Anda di halaman 1dari 10

Tugas Penilaian Hutan Medan, Oktober 2019

BAMBU (Aquilaria malaccensis Lamk.)

Dosen Pengasuh :
Dr. Agus Purwoko, S.Hut., M.Si

Disusun Oleh :
Natasya Anggita Sianturi
171201115
BDH 5

PROGRAM STUDI KEHUTANAN


FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah anugerah Nya
memberikan pengetahuan, dan kesempatan kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Penulis juga mengucapkan
terimakasih kepada semua pihak yang telah berpartisipasi dalam pembuatan
makalah ini dan kepada dosen penanggungjawab Penilaian Hutan Dr. Agus
Purwoko, S.Hut., M.Si yang telah memberikan pelajaran dan bimbingannya dalam
pelaksanaan matakuliah hingga terwujudnya makalah ini. Diharapkan makalah ini
dapat memberikan informasi yang bermanfaat bagi kita semua. Semoga makalah
ini dapat menjadi sumber informasi bagi pihak yang membutuhkan.

Medan, oktober 2019

Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR........................................................................................ i
DAFTAR ISI………..………………………………………............................. ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang........................................................................................1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................ ........ 2
1.3 Tujuan Penulisan ........................................................................ . ........2
BAB II ISI
2.1 Taksonomi atau Morfologi Bambu…................................................... 3
2.2 Potensi HHNK dari Bambu.................................................................. 4
2.3 Manfaat Ekonomi Bambu. ................................................................... 5

BAB III PENUTUP


Kesimpulan.............................................................................................. 7
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Bambu merupakan kelompok hasil hutan bukan kayu (HHBK)
yangpotensial dapat mensubstitusi penggunaan kayu. Dalam rangka menunjang
industri berbasis bahan baku bambu, diperlukan tegakan-tegakan rumpun
denganproduktivitas dankualitas yang lestari (Sutiyono,2002). Banyak manfaat
yang didapatkan dengan adanya pengembangan tanaman bambu. Selain untuk
mengatasi lahan kritis, budidaya juga untuk memenuhi bahan baku industri
kerajinan tangan berbahan dasar anyaman. Dari data yang dimiliki Dinas
Kehutanan dan Perkebunan Gunung kidul, permintaan kerajinan bambu ke
luarnegeri mencapai 2.000 kontainer, tetapi bambu dapat dipenuhi sebanyak
730kontainer. Menurut Bambang Wisnu Broto (2015), prospek bambu sangat
bagus,sehingga dimasukkan dalam budidaya di Gunung kidul. Budidaya ini
dilakukan karena Gunung kidul masih kekurangan bambu untuk bahan anyaman.
Dari luaslahan yang ada, baru bisa memasok 30% saja, sedang kekurangan
tersebut para pengrajin banyak mendatangkan bahan baku dari luar daerah. Dalam
pertumbuhannya tanaman bambu tentunya tidak terlepas dari pengaruh kondisi
lingkungan tempat tumbuh, pola tanam dan teknik pemeliharaan yang memadai.
Dengan demikian, faktor lingkungan penting untuk diketahui agar dapat
berproduksi secara optimal. Peningkatan penggunaan beberapa jenis bambu
menyebabkan tanaman bambu rakyat tereksploitasi secara tidak terkendali tanpa
diimbangi dengan tindakan pembudidayaan (Kementrian Perdagangan,2011).
Menyatakan bahwa salah satu bentuk penurunan, pengrusakan
danpemusnahan ragam hayati adalah pemanenan tanpa upaya budidaya,
penebangandan mengintroduksi jenis baru. Belum membudayanya usaha
pelestarian terhadap bambu disebabkan tegakan-tegakan bambu yang umumnya
hidup pada lahan-lahan rakyat nampaknya masih dianggap cukup. Selain itu,
informasi dan pengetahuan tentang budidaya jenis-jenis bambu masih sangat
kurang, demikian pula pengenalan terhadap jenis-jenis bambu yang ada di
Indonesia serta pemanfaatannya. Untuk itu diperlukan suatu sarana
pengembangan tanaman bambu khususnya pada jenis-jenis yang umumnya telah
digunakan maupun yangbelum dikenal oleh masyarakat namun mempunyai
banyak manfaat. Kecamatan Playen merupakan salah satu kawasan yang
membutuhkan bambu untuk digunakan sebagai bahan baku kerajinan tangan
maupun bahan bangunan pembuatan kandang, namun masih kekurangan pasokan
bambu. Selainitu Kecamatan Playen merupakan sentra tempat Pabrik bambu di
Kabupaten Gunung kidul. Di sisi lain, sebagian wilayah di Kecamatan Playen
merupakan daerah lereng yang mempunyai potensi terjadinya erosi, sehingga
dengan adanya pengembangan budidaya tanaman bambu dapat mencegah
terjadinya erosi. Saat ini pasokan bahan baku bambu banyak didatangkan dari
Madiun, Sleman, Magelang hingga Pacitan bahkan untuk jenis wulung satu truk
bambu, perajin merogoh kocek hingga Rp20 juta. Kalau dilihat dari sisi bisnis,
bambu memiliki prospek yang sangat bagus. Adapun manfaat lainnya, tanaman
ini juga bisa digunakan sebagai tanaman konsevasi mencegah terjadinya banjir.
Dalam penggunaannya di masyarakat, bahan bambu kadang-kadang
menemui beberapa keterbatasan. Sebagai bahan bangunan, faktor yang sangat
mempengaruhi bahan bambu adalah sifat fisik bambu yang membuatnya sukar
dikerjakan secara mekanis, variasi dimensi dan ketidakseragaman panjang ruasnya
serta ketidakawetan bahan bambu tersebut menjadikan bambu tidak dipilih
sebagai bahan komponen rumah. Sering ditemui barang-barang yang berasal dari
bambu yang dikuliti khususnya dalam keadaan basah mudah diserang oleh jamur
biru dan bulukan sedangkan bambu bulat utuh dalam keadaan kering dapat
diserang oleh serangga bubuk kering dan rayap kayu kering.

1.2 Rumusan Masalah


1. Apa saja taksonomi atau morfologi bambu ?
2. Bagaimana potensi hasil hutan non kayu dari bambu ?
3. Bagaimana maafaat ekonomi dari bambu ?

1.3 Tujuan Masalah


1. Untuk mengetahui taksonomi atau morfologi bambu
2. Untuk mengetahui potensi hasil hutan non kayu dari bambu
3. Untuk mengetahu manfaat ekonomi dari bambu
BAB II
ISI

2.1 Taksonomi atau Morfologi Bambu


Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di
batangnya. Bambu memiliki banyak tipe. Nama lain dari bambu adalah buluh,
aur, dan eru. Di dunia ini bambu merupakan salah satu tanaman dengan
pertumbuhan paling cepat. Karena memiliki sistem rhizoma-dependen unik,
dalam sehari bambu dapat tumbuh sepanjang 60cm (24 Inchi) bahkan lebih,
tergantung pada kondisi tanah dan klimatologi tempat ia ditanam.

Klasifikasi Tanaman Bambu :

Kingdom Plantae
Sub Kingdom Viridiplantae
Infra Kingdom Streptophyta
Super Divisi Embryophyta
Divisi Tracheophyta
Sub Divisi Spermatopytina
Kelas Magnoliopsida
Super Ordo Lilianae
Ordo Poales
Famili Poaceae
Genus Bambusa Schreb.
Bambusa vulgaris Schrad.
Spesies
Ex J. C. Wendl.
Setelah mengetahui klasifikasi dari tanaman bambu, maka selanjutnya yaitu
morfolginya. Dimana morfologi dari tanaman bambu, meliputi morfologi akar,
morfologi batang, morfologi tunas, dan morfologi daun. Berikut ini adalah ciri-
ciri morfologi dari tanaman bambu :
1. Morfologi Akar Bambu
Akar tanaman bambu terdapat di dalam tanah dan membentuk sistem
percabangan. Dimana dari sistem percabangan ini kita akan dapat membedakan
kelompok bambu tersebut.
Bagian pangkal rimpang lebih sempit dari pada bagian ujungnya, dan setiap
ruas mempunyai kuncup dan juga akar. Bagian kuncup pada akar tanaman
tersebut akan membentuk rebung, dimana rebung tersebut akan memanjang dan
akhirnya akan menghasilkan bulu.

2. Morfologi Batang Bambu


Batang tanaman bambu muncul dari akar-akar rimpang dan ketika sudah
tua, batang akan mengeras dan berongga. Tanaman bambu memiliki batang
berbentuk silinder memanjang dan terbagi dalam ruas-ruas. Tanaman memiliki
tinggi berkisar 0,3-30 meter, dengan diameter batang 0,25-25 cm dan memiliki
ketebalan dinding sampai 25 mm. Batang tanaman bambu ini diselimuti daun-
daun yang disebut dengan pelepah batang dan akan gugur ketika sudah tua.

3. Morfologi Tunas/Rebung Bambu

Tunas atau batang bambu muda yang baru muncul di permukaan disebut
dengan rebung. Rebung bambu tumbuh berbentuk kuncup pada bagian akar
rimpang didalam tanah atau dari pangkal bulu yang sudah tua.
Rebung pada bambu dbedakan menjadi beberapa jenis, mulai dari bambu
yang menunjukan ciri khas warna pada ujung dan bulu yang terdapat dipelapah.
Bulu pelepah rebung dengan warna hitam, coklat atau putih terdapat pada jenis
bambu cengkreh (Dinochloa scandens). Sedangkan bulu rebung yang tertutup
oleh bulu berwarna coklat terdapat pada jenis bambu betung (Dendrocalamus
asper).
4. Morfologi Daun Bambu
Daun tanaman bambu tergolong daun lengkap, dikarenakan terdapat
pelepah daun, tangkai daun, dan helaian daun. Pada bagian bangun daun
berbentuk lanset, ujungnya meruncing, pangkal daun tumpul, tepi daun merata,
dan daging daun tipis. Selain itu, pertulangan daun tanaman ini sejajar dan
memiliki permukaan yang kasar dan berbulu halus. Daun tanaman bambu
memiliki warna hijau muda dan kekuningan.

2.2 Potensi HHNK dari Bambu


Banyak potensi alam di Indonesia yang belum dimanfaatkan secara
optimal, salah satunya adalah bambu. Bambu menyimpan peluang sangat besar
untuk dapat dimanfaatkan dalam meningkatkan perekonomian yang ramah
lingkungan. Bambu mempunyai fungsi ekologi yang baik karena bisa digunakan
untuk menahan erosi tanah yang menjadi penyebab tanah longsor.
Bambu mempunyai kemampuan adaptasi tinggi. Bambu mampu hidup
dari ketinggian 0 mdpl hingga 3.000-4.000 mdpl. Bambu tumbuh dengan baik di
wilayah lahan basah untuk menunjang pertumbuhannya yang sangat pesat. Bambu
mampu bertambah tinggi sampai dengan 1 meter setiap harinya. Bambu juga
sangat mudah dalam hal perbanyakannya. Rumpun yang terguling cukup
ditegakkan saja, kemudian akan dapat tumbuh dengan cepatnya. Perawatannya
juga hanya dengan mengurangi jumlah tanaman untuk memberi ruang tumbuh
tanaman baru.
Keberadaan bambu yang melimpah ini seharusnya bisa disadari oleh
masyarakat ataupun pemerintah untuk dapat dikembangkan menjadi suatu bahan
industri yang terprogram dan fokus. Akan tetapi, permasalahan utama dari
pengembangan industri bambu ini tidak lain adalah pada inovasi desain.
Dibutuhkan kemampuan dan perlakuan khusus untuk mengolah bambu ini
menjadi suatu produk yang bernilai jual tinggi.
Permasalahan lainnya adalah pola pikir masyarakat Indonesia yang masih
menganggap bahwa bambu itu adalah bahan yang rapuh, kuno, dan dianggap
murahan. Padahal menurut Pon Sapriya Mulya, seorang arsitek, mengatakan
bahwa bambu merupakan bahan baku yang kuat, kualitasnya bisa lebih bagus dan
kuat dari kayu.
Dari sudut pandang industri, bambu sangatlah mempesona karena
merupakan material lunak tetapi sangat kuat untuk digunakan dalam aplikasi
konstruksi modern. Kepadatan bambu sebanding dengan kayu keras dan
kekuatannya bisa melebihi baja. Kementerian Perindustrian sebenarnya telah
mengeluarkan kiat-kiat untuk mengembangkan potensi ekonomi bambu di
Indonesia. Kiat-kiat tersebut adalah dengan mengembangkan sumber daya
manusia yang kompeten, pendataan komprehensif mengenai eksistensi spesies
bambu di Indonesia (baik yang asli dalam negeri maupun introduksi dari luar),
standarisasi pengolahan bambu terkini, serta jaminan perlindungan hak atas
kekayaan intelektual terkait pengolahan bambu.

2.3 Manfaat Ekonomi dari Bambu


Pamor bisnis bambu dari tahun ke tahun tidak pernah meredup. Kendati
tidak terlalu besar, permintaan batang bambu selalu ada di sepanjang tahun.
Maklum, bambu memiliki banyak manfaat dalam kehidupan manusia. Tak heran
jika banyak pelaku usaha menekuni bisnis penjualan bambu. Dari bisnis ini,
seorang pelaku usaha bisa meraih omzet Rp 28 juta per bulan.
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
1. Bambu adalah tanaman jenis rumput-rumputan dengan rongga dan ruas di
batangnya.
2. Morfologi dari tanaman bambu, meliputi morfologi akar, morfologi batang,
morfologi tunas, dan morfologi daun.
3. Bambu mempunyai fungsi ekologi yang baik karena bisa digunakan untuk
menahan erosi tanah yang menjadi penyebab tanah longsor.
4. Bulu pelepah rebung dengan warna hitam, coklat atau putih terdapat pada jenis
bambu cengkreh (Dinochloa scandens)
5. Bulu rebung yang tertutup oleh bulu berwarna coklat terdapat pada jenis bambu
betung (Dendrocalamus asper).