangkan untuk pelaku usaha di sub sektor Film & Video, Seni
Pertunjukkan serta Riset dan Pengembangan, tergolong sangat kecil, kisaran
jumlahnya di bawah 10 pelaku usaha.
Adapun sebaran pelaku usaha kecil dan menengah di 30 kecamatan di Kota
Bandung dapat dilihat pada tabel 4.2 di bawah ini :

Tabel 4. Sebaran Pelaku Industri Kreatif di Kota Bandung


No. Kecamatan Jumlah
1. Andir 162
2. Antapani 45
3. Arcamanik 50
4. Astana Anyar 23
5. Babakan Ciparay 36
6. Bandung Kidul 34
7. Bandung Kulon 73
8. Bandung Wetan 195
9. Batununggal 106
10. Bojongloa Kaler 84
11. Bojongloa Kidul 298
12. Buahbatu 54
13. Cibeunying Kaler 97
14. Cibeunying Kidul 58
15. Cibiru 39
16. Cicendo 61
17. Cidadap 45
18. Cinambo 5
19. Coblong 83
20. Gedebage 21
21. Kiara Condong 43
22. Lengkong 73
23. Mandalajati 25
24. Panyileukan 12

39
No. Kecamatan Jumlah
25. Rancasari 68
26. Regol 343
27. Sukajadi 54
28. Sukasari 56
29. Sumur Bandung 79
30. Ujungberung 34
Jumlah 2.357
Sumber : Hasil Survei, 2017

Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jumlah pelaku usaha kecil
dan menengah industri kreatif di Kota Bandung terbanyak berada di Kecamatan
Regol. Lokasi Kecamatan Regol yang terletak di pusat kota menjadi alasan tersendiri
bagi para pelaku usaha kecil dan menengah untuk mengembangkan usahanya di
kawasan tersebut.
Untuk melihat sub sektor industri kreatif yang dominan di masing-masing
kecamatan di Kota Bandung, dapat dilihat pada tabel di bawah ini :

40
Tabel 5. Sub Sektor Industri Kreatif Per Kecamatan Di Kota Bandung

Jenis Usaha

seni dan barang

pengembangan
dan Percetakan

13. Televisi dan


7. Film & Video
3.Pasar barang

11. Penerbitan

16. Photografi
Pertunjukkan
8. Permainan
1. Periklanan

2. Arsitektur

14. riset dan


piranti lunak
Komputer &
12. Layanan
4. Kerajinan

15. Kuliner
6. Fashion

Interaktif
5. desain

9. Musik
10. Seni
Pelaku

radio
antik
No Kecamatan Usaha
1 Andir 162 0 5 0 6 7 138 0 0 0 0 0 1 0 0 3 2
2 Antapani 45 0 0 0 4 3 17 0 1 1 0 0 1 0 1 16 1
3 Arcamanik 50 1 0 0 9 2 23 0 0 2 0 0 0 0 0 12 1
4 Astana Anyar 23 0 0 0 7 0 8 0 0 1 0 1 0 1 0 5 0
5 Babakan Ciparay 36 0 1 1 8 1 10 0 0 1 0 0 0 0 0 14 0
6 Bandung Kidul 34 0 1 0 6 2 18 0 0 0 0 0 0 0 0 7 0
7 Bandung Kulon 73 1 0 0 27 6 27 0 0 2 0 0 0 0 1 5 4
8 Bandung Wetan 195 1 1 3 33 8 98 0 0 1 0 2 0 2 3 42 1
9 Batununggal 106 0 0 0 7 0 94 0 0 1 0 0 0 2 0 2 0
10 Bojongloa Kaler 84 0 1 0 12 10 14 0 0 0 0 39 0 0 0 8 0

Tabel Sub Sektor Industri Kreatif Per Kecamatan Di Kota Bandung (Lanjutan)

Jenis Usaha
seni dan barang

pengembangan
dan Percetakan

13. Televisi dan


7. Film & Video
3.Pasar barang

11. Penerbitan

16. Photografi
Pertunjukkan
8. Permainan
1. Periklanan

2. Arsitektur

14. riset dan


piranti lunak
Komputer &
12. Layanan
4. Kerajinan

15. Kuliner
6. Fashion

Interaktif
5. desain

9. Musik

10. Seni

Pelaku
radio
antik

No Kecamatan Usaha
11 Bojongloa Kidul 298 1 0 0 20 2 270 0 0 1 0 1 0 0 0 3 0
12 Buahbatu 54 0 0 1 10 1 21 0 0 0 0 0 1 1 0 19 0
13 Cibeunying Kaler 97 5 0 0 8 12 59 0 2 1 0 4 0 0 0 6 0
14 Cibeunying Kidul 58 0 1 0 22 0 23 0 0 3 0 1 1 0 0 5 2
15 Cibiru 39 2 0 1 9 1 14 1 0 0 1 0 0 0 0 7 3
16 Cicendo 61 0 1 1 12 1 27 1 1 1 0 0 0 3 0 12 1
17 Cidadap 45 0 0 0 22 1 4 0 0 1 0 1 0 1 0 13 2
18 Cinambo 6 0 0 0 0 1 0 0 0 0 0 2 0 0 0 3 0
19 Coblong 83 0 1 0 16 4 25 0 1 1 1 1 1 0 0 31 1
20 Gedebage 21 0 0 0 9 2 4 0 0 0 0 0 0 0 1 5 0

41
Tabel Sub Sektor Industri Kreatif Per Kecamatan Di Kota Bandung (Lanjutan)

Jenis Usaha

seni dan barang

pengembangan
dan Percetakan

13. Televisi dan


7. Film & Video
3.Pasar barang

11. Penerbitan

16. Photografi
Pertunjukkan
8. Permainan
Pelaku

1. Periklanan

2. Arsitektur

14. riset dan


piranti lunak
Komputer &
12. Layanan
4. Kerajinan
No Kecamatan

15. Kuliner
6. Fashion
Usaha

Interaktif
5. desain

9. Musik

10. Seni

radio
antik
21 Kiara Condong 43 0 0 0 10 0 16 0 0 0 1 3 0 0 0 12 1
22 Lengkong 73 0 0 0 19 1 23 0 1 1 0 1 1 4 1 20 1
23 Mandalajati 25 0 1 0 11 1 4 0 0 0 0 1 0 0 0 7 0
24 Panyileukan 12 0 0 0 4 0 4 0 0 0 0 0 0 0 0 4 0
25 Rancasari 68 0 0 0 20 1 11 0 0 2 0 4 0 0 0 28 2
26 Regol 343 2 2 0 51 3 260 0 0 4 1 5 1 1 0 10 3
27 Sukajadi 54 0 0 0 13 0 9 0 0 2 1 0 1 2 0 26 0
28 Sukasari 56 0 0 1 7 0 7 0 0 1 0 1 3 4 0 31 1
29 Sumur Bandung 79 1 0 38 9 1 5 0 0 1 0 0 0 2 0 21 1
30 Ujungberung 34 0 0 0 4 2 11 0 0 0 0 10 0 0 2 4 1
Total 2357 14 15 46 395 73 1244 2 6 28 5 77 11 23 9 381 28
Persentase 0 0.01 0.01952 0.168 0.03 0.528 0.001 0.0025 0.01 0.0021 0.033 0.005 0.010 0.004 0.16 0.01
Sumber : Survei, 2017

42
Gambar 7. Jenis Kelamin Pengusaha UMKM Kota Bandung

Dalam survey yang dilakukan, sebanyak 2357 pelaku UMKM, terdiri dari 756 (32%)
adalah pengusaha wanita dan 1601 (68%) adalah pengusaha pria. Dari data di atas terlihat
bahwa jumlah pengusaha wanita cukup signifikan. Hal ini menunjukkan bahwa wanita juga
memberikan kontribusi terhadap perekonomian di kota Bandung.

