Anda di halaman 1dari 19

Instrumentasi

II-10
2-4 SKALA-SKALA LOGARITMIK

RASIO-RASIO TENAGA DESIBEL

Rasio sinyal output vs. sinyal input dari sebuah penguat dg rasio
logaritmik dinamakan bel (Alexander Graham Bell):
P2
Persamaan 2-4 bel  log
P1

P1 = tenaga referen P2 = tenaga output.

Dalam praktek lebih disukai satuan desibel (dB), 10 dB = 1 bel


P2
Persamaan 2-5 dB  10 log
P1
Catatan:
 P2/P1 > 1 (rasio desibel positip) penguatan.
dB = 10 log (2watt/1watt) = 3,01 dB
 P2/P1 < 1 (rasio desibel negatip) pelemahan.
dB = 10 log (1watt/2watt) = -3,01 dB
3 dB = 2 : 1 (double power) 6 dB = 4 : 1 9 dB = 8 : 1.
10 dB = 10 : 1
Contoh , atenuasi 23 dB = atenuasi dua 10 dB dan satu 3 dB
=100 kali dan 2 kali = atenuasi 200 : 1.

CONTOH Tenaga input amplifier adalah 1 mW dan tenaga


2-5 output 150 mW. Berapa gain dalam dB?.
SOLUSI dB  10 log
P2 150 mW
P1
 10 log
1 mW
= 21,8 dB

CONTOH Jaringan pasif mempunyai atenuasi 15 dB. Jika


2-6 tenaga input 150 mW berapa tenaga dari jaringan?.
SOLUSI 15 dB  10 log
P2
atau 1,5 dB  log
P2
150 mW 150 mW
P2 = 150 mW x 10-1,5 = 4,74 mW

CONTOH Sebuah antena gain 10 dB dihubungkan dengan


2-7 amplifier gain 14 dB. Kawat transmisi melemahkan
Instrumentasi
II-11
sinyal –3 dB kemudian dihubungkan dengan amplifier
gain 35 dB. Berapa gain seluruh sistem ?.
SOLUSI Gain keseluruhan :
10 dB + 14 dB – 3 dB + 35 dB = 56 dB (gain)
P2 P2
56 dB  10 log atau 5,6 dB  log
P1 P1
P2/P1 = 105.6 = 398.000 kali

dBm level tenaga dalam desibel ketika P1 (referen) = 1 mW.


P2
Persamaan 2-6 dBm  10 log
1 mW

CONTOH Hitung level power sinyal 15 dBm?.


2-8
SOLUSI P2 P2
15 dBm  10 log atau 1,5 dBm  1log maka
1 mW 1 mW

P2/1 mW = 101,5 = 31,6


P2 = 101,5 = 31,6 mW.

volume unit (VU), digunakan dalam penyiaran, referen 1 dBm,


khusus gelombang sinusoidal diukur dalam beban 600 .
P2
Persamaan 2-7 VU  10 log
1 mW

dBW = dB, referens 1 W


dBk = dB, referens 1 kW ,
dBrap = dB, referens 10-16 W (batasan akustik pendengaran)
dBc = dB, referens level karier.

RASIO TEGANGAN DESIBEL


Dari P1 = V12/R1 dan P2 = V22/R2, dan substitusi ke persamaan 2-5
V22 R2
Persamaan 2-8 dB  10 log
V12 R1
Instrumentasi
II-12
R1,R2 = tahanan yang mana P1 dan P2 dibangkitkan.
V1,V2 = voltase melintas resistor R1 dan R2..

Jika R1 = R2, (impedansi input dan output sama) menjadi:


V22 V
Persamaan 2-9 dB  10 log 2=
20 log 2
V1 V1
Contoh: sistem telephon.

Catat: Penguatan voltase dan penguatan power memberikan hasil


sama jika resistensi input dan beban sama.
Umumnya menggunakan persamaan voltase desibel untuk
kasus impedansi yang tidak sama.

