Anda di halaman 1dari 9

1

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Fruktosa

Fruktosa merupakan isomer dari glukosa, keduanya memiliki rumus

molekul yang sama (C6H12O6) tetapi memiliki struktur yang berbeda. Fruktosa

merupakan monosakarida yang ditemukan di banyak jenis tumbuhan dan

merupakan salah satu dari tiga gula darah penting bersama dengan glukosa dan

galaktosa, yang bisa langsung diserap ke aliran darah selama pencernaan.

Fruktosa ditemukan oleh kimiawan Perancis Augustin-Pierre Dubrunfaut pada

tahun 1847 (Fruton, 1972). Fruktosa murni rasanya sangat manis, warnanya putih,

berbentuk kristal padat, dan sangat mudah larut dalam air (Hyvonen dan

Koivistoinen, 1982). Fruktosa ditemukan pada tanaman, terutama pada pohon

buah, bunga, beri dan sayuran. Di tanaman, fruktosa dapat berbentuk

monosakarida dan sebagai komponen dari sukrosa. Sukrosa merupakan

molekul disakarida yang merupakan gabungan dari satu molekul glukosa dan satu

molekul fruktosa. Keunggulan fruktosa dibanding unsur gula lainnya yaitu

fruktosa mudah didapat dan mudah dimetabolisme spermatozoa sebagai sumber

energi (Rasad dan Simanjuntak, 2009).

2.2 Anjing

Klasifikasi organisme anjing yang ditemukan oleh Linnaeus berdasarkan

sistem binomial yang ditandai dengan dua bagian nama, bagian pertama

menandakan genus dan bagian kedua menandakan nama speies (spesifik epitet).
2

Nama genus biasanya diletakkan di depan sedangkan nama spesies di

belakangnya dengan huruf kecil (Rees, 1991). Manusia mulai menangkap anjing

liar, melakukan seleksi terhadap penampilan fisik, prilaku agar anjing menjadi

piaraan yang baik. Kegiatan ini lazim disebut dengan istilah domestikasi. Anjing

kemungkinan merupakan mamalia domestik sangat folimorfik dan menurut sistem

binomial, nama ilmiah yang diberikan pada anjing domestika adalah Canis

familiaris, sehingga alternatif untuk menandai perbedaan kelompok digunakan

nama sub spesifik atau breed (Evan, 1993). Anjing domestik hasil domestikasi

dari serigala sejak 15.000 tahun yang lalu, atau mungkin sudah sejak 100.000

tahun yang lalu. Perkiraan ini berdasarkan bukti genetik berupa penemuan fosil

dan tes DNA. Sampai saat ini, anjing telah berkembang menjadi ratusan ras

dengan berbagai macam variasi, mulai dari anjing tinggi badan beberapa puluh

sentimeter seperti chihuahua hingga Irish Wolfhound yang tingginya lebih dari

satu meter. Warna bulu anjing bisa beraneka ragam, mulai dari putih sampai

hitam, juga merah, abu-abu (sering disebut "biru"), dan coklat. Selain itu, anjing

memiliki berbagai jenis bulu, mulai dari yang sangat pendek hingga yang

panjangnya bisa mencapai beberapa sentimeter. Bulu anjing bisa lurus atau

keriting, dan bertekstur kasar hingga lembut seperti benang wol (Rees, 1991).

2.3 Semen

Semen adalah sekresi kelamin jantan yang secara normal diejakulasikan ke

dalam saluran kelamin betina sewaktu kopulasi (Toelihere 1981). Spermatozoa

merupakan suatu sel kecil, kompak dan sangat khas yang tidak berkembang dan
3

membagi diri. Spermatozoa yang normal menurut Nalbandov ( 1990 ) terdiri dari

bagian kepala, leher, bagian tengah dan ekor, kepala ditutup oleh hidung

tropoplasmik (galaea kapitis) . Plasma semen berfungsi sebagai medium pembawa

spermatozoa ke saluran reproduksi hewan betina, hal ini tergantung pada derajat

percampuran dan pengenceran dengan skreta lain. Plasma semen juga sangat

menentukan sifat fisik dan kimiawi spermatozoa ( Toelihere, 1981). Kualitas

semen ditentukan oleh volume semen, kosentrasi spermatozoa, motilitas

spermatozoa dan persentase spermatozoa hidup (Toelihere, 1985).

