Anda di halaman 1dari 30

ASUHAN KEPERAWATAN PEMENUHAN KEBUTUHAN

RASA AMAN NYAMAN: NYERI AKUT PADA PASIEN


DENGAN FRAKTUR DI RUANG BEDAH RSUD
BLAMBANGAN-BANYUWANGI
TAHUN 2014

PROPOSAL

OLEH :
RENATA WIDIANTIKA JUNAIDI
14.401.11.063

AKADEMI KESEHATAN RUSTIDA


PROGRAM STUDI D-III KEPERAWATAN
TAHUN 2014
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masalah kesehatan yang dihadapi dewasa ini semakin kompleks

dimana penyakit tidak menular semakin meningkat seperti halnya fraktur.

Fraktur merupakan kondisi terputusnya kontinuitas jaringan tulang yang

umumnya disebabkan trauma langsung maupun tidak langsung, hal ini

diperparah dengan makin pesatnya kemajuan lalu lintas baik dari segi

jumlah pemakai jalan, jumlah pemakai kendaraan, jumlah pemakai jasa

angkutan, bertambahnya jaringan jalan dan kecepatan kendaraan. Dengan

kondisis tersebut maka mayoritas fraktur disebabkan oleh terjadinya

kecelakaan lalu lintas (Sodikin, 2009). Pada fraktur terjadi putusnya

kontinuitas jaringan tulang, serta terjadi spasme otot yang mengakibatkan

nyeri terus-menerus dan bertambah berat (Brunner &Suddarth 2001:

2357).

Menurut WHO (2007) terdapat 300 ribu orang yang mengalami

fraktur, Di Indonesia kejadian fraktur pada periode 2005 sampai dengan

2007 terdapat 34.409 orang akibat kecelakaan lalulintas (Sodikin, 2009).

Angka kejadian kecelakaan yang mengalami fraktur di Provinsi di Jawa

Timur pada tahun 2013 mencapai 600 orang (Dinas Kesehatan Jawa

Timur, 2013). Dari hasil pengambilan data di RSUD Soetomo Surabaya,

didapatkan pada tahun 2012 ada 59 korban, tahun 2013 mengalami

peningkatan sekitar 72 korban terjadinya fraktur (Rikesdas, 2013)


Fraktur pada sebuah tulang, akan berakibat periosteum serta

pembuluh darah dalam korteks, sumsum tulang, dan jaringan lunak

disekitarnya akan mengalami disrupsi. Hematoma akan terbentuk di antara

kedua ujung patahan tulang serta dibawah periosteum, dan akhirnya

jaringan granulasi menggantikan hematoma tersebut. Stimulasi atau

rangsangan yang disebabkan oleh diskontinuitas jaringan akibat trauma

tulang akan memicu pelepasan mediator biokimia (misalnya prostaglandin,

bradikinin, histamine, substansi P). mediator kimia yang dilaporkan akan

mensentisitasi nosiseptor, stimulus akan merambat dari serabut saraf

perifer ke medulla spinalis. Selanjutnya nyeri ditranmisikan dari medulla

spinalis menuju batang otak dan thalamus melalui jaras spinotalamikus

(spinothalamic tract (STT). STT merupakan suatu system diskriminatif

yang membawa informasi mengenai sifat dan lokasi stimulus ke thalamus

selanjutnya sinyal tersebut di teruskan ke korteks sensorik somatic tempat

nyeri dipersepsikan. Impuls yang ditranmisikan melalui STT mengaktifkan

respon otonomi dan limbic yang akrirnya pasien mulai menyadari adanya

nyeri (Wahit, 2008: 204).

Penatalaksanaan nyeri secara non farmakologi yaitu dengan

melakukan teknik relaksasi, yang merupakan tindakan eksternal yang

mempengaruhi respon internal individu terhadap nyeri. Teknik relaksasi

nafas dalam merupakan suatu bentuk asuhan keperawatan, adapun

penatalaksanaan nyeri secara farmakologi pada fraktur tertutup yaitu:

dengan reposisi untuk mengembalikan keposisi semula, dengan bentuk


bidai alamiah yang dirancang untuk gerakan fragmen tulang. Sedangkan

managemen penanganan fraktur terbuka yaitu pemberian analgesic,

ATS ( Anti Tetanus Serum), serta Antibiotic (Smeltzer dan Bare, 2002).
B. Rumusan Masalah

“Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pemenuhan Kebutuhan Rasa

Aman Nyaman : Nyeri Akut PadaPasien Dengan Fraktur Di Ruang Bedah

RSUD Blambangan Tahun 2014?”

