Anda di halaman 1dari 6

Tata Kelola Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasian Data Perusahaan

PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO 4. Memiliki Satuan Kerja Manajemen Risiko


(Terintegrasi) yang dibentuk untuk meyakinkan
Dewan Komisaris dan Direksi bertanggung jawab atas bahwa risiko yang dihadapi Bank dan Perusahaan
penerapan manajemen risiko dan sistem pengendalian Anak secara terintegrasi dapat diidentifikasi, diukur,
internal di BCA. Penerapan manajemen risiko dan sistem dipantau, dikendalikan dan dilaporkan dengan benar
pengendalian internal BCA mencakup: melalui penerapan kerangka kerja manajemen risiko
• Pengawasan aktif Dewan Komisaris dan Direksi. yang sesuai.
• Kecukupan kebijakan, prosedur dan penetapan limit. 5. Mengelola risiko dan memastikan tersedianya
• Kecukupan proses identifikasi, pengukuran, kebijakan dan penetapan limit risiko yang didukung
pemantauan dan pengendalian risiko serta sistem oleh prosedur, laporan, dan sistem informasi yang
informasi manajemen risiko. menyediakan informasi dan analisis secara akurat
• Sistem pengendalian internal. dan tepat waktu kepada manajemen termasuk
menetapkan langkah menghadapi perubahan kondisi
BCA menerapkan manajemen risiko dan sistem pasar.
pengendalian internal secara efektif yang disesuaikan 6. Memastikan bahwa penyusunan sistem dan
dengan tujuan dan kebijakan usaha, ukuran dan prosedur kerja yang ada telah memperhatikan sisi
kompleksitas kegiatan usaha BCA dengan berpedoman operasional maupun bisnis serta tingkat risiko yang
pada persyaratan dan tata cara sebagaimana ditetapkan mungkin terjadi dalam suatu unit kerja.
dalam Peraturan Bank Indonesia (PBI), Peraturan Otoritas 7. Memastikan sistem pengendalian internal telah
Jasa Keuangan (POJK), maupun dengan mengacu diterapkan sesuai ketentuan.
kepada best practice melalui tindakan-tindakan sebagai 8. Memantau kepatuhan BCA dengan prinsip
berikut: pengelolaan Bank yang sehat sesuai dengan
1. Melakukan identifikasi dan pengendalian seluruh ketentuan yang berlaku melalui unit kerja SKK.
risiko termasuk yang berasal dari produk baru dan 9. Membuat Laporan Profil Risiko BCA setiap triwulan
aktivitas baru. dan Laporan Profil Risiko Terintegrasi setiap
2. Memiliki Komite Pemantau Risiko (KPR) yang semester dan menyampaikannya kepada OJK
bertujuan untuk memastikan bahwa kerangka kerja secara tepat waktu.
manajemen risiko yang ada telah memberikan
perlindungan yang memadai terhadap seluruh Sistem Manajemen Risiko
risiko BCA dan mempunyai tugas pokok untuk Dalam rangka pengendalian risiko, BCA telah
memberikan rekomendasi serta pendapat secara mengimplementasikan kerangka Dasar Manajemen
profesional yang independen mengenai kesesuaian Risiko (Risk Management Framework) secara terpadu
antara kebijakan dengan pelaksanaan kebijakan yang dituangkan dalam Kebijakan Dasar Manajemen
manajemen risiko kepada Dewan Komisaris, serta Risiko (KDMR). Kerangka tersebut digunakan sebagai
memantau dan mengevaluasi pelaksanaan tugas sarana untuk penetapan strategi, organisasi, kebijakan
Komite Manajemen Risiko (KMR) dan Satuan Kerja dan pedoman, serta infrastruktur BCA sehingga dapat
Manajemen Risiko (SKMR). dipastikan bahwa semua risiko yang dihadapi BCA dapat
3. Memiliki Komite Manajemen Risiko (KMR) yang dikenali, diukur, dikendalikan dan dilaporkan dengan baik.
mempunyai tugas pokok menyusun kebijakan,
strategi dan pedoman penerapan manajemen risiko, Agar penerapan manajemen risiko dapat berjalan dengan
menyempurnakan pelaksanaan manajemen risiko efektif dan optimal, BCA telah memiliki Komite Manajemen
berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan proses Risiko yang berfungsi untuk membahas permasalahan
dan sistem manajemen risiko yang efektif, serta risiko yang dihadapi BCA secara keseluruhan dan
menetapkan hal-hal yang terkait dengan keputusan merekomendasikan kebijakan manajemen risiko kepada
bisnis yang menyimpang dari prosedur normal Direksi.
(irregularities).

341
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
Profil Singkat BCA Laporan kepada Pemegang Saham Analisa dan Pembahasan Manajemen

Selain Komite di atas, BCA telah membentuk beberapa • BCA telah mengembangkan pengelolaan risiko
Komite lain yang bertugas untuk menangani risiko secara kredit dengan melakukan analisis stress testing
lebih spesifik antara lain: Komite Kebijakan Perkreditan, terhadap portofolio kredit serta melakukan
Komite Kredit serta Komite Aset dan Pasiva (Asset and monitoring terhadap hasil stress testing tersebut.
Liability Committee – ALCO). Sebagai respon atas kondisi perubahan pasar
dan gejolak ekonomi, BCA melakukan analisis
BCA senantiasa melakukan pengkajian risiko secara stress testing ini secara berkala. Stress testing
menyeluruh atas rencana penerbitan produk dan aktivitas bermanfaat bagi Bank sebagai alat untuk
baru sesuai jenis risiko yang terdapat dalam PBI No.5/8/ memperkirakan besarnya dampak risiko pada
PBI/2003 tanggal 19 Mei 2003 beserta perubahannya “stressful condition” sehingga BCA dapat
antara lain melalui PBI No.11/25/PBI/2009 tanggal 1 Juli membuat strategi yang sesuai untuk memitigasi
2009 dan SE BI No.11/35/DPNP tanggal 31 Desember risiko tersebut sebagai bagian dari pelaksanaan
2009. “contingency plan”.
• Dalam rangka pemantauan dan pengendalian
Risiko-risiko yang dikelola risiko kredit yang terjadi di Perusahaan Anak,
Risiko-risiko yang dikelola terdiri dari 8 (delapan) jenis BCA telah melakukan pemantauan risiko
risiko, yaitu: kredit Perusahaan Anak secara rutin, sekaligus
1. Risiko Kredit memastikan bahwa Perusahaan Anak telah
• Organisasi perkreditan terus disempurnakan memiliki Kebijakan Manajemen Risiko Kredit
dengan berbasis prinsip “empat mata” (“four yang baik dan efektif.
eyes principle”) dimana keputusan kredit diambil
berdasarkan pertimbangan dari dua sisi, yaitu 2. Risiko Pasar
sisi pengembangan bisnis dan sisi analisis • Dalam mengelola risiko nilai tukar valuta
risiko kredit. asingnya, BCA memusatkan pengelolaan
• BCA telah memiliki Kebijakan Dasar Perkreditan posisi devisa neto pada Divisi Tresuri, yang
Bank (KDPB) yang terus mengalami menggabungkan laporan posisi devisa neto
penyempurnaan sejalan dengan perkembangan harian dari semua cabang. Secara umum,
BCA, PBI, POJK serta sesuai dengan setiap cabang diharuskan untuk menutup risiko
“International Best Practice”. nilai tukar valuta asingnya pada setiap akhir
• Penyempurnaan prosedur dan sistem hari kerja, walaupun ada batas toleransi posisi
manajemen risiko perkreditan dilakukan melalui devisa neto untuk setiap cabang tergantung
pengembangan “Loan Origination System” atas pada besarnya aktivitas transaksi valuta asing di
alur kerja proses pemberian kredit (dari awal cabang tersebut. BCA membuat laporan posisi
sampai akhir) sehingga proses kredit yang efektif devisa neto harian yang menggabungkan posisi
dan efisien dapat tercapai. Pengembangan devisa neto dalam laporan posisi keuangan
sistem pengukuran profil risiko debitur terus konsolidasian maupun rekening administratif
dikembangkan agar dapat diterapkan secara (off-balance sheet accounts).
menyeluruh, demikian juga dengan proses • Untuk mengukur risiko nilai tukar valuta asing,
pembangunan database perkreditan terus BCA menggunakan metode Value at Risk
dilakukan dan disempurnakan. (VaR) dengan pendekatan Historical Simulation
• Untuk menjaga kualitas kredit tetap terjaga untuk kepentingan pelaporan internal,
dengan baik, maka pemantauan terhadap sedangkan untuk perhitungan pelaporan
kualitas kredit terus dilakukan secara rutin, baik kewajiban penyediaan Modal Minimum BCA
per kategori kredit (Korporasi, Komersial, Small menggunakan metode standar Bank Indonesia.
& Medium Enterprise (SME), Konsumen dan
Kartu Kredit) maupun portofolio kredit secara
keseluruhan.

342
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
Tata Kelola Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasian Data Perusahaan

• Komponen utama kewajiban BCA yang sensitif 4. Risiko Operasional


terhadap pergerakan tingkat suku bunga adalah • Basel Accord II mewajibkan Bank untuk
simpanan nasabah, sedangkan aset BCA yang memasukkan risiko operasional sebagai salah
sensitif adalah Obligasi Pemerintah, surat- satu komponen di dalam perhitungan kecukupan
surat berharga, dan kredit yang diberikan. ALCO modal suatu Bank. Sehubungan dengan hal
secara berkala memantau perkembangan tersebut, BCA telah mengimplementasikan Risk
pasar dan menyesuaikan tingkat suku bunga Control Self Assessment (RCSA) ke seluruh
simpanan dan kredit yang diberikan. Cabang/Wilayah dan ke Divisi atau Unit Kerja
• BCA menentukan tingkat suku bunga simpanan yang dinilai memiliki risiko operasional yang
berdasarkan kondisi pasar dan persaingan cukup signifikan di Kantor Pusat. Salah satu
dengan memantau pergerakan tingkat suku tujuan implementasi RCSA adalah untuk
bunga acuan dan suku bunga yang ditawarkan menanamkan risk culture (budaya mengelola
oleh bank pesaing. risiko) dan meningkatkan risk awareness
(kesadaran akan risiko) yang merupakan syarat
3. Risiko Likuiditas utama dalam pengelolaan risiko.
• BCA sangat mementingkan penjagaan • BCA juga telah memiliki database kasus/
kecukupan likuiditas dalam memenuhi kerugian terkait risiko operasional yang
komitmennya kepada para nasabah dan pihak terjadi di seluruh unit kerja yang dikenal
lainnya, baik dalam rangka pemberian kredit, dengan nama Loss Event Database (LED).
pembayaran kembali simpanan nasabah, Tujuan utama diimplementasikannya LED
maupun untuk memenuhi kebutuhan likuiditas adalah sebagai salah satu sarana pencatatan
operasional. Fungsi pengelolaan kebutuhan kerugian operasional yang akan dipergunakan
likuiditas secara keseluruhan ini dilakukan oleh BCA dalam memperhitungkan alokasi beban
ALCO dan secara operasional oleh Divisi Tresuri. modal (capital charge) dan pemantauan secara
• Pengukuran dan pengendalian risiko likuiditas berkesinambungan terhadap kejadian-kejadian
dilakukan dengan pengawasan cadangan yang dapat menimbulkan kerugian operasional
likuiditas dan Loan to Funding Ratio (LFR), bagi BCA.
melakukan analisis maturity profile, proyeksi Selain itu LED juga digunakan BCA untuk
arus kas, serta stress test secara berkala untuk melakukan analisis kasus atau permasalahan
melihat dampak terhadap likuditas BCA dalam yang dihadapi, sehingga dapat diambil tindakan
menghadapi kondisi ekstrim. BCA juga memiliki perbaikan/pencegahan yang diperlukan untuk
contingency funding plan untuk menghadapi meminimalkan/memitigasi risiko kerugian
kondisi ekstrim tersebut. Selain itu, sesuai operasional, yang mungkin timbul di kemudian
dengan ketentuan OJK, BCA sudah melakukan hari. BCA telah mengimplementasikan Key Risk
uji coba perhitungan Liquidity Coverage Ratio Indicator (KRI) yaitu aplikasi yang digunakan
(LCR). untuk memberikan suatu indikator (early warning
• BCA telah menjalankan ketentuan terkait dengan sign) atas kemungkinan terjadinya peningkatan
likuiditas sebagaimana diatur di dalam PBI yang risiko operasional di suatu unit kerja.
mewajibkan Bank untuk menjaga likuiditas • BCA telah menghitung kewajiban penyediaan
rupiah (Giro Wajib Minimum) secara harian, modal minimum Bank untuk risiko operasional
yang terdiri dari GWM Primer dan GWM LFR berdasarkan Pendekatan Indikator Dasar,
dalam bentuk giro Rupiah pada Bank Indonesia, sesuai dengan regulasi dari Bank Indonesia
GWM Sekunder berupa SBI, SDBI, SUN, dan terkait dengan masuknya risiko operasional
excess reserves, serta GWM valuta asing dalam dalam perhitungan risiko kecukupan modal
bentuk giro valuta asing pada Bank Indonesia. (CAR) selain untuk risiko kredit dan risiko pasar.

343
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
Profil Singkat BCA Laporan kepada Pemegang Saham Analisa dan Pembahasan Manajemen

5. Risiko Hukum − Memonitor dan melakukan tindakan


• Risiko hukum inheren dinilai berdasarkan hukum atas pelanggaran terhadap aset-
potensi kerugian atas kasus-kasus yang aset BCA termasuk pelanggaran atas hak
terjadi di BCA dan Perusahaan Anak yang kekayaan intelektual (HaKI) milik BCA;
sedang dalam proses di pengadilan dibagi − Memonitor dan menganalisis perkara yang
dengan modal secara konsolidasi. Parameter sedang dalam proses di pengadilan yang
yang digunakan untuk menghitung potensial dihadapi oleh BCA dan Perusahaan Anak;
kerugian atas kasus yang sedang dalam proses − Melakukan inventarisasi, memonitor,
di pengadilan adalah dasar gugatan (kasus menganalisis dan menghitung potensi
posisi), nilai perkara, dan dokumentasi hukum. kerugian yang mungkin timbul terkait
• Untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau kasus-kasus hukum yang terjadi.
dan mengendalikan risiko hukum, BCA telah
membentuk Grup Hukum di Kantor Pusat dan 6. Risiko Reputasi
unit kerja hukum di sebagian besar Kantor • Penilaian atas risiko reputasi dilakukan dengan
Wilayah. menggunakan parameter-parameter seperti
• Dalam rangka memitigasi risiko hukum, Grup jumlah keluhan dan publikasi negatif serta
Hukum telah melakukan, antara lain: pencapaian penyelesaian keluhan. Penilaian
− Membuat Kebijakan Manajemen Risiko tersebut disusun dalam laporan profil risiko
Hukum, mempunyai ketentuan internal reputasi setiap triwulan.
yang mengatur mengenai struktur • Untuk mengelola dan mengendalikan risiko
organisasi dan job description Grup Hukum reputasi, BCA didukung oleh fasilitas Contact
serta membuat standardisasi dokumen Center Halo BCA (layanan telepon 24 jam untuk
hukum; informasi, saran, dan keluhan).
− Mengadakan forum komunikasi hukum • Manajemen risiko reputasi dilakukan dengan
untuk meningkatkan kompetensi staf berpedoman pada:
hukum; − PBI No.7/7/PBI/2005 tanggal 20 Januari
− Melakukan sosialisasi mengenai dampak 2005 tentang Penyelesaian Pengaduan
peraturan yang baru berlaku terhadap Nasabah sebagaimana telah diubah
kegiatan perbankan BCA dan berbagai dengan Peraturan Bank Indonesia
modus operandi kejahatan perbankan No.10/10/PBI/2008 tanggal 28 Februari
serta pedoman penanganannya secara 2008;
hukum kepada pejabat cabang dan unit − SE BI No.7/24/DPNP tanggal 18 Juli 2005
kerja terkait; perihal Penyelesaian Pengaduan Nasabah
− Melakukan pembelaan hukum atas perkara sebagaimana telah diubah dengan Surat
perdata dan pidana yang melibatkan Bank Edaran Bank Indonesia No.10/13/DPNP
yang sedang dalam proses di pengadilan tanggal 6 Maret 2008;
serta memonitor perkembangan kasusnya; − PBI No.8/5/PBI/2006 tanggal 30 Januari
− Menyusun rencana strategi pengamanan 2006 tentang Mediasi Perbankan
kredit (bekerja sama dengan unit kerja sebagaimana telah diubah dengan PBI
lain, antara lain Biro Penyelesaian Kredit) No.10/1/PBI/2008 tanggal 28 Februari
sehubungan dengan permasalahan kredit 2008;
macet; − PBI No.16/1/PBI/2014 tanggal 16 Januari
− Mendaftarkan aset-aset milik BCA antara 2014 tentang Perlindungan Konsumen
lain hak kekayaan intelektual (HaKI) atas Jasa Sistem Pembayaran;
produk dan jasa perbankan BCA serta hak − POJK No.1/POJK.07/2013 tanggal 26 Juli
atas tanah dan bangunan milik BCA pada 2013 tentang Perlindungan Konsumen
instansi yang berwenang; Sektor Jasa Keuangan;