Secara umum pelaku pengusaha di Kota Bandung adalah berjumlah 9866 sesuai data
dari Data Basis Pembangunan Kota Bandung, namun pelaku industry kreatif dirasakan masih
lebih sedikit. Jumlah sampel 2357 sudah sangat mewakili dari pengusaha yang ada di Kota
Bandung.

Bagaimanakah progress dari UMKM Kota Bandung, berikut ini dikutip dari
www.bandungbisnis.com

Jumlah Pelaku UKM di kota Bandung memang menunjukkan peningkatan yang signifikan
dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Kota Bandung adalah magnet bagi para
wisatawan, terutama para wisatawan lokal atau domestik. Pasalnya, kota ini menawarkan
beragam pesona dan keindahan yang agaknya sulit untuk bisa ditemukan di tempat lain. Hal
itulah yang kemudian menyebabkan jumlah wisatawan lokal yang berkunjung dari tahun ke
tahun mengalami peningkatan cukup pesat.
Hal itu kemudian direspon oleh para pelaku UKM untuk membuka bisnis.Banyak dari mereka
yang kemudian membuka Factory Outlet, Clothing Company atau CC, Distro hingga tempat
makan unik yang menawarkan beragam menu.Meski sejatinya jumlah FO, CC maupun distro
dan tempat makan di Bandung sudah cukup banyak, namun agaknya mereka tidak takut untuk

43
bersaing.Mereka belomba – lomba menawarkan ide kreatif yang mereka miliki dengan tujuan
agar konsumen tertarik untuk berbelanja di tempat mereka.
Pemerintah Kota Bandung agaknya sadar dengan fenomena tersebut dan tidak ingin tinggal
diam. Pihak pemerintah, termasuk walikota Ridwan Kamil justru memberikan apresiasi dalam
wujud dukungan kepada para pelaku UKM agar terus kreatif dan terus berupaya
mengembangkan produk mereka. Pemerintah beserta dengan berbagai instansi terkait serta
pelaku usaha yang sudah berhasil mendirikan Klinik UKM sebagai wujud apresiasi mereka
terhadap meningkatnya jumlah pelaku usaha menegah ke bawah di Kota tersebut.mereka pun
dengan giat melaksanakan pendampingan dan pelatihan dengan harapan agar kemampuan
yang dimiliki oleh para usahawan tersebut meningkat sehingga produk yang mereka hasilkan
nantinya dapat bersaing di pasar yang lebih luas. Meski begitu, pemerintah juga menghimbau
agar para pelaku UKM juga turut pro aktif.Mereka diminta agar terus berinovasi dan terus
mengembangkan kreativitas yang mereka miliki.
(http://www.bandungbisnis.com/pelaku-ukm-kota-bandung-meningkat-pesat/)

Gambar 8. Latar Belakang Tingkat Pendidikan

Survey yang dilaksanakan untuk penelitian ini menemukan bahwa pelaku industri
kreatif didominasi oleh pengusaha dengan lulusan SMA. Hal ini menunjukkan bahwa
Sebagian besar pengusaha di industry kreatif adalah telah memiliki pendidikan yang baik.
Seperti kita ketahui bahwa dominasi penduduk di Bandung adalah usia muda.

44
Gambar 9. Presentase Pengusaha Pemilik NPWP

Adapun dari hasil survey, pengusaha yang memiliki NPWP sudah diatas 50%
menunjukkan bahwa sudah banyak pengusaha yang mendaftarkan usahanya. Kepemilikan
NPWP akan memudahkan pengusaha untuk mendapatkan peluang mendapatkan kemudahan
permodalan dari pihak perbankan. Kepemilikan NPWP merupakan salah satu persyaratan
untuk mendirikan perusahaan di Indonesia. Persyaratan untuk memperoleh NPWP
sebenarnya sudah dipermudah oleh Pemerintah, namun tidak semua pelaku bisnis memiliki
kesadaran untuk memiliki NPWP. Kendala pengusaha tidak memiliki NPWP adalah menutup
peluang untuk mengembangkan bisnisnya.

Memang jika diperhatikan secara seksama, jumlah usahawan di kota Bandung yang
dikategorikan menengah ke bawah masih sangat banyak. Banyak dari mereka yang hingga
saat ini masih sekadar coba – coba atau ikut arus. Mereka belum memiliki pedoman yang
baku dan standar kualitas yang baik hingga tidak sedikit dari para pelaku usaha tersebut yang
terpaksa harus berhenti di tengah jalan. Meski begitu, tidak sedikit pula yang berhasil.Mereka
paa umumnya adalah para pelaku usaha yang senantiasa kreatif dan tidak mudah
menyerah.Mereka yang berhasil kebanyakan juga adalah para usahawan yang gigih yang
selalu mencari cara dan metode baru agar konsumen bersedia untuk membeli produk yang
mereka buat. (http://www.bandungbisnis.com/pelaku-ukm-kota-bandung-meningkat-pesat/)

45
Gambar 10. Jumlah Pegawai

Dalam survey yang dilakukan, mayoritas pengusaha memiliki jumlah pegawai kurang
dari 5 orang.Sedangkan jumlah karyawan sebanyak 5 sampai 20 orang adalah untuk kategori
yang kedua.

Secara rata-rata jumlah kinerja di Kota Bandung adalah 16 orang sesuai Data Basis
Pembangunan Kota Bandung 2015. Sesuai data tersebut, jumlah perusahaan kecil menengah
adalah 51.420 tenaga kerja dan unit usahanya berjumlah 3.170 perusahaan.

Data- data di atas menunjukan bahwa sumber daya manusia yang terlibat dalam
Industri Kreatif Kota Bandung sangat banyak. Dari hasil wawancara didapatkan informasi
bahwa agak sulit untuk mencari pekerja terampil karena pada beberapa perusahaan
pekerjaanya sangat spesifik. Seperti misalnya pada perusahaan produsen jam tangan kayu
Matoa, pekerja yang diperlukan adalah pekerja dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Hal ini
karena proses produksi jam tangan sangat rumit sehingga apabila terjadi kesalahan sedikit
saja akan mengakibatkan produksi menjadi cacat.
Selain Matoa, perusahaan lain yang membutuhkan pekerja dengan ketelitian tinggi
adalah Tinong Kebaya. Proses produksi kebaya salah satu tahapannya adalah memasang
payet. Pekerjaan ini membutuhkan kesabaran dan keterampilan tinggi karena waktu yang
dibutuhkan sangat lama.
Pada perusahaan lain juga terdapat keluhan mengenai pekerja seperti misalnya
ketidakonsistenan pekerja dalam bekerja mengakibatkan kualitas menjadi agak sulit dijaga.
Selain itu turn over pekerja pada industri ini juga relative tinggi.
46
5.2. Karakteristik Industri Kreatif

Industri kreatif memiliki karakteristik yang berbeda dengan industri – industri yang lainnya.
Pada penelitian ini telah diambil responden sebanyak 120 orang dari kalangan industri kreatif.
Selanjutnya akan dipaparkan mengenai hasil tanggapan responden mengenai item – item pernyataan
terkain karakteristik industri kreatif berikut ini, sehingga nanti dapat dilihat apakah para industri skala
UKM yang diambil sebagai responden ini memiliki karakteristik industri kreatif yang dominan atau
tidak. Untuk memudahkan pembahasan, maka pemaparan hasil tanggapan responden ini akan dimulai
dari menampilan posisi skor total tiap item pada garis internal yang terdiri dari skala Sangat Rendah
sampai dengan Sangat Tinggi, serta membandingkan hasil tersebut dengan hasil wawancara dengan
beberapa responden.

