Anda di halaman 1dari 3

Katanya Malam Memang akan Selalu Dingin.

Gadis itu sedari senja duduk di kursi taman. Sejak taman ini ramai oleh orang-orangan

yang terlarut dalam setia kesibukan masing-masing, hingga satu persatu orang itu

melenggang pergi pergi bersama dengan perginya sang surya. Angin malam mulai berlari

kesana kemari, berhembus membawa udara dingin. Tetapi gadis itu tetap bergeming,

bertahan menanti hal yang tak seorang pun tahu.

Ia menarik napas panjang lalu menghembuskannya, meremas tongkat yang selalu

menemani tangannya, menandakan ia mulai resah.

Seorang pria muda datang menghampirinya, pemuda yang kira-kira setahun lebih tua

dari gadis itu. Pemuda itu duduk di sampingnya.

“pulanglah, dia tidak akan datang.” Kata pemuda itu.

Gadis itu tersentak kaget, sebab tak sedikitpun ia menyadari kedatangan pemuda itu.

“siapa...siapa anda?” tanyanya. Tangannya agak gemetar, desah napasnya terdengar

cepat dan jelas, menandakan ia takut.

“bukan siapa siapa. Aku akan mengantarmu pulang. Tak seharusnya orang sepertimu

keluar sendirian apalagi malam malam begini.”

Gadis itu menolehkan kepalanya sedikit ke arah pemuda itu. Masih dengan tatapan mata

yang kosong, mengendus sedikit, mengulurkan tangannya mencoba meraba pemuda itu tapi

tidak menemukannya.

“Hentikan, Dara.”
“Darta?” tebak gadis bernama Dara itu. Kini ia mulai tenang.

“Bukan.” Sanggah pemuda itu.

“Jangan begitu, meskipun yang ada di mataku hanya kegelapan, aku masih bisa

mengenalimu dari suaramu.”

“Ayo pulang, aku akan mengantarmu ikuti saja suaraku.”

“Tapi aku sudah menunggumu lama, kau bilang ada yang ingin kau katakan padaku.”

Kata Dara tak mau beranjak dari tempat duduknya.

“Darta tidak akan datang, berhenti menunggunya. Ayo, ikuti saja suaraku atau kau akan

tidur di sini malam ini.”

Pemuda itu berdiri. Diikuti Dara yang akhirnya luluh dan berdiri. Dara menggerak-gerakkan

tongkatnya, mencoba merasakan tanah yang akan dijejakinya.

“Apa tidak lebih baik jika aku memegang tanganmu saja?”

“Tidak, kau harus melatih pendengaranmu dan membiasakan diri tanpa bergantung

pada Darta. Tenang saja aku akan menuntunmu dengan suara dan aba-abaku.”

Dara hanya menurut dan mengikut dibelakang suara yang menuntunnya, suara laki-laki

yang sangat dikenalnya.

“Katanya malam memang akan selalu dingin.” Suara dara memecah suasana di tengah

perjalanan menuju tempat tinggalnya.

“Kau kedinginan?” tanya lelaki itu menanggapi perkataan Dara.

Dara tersenyum “Ya, tapi malam memang akan selalu begini, kan. Dingin... Tapi aku akan

selalu baik-baik saja selama aku bersamamu, Darta.”


“Kalau begitu, mulai saat ini kau harus membiasakan diri untuk tetap baik-baik saja

dalam malam yang dingin tanpa Darta.”

Dara hanya diam. Bingung. Tetapi ia menahan diri untuk menanyakan perubahan sifat Darta

ini.

“Sudah sampai.” Kata lelaki itu saat mereka sudah tiba di teras rumah Dara.

“Masuklah, jangan keluar malam lagi. Malam memang akan selalu dingin.”

Dara terdiam senjenak di teras rumahnya, kini ia tak lagi bisa menahan setiap tanya

yang ada dalam benaknya. Baru saja ia membuka mulut untuk bicara, seorang wanita paruh

baya berlari menghampirinya dari dalam rumah. Dengan berlinangan air mata memeluk

Dara.

“Kau dari mana saja, Dara? Darta... Darta!” isak wanita yang adalah ibunya itu. “Dia

kecelakaan dalam perjalanan menemuimu di taman. Tadinya ia ingin melamarmu, tapi

sekarang Darta udah gak ada, dia ninggalin kita.”

Deg..

Apa ini mimpi? Aku baru saja bertemu dia. Darta yang mengantarku pulang barusan. Apa

aku sudah gila? Kurasa memang lebih baik aku gila saja, mana sanggup aku hidup seperti

ini. Laki-laki yang sangat kucintai pergi meninggalkanku.

Untuk pertama kalinya aku mengerti untuk apa aku punya mata jika bukan untuk

melihat. Hari ini kau menyadarkanku bahwa mata ini adalah untuk menangisi kepergianmu,

Darta.