CONTOH Sebuah amplifier dengan impedansi input 200 k


2-9 menggerakan impedansi beban 16 . Jika voltase input
100 V dan voltase output 18 V, hitung penguatan power
desibel dan penguatan voltase desibel?.
SOLUSI Power input dan output:
V 2 100 V  2
P  1  1  5 1014 W
R1 200 k
V2 2 18 V  2
P2    20,25 W
R2 16 
Penguatan power, pers 2-5 :
P2  20,25W 
dB  10 log  10 log   146 dB
P1  5  1014 W 

Penguatan voltase, pers 2-9 :


V22  18 V 
dB  10 log 2=
20 log  =105 dB
V1  100 V 

Desibel milivolt (dBmV), direferensi 1 mV dalam 75 


Digunakan khusus untuk mengukur kekuatan sinyal dalam sistem
televisi antene komunitas.
V2
Persamaan 2-10 dBmV = 20 log 1 mV

CONTOH Tentukan level voltase yang melintas sebuah resisten 75


2-10  untuk sinyal +55 dBmV.
Instrumentasi
II-13
SOLUSI 2 V
55 dBmV = 20 log 1 mV
V2 = 1 mV x 102,75 = 562 mV

2-5 PENGRAFIKAN DATA

Grafik : hubungan dua variabel atau lebih.


variabel dependen (merespon) diplot pada sumbu y.
variabel independen (pengontrol) diplot pada sumbu x.

Pedoman membuat grafik linier :


1. Siapkan tabel data berisi daftar susunan dari pasangan data.
2. Amati jangkauan data dan pilih skala setiap sumbu yang
mengijinkan seluruh data untuk menunjukan seluruh grafik.
3. Label harus ditunjukan pada setiap sumbu, termasuk satuan
pengukuran. Juga titel grafik.
4. Semua titik2 data harus ada pada grafik. Jika ada dua kurva
dalam satu set sumbu titik2 data, gunakan simbol berbeda.
5. Data dari phenomena kontinyu, tampilkan dalam kurva smooth
untuk mengindikasikan trend data.

y
GRAFIK LINIER (+y, -x) (+y, +x)
 Kertas grafik linier mempunyai Kuadran II Kuadran I
ruang kejadian garis-garis
pada sumbu x dan y dalam Origin
susunan grid segi empat. -x x
 Kertas empat-kuadran untuk
menggambar nilai-nilai positip
Temperatur (OC)

Kuadran III Kuadran IV


dan negatip variabel-variabel x (-x , -y) (+x, -y)
dan y, Gambar 2-5 dan
Gambar 2-6. -y
220
Gambar 2-5 Kertas grafik empat-kuadran
I(mA)
segi empat
10 200
Karakteristik
5 Zener 180
-VR(V) VF (V)
-10 -5 0 5 10 160
-5
140
-10 0 10 20 30 40
Waktu (min)
(a) Kertas grafik segi empat empat-
(b) kertas grafik linier (kuadran I),
kuadran
skala sumbu-y tidak dimulai dari 0

Gambar 2-6 Contoh-contoh grafik linier


Instrumentasi
II-14

GRAFIK POLAR
Kertas grafik untuk memplot tititk2 yang diberikan dalam koordinat segi
empat (x,y). Data ditulis dalam bentuk polar (M<), Gambar 2-7.
Depan
0o
330o 30o

300o 60o

270o 90o

240o 120o

210o 150o
Belakang
180o
Gambar 2-7 Arah respon mikropon. Tampilan mikropon adalah
"supercardioid", sebagian pengambilan dari belakang.

GRAFIK LOGARITMIK
Skala logaritmik digunakan memintas jangkauan dinamik besar, agar
mempunyai resolusi baik untuk nilai-nilai sangat kecil.
Misal : respon frekuensi sebuah amplifier 20 Hz - >20000 Hz
Kertas grafik semolog: satu sumbu skala logaritmik dan sumbu
lainnya digambar skala linier. Contoh: Gambar 2-8
Plot frekuensi pada kertas semilog disebut Bode plot.
Skala log berulang dalam siklus dekade per sepanjang sumbu x.
Tiga siklus skala menampilkan 3 dekade atau faktor 100 dari satu.
Instrumentasi
II-15

AV (dB)
60

40

20

0
100 1K 10K 100K
frekuensi (Hz)
Gambar
Kertas log-log 2-8 Plot Bode
mempunyai dari suatu
skala respon
log pada frekuensi
kedua amplifier
sumbu vertikal dan
horizontal, digunaan jika jangkauan nilai-nilai kedua variabel
sangat besar. Gambar 2-9.