Item pernyataan pertama mengenai tanggapan responden mengenai pernyataan usaha mereka
melibatkan unsur kreativitas yang tinggi, dengan total skor 472, maka bila total skor tersebut
diposisikan pada garis internal yang telah ditentukan sebelumnya, akan terlihat sebagai berikut :

472

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 11. Posisi Kategori Total Skor Usaha Melibatkan Unsur Kreativitas yang Tinggi

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 472 ini ada pada kategori tinggi, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden pada penelitian ini memiliki melibatkan unsur
kreativitas yang tinggi dalam menjalankan usahanya.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan usaha mereka
banyak menggunakan bakat SDM yang kreatif ini memiliki total skor 416. Total skor ini apabila
diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

47
416

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600
Gambar 12. Posisi Kategori Total Skor Usaha Banyak Menggunakan Tenaga Kerja dengan Bakat
Kreatif

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 416 ini ada pada kategori tinggi, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden pada penelitian ini menggunakan tenaga kerja
dengan bakat kreatif dalam menjalankan usahanya.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan usaha mereka
mempunyai nilai ekonomis yang tinggi ini memiliki total skor 456. Total skor ini apabila diposisikan
pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

456

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 13. Posisi Kategori Total Skor Usaha Memiliki Nilai Ekonomis yang Tinggi

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 456 ini ada pada kategori tinggi, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden pada penelitian ini menjalankan usaha dengan nilai
ekonomis yang tinggi.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan usaha mereka
mempunyai margin keuntungan yang tinggi ini memiliki total skor 444. Total skor ini apabila
diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

444

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

48
Gambar 14. Posisi Kategori Total Skor Usaha Memiliki Margin Keuntungan yang Tinggi

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 444 ini ada pada kategori tinggi, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan mayoritas responden pada penelitian ini menjalankan
usaha dengan margin keuntungan yang tinggi.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan usaha mereka
mempunyai tingkat resiko gagal yang tinggi ini memiliki total skor 340. Total skor ini apabila
diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

340

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 15. Posisi Kategori Total Skor Usaha Memiliki Tingkat Resiko Gagal yang Tinggi

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 340 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menjalankan usaha dengan
tingkat resiko gagal yang tinggi ini berada pada kategori sedang.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan jenis usaha
seperti mereka sudah banyak yang bangkrut pada 2 tahun pertama ini memiliki total skor 332. Total
skor ini apabila diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

332

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 16. Posisi Kategori Total Skor Jenis Usaha Seperti Mereka Sudah Banyak Yang Bangkut
Pada 2 Tahun Pertama

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 332 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
jenis usaha seperti mereka sudah banyak yang bangkrut pada 2 tahun pertama ada pada kategori
sedang.

49
Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan usaha mereka
memiliki aset besar untuk dapat dijaminkan dalam rangka peminjaman dana ke bank ini memiliki
total skor 344. Total skor ini apabila diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat
sebagai berikut :

344

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 17. Posisi Kategori Total Skor Usaha Mereka Memiliki Aset Besar Untuk Dapat Dijaminkan
Dalam Rangka Peminjaman Dana Ke Bank

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 344 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
usaha mereka memiliki aset besar untuk dapat dijaminkan dalam rangka peminjaman dana ke bank
ada pada kategori sedang.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan tingkat


persaingan bisnis di bidang usaha mereka tinggi ini memiliki total skor 460. Total skor ini apabila
diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

460

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 18. Posisi Kategori Total Skor Tingkat Persaingan Bisnis Di Bidang Usaha Mereka Tinggi

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 460 ini ada pada kategori tinggi, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
tingkat persaingan bisnis di bidang usaha mereka tinggi ada pada kategori tinggi.

50
Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan produk atau
jasa mereka mudah ditiru pesaing ini memiliki total skor 376. Total skor ini apabila diposisikan pada
garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

376

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 19. Posisi Kategori Total Skor Produk Atau Jasa Mereka Mudah Ditiru Pesaing

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 460 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
produk atau jasa mereka mudah ditiru pesaing ada pada kategori sedang.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan produk atau
jasa mereka mudah diperbanyak konsumen ini memiliki total skor 364. Total skor ini apabila
diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

364

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 20. Posisi Kategori Total Skor produk atau jasa mereka mudah diperbanyak konsumen

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 364 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
produk atau jasa mereka mudah diperbanyak konsumen ada pada kategori sedang.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan usaha mereka
sudah dilindungi secara legal ini memiliki total skor 324. Total skor ini apabila diposisikan pada garis
interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

51
324

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 21. Posisi Kategori Total Skor usaha mereka sudah dilindungi secara legal

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 324 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
usaha mereka sudah dilindungi secara legal ada pada kategori sedang.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan usaha mereka
memiliki segmen komunitas penggemar khusus memiliki total skor 388. Total skor ini apabila
diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

388

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 22. Posisi Kategori Total Skor usaha mereka memiliki segmen komunitas penggemar khusus

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 388 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
usaha mereka memiliki segmen komunitas penggemar khusus ada pada kategori sedang.

Rekapitulasi variabel karakteristik industri kreatif ini kemudian diolah dimana didapat hasil
total nilainya adalah 4761. Total skor ini apabila diposisikan pada garis interval kategori, maka
hasilnya akan terlihat pada gambar berikut ini :

52
4761

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


1440 2592 3744 4896 6048 7200

Gambar 23. Posisi Kategori Total Skor karakteristik industri kreatif

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 4761 masih berada pada kategori sedang. Hal
ini berarti tingkat karakteristik industri kreatif pada mayoritas responden penelitian ini ada pada
kategori sedang cenderung tinggi.

5.3. Karakteristik Kredit Usaha

Kebutuhan industri kreatif akan model pembiayaan ini erat kaitannya dengan karakteristik
kredit usaha yang ada dalam sektor bisnis. Pada sub-bab ini, akan dipaparkan mengenai hasil
tanggapan item – item pernyataan terkait variabel karakteristik kredit usaha, utamanya kredit usaha
perbankan secara umum, sehingga nanti dapat dilihat karakteritik kredit usaha perbankan secara
umum ini melalui persepsi responden industri kreatif. Untuk memudahkan pembahasan, maka
pemaparan hasil tanggapan responden ini akan dimulai dari menampilan posisi skor total tiap item
pada garis internal yang terdiri dari skala Sangat Rendah sampai dengan Sangat Tinggi, serta
membandingkan hasil tersebut dengan hasil wawancara dengan beberapa responden.

Item pernyataan pertama mengenai tanggapan responden tentang pernyataan jumlah kredit
yang mereka butuhkan lebih dari 50 juta rupiah, dengan total skor 392, maka bila total skor tersebut
diposisikan pada garis internal yang telah ditentukan sebelumnya, akan terlihat sebagai berikut :

392

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 24. Posisi Kategori Total Skor jumlah kredit yang mereka butuhkan lebih dari 50 juta rupiah

53
Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 392 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini merespon pernyataan
jumlah kredit yang mereka butuhkan lebih dari 50 juta rupiah ini ada pada kategori sedang.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan jangka waktu
pelunasan kredit yang mereka butuhkan tidak lebih dari 3 tahun memiliki total skor 388. Total skor ini
apabila diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

388

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 25. Posisi Kategori Total Skor pernyataan jangka waktu pelunasan kredit yang mereka
butuhkan tidak lebih dari 3 tahun

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 388 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
jangka waktu pelunasan kredit yang mereka butuhkan tidak lebih dari 3 tahun ada pada kategori
sedang.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan bunga kredit
sebesar 3% sebulan itu wajar memiliki total skor 316. Total skor ini apabila diposisikan pada garis
interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

316

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 26. Posisi Kategori Total Skor bunga kredit sebesar 3% sebulan itu wajar

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 316 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
bunga kredit sebesar 3% sebulan itu wajar ada pada kategori sedang.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan mereka


membutuhkan pinjaman yang tanpa syarat agunan / jaminan meski bunga kreditnya sangat mahal ini
54
memiliki total skor 352. Total skor ini apabila diposisikan pada garis interval kategori, maka akan
terlihat sebagai berikut :

352

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 27. Posisi Kategori Total Skor mereka membutuhkan pinjaman yang tanpa syarat agunan /
jaminan meski bunga kreditnya sangat mahal

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 352 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
mereka membutuhkan pinjaman yang tanpa syarat agunan / jaminan meski bunga kreditnya sangat
mahal ini ada pada kategori sedang.

