Anda di halaman 1dari 4

Nama : Agus Surya Darma Astawa

NIM : 1704551211
Mata Kuliah: Hukum Persaingan Bisnis
Kelas : C

 Kasus-Kasus dalam Hukum Persaingan Bisnis :


a. Perjanjian yang dilarang
“Kasus Pelanggaran Kartel Produksi Bibit Ayam Pedaging (Broiler) di Indonesia”
Kasus ini bermula dari adanya kesepakatan diantara pelaku usaha pembibitan ayam
pada tanggal 14 September 2015 yang dibuat di Jakarta. Adapun yang menjadi isi atau
substansi dari kesepakatan tersebut adalah pengaturan untuk melakukan
pemotongan/pengafkiran induk ayam pedaging (Parent Stock) oleh pelaku usaha
pembibitan pada tahun 2015 di Indonesia. Awal terciptanya suatu kesepakatan dan
pengaturan afkir dini induk ayam diantara pelaku usaha pembibitan ayam dikarenakan
terjadinya over produksi DOC FS oleh Ormas Perunggasan (PINSAR) dan dan diikuti
adanya laporan telah terjadi over supply DOC FS oleh PT Japfa Comfeed Indonesia, Tbk
pada tahun 2014. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, pelaku usaha baik breeder
maupun peternak melakukan pertemuan dan menyepakati bahwa solusi yang akan
ditempuh adalah dengan mengafkir indukan ayam produktif (afkir dini PS) sebanyak 6
juta ekor.
Namun, setelah adanya kesepakatan tersebut, ditemukan adanya kenaikan harga DOC
FS ditingkat breeder. DOC FS merupakan produk turunan dari DOC PS yang disepakati
untuk dilakukan afikir dini.Pada bulan November sampai dengan Desember 2015, harga
DOC FS mengalami kenaikan Rp. 1.000 s.d Rp. 3.000 per ekor. Sementara Harga live bird
yang merupakan produk turunan DOC FS juga mengalami kenaikan harga sebesar Rp.
5.000 s.d Rp.15.000 per Kg di pasar tradisional pada bulan Desember 2015 dan bulan
Januari 2016.
b. Kegiatan monopoli yang dilarang
Grup 21 Cineplex vs. Monopoly Watch.
Pada 5 Juli 2002, Grup 21 Cineplex juga pernah dilaporkan oleh Monopoly Watch
kepada KPPU. Pasal yang diduga dilanggar adalah Pasal 14, Pasal 15, Pasal 17, Pasal 18,
Pasal 19, Pasal 25, Pasal 26, Pasal 27 UU 5/99. para terlapornya adalah PT Camila
Internusa Film, PT Satrya Perkasa Esthetika Film, dan PT Nusantara Sejahtera Raya.
Berdasarkan pemeriksaan KPPU terhadap ketiga terlapor, hanya PT Nusantara
Sejahtera Raya selaku pemilik beberapa bioskop 21 Cineplex yang dinyatakan terbukti
bersalah melanggar Pasal 27 UU 5/99 yaitu:
“Pelaku usaha dilarang memiliki saham mayoritas pada beberapa perusahaan sejenis
yang melakukan kegiatan usaha dalam bidang yang sama pada pasar bersangkutan
yang sama, atau mendirikan beberapa perusahaan yang memiliki kegiatan usaha
yang sama pada pasar bersangkutan yang sama, apabila kepemilikan tersebut
mengakibatkan:
1. satu pelaku usaha atau satu kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari 50%
(lima puluh persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa tertentu.
2. dua atau tiga pelaku usaha atau kelompok pelaku usaha menguasai lebih dari
75% (tujuh puluh lima persen) pangsa pasar satu jenis barang atau jasa
tertentu.”
Dalam putusan perkara tersebut KPPU memerintahkan PT Nusantara Sejahtera Raya
untuk mengurangi kepemilikan sahamnya di PT Intra Mandiri dan atau di PT Wedu
Mitra atau mengambil tindakan lain sehingga tidak melanggar Pasal 27 UU 5/99
c. penyalahgunaan posisi yang dominan
Kasus Tender Pengadaan Bus Transjakarta
Pengadaan Bus Transjakarta Tahun Anggaran 2013 dilakukan dengan mekanisme
pelelangan umum secara pascakualifikasi metode satu sampul dan evaluasi sistem
gugur. Pengadaan ini dilakukan secara elektronik atau dengan sistem e-procurement
melalui LPSE DKI Jakarta (LPSE). Pengadaan Bus Transjakarta terdiri atas lima paket
pengadaan Bus sedang (medium bus), lima paket pengadaan bus tunggal (single bus),
dan lima paket pengadaan bus gandeng (articulated bus). Panitia Pengadaan atau
Panitia Tender mulai melaksanakan tender untuk peremajaan bus sedang dengan
mengumumkan pertama kalinya pada tanggal 24 Mei 2013, tender untuk bus tunggal
diumumkan pertama kalinya tanggal 29 Mei 2013, dan tender bus gandeng
diumumkan pertama kalinya tanggal 30 Jun 2013.
a. Bus sedang
Dalam pengadaan ini, terdapat lima paket pengadaan bus sedang, Masing masing
paket pengadaan terdiri atas 124 unit bus sehingga total terdapat 620 unit bus yang
