Anda di halaman 1dari 5

BAB VI

PEMBAHASAN

Hiperglikemia merupakan kondisi kadar glukosa darah berada di atas nilai

normal, dimana kadar glukosa puasa ≥ 126 mg/dL atau glukosa sewaktu ≥ 200

mg/dL. Bila kondisi ini tidak segera diatasi akan terjadi gangguan metabolisme

lemak dan protein, dan resiko timbulnya gangguan mikrovaskuler atau

makrovaskuler (Gunawan dkk, 2007). Dalam hal mengobati kondisi tersebut

diperlukan obat atau senyawa yang memiliki aktivitas antihiperglikemia.

Pengujian aktivitas antihiperglikemia salah satunya dapat dilakukan dengan tes

toleransi glukosa oral. Pemberian glukosa secara oral dapat memicu kenaikan

insulin plasma, hal ini dipengaruhi oleh adanya hormon–hormon pencernaan

dalam metabolisme glukosa (Syah dkk, 2015).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antihiperglikemia dari

kombinasi ekstrak etanol biji kelici (Caesalpinia crista auct. Amer) dan daun okra

(Abelmoschus esculentus (L.) Moench), yakni dari dua tanaman dengan

mekanisme kerja berbeda dalam menurunkan kadar glukosa darah. Biji kelici

(Caesalpinia crista auct. Amer) memiliki aktivitas antihiperglikemia dari

kandungan flavonoidnya yang dapat meningkatkan sekresi dari insulin

(Brahmachari, 2014), sedangkan daun okra (Abelmoschus esculentus (L.)

Moench) memiliki kandungan α-selulosa dan hemiselulosa yang termasuk dalam

golongan serat atau dietary fiber dimana serat dapat menurunkan kadar kolesterol

total, LDL (Low Density Lipid) dan respon hiperglikemik (Desthia dkk, 2015).

64
65

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah tes toleransi glukosa

oral dimana metode ini dapat digunakan untuk menguji kemampuan hewan uji

dalam menggunakan glukosa setelah diberikan bahan uji, baik yang diberikan obat

metformin, kombinasi ekstrak maupun yang hanya diberikan aquadest.

Penelitian ini menggunakan 12 ekor hewan uji mencit jantan, dengan alasan

kondisi biologisnya stabil bila dibandingkan dengan mencit betina yang kondisi

biologisnya dipengaruhi masa siklus estrus. Disamping keseragaman jenis

kelamin, hewan uji yang digunakan memiliki berat badan antara 20 – 30 gram.

Hal ini bertujuan untuk memperkecil variabilitas biologis antar hewan uji yang

digunakan, sehingga dapat memberikan respon yang relatif lebih seragam

terhadap rangsangan kimia yang digunakan dalam penelitian ini.

Dalam penelitian ini hewan uji mencit dipelihara selama ± 7 hari sebelum

digunakan dengan tujuan hewan uji dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan

sehingga memperkecil kemungkinan hewan uji mengalami stres ketika digunakan

dalam penelitian. Sebelum hewan uji digunakan untuk penelitian hewan uji

dipuasakan terlebih dahulu dengan tetap diberikan air minum dengan tujuan

memperkecil kemungkinan adanya pengaruh makanan dalam pengujian tes

toleransi glukosa oral. Pengukuran kadar glukosa darah dilakukan dengan selang

waktu 30 menit karena obat yang digunakan sebagai kontrol positif dalam

penelitian ini yakni metformin, dimana metformin mencapai kadar puncak dalam

darah setelah 2 jam dengan waktu paruh 2-5 jam, sehingga dalam waktu 30 menit
66

rentang waktu yang digunakan obat sudah mulai bekerja dalam menurunkan kadar

glukosa darah.

Adapun aktivitas antihiperglikemia yang dihasilkan oleh metformin dan

kombinasi ekstrak etanol biji kelici (Caesalpinia crista auct. Amer) dan daun okra

(Abelmoschus esculentus (L.) Moench) akan terlihat dengan adanya penurunan

glukosa darah pada mencit.

Bila dilihat dari hasil penelitian data persentase penurunan kadar glukosa

darah (Tabel 5.5), dimana pemberian metformin dan kombinasi ekstrak biji kelici

(Caesalpinia crista auct. Amer) dan daun okra (Abelmoschus esculentus (L.)