Item pernyataan selanjutnya mengenai tanggapan responden tentang pernyataan mereka


memiliki pengalaman meminjam kredit ke bank yang baik / lancar ini memiliki total skor 320. Total
skor ini apabila diposisikan pada garis interval kategori, maka akan terlihat sebagai berikut :

320

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


120 216 312 408 504 600

Gambar 28. Posisi Kategori Total Skor mereka memiliki pengalaman meminjam kredit ke bank yang
baik / lancar

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 320 ini ada pada kategori sedang, sehingga hal
ini dapat disimpulkan bahwa kecenderungan responden pada penelitian ini menganggap pernyataan
mereka memiliki pengalaman meminjam kredit ke bank yang baik / lancar ini ada pada kategori
sedang.

Rekapitulasi variabel karakteristik kredit usaha ini kemudian diolah dimana didapat hasil total
nilainya adalah 1768. Total skor ini apabila diposisikan pada garis interval kategori, maka hasilnya
akan terlihat pada gambar berikut ini :

55
1768

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


600 1080 1560 2040 2520 3000
Gambar 23. Posisi Kategori Total Skor karakteristik kredit usaha

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 1768 masih berada pada kategori sedang. Hal
ini berarti tingkat karakteristik kredit usaha pada mayoritas responden penelitian ini ada pada kategori
sedang.

5.4. Pengaruh Karakteristik Industri Kreatif Terhadap Karakteristik Kredit Usaha

Pada sub-bab ini, akan dipaparkan mengenai kalkuasi pengaruh karakteristik industri kreatif
sebagai variabel dependen terhadap karakteristik kredit usaha sebagai variabel independen dengan
menggunakan analisis regresi sederhana berbasis aplikasi SPSS ver 16. Perhitungan ini akan melihat
apakah karakteristik kredit usaha dipengaruhi oleh karakteristik industri kreatif atau tidak. Berikut
hasil output dari perhitungan analisis regresi kedua variabel tersebut :

b
Variables Entered/Removed

Variables Variables
Model Entered Removed Method

a
1 Industri Kreatif . Enter

a. All requested variables entered.

b. Dependent Variable: Kredit

Tabel diatas menerangkan tentang variabel yang dimasukkan atau dibuang dan metode yang
digunakan. Dalam hal ini variabel yang dimasukkan adalah variabel nilai industri kreatif
sebagai predictor dan metode yang digunakan adalah metode enter.

56
Model Summary

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate

a
1 .097 .009 .001 3.35825

a. Predictors: (Constant), Industri Kreatif

Tabel di atas menjelaskan besarnya nilai korelasi/hubungan (R) yaitu sebesar 0,097 dan
dijelaskan besarnya prosentase pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat yang disebut
koefisien determinasi yang merupakan hasil dari pengkuadratan R. Dari hasil output tersebut
diperoleh koefisiensi determinasi (R2) sebesar 0,009, yang mengandung pengertian bahwa
pengaruh variabel bebas (industri kreatif) terhadap variabel terikat (kredit) adalah sebesar
0,9%, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya.

b
ANOVA

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

a
1 Regression 12.679 1 12.679 1.124 .291

Residual 1330.788 118 11.278

Total 1343.467 119

a. Predictors: (Constant), Industri Kreatif

b. Dependent Variable: Kredit

Pada tabel diatas menjelaskan bahwa apakah ada pengaruh yang nyata (signifikan) variabel
industri kreatif (X) terhadap variabel kredit (Y) dengan ketentuan, jika Nilai Sig. < 0,05,
maka model regresi adalah linier, dan berlaku sebaliknya. Dari output tersebut terlihat bahwa
F hitung = 1,124 dengan tingkat signifikansi / probabilitas 0,291 > 0,05, maka dapat
disimpulkan bahwa model regresi tersebut tidak memiliki pengaruh yang signifikan.

57
a
Coefficients

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) 16.523 1.716 9.631 .000

Industri Kreatif -.046 .043 -.097 -1.060 .291

a. Dependent Variable: Kredit

Pada tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa pada kolom B di constant (a) adalah 16,523,
sedangkan nilai industri kreatif (b) adalah -0,046. Dengan demikian persamaan regresinya
dapat ditulis :

Y = a + bX atau 16,523 – 0,046X

Koefisien b dinamakan koefisien arah regresi dan menyatakan perubahan rata-rata variabel Y
untuk setiap perubahan variabel X sebesar satu satuan. Perubahan ini merupakan
pertambahan bila b bertanda positif dan penurunan bila b bertanda negatif. Sehingga dari
persamaan tersebut dapat ditafsirkan sebagai berikut :

1. Konstanta sebesar 16,523 menyatakan bahwa jika tidak ada nilai industri kreatif maka
nilai kredit adalah 16,523.
2. Koefisiensi regresi X sebesar - 0,046 menyatakan bahwa setiap penambahan 1 nilai
industri kreatif, maka nilai kredit akan berkurang sebesar 0,046.

Selain menjelaskan persamaan regresi output ini juga menampilkan uji signifikansi dengan
uji t yaitu untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang nyata (signifikan) variabel industri
kreatif (X) sendiri (partial) terhadap variabel kredit (Y).

HIPOTESIS :

1. H0 = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel industri kreatif terhadap
variabel kredit
2. H1 = Ada pengaruh yang signifikan antara variabel industri kreatif terhadap variabel
kredit

Dari output tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai t hitung = -0,060 dan t tabel = 1,979
dengan nilai signifikansi 0,291 > 0,05, maka t hitung < t tabel dimana artinya H0 diterima

58
dan H1 ditolak, yang berarti tidak ada pengaruh yang signifikan antara industri kreatif
terhadap kredit.
Berdasarkan hasil kalkulasi regresi linier sederhana tersebut, dapat disimpulkan bahwa
memang karakteristik industri kreatif tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap karakteristik kredit
usaha perbankan secara umum. Sehingga dapat disimpulkan bahwa memang karakteristik industri
kreatif ini memerlukan alternatif model pembiayaan yang berbeda dengan pola pembiayaan dari
perbankan yang umum, yang lebih sesuai dengan kebutuhan karakteristik dari industri kreatif itu
sendiri yang diantaranya adalah umumnya tidak punya aset untuk jaminan, lebih banyak melibatkan
unsur kreativitas, serta tingkat persaingan usaha yang tinggi.

59
BAB VI.
RENCANA TAHAPAN BERIKUTNYA

Pada tahap awal ini, riset ditujukan lebih kepada observasi awal, pengurusan ijin dan
pencarian data sekunder, menyebarkan kuesioner, wawancara respoden, olah data dan
analisis data, sampai dengan mendapatkan kesimpulan bahwa karakteristik kredit usaha
perbankan secara umum ini tidak sesuai dengan karakteristik industri kreatif. Dengan
demikian diperlukan pola pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik industri kreatif
pada umumnya. Pada tahap ini juga telah dirancang pula draft prototipe model pembiayaan
alternatif untuk industri kreatif yaitu dengan cara model crowdfunding yang disesuaikan
dengan segmen industri kreatif di Indonesia yang diberi nama : www.picubisnis.com

Rencana tahap selanjutnya penelitian akan difokuskan pada mengukur tanggapan


responden tertarget mengenai fitur dan konten produk model crowdfunding untuk sektor
industri kreatif di Kota Bandung, dengan demikian hasil penelitian ini akan berguna untuk
pengembangan produk model pembiayaan berbasis crowdfunding untuk sektor industri
kreatif pada umumnya.

60
BAB VII.
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1. Kesimpulan
Pada tahap awal ini, penelitian tentang model alternatif pembiayaan untuk sektor
industri kreatif, sudah berhasil memetakan kondisi awal dari sektor industri kreatif di Kota
Bandung. Selain itu, berdasarkan paparan hasil dan pembahasan, ada beberapa hal yang dapat
disimpulkan, yaitu :
1. Berdasarkan perbandingan rekapitulasi hasil tanggapan responden terhadap item-item
penyataan terkait karakteristik industri kreatif dengan garis interval kategori terhitung bahwa
total skor 4761 ini masih berada pada kategori sedang. Hal ini berarti tingkat karakteristik
industri kreatif pada mayoritas responden penelitian ini ada pada kategori sedang cenderung
tinggi.
2. Berdasarkan perbandingan rekapitulasi hasil tanggapan responden terhadap item-item
penyataan terkait karakteristik kredit usaha perbankan dengan garis interval kategori terhitung
bahwa bahwa total skor 1768 ini masih berada pada kategori sedang. Hal ini berarti tingkat
karakteristik kredit usaha perbankan pada mayoritas responden penelitian ini ada pada
kategori sedang.
3. Berdasarkan hasil kalkulasi regresi linier sederhana pada kedua variabel, dapat disimpulkan
bahwa memang karakteristik industri kreatif tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap
karakteristik kredit usaha perbankan secara umum. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
memang karakteristik industri kreatif ini memerlukan alternatif model pembiayaan yang
berbeda dengan pola pembiayaan dari perbankan yang umum, yang lebih sesuai dengan
kebutuhan karakteristik dari industri kreatif itu sendiri dimana diantaranya adalah umumnya
tidak punya aset besar untuk jaminan pembiayaan, lebih banyak melibatkan unsur kreativitas,
serta tingkat persaingan usaha yang tinggi.

6.2. Saran

Berdasarkan beberapa kesimpulan tersebut, ada beberapa saran rekomendasi yang dapat
disampaikan, yaitu :

1. Karakteristik industri kreatif yang menonjol di Kota Bandung adalah pelibatan bakat dan
aspek kreatif yang tinggi, serta tingginya tingkat persaingan pada sektor bisnis mereka.
Sehingga dalam hal ini, perlu dirancang strategi keunggulan bersaing dari para pelaku sektor
industri ini, agar pertumbuhan bisnisnya dapat berlangsung lebih berkesinambungan.
2. Pelaku fungsi intermediari utama dari fungsi pembiayaan bisnis adalah perbankan. Sementara
penelitian ini memaparkan bahwa karakteristik pembiayaan perbankan umumnya tidak begitu
61
sesuai dengan karakteristik industri kreatif yang ada, terutama untuk syarat lama usaha dan
kebutuhan jaminan aset yang bernilai besar. Untuk itu sektor perbankan perlu merancang
model pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik sektor industri kreatif, sehingga
peran perbankan dalam meningkatkan proses pengembangan bisnis sektor industri kreatif ini
dapat lebih ditingkatkan lagi.
3. Perlu dirancang alternatif model pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik industri
kreatif secara umum, sehingga sektor industri kreatif mempunyai tambahan alternatif akses
pembiayaan yang lebih sesuai untuk pengembangan bisnisnya.

62
DAFTAR PUSTAKA

------------------- (2008) P g g Eko o K o s ” s


Kreatif Indonesia, Departemen Perdagangan RI, Jakarta

Brigham E.F. Dan Weston J.Fred. (1997). Dasar-Dasar Menejemen Keuangan, Edisi
Sembilan Jilid 1, Jakarta; Erlangga.

Creswell, John W. (1994) Research Design : Qualitative And Quantitative Approaches,


California, Sage Publications.

Green, L., I. Miles, J. Rutter (2007), Hidden Innovation In The Creative Industries,Nesta
Working Paper, London

Husain, S., & Root, A. (2015). Crowdfunding For Entrepreneurship. Alliedcrowds. London:
Alliedcrowds.

Higgs, P. & Cunningham, S. (2008). Creative industries mapping: where have we come from
and where are we going? Creative Industries Journal, 1(1), 7–30.
Jayne, M. (2004). Culture that works? creative industries development in a working-class
city. Capital & Class, 28(3), 199-210.
Lazzeretti, L., Boix, R. & Capone, F. (2008). Do creative industries cluster? Mapping
creative local production systems in Italy and Spain. Industry and Innovation, 15(5),
549–567.
Markusen, A. et al. (2008). Defining the creative economy: industry and occupational
approaches. Economic Development Quarterly, 22(1), 24-45.
Riyanto, Bambang (2002) Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi 4. Yogyakarta: Bpfe.

Sartono, Agus. (2001). Manajemen Keuangan Teori Dan Aplikasi. Edisi 4. Yogyakarta;
Bpfe-Yogyakarta

Siti Nurjanah (2013) Analisis Pengembangan Program Bisnis Industri Kreatif Penerapannya
Melalui Pendidikan Tinggi, Jma Vol. 18 No. 2.
63
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung: Cv.
Alfabeta.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2015 Tentang Perubahan Atas
Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif

64
LAMPIRAN – LAMPIRAN

65
ANALISIS MODEL PEMBIAYAAN BAGI INDUSTRI KREATIF
DI KOTA BANDUNG

Rivani *
Department of Business Administration, Padjadjaran University
Email: rivani@unpad.ac.id
Muhammad Rizal
Department of Business Administration, Padjadjaran University
Email : muhamad.rizal@unpad.ac.id

Rudi Saprudin Darwis


Department of Social Wellfare, Padjadjaran University
Email : rudi.darwis@unpad.ac.id

ABSTRACT

Penelitian ini bertujuan untuk mencari permasalahan utama khususnya bidang


pembiayaan untuk sektor industri kreatif, untuk mencari alternatif model
pembiayaannya, dan terakhir untuk mencoba merancang model pembiayaan untuk
sektor industri kreatif. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif
dengan studi eksploratif dan menggunakan analisis regresi linier sederhana.
Berdasarkan hasil kalkulasi kedua variabel, dapat disimpulkan bahwa memang
karakteristik industri kreatif tidak ada pengaruh yang signifikan terhadap
karakteristik kredit usaha perbankan secara umum. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa memang karakteristik industri kreatif ini memerlukan alternatif model
pembiayaan yang berbeda dengan pola pembiayaan dari perbankan yang umum,
yang lebih sesuai dengan kebutuhan karakteristik dari industri kreatif itu sendiri
dimana diantaranya adalah umumnya tidak punya aset besar untuk jaminan
pembiayaan, lebih banyak melibatkan unsur kreativitas, serta tingkat persaingan
usaha yang tinggi.

Kata Kunci : Pembiayaan usaha, industri kreatif


I. PENDAHULUAN

Saat ini industri kreatif di berbagai negara maju dan berkembang sedang
tumbuh. Di Indonesia sendiri, Hasil survey BPS di tahun 2015 menunjukkan
industri kreatif tumbuh 4,38 persen. Kontribusi industri kreatif terhadap
perekonomian Indonesia mencapai 7,38 persen dari total perekonomian nasional.
Jika dirupiahkan, nilainya mencapai Rp 852,24 triliun. Industri ini mampu
memberikan lapangan kerja bagi sedikitnya 15,9 juta orang serta berkontribusi
terhadap nilai ekspor sebesar US$ 19,4 Miliar.

