Anda di halaman 1dari 16

MAKALAH

Hambatan-hambatan Dalam Komunikasi Lintas Budaya

OLEH :

KELOMPOK 2
1. Reparto Pono (1701140090)
2. Erna Setiawati Eky (1701140077)
3. Ardi Yanto Dju (1701140132)
4. Claudia Tkela (1701140002)

Mata Kuliah : Pendidikan Lintas Budaya


Kelas/Semester : A/V

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NUSA CENDANA KUPANG
KUPANG
2019

Page | 1
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah mata kuliah Pendidikan Lintas Budaya dengan
pembahasan materi : “Hambatan-hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya“. Meskipun
banyak hambatan yang kami alami dalam proses pengerjaannya, namun akhirnya kami berhasil
menyelesaikan tugas ini tepat pada waktunya.

Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu kami dalam
proses pengerjaan makalah ini terutama kepada dosen pengasuh mata kuliah Pendidikan Lintas
Budaya dan juga teman-teman mahasiswa/mahasiswi yang juga telah memberi kontribusi baik
secara langsung maupun tidak langsung dalam pembuatan tugas ini.

Kami menyadari bahwa dalam menyusun tugas ini masih jauh dari kesempuranan, untuk
itu kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun guna sempurnanya
tugas ini. Kami berharap semoga tugas ini bisa bermanfaat bagi kami khususnya dan bagi
pembaca pada umunya.

Kupang, 14 September 2019

Penyusun

Kelompok 2

Page | 2
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ------------------------------------------------------------------ 2

DAFTAR ISI ----------------------------------------------------------------------------- 3

BAB I PENDAHULUAN -------------------------------------------------------------- 4

A. Latar Belakang ---------------------------------------------------------------- 4

B. Rumusan Masalah------------------------------------------------------------- 4

C. Tujuan -------------------------------------------------------------------------- 5

BAB II PEMBAHASAN -------------------------------------------------------------- 6

A. Pengertian Komunikasi Lintas Budaya ---------------------------------- 6


B. Hambatan Dalam Komunikasi Lintas Budaya ------------------------- 7
C. Cara Mengatasi Hambatan Dalam Lintas Budaya --------------------- 12

BAB III PENUTUP ------------------------------------------------------------------- 14

Kesimpulan --------------------------------------------------------------------- 14

DAFTAR RUJUKAN ----------------------------------------------------------------- 15

Page | 3
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Setiap komunikasi yang dilakukan oleh siapapun memiliki tujuan. Paling tidak
komunikasi yang dilakukan mengarah kepada komunikasi efektif melalui pemaknaan
yang sama atas pesan yang dipertukarkan di antara peserta komunikasi. Pemaknaan pesan
akan semakin sulit pada wilayah komunikasi antar budaya, karena disebabkan oleh
beberapa hal yaitu; pertama, perbedaan budaya diantara para peserta komunikasi antar
budaya jelas hambatan yang terbesar. Sebab dengan berbeda budaya tersebut akan
menentukan cara berkomunikasi yang berbeda serta simbol (bahasa) yang mungkin
berbeda pula. Kedua, dalam komunikasi yang melibatkan peserta komunikasi yang
berbeda budaya akan muncul sikap etnosentrime, yaitu memandang segala sesuatu dalam
kelompok sendiri sebagai pusat segala sesuatu, dan hal–hal lainnya diukur dan dinilai
berdasarkan rujukan kelompoknya. Ketiga, kelanjutan dari sikap etnosentris ini akan
memunculkan sikap stereotip, yaitu sikap generalisasi atas kelompok orang, objek, atau
peristiwa secara luas dianut suatu budaya. Memang stereotip tidak selamanya buruk. Ada
setitik kebenaran dalam stereotip, Dalam arti bahwa sebagian stereotip cukup akurat
sebagai informasi terbatas untuk menilai sekelompok orang yang hampir tidak kita kenal.
Berbagai hambatan sering kali mengikuti proses komunikasi. Hambatan komunikasi
akan menyebabkan terdistorsinya pesan yang disampaikan sehingga komunikan tidak
dapat menerima pesan secara utuh pesan yang disampaikan oleh komunikator. Dengan
demikian meminimalisir hambatan komunikasi akan menentukan efektivitas komunikasi
antar budaya.

B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah :
a. Apa itu komunikasi lintas budaya ?
b. Apa saja hambatan yang dapat terjadi dalam komunikasi lintas budaya ?
c. Bagaimana cara mengatasi hambatan dalam komunikasi lintas budaya ?