344
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
Tata Kelola Perusahaan Laporan Keuangan Konsolidasian Data Perusahaan

− SE OJK No.2/SEOJK.07/2014 tanggal • BCA juga telah memiliki dan menerapkan


14 Februari 2014 perihal Pelayanan dan Program APU dan PPT. Untuk membantu
Penyelesaian Pengaduan Konsumen pada mengidentifikasi transaksi keuangan yang
Pelaku Usaha Jasa Keuangan. mencurigakan, BCA memiliki aplikasi yang
senantiasa terus dikembangkan dalam rangka
7. Risiko Stratejik meningkatkan kemampuannya.
• Penilaian risiko stratejik inheren dilakukan
dengan menggunakan parameter-parameter Sehubungan dengan diterbitkannya Peraturan
seperti kesesuaian strategi dengan kondisi Otoritas Jasa Keuangan No.17/POJK.03/2014
lingkungan bisnis, strategi berisiko rendah dan tanggal 18 November 2014 dan Surat Edaran
strategi berisiko tinggi, posisi bisnis BCA dan Otoritas Jasa Keuangan No.14/SEOJK.03/2015
pencapaian Rencana Bisnis Bank. tentang Penerapan Manajemen Risiko Terintegrasi
• Penilaian kualitas penerapan manajemen Bagi Konglomerasi Keuangan, maka Konglomerasi
risiko stratejik dilakukan dengan menggunakan Keuangan BCA secara terintegrasi mengelola 10
parameter-parameter seperti tata kelola risiko, (sepuluh) jenis risiko dengan tambahan 2 (dua) risiko
kerangka manajemen risiko, proses manajemen sebagai berikut:
risiko, SIM dan SDM, serta kecukupan sistem
pengendalian risiko. 9. Risiko Transaksi Intra-grup
• Penilaian risiko transaksi intra-grup inheren
8. Risiko Kepatuhan dilakukan dengan menggunakan parameter-
• Sesuai dengan Peraturan Bank Indonesia parameter seperti komposisi transaksi
yang berlaku, BCA telah menunjuk salah intra-grup dalam Konglomerasi Keuangan,
seorang anggota Direksi sebagai Direktur dokumentasi dan kewajaran transaksi serta
yang membawahkan fungsi kepatuhan. informasi lainnya.
Dalam pelaksanaan tugasnya, Direktur yang • Penilaian kualitas penerapan manajemen
membawahkan fungsi kepatuhan dibantu oleh risiko transaksi intra-grup dilakukan dengan
Satuan Kerja Kepatuhan (SKK) yang bertugas menggunakan parameter-parameter seperti
untuk mengelola risiko kepatuhan BCA. SKK tata kelola risiko, kerangka manajemen risiko,
juga bertanggung jawab terhadap penerapan proses manajemen risiko, SIM dan SDM, serta
Program Anti Pencucian Uang dan Pencegahan kecukupan sistem pengendalian risiko.
Pendanaan Terorisme (APU dan PPT).
• Dalam menilai risiko kepatuhan inheren, 10. Risiko Asuransi
parameter yang digunakan adalah jenis dan • Penilaian risiko asuransi inheren dilakukan
signifikansi pelanggaran yang dilakukan, dengan menggunakan parameter-parameter
frekuensi pelanggaran yang dilakukan atau track seperti risiko teknikal, dominasi risiko asuransi
record kepatuhan, dan pelanggaran terhadap terhadap keseluruhan lini usaha, bauran risiko
ketentuan atas transaksi keuangan tertentu. produk dan jenis manfaat, serta struktur
• BCA telah memiliki kebijakan dan prosedur reasuransi.
kepatuhan, yang berisi antara lain adanya • Penilaian kualitas penerapan manajemen risiko
proses untuk selalu menyesuaikan ketentuan asuransi dilakukan dengan menggunakan
dan sistem internal dengan peraturan yang parameter-parameter seperti tata kelola risiko,
berlaku, mengomunikasikan ketentuan kepada kerangka manajemen risiko, proses manajemen
karyawan terkait, melakukan kajian terhadap risiko, SIM dan SDM, serta kecukupan sistem
produk/aktivitas baru, melakukan uji kepatuhan pengendalian risiko.
secara berkala, pelatihan kepada karyawan dan
adanya laporan triwulan kepatuhan kepada
Direksi dan Dewan Komisaris.