(Bekraf & BPS, 2017)

Berdasarkan riset (Bekraf, 2017) ada beragam masalah yang dapat


menghambat pertumbuhan ekonomi kreatif, yakni: kualitas-kuantitas SDM,
aspek teknologi, akses pasar, kolaborasi stakeholder, dan yang cukup dominan
adalah akses permodalan yang minim. Minimnya akses modal dikarenakan
karakteristik industri kreatif yang unik dan beresiko ini menyebabkan mayoritas
pelaku harus memodali usahanya sendiri, sedikit sekali yang mampu

(Bekraf & BPS, 2017)

mengakses bank, dan kurang dari 1% dibiayai dari modal ventura. Oleh karena
itu, bisnis kreatif ini membutuhkan tipe akses permodalan yang tidak biasa,
dimana hal ini tidak memerlukan jaminan, tingkat kepercayaan penuh, serta dapat
mentolerir tingkat resiko kegagalan usaha yang tinggi. Umumnya alternatif
permodalan untuk startup bisnis kreatif ini didapat dari angel investor, ataupun
memanfaatkan dana hibah dari pemerintahan / CSR (Corporate Social
Responsibility) dari perusahaan besar.
Oleh karena itu diperlukan penelitian mengenai analisis model
pembiayaan bagi industri kreatif, sehingga diharapkan ditemukan suatu alternatif
model pembiayaan yang dapat lebih sesuai dengan karakteristik industri kreatif
yang unik ini.

II. TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Industri Kreatif
Industri kreatif didefinisikan sebagai industri yang berasal dari
pemanfaatan kreativitas, keterampilan serta bakat individu untuk menciptakan
kesejahteraan serta lapangan pekerjaan dengan menghasilkan dan
memberdayakan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut (Kemendag, 2008).
Lebih sederhana dapat disebutkan bahwa danya suatu inovasi dalam suatu
perusahaan dapat dikategorikan industri kreatif (Green et al, 2007).
Definisi Industri Kreatif berdasarkan UK DCMS Task force 1998 (dalam
Siti Nurjanah, 2013) adalah : “Creatives Industries as those industries which have
their origin in individual creativity, skill & talent, and which have a potential for
wealth and job creation through the generation and exploitation of intellectual
property and content”
Berdasarkan Perpres Nomor 72 Tahun 2015 tentang Perubahan Atas
Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi Kreatif telah
mengklasifikasi ulang sub-sektor industri kreatif 16 sub-sektor, yaitu :
1. Aplikasi dan Game
2. Arsitektur
3. Desain Interior
4. Desain Komunikasi Visual
5. Desain Produk
6. Fashion
7. Film, Animasi dan Video
8. Fotografi
9. Kriya
10. Kuliner
11. Musik
12. Penerbitan
13. Periklanan
14. Seni Pertunjukan
15. Seni Rupa
16. Televisi dan Radio

2.2. Jenis Sumber Pembiayaan


Menurut Riyanto (2002) jenis sumber pembiayaan itu secara garis besar
ada dua : Dari internal (dari dalam perusahaan), dan dari eksternal (dari luar
perusahaan). Lebih spesifik dijelaskan bahwa jenis-jenis pembiayaan usaha itu
adalah sebagai berikut :
1. Dana sendiri
2. Patungan (join saham)
3. Pinjaman, baik itu dari sektor formal (bank, lembaga keuangan mikro, dsb)
maupun informal (pinjaman dari saudara, dsb).
4. Hibah, baik itu dari sektor formal (program pemerintah, dsb) maupun informal
(hibah dari keluarga, dsb)

2.3. Alternatif Pembiayaan di Era Digital.


Salah satu alternatif sumber pembiayaan di era sekarang ini adalah :
crowdfunding, dimana proses penggalangan dana yang difasilitasi oleh platform
digital. Adapun Crowdfunding dapat dibedakan menjadi 4 kategori utama, yaitu
(Husain & Root, 2015):
1. Donation-based, berbasis donasi biasanya untuk kepentingan sosial.
2. Reward-based, mirip donasi, tetapi pembuat proyek menawarkan hadiah atas
donasinya.
3. Lending-based, galang dana ini bersifat pinjaman yang menawarkan keuntung
bunga atau bagi hasil.
4. Equity-based, galang dana ini menawarkan keuntungan sebagian saham
perusahaannya.

2.4. Faktor Keputusan Pembiayaan


Menurut Riyanto (2002) faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan
pendanaan adalah tingkat bunga, stabilitas earning, susunan aktiva, kadar risiko
dari aktiva, jumlah modal yang diperlukan, keadaan pasar modal, sifat manajemen
dan ukuran perusahaan. Weston dan Brigham (1997) mengungkapkan bahwa
faktor-faktor yang mempengaruhi keputusan pendanaan adalah stabilitas
penjualan, likuiditas, struktur aktiva, operating leverage, tingkat pertumbuhan,
profitabilitas, produktivitas, pajak, pengendalian, sikap manajemen, kondisi pasar
keuangan dan fleksibilitas keuangan. Menurut Sartono (2001), faktor-faktor yang
mempengaruhi keputusan pendanaan adalah tingkat penjualan, struktur aset,
tingkat pertumbuhan perusahaan, profitabilitas, variabel laba dan pajak, skala
perusahaan, kondisi internal perusahaan, dan ekonomi makro.

III. METODE PENELITIAN

3.1. Rancangan Riset


Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian
kuantitatif, dimana fokus dari penelitian ini adalah untuk mencari dan mengukur
pola keterkaitan korelasi antar variabel. Jenis pendekatan yang digunakan adalah
analisis deskripsi kuantitatif dengan penelitian expanotory research (Kuncoro,
2007:56). Penelitian explanatory research merupakan penelitian yang menjelaskan
hubungan antara variabel-variabel X dan Y. Menurut Singarimbun dan Effendi
(1995:5) penelitian explanatory adalah penelitian yang menjelaskan
hubungan antara variabel-variabel penelitian dan pengujian hipotesis yang
telah dirumuskan sebelumnya. Kemudian metode penelitian yang digunakan
adalah metode survey, dimana biasanya dilakukan dengan menyebarkan kuesioner
atau wawancara, dengan tujuan untuk mengetahui: siapa mereka, apa yang mereka
pikir, rasakan, atau kecenderungan suatu tindakan. Menurut Singarimbun dan
Effendi (1995:5) metode survey adalah metode yang mengambil data dari
satu populasi dan menggunakan kuisioner sebagai pengumpulan alat data
yang pokok sehingga penelitian survey bertujuan untuk mengetahui pendapat
responden, data yang akan diperoleh dari pengambilan sampel dalam populasi
yang akan diteliti.

3.2. Data, Teknik Pengumpulan Data dan Sumber Data


Data yang digunakan adalah data primer dan data sekunder, dimana
menurut Sumarsono (2004:77) data primer adalah seluruh data dan informasi
yang didapat langsung pada obyek penelitian, sedangkan data sekunder adalah
data pendukung terkait dengan tema riset yang sumbernya didapat secara tidak
langsung dari obyek riset, baik itu online maupun offline seperti misalnya :
laporan, jurnal, buku literatur, peraturan, dan sebagainya. Teknik pengumpulan
data menggunakan observasi langsung ke lapangan, menyebarkan angket, dan
wawancara kepada responden.

3.3. Pengambilan dan Pemilihan Sampel


Instrumen penelitian utama dari riset ini adalah wawancara dengan
informan yang kompeten, diantaranya dari pelaku industri kreatif, pejabat dinas
terkait, perwakilan komunitas industri kreatif, serta pakar pembiayaan dari
akademisi. Pada penelitian ini, populasinya adalah seluruh industri kreatif di Kota
Bandung, dimana jumlahnya belum diketahui secara pasti. Sementara jumlah
sampel yang diambil adalah 120 responden yang diambil dengan cara cluster
sampling, dimana pengambilan sampling diambil dengan cara membagi populasi
menjadi beberapa kelompok bagian (Jogianto, 2016).

