Anda di halaman 1dari 12

ASUHAN KEPERAWATAN SEHAT JIWA PRASEKOLAH

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Keperawatan Jiwa I


Dosen Pembimbing : Hana Nafi’ah, MSN.,

Disusun Oleh :

1. Ika Erniati Agustin (17.1327.S)


2. Keswanto (17.1330.S)
3. Nuzzullul Ammah (17.1368.S)
4. Risma Safitri (17.1382.S)
5. Siti Amiroh Khoirunisa (17.1398.S)

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN
MUHAMMADIYAH PEKAJANGAN
PEKALONGAN
2019
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Anak usia pra sekolah merupakan fase perkembangan individu sekitar 3-6 tahun,
ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria dan wanita, dapat
mengatur diri dalam buang air (toilet training) dan mengenal beberapa hal yang dianggap
berbahaya atau mencelakakan dirinya (Yusuf, 2001). Perkembangan adalah perubahan
psikologis sebagai hasil dari proses pematangan fungsi psikis dan fisik pada diri anak yang
ditunjangi oleh faktor lingkungan dan proses belajar dalam peredaran waktu tertentu
menuju dewasa dari lingfkungan yang banyak berpengaruh dalam kehidupan anak menuju
dewasa. Adapula ciri-ciri anak prasekolah dan cara mengembangkan agar anak dapat
berkembang menjadi kompeten.
B. Tujuan
1. Untuk mengetahui tugas-tugas perkembangan prasekolah
2. Mampu menerapkan asuhan keperawatan sehat jiwa pada prasekolah
BAB II

KONSEP TEORI

A. Tugas-Tugas Perkembangan

Perkembangan anak dipengaruhi oleh lingkungan, dimana keadaan normal atau


tidak normal dipengaruhi oleh konflik pribadi individu dan hubungan individu dengan
masyarakatnya. Ada beberapa macam perkembangan umum pada anak usia pra sekolah
adalah :
a. Perkembangan Fisik
Perkembangan fisik merupakan dasar bagi kemajuan perkembangan
berikutnya. Dengan meningkatnya pertumbuhan tubuh, baik menyangkut berat
badan dan tinggi badan, maupun kekuatannya memungkinkan anak dapat lebih
mengembangkan keterampilan fisiknya dan eksplorasi terhadap lingkungannya
dengan tanpa bantuan dari orang tuanya. Perkembangan sistem syaraf pusat
memberikan kesiapan keadaan anak untuk lebih meningkatkan pemahaman dan
penguasa terhadap tubuhnya. Proporsi tubuh anak berubah secara dramatis, tulang
kakinya tumbuh dengan cepat, namun pertumbuhan tengkoraknya tidak secepat
usia sebelumnya. Pertumbuhan tulang-tulangnya semakin besar dan kuat,
pertumbuhan giginya semakin lengkap dan komplit sehingga dia sudah
menyenangi makanan padat. Untuk perkembangan fisik anak sangat diperlukan gizi
yang cukup, baik protein, vitamin dan mineral serta karbohidrat (Yusuf, 2001).
b. Perkembangan Keterampilan
Perkembangan ketrampilan motorik dipelajari anak tergantung sebagian
pada kesiapan kematangan terutama kesempatan yang diberikan untuk mempelajari
dan bimbingan yang diperoleh dalam menguasai keterampilan ini secara cepat dan
efisien. Implikasi perkembangan motorik anak secara optimal memerlukan
lingkungan pendidikan yang kondusif. Oleh sebab itu diperlukan tempat dan
perlengkapan permainan yang memberikan peluang kepada mereka untuk dapat
bergerak secara leluasa (Hurlock, 1999).
Menurut Sudjiningsih (1998), ketrampilan motorik pada anak meliputi :
a. Motorik Halus.
Ketrampilan menulis, menggambar sendiri, mewarnai gambar, menggunakan
gunting, bermain tanah liat atau palm, menyisir rambut, berpakaian sendiri dan
membuat kue-kue.
b. Motorik Kasar.
Diantaranya adalah melompat dan berjalan cepat, memanjat, naik sepeda roda
tiga, berenang, lompat tali, keseimbangan berjalan diatas pagar, sepatu roda dan
menari.
c. Perkembangan Bahasa.
Selama masa pra sekolah anak-anak memiliki kebutuhan dan dorongan yang
kuat untuk belajar berbicara. Hal ini disebabkan dua hal, pertama belajar
berbicara merupakan sarana pokok dalam sosialisasi; kedua, belajar berbicara
merupakan sarana untuk memperoleh kemandirian. Untuk meningkatkan
komunikasi anak-anak harus meningkatkan kemampuan untuk mengerti apa
yang dikatakan orang lain (Hurlock, 1999)
Pada usia pra sekolah kemampuan melakukan gerakan dan kemampuan
berbahasa yang bertujuan semakin meningkat. Anak ingin tahu, bertanya
bermacam-macam, melakukan aktivitas atau tugas untuk mendapatkan rasa
kebiasaan. Dorongan berinisitif disertai perkembangan rasa bersalah dapat
menghambat perkembangan kemajuan anak. Hubungan segi tiga antara ayah,
ibu, anak terbentuk, dimana anak mengalami perasaan sayang, benci, iri hati,
persaingan untuk memiliki satu atau kedua orang tuanya. Peran orang tua
menetapkan identitas anak, melatih integrasi peranan-peranan sosial dan
tanggung jawab sosial (Wong & Whaley, 1995).
d. Perkembangan Emosional
Menurut Walker (1995), beberapa jenis emosi yang berkembang pada anak pra
sekolah :
a. Takut
Pembicaraan, peniruan dan ingatan tentang pengalaman yang kurang
menyenangkan berperan penting dalam menimbulkan rasa takut.
b. Cemas
Kecemasan ini muncul dari situasi yang dikhayalkan, berdasarkan
pengalaman-pengalaman yang diperoleh, baik perlakuan orang tua maupun
buku-buku bacaan. Salah satu perasaan cemas yang timbul pada anak adalah
dimana anak berada pada lingkungan yang asing, yang berbeda dengan
lingkungan tempat tinggalnya.
c. Marah
Penyebab marah yang paling umum adalah pertengkaran mengenai permainan,
tidak tercapainya keinginan dan serangan dari anak lain. Ungkapan marah pada
anak antara lain : menangis, berteriak, menggertak, menendang, melompat-
lompat atau memukul.
d. Cemburu
Anak merasa tidak senang terhadap orang lain yang dipandang telah
mencurahkan kasih sayang kepadanya. Sumber yang dapat menimbulkan rasa
cemburu selalu bersifat situasi sosial dan hubungan dengan orang lain.
e. Gembira
Kondisi yang melahirkan perasaan gembira pada anak, diantaranya
terpenuhinya kebutuhan jasmaniah (makan dan minum), keadaan jasmaniah
yang sehat, diperolehnya kasih sayang, ada kesempatan bergerak (bermain
secara leluasa) dan memiliki mainan yang disenanginya.
f. Kasih Sayang
Anak merasa senang apabila diberi perhatian dan perlindungan terhadap
orang lain, hewan atau benda. Perasaan ini berkembang berdasarkan
pengalaman yang tidak menyenangkan dalam hubungan dengan orang lain,
hewan atau benda. Kasih sayang anak kepada orang tua atau saudaranya
dipengaruhin oleh iklim emosional dalam keluarganya. Apaila orang tua dan
saudaranya menaruh kasih sayang kepada anak, maka diapun akan menaruh
kasih sayang kepada mereka.
g. Ingin Tahu
Anak mempunyai perasaan ingin mengenal, mengetahui segala sesuatu
atau obyek-obyek, baik yang bersifat fisik atau kongkrit.
h. Perkembangan Intelektual
Meningkatnya kemampuan intelektual terutama kemampuan berpikir dan
melihat hubungan-hubungan dengan meningkatnya kemampuan untuk
menjelajah lingkungan karena bertambah besarnya kemandirian dan
mengendalikan motorik serta meningkatnya kemampuan bertanya dengan
menggunakan kata-kata yang dapat dimengerti orang lain. Maka pengertian
anak akan orang lain, benda dan situasi meningkat dengan pesat. Anak mulai
memperhatikan hal-hal yang kecil yng tadinya tidak diperhatikan. Dengan
demikian anak tidak lagi bingung kalau menghadapi benda-benda, situasi atau
orang-orang yang memiliki unsur-unsur yang sama (Hurlock, 1999).
i. Perkembangan Sosial
Pada usia pra sekolah, perkembangan sosial anak sudah tampak jelas,
karena mereka sudah mulai aktif berhubungan dengan teman sebayanya.
Tanda-Tanda Perkembangan Sosial Antara Lain :
a. Anak mulai mengetahui aturan-aturan, baik di lingkungan keluarga maupun
dalam lingkungan bermain.
b. Sedikit demi sedikit anak sudah mulai tunduk pada peraturan.
c. Anak mulai menyadari hak atau kepentingan orang lain.
d. Anak mulai dapat bermain bersama anak-anak lain atau teman sebayanya.

