Anda di halaman 1dari 21

TEORI GORDON ALLPORT

Makalah
Dibuat untuk memenuhi mata kuliah Psikologi Kepribadian
Dosen pengampun : Nuraini, M.Pd

Disusun oleh Kelompok 3:

1. Ginandia Zahiroh 1701015096


2. Ewinda Tiarawati 1701015023
3. Lara Irawan 1701015047

3B
Program Studi Bimbingan dan Konseling
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA
Jakarta
2018
i
KATA PENGANTAR

Puja dan puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena berkat
rahmat-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini. Terselesaikannya makalah ini tidak lepas
dari bantuan dan dorongan dari pihak-pihak yang terlibat langsung maupun tidak langsung
dalam proses penyusunan dan pembuatan makalah ini. Kami sebagai manusia yang banyak
memiliki kekurangan menyadari bahwa apa yang kami sampaikan dalam laporan ini masih
jauh dari kesempurnaan baik dalam proses penyampaiannya maupun isi atau hal-hal yang
terkandung didalamnya.
Maka dari itu kami penyusun laporan ini sangat mengharapkan kritik dan saran dari
para pembaca yang kami banggakan yang bersifat membangun sehingga dapat membantu
kami untuk dapat lebih menyempurnakan lagi makalah yang kami buat ini. Kami sangat
berharap apa yang kami sajikan dalam kami ini dapat memberikan manfaat-manfaat yang
sedianya dapat berguna pagi pembaca pada umumnya dan para calon konselor pada
khususnya sehingga apa yang menjadi tujuan pendidikan di Indonesia serta tujuan Bangsa
Indonesia dapat tercapai sebagaimana yang diharapkan.

Jakarta, September 2018

Penyusun

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ...................................................................................... i

DAFTAR ISI...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang .......................................................................... 1


B. Rumusan Masalah ..................................................................... 2
C. Tujuan ....................................................................................... 2

BAB II PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Gordon Allport ................................................ 3


B. Definisi Kepribadian ................................................................ 5
C. Pokok-pokok Teori Gordon Allport.......................................... 5
D. Perkembangan Kepribadian……………………………… ...... 11
E. Sifat dan perbedaan macam-macam sifat…………………….. 13
F. Kelebihan dan Kekurangan Teori Gordon Allport ................... 14
G. Implementasi Teori Gordon Allport ......................................... 15

BAB III PENUTUP

A. Simpulan ................................................................................... 16
B. Saran………………………………………………………….. 16

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................ 17

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Gordon Allport


Kepribadian adalah kata yang begitu umum dipakai didunia psikologi,
kepribadian seseorang bisa dinilai dari kemampuannya memperoleh reaksi-reaksi dari
berinteraksi dengan orang lain di berbagai keadaan. Dalam struktur kepribadian
Gordon Allpot sendiri diuraikan dalam bentuk sifat-sifat (traits) dan tingkah laku yang
dimotivasi atau digerakkan oleh sifat-sifat itu sendiri. Jadi, struktur dan dinamika
kepribadian itu pada dasarnya satu dan sama. Dalam teori allport sendiri membahas
tentang kepribadian yang matang dan menggambarkan ciri–ciri pribadi yang sehat itu
sepeti apa. Sehingga dapat kita pahami apa itu kepribadian yang matang dan pribadi
yang sehat.
Para teoretisi mengandalkan cara-cara individual mereka sendiri untuk
mengamati segala sesuatu, membuat mereka sampai kepada konsepsi yang berbeda-
beda mengenai hakikat kemanusiaan. Sebaliknya, para teoretisi kepribadian generasi
berikutnya menggunakan studi-studi yang lebih empiris untuk mempelajari perilaku
manusia. Mereka mengembangkan model-model tentatif, hipotesis-hipotesis yang
terus diuji, baru kemudian merumuskan kembali modek-model kepribadian tersebut.
Dengan kata lain, mereka menerapkan peranti-peranti penyelidikan ilmiah dan teori
ilmiah ke arena kepribadian manusia.
Para teoretisi kepribadian tidak pernah sepakat dengan satu definisi tunggal
kepribadian. Mereka mengenbangkan teori-teori yang unik dan vital sendiri-sendiri
justru karena tidak sepakat, dengan konsep hakikat kemanusian teoretisi lain,dan
karena masing-masing melihat kepribadian dari sudut pandang individualnya. Para
teoretisi kepribadian memiliki latar belakang yang beragam. Salah satunya Gordon
Allport. Gordon Allport menggunakan pendekatan eklektis untuk membangun
teorinya. Bagi Allport, teori yang luas dan komprehensif lebih banyak disukai
ketimbang teori yang sempit dan spesifik meskipun teori yang luas tidak banyak
membangkitkan hepotesis yang bisa diuji.
Perbedaan antara Allport dengan tokoh psikologi sebelumnya, mengantarkan
Allport untuk memberikan definisi yang berbeda pula mengenai kepribadian.
Menurutnya kepribadian adalah: ”Organisasi dinamik dalam sistem psikofisik
individu yang menentukan penyesuaian yang unik dengan lingkungan. Suatu