Page | 4
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah diatas, maka tujuan dari makalah ini adalah :
a. Untuk mengetahui maksud dari pada komunikasi lintas budaya.
b. Untuk mengetahui hambatan-hambatan apa saja yang dapat terjadi dalam komunikasi
lintas budaya.
c. Untuk mengetahui cara mengatasi hambatan dalam komunikasi lintas budaya.

Page | 5
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Komunikasi Lintas Budaya


Komunikasi menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah pengiriman dan
penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud
dapat dipahami. Suprapto (2011:5) mengutip Joseph A. Devito (1996) mengemukakan
bahwa komunikasi adalah transaksi. Dengan transaksi dimaksudkan bahwa komunikasi
merupakan suatu proses dimana komponen-komponennya saling terkait dan bahwa para
komunikatornya beraksi dan bereaksi sebagai suatu kesatuan dan keseluruhan.
Secara umum, komunikasi dapat diartikan sebagai sebuah proses dimana sebuah
interaksi antara komunikan dan komunikator yang melakukan pertukaran pesan
didalamnya yang terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Dalam kehidupan
sehari-hari disadari atau tidak komunikasi adalah bagian dari kehidupan manusia itu
sendiri. Manusia sejak dilahirkan sudah berkomunikasi dengan lingkungannya. Sebuah
interaksi sosial bisa tidak berarti apa-apa jika komunikasi didalamnya tidak berjalan pada
semestinya.
Kebudayaan berasal dari kata sansekerta buddayah, yang merupakan bentuk jamak
dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Dengan demikian, kebudayaan berarti hal-hal
yang bersangkutan dengan akal. Adapun ahli antropologi yang merumuskan definisi
tentang kebudayaan secara sistematis dan ilmiah adalah Taylor, yang menulis dalam
bukunya: “Primitive Culture”, bahwa kebudayaan adalah keseluruhan yang kompleks,
yang di dalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum,
adat-istiadat, dan kemampuan lain serta kebiasaan yang didapat oleh manusia sebagai
anggota masyarakat (Ranjabar, 2006).
Dari kedua pengertian diatas maka komunikasi lintas budaya dapat diartikan sebagai
proses saling berbagai informasi, pengetahuan, perasaan dan pengalaman yang dilakukan
oleh manusia dari berbagai budaya. Dalam buku “Intercultural Communication: A
Reader” dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya (intercultural communication)
terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti dihasilkan oleh anggota
dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain (Samovar & Porter,

Page | 6
1994:9). Bila disederhanakan, komunikasi lintas budaya ini memberi penekanan pada
aspek perbedaan budaya sebagai faktor yang menentukan keberlangsungan proses
komunikasi.

B. Hambatan Dalam Komunikasi Lintas Budaya


1. Etnosentrisme
Etnosentrisme didefinisikan sebagai kepercayaan pada superioritas inheren
kelompok atau budayanya sendiri. Etnosentrisme mungkin disertai rasa jijik pada
orang-orang lain yang tidak sekelompok, cenderung memandang rendah orang-orang
lain yang tidak sekelompok dan dianggap asing serta etnosentrisme memandang dan
mengukur budaya-budaya asing dengan budayanya sendiri (Mulyana:2000;70).
Etnosentrisme adalah akar dari rasisme karena etnosentrisme membuat
kebudayaan diri sebagai patokan dalam mengukur baik buruknya atau tinggi
rendahnya dan benar atau ganjilnya kebudayaan lain dalam proporsi kemiripannya
dengan kebudayaan sendiri, adanya kesetiakawanan yang kuat dan tanpa kritik pada
kelompok etnis atau bangsa sendiri disertai dengan prasangka terhadap kelompok
etnis dan bangsa yang lain. Orang-orang yang berkepribadian etnosentrisme
cenderung berasal dari kelompok masyarakat yang mempunyai banyak keterbatasan
baik dalam pengetahuan, pengalaman, maupun komunikasi sehingga sangat mudah
terprofokasi.
2. Stereotip
Istilah stereotip merupakan gabunan kata stereos, bahasa Yunani yang bermakna
“tetap, padat atau permanen” dengan typus, bahasa Latin yang bermakna “kesan”.
Dari dua makna kata sendiri secara akurat menggambarkan 2 atribut penting dati
istilah penggunaan masa sekarang, yaitu sebuah kesan yang sifatnya tetap (Gold,
2006:413). Stereotip adalah
Walter Lippman memperkenalkan konsep stereotip sebagai gambaran dalam
pikiran manusia yang mempermudah orang berpikir tentang sekelompok orang
lainnya. Lippman berargumentasi bahwa orang bergantung pada gambaran yang
bersifat penyederhanaan ketika membentuk dan mengekspresikan pendapat tentang

