Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH

PERAN DAN FUNGSI KELUARGA MAUPUN ORANG TUA


DALAM PENDIDIKAN INKLUSIF

Disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah pendidikan inklusi

Dosen Pengampu:

Dwi Rosyidatul Kholidah, M.Pd.I

Oleh:

Imroatul Mufidah

Isti Nur Kholifah

PROGRAM PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH

SEKOLAH TINGGI ILMU TARBIYAH AL-FATTAH

SIMAN SEKARAN LAMONGAN

2019
KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami ucapkan atas kehadirat Allah SWT. Tuhan
pencipta alam yang menjadikan bumi dan isinya dengan begitu sempurna. Tuhan
menjadikan setiap apa yang ada di bumi sebagai penjelajahan bagi kaum yan
berfikir. Dan berkat limpahan rahmat dan karunia-nya penulis masih diberi
kesempatan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Pendidikan Inklusi. Adapun
makalah yang sederhana ini membahas tentang “Peran Dan Fungsi Keluarga Dan
Orang Tua”.

Sholawat dan salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi


Muhammad SAW yang telah menuntun kita dari jalan gelap gulita menuju jalan
yang terang benderang yakni agama islam. Makalah ini disusun dengan tujuan
pertama memahami dan mendalami tentang Peran Dan Fungsi Keluarga Dan
Orang Tua. Adapun manfaat makalah ini adalah sebagai wahana pembelajaran
mata kuliah Pendidikan Inklisif agar dapat dipelajari oleh seluruh mahasiswa.

Penulis berharap, walaupun makalah ini masih jauh dari kesempurnaan,


tapi mudah-mudahan isinya bisa bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya,
khususnya pada diri penulis sendiri, dan bisa menambah ilmu pengetahuan bagi
yang membacanya.

Lamongan, 10 oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................ii

DAFTAR ISI.................................................................................................iii

BAB 1 PENDAHULUAN

A...................................................................................Latar Belakang
............................................................................................................1
B.............................................................................Rumusan Masalah
............................................................................................................2
C................................................................................................Tujuan
........................................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A..................................................................Peran dan fungsi keluarga


..............................................................................................................
B................................................................Peran dan fungsi orang tua
..............................................................................................................

BAB III PENUTUP

A........................................................................................Kesimpulan
..........................................................................................................16
B...................................................................................................Saran
..........................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang
Keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak adalah faktor
pendorong dan penentu dalam pengembangan pendidikan inklusif di
seluruh dunia. Mulai dari pengambilan keputusan mengenai penempatan
sekolah, hingga kolaborasi antara pihak sekolah dan orang tua yang
memiliki anak berkebutuhan khusus.
Tulisan ini berfokus pada diskursus Pendidikan inklusif dalam
konteks sekolah inklusif, yakni terkait fungsi dan peran orang tua dalam
proses pendidikan anak pada sekolah inklusif. Tulisan ini diawali dengan
menghadirkan ulasan mengenai konsep umum teori Pendidikan inklusif,
fungsi dan peran orang tua dalam pendidikan inklusif secara umum dan
khusus.
Orang tua merupakan penanggung jawab utama dalam pendidikan
anakanaknya. Dimanapun anak tersebut menerima dan menjalani
pendidikan, baik dilembaga formal, informal maupun non formal orang
tua tetap berperan dalam menentukan masa depan pendidikan anak-
anaknya. Pendidikan di luar keluarga, bukan dalam arti melepaskan
tanggung jawab orang tua dalam pendidikan anak, tetapi hal itu dilakukan
orang tua semata-mata karena keterbatasan ilmu yang dimiliki oleh orang
tua, karena sifat ilmu yang terus berkembang mengikuti perkembangan
zaman, sementara orang tua memiliki keterbatasan pengetahuan.
Disamping itu juga, karena kesibukan orangtua bekerja untuk
memenuhi kebutuhan keluarga, ikut mendorong orang tua untuk meminta
bantuan pihak lain dalam proses pendidikan anak-anaknya. Faktanya,
keterlibatan orang tua dalam pendidikan memberikan dampak yang
signifikan terhadap perkembangan anak, karena pada hakikatnya orang tua
adalah pendidik utama bagi anak, karena anak lebih banyak tumbuh dan
berkembang dalam lingkungan keluarga daripada lingkungan sekolah yang
waktunya sedikit dan sangat terbatas.
Bisa dipahami bagaimana peran orang tua menjadi salah satu faktor
pendukung keberhasilan dan kegagalan anak dalam proses pendidikan,
terlebih lagi orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus, disini
orang tua mempunyai peranan yang sangat signifikan dalam memfasilitasi
dan mendukung proses pendidikan anak mereka.
Oleh karena itu penting kiranya untuk mengetahui fungsi dan peran
orang tua dalam pendidikan inklusif pada konteks peran mereka (orang
tua) di sekolah inklusif. dalam bahasan ini penulis mencoba memaparkan
beberapa fungsi dan peranan orang tua dalam pendidikan inklusif guna
dapat memberikan pemahaman dan wawasan kepada pembaca baik secara
teoritis maupun praktis.
B. Rumusan masalah
Dari latar belakang diatas dapat disimpulkan rumusan masalah
sebagai berikut :
1. Bagaimana peran dan fungsi keluarga dalam pendidikan inklusif?
2. Bagaimana peran dan fungsi orangtua dalam pendidikan inklusif?
C. Tujuan
Dari rumusan masalah diatas dapat disimpulkan rumusan tujuan
sebagai berikut :
1. Mampu mengetahui dan memahami peran dan fungsi keluarga
dalam pendidikan inklusif
2. Mampu mengetahui dan memahami peran dan fungsi orangtua
dalam pendidikan inklusif
BAB II

