Anda di halaman 1dari 8

Nama : Dimas Syailendra Sumarsono

Nim. : M1D119004

Prodi. : Teknik Lingkungan

1. PERBEDAAN DAN PERSAMAAN AKHLAK ETIKA DAN MORAL


A. Akhlak

Akhlak secara terminologi berarti tingkah laku seseorang yang didorong oleh suatu keinginan secara
sadar untuk melakukan suatuperbuatan yang baik. Akhlak merupakan bentuk jamak dari kata khuluk,
berasal dari bahasa Arab yang berarti perangai, tingkah laku, atau tabiat.

Tiga pakar di bidang akhlak yaitu Ibnu Miskawaih, Al Gazali, dan Ahmad Amin menyatakan bahwa
akhlak adalah perangai yang melekat pada diri seseorang yang dapat memunculkan perbuatan baik
tanpa mempertimbangkan pikiran terlebih dahulu.

Kata akhlak diartikan sebagai suatu tingkah laku, tetapi tingkah laku tersebut harus dilakukan secara
berulang-ulang tidak cukup hanya sekali melakukan perbuatan baik, atau hanya sewaktu-waktu saja.
Seseorang dapat dikatakan berakhlak jika timbul dengan sendirinya didorong oleh motivasi dari
dalam diri dan dilakukan tanpa banyak pertimbangan pemikiran apalagi pertimbangan yang sering
diulang-ulang, sehingga terkesan sebagai keterpaksaan untuk berbuat. Apabila perbuatan tersebut
dilakukan dengan terpaksa bukanlah pencerminan dari akhlak.

Akhlak dibagi menjadi dua yaitu akhlak baik dan akhlak buruk.

a) Akhlak Baik (Al-Hamidah)

1. Jujur (Ash-Shidqu)

2. Berprilaku baik (Husnul Khuluqi)

3. Malu (Al-Haya')

4. Rendah hati (At-Tawadlu')

5. Murah hati (Al-Hilmu)

6. Sabar (Ash-Shobr)

b) Akhlak Buruk (Adz-Dzamimah)

1. Mencuri/mengambil bukan haknya

2. Iri hati

3. Membicarakan kejelekan orang lain (bergosip)

4. Membunuh
5. Segala bentuk tindakan yang tercela dan merugikan orang lain ( mahluk lain)[1]

B. Etika

Etika berasal dari bahasa Yunani kuno. Bentuk tunggal kata 'etika' yaitu ethossedangkan bentuk
jamaknya yaitu ta etha. Ethos mempunyai banyak arti yaitu: tempat tinggal yang biasa, padang
rumput, kandang, kebiasaan/adat, akhlak,watak, perasaan, sikap, cara berpikir. Sedangkan arti ta
etha yaitu adat kebiasaan.

Arti dari bentuk jamak inilah yang melatar-belakangi terbentuknya istilah Etika yang oleh Aristoteles
dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Jadi, secara etimologis (asal usul kata), etika mempunyai
arti yaitu ilmu tentang apa yang biasa dilakukanatau ilmu tentang adat kebiasaan (K.Bertens, 2000).

Biasanya bila kita mengalami kesulitan untuk memahami arti sebuah kata maka kita akan mencari
arti kata tersebut dalam kamus. Tetapi ternyata tidak semua kamus mencantumkan arti dari sebuah
kata secara lengkap. Hal tersebut dapat kita lihat dari perbandingan yang dilakukan oleh K. Bertens
terhadap arti kata 'etika' yang terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama dengan Kamus
Bahasa Indonesia yang baru.

Dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama (Poerwadarminta, sejak 1953 - mengutip dari
Bertens,2000), etika mempunyai arti sebagai : "ilmu pengetahuan tentang asas-asas akhlak (moral)".
Sedangkan kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru (Departemen Pendidikan dan
Kebudayaan, 1988 - mengutip dari Bertens 2000), mempunyai arti :

1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral
(akhlak);

2. Kumpulan asas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak;

3. Nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Dari perbadingan kedua kamus tersebut terlihat bahwa dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama
hanya terdapat satu arti saja yaitu etika sebagai ilmu. Sedangkan Kamus Bahasa Indonesia yang baru
memuat beberapa arti. Kalau kita misalnya sedang membaca sebuah kalimat di berita surat kabar
"Dalam dunia bisnis etika merosot terus" maka kata ‘etika’ di sini bila dikaitkan dengan arti yang
terdapat dalam Kamus Bahasa Indonesia yang lama tersebut tidak cocok karena maksud dari kata
‘etika’ dalam kalimat tersebut bukan etika sebagai ilmu melainkan‘nilai mengenai benar dan salah
yang dianut suatu golongan atau masyarakat’. Jadi arti kata ‘etika’ dalam Kamus Bahasa Indonesia
yang lama tidak lengkap.