2.4 Pemeriksaan Semen

2.4.1 Motilitas Spermatozoa

Motilitas spermatozoa merupakan gambaran kemampuan pergerakan

spermatozoa. Gerak maju spermatozoa merupakan satu pergerakan dari satu tititk

ke titik lainnya dalam suatu garis lurus. Gerakan maju ini merupakan suatu test

kualitas yang penting pada spermatozoa, karena berhubungan dengan fertilitas.

Pemeriksaan motilitas spermatozoa dilakukan dengan menggunakan mikroskop

cahaya. Semen diambil setelah itu diletakkan pada objek gelas dan ditutup dengan

cover gelas. Objek dan gelas penutup yang digunakan sebelumnya telah

dihangatkan dalam inkubator pada suhu 380C. Spermatozoa diperiksa dibawah

mikroskop cahaya dengan pembesaran 400 kali dan dilihat pergerakan

spermatozoa sampai 100 spermatozoa (Hori et al., 2004). Pemeriksaan jumlah

spermatozoa yang motil harus segera dilakukan setelah koleksi. Jumlah

spermatozoa yang motil secara normal berkisar antara 70 %.


4

2.4.2 Persentase Hidup Spermatozoa

Persentase hidup adalah persentase spermatozoa yang hidup, Spermatozoa

yang hidup dievaluasi dengan preparat ulas menggunakan pewarnaan eosin

negrosin dibawah mikroskop dengan pembesaran 400x minimal 200 spermatozoa.

Spermatozoa yang hidup mempunyai lapisan lipid pada dinding sel sehingga

dapat melindungi masuknya zat warna ke dalam spermatozoa. Spermatozoa yang

hidup tidak akan terwarnai oleh zat warna. Spermatozoa yang telah mati karena

rusak atau hilangnya lapisan lipid tersebut, maka zat pewarna sangat mudah

menembus masuk ke dalam spermatozoa sehingga akan berwarna merah

keunguan (Mortimer, 1994).

Spermatozoa yang hidup dapat diketahui dengan pengecatan atau

pewarnaan dengan menggunakan eosin negrosin. Sperma yang tercat merah

berarti sperma itu mati, sedangkan yang tidak terwarnai atau tidak tercat berarti

sperma itu hidup. Sel-sel sperma yang hidup tidak menghisap warna sedangkan

yang mati akan mengambil warna karena permeabilitas dinding meningkat

sewaktu mati (Campbell et al., 2003).

2.4.3 DNA Spermatozoa

Kerusakan spermatozoa dapat disebabkan oleh beberapa hal diantaranya

faktor hormonal, umur, infeksi, tingginya kadar reactive oxygen species (ROS),

rokok, obat-obatan, hipertermia testis, apoptosis dan kekurangan protamin saat

spermatogenesis (Purwaningsih dan Siswanto, 2011). Kerusakan spermatozoa jika


5

melebihi 30-40% akan menyebabkan infertilisasi dan tidak disarankan untuk

dijadikan semen beku (Evenson et al., 1999 ; Spano et al., 2000).