PEMBAHASAN

A. Peran dan fungsi keluarga


1. Pengertian keluarga
Keluarga berdasarkan asal-usul kata yang dikemukakan oleh Ki
Hajar Dewantara yaitu berasal dari bahasa Jawa yang terbentuk dari
dua kata yaitu kawula dan warga. Didalam bahasa Jawa kuno kawula
berarti hamba dan warga artinya anggota. Secara bebas dapat diartikan
bahwa keluarga adalah anggota hamba atau warga saya. Artinya setiap
anggota dari kawula merasakan sebagai satu kesatuan yang utuh
sebagai bagian dari dirinya dan dirinya juga merupakan bagian dari
warga yang lainnya secara keseluruhan.1
Secara literal keluarga adalah merupakan unit terkecil yang
terdiri dari orang yang berada dalam seisi rumah yang sekurang-
kurangnya terdiri dari suami istri. Adapun pengertian keluarga
menurut para ahli, yaitu sebagai berikut:

a. Duvall dan Logan (1986)


Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan
perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk
menciptakan, memepertahankan budaya dan meningkatkan
perkembangan fisik, mental, emosiaonal, serta sosial dari tiap
anggota keluarga.
b. Departemen Kesehatan RI
Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang
terdirir dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul
dan yinggal di suatu tempat dibawah satu atap dalam keadaan
saling ketergantungan.
c. Spradley dan Allender
Keluarga adalah suatu sistem sosial yang terdiri dari
individu-individu yang bergabung dan berinteraksi secara teratur
antara satu dengan yang lain yang di wujudkan dengan adanya

1 Abu Ahmadi Dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, (Jakarta: PT. Rineka Cipta, 1991), H. 162
saling ketergantungan dan berhubungan untuk mencapai tujuan
bersama.2
d. Mubarak
Keluarga adalah perkumpulan dua atau lebih individu yang
terikat oleh hubungan perkawinan, hubungan darah, ataupun
adopsi, dan setiap anggota keluarga saling berinteraksi satu
dengan lainnya.
e. Barwoko dan Suyanto
Keluarga adalah lembaga sosial dasar darimana semua
lembaga atau pranata sosial lainnya berkembang. Di masyarakat
manapun di dunia keluarga merupupakan kebutuhan manusia
yang universal dan menjadi pusat terpenting dari kegiatan dalam
kehidupan individu.
f. Baylon dan Maglaya
Keluarga adalah kumpulan atau individu yang tergabung
karena hubungan perkawinan ,darah atau adopsi dan hidup dalam
satu rumah yang saling berinteraksi satu sama lain dalam
perannya masing-masing dan menciptakan serta pertahankan
suatu kebudayaan. 3
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu
tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.
Adapun yang dapat dikatakan sebagai ciri-ciri dari keluarga:
a. Suatu kelompok orang yang memiliki nenek moyang yang
sama.
b. Sebuah kelompok kekerabatan yang disatukan oleh
hubungan darah dan perkawinan.
c. Pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak.
d. Pasangan yang tidak menikah tetapi mempunyai anak hasil
hubungan keduanya.
e. Satu orang dengan beberapa anak.
2. Peran dan Fungsi Keluarga
a. Peran keluarga