C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu menerapkan asuhan keperawatan pemenuhan

kebutuhan rasa aman dan nyaman: nyeri akut padapasien dengan

fraktur di ruang bedah RSUD Blambangan tahun 2014

2. Tujuan Khusus

Mahasiswa mampu :

a. Mengkaji asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman

dan nyaman: nyeri akut padapasien dengan fraktur di ruang bedah

RSUD Blambangan di kota Banyuwangi tahun 2014

b. Merumuskan diagnosa asuhan keperawatan pemenuhan

kebutuhan rasa aman dan nyaman: nyeri akut padapasien dengan

fraktur di ruang bedah RSUD Blambangan di kota Banyuwangi

tahun 2014

c. Merencanakan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa

aman dan nyaman: nyeri akut padapasien dengan fraktur di ruang

bedah RSUD. Blambangan di kota Banyuwangi tahun 2014


d. Melaksanakan asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa

aman dan nyaman: nyeri akut padapasien dengan fraktur di ruang

bedah RSUD. Blambangan di kota Banyuwangi tahun 2014

e. Evaluasi asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan rasa aman

dan nyaman: nyeri akut padapasien dengan fraktur di ruang bedah

RSUD. Blambangan di kota Banyuwangi tahun 2014

f. Mendokumentasika asuhan keperawatan pemenuhan kebutuhan

rasa aman nyaman : nyeri akut pada pasien dengan fraktur di

ruang bedah RSUD. Blambangan di kota Banyuwangi tahun

2014.

D. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada karya tulis ilmiah ini meliputi:

1. Bab 1 pendahuluan : pada bab ini membahas latar belakang, rumusan

masalah, tujuan, sistematika penulisan, pengumpulan data.

2. Bab 2 Tinjauan kepustakaan : pada bab ini membahas konsep medis

fraktur, konsep asuhan keperawatan fraktur, dan kebutuhan dasar

manusia tentang rasa aman dan nyaman (nyeri akut).

3. Bab 3 Tinjauan kasus : pada bab ini membahas tentang asuhan

keperawatan mulai pengkajian, analisa data, diagnosa, intervensi,

implementasi, dan evaluasi.

4. Bab 4 Pembahasan : pada bab ini membahas tentang kesenjangan

antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus mulai pengkajian,

pemeriksaan penunjang, diagnosa, dan intervensi.


5. Bab 5 Penutup : pada bab ini membahas kesimpulan dan saran dari

penulis.

E. Pengumpulan Data

1. Observasi

Yaitu dengan cara mengamati langsung keadaan klien melalui

pemeriksaan fisik secara inspeksi, perkusi, palpasi, dan auskultasi

pada pasien ileus paralitik untuk mendapatkan data objektif.

2. Wawancara

Yaitu pengumpulan data dengan melakukan komunikasi lisan yang

didapat secara langsung dari klien (autonamnesa) dan keluaraga

(alloanamnea) untuk mendapatkan data subjektif.

3. Studi dokumentasi

Yaitu pengumpulakan data yang didapatkan dari buku status

kesehatan klien yaitu meliputi catatan medic yang berhungan dengan

klien.

4. Studi kepustakaan

Dilakukan dengan cara penggunaan buku-buku sumber untuk

mendapatkan landasan teori yang berkaitan dengan kasus yang

dihadapi, sehingga dapat membandingakan teori dengan fakta di lahan

praktik.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Konsep Dasar fraktur

1. Definisi Fraktur

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang, retak atau

patahnya tulang yang utuh, yang biasanya disebabkan oleh

taruma/rudapaksa atau tenaga fisik yang ditentukan jenis dan luasnya

trauma (Lukman & Ningsih, 2013: 26).

2. Klasifikasi Fraktur

Klasifikasi fraktur menurut Lukman & Ningsih (2013:27) :

a. Fraktur tertutup (fraktur simpel) adalah fraktur yang tidak

menyebabkan robeknya kulit atau kulit tidak ditembus oleh fragmen

tulang.

b. fraktur terbuka (fraktur komplikata/kompleks/compound) merupakan

c. fraktur dengan luka pada kulit atau membran mukosa sampai ke

patahan tulang. Konsep penting yang harus diperhatikan pada fraktur

terbuka adalah apakah terjadi kontaminasi oleh lingkungan pada

tempat terjadinya fraktur tersebut.