1M
Impedansi ()

100K Besaran impedans


dari suatu speaker
elektrostatik

10K

1K
100 1K 10K
100K Frekuensi (Hz)
Gambar 2-9 Contoh plot log-log menggunakan kertas log-log 3 x 3

2-6 INTERPRETASI GRAFIK

Penentuan persamaan satu set data dari grafik data empiris,


diperoleh persamaan empiris.
Tujuan menentukan persamaan empiris : menentukan bentuk
persamaan.
Metoda: 1. penentuan slope untuk menghasilkan garis lurus.
2. least square (regresi linier).
Instrumentasi
II-16
GARIS LURUS PADA KERTAS GRAFIK LINIER
Hubungan dasar diantara variabel-variabel garis lurus.
Persamaan 2-11 y  m xb

y = variabel dependen x = variabel independen


m = slope dari garis b = nilai dari perpotongan-y

Jika titik-titik data menunjukan hubungan garis lurus, sebuah garis


digambar mewakili garis lurus terbaik.
Persamaan garis ini dapat ditemukan dengan mengukur slope dan
perpotongan-y.
Slope = y/x konstan diukur diantara dua titik sebarang
CONTOH Transistor efek medan mempunyai set kurva yang
2-11 menunjukan karakteristik voltase-arus. Jika kurva
dikembangkan ke daerah VGS = 0, menghasilkan kurva
garis lurus, seperti Gambar 2-10. Grafik ini
menunjukan arus pengosongan sebagai fungsi
tegangan sumber-pengosongan. Tentukan persamaan
garisnya.
ID (A)

200

Kurva untuk
100 VGS = -2V

0
0 100 200 300
ID (A)

VDS (mV)
200
(a) kurva JFET n-channel ketika VOS = -2V, (perluasan sekitar VDS = 0)

y = 110 A
100

x = 100 mV

0
0 100 200 300
VDS (mV)
m = slope = = 1,1 mS =1,1 x 10-3 Siemens
b = titik tangkap sumbu y = 0

(b) penemuan slope dan menangkap


Gambar 2-10 Perhitungan slope dan titik tangkap sumbu-y
dari sebuah garis lurus
Instrumentasi
II-17

SOLUSI 1
Slope = y/x = 1,1 x 10-3 siemen. siemen = ohm
Titik
tangkap sumbu y = 0.
y  m xb

ID = ( 1,1 x 10-3) VDS


Pada kasus hubungan terbalik, seperti: XC vs. f.
XC 
1 XC = reaktansi kapasitif,  f = frekuensi, HZ
2 f C
C = kapasitansi, F
XC (k)

BC (S)

15 1
600  BC
XC
10 400

5 200

0 0
0 24 6 8 10 0 2 4 6 8 10
f (kHz) f (kHz)
(a) Reaktansi kapasitif sebagai fungsi (b) Suseptansi kapasitif sebagai fungsi
frekuensi untuk kapasitor 0.01 F frekuensi untuk kapasitor 0.01 F

Gambar 2-11 Grafik dari persamaan untuk kapasitor 0,01 F

GARIS LURUS PADA KERTAS GRAFIK SEMILOG


Data yang mencakup jangkauan dinamik besar pada variabel
dependen (y) tetapi tidak dalam variabel independen (x) harus
diplot dengan sumbu y skala log dan sumbu x slaka linier.

Data yang menghasilkan garis lurus ketika sumbu y skala log:


Persamaan y  b 10 mx
2-12

Contoh, Gambar 2-12. Titik tangkap, b = 3,0. Slope, m = 2,0.


Catat:  log y  log y2  log y1 , dan x, = (x2 – x1)
Instrumentasi
II-18
Dari persamaan 1-12 diperoleh y = 3 . 102x.