K. Bertens berpendapat bahwa arti kata ‘etika’ dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia tersebut dapat
lebih dipertajam dan susunan atau urutannya lebih baik dibalik, karena arti kata ke-3 lebih mendasar
daripada arti kata ke-1. Sehingga arti dan susunannya menjadi seperti berikut :

1. Nilai dan norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam
mengatur tingkah lakunya.

Misalnya, jika orang berbicara tentang etika orang Jawa, etika agama Budha, etika Protestan
dan sebagainya, maka yang dimaksudkan etika di sini bukan etika sebagai ilmu melainkan etika
sebagai sistem nilai. Sistem nilai ini bisaberfungsi dalam hidup manusia perorangan maupun pada
taraf sosial.

2. Kumpulan asas atau nilai moral.

Yang dimaksud di sini adalah kode etik. Contoh : Kode Etik Jurnalistik

3. Ilmu tentang yang baik atau buruk.

Etika baru menjadi ilmu bila kemungkinan-kemungkinan etis (asas-asas dan nilai-nilai tentang yang
dianggap baik dan buruk) yang begitu saja diterima dalam suatu masyarakat dan sering kali tanpa
disadari menjadi bahan refleksi bagi suatu penelitian sistematis dan metodis. Etika di sini sama
artinya dengan filsafat moral.[2]

C. Moral

Kata Moral berasal dari kata latin “mos” yang berarti kebiasaan. Moral berasal dari Bahasa Latin yaitu
Moralitas adalah istilah manusiamenyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang
mempunyai nilai positif. Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak
bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak
yang harus dimiliki oleh manusia.

Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu tanpa moral
manusia tidak bisa melakukan prosessosialisasi. Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai
implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang
sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral
jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan
bermasyarakat secara utuh. Penilaian terhadap moral diukur dari kebudayaan masyarakat setempat.
Moral adalah perbuatan/tingkah laku/ucapan seseorang dalam berinteraksi dengan manusia. apabila
yang dilakukan seseorang itu sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat tersebut dan dapat
diterima serta menyenangkan lingkungan masyarakatnya, maka orang itu dinilai mempunyai moral
yang baik, begitu juga sebaliknya. Moral adalah produk dari budaya dan Agama. Moral juga dapat
diartikan sebagai sikap, perilaku, tindakan, kelakuan yang dilakukan seseorang pada saat mencoba
melakukan sesuatu berdasarkan pengalaman, tafsiran, suara hati, serta nasihat, dll.

Menurut Immanuel Kant, moralitas adalah hal kenyakinan dan sikap batin dan bukan hal sekedar
penyesuaian dengan aturan dari luar, entah itu aturan hukum negara, agama atau adat-istiadat.
Selanjutnya dikatakan bahwa, kriteria mutu moral seseorang adalah hal kesetiaannya pada hatinya
sendiri.Moralitas adalah pelaksanaan kewajiban karena hormat terhadap hukum, sedangkan hukum
itu sendiri tertulis dalam hati manusia. Dengan kata lain, moralitas adalah tekad untuk mengikuti apa
yang dalam hati disadari sebagai kewajiban mutlak.

Adapun pengertian moral dalam kamus filsafat dapat dijabarkan sebagai berikut:

a) Menyangkut kegiatan-kegiatan yang dipandang baik atau buruk, benar atau salah, tepat atau
tidak tepat.

b) Sesuai dengan kaidah-kaidah yang diterima, menyangkut apa yang dianggap benar, baik, adil
dan pantas.
c) Memiliki:

· Kemampuan untuk diarahkan oleh (dipengaruhi oleh) keinsyafan benar atau salah.