1) Fraktur terbuka terbagi atas tiga derajat, yaitu :

a. Derajat I :

1. Luka < 1 cm
2. Kerusakan jaringan lunak sedikit, tidak ada tanda

luka remuk

3. Fraktur sederhana, tranversal, oblik, atau kominutif

ringan

4. Kontaminasi minimal

b. Derajat II :

1. laserasi > 1 cm

2. Kerusakan jaringan lunak, tidak luas, flap/avulse

3. Fraktur kominutif sedang

4. Kontaminasi sedang

c. Derajat III :

1. Terjadi kerusakan jaringan lunak yang luas,

meliputi struktur kulit, otot. dan neurovascular

serta kontaminasi derajat tinggi.

d. Fraktur komplit adalah patah pada seluruh garis tengah tulang dan

biasanya mengalami pergeseran (bergeser dari posisi normal).

Sebaliknya frakteur tidak komplit terjadi ketika tulang yang patah

hanya terjadi pada sebagian dari garis tengah tulang.

e. Fraktur transversal adalah fraktur yang garis patahnya tegak lurus

terhadap sumbu panjang tulang.

f. Fraktur oblik adalah fraktur yang garis patahnya membentuk sudut

terhadap tulang.
g. Fraktur spiral adalah fraktur meluas yang mengelilingi tulang (fraktur

memuntir seputar batang tulang).

h. Fisura, disebabkan oleh beban lama atau trauma ringan yang terus-

menerus yang disebut fraktur kelelahan, misalnya diafisis metatarsal.

i. Fraktur impaksi adalah fraktur dimana fragmen tulang terdorong ke

fragmen tulang lainnya.

j. Fraktur kompresi adalah fraktur dimana antara dua tulang mengalami

kompresi pada tulang ketiga yang berada diantaranya (terjadi pada

tulang belakang).

3. Etiologi Fraktur

Menurut Rosyidi (2013: 35-36), etiologi fraktur meliputi:

a. Kekerasan langsung

Kekerasan langsung menyebabkan patah tulang pada titik terjadinya

kekerasan. Fraktur demikian sering bersifat fraktur terbuka dengan

garis patah melintang atau miring.

b. Kekerasan tidak langsung

Kekerasan tidak langsung menyebabkan patah tulang ditempat yang

jauh dari tempat terjadinya kekerasan. Yang patah biasasnya adalah

bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vector kekerasan.

c. Kekerasan akibat tarikan otot

Patah tulang akibat tarikan otot sangat jarang terjadi. Kekuatan dapat

berupa pemuntiran, penekukan, penekukan dan penekanan, kombinasi

dari ketiganya, dan penarikan.


4. Patofisiologi

Fraktur pada sebuah tulang, maka periosteum serta pembuluh darah

dalam korteks, sumsum tulang, dan jaringan lunak disekitarnya akan

mengalami disrupsi. Hematoma akan terbentuk di antara kedua ujung

patahan tulang serta dibawah periosteum, dan akhirnya jaringan granulasi

menggantikan hematoma tersebut.

Kerusakan jaringan tulang memicu respons inflamasi intensif yang

menyebabkan sel-sel dari jaringan lunak di sekitarnya serta dari rongga

sumsum tulang akan menginvai daerah fraktur dan aliran darah ke seluruh

tulang akan mengalami peningkatan. Sel-sel osteoblast didalam

periosteum, endosteum, dan sumsum tulang akan memproduksi osteoid

(tulang muda dari jaringan kolagen yang belum mengalami kalsifikasi,

yang juga disebut kalus). Osteoid ini akan mengeras disepanjang

permukaan luar korpus tulang dan pada kedua ujung patahan tulang. Sel-

sel osteoklas mereabsorpsi material dari tulang yang terbentuk sebelumnya

dan sel-sel osteoblast membangung kembali tulang tersebut. Kemudian

osteoblast mengadakan transformasi menjadi osteosit (sel-sel tulang yang

matur) (Kowalak, 2011:403-404).