Protamin adalah suatu protein utama di dalam inti spermatozoa yang

mengikat Deoxyribonucleic Acid (DNA) (Aulanni’am et al., 2011). Pada manusia

dan tikus terdapat dua jenis protamin P1 dan protamin P2 (Corzett et al., 2002),

dan pada sapi hanya satu tipe yaitu protamin P1 (Beletti et al., 2005). Protamin

berperan penting untuk pembentukan kromatin yang diperlukan pada fungsi

normal spermatozoa. Ekspresi abnormal protamin menyebabkan terjadinya

penurunan jumlah spermatozoa, motilitas, morfologi, dan peningkatan kerusakan

kromatin spermatozoa (Mangual et al., 2003), penurunan viabilitas dan

meningkatnya kerusakan DNA (Aoki et al., 2006). Selama tahap elongasi

spermatid pada saat spermiogenesis sekitar 85% inti spermatozoa histon akan

diganti oleh protamin (Aulanni’am et al., 2011).

DNA ini berikatan dengan elemen struktural inti yang disebut matriks inti.

Beberapa faktor yang menyebabkan terganggunya proses spermatogenesis seperti

stress lingkungan, mutasi gen, dan abnormalitas kromosom berpotensi merusak

struktural kromatin yang berhubungan dengan kejadian infertilisasi. Abnormalitas

kromatin inti dapat juga disebabkan oleh radikal bebas atau akibat apoptosis

(Lewis dan Aitken, 2005). Salah satu agen oksidasi adalah reactive oxygen

species (ROS) yang dalam kadar tinggi dapat bersifat toksik terhadap spermatozoa

(Saleh et al., 2002). Seperti halnya agen oksidasi yang lain (hidrogen peroksida,

superoksidasi dan radikal bebas), ROS sangat reaktif. Radikal bebas adalah atom
6

atau molekul yang memiliki satu atau lebih elektron bebas yang tidak berpasangan

(Warren et al., 1987).

Kantor (1995) menyatakan bahwa kerusakan DNA dapat diartikan sebagai

semua bentuk perubahan polimer DNA. Secara alamiah DNA terus menerus

terpapar pada lingkungan fisik dan kimia yang sangat bervariasi dan berpotensi

mengubah struktur alamiah DNA tersebut. Perubahan ini dapat mempengaruhi

proses replikasi dan transkripsi DNA yang mengarah pada kerusakan DNA.

Konsekuensi biologisnya terjadi kejadian mutasi atau kematian sel bahkan kanker,

kemunduran mental dan terkait pertumbuhan dan perkembangan. Lebih lanjut

dikatakan bahwa kerusakan modifikasi struktur DNA diinduksi oleh beberapa

penyebab seperti radiasi, panas, tekanan, dan bahan kimia. Bentuk kerusakan yang

lain adalah terputusnya struktur polimer DNA. Pemanasan yang melebihi 37 oC

menyebabkan terputusnya ikatan glikosida yang menghubungkan antara basa

nitrogen dan struktur gula fosfat sehingga basa nitrogen akan hilang.

Pemeriksaan kerusakan DNA spermatozoa telah banyak dilakukan dengan

berbagai metode analisis antara lain Sperm Chromatin Structure Assay (SCSA)

(Evenson et al., 2002), Acridine Orange Test (AO) (Tejada et al., 1984) Terminal

Deoxynucleotidyl Transferase Nick and Labelling (TUNEL) (Gorcyza et al.,

1993), Toluidine Blue (TB) Test (Erenpreisa et al., 2003), Comet Assay (Fraser dan

Strzezek, 2004), dan Kit Halomax® (Langdon, 2012).


7

2.5 Pengencer Semen

Pengencer adalah media untuk mengencerkan semen dan menambah

volume semen, serta berfungsi memberikan tingkat keasaman yang konstan,

sumber makanan bagi spermatozoa, dan memberikan perlindungan dari pengaruh

pendinginan (Conncanon dan Battista, 1989 ; Linde-Forsberg, 1995).

Pengenceran semen merupakan salah satu tahap yang penting dalam

pengemasan semen dalam bentuk straw atau ampul beku dengan harapan kualitas

semen dan viabilitas spermatozoa selama proses pembekuan dapat dipertahankan.