40 100
y 60
y 2
30
20

logy
20 10
6 1 x
10  log y log 30  log 4,75
2 m 
x 0,5  0,1

1
0
0 0,2 0,4 0,6 0 0,2
0,4 0,6
x x
(a) Plot linear dari y = 10 2x (b) Plot semilog dari y = 3.10 2x
Gambar 2-12 Perbandingan plot linier dan semilog dari pers y = b 10 mx

Pers garis lurus pada kertas semilog bila sumbu x dalam skala log:
Persamaan 2-13 y  m log x  b

Contoh, Gambar 2-13.


Catat:  log x = log x2 – log x1 dan y = y2 – y1 .
Titik tangkap y, b, ditemukan pada grafik pada titik x = 1.
Istilah pertama dari persamaan adalah nol (log 1 = 0) dan titik
tangkap dapat dibaca langsung.

15 m=
15 = -4,0
y y
1
10
10
y
2
5 logx
5 b = 8,0
pada x = 1,0
0 0
0 2 4 6 8 0,1 1 10
x
x
(a) Plot linier y = -4,0 log x + 8,0 (b) Plot semilog y = -4,0 log x + 8,0
Gambar 2-13 Perbandingan plot linier dan semilog dari pers y = m log x + b
Instrumentasi
II-19

CONTOH Data dari kurva bias maju sebuah dioda ditunjukan plot
2-12 pada Gambar 2-14. Tentukan persamaan kurva?.
SOLUSI Model persamaan: y  b . 10 mx
 log y log1,5  10 4  log1,5  10 6 2,0
Slope = m = x

0,52  0,40

0,12
 16,7

1,5  10 6  b 10  16, 7  0, 4 
1,5  10 6
b  3,2  10 13
4,64  10 6
 
y  3,2  10 13 1016,7 x 
10-3
IF (A)

10-4

logy
-5
10

x
10-6
0 0,2 0,4 0,6 0,8
VP (V)
Gambar 2-14 Menemukan persamaan dioda terbias maju

GARIS LURUS PADA KERTAS LOG-LOG


Jika data mencirikan hubungan garis lurus pada kertas log-log:
Persamaan 2-14 y  b xm (fungsi pangkat)

Intersep, b, diperoleh dari grafik pada titik x = 1 (di titik ini y = b).
slope = (log y / log x).
Jika panjang kertas grafik x-siklus = panjang kertas grafik y-siklus
(kasus umum), slope dapat ditemukan melalui pengukuran
dengan penggaris.
Contoh, Gambar 2-15. Intersep, b, ditemukan 2 melalui pembacaan
langsung.
Metoda penemuan slope, m:
 menggunakan rasio (log y / log x), diilustrasikan diantara titik 1
dan 2.
Instrumentasi
II-20
 menggunakan pengukuran langsung dengan penggaris diantara
ttitik 3 dan 4 dan menemukan rasio y/x.
y  2 x2/3

y 100
Slope diukur diantara
80 titik 3 dan 4
40 4
m = 2/3
y
60 2 unit
10 3 3 unit
40 2

4 logy
20 1
logx
0
1
0 20 40 60 80 1 4 10 40 100
x x
(a) Plot linier y = 2 x2/3 (b) Plot log-log y = 2 x2/3

Slope antara titik 1 dan 2, m

Gambar 2-15 Perbandingan plot linier dan log-log dari y = 2 x2/3

Alasan pemilihan kertas logaritmik


 untuk mencakup jangkauan data sangat besar
 untuk menunjukan hubungan garis lurus dalam data

Tabel 2-4 Perbandingan persamaan untuk plot garis lurus pada


tipe kertas berbeda.