Pathway

Trauma langsung trauma tidak langung Kondisi patologis

Fraktur

Diskontinuitas tulang Pergeseran fragmen tulang

Perubahan jaringan sekitar bengkak pada daerah fragmen


lingkungan luar
Peregeseran fragmen
tulan Pembuluh darah/jaringan
lunak

Deformita
Pertumbuhan bakteri

Gangguan Jaringan tulang kronis


Fungsi
Terjadi perdarahan

Gangguan
Mobilitas Nyeri Akut
fisik

Laserasi kulit

Putus vena/
arteri

Kerusakan
integritas
kulit
5. Manifestasi Klinis Fraktur

Menurut Lukman & Ningsih (2013: 30-31), gejala klinis dari

fraktur meliputi:

a. Nyeri terus menerus dan bertambah beratnya sampai frogmen tulang

diimobilisasi.

b. Setelah terjadi fraktur, bagian – bagian tak dapat digunakan dan

cenderung bergerak secara tidak alammiah (gerakan luar biasa)

bukannya tetap rigid seperti normalnya.

c. Pada fraktur panjang, terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya

karena kontraksi otot yang melekat diatas dan dibawah tempat fraktur.

d. Saat ekstemitas dengan tangan. Teraba adanya derik tulang,

dinamakan krepitus yang teraba akibat gesekan antara frogmen satu

yang lainnya.

e. Pembangkakan dan perubahan warna lokal pada kulit terjadi sebagai

akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur

6. Komplikasi

Menurut Kowalak (2011:404-405) komplikasi fraktur yang

mungkin terjadi meliputi:


a. Deformitas dan disfungsi permanen jika tulang yang fraktur tidak bisa

sembuh (nonunion) atau mengalami kesembuhan yang tidak sempurna

(malunion)

b. Nekrosis aseptik (bukan disebabkan oleh infeksi) pada segmen tulang

akibat gangguan sirkulasi

c. Syok hipovolemik akibat kerusakan pembuluh darah (khususnya pada

fraktur femur)

d. Kontraktur otot

e. Sindrom kompartemen

f. Batu ginjal akibat dekalsifikasi yang disebabkan oleh imobilisasi yang

lama

g. Emboli lemak akibat disrupsi sumsum tulang atau aktivasi sistem

saraf simpatik pascatrauma (yang dapat menimbulkan distres

pernapasan atau sistem saraf pusat).


B. Konsep Asuhan Keperawatan Fraktur

1. Pengkajian

a. Identitas Klien

Biasanya Fraktur terjadi pada pria/wanita namun lebih banyak

menyerang pada laki – laki dibawah umur 45 th berhubungan dengan

olahraga, pekerjaan dan lain – lain (pierce, 2006).

b. Keluhan Utama

Pada umumnya keluhan utama pada kasus fraktur adalah rasa nyeri

yang bertambah dan terus menerus. (Rosyidi, 2013:47)

c. Riwayat Penyakit Sekarang

P: pada kondisi nyeri otot, tulang, dan sendi biasanya disebabkan oleh

adanya kerusakan jaringan saraf akibat suatu trauma (Helmi, 2012)

Q: biasanya pasien mengeluh nyeri yang tajam dan menusuk. Rosyidi,

2013)

R: biasanya nyeri dapat menyebar pada keadaan yang menyebabkan

tekanan serabut saraf. (Helmi, 2012)

S: Biasanya pasien mengeluh nyeri yang dirasakan terus menerus.

(Elizabeth J Corwin, 2009)

T: biasanya pasien mengeluh nyeri bertambah berat jika digerakkan

namun hilang dengan beristirahat. (Betz Cecily Lynn, 2009)

d. Riwayat Penyakit Dahulu

Data ini meliputi kondisi kesehatan individu. Data tentang adanya

efek langsung atau tidak langsung terhadap muskuloskoletal, misalnya


riwayat trauma atau kerusakan tulang rawan, riwayat atritis, dan

osteomelitis. (Suratun, 2008)

e. Riwayat Penyakit Keluarga

Penyakit keluarga yang berhubungan dengan penyakit tulang

merupakan salah satu faktor predisposisi terjdinya fraktur, seperti

osteoporosis yang sering terjadi pada beberapa keturunan, dan kanker

tulang yang cenderung diturunkan secara genetic (Rosyidi, 2013:48)

f. Pola-pola Fungsi Kesehatan

Menurut Rosyidi Kholid (2013, 48-51), pola fungsi kesehatan

pada fraktur ada 11, yaitu:

1) Pola Persepsi Dan Tata Laksana Hidup Sehat

Pada kasus fraktur akan timbul ketakutan akan terjadinya

kecacatan pada dirinya dan harus menjalani penatalaksanaan

kesehatan untuk membantu penyembuhan tulangnya selain itu,

pengkajian juga meliputi kebiasaan hidup pasien seperti

penggunaan obat steroid (anti inflamasi) yang dapat

mengganggu metabolisme kalsium, pengkonsumsian alkohol

yang bisa menganggu keseimbangannya (Rosyidi, 2013: 49)

2) Pola Nutrisi dan Metabolisme

Pada pasien fraktur harus mengkonsumsi nutrisi melebihi

kebutuhan sehari-harinya seperti kalsium, zat besi, protein, vit.

