Anda di halaman 1dari 47

SEMINAR KASUS

ASUHAN KEPERAWATAN OKSIGEN HIPERBARIK KE-23


PADA TN. “I” DENGAN DIAGNOSA MEDIS POST OPERASI HERNIA
NUCLEUS PULPOSUS (HNP) DENGAN KOMPLIKASI DECUBITUS
DI LAKESLA Drs. Med. R. RIJADI S., Phys. SURABAYA
TANGGAL 30 SEPTEMBER 2019

Disusun Oleh :

TIM 1 Kelompok 1

Qurrata A’yuni Rasyidah 131913143011


Meilia Dwi Cahyani 131913143067
Ucik Nurmalaningsih 131913143072

PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI NERS (P3N)


FAKULTAS KEPERAWATAN
UNIVERSITAS AIRLANGGA SURABAYA
2019
LEMBAR PENGESAHAN

Laporan asuhan keperawatan oksigen hiperbarik ke-23 pada Tn. I dengan


diagnosa medis ulkus dekubitus di Lakesla Drs. Med. R. Rijadi S., Phys. Surabaya
yang telah dilaksanakan mulai tanggal 30 September 2019 dalam rangka
pelaksanaan Profesi Keperawatan Medikal Bedah di Lembaga Kesehatan Kelautan
TNI Angkatan Laut (LAKESLA).
Telah disetujui untuk dilaksanakan Seminar Kasus di Lembaga Kesehatan
Kelautan TNI Angkatan Laut (LAKESLA) pada hari Kamis, 3 Oktober 2019.

Disahkan tanggal, 3 Oktober 2019

Menyetujui
Pembimbing Akademik Pembimbing Ruangan

Laily Hidayati , S.Kep., Ns., M.Kep Taukhid, S.Pd.


NIP. 198304052014042002 Serma Rum NRP.69686

Mengetahui,
Kepala Ruangan

Maedi, S.Kep.
Mayor Laut (K) NRP.14608/P

ii
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas
segala berkat dan rahmat serta karuniaNya sehingga penulis dapat menyelesaikan
makalah Seminar Keperawatan pada stase medikal bedah yang berjudul “ASUHAN
KEPERAWATAN OKSIGEN HIPERBARIK KE-23 PADA TN. “I”
DENGAN DIAGNOSA MEDIS ULKUS DECUBITUS DI LAKESLA Drs.
Med. R. RIJADI S., Phys. SURABAYA”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis berpedoman pada materi
perkuliahan, pengalaman, dan bimbingan praktek, bantuan serta dorongan moril
dan materil dari berbagai pihak, sehingga penulis mampu menyelesaikannya. Pada
kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada:

1. Prof. Dr. Nursalam, M.Nurs (Hons), selaku dekan Fakultas Keperawatan


Universitas Airlangga Surabaya yang telah memberikan kesempatan dan
fasilitas kepada penulis untuk mengikuti dan menjalankan pendidikan
Program Studi Pendidikan Ners.
2. Kolonel laut (K), dr. Sapta Prihartono, Sp.B., Sp.BA. selaku Kalakesla yang
telah memberikan kesempatan kepada kami untuk menimba ilmu di
Lakesla.
3. Letkol Laut (K), dr. Jan Arif Kadarman, Sp.P. selaku Kabag Diklitbang
Lakesla yang senantiasa memotivasi mahasiswa untuk belajar dan
memberikan fasilitas semaksimal mungkin.
4. Mayor Laut (K), Maedi, S.Kep. selaku Kasubag Diklitbang Lakesla dan
pembimbing yang senantiasa membimbing dan memotivasi mahasiswa
dalam penyelesaian makalah ini.
5. Laily Hidayati, S.Kep., Ns., M.Kep pembimbing akademik yang telah
memberikan bimbingan dan arahan dalam penyelesaian makalah ini.
6. Serma Rum Taukhid, S.Pd. selaku pembimbing ruangan yang memberikan
bimbingan dan arahan dalam penyelesian makalah ini, dan
7. Teman-teman yang telah bekerja sama dalam penyelesaian tugas ini.

iii
Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna dan masih
banyak kekurangan. Oleh karena itu, penyusun berharap kritik dan saran yang
dapat membangun agar dalam penyusunan makalah selanjutnya akan menjadi
lebih baik. Penyusun berharap semoga makalah ini bermanfaat bagi kami secara
pribadi dan bagi pembaca.

Surabaya, 01 Oktober 2019

Penulis

iv
DAFTAR ISI

Cover ........................................................................................................................ i
Lembar pengesahan ................................................................................................. ii
Kata pengantar ....................................................................................................... iii
Daftar isi .................................................................................................................. v
BAB 1 PENDAHULUAN.................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah .............................................................................. 2
1.3 Tujuan ................................................................................................ 2
1.3.1 Tujuan Umum .......................................................................... 2
1.3.2 Tujuan Khusus ......................................................................... 2
1.4 Manfaat .............................................................................................. 3
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA........................................................................... 4
2.1 Konsep Dasar HNP ............................................................................ 4
2.1.1 Definisi .................................................................................... 4
2.1.2 Faktor Resiko ........................................................................... 5
2.1.3 Etiologi .................................................................................... 5
2.2 Konsep Dasar Dekubitus .................................................................... 5
2.2.1 Definisi Decubitus ................................................................... 5
2.2.2 Klasifikasi Decubitus............................................................... 6
2.2.3 Faktor Resiko Dekubitus ....................................................... 11
2.2.4 Peranan Terapi Hiperbarik Oksigen Terhadap Dekubitus..... 15
2.3 Konsep Teori Terapi Hiperbarik ...................................................... 17
2.3.1 Definisi HBO ......................................................................... 17
2.3.2 Jenis HBO berdasarkan besarnya Chamber........................... 17
2.3.3 Tujuan HBO .......................................................................... 18
2.3.4 Kontraindikasi HBO .............................................................. 18
2.3.5 Dasar Fisiologi ....................................................................... 19
2.3.6 Dosis ...................................................................................... 20
2.3.7 Transportasi dan Utilisasi Oksigen terapi HBO .................... 21
2.4 Teori Askep HBO ............................................................................ 22

v
2.4.1 Pengkajian ............................................................................. 22
2.4.2 Diagnosa Terapi Hiperbarik Oksigen .................................... 25
2.4.3 Intervensi Keperawatan ......................................................... 25
BAB 3 ASUHAN KEPERAWATAN ................................................................ 28
3.1 Identitas pasien ................................................................................. 28
3.2 Pengkajian ........................................................................................ 28
3.3 Web of caution ................................................................................. 31
3.4 Analisa data ...................................................................................... 32
3.5 Diagnosa keperawatan ..................................................................... 33
3.6 Intervensi keperawatan..................................................................... 33
3.7 Implementasi keperawatan ............................................................... 37
3.8 Evaluasi keperawatan ....................................................................... 39
BAB 4 PENUTUP................................................................................................. 40
4.1 Simpulan .......................................................................................... 40
4.2 Saran................................................................................................. 40

vi
BAB 1
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan salah satu upaya pembangunan nasional
agar tercapainya kesadaran, kemauan, dan kemampuan untuk hidup sehat bagi
setiap masyarakat disepanjang hidupnya. Tujuan adanya pembangunan kesehatan
untuk mewujudkan kemandirian msyarakat untuk hidup sehat, memelihara serta
meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Terapi Oksigen Hiperbarik (TOHB) adalah suatu cara terapi dimana penderita
harus berada dalam suatu ruangan bertekanan, dan bernafas dengan oksigen 100 %
pada suasana tekanan ruangan yang lebih besar dari 1 ATA (Atmosfer absolute)
(Lakesla, 2009). Kondisi lingkungan dalam TOHB bertekanan udara yang lebih
besar dibandingkan dengan tekanan di dalam jaringan tubuh (1 ATA). Keadaan ini
dapat dialami oleh seseorang pada waktu menyelam atau di dalam ruang udara yang
bertekanan tinggi (RUBT) yang dirancang baik untuk kasus penyelaman maupun
pengobatan penyakit klinis. Individu yang mendapat TOHB adalah suatu keadaan
individu yang berada di dalam ruangan bertekanan tinggi (> 1 ATA) dan bernafas
dengan oksigen 100%.Tekanan atmosfer pada permukaan air laut adalah sebesar 1
atm.
Hernia Nukleus Pulposus (HNP) adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh
trauma atau perubahan degeneratife yang menyerang massanucleus pada daerah
vertebra L4-L5, L5-S1, atau C6-C6 yang menimbulkan nyeri punggung bawah,
kronik dan berulang atau kambuh. Permasalahan yang sering terjadi pada kasus
Hernia Nukleus Pulposus.
HNP yaitu adanya nyeri diam, nyeri gerak, nyeri tekan, mengurangi spasme
otot serta adanya keterbatasan gerak dan menambah kekuatan otot. Pada kasus
Hernia Nukleus Pulposus (HNP), diharapkan fisioterapi dengan menggunakan
static contraction dapat mengurangi nyeri, resisted active exercise dapat
meningkatkan kekuatan otot, pasif exercice dapat meningkatkan LGS dan teknik
MC. Kenzi dapat mengurangi spasme. Dengan pemberian modalitas tersebut
diharapkan mampu mengurangi nyeri, mengurangi spasme otot serta meningkatkan
luas gerak sendi dan menambah kekuatan otot.