3.4. Analisis Data


Analisis data pada dasarnya yaitu memperkirakan atau dengan menentukan
besarnya pengaruh secara kuantitatif dari perubahan suatu (beberapa) kejadian
terhadap sesuatu (beberapa) kejadian lainnya, serta memperkirakan atau
meramalkan kejadian lainnya. Kejadian (event) dapat dinyatakan sebagai
perubahan nilai variabel. Dalam penelitian kuantitatif, analisis data merupakan
kegiatan setelah data dari seluruh responden atau sumber data lain terkumpul.
Kegiatan dalam analisis data adalah mengelompokkan data berdasarkan variabel
dan jenis responden, mentabulasi data berdasarkan variabel dari seluruh
responden, menyajikan data tiap variabel yang diteliti. melakukan perhitungan
untuk menjawab rumusan masalah dan melakukan perhitungan untuk menguji
hipotesis yang telah diajukan. Penelitian ini menggunakan teknik analisis regresi
linier sederhana, karena variabel yang terlibat dalam penelitian ini ada dua, yaitu
kemampuan karakteristik industri kreatif sebagai variabel bebas dan
dilambangkan dengan X serta karaktersitik modal usaha sebagai variabel terikat
dan dilambangkan dengan Y serta berpangkat satu.
Analisis regresi linier sederhana dilakukan dengan membuat persamaan regresi
sederhananya, dan menguji keberartian dan kelinieran regresi. Semua tahap
analisis data kuantitatif yang dilakukan oleh peneliti akan dilakukan dengan
menggunakan teknik statistik uji dengan SPSS 16.0 untuk mengetahui ada
tidaknya pengaruh antara 2 variabel yang telah dijelaskan di atas. Hal ini untuk
memperkuat analisis yang dilakukan oleh peneliti.

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1. Karakteristik Industri Kreatif
Industri kreatif memiliki karakteristik yang berbeda dengan industri – industri
yang lainnya. Pada penelitian ini telah diambil responden sebanyak 120 orang dari
kalangan industri kreatif. Selanjutnya akan dipaparkan mengenai hasil tanggapan
responden mengenai item – item pernyataan terkain karakteristik industri kreatif
berikut ini, sehingga nanti dapat dilihat apakah para industri skala UKM yang
diambil sebagai responden ini memiliki karakteristik industri kreatif yang
dominan atau tidak. Untuk memudahkan pembahasan, maka pemaparan hasil
tanggapan responden ini akan dimulai dari menampilan posisi skor total tiap item
pada garis internal yang terdiri dari skala Sangat Rendah sampai dengan Sangat
Tinggi, serta membandingkan hasil tersebut dengan hasil wawancara dengan
beberapa responden.
Rekapitulasi variabel karakteristik industri kreatif ini kemudian diolah
dimana didapat hasil total nilainya adalah 4761. Total skor ini apabila diposisikan
pada garis interval kategori, maka hasilnya akan terlihat pada gambar berikut ini :

4761

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


1440 2592 3744 4896 6048 7200
Gambar 1. Posisi Kategori Total Skor karakteristik industri kreatif
Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 4761 masih berada pada
kategori sedang. Hal ini berarti tingkat karakteristik industri kreatif pada
mayoritas responden penelitian ini ada pada kategori sedang cenderung tinggi.

4.2. Karakteristik Kredit Usaha


Kebutuhan industri kreatif akan model pembiayaan ini erat kaitannya
dengan karakteristik kredit usaha yang ada dalam sektor bisnis. Pada sub-bab ini,
akan dipaparkan mengenai hasil tanggapan item – item pernyataan terkait variabel
karakteristik kredit usaha, utamanya kredit usaha perbankan secara umum,
sehingga nanti dapat dilihat karakteritik kredit usaha perbankan secara umum ini
melalui persepsi responden industri kreatif. Untuk memudahkan pembahasan,
maka pemaparan hasil tanggapan responden ini akan dimulai dari menampilan
posisi skor total tiap item pada garis internal yang terdiri dari skala Sangat Rendah
sampai dengan Sangat Tinggi, serta membandingkan hasil tersebut dengan hasil
wawancara dengan beberapa responden.
Rekapitulasi variabel karakteristik kredit usaha ini kemudian diolah
dimana didapat hasil total nilainya adalah 1768. Total skor ini apabila diposisikan
pada garis interval kategori, maka hasilnya akan terlihat pada gambar berikut ini :
1768

Sangat Rendah Rendah Sedang Tinggi Sangat Tinggi


600 1080 1560 2040 2520 3000

Gambar 2. Posisi Kategori Total Skor karakteristik kredit usaha

Berdasarkan gambar tersebut terlihat bahwa total skor 1768 masih berada pada
kategori sedang. Hal ini berarti tingkat karakteristik kredit usaha pada mayoritas
responden penelitian ini ada pada kategori sedang.

4.3. Pengaruh Karakteristik Industri Kreatif Terhadap Karakteristik Kredit


Usaha
Pada sub-bab ini, akan dipaparkan mengenai kalkuasi pengaruh
karakteristik industri kreatif sebagai variabel dependen terhadap karakteristik
kredit usaha sebagai variabel independen dengan menggunakan analisis regresi
sederhana berbasis aplikasi SPSS ver 16. Perhitungan ini akan melihat apakah
karakteristik kredit usaha dipengaruhi oleh karakteristik industri kreatif atau tidak.
Berikut hasil output dari perhitungan analisis regresi kedua variabel tersebut :

b
Variables Entered/Removed

Variables Variables
Model Entered Removed Method
a
1 Industri Kreatif . Enter

a. All requested variables entered.

b. Dependent Variable: Kredit


Tabel diatas menerangkan tentang variabel yang dimasukkan atau dibuang dan
metode yang digunakan. Dalam hal ini variabel yang dimasukkan adalah variabel
nilai industri kreatif sebagai predictor dan metode yang digunakan adalah metode
enter.

Model Summary

Adjusted R Std. Error of the


Model R R Square Square Estimate
a
1 .097 .009 .001 3.35825

a. Predictors: (Constant), Industri Kreatif

Tabel di atas menjelaskan besarnya nilai korelasi/hubungan (R) yaitu sebesar


0,097 dan dijelaskan besarnya prosentase pengaruh variabel bebas terhadap
variabel terikat yang disebut koefisien determinasi yang merupakan hasil dari
pengkuadratan R. Dari hasil output tersebut diperoleh koefisiensi determinasi
(R2) sebesar 0,009, yang mengandung pengertian bahwa pengaruh variabel bebas
(industri kreatif) terhadap variabel terikat (kredit) adalah sebesar 0,9%, sedangkan
sisanya dipengaruhi oleh variabel lainnya.

b
ANOVA

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.


a
1 Regression 12.679 1 12.679 1.124 .291

Residual 1330.788 118 11.278

Total 1343.467 119

a. Predictors: (Constant), Industri Kreatif

b. Dependent Variable: Kredit

Pada tabel diatas menjelaskan bahwa apakah ada pengaruh yang nyata (signifikan)
variabel industri kreatif (X) terhadap variabel kredit (Y) dengan ketentuan, jika
Nilai Sig. < 0,05, maka model regresi adalah linier, dan berlaku sebaliknya. Dari
output tersebut terlihat bahwa F hitung = 1,124 dengan tingkat signifikansi /
probabilitas 0,291 > 0,05, maka dapat disimpulkan bahwa model regresi tersebut
tidak memiliki pengaruh yang signifikan.
a
Coefficients

Standardized
Unstandardized Coefficients Coefficients

Model B Std. Error Beta t Sig.