C dan lainnya untuk membantu proses penyembuhan tulang

(Rosyidi, 2013: 49).


3) Pola eliminasi

Untuk kasus fraktur cruris tidak ada gangguan pada pola

eliminasi, tapi walaupun begitu perlu juga di kaji frekuensi,

konsistensi, warna serta bau feces (Rosyidi kholid, 2013: 49).

4) Pola Tidur dan Istirahat

Pada umumnya semua pasien fraktur mengalami keterbatasan

gerak/kehilangan fungsi motorik pada bagian yang terkena.

Adanya kesulitan tidur dan istirahat pada pasien fraktur

dikarenakan rasa nyeri (Lukman dan Ningsih, 2013: 36).

5) Pola Aktivitas

Karena timbulnya nyeri, keterbatasan gerak, maka semua

bentuk kegiatan pasien menjadi berkurang dan kebutuhan

pasien perlu banyak dibantu oleh orang lain (Rosyidi, 2013:

49)

6) Pola Hubungan dan Peran

Pada umumnyapasien akan kehilangan peran dalam keluarga

dan dalam masyarakat. Karena pasien harus menjalani rawat

inap (Rosyidi, 2013: 49)

7) Pola Persepsi dan Konsep Diri

Dampak yang timbul pada pasien fraktur yaitu timbul

ketidakutan akan kecacatan akibat frakturnya, rasa cemas, rasa

ketidakmampuan untuk melakukan aktivitas secara optimal,

dan pandangan terhadap dirinya yang salah (Rosyidi, 2013: 49)


8) Pola Sensori dan Kognitif

Pada pasien fraktur daya rabanya berkurang terutama pada

bagian distal fraktur, sedang pada indera yang lain tidak timbul

gangguan. Begitu juga pada kognitifnya tidak mengalami

gangguan. Selain itu, timbul rasa nyeri akbat fraktur (Rosyid,

2013: 50)

9) Pola Reproduksi Seksual

Dampak pada pasien fraktur yaitu, pasien tidak bisa melakukan

hubungan seksual karena harus menjalani rawat inap dan

keterbatasan gerak serta rasa nyeri yang dialami pasien

(Rosyidi, 2013: 50)

10) Pola penanggulangan stress

Pada pasien fraktur timbul rasa cemas tentang keadaan dirinya,

yaitu ketakutan timbul kecacatan pada diri dan fungis tubuhnya

(Rosyidi, 2013: 50)

11) Pola Tata Nilai dan Keyakinan

Untuk pasien fraktur tidak dapat melaksanakan kebutuhan

beribadah dengan baik terutama frekuensi dan konsentrasi. Hal

ini bisa disebabkan karena nyeri (Rosyidi, 2013: 51).


g. Pemeriksaan Fisik

1) Keadaan Umum: baik atau buruknya yang dicatat adalah tanda-

tanda, seperti:

a) Kesadaran penderita: Apatis, sopor, koma, gelisah,

komposmentis tergantung pada keadaan klien.

b) Kesakitan, keadaan penyakit: Akut, kronik, ringan, sedang,

berat dan kasus fraktur biasanya akut.

c) Tanda-tanda vital tidak normal karena ada gangguan baik

fungsi maupun bentuk.

2) Head to toe

a) Kepala

Tidak ada benjolan, simetris, tidak ada nyeri tekan.

b) Leher

Tidak ada gangguan yaitu simetris, tidak ada penonjolan,

reflek menelan ada.

c) Muka

Wajah terlihat menahan sakit, lain-lain tidak ada perubahan

fungsi maupun bentuk. Tidak ada lesi, simetris, tidak

oedema.

d) Mata

Tidak ada gangguan seperti konjungtiva tidak anemis

(kecuali ada perdarahan).


e) Telinga

Tes bisik atau weber masih dalam keadaan normal. Tidak

ada lesi atau nyeri tekan.

f) Hidung

Tidak ada deformitas, tidak ada pernafasan cuping hidung.

g) Mulut dan faring

Tidak ada pembesaran tonsil, gusi tidak tejadi perdarahan,

mukosa mulut tidak pucat.

h) Paru

 Inspeksi: pernafasan meningkat, reguler atau tidaknya

tergantung pada riwayat penyakit klien yang

berhubungan dengan paru.

 Palpasi: pergerakan sama atau simetris, fermitus raba

sama.

 Perkusi: suara ketok sonor, tidak ada redup atau suara

nafas tambahan.

 Auskultasi: suara nafas normal, tidak ada wheezing,

atau suara nafas tambahan lainnya seperti stridor dan

ronci.

i) Jantung

 Inspeksi: Ictus cordis tampak pada ics 4-5 midclavikula

sinistra.
 Palpasi: nadi meningkat, ictus cordis teraba pada ics

4-5 midclavikula sinistra.

 Perkusi: pekak.

 Auskultasi: suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada mur-

mur.

j) Abdomen

 Inspeksi: bentuk datar, simetris, tidak ada hernia.

 Palpasi: turgor baik, tidak ada defands muskuler (nyeri

tekan pada seluruh lapang abdomen), hepar tidak

teraba.

 Perkusi: suara timpani, ada pantulan gelombang cairan.

 Auskultasi: peristaltik usus normal, bising usus ± 20

kali/ menit.

k) Muskuloskeletal

 Inspeksi: warna kemerahan atau kebiruan ataupun

hiperpigmentasi, terjadi pembengkakan, posisi dan

bentuk dari ekstremitas (deformitas)

 Palpasi: perubahan suhu disekitar trauma (hangat),

adanya oedem terutama disekitar persendian, adanya

nyeri tekan serta krepitasi.


h. Diagnosa Keperawatan

1) Nyeri akut b/d agen cedera (biologis, fisik, dan psikologis).

 Definisi: Pengalaman sensori dan emosional yang tidak

menyenangkan yang muncul akibat kerusakan jaringan yang

aktual atau potensial atau digambarkan dalam hal kerusakan

sedemikian rupa, awitan yang tiba-tiba atau lambat dari

intensitas ringan hingga berat dengan akhir yang dapat

diantisipasi atau diprediksi dan berlangsung < 6 bulan.

 Batasan karakteristik: Perubahan selera makan, perubahan

tekanan darah, perubahan frekuensi jantung, perubahan

frekuensi pernafasan, perilaku distraksi (misalnya berjalan

mondar mandir, mencari orang lain dan atau aktivitas lain,

aktivitas yang berulang), mengekspresikan perilaku (misalnya

gelisah, merengek, menangis, waspada, iritabilitas, dan

mendesah), masker wajah (misalnya mata kurang bercahaya,

tampak kacau, gerakan mata berpencar atau tetap pada satu

fokus, dan meringis), sikap melindungi area, fokus menyempit

(misalnya gangguan persepsi nyeri, hambatan proses berfikir,

penurunan interaksi dengan orang dan lingkungan), indikasi

nyeri yang dapat diamati, perubahan posisi untuk menghindari

nyeri, sikap tubuh melindungi, dilatasi pupil, melaporkan nyeri

secara verbal, fokus pada diri sendiri, gangguan tidur.


 Faktor yang berhubungan: agen cedera (misalnya biologis,

fisik, dan psikologis) (Prabowo, 2014: 100-101)

2) Gangguan mobilitas fisik b/d kerusakan rangka muskuloskeletal,

nyeri.

 Definisi: Suatu keterbatasan dalam kemandirian, pergerakan fisik

yang bermanfaat dari tubuh atau satu ekstremtas atau lebih.

 Batasan karakterstik: penurunan waktu reaksi, kesulitan bergerak,

perubahan cara berjalan, tremor yang diinduksi oleh pergerakan,

ketidakstabilan posisi tubuh, melambatnya pergerakan, pergerakan

tak terkoordinasi atau menyentak.

 Faktor yang berhubungan: perubahan metbolisme sel, perkembangan

terhambat, penurunan kekuatan, kendali dan massa otot,

ketidaknyamanan, kaku sendi atau kontraktr, ketidakmauan memulai

pergerakan, nyeri (Wilkison, 2006: 303-304)

3) Keruakan integritas kulit b/d faktor mekanik, perubahan

pigmentasi, perubahan turgor

 Definisi: suatu kondisi seorang individu yang mengalami perubahan

dermis dan/ atau epidermis.

 Batasan karakteristik: gangguan pada permukaan kulit (epidermis),

kerusakan pada lapisan kulit (dermis), invasi dari struktur tubuh.

 Faktor yang berhubungan:

Eksternal (zat kimia, kelembapan, hipotermia, hipertermia, faktor

mekanik misalnya: terpotong, terkena tekanan, dan akibat restrein),

pengobatan, imobilisasi fisik, radiasi.


Internal (perubahn turgor kulit, perubahan pigmentasi, penonjolan

tulang) (Prabowo, 2014: 209)

i. Interveni Keperawatan

1) Nyeri akut b/d agen cedera (biologis, fisik, dan psikologis).

Nursing Outcome Classification (NOC)

Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama …x24 jam,

klien akan:

a) Pain Control

b) Pain Level

c) Pain: Disruptive Effects yang dibuktikan dengan indicator

(1: Berat Sekali, 2: Berat, 3: Sedang, 4: Ringan, 5: Tidak

Ada)

2) Kriteria hasil

a) Mampu mengenali serangan nyeri akut dan melaporkan

faktor penyebab terjadinya nyeri.

b) Melakukan tabulasi gejala setiap saat yang terkait dengan

nyeri untuk menentukan langkah pencegahan serangan

nyeri.

c) Mampu menggunakan langkah nonfarmakologi untuk

mengurangi nyeri dan menggunakan obat-obatan

(analgesik) sesuai dengan anjuran.

d) Melaporkan perubahan tingkat nyeri (skala, intensitas,

awitan, dan karakteristik).


e) Menunjukkan rasa nyaman dengan perbaikan istirahat dan

aktifitas.

f) Tanda-tanda vital dalam rentang normal.

3) Nursing Interventions Classification (NIC)

Pain Management

Aktivitas keperawatan:

a) Lakukan pengkajian secara komprehensif terhadap nyeri,

meliputi lokasi, karakteristik, onset / durasi, frekuensi,

kualitas, intensitas atau tingkat keparahan nyeri dan faktor

pencetus dari nyeri.

b) Observasi respon nonverbal dari rasa ketidaknyamanan,

khususnya ketidakmampuan untuk komunikasi yang efektif.

c) Gunakan komunikasi yang terapeutik untuk mengetahui

pengalaman nyeri dan respon dari nyeri pada klien.

d) Kaji tentang pengetahuan dan kepercayaan klien akan nyeri

yang terjadi.

e) Pertimbangkan budaya klien yang mampu mempengaruhi

respon terhadap nyeri.

f) Tentukan dampak dari nyeri terhadap kualitas hidup (tidur,

nafsu makan, aktifitas, pengetahuan, motivasi, interaksi

sosial, dan lain sebagainya).

g) Kaji tentang faktor pada pasien yang mampu meringankan

atau memperburuk nyeri.


h) Evaluasi pengalaman klien sebelumnya terhadap nyeri dan

mekanisme mengatasinya.

i) Evaluasi dengan klien dan tim kesehatan lainnya untuk

menentukan teknik dalam mengatasi nyeri yang bisa

digunakan.

j) Anjurkan keluarga untuk memberikan dukungan kepada

klien.

k) Catat secara rutin perkembangan dari metoda manajemen

nyeri untuk mengetahui efektifitasnya.

l) Berikan informasi yang lengkap dan benar mengenai nyeri

(penyebab, lamanya, dan tindakan antisipasi yang

dibutuhkan).

m) Berikan suasana lingkungan yang kondusif untuk

mengurangi nyeri (cahaya hangat, terang dan tidak ada

kebisingan).

n) Kurangi faktor yang menjadi pemicu timbulnya nyeri atau

meningkatkan intensitas nyeri.

o) Pilih dan lakukan beberapa langkah (farmakologi,

nonfarmakologi) untuk mengatasi nyeri.

p) Ajarkan tentang teknik manajemen nyeri.

q) Ajarkan penggunaan teknik nonfarmakologi (biofeedback,

hipnotis, relaksasi, imajinasi terbimbing / guidedi imagery,

distraksi, dan lain sebagainya).


r) Berikan analgesik sesuai dengan anjuran dokter.

s) Kolaborasi dengan klien atau profesi kesehatan lainnya

dalam memilih teknik-teknik nonfarmakologi dalam

mengatasi nyeri.

t) Monitor kepuasan klien atas manajemen nyeri yang

dilakukan.