1
2

Dekubitus adalah suatu keadaan kerusakan jaringan setempat yang


disebabkan oleh iskemia pada kulit (kutis dan sub-kutis) akibat tekanan dari luar
yang berlebihan. Umumnya terjadi pada penderita dengan penyakit kronik yang
berbaring lama. Ulkus dekubitus sering disebut sebagai ischemic ulcer, pressure
ulcer, pressure sore, bed sore.
Dekubitus juga beresiko tinggi pada orang-orang yang tidak mampu
merasakan nyeri, karena nyeri merupakan suatu tanda yang secara normal
mendorong seseorang untuk bergerak. Kerusakan saraf (misalnya akibat cedera,
stroke, diabetes) dan koma. Salah satu penyebab dekubitus adalah karena proses
tirah baring yang lama.
Kerusakan integritas kulit dapat berasal dari luka karena trauma dan
pembedahan, namun juga dapat disebabkan karena tertekannya kulit dalam waktu
yang lama yang menyebabkan iritasi dan akan berkembang menjadi lukatekan atau
dekubitus (Mukti, 2005).
Terapi hiperbarik oksigen yang akan mengurangi inflamasi atau perdangan
yang disebabkan oleh saraf yang terjepit pada Hernia Nekleus Pulposus (HNP) dan
menimbulkan nyeri. Oksigen murni 100% akan mengurangi peradangan dan akan
memperbaiki sel-sel dalam tubuh sehingga membantu proses penyembuhan luka
dekubitus akibat tirah baring yang lama setelah operasi tersebut dan akan
memperingan nyeri yang terjadi pada pasien.
1.2 Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan hiperbarik oksigen pada pasien Tn. I
dengan diagnosa medis ulkus decubitus dengan HBO ke-23 di LAKESLA Drs.
Med. R. Rijadi S., Phys Surabaya?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan Umum
Memahami asuhan keperawatan hiperbarik oksigen pada pasien Tn.I dengan
diagnosa medis ulkus decubitus dengan HBO ke-23 di LAKESLA Drs. Med. R.
Rijadi S., Phys Surabaya.
1.3.2 Tujuan Khusus
1 Mahasiswa dapat memahami konsep dasar HNP dan decubitus
2 Mahasiswa dapat memahami konsep dasar Terapi Oksigen Hiperbarik
3

3 Mahasiswa dapat memahami manfaat Terapi Oksigen Hiperbarik terhadap


ulkus decubitus
4 Mahasiswa mampu memahami dan melaksanakan asuhan keperawatan terapi
oksigen hiperbarik pada pasien ulkus dekubitus mulai dari pre-TOHB, intra
TOHB, dan post-TOHB
1.4 Manfaat
1. Bagi mahasiswa
1) Mahasiswa mampu memahami konsep dan asuhan keperawatan hiperbarik
pada pasien dengan post operasi HNP dengan komplikasi dekubitus
sehingga menunjang pembelajaran praktik lapangan medikal bedah
program profesi ners
2) Mahasiswa mampu mengetahui asuhan keperawatan hiperbarik pada pasien
dengan post operasi HNP dengan komplikasi dekubitus sehingga dapat
digunakan di kemudian hari pada saat praktik di ruangan dengan hiperbarik
oksigen
2. Bagi LAKESLA
Makalah ini dapat dijadikan referensi atau kajian pustaka di LAKESLA jika
akan dilakukan kegiatan ilmiah lainnya
4

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar HNP
2.1.1 Definisi
Herniasi nukleus pulposus (HNP) adalah suatu keadaan yang diakibatkan
oleh penonjolan nukleus pulposus dari diskus kedalam anulus (cincin fibrosa
disekitar diskus), yang disertai dekompresi dari akar syaraf. Herniasi dapat terjadi
di lumbal, lumbosakral, regioskapula, regio servikal, dan dua kolumna vertebralis.
(Fransisca, 2008)
Diskus vertebralis adalah lempengan kartilago yang membentuk sebuah
bantalan diantara vertebra. Material yang keras dan fibrosa ini digabungkan dalam
satu kapsul. Bantalan seperti bola dibagian tengah diskus disebut nukleus pulposus.
HNP merupakan rupturnya nukleus pulposus. (Brunner & Suddart,2002)
Hernia Nukleus Pulposus bisa ke korpus vertebra atas atau bawahnya, bisa
juga langsung ke kanalis vertebralis (piguna Sidharta, 1996). Herniasi diskus
intervetrebralis, merupakan penyakit dimana bagian nukleus yang terbuat dari
material berbentuk gel dalam spinal cord keluar dari anulus atau bagian yang
melindunginya sehingga terjadi penekanan atau penyempitan pada syaraf spinal dan
mengakibatkan nyeri (Nettina & Mills, 2006). Nama lain dari HNP yaitu Herniated
Nucleus Pulposus (HNP), Herniated Intervertebral Disk (HID) dan Degenerative
discdiseasedan penyakit ini merupakan nyeri punggung yang paling sering
(Smeltzer, Bare, Hinkle & Cheever, 2007)

Gambar 2.5 HNP


5

HNP adalah pembengkakan atau penonjolan dari anulus atau mungkin


herniasi melalui anulus ke tulang belakang. Hal ini biasanya terjadi dilokasi
posterolateral dari disk invertebralis dan antara ruang C5-C6 dan C6-
C7.(Smeltzer&Suzanne, 2002)
2.1.2 Faktor Resiko
1. Faktor risiko yang tidak dapat dirubah :
a. Umur: makin bertambah umur risiko makin tinggi
b. Jenis kelamin: laki-laki lebih banyak dari wanita
c. Riwayat cedera punggung atau HNP sebelumnya
2. Faktor risiko yang dapat dirubah :
a. Pekerjaan dan aktivitas: duduk yang terlalu lama, mengangkat atau
menarik barang-barang berat, sering membungkuk atau gerakan memutar
pada punggung, latihan fisik yang berat, paparan pada vibrasi yang konstan
seperti supir.
b. Olahraga yang tidak teratur, mulai latihan setelah lama tidak berlatih,
latihan yang berat dalam jangka waktu yang lama.
c. Merokok. Nikotin dan racun-racun lain dapat mengganggu kemampuan
diskus untuk menyerap nutrien yang diperlukan dari dalam darah.
d. Berat badan berlebihan, terutama beban ekstra di daerah perut dapat
menyebabkan strain pada punggung bawah.
e. Batuk lama dan berulang
2.1.3 Etiologi
Hernia nukleus pulposus dapat disebabkan oleh beberapa hal berikut
1. Degenerasi diskus intervertebralis
2. Trauma minor pada pasien tua dengan degenerasi
3. Trauma berat atau terjatuh
4. Mengangkat atau menarik benda berat

2.2 Konsep Dasar Dekubitus


2.2.1 Definisi Decubitus
Dekubitus merupakan kerusakan kulit pada suatu area dan dasar jaringan
yang disebabkan oleh tulang yang menonjol, sebagai akibat dari tekanan,
pergeseran, gesekan atau kombinasi dari beberapa hal tersebut (NPUAP, 2014).
6

Dekubitus adalah kerusakan struktur anatomis dan fungsi kulit normal akibat dari
tekanan dari luar yang berhubungan dengan penonjolan tulang dan tidak sembuh
dengan urutan dan waktu yang biasa, gangguan ini terjadi pada individu yang
berada diatas kursi atau diatas tempat tidur, seringkali pada inkontinensia,
malnutrisi, ataupun individu yang mengalami kesulitan makan sendiri, serta
mengalami gangguan tingkat kesadaran (Potter & Perry, 2005). Sedangkan menurut
Perry et al, (2012) dekubitus adalah luka pada kulit dan atau jaringan dibawahnya,
biasanya disebabkan oleh adanya penonjolan tulang, sebagai akibat dari tekanan
atau kombinasi tekanan dengan gaya geser dan atau gesekan.

2.2.2 Klasifikasi Decubitus


National Pressure Ulcer Advisory Panel (NPUAP) 2014 membagi derajat
dekubitus menjadi enam dengan karakteristik sebagai berikut :
1) Derajat I : Nonblanchable Erythema
Derajat I ditunjukkan dengan adanya kulit yang masih utuh dengan tanda-
tanda akan terjadi luka. Apabila dibandingkan dengan kulit yang normal, maka
akan tampak salah satu tanda sebagai berikut : perubahan temperatur kulit (lebih
dingin atau lebih hangat), perubahan konsistensi jaringan (lebih keras atau
lunak), dan perubahan sensasi (gatal atau nyeri). Pada orang yang berkulit putih
luka akan kelihatan sebagai kemerahan yang menetap, sedangkan pada orang
kulit gelap, luka akan kelihatan sebagai warna merah yang menetap, biru atau
ungu. Cara untuk menentukan derajat I adalah dengan menekan daerah kulit
yang merah (erytema) dengan jari selama tiga detik, apabila kulitnya tetap
berwarna merah dan apabila jari diangkat juga kulitnya tetap berwarna merah.

Gambar 2.1. Dekubitus derajat I (Sumber : NPUAP, 2014)

2) Derajat II : Partial Thickness Skin Loss


7

Hilangnya sebagian lapisan kulit yaitu epidermis atau dermis, atau


keduanya. Cirinya adalah lukanya superfisial dengan warna dasar luka merah-
pink, abrasi, melepuh, atau membentuk lubang yang dangkal. Derajat I dan II
masih bersifat refersibel.