Pengenceran juga berfungsi untuk memperbesar volume semen sehingga setiap

satu kali ejakulat dapat digunakan untuk ternak betina yang lebih banyak (Suyadi

et al., 1994).

Menurut Hafez (2000) media pengencer yang baik harus memiliki fungsi

sebagai berikut: 1) Menyediakan nutrisi yang digunakan sebagai energi sperma, 2)

Melindungi spermatozoa dari kerusakan akibat pendinginan, 3) Menyediakan

media yang bersifat penyangga untuk melindungi sperma dari kerusakan akibat

perubahan pH, 4) Mengatur keseimbangan osmotik dan keseimbangan elektrolit

yang tepat bagi spermatozoa, 5) Menghambat pertumbuhan kuman, meningkatkan

volume semen sehingga betina dapat di inseminasikan lebih banyak.

Beberapa bahan pengencer yang telah dilaporkan dari beberapa bahan

penelitian adalah kuning telur sitrat, fosfat kuning telur, susu masak dan tris

amino methan. Tris aminomethan sebagai buffer untuk mencegah perubahan pH

akibat metabolisme spermatozoa berupa asam laktat dan mempertahankan tekanan

osmotik dan keseimbangan elektolit. Asam sitrat sebagai buffer, pengikat butir-
8

butir kuning telur dan mempertahankan tekanan osmotik dan keseimbangan

elektrolit. Tris amino methan telah dipergunakan secara luas sebagai medium

buffer di dalam semen guna memperpanjang daya hidup spermatozoa pada suhu 5

sampai dengan −196oC (Bearden dan Fuquay, 1984).

2.6 Air Kelapa

Air kelapa muda adalah cairan isotonis alami yang banyak digunakan

untuk pengganti cairan tubuh yang hilang, mencegah keracunan khususnya

keracunan mineral dan meningkatkan ekskresi urine. Air kelapa muda memiliki

komponen glukosa, mineral, vitamin dan protein. Bahan-bahan yang terkandung

didalam air kelapa muda dapat menyediakan kebutuhan fisik dan kimiawi

spermatozoa sehingga dapat mempertahankan fertilitas dan daya hidup

spermatozoa (Cardoso et al., 2003).

Hasil analisis menunjukkan bahwa air kelapa terdiri atas air sebanyak

91,23 %, protein 0,29 %, lemak 0,15 %, karbohidrat 7,27 % dan abu 1,06 %. Air

kelapa juga mengandung vitamin C dan vitamin B kompleks. Sedangkan dalam

air kelapa muda kandungannya adalah air sebanyak 95,5 %, protein 0,1 %, lemak

kurang dari 0,1 %, karbohidrat 4 %, dan abu 0,4 %. Air kelapa muda juga

mengandung vitamin C dan vitamin B komplek yang terdiri atas asam nikotinat,

asam pantotenat, biotin, asam folat, vitamin B1 dan sedikit piridoksin. Air kelapa

muda juga mengandung sejumlah mineral antara lain kalium, natrium, kalsium,

magnesium, besi, tembaga, fosfor, dan sulfur (Rindengan, 2002) dan dari Balai
9

Penelitian Bogor komposisi air kelapa terdiri dari air 98,09, protein 0,05, glukosa

dan fruktosa (g) 0,82, Sukrosa (g) 0,95, Abu (g) 0,46, total gula (g) 1,77.

Cardoso et al., (2003) menyatakan bahwa pengenceran menggunakan air

kelapa terbukti efektif sebagai pengencer sperma beku pada anjing, bahkan telah

terdapat air kelapa dalam bentuk serbuk yang diproduksi secara komersial yang

umum digunakan sebagai pengencer semen powdered coconut water (ACP®)

yang telah digunakan pada pengenceran sperma kambing (Salgueiro et al., 2002),

kuda (Sampaio Neto et al., 2002), dan semen anjing (Cardoso et al., 2004).