Page | 7
orang lain. Stereotip ini menjadi akar kesalapahaman, ketegangan dan konflik sosial
(Operario dan Fiske dalam Brewer dan Newston, 2004:120).
Sikap yang mengandung stereotif, mengelompokkan orang ke dalam in group dan
out group. Mereka akan lebih mementingkan kelompoknya (in group) dari pada
kelompok lain (out group). Kesulitan komunikasi akan muncul dari penstereotipan ini
yakni menggeneralisasikan orang-orang berdasarkan sedikit informasi dan
membentuk asumsi orang-orang berdasarkan keanggotaan mereka dalam suatu
kelompok. Dengan kata lain, penstereotipan adalah proses menempatkan orang-orang
ke dalam kategori-kategori yang mapan atau penilaian mengenai orang-orang atau
objek-objek berdasarkan kategori-kategori yang sesuai ketimbang berdasarkan
karakteristik individual mereka.
Menurut Baron & Paulus (dalam Sobur, 2009:391) ada dua faktor yang
menyebabkan adanya stereotip yaitu :
a. Kecendrungan manusia untuk membagi dunia dengan dua kategori: kita dan
mereka. Orang-orang yang kita persepsikan sebagai kelompok diluar kita
dipandang lebih mirip satu sama lain, karena kita kekurangan informasi
mengenai mereka. Kita cenderung menyamaratakannya dan menganggapnya
homogen.
b. Kecendrungan kita untuk melakukan kerja kognitif sesedikit mungkin dalam
berpikir mengenai orang lain. Dengan kata lain, stereotip menyebabkan
persepsi selektif tentang orang-orang dan segala sesuatu di sekitar kita.
Dengan memasukkan orang dalam kelompok, kita berasumsi bahwa kita tahu
banyak tentang mereka (sifat-sifat utama dan kecendrungan prilaku mereka)
dan kita menghemat tugas kita untuk memahami mereka sebagai individu.
Stereotip muncul dan ada dalam kehidupan kita karena kita telah terbiasa untuk
menggunakan stereotip-stereotip negatif dalam kehidupan sehari-hari, persepsi kita
terhadap sesuatu dan terkadang kita menyamaratakan persepsi tersebut pada orang
yang sama yang berasal dari daerahnya yang sama juga sehingga stereotip negatif
menimbulkan kesalahpahaman dan beresiko menimbulkan konflik.

Page | 8
3. Prasangka
Secara terminologi, prasangka (prejudice) merupakan kata yang berasal dari
bahasa Latin. Prae berarti sebelum dan Judicium berarti keputusan (Hogg, 2002).
Chambers English Dictionary (dalam Brown, 2005) mengartikan prasangka sebagai
penilaian atau pendapat yang diberikan oleh seseorang tanpa melakukan pemeriksaan
terlebih dahulu. Hogg (2002) menyatakan bahwa prasangka merupakan sikap sosial
atau keyakinan kognitif yang merendahkan, ekspresi dari perasaan yang negatif, rasa
bermusuhan atau perilaku diskriminatif kepada anggota dari suatu kelompok sosial
tertentu sebagai akibat dari keanggotaannya dalam kelompok tertentu. Karakteristik
dan perilaku aktual dari individu hanya sedikit berperan.
Beberapa pakar cenderung menganggap bahwa stereotip itu identik dengan
prasangka. Dapat dikatakan bahwa stereotip merupakan komponen kognitif
(kepercayaan) dari prasangka sedangkan prasangka juga berdimensi perilaku. Jadi,
prasangka ini merupakan konsekuensi dari stereotip dan lebih teramati daripada
stereotip.
Prasangka ini dapat hadir dalam masyarakat karena beberapa faktor yaitu belum
saling mengenalnya antar individu, perbedaan pandangan dan sikap, perbedaan visi
dan misi, perbedaan kultur kebudayaan dan perbedaan prinsip. Faktor-faktor ini yang
menyebabkan seringnya seseorang berprasangka pada orang lain. Hal ini terjadi
karena orang yang belum dikenal biasanya membuat orang disekitarnya berprasangka
pada apa yang dilakukannya, karena orang tersebut tidak mengetahui watak dan sifat
orang yang belum dikenal.Terkadang prasangka-prasangka yang berlebihan akan
membuat suatu masyarakat terpecah menjadi kelompok.
4. Rasisme
Rasisme merupakan lanjutan dari stereotip dan prasangka. Rasisme merupakan
kepercayaan terhadap superioritas yang diwarisi oleh ras tertentu. Rasisme
menyangkal kesetaraan manusia dan menghubungkan kemampuan dengan komposisi
fisik. Jadi, sukses tidaknya hubungan sosial tergantung dari warisan genetik bukan
dari lingkungan atau kesempatan yang ada (Leone dalam Samovar, dkk, 2010:212).
Pandangan tentang superioritas inilah yang memungkinkan seseorang untuk