Perkembangan sosial sudah terjadi semenjak bayi mampu membedakan


antara manusia dan benda. Dasar pembentukan perkembangan sosial terjadi
pada masa perkembangan 0-2 tahun. Perkembangan sosial akan tampak dalam
bentuk komunikasi sosial yang dinyatakan dalam tingkah laku sosial
(Nelson,1995).
Menurut teori James mengatakan bahwa kemampuan sosial bukanlah
kemampuan bawaan atau kemampuan yang diperoleh semenjak lahir, tetapi
merupakan suatu potensi yang dikembangkan oleh lingkungan terutama
perkembangannya dengan melalui suatu proses sosialisasi. Keluarga
merupakan lingkungan pertama bagi anak. Pengalaman sosial yang pertama
bagi bayi adalah berlangsungnya kontak fisik dan emosi dengan ibunya.
Kualitas kontak sosial awal ini menentukan kualitas perkembangan sosial
selanjutnya. Menurut Mann Leon hal yang penting dalam perkembangan sosil
adalah kulitas dari ”Mothering Contact and Sensory Stimulation”. Seorang
anak yang dirawat ia tentu juga akan mengalami gangguan hubungan sosial
bila kebutuhan sosialnya tidak terpenuhi. Grey mengatakan dari banyak
penelitian sehubungan dengan anak, tekanan stres yang diakibatkan dari
pengalaman seperti dirawat, berobat, perpisahan, kehilangan dan penderitaan
merupakan suatu peristiwa yang memerlukan suatu dukungan psikologik bagi
anak (Walker, 1995).
BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN SEHAT JIWA PRASEKOLAH