1
fenomena dinamik yang memiliki elemen psikologik dan fisiologik, berkembang dan
berubah, memainkan peran aktif dalam berfungsinya individu”.
Dari latar belakang tersebut, kami sebagai calon konselor ataupun mahasiswa
bimbingan dan konseling harus memahami dengan benar terkait macam-macam teori
kepribadian dan salah satunya adalah teori kepribadian Gordon Allport. Oleh karena
itu, kami sebagai penulis akan memaparkan tentang teori kepribadian Gordon Allport
agar dapat menjadi bahan pembelajaran, pemahaman bagi kami.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana biografi Gordon Allport ?
2. Bagaimana struktur kepribadian menurut Gordon Allport ?
3. Apa saja kelebihan dan kekurangan dalam teori Gordon Allport?
4. Bagaimana implementasi nya?

C. Tujuan
1. Untuk mengetahui biografi Gordon Allport
2. Untuk mengetahui struktur kepribadian dan motivasi
3. Untuk mengetahui kelebihan dan kekurangan dalam teori Gordon Allport
4. Untuk mengetahui implementasi nya

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Latar Belakang Gordon Allport


Gordon Williard Allport lahir pada 11 november 1897, di Montezuma,
Indiana, sebagai anak keempat dan anak bungsu laki-laki dari pasangan Jhon E
Allport dan Nellie Wise Allport. Ayah allprot melakukan beberapa bisnis sebelum
menjadi dokter, di saat yang hampir bersamaan dengan waktu kelahiran Gordon.
Kekurangan fasilitas kantor dan klinik yang memadai, dr. Allport mengubah
rumahnya menjadi suatu miniature rumah sakit. Di dalam rumah terdapat pasien dan
suster, serta didominasi oleh atmosfer yang bersih dan steril.
Kebersihan tindakan diperluas kepada kebersihan pikiran. Dalam
autobiografinya, Allport (1967) menuliskan bahwa awal kehidupannya “ditandai oleh
ketaatan agama protestan” (hlm 4). Floyd Allport, kakak laki-laki yang terpaut jarak 7
tahun, yang juga menjadi psikolog terkenal, menggamarkan ibu mereka sebagai
wanita yang sangat taat, yang memberi penekanan yang tinggi pada agama (F.
Allport, 1974), sebagai mantan guru sekolah, ia mengajarkan Gordon muda tentang
nilai dari bahasa yang bersih dan perilaku yang pantas, sama pentingnya dengan
mencari jawaban-jawaban religious yang utama.
Saat Gordon berusia 6 tahun, keluarganya telah berpindah sebanyak tiga kali
sampai akhirnya menetap di Cleveland, Ohio. Allport muda mengembangkan minat
awal pada pertanyaan-pertanyaan religious dan filosifis serta mempunyai lebih bnyak
fasilitas untuk membaca daripada bermain. Ia mendeskripsikan dirinya sebagai
“memisahkan diri” dari kehidupan sosial yang membentuk lingkaran aktivitas
sendiiri. Walaupun ia lulus dengan peringkat kedua dari kelas yang berisi 100 orang
di sekolah menengah atas, ia tidak menganggap dirinya pelajar yang termotivasi
(Allport, 1967)
Pada musim gugur tahun 1915, Allport masuk ke Harvard mengikuti jejak
kakaknya, Floyd, yang lulus 2 tahun sebelumnya dan merupakan asisten sarjana di
jurusan psikologi. Dalam autobiografinya, Gordan Allport (1967) menulis, “dalam
hampir semalam, kehidupan saya telah berubah. Nilai-nilai moral dasar saya, pastinya
telah dibentuk dari rumah. Hal yang baru adalah horizon dari intelektual dan budaya,
di mana saya diundang untuk menjelajahinya” (hlm 5). Masuknya Allport ke Harvar,