Gambar 2.2. Dekubitus derajat II (Sumber : NPUAP, 2014)

3) Derajat III : Full Thickness Skin Loss


Hilangnya lapisan kulit secara lengkap, meliputi kerusakan atau nekrosis
dari jaringan subkutan atau lebih dalam, tapi tidak sampai pada fasia. Luka
terlihat seperti lubang yang dalam. Disebut sebagai “typical decubitus” yang
ditunjukkan dengan adanya kehilangan bagian dalam kulit hingga subkutan,
namun tidak termasuk tendon dan tulang. Slough mungkin tampak dan mungkin
meliputi undermining dan tunneling.

Gambar 2.3. Dekubitus derajat III (Sumber : NPUAP, 2014)

4) Derajat IV : Full Thickness Tissue Loss


Kehilangan jaringan secara penuh sampai dengan terkena tulang, tendon
atau otot. Slough atau jaringan mati (eschar) mungkin ditemukan pada beberapa
bagian dasar luka (wound bed) dan sering juga ada undermining dan tunneling.
8

Kedalaman derajat IV dekubitus bervariasi berdasarkan lokasi anatomi, rongga


hidung, telinga, oksiput dan malleolar tidak memiliki jaringan subkutan dan
lukanya dangkal. Derajat IV dapat meluas ke dalam otot dan atau struktur yang
mendukung (misalnya pada fasia, tendon atau sendi) dan memungkinkan
terjadinya osteomyelitis. Tulang dan tendon yang terkena bisa terlihat atau
teraba langsung.

Gambar 2.4. Dekubitus derajat IV (Sumber : NPUAP, 2014)

5) Unstageable : Depth Unknown


Kehilangan jaringan secara penuh dimana dasar luka (wound bed) ditutupi
oleh slough dengan warna kuning, cokelat, abu-abu, hijau, dan atau jaringan
mati (eschar) yang berwarna coklat atau hitam didasar luka. slough dan atau
eschar dihilangkan sampai cukup untuk melihat (mengexpose) dasar luka,
kedalaman luka yang benar, dan oleh karena itu derajat ini tidak dapat
ditentukan.

Gambar 2.5. Dekubitus unstageable / depth unknown (Sumber :


NPUAP, 2014)

6) Suspected Deep Tissue Injury : Depth Unknown


9

Berubah warna menjadi ungu atau merah pada bagian yang terkena luka
secara terlokalisir atau kulit tetap utuh atau adanya blister (melepuh) yang berisi
darah karena kerusakan yang mendasari jaringan lunak dari tekanan dan atau
adanya gaya geser. Lokasi atau tempat luka mungkin didahului oleh jaringan
yang terasa sakit, tegas, lembek, berisi cairan, hangat atau lebih dingin
dibandingkan dengan jaringan yang ada di dekatnya. Cidera pada jaringan
dalam mungkin sulit untuk di deteksi pada individu dengan warna kulit gelap.
Perkembangan dapat mencakup blister tipis diatas dasar luka (wound bed) yang
berkulit gelap. Luka mungkin terus berkembang tertutup oleh eschar yang tipis.
Dari derajat dekubitus diatas, dekubitus berkembang dari permukaan luar kulit
ke lapisan dalam (top-down), namun menurut hasil penelitian saat ini, dekubitus
juga dapat berkembang dari jaringan bagian dalam seperti fascia dan otot
walapun tanpa adanya adanya kerusakan pada permukaan kulit. Ini dikenal
dengan istilah injury jaringan bagian dalam (Deep Tissue Injury). Hal ini
disebabkan karena jaringan otot dan jaringan subkutan lebih sensitif terhadap
iskemia daripada permukaan kulit (Rijswijk & Braden, 1999).

Gambar 2.6. Dekubitus Suspected deep tissue injury : depth unknown (Sumber :
NPUAP, 2014)

Menurut Stephen & Haynes (2006), mengilustrasikan area-area yang


beresiko untuk terjadinya dekubitus. Dekubitus terjadi dimana tonjolan tulang
kontak dengan permukaan. Adapun lokasi yang paling sering adalah sakrum,
tumit, dan panggul. Penelitian yang dilakukan oleh Suriadi, et al (2007) 33,3%
pasien mengalami dekubitus dengan lokasi kejadian adalah pada bagian
sakrum 73,3%, dan tumit 13,2%, 20 pasien yang mengalami dekubitus derajat
10

I, dan 18 pasien mengalami derajat II, sedangkan penelitian yang dilakukan oleh
Fernandes & Caliri, (2008) pasien yang mengalami dekubitus sebanyak 62, 5%
(40) dengan kriteria 57,1% (30) mengalami derajat I, dan 42,9% mengalami
derajat II, lokasi kejadian dekubitus dalam penelitian ini adalah pada tumit
35,7%, sakrum 22,9%, dan skapula 12,9%.

Gambar 2.7. Area yang paling beresiko terjadi dekubitus (Sumber: NPUAP,
2007).
11

2.2.3 Faktor Resiko Dekubitus


Ada dua hal utama yang berhubungan dengan resiko terjadinya dekubitus,
yaitu faktor tekanan dan toleransi jaringan. Faktor yang mempengaruhi durasi dan
intensitas tekanan diatas tulang yang menonjol adalah imobilitas, inaktifitas dan
penurunan persepsi sensori. Sedangkan faktor yang mempengaruhi toleransi
jaringan dibedakan menjadi dua faktor yaitu faktor intrinsik dan ekstrinsik. Faktor
intrinsik yaitu faktor yang berasal dari pasien, sedangkan yang dimaksud dengan
faktor ekstrinsik yaitu faktor-faktor yang berhubungan dari luar yang mempunyai
efek deteriorasi pada lapisan eksternal dari kulit (Braden dan Bergstorm, 2000).
Penjelasan dari masing-masing faktor yang mempengaruhi dekubitus diatas adalah
sebagai berikut :

1. Faktor Tekanan
1) Mobilitas dan Aktivitas

Mobilitas adalah kemampuan untuk mengubah dan mengontrol posisi


tubuh, sedangkan aktifitas adalah kemampuan untuk berpindah. Pasien
dengan berbaring terus- menerus ditempat tidur tanpa mampu untuk
merubah posisi beresiko tinggi untuk terkena dekubitus. Imobilitas adalah
faktor yang paling signifikan dalam kejadian dekubitus (Braden &
Bergstorm, 2000). Sedangkan imobilitas pada lansia merupakan
ketidakmampuan untuk merubah posisi tubuh tanpa bantuan yang
disebabkan oleh depresi CNS (Jaul. 2010). Ada beberapa penelitian
prospektif maupun retrospektif yang mengidentifikasi faktor spesifik
penyebab imobilitas dan inaktifitas, diantaranya Spinal Cord Injury (SCI),
stroke, multiple sclerosis, trauma (misalnya patah tulang), obesitas,
diabetes, kerusakan kognitif, penggunaan obat (seperti sedatif, hipnotik,
dan analgesik), serta tindakan pembedahan (AWMA, 2012).

2) Penurunan Persepsi Sensori


Pasien dengan gangguan persepsi sensorik terdapat nyeri dan tekanan lebih
beresiko mengalami gangguan integritas kulit daripada pasien dengan
sensasi normal. Pasien dengan gangguan persepsi sensorik terdapat nyeri
dan tekanan adalah pasien yang tidak mampu merasakan kapan sensasi
12

pada bagian tubuh mereka meningkat, adanya tekanan yang lama, atau
nyeri dan oleh karena itu pasien tanpa kemampuan untuk merasakan bahwa
terdapat nyeri atau tekanan akan menyebabkan resiko berkembangnya
dekubitus (Potter & Perry, 2010).
2. Faktor Toleransi Jaringan :
1) Faktor Intrinsik :
(1) Nutrisi
Hipoalbumin, kehilangan berat badan dan malnutrisi umumnya
diidentifikasi sebagai faktor predisposisi terhadap terjadinya dekubitus,
terutama pada lansia. Derajat III dan IV dari dekubitus pada orang tua
berhubungan dengan penurunan berat badan, rendahnya kadar albumin,
dan intake makanan yang tidak mencukupi (Guenter, et al., 2000).
Menurut Jaul (2010), ada korelasi yang kuat antara status nutrisi yang
buruk dengan peningkatan resiko dekubitus. Keller, (2002) juga
menyebutkan bahwa 75% dari pasien dengan serum albumin dibawah
35 g/l beresiko terjadinya dekubitus dibandingkan dengan 16 % pasien
dengan level serum albumin yang lebih tinggi. Pasien yang level serum
albuminnya di bawah 3 g/100 ml lebih beresiko tinggi mengalami luka
daripada pasien yang level albumin tinggi (Potter & Perry, 2010).
(2) Umur / Usia
Pasien yang sudah tua memiliki resiko tinggi untuk terkena dekubitus
karena kulit dan jaringan akan berubah seiring dengan proses penuaan
(Sussman & Jensen, 2007). 70% dekubitus terjadi pada orang yang
berusia lebih dari 70 tahun. Seiring dengan meningkatnya usia akan
berdampak pada perubahan kulit yang di indikasikan dengan
penghubung dermis-epidermis yang rata (flat), penurunan jumlah sel,
kehilangan elastisitas kulit, lapisan subkutan yang menipis,
pengurangan massa otot, dan penurunan perfusi dan oksigenasi vaskular
intradermal (Jaul, 2010) sedangkan menurut Potter & Perry, (2005) 60%
- 90% dekubitus dialami oleh pasien dengan usia 65 tahun keatas.

(3) Tekanan arteriolar


13

Tekanan arteriolar yang rendah akan mengurangi toleransi kulit


terhadap tekanan sehingga dengan aplikasi tekanan yang rendah sudah
mampu mengakibatkan jaringan menjadi iskemia (Suriadi, et al., 2007).
Studi yang dilakukan oleh Bergstrom & Braden (1992) menemukan
bahwa tekanan sistolik dan tekanan diastolik yang rendah berkontribusi
pada perkembangan dekubitus.
2) Faktor ekstrinsik :
(1) Kelembaban
Adanya kelembaban dan durasi kelembaban pada kulit meningkatkan
resiko pembentukan kejadian dekubitus. Kelembaban kulit dapat
berasal dari drainase luka, perspirasi yang berlebihan, serta
inkontinensia fekal dan urine (Potter & Perry, 2010). Kelembaban yang
disebabkan karena inkontinensia dapat mengakibatkan terjadinya
maserasi pada jaringan kulit. Jaringan yang mengalami maserasi akan
mudah mengalami erosi. Selain itu, kelembaban juga mengakibatkan
kulit mudah terkena pergesekan (friction) dan pergeseran (shear).
Inkontinensia alvi lebih signifikan dalam perkembangan luka daripada
inkontinensia urine karena adanya bakteri dan enzim pada feses yang
dapat meningkatkan PH kulit sehingga dapat merusak permukaan kulit
(Sussman & Jansen, 2001., AWMA, 2012)
(2) Gesekan
Gaya gesek (Friction) adalah tekanan pada dua permukaan bergerak
melintasi satu dan yang lainnya seperti tekanan mekanik yang
digunakan saat kulit ditarik melintasi permukaan kasar seperti seprei
atau linen tempat tidur (WOCNS, 2003). Cidera akibat gesekan
memengaruhi epidermis atau lapisan kulit yang paling atas. Kulit akan
merah, nyeri dan terkadang disebut sebagai bagian yang terbakar.
Cidera akibat gaya gesek terjadi pada pasien yang gelisah, yang
memiliki pergerakan yang tidak terkontrol seperti keadaan spasme dan
pada pasien yang kulitnya ditarik bukan diangkat dari permukaan
tempat tidur selama perubahan posisi (Potter & Perry, 2010).
Pergesekan terjadi ketika dua permukaan bergerak dengan arah yang
14

berlawanan. Pergesekan dapat mengakibatkan abrasi dan merusak


permukaan epidermis kulit. Pergesekan bisa terjadi pada saat
pergantian seprei pasien yang tidak berhati-hati (Dini, et al., 2006).
(3) Pergeseran
Gaya geser adalah peningkatan tekanan yang sejajar pada kulit yang
berasal dari gaya gravitasi, yang menekan tubuh dan tahanan (gesekan)
diantara pasien dan permukaan (Potter & Perry, 2010). Contoh yang
paling sering adalah ketika pasien diposisikan pada posisi semi fowler
yang melebihi 30°. Hal ini juga didukung oleh pernyataan dari Jaul
(2010) bahwa pada lansia akan cenderung merosot kebawah ketika
duduk pada kursi atau posisi berbaring dengan kepala tempat tidur
dinaikkan lebih dari 30°. Pada posisi ini pasien bisa merosot kebawah,
sehingga mengakibatkan tulangnya bergerak kebawah namun kulitnya
masih tertinggal. Hal ini dapat mengakibatkan oklusi dari pembuluh
darah, serta kerusakan pada jaringan bagian dalam seperti otot, namun
hanya menimbulkan sedikit kerusakan pada permukaan kulit
(WOCNS, 2005).
. Ada hipotesis lain mengenai faktor pencetus terjadinya dekubitus,
antara lain sebagai berikut :
1. Merokok
Merokok mungkin sebuah prediktor terbentuknya dekubitus. Insiden
dekubitus lebih tinggi pada perokok dibandingkan dengan yang bukan
perokok. afinitas hemoglobin dengan nikotin dan meningkatnya radikal
bebas diduga sebagai penyebab resiko terbentuknya dekubitus pada perokok
(Bryant, 2007). Menurut hasil penelitian Suriadi (2007) ada hubungaan
yang signifikan antara merokok dengan perkembangan terhadap dekubitus.
15

2. Temperatur kulit
Setiap terjadi peningkatan metabolisme akan menaikkan 1 derajat
celcius dalam temperatur jaringan. Dengan adanya peningkatan temperatur
ini akan beresiko terhadap iskemik jaringan. Selain itu dengan menurunnya
elastisitas kulit, akan tidak toleran terhadap adanya gaya gesekan dan
pergerakan sehingga akan mudah mengalami kerusakan kulit (AWMA,
2012). Hasil penelitian didapatkan bahwa adanya hubungan yang bermakna
antara peningkatan temperatur tubuh dengan resiko terjadinya dekubitus
(Bergstrom and Braden 1992, Suriadi dkk, 2007).
3. Penyakit Kronis
Selain beberapa faktor diatas, Australian Wound Management
Association (AWMA, 2012) juga menyebutkan penyakit kronis sebagai salah
satu faktor ekstrinsik terjadinya dekubitus. Penyakit kronis dapat
mempengaruhi perfusi jaringan, dimana penyakit dan kondisi tersebut dapat
mengakibatkan kerusakan pengiriman oksigen ke jaringan. Ada beberapa
penyakit yang dapat menyebabkan resiko terjadinya dekubitus, diantaranya
adalah diabetes mellitus, kanker, penyakit pada pembuluh darah arteri,
penyakit kardiopulmonar, lymphoedema, gagal ginjal, tekanan darah
rendah, abnormalitas sirkulasi serta anemia.
2.2.4 Peranan Terapi Hiperbarik Oksigen Terhadap Dekubitus

1. Meningkatkan regenerasi saraf perifer


Regenerasi saraf pada dekubitus sangat esensial untuk perbaikan neuropati
sama halnya dengan penyembuhan saraf akibat cedera dari kompresi saraf.
Terapi hiperbarik oksigen mampu memproduksi jaringan yang hiperoksia
dengan meningkatan tekanan oksigen pada jaringan yang iskemik dan
tampak memiliki keuntungan dalam perbaikan neuropati iskemik.
2. Mempercepat penyembuhan ulkus diabetic
Dalam keadaan iskemia, tubuh akan mengalami gangguan dalam proses
terjadinya penyembuhan luka. Diketahui pula bahwa hipoksia tidak sama
dengan iskemia, karena itu ada asumsi yang mengatakan bahwa pemberian
oksigen lebih banyak akan membantu proses penyembuhan luka dalam
keadaan tertentu. Sudah menjadi kenyataan bahwa HBO mempunyai efek
16

yang baik terhadap vaskularisasi dan perfusi perifer serta kelangsungan


hidup jaringan yang iskemik. Penggunaan oksigen hiperbarik dalam klinik
meningkat dengan cepat dimana perbaikan vaskularisasi, perbaikan jaringan
yang hipoksia dan pengurangan pembengkakan merupakan faktor utama
dalam mekanismenya.
Kerusakan pada jaringan menyebabkan kerusakan pada pembuluh darah.
Sel, platelet dan kolagen tercampur dan mengadakan interaksi. Butir-butir
sel darah putih melekat pada sel endotel pembuluh darah mikro setempat.
Pembuluh darah yang tersumbat akan mengadakan dilatasi. Leukosit
bermigrasi diantara sel endotel ke tempat yang rusak dan dalam beberapa
jam maka akan difiltrasi dengan granulosit dan makrofag. Sel darah putih
akan digantikan oleh fibroblast yang juga melakukan metabolisme dengan
cepat. Pada saat kebutuhan metabolisme jaringan rusak mengalami
peningkatan tidak didukung oleh adanya sirkulasi lokal yang baik, maka
akan terjadi hipoksia di daerah yang rusak tersebut. Dalam beberapa hari
fibroblast mengalir ke daerah luka dan mulai terbentuk jaringan kolagen.
Disamping itu juga terjadi neorovaskularisasi yang disebabkan oleh
inflamasi dan kebutuhan perbaikan jaringan, merangsang pembentukan
pembuluh darah baru. Pembentukan jaringan kolagen oleh fibroblast
merupakan dasar dari proses penyembuhan luka, karena kolagen adalah
protein penghubung yang mengikat jaringan yang terpisah menjadi satu.
2.3 Konsep Teori Terapi Hiperbarik
2.3.1 Definisi HBO
Terapi oksigen hiperbarik (HBOT) adalah terapi medis dimana pasien
dalam suatu ruangan menghisap oksigen tekanan tinggi (100%) atau pada tekanan
barometer tinggi (hyperbaric chamber). Kondisi lingkungan dalam HBOT
bertekanan udara yang lebih besar dibandingkan dengan tekanan di dalam jaringan
tubuh (1 ATA). Keadaan ini dapat dialami oleh seseorang pada waktu menyelam
atau di dalam ruang udara yang bertekanan tinggi (RUBT) yang dirancang baik
untuk kasus penyelaman maupun pengobatan penyakit klinis. Individu yang
mendapat pengobatan HBOT adalah suatu keadaan individu yang berada di dalam
ruangan bertekanan tinggi ( 1 ATA) dan bernafas dengan oksigen 100%. Tekanan
atmosfer pada permukaan air laut sebesar 1 atm. Setiap penurunan kedalaman 33
kaki, tekanan akan naik 1 atm (Wikipedia, 2012).
Hiperbarik oksigen (HBO) adalah suatu cara terapi dimana penderita harus
berada dalam suatu ruangan bertekanan, dan bernafas dengan oksigen 100 % pada
suasana tekanan ruangan yang lebih besar dari 1 ATA (Atmosfer absolute)
(Lakesla, 2009).
Kondisi lingkungan dalam HBO bertekanan udara yang lebih besar
dibandingkan dengan tekanan di dalam jaringan tubuh (1 ATA). Keadaan ini dapat
dialami oleh seseorang pada waktu menyelam atau di dalam ruang udara yang
bertekanan tinggi (RUBT) yang dirancang baik untuk kasus penyelaman maupun
pengobatan penyakit klinis. Individu yang mendapat terapi HBO adalah suatu
keadaan individu yang berada di dalam ruangan bertekanan tinggi (> 1 ATA) dan
bernafas dengan oksigen 100%.
2.3.2 Jenis HBO berdasarkan besarnya Chamber
1) Monoplace Chamber
Chamber yang berukuran kecil dan hanya untuk satu pasien. Klien
menghirup oksigen yang diisikan dalam Chamber.
2) Multiplace Chamber
Chamber yang bisa digunakan untuk beberapa pasien yang melakukan
terapi HBO. Klien menghirup O2 murni 100% dari masker O2 yang telah
tersedia di dalam Chamber.