PERSAMAN UNTUK
KERTAS
GARIS LURUS
Linier y  m xb
 x  linier
Semilog 
 y  logaritmik
y  b 10 mx

 x  logaritmik
Semilog 
 y  linier
y  m log x  b

Log-log y  b xm

LAJU PERUBAHAN KUANTITAS BERUBAH SECARA KONTINYU


Instrumentasi
II-21
Ketika hubungan sederhana tidak dapat ditemukan, pengukuran slope
pada berbagai titik mungkin dapat berguna.
Contoh: Kurva I-V karakteristik dioda tunnel, Gambar 2-16(a).
Slope mewakili konduktansi g dari alat pada titik tangen:
I
Persamaan 2-15 Slope 
V
g

g = konduktansi, siemens
I (mA)

I (mA)
Slope di A: =10 mS
3 3
Garis
tangen
2 2 y = 1 mA

x = 0,1 V
1 1
A

0 0
0 0,1 0,2 0,3 0 0,1 0,2 0,3
VO (V) VO (V)
(a) kurva I-V untuk dioda tunnel (b) Pengukuran slope pada titik A

Gambar 2-16 Contoh pengukuran slope kurva nonlinier kompleks

Kebalikan dari konduktansi = resistensi terukur pada titik tangen.


1 V
Persamaan 2-16 r
g

I r = resisten, 
Tahanan alat tergantung pada titik yang diukur.
Resistensi tergantung pada nilai variabel independen, disebut
dinamik, atau ac, resistensi.

2-7 PENEMUAN GARIS LURUS TERBAIK

Untuk memperkirakan nilai-nilai titik-titik yang tidak diukur, diperlukan


garis terbaik dari data empiris
Penemuan nilai-nilai kesesuaian (corresponding) x atau y diantara
titik-titik terukur disebut interpolasi.
Penemuan nilai-nilai bersesuaian melebihi titik-titik terukur disebut
ekstrapolasi.
Penemuan garis terbaik dikenal sebagai penemuan garis regresi.
Ketika garis lurus, prosedur ditentukan regresi linier.
Instrumentasi
II-22
Adrien Legendre (Perancis), permulaan abad ke 19: titik-titik data jauh
dari rata2 harus membawa lebih “bobot” .
Metoda pembagian = metoda least square, dimana jumlah kuadrat
deviasi vertikal dari garis adalah diminimumkan (Gambar 2-17).

y (satuan peubah)

40

30

20

10 Deviasi vertikal
satu titik data
0
0 10 20 30 40
x (satuan peubah)
Deviasi
Garis regresidiukur
dapatdari garis regresi
diekspresikan ke titikpersamaan
dengan data dalamgaris
arah lurus
vertikal
yang
telah diberikan sebelumnya:
Gambar 2-17 Contoh peantapan y  m x garis
b untuk set data tersebar
Slope, m dan perpotongan dengan y diperoleh
n  xi y i   xi  y i
Persamaan 2-17 m
n  xi2    xi  2
 y i  m  xi
Persamaan 2-18 b , i berubah dari 1 sampai n
n
m = slope garis regresi n = jumlah titik-titik data
b = titik tangkap sumbu y dari garis xi = nilai x dari titik ke i
regresi yi = nilai y dari titik ke i

Setelah pemecahan garis regresi linier untuk set data, berguna


mengetahui seberapa baik garis cocok dengan data terobservasi.
Nilai kuantitatif untuk mengukur kebaikan dari yang sesuai disebut
koefisien korelasi, R.
n xi yi   xi  yi
R
Persamaan 2-19

n xi2    xi  2 n yi2    yi  2
1/ 2
 
Koefisien korelasi (tidak berdimensi): diantara –1 dan +1.
Nilai negatif garis regresi mempunyai slope negatif;
Nilai positip garis regresi mempunyai slope positip.
Instrumentasi
II-23
Data berkorelasi sempurna koefisien korelasi –1 atau +1.
Data tidak berkorelasi koefisien korelasi 0.

R2 menentukan kebaikan dari kecocokan.


2
R persen variasi dilukiskan oleh garis.

CONTOH Data untuk Gambar 2-17 disusun dalam Tabel 2-5.


2-13 Hitung persamaan untuk garis regresi dan cari koefisien
korelasinya.