3
juga menandai awal dari 50 tahun hubungannya dengan universitas tersebut, yang
hanya dua kali sempat terputus dalam waktu yang singkat. Saat menerima gelar
sarjana psikologi dan ekonomi pada tahun 1919, ia masih tidak yakin dengan
kariernya dimasa depana telah mengikuti kuliah psikologi dan etika sosial, dan kedua
ilmu tersebut memberikan kesan yang dalam baginya. saat di berikan kesempatan
untuk mengajar di turki, ia melihatnya sebagai suatu kesempatan tahun akademisnya
antara tahun 1919-1920 di eropa dengan mengajar bahasa inggris dan sosiokogi di
Robert college di Istambul.
Selama di turki, Allport ditawarkan beasiswa untuk program pasca sarjana di
Harverd. Ia juga menerima undangan dari kakak laki-lakinya, Fayette, untuk tinggal
bersamanya di Wina, dimana Fayette sedang berkerja untuk komisi perdagangan
Amerika Serikat. Di Wina, Allport bertemu dengan Sigmund Freud, seperti yang
sudah kita jelaskan dengan singkat di bagian pembukaan bab ni, pertemuan dengan
Freud ini sangat memengaruhi ide-ide yang dimiliki Allport mengenai kepribadian di
kemudian hari. Dengan sejumlah keberanian, Allport yang saat itu berusia 22 tahun
menulis surat kepada Freud untuk memberitahukan bahwa ia sedang berada di Wina
dan menawarkan bapak Psikonalisis ini sebuah kesempatan untuk menemuinya.
Pertemuan tersebut terbukti telah menjadi sebuah keberuntungan yang mengubah
hidup Allport. Tidak memiliki bahan pembicaraan, pemuda tersebuh memberitahu
Freud mengenai anak laki-laki yang ditemuinya dalam kereta pada hari ia
mengunjunginya. Anak kecil tersebut mengeluh pada ibunya mengenai kondisi kereta
yang kotor dan memberitahu ibunya bahwa ia tidak mau duduk di dekat penumpang
yang dianggapnya kotor. Allport mengatakan bahwa ia memilih peristiwa ini untuk
menggali reaksi Freud mengenai fobia terhadap korban pada anak kecil tersebut.
Namun ia cukup kaget ketika Freud “mengarahkan mata teurapetiknya pada saya dan
berkata,”dan apakah anak laki-laki tersebut adalah anda?” (Allport, 1967 hlm 8)
Allport mengatakan bahwa ia merasa bersalah dan segera mengganti topik
pembicaraan.
Allport berulang kali menceritakan kisah tersebut, dengan jarang mengganti
kata-katanya, dan tidak pernah mengungkapkan keseluruhan cerita dari pertemuannya
dengan Freud. Akan tetapi, Alan Elms telah menemukan deskripsi tertulis milik
Allport mengenai profresional, Allport lalu berbicara mengenai ketidaksukaannya
pada kismis.

4
B. Definisi Kepribadian
Kepribadian manusia menurut Allport adalah organisasi yang dinamis dari
sistem psikofisik dalam individu yang turut menentukan cara-caranya yang unik atau
khas dalam menyesuaikan diri dalam lingkungannya. Kemudian juga Allport
berpendapat bahwa kepribadian yang neoritis dan kepribadian yang sehat merupakan
hal yang mutlak terpisah. Namun dalam hal ini tang menjadi kelebihan Allport adalah
antisipasi, dalam teori Allport antisipasi adalah penting untuk menentukan siapa dan
apakah kita ini, dalam membentuk identitas diri kita. Dalam teori Allport memandang
bahwa kesehatan psikologis adalah melihat kedepan, tidak melihat ke belakang, dalam
dikatan bahwa seluruh teori yang dikemukakan oleh Allport ini sangat bertentangan
dengan teori-teori yang dikemukakan oleh Freud.
Pokok – pokok teori kepribadian Allport
1) Kepribadian manusia adalah produk dari hereditas dan lingkungan. Hereditas:
fisik, inteligensi, temperamen (fluktuasi dan itensitas mood). Faktor hereditas
berfungsi sebagai bahan daasar yang nantinya dibentuk (dikuatkan atau
dilemahkan) oleh kondisi dilingkungannya.
2) Kepribadian bersifat idiografik (tiap pribadi adalah unik dan tidak dapat
dibandingkan dengan orang lain)
3) Kepribadian normal bersifat diskrit/ disontinu.
a) Kepribadian anak tidak kontinyu dengan kepribadian dewasa. Kepribadian
anak terutama di pengaruhi dorongan primitif dan bersifat reflex.
b) Kepribadian dewasa bekerja secara rasional dalam kontrol kesadaran
(mengetahui dan dapat mengontrol dorongan yang memotivasinya) tidak
mencerminkan masa lalunya.
c) Kepribadian orang normal tidak dapat dipelajari dari orang abnormal.
d) Kepribadian orang dewasa abnormal kontinyu dengan kepribadian anak.