4
18

3) Portable Chamber
Chamber yang bisa dengan mudah dipindahkan untuk kasus emergency.
Contoh : Chamber dalam ambulance TNI AL
4) Animal Chamber
Chamber yang digunakan khusus untuk hewan penelitian.
2.3.3 Tujuan HBO
Tujuan dilakukan Hiperbarik Oksigen (HBO) adalah untuk :
1) Decompresi (DCS) yang terjadi pada kasus penyelaman.
2) Klinis, beberapa penyakit yang bisa disembuhkan dengan HBO antara
lain:
(1) Luka DM dan Gangren
(2) Sudden Deafness
(3) Keracunan gas CO2
(4) Rehabilitasi pasca stroke
(5) Infertilitas, meningkatkan motilitas sperma.
3) Kebugaran
2.3.4 Kontraindikasi HBO
1) Kontraindikasi absolut
Untreated Pneumothorak yaitu pneumothorak yang belum
dilakukan tindakan pembedahan.
2) Kontraindikasi relatif
Beberapa keadaan yang memerlukan perhatian tapi bukan
merupakan kontraindikasi absolute pemakaian hiperbarik oksigen adalah
sebagai berikut
(1) Infeksi saluran napas bagian atas
(2) Sinusitis kronis
(3) Riwayat operasi telinga
(4) Penyakit kejang
(5) Emfisema yang disertai retensi CO2
(6) Panas tinggi yang tidak terkontrol
(7) Infeksi Virus
(8) Spherositosis congenital
19

(9) Riwayat neuritis optic


(10) Keadaan umum lemah, tekanan darah sistolik >170 mmHg atau <90
mmHg. Diastole >110 mmHg atau <60 mmHg
(11) Claustropobhia (takut pada ruangan tertutup)
(12) Riwayat operasi dada
(13) infeksi aerob seperti TBC
(14) Wanita hamil
(15) Penderita sedang kemoterapi seperti terapi adriamycin, bleomycin.
2.3.5 Dasar Fisiologi
Aspek fisiologi dari terapi HBO mencakup beberapa hal yaitu sebagai
berikut:
1) Fase Respirasi
Seperti diketahui, kekurangan oksigen pada tingkat sel menyebabkan
terjadinya gangguan kegiatan basal yang pokok untuk hidup suatu organisme.
Untuk mengetahui kegunaan HBO dalam mengatasi hipoksia seluler, perlu
dipelajari fase-fase pertukaran gas sebagai berikut :
2) Fase Ventilasi
Fase ini merupakan penghubung antara fase transportasi dan lingkungan gas
diluar. Fungsi dari saluran pernafasan adalah memberi O2 dan membuang CO2
yang tidak diperlukan dalam metabolisme. Gangguan yang terjadi dalam fase
ini akan menyebabkan hipoksia jaringan. Gangguan tersebut meliputi
gangguan membran alveoli, atelektasis, penambahan ruang rugi,
ketidakseimbangan ventilasi alveolar dan perfusi kapiler paru (Pennefather
2002).
3) Fase Tranportasi
Fase ini merupakan penghubung antara lingkungan luar dengan organ-organ
(sel dan jaringan). Fungsinya adalah menyediakan gas yang dibutuhkan dan
membuang gas yang dihasilkan oleh proses metabolisme. Gangguan dapat
terjadi pada aliran darah lokal atau umum, hemoglobin,shunt anatomisatau
fisiologis. Hal ini dapat diatasi dengan merubah tekanan gas di saluran
pernafasan (Kindwall& Whelan 1999).
20

4) Fase Utilisasi
Pada fase utilisasi terjadi metabolisme seluler, fase ini dapat terganggu apabila
terjadi gangguan pada fase ventilasi maupun transportasi. Gangguan ini dapat
diatasi dengan hiperbarik oksigen, kecuali gangguan itu disebabkan oleh
pengaruh biokimia, enzim, cacat atau keracunan (Kindwall & Goldman 1998).
5) Fase Difusi
Fase ini adalah fase pembatas fisik antara ketiga fase tersebut dandianggap
pasif, namun gangguan pada pembatas ini akan mempengaruhi pertukaran gas.
2.3.6 Dosis
Dosis terapi HBO yang digunakan pada Lakesla Drs Med R. Rijadi
Sastropanoelar, Phys. Surabaya yaitu berdasarkan table Kindwall modifikasi
Guritno. Pelaksanaan terapi HBO diawali dengan dilakukannya kompresi sampai
kedalaman 50 feet of seawater (fsw), kecepatan kompresi disesuaikan dengan
kondisi penderita. Setibanya di 50 fsw segera dipasang masker, penderita bernafas
dengan O2 murni selama 30 menit, dilanjutkan dengan udara selama 5 menit, lalu
O2 murni 30 menit, udara 5 menit dan terahir O2 30 menit. Kemudian dilakukan
dekompresi dari 50 fsw ke permukaan dengan kecepatan 1 feet/ menit, selama
dekompresi penderita bernafas dengan O2 murni. Keluarkan penderita dari RUBT
dan terapi HBO selesei. Total waktu yang dibutuhkan untuk terapi ini adalah 128
menit (Widodo, Hisnindarsyah & Harnanik, 2016).
Tabel Klinis Kindwall Terapi Hiperbarik
21

2.3.7 Transportasi dan Utilisasi Oksigen terapi HBO


1) Efek kelarutan oksigen dalam Plasma
Pada tekanan barometer normal, oksigen yang larut dalam plasma sangat
sedikit. Namun pada tekanan oksigen yang aman 3 ATA, dimana PO2 arterial
mencapai ±2000 mmhg, tekanan oksigen meningkat 10 sampai 13 kali dari
normal dalam plasma. Oksigen yang larut dalam plasma sebesar ± 6 vol % (6
ml O2 per 100 ml plasma) yang cukup untuk memberi hidup meskipun tidak
ada darah (Grim et al 2009).
2) Haemoglobin (Hb)
1 gr Hb dapat mengikat 1,34 ml O2, sedangkan konsentrasi normal dari Hb
adalah ±15 gr per 100 ml darah. Bila saturasi Hb 100 % maka 100 ml darah
dapat mengangkut 20,1 ml O2 yang terikat pada Hb (20,1 vol%). Pada tekanan
normal setinggi permukaan laut, dimana PO2 alveolar dan arteri ±100 mmHg,
maka saturasi Hb dengan O2 ±97 % dimana kadar O2 dalam darah adalah 19,5
vol %. Saturasi Hb akan mencapai 100 % pada PO2 arteri antara 100-200
mmHg (Grim et al 2009)
3) Utilisasi O2
Utilisasi O2 rata-rata tubuh manusia dapat diketahui dengan mengukur
perbedaan antara jumlah O2 yang ada dalam darah arteri waktu meninggalkan
paru dan jumlah O2 yang ada dalam darah vena diarteri pulmonalis. Darah
arteri mengandung ±20% oksigen, sedangkan darah vena mengandung ±14 %
vol oksigen sehingga 6 vol % oksigen dipakai oleh jaringan (Lakesla 2009).
4) Efek Kardiovaskuler
Pada manusia, oksigen hiperbarik menyebabkan penurunan curah jantung
sebesar 10-20 %, yang disebabkan oleh terjadinya bradikardia dan penurunan
isi sekuncup. Tekanan darah umumnya tidak mengalami perubahan selama
pemberian hiperbarik oksigen. Pada jaringan yang normal HBO dapat
menyebabkan vasokontriksi sebagai akibat naiknya PO2 arteri. Efek
vasokontriksi ini kelihatannya merugikan, namun perlu diingat bahwa pada
PO2 ±2000 mmHg, oksigen yang tersedia dalam tubuh adalah 2 kali lebih besar
dari pada biasanya. Pada keadaan dimana terjadi edema, efek vasokontriksi
22