TABEL 2-5 Data dari Gambar 2-17


i xi yi
1 5 9
2 6 17
3 12 14
4 14 15
5 27 20
6 20 23
7 24 22
8 28 29
9 35 29
10 38 36
SOLUSI Tabel 2-6 menunjukan data dari tabel 2-5 dengan
informasi statistik diperluas

TABEL 2-6 Data dari Gambar 2-17


i xi yi xi yi xi2 yi2
1 5 9 45 25 81
2 6 17 102 36 289
3 12 14 168 144 196
4 14 15 210 `96 225
5 27 20 340 289 400
6 20 23 460 400 529
7 24 22 528 576 484
8 28 29 812 784 841
9 35 29 1015 1225 841
10 38 36 1368 1444 1296

Dari data Tabel 2-6, diperoleh


n = 10
xiyi = 5048
xi = 199 xi2 = 5119 (xi)2 = 39.601
Instrumentasi
II-24
yi = 214 yi2 = 5182 (yi)2 = 45.796

Substitusi ke dalam Persaman 2-17 dan 2-18


n  xi y i   xi  y i 10 5048  199 214
m = 10 5119    39.601  0,681
n  xi2    xi  2
 y i  m  xi  214   0,681199
b =  7,85
n 10
Karena itu persamaan untuk garis regrasi adalah y = 0,681 x + 7,85

Untuk mendapatkan koefisien korelasi, substitusikan ke dalam


Persamaan 2-19:
n xi yi   xi  yi
R
 n  x2
i 
   xi  2 n yi2    yi  2 
1/ 2

R
10 5048  199 214  0,94
  10 5119   39.601  10 5182  45.796 1 / 2

Nilai positip koefisien korelasi mencirikan slope persamaan positip.


Jika hasilnya dekat 1, berarti berderajat tinggi dari korelasi linier.

RINGKASAN
1. Semua data pengukuran mengandung error eksperimental. Error
berbeda diantara nilai kebenaran atau diterima dan nilai terukur.
2. Angka digit signifikan harus dipelihara atau ditahan untuk data
terukur tergantung pada ketepatan pengukuran.
3. Error: error acak dan error sistematik. Error acak bervariasi oleh
perubahan di atas dan di bawah nilai sebenarnya. Eror sistematik
secara konsisten menyebabkan data terukur lebih tinggi atau lebih
rendah dari nilai sebenarnya.
4. Deviasi standar adalah ukuran statistik dari dispersi set data dari
mean. Deviasi standar kecil, data menggerombol dekat mean.
P2
5. Desibel adalah rasio logaritmik dua power = dB  10 log
P1
6. Grafik adalah representasi piktorial berhubungan diantara variabel
dependen dan variabel independen. Untuk membangun grafik data
harus ditabulasi, skala harus terpilih mencakup jangkauan data,
kedua sumbu diberi label, semua komponen data harus tercakup,
dan kurva halus harus digambar mencirikan kecenderungan data.
7. Tipe-tipe berbeda kertas grafik adalah digunakan menunjukan data.
Ini memcakup linier, semilog, log-log, dan kertas grafik polar.
8. Plot garis lurus pada kertas grafik linier, semilog, atau log-log,
dapat dianalisis untuk menentukan persamaan untuk garis. Garis
kurva dapat dianalisis untuk sloppe instantaneous.
Instrumentasi
II-25
9. Garis lurus terbaik untuk data tersebar dapat ditemukan dengan
teknik yang disebut regresi linier. Koefisien korelasi adalah ukuran
seberapa baik data pantas garis regresi linier.