C. Pokok-Pokok Teori Gordon Allport


1. Struktur Kepribadian
Dalam teori-teori yang lain-lain dapat dipergunakan rangka pembicaraan
struktur, dinamika dan perkembangan kepribadian. Rangka ini tidak dapat dipakai
untuk membicarakan teori Allport, karena bagi Allport struktur itu terutama
dinyatakan dalam sifat-sifat dan tingkah laku didorong oleh sifat-sifat. Jadi
struktur dan dinamika itu pada umumnya satu dan sama. Allport berpendapat
5
bahwa masing-masing pengertian refleksi bersyarat, kebiasaan, sikap, sifat, diri
dan kepribadian itu kesemuanya masing-masing adalah bermanfaat.
Tetapi walaupun semua pengertian itu diterima dan dianggap penting, namun
tekanan utama diletakkannya pada sifat, sikap dan intensi diberinya kedudukan
yang kira-kira sama, sehingga ada yang menanamkan psikilogi Allport itu adalah
“trait psychology”. Dalam teori Allport ini kedudukan pengertian trait dapat
dibandingkan dengan kedudukan pengertian need pada murray dan libido pada
Freud, sentiment pada McDougall. Sebelum berbicara sampai mengunsur tentang
trait itu terlebih dahulu mailah kita peajari definisi Allport tentang kepribadian.
Pada akhirnya, kontribusi terbesar Allport adalah teorinya mengenal Trait. Ia
mengklarifikasikan beberapa trait, dan merevisinya menurut perkembangan
teorinya sendiri. Dia berhasil membedakan antara Trait sebagai hal yang dimiliki
setiap individu. Sumbangsih terbesar Allpor adalah pengembangan dan penarikan
perhatian psikologi pada kepribadian terutama dari perspektif bagaimana individu
memandang dirinya sendiri.
a. Traits (Personality Traits)
Traits adalah kecenderungan untuk merespon sesuatu dengan cara yang
sama pada berbagai stimulus yang berbeda. Traits bersifat konsisten. Dengan
kata lain Traits merupakan proses mental/neuro psikis yang berkapasitas dan
mampu mengarahkan stimulus yang akan menghasilkan perilaku yang adaptif
atau ekspresif.
Trait meupakan diposisi untuk berperilaku dalam cara tertentu, seperti
yang tercermin dalam perilaku seseorang pada berbagai situasi. Teori Trait
merupakan teori kepribadian yang didasari oleh beberapa asumsi, yaitu : Trait
merupakan pola konsisten dari pikiran, perasaan, atau tindakan yang
membedakan seseorang dari yang lain. Sehingga : Trait relative stabil dari
waktu ke waktu Trait konsisten dari situasi ke situasi Trait merupakan
kecenderungan dasar yang menetap selama kehidupan, namun karakteristik
tingkah laku dapat berubah karena ada proses adaptif adanya perbedaan
kekuatan, dan kombinasi dari Trait yang ada.
1) Kategori Traits
a) Individual/personal Traits / personal disposition
Sifat yang konkret, mudah dikenali dan konsisten pada diri seseorang
yang dapat enggambarkan karakteristik asli mereka.
6
b) Common Trait
Common Trait merupakan hasil dari dorongan sosial untuk
berperilaku dengan cara tertentu.
Contoh : introvert vs extrovert
2) Tipe-tipe Trait
a) Central Trait
Kecenderungan individu yang sangat bkhas dan mudah ditandai.
Contoh : Pandai,bodoh, liar, pemalu, culas, lamban.
b) Secondary Traits
Sifat yang tidak terlalu jelas atau tidak terlalu konsisten seperti sikap
dan sifat.
Contoh : si C mudah marah jika ada orang yang mencoba
menggelitiknya.
c) Cardinal Traits
Sifat yang menggambarkan hidup mereka karena perilaku individu
biasanya terdorong atau diatur Oleh sifat.
Contoh : Joan of Arc ( Self-sacrifice yang gagah berani)
b. Trait ( sifat) vs Habit ( kebiasaan )
Trait lebih umum, bik dari stimulus maupun responnya. Sejumlah habit
dapat bergabung menjadi satu Trait.
Contoh : A sejak kecil dibiasakan gosok gigi 2x sehari, sifat : cleanliness.
c. Trait ( sifat ) vs Attitude ( sikap )
1) Attitude behubungan dengan suatu objek khusus, sementara Trait tidak.
2) Attitude biasanya melibatkan penilaian terhadap objek yang dihadapi,
sementara trait tidak.
Contoh :
Attitude: pro terhadap dosen a/guru a, kontra terhadap dosen b/guru b
Trait : pemalu baik terhadap dosen a/guru a maupun dosen b/guru b
d. Type
1) Tipe menunjukkan perbedaan yang tidak selalu cocok dengan kenyataan,
Trait merupakan refleksi kenyataan yang ada pada individu
2) Tipe merangkum ketiga konsep yang lain, menggambarkan kombinasi
Trait-habit-attitude yang secara teoritik dapat ditemui pada diri seseorang.