2 Abuddin Nata, Filsafat Pendidikan Islam (Jakarta: Logos Wacana Ilmu,1997) 113.

3 Anwar Hafid dkk, Konsep Dasar Ilmu Pendidikan, (PT Alfabeta: Bandung, 2013), hal. 44.
Suatu keluarga terdiri dari Ayah, Ibu dan Anak merupakan
keluarga batin atau inti. Dalam keluarga besar masih ada pribadi-
pribadi lain seperti nenek, kakek, paman dll. Oleh karena suatu
hal kehadiran anak dengan berkebutuhan khusus menyebabkan
peran keluarga belum berjalan sebagaimana mestinya. Adapun
peran keluarga bagi anak yang berkebutuhan khusus:
1) Sebagai Pendidik
Keluarga adalah pendidik pertama bagi anak-anaknya
termasuk anak dengan kecacatan atau berkebutuhan khusus.
2) Sebagai Pelindung
Keluarga melindungi anak dari perlakuan dan situasi yang
dapat mengancam keselamatan maupun menimbulkan
penderitaannya.
3) Sebagai pemotivasi (motivator)
Anak yang mempunyai masalah, memerlukan dorongan dan
dukungan dari keluarga. Oleh karenanya, keluarga harus
mampu memberikan motivasi, agar anak memiliki semangat
yang baik untuk berkembang dan menjadi lebih sejahtera.
4) Sebagai Pelayan
Dengan kecacatan pada anak memiliki banyak keterbatasan
dan kelemahan, oleh karenanya keluarga harus memberikan
pelayanan yang baik kepada anak. Pelayanan tersebut
berkaitan dengan upaya memenuhi kebutuhan anak, baik
yang bersifat fisik, psikis maupun sosial.
5) Sebagai Teman tempat Curahan Hati
Keluarga diharapkan menjadi tempat yang nyaman bagi anak
termasuk anak dengan kecacatan dalam mencurahkan
perasaan hatinya atau mengatasi masalahnya tersebut.
b. Fungsi Keluarga
Mengasuh anak membutuhkan beberapa macam
kemampuan yang perlu diperhatikan, hal-hal yang perlu
diperhatikan diantaranya adalah kemampuan orang tua dalam
memberi kasih sayang, rasa disiplin, pemberian hukuman dan
hadiah, pemberian teladan, penanaman sikap dan moral,
perlakuan adil, pembuatan peraturan serta kecakapan mengatur
anak.
Dalam hal ini orang tua dituntut untuk bisa mengerti dan
memahami kondisi fisik serta psikis dari anak berkebutuhan
khusus, sehingga memerlukan ekstra kesabaran dan keahlian
khusus dalam menanganinya dan masalah pembelajaran untuk
anak berkebutuhan khusus sendiri berbeda dengan pembelajaran
anak normal lainnya. Berdasarkan pendekatan budaya, keluarga
mempunyai beberapa fungsi, yaitu:
a.Fungsi biologis
yaitu keluarga merupakan tempat lahirnya anak-anak,
secara biologis anak berasal dari orang tuanya. Mula-mula
dari dua manusia, seorang pria dan wanita yang hidup
bersama dalam ikatan nikah, kemudian berkembang dengan
lahirnya anak-anaknya sebagai generasi penerus atau dengan
kata lain kelanjutan dari identitas keluarga.
b. Fungsi afeksi
yaitu keluarga merupakan tempat terjadinya hubungan
sosial yang penuh dengan kemesraan dan afeksi (penuh kasih
sayang dan rasa aman).4
c.Fungsi sosialisasi
yaitu fungsi keluarga dalam membentuk kepribadian
anak. Melalui interaksi sosial dalam keluarga anak
mempelajari pola-pola tingkah laku, sikap, keyakinan, cita-
cita dan nilai-nilai dalam masyarakat dalam rangka
perkembangan kepribadiannya.
d. Fungsi pendidikan
yaitu keluarga sejak dahulu merupakan institusi
pendidikan. Dahulu keluarga merupakan satu-satunya
institusi untuk mempersiapkan anak agar dapat hidup secara
sosial dan ekonomi di masyarakat. Sekarangpun keluarga
dikenal sebagai lingkungan pendidikan yang pertama dan