· Kemampuan untuk mengarahkan (mempengaruhi) orang lain sesuai dengan kaidah-kaidah


perilaku nilai benar dan salah.

d) Menyangkut cara seseorang bertingkah laku dalam berhubungan dengan orang lain.[3]

2.TAFSIR AYAT TENTANG TEKNIK LINGKUNGAN


A.TAFSIR IBNU KATSIR

Al-A'raf, ayat 52-53

ُ َ‫ظ ُرونَ ِإال ت َأ ْ ِوي َلهُ يَ ْو َم يَأْتِي ت َأ ْ ِويلُهُ يَقُو ُل َّالذِينَ ن‬


ْ ‫سوهُ مِ ْن قَ ْب ُل قَ ْد َجا َء‬
‫ت‬ ُ ‫) ه َْل يَ ْن‬52( َ‫علَى ع ِْل ٍم ُهدًى َو َرحْ َمةً ِلقَ ْو ٍم يُؤْ مِ نُون‬
َ ُ‫ص ْلنَاه‬ ٍ ‫{ولَقَ ْد ِجئْنَا ُه ْم بِ ِكت َا‬
َّ َ‫ب ف‬ َ
53) }( َ‫ض َّل َع ْن ُه ْم َما كَانُوا يَ ْفت َُرون‬ َ ُ‫غي َْر الَّذِي ُكنَّا نَ ْع َم ُل قَ ْد َخس ُِروا أ َ ْنف‬
َ ‫س ُه ْم َو‬ َ ‫شفَعَا َء َفيَ ْش َفعُوا لَنَا أ َ ْو نُ َردُّ فَنَ ْع َم َل‬ ِ ‫س ُل َربِنَا بِ ْال َح‬
ُ ‫ق فَ َه ْل لَنَا مِ ْن‬ ُ ‫ُر‬

Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur'an) kepada mereka yang Kami
telah menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami; menjadi petunjuk dan rahmat bagi orang-orang
yang beriman. Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya) kebenaran Al-Qur'an itu.
Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu, berkatalah orang-orang yang
melupakannya sebelum itu, "Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa yang hak,
maka adakah bagi kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami, atau dapatkah kami
dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?”
Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan
yang mereka ada-adakan.

Allah Subhanahu wa Ta'ala menceritakan tentang alasan mengapa Dia mengutus para rasul kepada
mereka. Hal ini diungkapkan melalui Al-Qur'an yang disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu'alaihi
Wasallam Al-Qur'an itu merupakan kitab yang terinci lagi jelas. Perihalnya sama dengan apa yang
dikatakan dalam firman lainnya, yaitu:

ْ َ‫صل‬
‫ت‬ ْ ‫الر ِكتَابٌ أُحْ ِك َم‬
ِ ُ‫ت آ َياتُهُ ث ُ َّم ف‬

(inilah) suatu kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi serta dijelaskan secara rinci. (Hud: 1),
hingga akhir ayat.

*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala;

}‫علَى ع ِْل ٍم‬


َ ُ‫ص ْلنَاه‬
َّ َ‫{ف‬
yang Kami telah menjelaskannya atas pengetahuan Kami. (Al-A'raf: 52)

Yakni kepada seluruh umat. Dengan kata lain, semua rincian yang ada padanya berdasarkan
pengetahuan Kami. Perihalnya sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain, yaitu firman-Nya:

}ِ‫{أَنزلَهُ بِع ِْلمِ ه‬

Allah menurunkannya dengan sepengetahuan-Nya. (An-Nisa: 166)

Ibnu Jarir mengatakan bahwa ayat ini merupakan jawaban pengertian yang terkandung di dalam ayat
lain, yaitu firman-Nya: Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada
kesempitan di dalam dadamu karenanya. (Al-A'raf: 2), hingga akhir ayat. Yang dimaksudkan adalah
firman-Nya: Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan sebuah Kitab (Al-Qur'an) kepada mereka.
(Al-A'raf: 52), hingga akhir ayat.

Akan tetapi, apa yang dikemukakan oleh Ibnu Jarir ini masih perlu dipertimbangkan kebenarannya.
Karena sesungguhnya jarak pemisah di antara kedua ayat sangat panjang, sedangkan dalil yang
menunjuk kearah itu tidak ada. Tetapi sesungguhnya duduk perkara yang sebenarnya ialah bahwa
setelah Allah menceritakan tentang akibat yang mereka alami (yaitu kerugian di akhirat), maka Allah
mematahkan alasan mereka di dunia, yaitu bahwa Dia telah mengutus para rasul-Nya, juga telah
menurunkan Kitab-Nya. Pengertiannya sama dengan apa yang terkandung di dalam firman Allah
Subhanahu wa Ta'ala:

ُ ‫{و َما ُكنَّا ُمعَ ِذبِينَ َحتَّى نَ ْبعَثَ َر‬


}‫سوال‬ َ

Dan Kami tidak akan mengazab sebelum Kami mengutus seorang rasul. (Al-Isra: 15)

Karena itulah dalam ayat berikutnya disebutkan oleh firman-Nya:

}ُ‫ظ ُرونَ إِال ت َأ ْ ِويلَه‬


ُ ‫{ه َْل يَ ْن‬

Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al-Qur'an itu. (Al-A'raf: 53)

Yaitu apa yang telah dijanjikan kepada mereka, berupa azab, pembalasan, surga, dan neraka.
Demikianlah menurut Mujahid dan lain-lainnya yang bukan hanya seorang. Sedangkan menurut
Imam Malik, makna yang dimaksud dengan takwil dalam ayat ini ialah balasan atau pahalanya.

Ar-Rabi' mengatakan bahwa takwil Al-Qur'an masih terus akan berlanjut hingga hari hisab
(perhitungan amal) selesai, ahli surga telah masuk surga, dan ahli neraka telah masuk neraka. Maka
pada saat itu sempurnalah takwil Al-Qur'an.
*******************

Firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

}ُ‫{يَ ْو َم يَأْتِي تَأ ْ ِويلُه‬

Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al-Qur’an itu. (Al-A'raf: 53)

Yakni pada hari kiamat, menurut pendapat Ibnu Abbas.

ُ ‫{يَقُو ُل الَّذِينَ َن‬


}ُ‫سوهُ مِ ْن قَ ْبل‬

berkatalah orang-orang yang melupakannya sebelum itu. (Al-A'raf: 53)

Maksudnya, orang-orang yang tidak mau beramal untuk menyambut hari kiamat dan mereka dengan
sengaja melupakannya ketika hidup di dunia.

}‫شفَ َعا َء فَ َي ْشفَعُوا َلنَا‬ ِ ‫س ُل َر ِبنَا ِب ْال َح‬


ُ ‫ق فَ َه ْل َلنَا مِ ْن‬ ْ ‫{قَ ْد َجا َء‬
ُ ‫ت ُر‬

"Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami membawa perkara yang hak, maka adakah bagi
kami pemberi syafaat yang akan memberi syafaat bagi kami. (Al-A'raf: 53)

Yakni untuk menyelamatkan kami dari nasib yang menimpa kami sekarang ini.

}ُّ‫{أ َ ْو نُ َرد‬

atau dapatkah kami dikembalikan. (Al-A'raf: 53)

Yaitu ke dalam kehidupan di dunia.

}ُ‫غي َْر الَّذِي ُكنَّا نَ ْع َمل‬


َ ‫{فَنَ ْع َم َل‬

sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan?” (Al-A'raf: 53)

Makna ayat ini sama dengan apa yang disebutkan dalam ayat lain, yaitu melalui firman-Nya:

‫ت َربِنَا َونَ ُكونَ مِ نَ ْال ُمؤْ مِ نِينَ * بَ ْل بَدَا لَ ُه ْم َما كَانُوا يُ ْخفُونَ مِ ْن قَ ْب ُل َولَ ْو ُردُّوا لَعَادُوا ِل َما‬ َ ‫ار فَقَالُوا يَا َل ْيتَنَا نُ َردُّ َوال نُكَذ‬
ِ ‫ِب بِآيَا‬ َ ‫{ولَ ْو ت ََرى إِ ْذ ُوقِفُوا‬
ِ َّ‫علَى الن‬ َ
} َ‫ع ْنهُ َو ِإنَّ ُه ْم لَكَا ِذبُون‬
َ ‫نُ ُه‬
‫وا‬

Dan jika kamu (Muhammad) melihat ketika mereka dihadapkan ke neraka, lalu mereka berkata,
"Kiranya kami dikembalikan (ke dunia) dan tidak mendustakan ayat-ayat Tuhan kami, serta menjadi
orang-orang yang beriman," (tentulah kamu melihat sesuatu peristiwa yang mengharukan). Tetapi
(sebenarnya) telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya.
Sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah

dilarang mengerjakannya Dan sesungguhnya mereka itu adalah pendusta-pendusta belaka. (Al-
An'am: 27-28)
Sedangkan dalam ayat ini disebutkan oleh firman-Nya:

} َ‫ع ْن ُه ْم َما كَانُوا يَ ْفت َُرون‬


َ ‫ض َّل‬ َ ُ‫{قَ ْد َخس ُِروا أ َ ْنف‬
َ ‫س ُه ْم َو‬

Sungguh mereka telah merugikan diri mereka sendiri dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan
yang mereka ada-adakan. (Al-A'raf: 53)

Artinya, mereka merugikan diri mereka sendiri karena pada akhirnya mereka dimasukkan ke dalam
neraka dan mereka kekal di dalamnya.

} َ‫ع ْن ُه ْم َما كَانُوا َي ْفت َُرون‬


َ ‫ض َّل‬
َ ‫{و‬
َ

dan telah lenyaplah dari mereka tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan. (Al-A'raf: 53)

Yakni lenyaplah apa yang dahulu mereka sembah selain Allah; sembah-an-sembahan mereka tidak
dapat memberikan syafaat kepada mereka, tidak dapat menolong mereka, dan tidak dapat
menyelamatkan mereka dari azab yang mereka alami.

B.TAFSIR AL JALALAIL

Allah SWT berfirman:

َ‫ع ٰلى ع ِْل ٍم ُهدًى َّو َرحْ َمةً لِـقَ ْو ٍم يُّؤْ مِ نُ ْون‬
َ ُ‫ص ْل ٰنه‬ ٍ ‫َولَقَ ْد ِجئْ ٰن ُه ْم ِب ِك ٰت‬
َّ َ‫ب ف‬

wa laqod ji`naahum bikitaabin fashsholnaahu 'alaa 'ilmin hudaw wa rohmatal liqoumiy yu`minuun

"(Dan sesungguhnya Kami telah mendatangkan kepada mereka) para penduduk Mekah (sebuah
Kitab) yakni Alquran (yang Kami telah menjelaskannya) telah Kami terangkan melalui berita-
beritanya, janji-janjinya dan ancaman-ancamannya (atas dasar pengetahuan Kami) menjadi hal, yakni
Kami mengetahui tentang apa yang terincikan di dalamnya (menjadi petunjuk) menjadi hal bagi
dhamir ha (dan rahmat bagi orang-orang yang beriman) kepadanya."

(QS. Al-A'raf 7: Ayat 52)

C.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DARI TAFSIR IBNU KATSIR :

 Tafsir ini mempunyai perbandingan Al-quran dan Hadis yang lumayan banyak
sehingga memperluas pengetahuan kita.

 Penjelasan yang disampaikan juga lebih terperinci

 Bagi seseorang memiliki niat baca yang kurang maka tafsir ini tidak begitu diminati
karna terlalu Panjang
D.KELEBIHAN DAN KEKURANGAN DARI TAFSIR AL JALALAIL :

 Tafsir ini mempunyai penjelasan seperti pada terjemahan yang biasanya dan tidak
terlalu Panjang

 Merupakan tafsir yang termasuk ringkas

 Tafsir ini belum memiliki perbandingan atau penambahan penjelasan daripada hadis

 Kurang memuaskan bagi seseorang yang haus akan ilmu karna penjelasan yang
kurang penjabaran nya seperti tafsir ibnu katsir

5. SURAT AR RUM AYAT : 41- 42 MENJAGA KELESTARIAN


LINGKUNGAN

‫الرحيم‬
َّ -ِ‫الرحْ من‬
َّ -ِ‫للا‬-ِ‫بِسْم‬

َِ‫عملُواِلَ َعلَّ ُه ْمِيَ ْرجعُون‬


َ ِ‫ضِالَّذي‬
َ ‫تِأَيْديِالنَّاسِليُذيقَ ُه ْمِبَ ْع‬ َ ‫ِو ْالبَحْ رِب َماِ َك‬
ْ َ‫سب‬ َ ‫سادُِفيِ ْالبَ ِّر‬ ْ ‫ظ َه َر‬
َ َ‫ِالف‬ َ

َِ‫عاقبَةُِالَّذينَ ِم ْنِقَ ْبلُِ َكانَ ِأ َ ْكث َ ُر ُه ْمِ ُم ْشركين‬


َ ِ َ‫ْفِ َكان‬ ُ ‫يِاألرضِفَا ْن‬
َ ‫ظ ُرواِ َكي‬ ْ ُ ‫قُ ْلِس‬
‫يرواِف‬

Artinya :“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan
tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan
mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar). (41)
Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana
kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang
mempersekutukan (Allah)”. (42)