Analgesic Administration

Aktifitas keperawatan:

a) Tentukan lokasi nyeri, karakteristik, kualitas, dan tingkatan

nyeri sebelum mendapatkan terapi.

b) Cek kesesuaian terapi, dosis, dan frekuensi dari pemberian

analgesik sebelum diberikan.

c) Cek mengenai riwayat alergi penggunaan obat.

d) Pilih analgesik atau kombinasi analgesik sesuai dengan

kebutuhan.

e) Tentukan tipe dari analgesik (narkotik, nonarkotik, atau

NSAID) tergantung kebutuhan dari nyeri.

f) Tentukan efektifitas dari analgesik sebelum diberikan.

g) Pilih rute pemberian obat analgesik sesuai dengan kondisi.

h) Monitoring tanda-tanda vital sebelum dan sesudah

pemberian analgesik, khususnya yang bersifat narkotik.

i) Atur pemberian analgesik sesuai dengan dosis, awitan nyeri,

dan kajian fisik klien.


j) Evaluasi efektifitas analgesik dalam menurunkan nyeri dan

efek samping yang ditimbulkan.

k) Dokumentasikan efek dari analgesik secara kontinyu.

l) Evaluasi dan dokumentasikan tingkatan sedasi pada klien

yang mendapatkan analgesik narkotik.


a. Implementasi

Implementasi adalah suatu perencanaan dimasukkan dalam tindakan,

selama fase implementasi ini merupakan fase kerja aktual dari proses

keperawatan. Rangkaian rencana yang telah disusun harus

diwujudkan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan. Pelaksanaan

dapat dilakukan oleh perawat yang bertugas merawat klien tersebut

atau perawat lain dengan cara didelegasikan pada saat pelaksanaan

kegiatan maka perawat harus menyesuaikan rencana yang telah

dibuat sesuai dengan kondisi klien maka validasi kembali tentang

keadaan klien perlu dilakukan sebelumnya. (Basford: 2006)

b. Evaluasi

Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses perawatan untuk

mengukur keberhasilan dari rencana perawatan dalam memenuhi

kebutuhan klien Bila masalah tidak dipecahkan atau timbul masalah

baru, maka perawat harus berusaha untuk mengurangi atau

mengatasi beban masalah dengan meninjau kembali rencana

perawatan dengan menyesuaikan kembali terhadap keadaan masalah

yang ada. (Basford: 2006)


DAFTAR PUSTAKA

Betz, Lynn Cecily. 2009.Buku Saku Keperawatan Pediatri. Jakarta: EGC

Elizabeth J, Corwin. 2009.Buku Saku Patofisiologi, Edisi 3. Jakarta: EGC

Hariana S & Ariani Y. 2007. Respons Adaptasi Klien Dengan Fraktur Ekstremitas
Bawah Selama Masa Rawatan Di Rsup H. Adam Malik Medan Dan Rsu Dr.
Pirngadi Medan.Jurnal Keperawatan Rufaidah Sumatera Utara, Volume 2
Nomor 2.

Helmi, Zairin N. 2012. Buku Ajar Gangguan Muskuloskeletal. Jakarta:


Salemba Medika

Irrawan, Dedy. 2013. http://wordpress.com/2013/04/25/makalah-fraktur/ .


diunduh tanggal 25 Maret 2013, jam 19.00 WIB
Lukman & Nurna Ningsih. 2013. Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan
Gangguan Sistem Muskuloskeletal. Jakarta: Salemba Medika
Muttaqin, Arif,. 2008.Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Sistem
Muskuloskeletal. Jakarta: EGC

Nn. 2011. Fraktur Cruris, http://kepacitan.wordpress.com/fraktur-cruris/. diunduh


tanggal 28 November 2011, jam 08.15 WIB

Perry & Potter. 2005. Buku ajar Fundamental Keperawatan: Konsep, Proses,
dan Praktik. Jakarta: EGC
Pierce & Neil. 2006. At a Glance ilmu Bedah. Surabaya: Erlangga

Rosyidi, Kholid. 2013. Muskuloskeletal. Jakarta: TIM

Suratun, dkk. 2008.Klien Gangguan Sistem Muskuloskeletal: Seri Asuhan


Keperawatan. Jakarta: EGC
Wilkinson J & Ahern NR. 2012. Buku Saku Diagnosis Keperawatan Edisi 9.
Jakarta: EGC