1 (Constant) 16.523 1.716 9.631 .000

Industri Kreatif -.046 .043 -.097 -1.060 .291

a. Dependent Variable: Kredit

Pada tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa pada kolom B di constant (a) adalah
16,523, sedangkan nilai industri kreatif (b) adalah -0,046. Dengan demikian
persamaan regresinya dapat ditulis :
Y = a + bX atau 16,523 – 0,046X
Koefisien b dinamakan koefisien arah regresi dan menyatakan perubahan rata-rata
variabel Y untuk setiap perubahan variabel X sebesar satu satuan. Perubahan ini
merupakan pertambahan bila b bertanda positif dan penurunan bila b bertanda
negatif. Sehingga dari persamaan tersebut dapat ditafsirkan sebagai berikut :
1. Konstanta sebesar 16,523 menyatakan bahwa jika tidak ada nilai industri
kreatif maka nilai kredit adalah 16,523.
2. Koefisiensi regresi X sebesar - 0,046 menyatakan bahwa setiap
penambahan 1 nilai industri kreatif, maka nilai kredit akan berkurang
sebesar 0,046.

Selain menjelaskan persamaan regresi output ini juga menampilkan uji


signifikansi dengan uji t yaitu untuk mengetahui apakah ada pengaruh yang nyata
(signifikan) variabel industri kreatif (X) sendiri (partial) terhadap variabel kredit
(Y).
HIPOTESIS :
1. H0 = Tidak ada pengaruh yang signifikan antara variabel industri kreatif
terhadap variabel kredit
2. H1 = Ada pengaruh yang signifikan antara variabel industri kreatif
terhadap variabel kredit

Dari output tabel di atas dapat diketahui bahwa nilai t hitung = -0,060 dan t tabel
= 1,979 dengan nilai signifikansi 0,291 > 0,05, maka t hitung < t tabel dimana
artinya H0 diterima dan H1 ditolak, yang berarti tidak ada pengaruh yang
signifikan antara industri kreatif terhadap kredit.
Berdasarkan hasil kalkulasi regresi linier sederhana tersebut, dapat
disimpulkan bahwa memang karakteristik industri kreatif tidak ada pengaruh yang
signifikan terhadap karakteristik kredit usaha perbankan secara umum. Sehingga
dapat disimpulkan bahwa memang karakteristik industri kreatif ini memerlukan
alternatif model pembiayaan yang berbeda dengan pola pembiayaan dari
perbankan yang umum, yang lebih sesuai dengan kebutuhan karakteristik dari
industri kreatif itu sendiri yang diantaranya adalah umumnya tidak punya aset
untuk jaminan, lebih banyak melibatkan unsur kreativitas, serta tingkat persaingan
usaha yang tinggi.

V. KESIMPULAN DAN SARAN


6.1. Kesimpulan
Pada tahap awal ini, penelitian tentang model alternatif pembiayaan
untuk sektor industri kreatif, sudah berhasil memetakan kondisi awal dari sektor
industri kreatif di Kota Bandung. Selain itu, berdasarkan paparan hasil dan
pembahasan, ada beberapa hal yang dapat disimpulkan, yaitu :
1. Berdasarkan perbandingan rekapitulasi hasil tanggapan responden terhadap item-
item penyataan terkait karakteristik industri kreatif dengan garis interval kategori
terhitung bahwa total skor 4761 ini masih berada pada kategori sedang. Hal ini
berarti tingkat karakteristik industri kreatif pada mayoritas responden penelitian
ini ada pada kategori sedang cenderung tinggi.
2. Berdasarkan perbandingan rekapitulasi hasil tanggapan responden terhadap item-
item penyataan terkait karakteristik kredit usaha perbankan dengan garis interval
kategori terhitung bahwa bahwa total skor 1768 ini masih berada pada kategori
sedang. Hal ini berarti tingkat karakteristik kredit usaha perbankan pada
mayoritas responden penelitian ini ada pada kategori sedang.
3. Berdasarkan hasil kalkulasi regresi linier sederhana pada kedua variabel, dapat
disimpulkan bahwa memang karakteristik industri kreatif tidak ada pengaruh
yang signifikan terhadap karakteristik kredit usaha perbankan secara umum.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa memang karakteristik industri kreatif ini
memerlukan alternatif model pembiayaan yang berbeda dengan pola pembiayaan
dari perbankan yang umum, yang lebih sesuai dengan kebutuhan karakteristik
dari industri kreatif itu sendiri dimana diantaranya adalah umumnya tidak punya
aset besar untuk jaminan pembiayaan, lebih banyak melibatkan unsur kreativitas,
serta tingkat persaingan usaha yang tinggi.

6.2. Saran
Berdasarkan beberapa kesimpulan tersebut, ada beberapa saran
rekomendasi yang dapat disampaikan, yaitu :
1. Karakteristik industri kreatif yang menonjol di Kota Bandung adalah pelibatan
bakat dan aspek kreatif yang tinggi, serta tingginya tingkat persaingan pada
sektor bisnis mereka. Sehingga dalam hal ini, perlu dirancang strategi keunggulan
bersaing dari para pelaku sektor industri ini, agar pertumbuhan bisnisnya dapat
berlangsung lebih berkesinambungan.
2. Pelaku fungsi intermediari utama dari fungsi pembiayaan bisnis adalah
perbankan. Sementara penelitian ini memaparkan bahwa karakteristik
pembiayaan perbankan umumnya tidak begitu sesuai dengan karakteristik
industri kreatif yang ada, terutama untuk syarat lama usaha dan kebutuhan
jaminan aset yang bernilai besar. Untuk itu sektor perbankan perlu merancang
model pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik sektor industri kreatif,
sehingga peran perbankan dalam meningkatkan proses pengembangan bisnis
sektor industri kreatif ini dapat lebih ditingkatkan lagi.
3. Perlu dirancang alternatif model pembiayaan yang lebih sesuai dengan
karakteristik industri kreatif secara umum, sehingga sektor industri kreatif
mempunyai tambahan alternatif akses pembiayaan yang lebih sesuai untuk
pengembangan bisnisnya.
DAFTAR PUSTAKA

------------------- (2008), “Pengembangan Ekonomi Kreatif Indonesia”, Studi


Industri
Kreatif Indonesia, Departemen Perdagangan RI, Jakarta

Brigham E.F. Dan Weston J.Fred. (1997). Dasar-Dasar Menejemen Keuangan,


Edisi Sembilan Jilid 1, Jakarta; Erlangga.

Creswell, John W. (1994) Research Design : Qualitative And Quantitative


Approaches, California, Sage Publications.

Green, L., I. Miles, J. Rutter (2007), Hidden Innovation In The Creative


Industries,Nesta Working Paper, London

Husain, S., & Root, A. (2015). Crowdfunding For Entrepreneurship.


Alliedcrowds. London: Alliedcrowds.

Higgs, P. & Cunningham, S. (2008). Creative industries mapping: where have we


come from and where are we going? Creative Industries Journal, 1(1), 7–
30.
Jayne, M. (2004). Culture that works? creative industries development in a
working-class city. Capital & Class, 28(3), 199-210.
Lazzeretti, L., Boix, R. & Capone, F. (2008). Do creative industries cluster?
Mapping creative local production systems in Italy and Spain. Industry and
Innovation, 15(5), 549–567.
Markusen, A. et al. (2008). Defining the creative economy: industry and
occupational approaches. Economic Development Quarterly, 22(1), 24-45.
Riyanto, Bambang (2002) Dasar-Dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi 4.
Yogyakarta: Bpfe.

Sartono, Agus. (2001). Manajemen Keuangan Teori Dan Aplikasi. Edisi 4.


Yogyakarta; Bpfe-Yogyakarta

Siti Nurjanah (2013) Analisis Pengembangan Program Bisnis Industri Kreatif


Penerapannya Melalui Pendidikan Tinggi, Jma Vol. 18 No. 2.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif Dan R&D. Bandung:


Cv. Alfabeta.

Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 72 Tahun 2015 Tentang Perubahan


Atas Peraturan Presiden Nomor 6 Tahun 2015 Tentang Badan Ekonomi
Kreatif