7
Contoh :
Siswa yang memiliki tipe introvert, mempunyai Trait: pasif-menolak
mengikatkan diri dengan lingkungan eksternal( kcenderungan umum ),
salah satu habit adalah duduk ditempt terpisah/menyendiri ( kebiasaan
khusus di kelas, dan attitude tidak ramah, kurang bisa bergaul (
mengandung penilian ).
e. Intensi
Penyelidikan mengenai intensi atau keinginan individu mengenai masa
depan lebih penting daripada kejadian di masa lalu (Allport). Istilah intensi
menurut Allport meliputi beberapa pengertian:
· harapan-harapan
· keinginan-keinginan
· ambisi
· cita-cita
· niat untuk melakukan sesuatu.
Dalam hal inilah terlihat jelas perbedaan Allport dengan lain-lain ahli teori
kepribadian dewasa ini. Teori Allport menunjukkan, bahwa apa yang akan
dicoba dilakukan oleh seseorang merupakan kunci dan hal terpenting bagi apa
yang dikerjakannya sekarang. Jadi kalau dewasa ini, banyak ahli yang
mengutamakan masa lampau, maka pendapat Allport itu mirip sekali dengan
pendapat Adler dan Jung; walaupun tidak ada alasan untuk mengatakan
adanya pengaruh dari mereka ini.
f. Proprium
Proprium adalah aspek kepribadian yang teoritis lain memberi nama self
atau ego, istilah yang Allport tidak mau memakainya, karena keduanya sudah
diberi makna yang bermacam-macam oleh banyak teoritis. Proprium adalah
sesuatu yang mengenainya kita segera sadar, sehingga yang kita pikirkan
sebagai bagian yang hangat, sentral, dan privat dari kehidupan kita, sehingga
menjadi inti dari kehidupan. Ada delapan aspek proprium yang kemudian
berkembang terhadap mulai bayi sampai dewasa, sebagai berikut:
1) Usia 0-3 tahun, berkembang 3 aspek propium:
a) Aspek diri fisik (sense of bodily self) , muncul kesadaran tentang fisik,
“ini tanganku, ini jariku,” yang tampak dari usaha untuk
memanipulasinya secara sengaja.
8
b) Aspek identitas diri yang berkesinambungan (sense of continuing self
identity), anak menyadari bahwa dirinya tetap orang yang sama
walaupun terus berubah-berkembang. Ditandai dengan mengenal “nama
diri” sebagai identitas utama.
c) Aspek bangga diri (self esteem), mengembangkan perasaan bangga
dengan kemampuan diri sendiri. Anak berjuang menjadi awal atau
penyebab dari sesuatu, permainan membangun, eksplorasi terhadap
lingkungan.
2) Usia 4-6 tahun, muncul 2 aspek proprium:
a) Aspek perluasan diri (extension of self), anak mulai menyadari
keberadaan objek dan orang lain dan mengidentifikasikan obyek-obyek
yang menjadi bagian. Milik mereka. Anak mulai berbicara tentang
“mainanku, ayahku, sekolahku”.
b) Aspek gambaran diri (self image), mencakup pandangan actual dan ideal
mengenai diri sendiri, dan berkembang melalui interaksi dengan orang
tuannya, yang membuat anak menjadi sadar mengenai apa yang menjadi
harapnnya dan tingkah laku yang memenuhi harapan dan memberi
kepuasan.
3) Usia 6-12 tahun:
a) Aspek penguasaan rasional (self as rational coper), muncul sesudah
anak menyadari dia memiliki kemampuan berpikir rasional yang dapat
dipakai untuk memecahkan masalah dan dapat menyelesaikan masalah
secara rasional dan logis.
4) Usia Remaja
a) Aspek berusaha memiliki (propriate striving), ini menjadi tahap akhir,
yakni kesadaran eksistensi diri dalam tujuan atau pencapaian jangka
panjang. Menurut Allport, baru ketika orang dapat memuat rencana
berjangka panjang, bangunan self menjadi lengkap.
5) Usia Dewasa
a) Diri sendiri si tahu (self as knower), totalitas dari semua aspek yang
terdahulu kesadaran tentang diri sendiri.