Page | 9
memperlakukan kelompok lain secara buruk berdasarkan ras, warna kulit, agama,
negara asal, nenek moyang.
Rasisme bisa bersifat terbuka, terwujud dalam perilaku seperti diskriminasi atau
penolakan untuk bergaul dengan anggota kelompok itu, selain itu dapat pula dapat
terjadi secara halus dan tanpa disadari, hanya berbentuk kerangka kategori mental
yang kita miliki tentang kelompok atau orang tertentu didsarkan pada stereotip.
Ada tiga aspek dasar dari rasisme, yaitu pertama prasangka pribadi, kedua
ideologi rasisme dimana aspek budaya dan biologi yang digunakan untuk
merasionalisasi dan membenarkan posisi unggul dari budaya yang dominan dan
ketiga rasisme kelembagaan, dimana kebijakan dari lembaga praktik yang beroperasi
untuk menghasilkan sistematis dan berkelanjutan dari perbedaan antara kelompok ras.
5. Kedaerahan
Kedaerahan atau primordialisme adalah sebuah pandangan atau paham yang
memegang teguh hal-hal yang dibawah sejak lahir, baik mengenai tradisi, adat-
istiadat, kepercayaan maupun segala sesuatu yang ada di dalam lingkungan
pertamanya. Secara etimologi, primordialisme berasal dari bahasa latin primus yang
artinya pertama dan ordiri yang artinya tenunan atau ikatan. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), primordialisme adalah prasangka kesukuan yang
berlebihan.
Primordialisme dapat terjadi karena faktor-faktor sebagai berikut.
a. Adanya sesuatu yang dianggap istimewah oleh individu dalam suatu
kelompok atau perkumpulan sosial.
b. Adanya suatu sikap untuk mempertahankan keutuhan suatu kelompok atau
kesatuan sosial dari ancaman besar.
c. Adanya nilai-nilai yang berkaitan dengan sistem keyakinan, seperti nilai
keagamaan dan pandangan hidup.
Primordialisme dipandang negatif karena menggangu kelangsungan hidup suatu
bangsa. Primordialisme sering dianggap bersifat primitif, regresif dan merusak.
Bahkan primordialisme akan menghambat moderenisasi, proses pembangunan dan
merusak integrasi nasional. Akibat kuatnya primordialisme akan dapat memicu
potensi konflik antara kebudayaan suku-suku bangsa yang ada.

Page | 10
6. Persepsi Yang Keliru
Menurut J. Cohen, persepsi yaitu interpretasi bermakna atas sensasi sebagai
representasi objek eksternal, pengetahuan yang tampak ada di luar diri. Berbekal
persepsi ini, partisipan komunikasi akan memilih apa yang diterima atau menolak
suatu pesan. Persepsi yang sama akan memudahkan dan melancarkan komunikasi
(Purwasito,2003:172)
Persepsi masih berada pada wilayah penalaran, ia akan menjelma menjadi sikap
(pendirian) menerima atau menolak. Persepsi dan sikap setiap orang atau kelompok
orang terhadap suatu realitas atau fenomena sangat beragam, bahkan berbeda – beda.
Sesungguhnya hambatan perbedaan persepsi dan sikap ini masih terkait dengan faktor
kepercayaan. Artinya, seseorang atau kelompok orang yang memiliki kepercayaan
yang berbeda akan memiliki persepsi dan sikap yang berbeda dalam memandang
suatu realitas.
7. Fanatisme Sempit
Fanatisme berasal dari dua kata yaitu fanatic dan isme. “fanatik” yang bahasa
latinnya “fanaticus” yang dalam bahasa inggrisnya “frantic” atau “frenzied” yang
artinya adalah gila-gilaan, takut, mabuk atau hinggar binger. Sedangkan
“isme”diartikan suatu bentuk keyakinan atau kepercayaan (Handokodan Arianto,
2006).
Fanatisme merupakan fenomena yang sangat penting dalam budaya modern,
pemasaran, serta realitas pribadi dan di sosial masyarakat. Hal ini karena budaya
sekarang sangat berpegaruh besar terhadap individu dan hubungan yang terjadi di diri
individu menciptakan suatu keyakinan dan pemahaman berupa hubungan, kesetiaan,
pengabdian, kecintaan, dan sebagainya (Seregina, Koivisto, dan Mattila, 2011:12).
Fanatisme adalah paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap
sesuatu secara berlebihan. Filsuf George Santayana mendefinisikan fanatisme
sebagai, "melipatgandakan usaha Anda ketika Anda lupa tujuan Anda" dan menurut
Winston Churchill, "Seseorang fanatisme tidak akan bisa mengubah pola pikir dan
tidak akan mengubah haluannya". Bisa dikatakan seseorang yang fanatik memiliki

Page | 11
standar yang ketat dalam pola pikirnya dan cenderung tidak mau mendengarkan opini
maupun ide yang dianggapnya bertentangan.
Sikap fanatisme umumnya akan dimiliki oleh beberapa orang yang kurang
realistis pada dunia luar sehingga lebih menutup mata dan telinga mereka rapat rapat
tentang semua hal diluar hal yang mereka yakini. Selain itu, mereka beranggapan jika
diri mereka sendiri yang paling benar sedangkan orang lain adalah salah. Orang-orang
tersebut menjaga fanatisme yang mereka miliki bukan dengan pengetahuan yang
cukup, melainkan dengan keyakinan yang mereka lindungi sedemikian sehingga
mereka secara konsisten mencari untuk bergabung dengan orang-orang yang setuju
dengan mereka dan memupuk kepercayaan diri mereka dengan cara yang salah.

C. Cara Mengatasi Hambatan Dalam Lintas Budaya


Perbedaan-perbedaan ekspektasi budaya dapat menimbulkan resiko yang fatal,
setidaknya akan menimbulkan komunikasi yang tidak lancar, timbul perasaan tidak
nyaman atau timbul kesalahpahaman. Sebagai salah satu jalan keluar untuk
meminimalisir kesalahpahaman-kesalahpahaman akibat perbedaan budaya, adalah
dengan mengerti atau paling tidak mengetahui bahasa dan perilaku budaya orang lain,
mengetahui prinsip-prinsip komunikasi lintas budaya dan mempraktikkannya dalam
berkomunikasi dengan orang lain. Masalah atau hambatan yang timbul dalam komunikasi
lintas budaya haruslah di atasi dengan meningkatkan kesadaran setiap individu dalam
sebuah kebudayaan bahwa betapa pentingnya pengenalan akan budaya lain sebagai
bentuk kekayaan yang dapat diterima sebagai identitas pluralisme.
Adapun beberapa cara untuk mengatasi hambatan dalam komunikasi lintas budaya :
1. Menanamkan kesadaran bahwa Indonesia adalah bangsa yang terdiri dari berbagai
golongan sosial budaya yang beraneka ragam. Dan ini adalah kekayaan bangsa
Indonesia yang tak ternilai.
2. Meningkatkan kesadaran, walaupun kita hidup dalam perbedaan namun kita
memilki persamaan yaitu sebagai warga negara Indonesia yang memiliki
kewajiban dan hak yang sama, memiliki kesamaan dalam hukum, memiliki
derajat yang sama sebagai makhluk Tuhan.

Page | 12
3. Menyadari bahwa kita juga warga dari kelompok sosial budaya tertentu yaitu
sebagai warga negara Indonesia bahkan warga dunia. Oleh karena itu pada
hakekatnya setiap manusia adalah saudara dan keluarga dari manusia yang lain.
4. Mengembangkan cara berpikir positif, dan menghindari berpikir negatif.
Perbedaan sosial budaya adalah kekayaan khasanah budaya bangsa Indonesia.
Oleh karena itu kita harus saling mendukung, mendorong dan bahu membahu
mencapai masyarakat Karakter warga negara Indonesia yang baru.
5. Bersikap toleransi terhadap semua budaya dan menghindari kebiasaan labelling
terhadap budaya tertentu. Dalam hal ini tidak menganggap perbedaan budaya
sebagai sebuah problem akan tetapi sebuah keunikan yang dapat diterima untuk
memperkaya khasanah budaya nasional.
6. Menumbuhkan sikap terbuka yaitu dengan: menilai pesan secara objektif,
berorientasi pada isi, mencari informasi dari berbagai sumber, bersifat
professional dan bersedia mengubah atau menyesuaikan kepercayaannya, serta
mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya
(Rakhmat, 2009).
7. Meningkatkan Budaya Kesadaran Diri.
Jika masalah lintas budaya ini dapat diatasi maka dapat menghindari terjadinya chaos
dan budaya dapat ditempatkan sebagai kekayaan alam yang menjadi milik bersama
sebagai sebuah bangsa yang berbudaya.