4 Munawar, Eksistensi Peran dan Fungsi keluarga, Jurnal Pendidikan Islam, Vol 8 No 1 (Juni
2015), hlm 37
utama dalam mengembangkan dasar kepribadian anak. Selain
itu keluarga/orang tua menurut hasil penelitian psikologi
berfungsi sebagai faktor pemberi pengaruh utama bagi
motivasi belajar anak yang pengaruhnya begitu mendalam
pada setiap langkah perkembangan anak yang dapat bertahan
hingga ke perguruan tinggi.
e.Fungsi rekreasi
yaitu keluarga merupakan tempat atau medan rekreasi
bagi anggotanya untuk memperoleh afeksi, ketenangan dan
kegembiraan.
f. Fungsi keagamaan
yaitu keluarga merupakan pusat pendidikan, upacara dan
ibadah agama bagi para anggotanya, disamping peran yang
dilakukan institusi agama. Fungsi ini penting artinya bagi
penanaman jiwa agama pada si anak; sayangnya sekarang ini
fungsi keagamaan ini mengalami kemunduran akibat
pengaruh sekularisasi. Hal ini sejalan dengan Hadist Nabi
SAW yang mengingatkan para orang tua: “Setiap anak
dilahirkan secara fitrah, orang tuanyalah yang akan
menjadikannya Yahudi, Nasrani dan Majusi”.
g. Fungsi perlindungan
yaitu keluarga berfungsi memelihara, merawat dan
melindungi si anak baik fisik maupun sosialnya. Fungsi ini
oleh keluarga sekarang tidak dilakukan sendiri tetapi banyak
dilakukan oleh badanbadan sosial seperti tempat perawatan
bagi anak-anak cacat tubuh mental, anak yatim piatu, anak-
anak nakal dan perusahaan asuransi. Keluarga diwajibkan
untuk berusaha agar setiap anggotanya dapat terlindung dari
gangguan-gangguan seperti gangguan udara dengan berusaha
menyediakan rumah, gangguan penyakit dengan berusaha
menyediakan obat-obatan dan gangguan bahaya dengan
berusaha menyediakan senjata, pagar atau tembok dan lain-
lain.
h. Fungsi ekonomi
Yaitu keluarga berusaha menyelenggarakan kebutuhan
manusia yang pokok, diantaranya kebutuhan makan dan
minum, kebutuhan pakaian untuk menutup tubuhnya dan
kebutuhan tempat tinggal. Berhubung dengan fungsi
penyelenggaraan kebutuhan pokok ini maka orang tua
diwajibkan untuk berusaha keras agar supaya setiap anggota
keluarga dapat cukup makan dan minum, cukup pakaian serta
tempat tinggal.5
B. Peran dan fungsi orang tua
1. Pengertian orang tua
Mengenai pengertian orang tua dalam kamus besar bahasa
Indonesia “orang tua artinya ayah dan ibu”. 6 Orang tua berperan dalam
pendidikan anak untuk menjadikan Generasi muda berkedudukan.
Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak
mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan.
Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam
keluarga. Pada umumnya pendidikan dalam rumah tangga itu bukan
berpangkal tolak dari kesadaran dan pengertian yang lahir dari
pengetahuan mendidik, melainkan karena secara kodrati suasana dan
strukturnya memberikan kemungkinan alami membangun situasi
pendidikan. Situasi pendidikan itu terwujud berkat adanya pergaulan
dan hubungan pengaruh mempengaruhi secara timbal balik antara orang
tua dan anak.7

5 Abu Ahmadi, Ilmu Sosial Dasar, (Jakarta: Bima Aksara, 1998), hlm. 89.

6 Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai
Pustaka, 1990), hlm.629.