9
2. Dinamika Kepribadian
a. Motivasi
Teori motivasi dari Allport adalah penolakannya terhadap masa lalu sebagai
elemen penting motivasi dan pendapatnya yang kuat mengenai pentingnya
proses kognitif seperti tujuan dan rencana dari motivasi orang dewasa.
Manusia adalah makhluk sadar dan rasional, berbuat berdasarkan pada apa
yang diharapkannya dapat tercapai, bukan berdasar pada keinginan primitif
atau pengalaman traumatik masa lalu.
1) Opportunistic functioning vs apporopriate functioning
 Opportunistic functioning: suatu hal yang memotivasi manusia adalah
kecenderungan untuk mencukupi kebutuhan/ survival biologis.
Sifatnya reaktif, past-oriented, dan biologis.
 Menurut Allport Opportunistic functioning tidak terlalu penting
dalam upaya memahami perilaku manusia. Menurutnya kebanyakan
manusia didorong oleh “sesuatu yang berbeda” yang berfungsi
sebagai bentuk ekspresi dari self (propriate functioning).
2) Functional autonomy
Motivasi individu di masa sekarang bersifat indenpenden (tidak
berhubungan dengan masa lalu).
 Preservatives functional autonomy: perilaku yang dilakukan tidak lagi
berdasar alasan asalnya tapi karena sudah terbiasa (habit).
Contoh:
“merokok awalnya untuk menunjukan adolescent rebellion, tapi
sekarang karena tidak bisa berenti merokok”.
 Propriate functional autonomy : sesutu yang mampu mengarahkan
sendiri (self-directed) daripada habit, seperti nilai hidup.
Contoh:
“waktu kecil pernah dihukum karena memikirkan diri sendiri saja,
sekarang dermawan.”
b. Otonomi Fungsional
Allport bukannyanya dikenal dengan penekanannya terhadap sifat
tetapi juga dengan konsep otonomi fungsional motif manusia. Idenya adalah
motif seorang dewasa mungkin memiliki akar pada motif menekan ketegangan

10
pada diri anak; akan tetapi, orang dewasa kehilangan motif awal ini, menjadi
independen (atau”otonom”) dari upaya penekanan ketegangan pada masa awal
ini. Apa yang pada awalnnya dimulai sebagai upaya mengurangi rasa lapar
atau kecemasan.
Otonomi fungsional. Terkadang seseorang memilih pekerjaan karena
satu alasan, seperti keamanan bekerja, dan kemudian, tetap dalam pekerjaan
itu karena motif yang lain, seperti mendapakan kesenangan dari aktivitas itu
sendiri dapat menjadi sumber kesenangan dan motivasi tersendiri. Apa yang
dimulai sebagai aktivitas yang didesain untuk mencari nafkah dapat menjadi
aktivitas menyenangkan dan menjadi tujuan tersendiri. Walaupun kerja keras
dan upaya menuju kesepurnaan mungkin awalnya termotivasi oleh keinginan
untuk mendapatkan persetujuan dari orang tua dan orang dewasa lain, kedua
hal tersebut tetap menjadi berharga terus dikejar secara independen terlepas
apakah mereka ditekankan oleh orang lain atau tidak. Dengan demikian, “apa
yang pada awalnya ekstinsik instrumental menjadi intrinsik dan menjadi
keharusan. Aktivitas yang pada awalnya melayani sebuah dorongan atau
beberapa keienginan sederhsns, sekarang menjadi dirinya sendiri, atau dengan
kalimat yang lebih sederhana, melayani gambaran diri ideal orang tersebut.
Yang berada diatas panggung adalah kedewasaan, bukan lagi masa kanak-
kanak’ (Allport, 1961, hlm. 229). Hal ini tentu saja menjadikan karya Allport
menjauh dari karya Freud, karena Freud menjelaskan perilaku orang dewasa
dalam kerangka dorongan masa kanak-kanak awal yang kekuatan
motivasional dasarnya terus bertahan sepanjag masa dewasa.

D. Perkembangan kepribadian
Allport melihat bahwa anak yang baru lahir sebagai seorang cipraan
keturunan, hanya memiliki dorongan primitif, dan tingkah laku refeks, tidak memiliki
kepribadian tetapi memiliki potensi yang akan terpenuhi atau terbentuk pada saat
pertumbuhan dan pematangannya. Dalam perkembangan proparium Allport membagi
dalam beberapa tahap sebagai berikut:

11
1. 0-3 tahun :
Pembangunan kesadaran diri: sense of bodily self (enak tidak enak), peranan
identitas diri berkelanjutan kesadaran sebagai subjek yang berkembang. Harga
diri atau kebanggan sebagai periode terakhir dimana anak ingin melakukan
sesuatu, membuatnya terwujud, dam mengontrol dunianya.
2. 4-6 tahun
Perluas diri dan gambaran diri. dalam perluasan diri, perasaan keterhubungan
dengan orang-orang dan hal-hal yang penting daam lingkungannya. Relasi anak
dan lingkungan tempat dia tumbuh terhubung sangat penting. Muncul perasaan
lingkungan tersebut adalah dalam dirinya. Gambaran diri; terkait dengan
penanaman-penanaman nilai, tanggung jawa moral, intense, tujuan dan
pengetahuan diri yang akan berperan mencolok dalam kepribadiannya kelak.
3. 6-12 tahun
Kesadaran diri, pengenalan pengenalan kemampuan diri mengatasi persoalan-
persoalan dengan alasan dan gagasan karena anak bergerak dari lingkungan
keluarga ke masyarakat.
4. Remaja
Appropriate/atriving, pembangunan tujuan dan rencana kedepan: intensi-
intensi, long-range purpose, distant goals. Perosalan utama berkaitan dengan
identitas, “apakah saya seorang anak atau dewasa?”
5. Kedewasaan
Menurut Allport, faktor utama tingkah laku orang dewasa yang matang adalah
sifat-sifat yang terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing
tingah laku.

Kualitas kepribadian yang matang menurut Allport sebagai berikut:


1. Ekstensi sense of self. Mempunyai tiga kemampuan diri.
Kemampuan berpartisipasi dan menikmati kegiatan dalam jangkauan yang luas.
Contoh : terlibat dalam kegiatan masyarakar, kemampuan diri dan minat-
minatnya dengan orang lain beserta minat mereka.
2. Akrab dengan orang lain
Kapasitas intimacy (hubungan kasih dengan keluarga dan teman) dan
comopassion (pengungkapan hubungan yang penuh hormat dan menghargai
dengan setiap orang)

12
3. Penerimaan diri
kemampuan untuk mengatasi reaksi berlebih hal-hal yang menyinggung
dorongan kasus.
Contoh: mengolah dorongan seks dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri,
atau tingkah laku lain yang merusak
4. Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan
Kemampuan memandang orang lain, objek, dan situasi. Kapasitas dan minat
dalam menyelesaikan masalah, memiliki keahlian dalam penyelesaian tugas
yang dipilih, mengatasi berbagai persoalan tanpa panik, mengasihani diri, atau
tingkah laku lain yang merusak.
5. Objektifikasi diri
Kemampuan diri untuk objekif dan memahami tentang diri dan orang lain.
Humor tidak sekedar menikmati dan tertawa tetapi juga mampu
menghubungkan secara positif pada saat yang sama pada keganjilan dan
absurdutas diri dan orang lain.
6. Filsafat hidup
Ada latar beakang yang medasari semua yang dikerjakannya yang memberikan
tujuan dan arti.
Contoh: lewat agama, untuk memahami orang dewasa dikerjakannya
membutuhkan gambaran tujuan dan aspirasinya. Tidak semua orang dewasa
memiliki kedewasaan yang matang. Bisa saja seseorang melakukan sesuatu hal
tanpa tahu apa yang ia lakukan.

E. Sifat dan perbedaan macam-macam sifat

Dalam analisis pengambaran kepribadian yang sekarang sudah klasik, Allport


dan Odbert (1913) membedakan sifat kepribadian dari unit analisis penting lain dalam
riset kepribadian , Allport dan Odbert mendifinisikan sifat sebagai “kecenderungan
yang menentukan yang ter-generalisasi dan terpersonalisasi-mode penyesuaian
individu yang konsisten dan stabil terhadap lingkungannya” (1936, hlm.26). dengan
demikian, sifat berbeda dari kondisi dan aktivitas yang mendeskripsikan aspek
kepribadian yang bersifat temporer, singkat, dan disebabkan oleh kondisi eksternal,
Chaplin, John, dan Goldberg (1988) mereplikasi klasifikasi pengambaran Allport dan
Odbert ke dakam tiga kategori: sifat, kondisi, dan aktifitas.
13
Sifat utama (cardinal trait), sifat pusat (central trait), dan disposisi sekunder
(secondary disposition). Sifat utama mengekspresikan disposisi yang demikian
meresap dan luar biasa dalam kehidupan seseorang sehingga setiap tindakan
dipengaruhi oleh sifat utama. Sebagai contoh, kita bicara tentang individu
machiavellian, julukan yang merujuk kepada gambaran pada pemerintah era
renaissance yang sukses, Niccolo Machiavelli, tentang seorang sadistis yang merujuk
kepada Marquis de Sade; dan tentang kepribadian otoriter yang melihat segala hal
secara hitam putih. Biasanya orang memiliki beberapa, jika memang ada, sifat pokok.
Sifat sentral (misalnya, kejujuran, kelembutan, dan kepedulian) mengekspresikan
disposisis yang mencakup situasi yang lebih terbatas dibandingkan sifat pokok.
Disposisi sekunder adalah sifat yang kurang mencolok mata, terjeneralisasi, dan
konsisten. Dengan kata lain, orang-orang memiliki sifat dengan berbagai tingkat
signifikasi dan keumuman.
Penting untuk menyadari bahwa Allport bahwa sifat diekspresikan dalam
semua situasi terlepas dari karakteristik situsi tersebut. Sebaiknya, Allport mengakui
nilai penting situasi dalam menjelaskan mengapa seseorang tidak berprilaku sama
sepanjang waktu. Dia menulis “sifat sering kali timbul dalam sebuah situasi dan tidak
muncul pada situasi yang lain” (Allport, 1937, hlm. 331). Misalnya, bahkan orang
yang agresif sekalipun dapat diperkirakan mengubah perilakunya dalam situasi yang
menuntut perilaku nonagresif, dan bahkan orang yang paling tertutup sekalipun akan
berperilaku terbuka dalam situasi tertentu. Sebuah sifat mengekspresikan apa yang
biasanya dilakukan seseorang pada banyak situasi bukan apa yang dilakukan pada tiap
situasi. Menurut Allport, konsep sifat dan situasi perlu untuk memahami perilaku.
Konsep sifat untuk penting menjelaskan konsistensi perilaku, sedangkan pengakuan
terhadap nilai penting situasi adalah perlu untuk menjelaskan variabel perilaku.