yang ditimbulkan oleh hiperbarik oksigen justru dikehendaki, karena akan


dapat mengurangi edema (Hanabe, 2004).
2.4 Teori Askep HBO
2.4.1 Pengkajian
1) Identitas :
Nama, alamat, lahir, pekerjaan, pendidikan, dsb
2) Keluhan utama :
Decompresi, Klinis, Kebugaran
3) Riwayat penyakit sekarang
DCS (Penyelaman dilakukan dimana, dikedalaman berapa, pasien
menunjukkan gejala pada kedalaman brp, pingsan berapa lama,
menyelaman menggunakan apa, dan pertolongan apa yang sdh dilakukan)
Klinis : Riwayat penyakit s/d dilakukan terapi HBO
Kebugaran
4) Riwayat penyakit dahulu
Kontra indikasi : Absolut : Pneumotorax, Relatif : Asma, klaustrofobia,
penyakit paru obstruksi kronik, disfungsi tuba eustachius, demam tinggi,
kehamilan, infeksi saluran napas atas
5) Pemeriksaan fisik
Suhu, detak jantung, tekanan darah, suara paru, uji otoscopic, gula darah,
nadi, pengkajian kepala, mata, telinga, hidung dan tenggorokan.
Pengkajian sistem neurologis, pernafasan, kardiovaskuler, pencernaan,
perkemihan, musculoskeletal, integument.
6) Zat dan barang pribadi yang dilarang di ruang HBO
Semua zat yang mengandung minyak atau alkohol (yaitu, kosmetik, hair
spray, cat kuku, deodoran, lotion, cologne, parfum, salep). Pasien harus
melepas semua perhiasan, cincin, jam tangan, kalung, sisir rambut, dll
Sebelum memasuki ruangan. Lensa kontak harus dilepas sebelum
memasuki ruang. Alat bantu dengar harus dilepas. Menggunakan pakaian
berbahan katun 100%. Untuk antisipasi claustrophobia, premedikasi
dengan obat anti-kecemasan (Valium, Ativan) diberikan sedikitnya 30
menit sebelum memulai pengobatan
23

7) Pengkajian HBO
Prosedur penatalaksanaan hiperbarik oksigen adalah sebagai berikut
(Lakesla, 2009):
1. Pra Hiperbarik Oksigen
Dokter jaga HBO dan perawat (tender) melaksanakan:
1) Anamnesis :
Identitas, riwayat penyakit sekarang, riwayat penyakit dahulu,
kontra indikasi absolut dan relatif untuk terapi HBO.
Indikasi HBO :
Beberapa indikasi penyakit yang bisa diterapi dengan HBO
adalah penyakit dekompresi, emboli udara, keracunan gas CO,
HCN, H2S, infeksi seperti gas gangren, osteomyelitis, lepra,
mikosis, pada bedah plastik dan rekonstruksi seperti luka yang
sulit sembuh, luka bakar, operasi reimplantasi dan operasi
cangkok jaringan. Keadaan trauma seperti crush injury,
compartment syndrome dan cidera olahraga. Gangguan
Pembuluh darah tepi : berupa shock, MCI, ops, bypass jantung
dan nyeri tungkai iskemik, bedah ortopedi seperti fracture non
union, cangkok tulang, osteoradionekrosis. Keadaan neurologik
seperti stroke, multiple sclerosis, migrain, edema cerebri, multi
infrak demensia, cedera medula spinalis, abses otak dan neuropati
perifer, penyakit diabetes, asfiksi seperti tenggelam. inhalasi
asap. hampir tercekik. Kondisi masa rehabilitasi seperti hemiplegi
spastik stroke, paraplegi, miokard insufisiensi kronik dan
penyakit pembuluh darah tepi.
Kontra indikasi absolut, yaitu penyakit pneumothorak yang
belum ditangani.
Kontra indikasi relatif yaitu meliputi keadaan umum lemah,
tekanan darah sistolik >170 mmHg atau <90 mmHg. Diastole
>110 mmHg atau <60 mmHg. Demam tinggi >38° c, ISPA
(infeksi saluran pernafasan atas), sinusitis, Claustropobhia (takut
pada ruangan tertutup), penyakit asma, emfisema dan retensi
24

CO2, infeksi virus, infeksi aerob seperti TBC, lepra, riwayat


kejang, riwayat neuritis optic, riwayat operasi thorak dan telinga,
wanita hamil, penderita sedang kemoterapi seperti terapi
adriamycin, bleomycin.
2) Pemeriksaan fisik lengkap
3) X-foto thorak PA
4) Pemeriksaan tambahan bila dianggap perlu, yaitu:
- EKG
- Bubble detector untuk kasus penyelainan
- Perfusi dan P02 transcutaneus
- Laboratorium darah
- Konsultasi dokter spesialis
5) Menerangkan manfaat, efek samping, proses dan program terapi
HBO, yaitu :
- Terapi dilaksanakan di dalam Ruang Udara Benckanan
tinggi
- Cara adaptasi terhadap perubahan tekanan : manuver
valsava / equalisasi
- Bernafas mcnghirup O2 100%. melalui masker selama 3
x 30 menit untuk tabel terapi Kindwall atau sesuai tabel
terapi kasus penyelaman.
- Efek samping : barotrauma, intoksikasi oksigen
- Selama terapi didampingi oleh seorang perawat
- Menandatangani inform concern
2. Intra Hiperbarik Oksigen
1) Selarna proses kompresi, tender membantu adaptasi peserta terapi
HBO terhadap peningkatan tekanan lingkungan
2) Selama proses menghirup O2 100%
- Observasi tanda-tanda intoksikasi oksigen seperti pucat,
keringat dingin, twitching, mual, muntah dan kejang. Bila
terjadi hal demikian maka perawar akan memberitahukan
kepada petugas diluar bahwa terapi dihentikan sementara
25

sampai menunggu kondisi penderita baik, kemudian


penderita dikeluarkan dan diberikan perawatan sampai
kondisi adekuat.
- Observasi tanda-tanda vital dan keluhan peserta terapi HBO
- Untuk kasus penyelaman, observasi sesuai keluhan. yaitu :
gangguan motorik dan sensorik, rasa nyeri.
- Selama proses dekompresi perawat membantu adaptasi
peserta terapi HBO terhadap pengurangan tekanan
lingkungan dengan valsava maneuver, menelan ludah, atau
minum air putih.
3. Post Hiperbarik Oksigen
Dokter dan perawat jaga HBO melaksanakan anamnesis setelah
terapi, evaluasi penyakit, evaluasi ada tidaknya efek samping. Bila
kondisi baik maka pasien akan dikembalikan ke ruang perawatan
seperti semula.
2.4.2 Diagnosa Terapi Hiperbarik Oksigen
1. Resiko cidera yang b/d pasien transfer in/out dari ruang (chamber), ledakan
peralatan, kebakaran, dan/atau peralatan dukungan medis
2. Resiko barotrauma ke telinga, sinus, gigi, dan paru-paru, atau gas emboli
serebral b/d perubahan tekanan udara di dalam ruang oksigen hiperbarik.
3. Resiko keracunan oksigen b/d pemberian oksigen 100% selama tekanan
atmosfer meningkat.
2.4.3 Intervensi Keperawatan
1) Resiko cidera yang b/d pasien transfer in/out dari ruang (chamber), ledakan
peralatan, kebakaran, dan/atau peralatan dukungan medis
Kriteria Hasil : pasien tidak akan mengalami cedera
Intervensi Keperawatan :
a. Bantu pasien masuk dan keluar dari ruang dengan tepat
b. Amankan peralatan di dalam ruang sesuai dengan kebijakan dan
prosedur
c. Monitor peralatan dan supple untuk perubahan tekanan dan volume
26

d. Ikuti prosedur pencegahan kebakaran sesuai kebijakan yang ditentukan


dan prosedur
e. Monitor adanya udara di IV line dan tekanan tubing line invasif. udara
semua harus dikeluarkan dari tabung, jika ada.
f. Dokumentasikan bahwa semua lini invasif terbebas dari udara terutama
saat chamber di berikan tekanan dan setelah diberikan tekanan.
2) Resiko barotrauma ke telinga, sinus, gigi, dan paru-paru, atau gas emboli
serebral b/d perubahan tekanan udara di dalam ruang oksigen hiperbarik.
Kriteria Hasil : tanda dan gejala dari barotrauma akan diakui, ditangani, dan
segera dilaporkan.
a. Kelola dekongestan, instruksi dokter, sebelum perawatan terapi oksigen
hiperbarik
b. Sebelum perawatan instruksikan pada pasien tentang teknik
pengosongan telinga,dengan cara menelan, mengunyah, menguap
modifikasi manuver valsava , atau head tilt
c. Kaji kemampuan pasien melakukan teknik pengosongan telinga saat
tekanan dilakukan.
d. Lakukan tindakan keperawatan :
1) Ingatkan pasien untuk bernapas dengan normal selama perubahan
tekanan,
2) Konfirmasi ET / manset Trach diisi dengan NS sebelum tekanan
udara.
3) Beritahukan operator ruang multiplace jika pasien tidak dapat
menyesuaikan persamaan tekanan
3) Resiko keracunan oksigen b/d pemberian oksigen 100% selama tekanan
atmosfir meningkat.
Kriteria Hasil : Tanda dan gejala keracunan oksigen dikenali dan ditangani
dengan tepat
Intervensi Keperawatan :
a. Catat hasil pengkajian pasien dari dokter hiperbarik :
a) Peningkatan Suhu tubuh
b) Riwayat penggunaan steroid
27

c) Riwayat kejang oksigen


d) Penggunaan vitamin C dosis tinggi atau aspirin
e) FiO2> 50%, dan
1) Faktor risiko tinggi lainnya
b. Ubah sumber oksigen 100% untuk pasien jika tanda-tanda dan gejala
muncul, dan beritahukan kepada dokter hiperbarik.
c. Monitor pasien selama terapi oksigen hiperbarik dan dokumentasikan
tanda dan gejala keracunan oksigen paru, termasuk:
a) nyeri dan rasa terbakar di dada
b) sesak di dada
c) batuk kering (terhenti-henti)
d) kesulitan menghirup napas penuh, dan
e) Dispneu saat bergerak
d. Memberitahukan dokter hiperbarik jika tanda-tanda dan gejala
keracunan oksigen paru muncul.
BAB 3
ASUHAN KEPERAWATAN
HIPERBARIK OKSIGEN PADA GANGGUAN INTEGRITAS KULIT
DENGAN DIAGNOSA MEDIS ULKUS DEKUBITUS
DI LAKESLA Drs. Med. R. RIJADI S., Phys. SURABAYA