7 Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 2012), hlm. 35
Orang tua atau ibu dan ayah memegang peranan yang penting dan
amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Pendidikan orang tua
terhadap anak-anaknya adalah pendidikan yang didasarkan pada rasa
kasih sayang terhadap anak-anak, dan yang diterimanya dari kodrat.
Orang tua adalah pendidik sejati, pendidik karena kodratnya. Oleh
karena itu, kasih sayang orang tua terhadap anak-anak hendaklah kasih
sayang yang sejati pula. Adapun beberapa pengertian orang tua menurut
kalangan para ahli, yakni:
a. Thamrin Nasution
Orang tua adalah setiap orang yang bertanggung jawab dalam
suatu keluarga atau tugas rumah tangga yang dalam kehidupan
sehari-hari disebut sebagai bapak dan ibu.
b. H. A Hasanuddin
Orang tua adalah ibu bapak yang dikenal mula pertama oleh putra
putrinya. 8
c. Zaldy Munir
Orang tua adalah pria dan wanita yang terikat dalam perkawinan
dan siap sedia untuk memikul tanggung jawab sebagai ayah dan
ibu dari anak-anak yang dilahirkannya.
d. Widnaningsih
orang tua merupakan seorang atau dua orang ayah-ibu yang
bertanggung jawab pada keturunannya semenjak terbentuknya
hasil pembuahan atau zigot baik berupa tubuh maupun sifat-sifat
moral dan spiritual.
e. Friedman
Orang tua adalah orang yang lebih tua atau orang yang dituakan,
terdiri dari ayah dan ibu yang merupakan guru dan contoh utama
untuk anak-anaknya karena orang tua yang menginterpretasikan
tentang dunia dan masyarakat pada anak-anaknya.9
Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa
orang tua adalah ayah dan ibu yang bertanggung jawab atas pendidikan

8 A.H. Hasanuddin, Cakrawala Kuliah Agama, (Surabaya: Al-Ikhlas, 1984), hlm. 155.

9 Abu Ahmadi Dan Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan, ……. hlm. 182
anak dan segala aspek kehidupannya sejak anak masih kecil hingga
mereka dewasa.
2. Peran dan fungsi orang tua
Pendidikan dari orang tua merupakan pondasi dasar bagi
pendidikan anak, karena itu orang tua harus benar-benar berperan dalam
proses tumbuh kembang anak, Dengan kata lain keberhasilan anak
khususnya dalam bidang pendidikan, sangat bergantung pada
pendidikan yang diberikan oleh orang tuanya dalam lingkungan
keluarga maupun ruang lingkup sekolah. Secara umum, disebutkan
bahwa peran orang tua dalam keluarga adalah sebagai pengasuh dan
pendidik, pembimbing motivator, dan sebagai fasilitator.10
Secara umum, Hewett dan Frenk (1968) menyebutkan bahwa
peranan dan fungsi orang tua terhadap anak berkebutuhan khusus
sebagai berikut :
a. Sebagai pendamping utama (as aids), yaitu sebagai pendamping
utama yang membantu tercapainya tujuan layanan penanganan dan
pendidikan anak.
b. Sebagai advokat (as advocates), yang mengerti,
mengusahakan, dan menjaga hak anak dalam kesempatan mendapat
layanan pendidikan sesuai dengan karakteristik khususnya.
c. Sebagai sumber (as resources), menjadi sumber data yang
lengkap dan benar mengenai diri anak dalam usaha intervensi
perilaku anak.
d. Sebagai guru (as teacher), berperan menjadi pendidik bagi
anak dalam kehidupan sehari-hari di luar jam sekolah.
e. Sebagai diagnostisian (diagnosticians) penentu karakteristik
dan jenis kebutuhan khusus dan berkemampuan melakukan
treatmen, terutama di luar jam sekolah.11 Dalam hal ini guru dan
orang tua mempunyai tugas untuk berkolaborasi dalam
memberikan informasi tentang perkembangan, keterampilan,

10 Munirwan Umar, “Peranan Orang Tua Dalam Peningkatan Prestasi Belajar Anak,” Jurnal
Ilmiah Edukasi Vol 1, Nomor 1, (Juni 2015), hlm. 27.

