Anda di halaman 1dari 3

Penatalaksanaan

Psoriasis

Jenis pengobatan psoriasis yang tersedia bekerja menekan gejala dan


memperbaiki penyakit. Tujuan pengobatan adalah menurunkan keparahan penyakit
sehingga pasien dapat beraktivitas dalam pekerjaan, kehidupan social dan sejahtera
untuk tetap dalam dalam kondisi kualitas hidup yang baik, tidak memperpendek masa
hidupnya karena efek samping obat. Kebanyakan pasien tidak dapat lepas dari terapi
untuk mempertahankan keadaan remisi.

Prinsip pengobatan yang harus dipegang adalah:

 Sebelum memilih pengobatan harus dipikirkan evaluasi dampak penyakit


terhadap kualitas hidup pasien. Dikategorikan penatalaksanaan yang berhasil
bila ada perbaikan penyakit, mengurangi ketidaknyamanan dan efek samping.
 mengajari pasien agar lebih kritis menilai pengobatan sehingga ia mendapat
informasi sesuai dengan perkembangan penyakit terakhir. Diharapkan pasien
tidak tergantung dokter, dapat mengerti dan mengenal obat dengan baik
termasuk efek sampingnya. Menjelaskan bahwa pengobatan lebih berbahaya
dari penyakitnya sendiri.

Pitriasis Rosea

Pengobatan bersifat simtomati, untuk gatalnya dapat diberikan sedative,


sedangkan sebagai obat topical dapat diberikan bedak asam salisilat yang dibubuhi
mentol 0,5-1%.

Bila terdapat gejala menyerupai flu dan atau kelainan kulit luas, dapat
diberikan asiklovir 5X800 mg per hari selama 1 minggu. Pengobatan ini dapat
mempercepat penyembuhan.
Pada kelainan kulit luas dapat diberikan terapi sinar UVB. UVB dapat
mempercepat penyembuhan karena menghambat fungsi sel langerhans sebagai
penyaji antigen. Pemberian harus hati-hati karena UVB meningkatkan resiko terjadi
hiperpigmentasi pasca-inflamasi.

Dermatitis Atopik

Masalah pada DA sangat kompleks sehingga dalam penatalaksanaannya perlu


dipertimbangkan berbagai factor yang memengaruhi, upaya preventif atau terapi
kausal sesuai etiologi dan sebagian pathogenesis penyakit yang telah diketahui.

 Efektivitas obat sistemik yang aman, bertujuan untuk mengurangi rasa gatal,
reaksi alergik dan inflamasi. Sebagian terapi sistemik dapat diberikan
antihistamin (generasi sedative atau non-sedatif sesuai kebutuhan) dan
kortikosteroid. Pemberian kortikosteroid sistemik bukan merupakan hal yang
rutin digunakan terutama pada kasus yang parah atau rekal sitrans, dengan
memperhatikan efek samping jangka panjang
 Jenis terapi topical, berupa:
1. Kortikosteroid (sebagai anti inflamasi, anti pruritus dan imunosupresif,
dipilih yang aman untuk dipakai dalam jangka panjang). Bahan
vehikulum disesuaikan dengan fase dan kondisi kulit
2. pelembab (digunakan untuk mengatasi gangguan sawar kulit)
3. Obat penghambat kalsineurin (pimekrolimus atau takrolimus)
 Kualitas kehidupan dan tumbuh kembang anak

Dermatitis Seboroik

Pengobatan tidak menyembuhkan secara permanen sehingga terapi dilakukan


berulang saat gejala timbul. Tatalaksana yang dilakukan antra lain:
 sampo yang mengandung obat anti malassezia, misalnya: selenium sulfide,
zinc pirithione, ketokonazol, barbagai sampo yang mengandung ter dan
solusio terbinafine 1%
 untuk menghilangkan skuama tebaldan mengurangi jumlah sebum pada kulit
dapat dilakukan dengan mencuci wajah berulang dengan sabun lunak.
Pertumbuhan jamur dapat dikurangi dengan krim imidazol dan turunannya,
bahan antimikotik di daerah lipatan bila ada gejala.
 Skuama dapat diperlunak dengan krim yang mengandung asam salisilat atau
sulfur
 Pengobatan simtomatik dengan kortikosteroid topical potensi sedang,
immunosupresan topical (takrolimus dan pimekrolimus) terutama untuk
daerah wajah sebagai pengganti kortikosteroid topical.
 Metronidazol topical, siklopiroksolamin, talkasitol, benzoil peroksida dan
salep litium suksinat 5%.
 Pada kasus yang tidak membaik dengan terapi konvensional dapat digunakan
terapi sinar ultraviolet-B (UVB ) atau pemberian itrakonazole 100mg/hari per
oral selam 21 hari.
 Bila tidak membaik dengan semua modalitas terapi, pada dermatitis seboroik
yang luas dapat diberikan prednisolon 30mg/hari untuk respons cepat

Referensi:
Linuwih, Sri., 2018. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia