Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Hakikat Anak Tuna Grahita


1. Pengertian anak tuna grahita
Menurut Kustawan, D. (2016) anak tuna grahita merupakan anak
yang memiliki inteligensi yang signifkan berada dibawah rata-rata dan
disertai dengan ketidakmampuan dalam adaptasi perilaku yang muncul
dalam masa perkembangan. Ia juga mengatakan bahwa anak dengan
tunagrahita mempunyai hambatan akademik yang sedemikian rupa
sehingga dalam layanan pembelajarannya memerlukan modifikasi
kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan khususnya. Masyarakat pada
umumnya mengenal tunagrahita sebagai retardasi mental atau
keterbelakangan mental atau idiot. Rachmayana, D. (2016)
mengemukakakan bahwa tunagrahita berarti suatu keadaan yang ditandai
dengan fungsi kecerdasan umum yang berada dibawah rata-rata disertai
dengan berkurangnya kemampuan untuk menyesuaikan diri (berperilaku
adaptif), yang mulai timbul sebelum usia 18 tahun.
Pret nanti tambahin pengertian yang dari latar belakang ya!!!
2. Karakteristik anak tuna grahita
a. Karakteristik Umum
Anak tuna grahita memiliki keterbatasan dalam penguasaan
bahasa. Mereka bukannya mengalami kerusakan artikulasi, akan
tetapi pusat pengolahan yang kurang berfungsi sebagaimana
mestinya. Karena itulah anak tuna grahita membutuhkan kata-kata
kongkret yang sering didengarnya. Selain itu perbedaan dan
persamaan harus ditunjukkan secara berulang-ulang. Hal lainnya
dari anak tunagrahita adalah kurangnya kemampuan mereka untuk
mempertimbangkan sesuatu, untuk membedakan antara yang baik
dan yang buruk, dan membedakan yang benar dan yang salah.
Semua hal itu dikarenakan kemampuan anak tuna grahita terbatas
(Delphie, 2006). Wikasanti (2014) menyebutkan bahwa
karakteristik anak tuna grahita meliputi hal-hal sebagai berikut:
1) Mempunyai dasar secara fisiologis, sosial dan emosional sama
seperti anak-anak yang tidak menyandang tunagrahita;
2) Selalu bersifat eksternal locus of control sehingga mudah sekali
melakukan kesalahan (expectancy for failure);
3) Suka meniru perilaku yang benar dari orang lain dalam upaya
mengatasi kesalahan-kesalahan yang mungkin ia lakukan
(outerdirectedness);
4) Mempunyai perilaku yang tidak dapat mengatur diri sendiri;
5) Mempunyai permasalahan berkaitan dengan perilaku sosial
(social behavioral);
6) Mempunyai masalah berkaitan dengan karakteristik belajar;
7) Mempunyai masalah dalam bahasa dan pengucapan;
8) Mempunyai masalah dalam kesehatan fisik;
9) Kurang mampu untuk berkomunikasi;
10) Mempunyai kelainan pada sensor gerak;
11) Mempunyai masalah berkaitan dengan psikiatri, adanya gejala-
gejala depresif.
b. Karakteristik Khusus
Apriyanto (2012) mengemukakan karakteristik anak tuna
grahita menurut tingkat ketuna grahitaannya sebagai berikut:
1) Karakteristik Tuna grahita Ringan
Meskipun tidak dapat menyamai anak normal yang seusia
dengannya, mereka masih dapat membaca, menulis, dan
berhitung sederhana. Kecerdasannya berkembang dengan
kecepatan antara setengah dan tiga perempat kecepatan anak
normal dan berhenti pada usia muda. Mereka dapat bergaul dan
mempelajari pekerjaan yang hanya memerlukan semi skilled.
Pada usia dewasa kecerdasannya mencapai tingkat usia normal
9 dan 12 tahun.
2) Karakteristik Tuna grahita Sedang
Anak tuna grahita sedang hampir tidak bisa mempelajari
pelajaran-pelajaran akademik. Namun mereka masih memiliki
potensi untuk mengurus diri sendiri dan dilatih untuk
mengerjakan sesuatu secara rutin, dapat dilatih berkawan,
mengikuti kegiatan dan menghargai hak milik orang lain.
Sampai batas tertentu mereka selalu membutuhkan pengawasan,
pemeliharaan dan bantuan orang lain. Setelah dewasa
kecerdasan mereka tidak lebih dari anak normal usia 6 tahun.
3) Karakteristik Tuna grahita Berat dan Sangat Berat
Anak tuna grahita berat dan sangat berat sepanjang
hidupnya akan selalu tergantung pada pertolongan dan bantuan
orang lain. Mereka tidak dapat memlihara diri sendiri dan tidak
dapat membedakan mana bahaya dan mana bukan bahaya.
Mereka juga tidak dapat bicara, kalaupun bicara hanya mampu
mengucapkan kata-kata atau tanda sederhana saja.
Kecerdasannya walaupun mencapai usia dewasa berkisar seperti
anak normal usia paling tinggi 4 tahun.
3. Klasifikasi anak tuna grahita
Pengklasifikasian anak tuna grahita penting dilakukan karena anak
tuna grahita memiliki perbedaan individu yang sangat bervariasi.
Menurut Wikasanti (2014) Klasifikasi anak tuna grahita adalah tuna
grahita ringan, tuna grahita sedang dan tuna grahita berat. Berdasarkan
klasifikasinya, setiap anak tunagrahita membutuhkan perlakuan dan
dukungan yang berbedabeda sesuai dengan yang dibutuhkannya untuk
dapat bertahan hidup dilingkungan sosialnya.
a. Anak Tuna grahita Ringan (IQ 50-70)
Anak tuna grahita yang tergolong ringan, memiliki kemampuan
untuk dididik sebagaimana anak-anak normal, mereka mampu
mandiri, mempelajarai berbagai keterampilan dan life skills, serta
mampu belajar sejumlah teori yang ringan dan bermanfaat bagi
kehidupan keseharian. Misalnya mempelajarai bahasa dan
berkomunikasi yang tepat, matematika perhitungan sederhana, ilmu
alam, dan ekonomi. Namun untuk dapat membuat mereka paham
dibutuhkan waktu yang cukup lama dan guru/ pendidik yang sabar
serta fokus pada beberapa anak saja. Oleh karenanya apabila masuk
kedalam kelas inklusi harus ada guru yang akan mengawasi
perkembangan dan pembelajaran anak tuna grahita jenis ringan ini.
Apabila diberi pembelajaran dan pendidikan secara konsisten, maka
anak tuna grahita ringan bisa mencapai usia perkembangan mental
setara dengan anak usia 12 tahun.
b. Anak Tuna grahita Sedang (IQ 30-50)
Anak tuna grahita yang tergolong pada klasifikasi sedang
merupakan anakanak yang masih mampu dilatih mandiri,memenuhi,
dan melakukan kebutuhannya sendiri. Misalnya mandi sendiri,
makan sendiri, berpakaian dan berhias serta melakukan
keterampilan sederhana seperti menyiram bunga, memberi makan
hewan ternak dan membersihkan kandangnya. Anak tunagrahita
kondisi sedang ini disebut juga golongan imbesil. Mereka masih
dimungkinkan untuk mampu mandiri dengan tetap dalam
pengawaan orang lain yang siap membantu apabila mereka
membutuhkan bantuan. Apabila dilatih secara konsisten dan tepat,
maka golongan imbesil ini bisa mencapai kecerdasan mental anak-
anak usia 7 tahun.
c. Anak Tuna grahita Berat (IQ < 30)
Anak tuna grahita yang digolongkan dalam klasifikasi berat
memiliki tingkat intelegensi dibawah 30. Dengan tingkat intelegensi
sekian, anak-anak biasa disebut dengan idiot ini sulit sekali untuk
dilatih apalagi dididik untuk belajar berbagai teori akademis.
Perawatan khusus dan keikhlasan dari keluargan sangat dibutuhkan
oleh mereka. Biasanya keadaan idiot ini diikuti dengan berbagai
kelainan dan kelemahan dalam fungsi tubuh lainnya. Mereka perlu
perawatan khusus dan dibantu dalam setiap aktifitasnya. Untuk
bertahan hidup saja rasanya membutuhkan banyak bantuan.
Kecerdasan optimal yang dimiliki hanya setara dengan anak usia 3
tahun. Jika mereka bisa berjalan dan membersihkan diri sendiri
tergolong cukup baik bagi pencapaian stimulasi yang bisa
dilakukan.
4. Permasalahan anak tuna grahita dalam berkomunikasi
Selain kemampuan di bawah rata-rata, peserta didik tunagrahita juga
mengalami kerusakan dalam fungsi adaptif. Adapun hal-hal yang
termasuk di dalam fungsi adaptif adalah komunikasi, merawat diri,
kehidupan sehari-hari, ketrampilan interpersonal, menggunakan sumber
komunikasi, pengaturan diri, ketrampilan akademis, bekerja,
penggunaan waktu luang, kesehatan dan keamanan (Rahayu, 2012).
5. Prinsip-prinsip pembelajaran bagi anak tuna grahita
Undang-undang No 20 tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah
proses interaksi siswa dengan guru dan sumber belajar pada suatu
lingkungan belajar. Pembelajaran khusus siswa tunagrahita pada
dasarnya tidak jauh berbeda dengan siswa pada umumnya. Hanya saja
perlu dirumuskan ketentuan-ketentuan khusus atau diadakan
penyesuaian, mengingat karakteristik siswa tunagrahita berbeda pula
dengan karakteristik siswa lainnya. Menurut Astati (2009), kebutuhan
pendidikan dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan sesuai
dengan potensi yang dimiliki oleh individu. Secara khusus dalam
pendidikan, siswa tunag rahita membutuhkan penentuan materi
pembelajarannya lebih banyak diarahkan pada keterampilannya, bukan
hanya itu waktu belajar juga sangat diperlukan oleh siswa tunagrahita
dengan menggunakan contoh-contoh konkrit dan pengulangan berulang
namun hal ini pengulangan tergantung pada klasifikasi
ketunagrahitaannya serta dibutuhkan pula kemampuan bina diri agar
dapat mengantar siswa untuk tidak tergantung pada orang lain.
B. Hakikat Media Pembelajaran bagi Anak Tuna Grahita
1. Pengertian media pembelajaran
Menurut Sukiman (2012) Media pembelajaran adalah segala sesuatu
yang dapat digunakan untuk menyalurkan pesan dari pengirim ke
penerima sehingga merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan minat
serta kemauan peserta didik sedemikian tujuan pembelajaran secara
efektif. Gagne dalam Arief S Sadiman (2006) menyatakan bahwa media
adalah berbagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat
merangsangnya untuk belajar. Berdasarkan paparan dari para ahli diatas
dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran adalah alat bantu yang
relevan untuk digunakan dalam proses pembelajaran agar dapat
berlangsung secara efektif. Dimana penggunaan media pembelajaran
yang bervariasi dan menarik sangat penting untuk memberikan motivasi
belajar peserta didik demi tercapainya tujuan pembelajaran yang
diinginkan.
2. Manfaat media pembelajaran
Manfaat media pembelajaran menurut Asep Saripudin (2012), sebagai
berikut :
a. Membantu siswa meningkatkan pemahaman dalam prosese belajar
dan meningkatkan Pemahaman
b. Materi yang disampaikan menjadi lebih jelas, tidak besifat
verbalistik
c. Membantu menjelaskan materi yang berkaitan dengan objek yang
sulit diperlihatkan bentuk kongkretnya seperti bumi, iklim, dan
terjadinya gempa.
d. Memberikan motivasi siswa dalam belajar.
e. Memberikan pengalam belajar yang lebih menarik atau bermakana
pada siswa.
3. Jenis-jenis media
Media memegang peranan sangat penting dalam proses
pembelajaran. Arief (2006) mengelompokkan media menjadi 7 golongan
yaitu : benda untuk di demontrasikan, komunikasi lisan, media cetak,
media gambar diam, gambar gerak, film bersuara, dan mesin belajar.
Berdasarkan pendapat Azhar Arsyad (2011), terdapat beberapa jenis-
jenis media yaitu Teknologi cetak, teknologi audio-visual, teknologi
berbasis komputer, dan teknologi gabungan. Berdasarkan pendapat para
ahli tersebut media memiliki berbagai macam media diantaranya media
benda di demontrasikan, media komunikasi lisan, teknologi audio visual,
media teknologi berbasis komputer, media cetak, dll. Adapun dalam
penelitian ini peneliti menggunakan media cetak yaitu menggunakan
media Pop Up. Peneliti memilih media Pop Up ini dikarenakan sesuai
dengan permasalahan dan karakteristik yang dimiliki oleh siswa tuna
grahita dan lebih efektif ketika proses pembelajaran sehingga dalam
pelaksanaanya mempermudah guru dalam mengajarkan pembelajaran
tentang kebudayaan indonesia yang lebih mudah dipahami oleh siswa
tuna grahita.
4. Pengertian media pop-up book
Media pop-up book merupakan sebuah buku yang memiliki bagian
yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka serta tampilan gambar
yang terlihat lebih berdimensi diharapkan dapat membangkitkan minat
siswa dalam belajar (Dzuanda, 2011). Menurut Nancy dan Rondha
(2012) Pop-up book adalah buku yang menyajikan visualisasi dengan
bentuk-bentuk yang dibuat dengan melipat dan sebagainya. Buku Pop-
Up merupakan sebuah buku yang memiliki isi bagian yang dapat
bergerak ketika dibuka halamannya atau memiliki unsur 3 dimensi.
Sedangkan menurut Ann Montanaro dalam Aulia Azmi Masna (2015)
Pop Up hampir sama dengan origami dimana kedua seni ini
mempergunakan teknik melipat kertas. Buku Pop Up memiliki kelebihan
tersendiri dari media lainya seperti menampilkan bentuk yang dibuat
dengan melipat dan memiliki dimensi. Sedangkan berdasarkan pendapat
Dzuanda (2011: 1) menjelaskan pengertian buku Pop Up adalah sebuah
buku yang memiliki bagian yang dapat bergerak atau memiliki unsur 3
dimensi serta memberikan visualisasi cerita yang lebih menarik, mulai
dari tampilan gambar yang dapat bergerak ketika halamannya dibuka.
Media pop up book memiliki tampilan yang dapat bergerak melalui
gerakan kertas yang sudah didesain sebelumnya dengan lipatan,
gulungan ataupun yang lainnya yang dapat menghasilkan gerakan jika
dibuka buku tersebut. Berdasarkan beberapa pendapat tersebut bahwa
media buku Pop Up memberikan materi pembelajaran yang dapat
memberikan visualisasi yang lebih menarik.
5. Langkah-langkah penggunaan media pop up book

6. Bentuk media pop up book


C. Hakikat Kemampuan Berkomunikasi dari Anak Tuna Grahita
1. Pengertian berkomunikasi bagi anak tuna grahita
Anak tuna grahita yang mengalami gangguan bahasa lebih banyak
dibandingkan dengan yang mengalami gangguan bicara (Rochyadi &
Alimin, 2005:). Hasil penelitian Robert Ingall (Rochyadi & Alimin,
2005) tentang kemampuan berbahasa anak tuna grahita dengan
menggunakan ITPA (Illionis Test of Psycholinguistic Abilities),
menunjukkan bahwa 1) anak tuna grahita memperoleh keterampilan
berbahasa pada dasarnya sama seperti anak normal, 2) kecepatan anak
tunagrahita dalam memperoleh keterampilan berbahasa jauh lebih rendah
dari pada anak normal, 3) kebanyakan anak tunagrahita tidak dapat
mencapai keterampilan bahasa yang sempurna, 4) perkembangan bahasa
anak tuna grahita sangat terlambat dibandingkan dengan anak normal,
sekalipun pada MA yang sama, 5) anak tuna grahita mengalami kesulitan
tertentu dalam menguasai gramatikal, 6) bahasa tuna grahita bersifat
kongkrit, 7) anak tuna grahita tidak dapat dapat menggunakan kalimat
majemuk. Ia akan banyak menggunakan kalimat tunggal. McLean dan
Synder (Sunardi dan Sunaryo, 2006) dalam penelitiannya menyebutkan
bahwa anak tunagrahita cenderung mengalami kesulitan dalam
keterampilan berbahasa, meliputi morfologi, sintaksis, dan semantik.
Dalam hal semantik mereka cenderung kesulitan dalam menggunakan
kata benda, sinonim, penggunaan kata sifat, dan dalam pengelompokkan
hubungan antara obyek dengan ruang, waktu, kualitas, dan kuantitas.
Sutjihati (Sunardi dan Sunaryo, 2006) kemudian menjelaskan bahwa
anak tunagrahita dalam berkomunikasi sehari-hari cenderung
menggunakan kalimat tunggal, pada mereka umumnya juga mengalami
gangguan dalam artikulasi, kualitas suara, dan ritme, serta mengalami
kelambatan dalam perkembangan bicara.
2. Tujuan berkomunikasi bagi anak tuna grahita

D. Penelitian yang Relevan


E. Kerangka Konseptual
DAFTAR PUSTAKA

Dzuanda. (2011). Perancangan buku cerita anak pop-up tokoh-tokoh wayang


berseri, seri ”gatotkaca”. Jurnal Library ITS Undergraduate.
Kustawan, D. (2016). Bimbingan dan Konseling bagi Anak Berkebutuhan Khusus.
Jakarta Timur: PT. LUXIMA METRO MEDIA.
Rachmayana, D. (2016). Menuju Anak Masa Depan yang Inklusif. Jakarta Timur:
PT. LUXIMA METRO MEDIA.
Rahayu, Esthi. 2012. Kemampuan Merawat Diri Pada Tunagrahita, (Online),
(http://eprints.unika.ac.id/11746/1/kemampuan_merawat_diri_pada_tuna
grahita.pdf) diakses 20 November 2014.