3.1 IDENTITAS PASIEN


Nama : Tn.I
Agama : Islam
Usia : 35 Tahun
Diagnosa Medis : ulkus dekubitus
Jenis Kelamin : Laki laki
No. Pendaftaran : 511/xx/xxxx
Pekerjaan : PNPM Mandiri
Tanggal Pengkajian : 30 September 2019
Alamat : Manukan Surabaya
Terapi HBO ke : 23
3.2 PENGKAJIAN
1. Keluhan Utama : Luka dekubitus
2. Riwayat Penyakit Sekarang :
Pada tahun 2015 klien mengalami saraf terjepit (HNP) dan klien melakukan
operasi pada bulan Maret 2019. Sejak post operasi HNP klien mengalami
kelumpuhan pada tubuh bagian pusar sampai bawah. Klien tidak bisa merasakan
ingin berkemih, akhirnya dengan keluarga dipasang kondom kateter, karena
bedrest yang lama akhirnya klien mengalami dekubitus.
3. Riwayat Penyakit Dahulu : Klien mengalami HNP
4. Riwayat Penyakit Keluarga : Tidak ada
5. Pemeriksaan Fisik :

• B1 (Breath) : RR : 20 x/menit, suara nafas vesikuler

• B2 (Blood) : TD : 110/80

• B3 (Brain) : GCS E4V5M6,

38
29

• B4 (Bladder) : Terpasang kondom kateter

• B5 (Bowel) : Terdapat gangguan fungsi rektum

• B6 (Bone) : Terdapat luka dekubitus pada pinggang kanan, pinggang


kiri, atas bokong dan pada lipatan dekat anus

6. Pemeriksaan Penunjang : Foto

7. Riwayat Penyakit Dahulu


1. Riwayat Terapi HBO
30

Pernah Dirawat : Ya Tidak Kapan : -


Keluhan Saat Itu : DCS Klinis Kebugaran
2. Riwayat Penyakit Kontraindikasi
Absolut
Pneumothoraks : Sudah Diterapi Belum Diterapi Tidak ada
Keterangan: -
Relatif
ISPA Keterangan: -
Sinusitis Kronis Keterangan: -
Kejang Keterangan:
Emphisema + Retensi O2 Keterangan: -
Panas Tinggi Keterangan:
Pneumothorak Spontan Keterangan: -
Operasi Dada Keterangan: -
Operasi Telinga Keterangan: -
31

3.3 WEB OF CAUTION

=HNP

Terjadi pada lumbal

Penatalaksanaan Operasi

Gangguan saraf Gangguan saraf Gangguan saraf


sensorik otonom motorik

Mati rasa Gangguan fungsi rektum dan Kelumpuhan


kandung kemih

Hilang sensitivitas MK : Gangguan


MK : Gangguan Eliminasi mobilitas fisik

MK : Ansietas
Bedrest

Dekubitus

MK : Gangguan
integritas kulit

Terapi HBO

Kurang
Pengetahuan
pengetahuan Perubahan tekanan Ruangan bertekanan tinggi
udara di RUBT
MK : Ansietas
Pemberian oksigen 100%
MK : Resiko
barotrauma
MK : Resiko keracunan
oksigen
32

3.4 ANALISA DATA


Tanggal Data Etiologi Masalah
Senin, 30 DS : Klien mengatakan Post op Gangguan Integritas
September terdapat luka dekubitus Kulit
2019
08.00 DO : Terdapat luka Bedrest
dekubitus di pinggang
kanan, pinggang kiri
dan bokong Gangguan integritas
kulit
Senin, 30 DS: pasien mengatakan Ruangan udara Resiko barotrauma
September bisa melakukan valsava dengan tekanan
2019 tinggi (2,4 ATA)
08.00 DO: pasien bisa
menunjukkan teknik
valsava dengan benar Perubahan tekanan
udara di dalam
ruangan

Penekanan pada
membran tympani

Resiko barotrauma
Senin, 30 DS: pasien mengatakan Terapi HBO Resiko cedera
September terapi HBO ke 18
2019 Keterbatasan gerak
08.00 DO :
-Skala kekuatan otot Pintu masuk ruangan
5 4 (chamber) kecil
3 4
33

-Pasien perlu bantuan


ketika masuk kedalam Pasien transfer in/out
ruangan (chamber)
-Bagian pintu masuk
dan dalam chamber Resiko cidera
kecil memiliki ruang
gerak terbatas

3.5 DIAGNOSA KEPERAWATAN


1. Kerusakan integritas kulit b.d. tirah baring
2. Resiko keracunan oksigen b.d. pemberian oksigen 100% selama tekanan
atmosfir meningkatkan
3. Resiko cidera b.d. pasien transfer in/out dari ruang chamber, ledakan
peralatan, kebakaran, dan/atau peralatan dukungan medis.
3.6 INTERVENSI KEPERAWATAN
Hari/ Waktu Diagnosa keperawatan Intervensi
Tanggal (Tujuan, Kriteria Hasil)
Senin, 30 08.00 Gangguan integritas kulit Pre HBO
September WIB b.d tirah baring 1. Catat hasil pengkajian pasien dari
2019 Tujuan: Setelah dilakukan dokter hiperbarik :
perawatan, diharapkan a. Peningkatan Suhu tubuh
keutuhan kulit meningkat b. Identifikasi penyebab gangguan
Kriteria Hasil: integritas kulit
1. Kerusakan lapisan kulit c. Hasil tekanan darah
menurun d. Status perfusi Jaringan Perifer
2. Kemerahan menurun e. Faktor risiko tinggi lainnya
3. Pigmentasi abnormal
menurun Intra HBO
1. Monitor kondisi pasien saat terapi
berlangsung dan dokumentasikan
tanda dan gejala dari keracunan
oksigen pada sistem saraf pusat :
34

a. mati rasa dan berkedut


b. Telinga berdenging atau
halusinasi pendengaran
c. Vertigo
d. penglihatan kabur
e. gelisah dan mudah
tersinggung
f. mual
(Catatan: Toksisitas oksigen pada
SSP dapat mengakibatkan kejang)
2. Laporkan pada operator untuk
mengubah sumber oksigen 100%
untuk pasien jika tanda-tanda dan
gejala muncul, dan beritahukan
kepada dokter hiperbarik.
3. Monitor pasien selama terapi
oksigen hiperbarik dan
dokumentasikan tanda dan gejala
keracunan oksigen paru, termasuk:
a. Nyeri dan rasa terbakar di dada
b. sesak di dada
c. batuk kering (terhenti-henti)
d. kesulitan menghirup napas
penuh, dan
e. Dispneu saat bergerak

Post HBO
1. Kaji kondisi kulit dekubitus
2. Beritahukan dokter hiperbarik jika
tanda-tanda kerusakan kulit
35

Senin, 30 08.00 Risiko barotrauma ke Pre HBO


September WIB telinga, sinus, gigi, dan 1. Periksa Vital sign dan kondisi
2019 paru-paru, atau gas emboli kesehatan pasien
serebral b.d. kurang 2. Sebelum perawatan instruksikan
pengetahuan tentang pada pasien tentang teknik
teknik valsava dan pengosongan telinga, dengan cara
perubahan tekanan udara menelan, mengunyah, menguap
didalam ruangan oksigen modifikasi manuver valsava.
hiperbarik
Tujuan: Setelah dilakukan Intra HBO
asuhan keperawatan 1. Kaji kemampuan pasien
dengan terapi HBO melakukan teknik pengosongan
selama 2 jam, diharapkan telinga saat tekanan dilakukan
tidak terjadi barotrauma dengan valsava.
telinga, sinus gigi, dan 2. Lakukan tindakan keperawatan :
paru-paru, atau gas emboli a. Ingatkan pasien untuk bernapas
serebral dengan dengan normal selama perubahan
Kriteria Hasil: tekanan,
1. Pasien tidak mengeluh b. Beritahukan operator ruang
nyeri pada telinga, sinus multiplace jika pasien tidak dapat
gigi dan paru-paru menyesuaikan persamaan
2. Tidak ditemukan tanda- tekanan.
tanda barotrauma 3. Monitor secara berkelanjutan
berupa: untuk mengetahui tanda-tanda dan
a. Ketidakmampuan gejala barotrauma termasuk:
untuk menyamakan a. Ketidakmampuan untuk
telinga, nyeri telinga, menyamakan telinga, atau sakit
dan telinga berdarah di telinga dan / atau sinus
b. Kecepatan dan (terutama setelah pengobatan
kedalaman napas awal, dan setelah perawatan
meningkat berikutnya)
36

c. Nyeri dada yang b. Peningkatan kecepatan dan /


tajam, napas cepat atau kedalaman pernafasan
dan abnormalitas c. Tanda dan gejala dari
gerak dada. pneumotoraks, termasuk:
1) Tiba-tiba nyeri dada tajam
2) Kesulitan, bernafas cepat
3) Gerakan dada abnormal pada
sisi yang terkena, dan
4) Takikardi dan / atau
kecemasan