Page | 13
BAB I11

PENUTUP

Kesimpulan

Komunikasi lintas budaya merupakan proses saling berbagai informasi, pengetahuan,


perasaan dan pengalaman yang dilakukan oleh manusia dari berbagai budaya. Dalam buku
“Intercultural Communication: A Reader” dinyatakan bahwa komunikasi antar budaya
(intercultural communication) terjadi apabila sebuah pesan (message) yang harus dimengerti
dihasilkan oleh anggota dari budaya tertentu untuk konsumsi anggota dari budaya yang lain
(Samovar & Porter, 1994:9).

Ada beberapa hal yang dapat menjadi hambatan dalam komunikasi lintas budaya,
diantaranya adalah etnosentrisme (kepercayaan pada superioritas inheren kelompok atau
budayanya sendiri), stereotip (menempatkan orang-orang ke dalam kategori-kategori yang sesuai
ketimbang berdasarkan karakteristik individual mereka), prasangka (penilaian atau pendapat
yang diberikan oleh seseorang tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu), rasisme
(kepercayaan terhadap superioritas yang diwarisi oleh ras tertentu), kedaerahan (prasangka
kesukuan yang berlebihan), persepsi yang keliru (interpretasi bermakna atas sensasi sebagai
representasi objek eksternal, pengetahuan yang tampak ada di luar diri) dan fanatisme sempit
(paham atau perilaku yang menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu secara berlebihan).

Untuk mengatasi hambatan-hambatan ini yang harus dilakukan adalah meningkatkan


kesadaran setiap individu dalam sebuah kebudayaan bahwa betapa pentingnya pengenalan akan
budaya lain sebagai bentuk kekayaan yang dapat diterima sebagai identitas pluralisme.,
mengetahui prinsip-prinsip komunikasi lintas budaya serta mempraktikkannya dalam
berkomunikasi dengan orang lain.

Page | 14
DAFTAR RUJUKAN

Mulyana, Deddy. 2003. Ilmu Komunikasi: Suatu Pengantar. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Priandono, Tito Edy. 2016. Komunikasi Keberagaman. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Suprapto, Tommy. 2011. Pengantar Ilmu Komunikasi dan Peran Manajemen Dalam
komunikasi. Jakarta: PT. Buku Seru.

Ranjabar, Jacobus. 2006. Sistem Sosial Budaya Indonesia: Suatu Pengantar. Bogor: PT. Ghalia
Indonesia

“Hambatan-hambatan dalam Komunikasi Lintas Budaya/Antar Budaya” (10 April 2016).


Diakses 11 september 2019 dari https://happyblueworld1108.blogspot.com/2016/03/hambatan-
hambatan-dalam-komunikasi.html

Sahadjaa, Hermanto (2012, 22 April). Hambatan-Hambatan Dalam Komunikasi Lintas Budaya.


Diakses 11 September 2019 dari http://hermanto-sahadjaa.blogspot.com/2012/04/hambatan-
hambatan-dalam-komunikasi.html

Zakky (2018, 19 Oktober). Pengertian Komunikasi Menurut Para Ahli dan Secara Umum
[Lengkap]. Diakses 14 September 2019 dari https://www.zonareferensi.com/pengertian-
komunikasi/

Suryansyah, Teguh (2018, 03 Januari). Makalah Komunikasi (Msdm). Diakese 14 September


2019 dari https://makalahsekolah96.blogspot.com/2018/01/makalah-komunikasi-msdm.html

“Makalah Komunikasi Lintas Budaya” (September 2017). Diakses 14 September 2019 dari
http://makalahapalah.blogspot.com/2017/09/komunikasi-lintas-budaya.html

“Prasangka dan Stereotip Budaya” (2016, 07 Juni). Diakses 14 September 2019 dari
http://konselormudaantigalau13.blogspot.com/2016/06/prasangka-dan-stereotip-budaya.html

Page | 15
Page | 16