11 Al Darmono, “Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus,” Al Mabsut,
J1urnal Studi Islam dan Sosial, Vol. 9, No. 2, (2015). Hlm. 213
motivasi, rentang perhatiannya, penerimaan sosial, dan
penyesuaian emosional anak, yang dapat diperoleh dengan mengisi
rating scale tentang perilaku anak pada waktu identifikasi dan
assesmen.12
Berdasarkan peranan orang tua terhadap anak berkebutuhan
khusus diatas, maka terlihat bahwa keikutsertaan orang tua dalam
pendidikan anak memang menjadi faktor pendorong dan penentu dalam
pengembangan pendidikan inklusif di seluruh dunia. Di Amerika
Serikat misalnya, jumlah sekolah yang menerapkan pendidikan inklusif
dari tahun ke tahun terus terjadi peningkatan.
Kesuksesan tersebut tidak terlepas dari peran advokasi para orang
tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus,. Peran partisipasi orang
tua dalam pendidikan inklusi dijelaskan lebih lanjut dalam Individuals
with Disabilities Education Act (IDEA) tahun 1990 dan otorisasi
resminya pada tahun 1997. Kebijakan tersebut mengesahkan peran
orang tua sebagai kolaborator dan merekomendasikan agar para
profesional menggabungkan pengetahuan orang tua tentang anak
mereka saat memutuskan masalah pendidikan dan mereka juga harus
memberi tahu orang tua tentang hak mereka.
Demikian juga di Afrika Selatan, para orang tua menjadi advokad
dari gerakan inklusi pada tahun 1990an. Mendukung penempatan anak-
anak mereka yang memiliki disabilitas di sekolah umum. Keterlibatan
orang tua dalam sistem pendidikan Afrika Selatan telah diakui dan telah
diberikan izin dalam mengambil bagian untuk memutuskan pendidikan
anak-anak mereka. Peran advokasi yang dilakukan oleh orang tua
penyandang disabillitas dalam gerakan menuju pendidikan inklusi di
Afrika Selatan adalah suatu terobosan penting dalam sejarah. Hal ini
membuka jalan bagi orang tua untuk terlibat dalam proses pembuatan
keputusan mengenai penempatan sekolah dan program dukungan
belajar untuk anak-anak mereka. Oleh sebab itu sudah banyak kebijakan

12 Yulinda Erma Suriani, “Kesulitan Belajar,” Magistra, No. 73 Th. XXII September 2010, hlm.
33.
yang memberi hak kepada orang tua untuk berbagi dengan para
professional dalam pengambilan keputusan tentang pendidikan anak
mereka yang memiliki kebutuhan khusus.13
Dari gambaran di diatas dapat kita pahami bahwa peran orang tua
dalam pendidikan inklusi adalah :
a. Advokasi bagi pendidikan anak mereka.
b. Sebagai kolaborator dan rekomendator bagi para
profesional untuk memberikan pengetahuan dan pengalaman
tentang cara mereka menangani anak mereka dirumah agar mudah
dalam memutuskan masalah pendidikan bagi anak.
c. Memberikan sebuah pengakuan terhadap eksistensi anak,
dengan memberikan mereka akses untuk bisa hidup didalam
kalangan yang lebih umum.
d. Membantu memberikan keputusan mengenai penempatan
sekolah dan program dukungan belajar untuk anak-anak mereka.
e. Melibatkan diri kedalam proses belajar mengajar anak
secara aktif, guna memberikan dukungan bagi pembelajaran dan
pengembangan yang efektif bagi anak.
Demikian pula, isu pernyataan untuk 'kebutuhan khusus' atau
anak-anak penyandang disabilitas, juga mendorong lebih banyak
kemitraan antara orang tua dan sekolah. Lebih lanjut lagi, Sue Stubss
dalam bukunya Inclusive Education (2002) menjelaskan bahwa
kolaborasi antara orang tua dan guru dalam mengembangkan program
pendidikan inklusif, dianggap sebagai mitra kerja yang setara dan
terbukti memberikan kontribusi yang signifikan untuk anak mereka,
kontribusi tersebut meliputi :
a. Membantu dan memberikan pengetahuan dan pengalaman
kepada guru tentang cara menangani anaknya.
b. Menjadi pembicara dan berbagi pengalaman dalam seminar
yang dilaksanakan guru dan in-service training lainnya.
c. Para orang tua dapat bekerja sama dengan sekolah lain
untuk membantu mengembangkan pendidikan inklusif.