F. Kelebihan dan Kekurangan Teori Gordon Allport


1. Kelebihan
a. Tidak terpacu pada masa lalu
b. Memandang manusia sebagai manusia yang unik.
c. Melakukan penyelidikan kualitatif dan mengutamakan dorongan sadar
d. Pemikirannya yang teliti dan sistematis sehingga dapat mempersatukan
gagasan dari beberapa tokoh.

14
2. Kekurangan
Kekurangan Allport pada persamaan formal sehingga tidak memadai
untuk banyak penelitian, gagal menunjukkan konsep pokok yaitu fungsi
otonomi, mengasumsikan adanya diskontinuitas antara hewan-manusia, masa
kanak-kanak dan dewasa, normal dan abnormal, menekankan keunikan
kepribadian, memberikan perhatian yang terlalu sedikit pada pengaruh sosial,
dan faktor situasioanal, serta menggambarkan manusia pada gambaran terlalu
positif.

G. Implementasi Teori Gordon Allport


Implementasi Bimbingan dan Konseling dengan menggunakan teori Gordon Allport
yaitu sebagai berikut :
1. Penerapan pada Masyarakat dalam Kehidupan Sehari-hari
Penerapan teori menurut Gordon Allport ini dalam kehidupan sehari-hari
adalah ketika pada masa tranformasi dari anak-anak menuju proses remaja dari
kita bisa melihat bagaimana perubahan kepribadian itu dengan jelas. Mereka
mulai bisa mengatasi sendiri masalah-masalah yang mereka hadapi dengan
mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang mereka dapat selama ini kemudian
mereka juga tahu apa yang mereka iniginkan untuk kedepannya.
2. Penerapan pada Mahasiswa dalam Kehidupan Sehari-hari
Penerapan dalam sehari-hari pada mahasiswa adalah ketika kita sebagai
mahasiswa ingin mendalami ilmu yang membuat mereka tertarik dengan apa yang
dia pelajari kemudian mereka memikirkan apa yang mereka lakukan setelah lulus
dari jurusan yang mereka ambil.

15
BAB III
PENUTUP

A. Simpulan
Allport adalah tokoh psikologi yang terkenal dengan teorinya tentang humanistik
yang mana banyak membawa pengaruh kepada tokoh-tokoh lain setelahnya. Dalam
teorinya Allport memandang manusia sebagai mahkluk yang unik, dan menurutnya
manusia normal adalah makhluk yang rasional yang diatur oleh tujuan kesadarannya
yang berakar dimasa kini dan masa yang akan datang, bukan di masalalu. Prinsip
dasar tingkah laku adalah terus menerus bergerak dan mengalir. Karena itulah dalam
teori utama kepribadian Allport adalah motivasi yang mana memiliki fungsi untuk
bergerak atau menggerakkan.
Namun dalam teorinya ini, juga memiliki beberapa kekurangan. Yang mana pada
penelitian tentang persamaan normal Allport gagal menunjukkan konsep pokok yaitu
fungsi otonomi, dan mengasumsikan adanya diskontinuitas antara hewan dan
manusia, serta terlalu menekankan keunikan kepribadian dan memberikan perhatian
yang terlalu sedikit pada pengaruh sosial dan faktor situasional, serta menggambarkan
manusia pada gambaran terlalu positif.
B. Saran
Teori kepribadian yang diungkapkan oleh Gordon Allport, menurut saya
adalah teori yang memandang sesuatu secara realistis atau sesuai dengan kenyataan.
Karena pada teori kepribadian ini lebih menekankan atau mementingkan masa
sekarang dan masa depan yang akan kita hadapi. Hal ini sangat berbeda dengan teori
yang diungkapkan oleh Sigmund Freud yang lebih memikirkan masa lalu. Dengan
munculnya teori kepribadian ini kita jadi mengetahui proses-proses yang dilalui oleh
masing-masing individu dari mulai awal sampai pada titik dimana seseorang bisa
dikatakan sebagai orang dewasa.

16
DAFTAR PUSTAKA

Alwisol. (2017). Psikologi Kepribadian. Malang: Universitas Muhammadiyah Malang.

Hamdi, M. (2016). Teori Psikologi Kepribadian. Bandung: Penerbit Alfabet.

Sujanto, A. (1997). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi askara.

Suryabrata, S. (2011). Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers.

17