345
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015
Profil Singkat BCA Laporan kepada Pemegang Saham Analisa dan Pembahasan Manajemen

Peringkat profil risiko BCA dan Terintegrasi untuk 4. Sistem akuntansi, informasi, dan komunikasi.
posisi Desember tahun 2015 adalah “low to moderate”, 5. Kegiatan pemantauan dan tindakan koreksi
merupakan hasil penilaian dari peringkat risiko inheren penyimpangan.
“low to moderate” dan peringkat kualitas penerapan
manajemen risiko “satisfactory”. Kelima komponen tersebut sejalan dengan Internal
Control-Integrated Framework yang dikembangkan oleh
Peringkat tingkat risiko dari 10 (sepuluh) jenis risiko yang The Committee of Sponsoring Organization of the Treadway
dinilai adalah sebagai berikut: Commission (COSO).
• Risiko yang memiliki peringkat tingkat risiko “low”
adalah Risiko Pasar, Risiko Likuiditas, Risiko Hukum, Di samping itu, BCA juga memiliki business continuity
Risiko Transaksi Intra-Grup dan Risiko Asuransi. plan dan disaster recovery plan untuk mempercepat
• Risiko yang memiliki peringkat tingkat risiko “low to proses pemulihan pada saat terjadi bencana (disaster)
moderate” adalah Risiko Kredit, Risiko Operasional, dan memiliki sistem back up untuk mencegah kegagalan
Risiko Reputasi, Risiko Stratejik, dan Risiko usaha yang berisiko tinggi.
Kepatuhan.
Seluruh manajemen dan karyawan BCA memiliki peran
Peringkat profil risiko BCA dan Terintegrasi yang “low to dan tanggung jawab dalam meningkatkan kualitas dan
moderate” ini dapat tercapai karena BCA dan Perusahaan pelaksanaan sistem pengendalian internal BCA.
Anak telah menerapkan proses manajemen risiko secara
cukup efektif dan efisien pada seluruh aktivitasnya. Pihak-pihak yang terlibat dan bertanggung jawab dalam
terlaksananya sistem pengendalian internal BCA antara
Trend risiko inheren untuk periode mendatang adalah lain Dewan Komisaris, Komite Audit, Direksi, Divisi Audit
stabil karena berdasarkan hasil proyeksi, diperkirakan Internal, pejabat dan pegawai BCA, Pengawasan Internal
tidak akan terjadi perubahan risiko inheren yang cukup Cabang, Pengawasan Internal Kantor Wilayah dan
signifikan. Pengawasan Internal Unit Kerja Tertentu di Kantor Pusat.

Trend kualitas penerapan manajemen risiko untuk Pelaksanaan Pengendalian Interen


periode mendatang adalah stabil. Hal ini disebabkan 1. Pelaksanaan pengendalian interen antara lain
karena BCA dan Perusahaan Anak secara terus menerus dilakukan melalui:
meningkatkan penyesuaian pengelolaan manajemen a. Pengendalian Keuangan, dimana:
risiko di semua aktivitasnya sehingga BCA dan • BCA telah menyusun Rencana Bisnis
Perusahaan Anak dapat mengidentifikasi, mengukur, Bank yang membahas strategi BCA
memantau dan mengendalikan setiap risiko yang ada. secara keseluruhan yang mencakup arah
pengembangan bisnis.
SISTEM PENGENDALIAN INTEREN (INTERNAL • Penetapan strategi telah memperhitungkan
CONTROL) dampak terhadap permodalan BCA,
antara lain proyeksi permodalan & KPMM
Sistem pengendalian interen BCA mengacu pada Surat (Kewajiban Penyediaan Modal Minimum).
Edaran Bank Indonesia No.5/22/DPNP Tentang Pedoman • Direksi secara aktif melakukan diskusi/
Standar Sistem Pengendalian Interen bagi Bank Umum memberikan masukan serta memantau
tertanggal 29 September 2003 yang mencakup 5 (lima) kondisi internal dan perkembangan faktor
komponen antara lain: eksternal yang secara langsung maupun
1. Pengawasan oleh manajemen dan kultur tidak langsung mempengaruhi strategi
pengendalian. bisnis BCA.
2. Identifikasi dan penilaian risiko.
3. Kegiatan pengendalian dan pemisahan fungsi.

346
PT Bank Central Asia Tbk Laporan Tahunan 2015