SOAL-SOAL
1. Terangkan perbedaan diantara istilah akurasi dan presisi.
2. Tentukan angka tampilan signifikan pada setiap angka berikut
(a) 0,0500 (b) 0,0001
(c)100,50 (d) 1,60 x 10-5
(e) 1,05 x 103 (f) 0,00807
(g) 450 (h) 2,914
(i) 10,0
3. Pengukuran 22.000 mempunyai tiga digit signifikan. Tunjukan
bagaimana mencirikan angka ini bagaimana angka gambaran
signifikan
4. Lingkari angka-angka berikut pada tiga digit signifikan.
(a) 1,297 (b) 1,205
(c) 1,0085 (d) 1,55 x 104
(e) 1,894
5. Data dalam Tabel 2-7 mewakili satu set pengukuran dari frekuensi
cutoff dari 25 amplifier berbeda. Kenali data dalam tabel distribusi
frekuensi dengan kelas intervai 1kHz. Kemudian plot data ke
dalam histogram.
6. Hitung standar deviasi data dalam Tabel 2-7.
7. Apakah tipe error (random atau sistematik) yang mungkin dari
permasalahan berikut:
(a) Noise elektrikan yang hadir dengan sinyal yang diinginkan.
(b) Meter analog tidak menunjukan zero ketika tidak ada sinyal
dikanakan.
(c)Pengukuran dilakukan dengan subuah instrumen sebelumnya,
yang telah mempunyai waktu pemanasan (warm-up) yang
dibutuhkan.
(d) Sebuah instrumen digunakan dalam lingkungan yang mana
temperatur lebih tinggi dari jangkauan yang diberikan
pabriknya.
(e) Sinyal A I V diukur pada jangkauan 100 V dari sebuah
instrumen.
(f) Pengukuran dilakukan dengan instrumen uncalibrated.
(g) Sebuah counter elektronik yang menggunakan saluran start
dan stop terpisah untuk mengukur interval waktu mempunyai
Instrumentasi
II-26
kabel delay yang tidak terhitung untuk menghubungkan ke
saluran stop.
8. Sebuah amplifier mempunyai gain 36 dB. Jika sinyal input 0,5 mV,
berapa power sinyal output?.
9. Sebuah amplifier mempunyai power input 50 W dan power
output 1 W. Hitung penguatan power decibel.
10. Jika amplifier dalam soal no. 9 mempunyai impedansi input 1 k
dan impedansi output 50 , Berapa penguatan voltase decibel?.
11. Berapa level power yang diwakili oleh 45 dBm?.
12. Hitung voltase yang melintas kawat 300  pada 20 dBm?.
13. Cari persamaan garis lurus yang ditunjukan Gambar 2-18.
14. Cari persamaan untuk garis yang ditunjukan pada kertas log-log
dalam Gambar 2-19.
15. Apa kriteria untuk menentukan apakah sebuah grup titik-titik data
harus dihubungkan dengan segmen-segmen garis atau dengan
kurva halus?.
16. Apa yang dimaksud kertas log-log 3-by-4 ?.
17. Apa tipe kertas grafik harus dipilih untuk menunjukan bentuk
radiasi antena pentrasmisian?.

GAMBAR 2-18 Gain sebuah amplifier sebagai fungsi variabel


pengaturan tahanan

. .
Instrumentasi
II-27

GAMBAR 2-19 Respon frekuensi dari filter aktif lolos rendah

18. Gambar grafik 3x + 2y = 10 pada kertas grafik linier?.


19. Kebocoran arus untuk rangkaian terintegrasi tertentu meningkat
sebagai fungsi temperatur, seperti ditunjukan Gambar 2-20.
Tentukan persamaan kurvanya.

. .

GAMBAR 2-20 Arus kebocoran sebagai fungsi dari temperatur

20. Sebuah investigasi sebuah JFET (junction field effect transistor)


telah dilakukan yang mana suplai power aliran (V DD) meningkat
Instrumentasi
II-28
selama monitoring arus aliran (ID). Voltase gerbang dihubungkan 0
V. Data ditunjukan seperti berikut. Plot data dan jawab
pertanyaan.
(a) Berapa slope (I/V) pada VDD=5V?.
(b) Berapa slope (I/V) pada VDD=10V?.
(c)Berapa slope (I/V) pada VDD=15V?.

VDD ID VDD ID
1,00 V 1,50 mA 9,00 V 11,8 mA
2,00 V 2,95 mA 10,00 V 11,3 mA
3,00 V 4,20 mA 11,00 V 11,5 mA
4,00 V 5,70 mA 12,00 V 11,8 mA
5,00 V 7,25 mA 13,00 V 11,9 mA
6,00 V 8,20 mA 14,00 V 12,0 mA
7,00 V 9,30 mA 15,00 V 12,0 mA
8,00 V 11,2 mA