A. Pengkajian
1) Keluarga
1) Pengetahuan keluarga
2) Peran orang tua
2) Anak
1. Perkembangan fisik, yang perlu di kaji antara lain :
1) Berat badan anak, biasanya meningkat kira-kira 2.5 kg per tahun. Berat badan
rata-rata pada usia 5 tahun adalah kira-kira 21 Kg terkait dengan nutrisi anak.
2) Pertumbuhan anak ( tinggi badan 2 – 3 inchi per tahun ).
3) Perkembangan motorik pada anak. Terjadi peningkatan koordinasi otot besar
dan halus, sehingga mereka dapat berlari dengan baik, berjalan naik dan turun
dengan mudah dan belajar untuk melompat.
4) Kebiasaan makan, tidur dan eliminasi anak.
2. Perkembangan kognitif, yang perlu dikaji antara lain :
1) Pengetahuan anak yang berhubungan dengan pengalaman konkret.
2) Perkembangan moral usia anak terkait dengan pemahaman tentang perilaku yang
disadari secara sosial benar atau salah.
3) Perkembangan bahasa anak ternasuk kosakata, yang memungkinkan
penggabungan berbagai personifikasi yang berbeda.
3. Perkembangan psiko-sosial
1) Bagaimana hubungan anak dengan teman sebayanya.
2) Kaji permainan anak. Permainan anak prasekolah menjadi lebih sosial, mereka
berganti dari bermain paralel ke jenis asosiatif.
4. Persepsi kesehatan
Kita mengkaji persepsi kesehatan melaui keluarga, pola hidup mereka, sensasi pada
tubuh anak itu sendiri, dan kemampuan orang tua untuk melakukan aktivitas
sehari-hari yang biasanya membantu anak-anak mengembangkan perilaku sehat
mereka, berpakaian dan makan.
B. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul adalah :
1. Resiko keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan ;
1) Orang tua kurang pengetahuan
2) Dukungan orang tua yang tidak adekuat, tidak sesuai
3) Stressor yang berkaitan dengan sekolah
4) Keterbatasan kesempatan untuk memenuhi kebutuhan sosial, bermain atau
pendidikan sekunder, akibat :
1) Kehilangan kemampuan untuk berkomunikasi
2) Kurang stimulasi
3) Sedikitnya orang terdekat
4) Kehilangan teman sebaya.
2. Defisit pengetahuan orang tua berhubungan dengan kurangnya informasi mengenai
pertumbuhan dan perkembangan anak.
3. Hambatan interaksi sosial berhubungan dengan hambatan bahasa

C. Intervensi Keperawatan
1. Diagnosa No. 1
1) Ajarkan orang tua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.
2) Dengan cermat kaji tingkat perkembangan anak dalam seluruh area fungsi,
menggunakan alat pengkajian yang spesifik.
3) Dorong untuk perawatan diri: merias diri sendiri, memakai baju sendiri, perawatan
mulut, perawatan rambut.
4) Beri waktu bermain dengan orang lain yang sering dan dengan berbagai mainan.
5) Beri waktu untuk bermain sendiri dan menggali lingkungan bermain.
6) Perintahkan untuk memberi respon verbal dan mengajukan permintaan.
7) Beri pujian untuk perilaku yang positif.
2. Diagnosa No. 2
1) Ajarkan orang tua tentang tugas perkembangan yang sesuai dengan kelompok usia.
2) Beri pendidikan kesehatan atau informasi mengenai pertumbuhan dan
perkembangan anak.
3. Diagnosa No. 3
1. Bila ada perilaku antisosial pada anak, bantu untuk :
1) Menggambarkan perilaku yang memengaruhi sosialisasi.
2) Bermain peran sesuai respon.
3) Munculkan umpan balik sebaya untuk perilaku positif dan negatif.
2. Ajarkan orang tua untuk :
1) Menghindari ketidaksetujuan di depan anak
2) Membuat kontak mata sebelum memberi instruksi dan minta anak untuk
mengulangi apa yang dikatakan.
BAB IV
PENUTUP

A. Simpulan

Anak usia pra sekolah merupakan fase perkembangan individu sekitar 3-6 tahun,
ketika anak mulai memiliki kesadaran tentang dirinya sebagai pria dan wanita, dapat
mengatur diri dalam buang air (toilet training) dan mengenal beberapa hal yang dianggap
berbahaya atau mencelakakan dirinya (Yusuf, 2001). Perkembangan anak dipengaruhi oleh
lingkungan, dimana keadaan normal atau tidak normal dipengaruhi oleh konflik pribadi
individu dan hubungan individu dengan masyarakatnya.

B. Saran

Kepada tenaga kesehatan diharapkan untuk bisa memberikan penjelasan kepada


kliennya tentang tugas-tugas perkembangan dan asuhan keperawatan sehat jiwa pada
prasekolah di kalangan umum atau masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Potter & Perry. 2005. Fundamental Keperawatan Volume I. EGC: Jakarta.


Carpenito & Moyet. 2007. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. EGC: Jakarta.
Sunaryo. 2005. Psikologi Untuk Keperawatan. EGC: Jakarta.