13 Petra Engelbrecht, et al, “Parents’ Experiences,” 459-461.


d. Bekerjasama dan membuat perencanaan bersama dengan
kelompok-kelompok stakeholder utama lainnya: Federasi Nasional
Organisasi Penyandang disabilitas dan organisasi lainnya.
Berdasarkan dari pemaparan diatas dapat kita artikan bahwa peran
orang tua dalam pendidikan inklusif sangatlah mempunyai pengaruh
yang sangat signifikan, karena berangkat dari pemahaman bahwa orang
tua lah yang paling mengerti karakteristik anak mereka, yang mana
catatan-catatan harian orang tua mengenai karakteristik, kebiasaan dan
kebutuhan anak mereka dapat di informasikan kepada pihak sekolah
agar guru dan profesional lainnya dapat memfasilitasi dan membuat
program pendidikan sesuai dengan kebutuhan anak mereka.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas
kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu
tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan. Peran
keluarga adalah sebagai pendidik, sebagai pelindung, sebagai motivator,
sebagai pelayan, dan yang terakhir sebagai teman tempat curhat. Adapun
fungsi dari keluarga adalah fungsi biologis, afeksi, sosialisasi,
pendidikan, rekreasi, keagamaan, perlindungan, ekonomi.
2. orang tua adalah ayah dan ibu yang bertanggung jawab atas
pendidikan anak dan segala aspek kehidupannya sejak anak masih kecil
hingga mereka dewasa. Peran dan fungsi orang tua yaitu sebagai
pengasuh dan pendidik, pembimbing motivator, dan sebagai fasilitator.
B. Saran
Penulis berharap semoga makalah ini mampu menambah wawasan pembaca
dalam memahami peran dan fungsi keluarga dan orang tua dalam
pembelajaran inklusif. Dari pengetahuan yang bertambah itu, kita sebagai
warga dunia bisa menempatkan dan menyesuaikan diri sesuai dengan
perkembangan zaman.
DAFTAR PUSTAKA

A.H. Hasanuddin. 1984. Cakrawala Kuliah Agama. Surabaya: Al-Ikhlas.

Ahmadi, Abu. 1998. Ilmu Sosial Dasar. Jakarta: Bima Aksara.

Ahmadi, Abu Dan Nur Uhbiyati. 1991. Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Rineka
Cipta.
Daradjat, Zakiah. 2012. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Bumi Aksara.
Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan. 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Jakarta: Balai Pustaka.

Hafid, Anwar dkk. 2013. Konsep Dasar Ilmu Pendidikan. PT Alfabeta: Bandung.
Nata, Abuddin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta: Logos Wacana Ilmu.

Yulinda Erma Suriani, “Kesulitan Belajar,” Magistra, No. 73 Th. XXII September
2010.
Al Darmono, “Peran Orang Tua dalam Pendidikan Anak Berkebutuhan Khusus,”
Al Mabsut, J1urnal Studi Islam dan Sosial, Vol. 9, No. 2, (2015).

Munawar, Eksistensi Peran dan Fungsi keluarga, Jurnal Pendidikan Islam, Vol 8
No 1 (Juni 2015)
Munirwan Umar, “Peranan Orang Tua Dalam Peningkatan Prestasi Belajar
Anak,” Jurnal Ilmiah Edukasi Vol 1, Nomor 1, (Juni 2015).
Petra Engelbrecht, et al, “Parents’ Experiences,” 459-461.