Moench) sama – sama memiliki aktivitas dalam menurunkan kadar glukosa darah,

akan tetapi pemberian metformin memiliki daya lebih efektif dalam menurunkan

kadar glukosa darah dibandingkan pemberian kombinasi ekstrak biji kelici

(Caesalpinia crista auct. Amer) dan daun okra (Abelmoschus esculentus (L.)

Moench). Kemudian bila dilihat dari kurva penurunan kadar glukosa darah

(Gambar 5.2), terlihat bahwa penurunan kadar glukosa darah pada pemberian obat

metformin mengalami penurunan yang paling rendah dibandingkan dengan

pemberian kombinasi ekstrak biji kelici (Caesalpinia crista auct. Amer) dan daun

okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench), maupun yang hanya diberikan

aquadest. Berdasarkan perhitungan AUC (Tabel 5.7) dapat dilihat perbedaan

penurunan kadar glukosa darah, dimana dalam rentang waktu yang digunakan

terlihat penurunan kadar glukosa darah yang baik dengan nilai AUC yang semakin

menurun.
67

Adapun hasil pengolahan data menggunakan statistik program SPSS

(Statistical Package for the Social Sciences) dimana uji Shapiro-Wilk dilakukan

untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak, pada tingkat kepercayaan

95 % (α 0,05), hasil uji menunjukkan bahwa nilai signifikan utuk semua

kelompok yaitu > 0,05 yang artinya data terdistribusi normal (Tabel 5.8).

Selanjutnya uji Leven’s Test dilakukan untuk mengetahui varian dari variabel

penelitian bersifat homogen atau tidak, pada tingkat kepercayaan 95 % (α 0,05),

hasil uji menunjukkan nilai signifikan 0,276 > 0,05 yang artinya data dari variabel

penelitian menunjukkan varian yang homogen (Tabel 5.9). Setelah data

berdistribusi normal dan menunjukkan varian yang homogen, dilanjutkan dengan

uji One Way Anova pada tingkat kepercayaan 95 % (α 0,05), untuk mengetahui

aktivitas antihiperglikemia kombinasi ekstrak etanol biji kelici (Caesalpinia crista

auct. Amer) dan daun okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench). Hasil Anova

menunjukkan nilai signifikansi 0,371 > 0,05 (Tabel 5.10) yang artinya bahwa

tidak adanya perbedaan yang bermakna antar kelompok dalam menurunkan kadar

glukosa darah pada kelompok kontrol positif yang diberikan obat metformin tidak

berbeda nyata dengan kelompok kontrol negatif yang hanya diberikan aquadest

dan kelompok perlakuan yang diberikan kombinasi ekstrak biji kelici

(Caesalpinia crista auct. Amer) dan daun okra (Abelmoschus esculentus (L.)

Moench). Hal ini dapat disebabkan karena mekanisme kerja obat metformin yang

dapat menurunkan kadar glukosa darah yakni dengan meningkatkan sensitivitas

insulin namun tidak menyebabkan efek hipoglikemia karena metformin bekerja


68

dalam keadaan metabolisme tubuh yang normal, sehingga perbedaan penurunan

kadar glukosa darah tidak terlalu nampak karena sesungguhnya hewan uji yang

digunakan nonpatologik diabetes mellitus.

Berbeda dengan hasil penelitian (Shukla dkk, 2011) tentang biji kelici

(Caesalpinia crista auct. Amer) yakni evaluasi efek antidiabetes komparatif

ekstrak etanol Caesalpinia bonducella dan Stevia rebaudiana pada tikus normal

dan tikus yang diinduksi alloxan memiliki efek signifikan dalam menurunkan

kadar glukosa darah dimana nilai signifikansi p < 0,05, sedangkan hasil penelitian

(Desthia dkk, 2015) tentang daun okra (Abelmoschus esculentus (L.) Moench)

yakni aktivitas hipoglikemik ekstrak etanol daun okra (Abelmoschus esculentus

(L.) Moench) pada mencit jantan galur Swiss Webster dengan metode toleransi

glukosa oral menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun okra (Abelmoschus

esculentus (L.) Moench) dapat menurunkan kadar glukosa darah mencit akan

tetapi tidak lebih baik jika dibandingkan dengan obat pembanding metformin

dengan nilai signifikansi p < 0,05.