dikerjakan. Proses pengadaan terdiri atas Lelang I, Lelang II (Lelng Ulang pertama), dan
lelamg III (lelang ulang kedua). Hasil dari pelelangan tersebut adalah diperolehnya
pemenang untuk pengadaan bus sedang paket I,II,IV, dan V dengan urutan sebagai
berikut: PT Saptaguna Dayaprima, PT Putera Adi Karyajaya, PT Ifani Dewi, dan PT Adi
Tehnik Equipindo. Sementara itu, terdapat satupaket pengadaan, yaitu paket III yang
gagal
b. Bus tunggal
Dalam pengadaan ini, terdapat lima paket pengadaan bus tunggal. Masing masing
paket pengadaan terdiri atas 36 unit bus sehingga total terdapat 180 unit bus yang
dikerjakan. Semua paket pengadaan bus ini berhasil dengan rincian paket I dan V
melalui lelang II, Sedangkan paket II, III, dan IV melalui lelang I. Urutan pemenang
tender dalam pengadaan ini adalah sebagai berikut: PT INKA, PT Ifani Dewi, PT Putera
Adi KaryaJaya, PT Ifani Dewi, dan PT Adi Tehnik Equpindo
c. Bus gandeng
Dalam pengadaan ini, terdapat lima paket pengadaan bus gandeng (articulated bus).
Masing- masing paket pengadaan terdiri atas 30 unit bus sehingga total terdapat 150
unit bus yang dikerjakan. Semua paket pengadaan bus ini berhasil dengan rincian
paket II melalui lelang II sedangkan paket I,III, IV dan V melalui Lelang I. Urutan
pemenang tender dalam pengadaan ini adalah sebagai berikut: PT Korindo Motors, PT
Putriasi Utama Sari, PT Saptaguna Dayaprima, PT Mobilindo Armada Cemerlang, dan
PT Ifani Dewi.
Dalam proses tender yang diadakan oleh Panitia Tender ini, terdapat indikasi atau
dugaan terjadinya praktik persaingan usaha tidak sehat yang dilakukan antar sesama
Peserta Pengadaan /Peserta Tender dan antara Peserta Tender dengan Panitia
Tender karena Kesamaan IP Addres yang digunaka Para Terlapor dalam Melakukan
LogAkse ke Website LPSE.
 Analisis dari penentuan pasar bersangkutan, dalam arti bagaimana cara KPPU menentukan
suatu usaha punya pasar bersangkutan
Dalam kasus Pelanggaran Kartel Produksi Bibit Ayam Pedaging (Broiler) di Indonesia,
inti dari permasalahan tersebut yaitu pengaturan untuk melakukan
pemotongan/pengafkiran induk ayam pedaging (Parent Stock) oleh pelaku usaha
pembibitan pada tahun 2015 di Indonesia. Awal terciptanya suatu kesepakatan dan
pengaturan afkir dini induk ayam diantara pelaku usaha pembibitan ayam dikarenakan
terjadinya over produksi DOC FS oleh Ormas Perunggasan (PINSAR) dan dan diikuti
adanya laporan telah terjadi over supply DOC FS oleh PT Japfa Comfeed Indonesia,
Tbk pada tahun 2014. Menurut KPPU, hal ini menimbulkan adanya kartel sesuai
dengan UU No. 5 Tahun 1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Usaha
Persaingan tidak sehat.
 Pandangan KPPU dalam menentukan jenis perbuatan yang dilarang terhadap kasus
bersangkutan
Penentuan KPPU terkait perbuatan yang melanggar dalam UU No. 5 Tahun 1999 tentang
Larangan praktek Monopoli dan Usaha yang tidak sehat, dapat diketahui dari unsur-unsur
yang ada dalam kasus tersebut. Seperti contoh dalam kasus Pelanggaran Kartel Produksi Bibit
Ayam Pedaging (Broiler) di Indonesia, kasus ini telah melanggar dari perjanjian yang
dilarang berupa kartel dalam Pasal 11 UU No. 5 Tahun 1999. Berdasarkan pemaparan unsur
dari temuan-temuan KPPU berpendapat bahwa unsur-unsur di dalam Pasal 11 UU No.5/1999
mengenai kartel telah terpenuhi. Adapun yang perlu diperhatikan dalam unsur kartel adalah
perjanjian, dimana dalam kasus ini adalah kesepakatan afkir dini. Perjanjian yang dilarang
merupakan perjanjian yang mengikat diantara pelaku usaha dengan pesaingnya yang dapat
mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat. Perjanjian merupakan tindakan yang sangat
rentan dalam pelanggaran persaingan usaha tidak sehat bila dilakukan oleh pelaku usaha
dalam pasar yang sama. Dalam kasus ini, pengaturan pemusnahan bibit ayam
(afkir induk ayam) merupakan solusi atas permasalahan keterpurukan harga ayam. Jika
melihat tujuannya, kesepakatan afkir dini merupakan tujuan yang positif karena
diperuntukkan untuk mengatasi permasalahan harga ayam. Namun, hal ini tidak menutup
kemungkinan adanya tujuan lain yang berdampak negatif dengan mengarah kepada kolusi
sehingga mengakibatkan persaingan usaha tidak sehat.