Post HBO
1. Kaji kondisi pasien dan pastikan
tidak ada tanda – tanda
Barotrauma.
2. Dokumentasi kegiatan
Senin, 30 08.00 Risiko cidera yang b/d Pre HBO
September WIB pasien transfer in/out dari 1. Bina Hubungan Saling Percaya
2019 ruang chamber, ledakan antara petugas dan Pasien
peralatan, kebakaran, 2. Periksa Vital Sign pasien, dan
dan/atau peralatan kondisi klinis.
dukungan medis 3. Bantu pasien masuk ke ruang
Tujuan: Setelah dilakukan Chamber dengan tepat dan hati –
asuhan keperawatan hati.
dengan terapi HBO 4. Ingatkan barang-barang yang tidak
selama 2 jam, diharapkan boleh dibawa
tidak terjadi cidera 5. Ikuti prosedur pencegahan
Kriteria Hasil: kebakaran sesuai kebijakan yang
1) Pasien keluar chamber ditentukan dan prosedur
dengan kondisi aman pelaksanaan terapi HBO.
2) Tidak terjadi kebakaran
Intra HBO
37

3) Tidak ditemukan cidera 1. Amankan peralatan di dalam ruang


pada tubuh pasien sesuai dengan kebijakan dan
4) Tidak ada barang- prosedur pelaksanaan terapi HBO.
barang kontraindikasi 2. Observasi kondisi pasien selama
TOHB yang terbawa pemberian terapi HBO di dalam
masuk chamber Chamber
3. Bantu pasien memenuhi kebutuhan
selama di dalam chamber dan
posisikan pasien dengan nyaman di
kursi.

Post HBO
1. Bantu pasien keluar ruangan/
chamber
2. Periksa kondisi pasien dan
pastikan tidak ada cedera

3.7 IMPLEMENTASI KEPERAWATAN


Hari / Diagnosa Jam Implementasi
Tanggal
Senin, 30 1,2,3 08.00 Pre HBO
September WIB 1. Membina hubungan saling percaya dengan pasien
2019 2. Melakukan pengkajian pada pasien
3. Melakukan observasi TTV, Tekanan Darah: 110/80
mmHg, Nadi: 88x/menit, RR: 20x/menit.
4. Mengkaji kemampuan klien melakukan teknik valsava
dengan benar
5. Mengingatkan kembali pada pasien tentang barang-
barang yang tidak boleh dibawa kedalam chamber
6. Membantu klien memasuki ruang chamber dan
mengantarkan ke kursi yang telah disediakan
38

09.00
WIB Intra HBO
1. Mengatur dan menginstruksikan klien posisi yang
paling nyaman
2. Mengecek kembali barang-barang yang tak boleh
dibawa masuk ke dalam chamber
3. Mengingatkan kembali untuk melaksanakan valsava
manuver ketika tekanan chamber dinaikkan
4. Membantu memasangkan oksigen masker pada klien
5. Memonitor kondisi pasien saat terapi berlangsung, cek
adanya tanda-tanda barotrauma dan keracunan oksigen
11.00 6. Mengkaji nyeri klien dengan melihat respon non verbal
WIB
Post HBO
1. Membantu pasien keluar chamber
2. Mengevaluasi keluhan pasien setelah melakukan terapi
HBO
3. Mengevaluasi tanda-tanda barotrauma:
Tidak ditemukan adanya nyeri telinga, perdarahan
pada telinga,mimisan
4. Tidak ditemukan peningkatan kecepatan dan
kedalaman napas maupun nyeri ketika bernapas
5. Mengevaluasi gejala dari keracunan oksigen pada
sistem saraf pusat :
a. Mati rasa dan berkedut
b. Telinga berdenging
c. Vertigo
d. Penglihatan kabur
e. Gelisah dan mudah tersinggung
f. Mual
6. Menganjurkan untuk sering berlatih menggerak
gerakkan sisi yang lemah.
39

7. Mengajarkan klien teknik distraksi dan relaksasi


ketika nyeri muncul serta kompres di bagian paha atau
tungkai atas
8. Merapikan dan membersihkan chamber
9. Melakukan asistensi perawatan luka dengan
menggunakan teksik steril pada kaki kiri
10. Mendokumentasikan tindakan keperawatan yang
telah dilakukan pada catatan keperawatan hiperbarik

3.8 EVALUASI KEPERAWATAN


Hari / Diagnosa Jam Evaluasi (SOAP)
Tanggal
Senin, 30 1 11.30 S: Klien mengatakan luka dekubitus masih ada
September WIB O:
2019 1. Tidak ada tanda-tanda kerusakan kulit yang lebih
lus
2. TTV: TD : 130/80 mmHg, N : 88 x/menit, S : 36,5
C, RR : 20 x/menit
A : Masalah belum teratasi
P : Terapi HBO dilanjutkan
Senin, 30 2 11.30 S : klien mengatakan tidak merasakan nyeri pada
September WIB telinganya
2019 O : Klien tidak ditemukan barotrauma
A : Resiko tidak ditemukan
P : Terapi HBO dilanjutkan
Senin, 30 3 11.30 S: Pasien mengatakan tidak mengalami cedera apapun,
September WIB dan pasien tidak membawa barang yang dapat
2019 menimbulkan kebakaran saat terapi HBO
O:
1. Pasien tidak membawa barang yang mudah terbakar
2. Pasien terlihat keluar chamber dengan normal,
tanpa terjadi cidera
A : Resiko tidak ditemukan
P : Terapi HBO dilanjutkan
BAB 4
PENUTUP
4.1 Simpulan
1. Dekubitus adalah kerusakan struktur anatomis dan fungsi kulit normal
akibat dari tekanan dari luar yang berhubungan dengan penonjolan tulang
dan tidak sembuh dengan urutan dan waktu yang biasa, gangguan ini terjadi
pada individu yang berada diatas kursi atau diatas tempat tidur, seringkali
pada inkontinensia, malnutrisi, ataupun individu yang mengalami kesulitan
makan sendiri, serta mengalami gangguan tingkat kesadaran
2. Diagnosa keperawatan yang disusun dari masalah keperawatan pada Tn.I
dengan diagnosa medis dekubitus dengan terapi HBO gangguan integritas
kulit berhubungan dengan tirah baring, resiko barotrauma berhubungan
dengan Terapi HBO pemberian Oksigen 100% dengan tekanan tinggi (2,4
ATA, resiko cedera berhubungan dengan pasien transfer in/out dari
ruangan; ledakan; peralatan
3. Setelah dilakukan tindakan keperawatan dan terapi HBO, masalah utama
pasien yaitu adanya luka dekubitus yang masih belum sembuh pada
pinggang kanan dan kiri.

4.2 Saran
Berdasarkan hasil pengamatan selama praktik profesi di Lakesla Drs.
Med. Rijadi. S., Phys Surabaya, pada kesempatan ini kami akan menyampaikan
beberapa saran untuk perbaikan Lakesla agar kedepannya lebih baik lagi.
Adapun saran – saran tersebut, yakni:

1. Bagi Lakesla Drs. Med. Rijadi. S., Phys Surabaya


Diharapkan adanya pendampingan khusus untuk pasien yang baru
melakukan terapi HBO
2. Bagi Mahasiswa Praktik Profesi Universitas Airlangga
Diharapkan meningkatkan kedisiplinan terutama pada tindakan yang harus
dilakukan selama terapi hiperbarik.

38
41

DAFTAR PUSTAKA

Back Pain & Spine Physicians. 2012. Explaining Spinal Disorders: Cervical
Disc Herniation. Colorado Comprehensive Spine Institute. Colorado.
www.spine-institute.com
Battica, Fransisca B. 2008. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gngguan
Sistem Persarafan. Jakarta: Salemba Medika
Gill Nav B.Sc, DC. 2008. The Causes of Severe Neck Pain Resulting from
Cervical Radiculopathy. www.neckpainsupport.com
LAKESLA. 2009. Ilmu Kesehatan Penyelaman dan Hiperbarik. Surabaya:
Lembaga Kesehatan Kelautan TNI AL.
Smeltzer, Suzanne C, 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner&Suddart Vol 3. Jakarta:EGC
Smeltzer, S.C Bare B. G., Hinkle, J. L. & Cheever, K.H. 2007. Brunner&Suddart’s
Textbook of Medical Surgical Nursing 11th Ed. Philippines: Lippincott
Williams and Wilkinn
Back Pain & Spine Physicians. 2012. Explaining Spinal Disorders: Cervical
Disc Herniation. Colorado Comprehensive Spine Institute. Colorado.
www.spine-institute.com
Gill Nav B.Sc, DC. 2008. The Causes of Severe Neck Pain Resulting from
Cervical Radiculopathy. www.neckpainsupport.com
National Pressure Ulcer Advisory Panel (NPUAP). 2014. Prevention and treatment
of pressure ulcer: quick reference guide