Anda di halaman 1dari 13

See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.

net/publication/330386024

ANALISA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA NELAYAN


Article · January 2017

CITATIONS READS

0 2,388

1 author:

Andi Hendrawan
Akademi Maritim Nusantara, Cilacap
24 PUBLICATIONS 2 CITATIONS

SEE PROFILE

Some of the authors of this publication are also working on these related projects:

acadmic View project

All content following this page was uploaded by Andi Hendrawan on 15 January 2019.
ANALISA KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA NELAYAN

Andi Hendrawan,
Email: andihendrawan007@gmail.com
Akademi Maritim Nusantara

PENDAHULUAN Terdapat beberapa macam perlengkapan


Latar Belakang Masalah keselamatan kerja, mulai dari pelindung
Nelayan merupakan bagian yang tak kepala, badan hingga kaki telah disiapkan.
terpisahkan dalam kehidupan laut, awalnya Dengan demikian kenyamanan kerja pada
pelut adalah nelayan. Keselamatan dan lingkungan kerja dapat tercipta, dan
kesehatan kerja adalah suatu kegiatan untuk kecelakaan yang diakibatkan karena faktor
menciptakan lingkungan kerja yang aman, kelalaian manusia maupun faktor karena
nyaman dan cara peningkatan serta kelelahan bahan resiko yang ditimbulkannya
pemeliharaan kesehatan tenaga kerja baik dapat diperkecil atau dihindari.
jasmani, rohani dan sosial. Keselamatan dan Departemen Perhubungan (2002)
kesehatan kerja secara khusus bertujuan menyatakan bahwa kecelakaan kapal
untuk mencegah atau mengurangi penangkap ikan terus meningkat dalam
kecelakaan dan akibatnya, dan untuk kurun waktu 10 tahun terakhir ini terutama
mengamankan kapal, peralatan kerja, dan ketika menghadapi gelombang laut yang
produk hasil tangkapan. Komponen tinggi. Kapal penangkap ikan di bawah
terpenting dalam menjaga keselamatan jiwa ukuran 50 GT sangat sensitif dan riskan
dan keselamatan peralatan kerja adalah ketika berlayar pada kondisi laut ini karena di
pengetahuan tentang penggunaan samping ukurannya yang kecil juga tidak
perlengkapan keselamatan kerja bagi awak mampu menghadapi terpaan ombak besar
kapal, utamanya adalah awak kapal bagian sehingga kapal itu tenggelam. Dari data
mesin. Penggunaan alat perlengkapan kecelakaan kerja awak kapal perikanan di
keselamatan kerja ini telah di standarisasi Indonesia pada tahun 2001-2008 telah terjadi
baik secara nasional maupun internasional, sebanyak 607 kecelakaan, dengan penjelasan
sehingga wajb digunakan ketika akan yaitu data yang diperoleh dari Subdit
melaksanakan kegiatan kerja utamanya Pengawakan Kapal Perikanan menyebutkan
adalah kegiatan kerja di ruang mesin. bahwa pada tahun 2001-2002 terjadi 584
kecelakaan karena cuaca buruk, kurangnya menjadi tulang punggung keluarga. Melaut
kesadaran awak kapal, konflik nelayan, kapal adalah aktivitas untuk mencari nafkah buat
yang tidak laik laut, tidak adanya informasi keluarga mereka. Lalu ketika mereka tiada,
kondisi cuaca dan penyebab lainnya. Jumlah maka siapa yang akan menafkahi keluarga
korban dalam kecelakaan tersebut sebanyak mereka? Sangat memilukan. Kejadian
75 orang. Pada tahun 2003-2005 Masyarakat hilangnya nelayan Aceh di laut akibat karam
Pemerhati Pelayaran, Pelabuhan dan kapal yang mereka tumpangi, bukan kejadian
Lingkungan Maritim (MAPPEL) sekali dua kali yang kemudian dimuat oleh
melaporkan telah terjadi 9 kecelakaan kapal media massa lokal atau nasional. Dan
perikanan karena kebakaran, tenggelam dan kebanyakan ketika kabar hilangnya nelayan
perompakan dengan korban jiwa sebanyak di laut, esok atau lusa, kita memperoleh kabar
24 orang. Komisi Nasional Keselamatan bahwa mereka ditemukan tak bernyawa.
Transportasi (KNKT) pada tahun 20072008 Pertanyaan sederhananya adalah bagaimana
melaporkan telah terjadi 204 kecelakaan menimalisir kecelakaan di laut yang dapat
kapal dengan korban jiwa 306 orang, dimana berakibat pada meninggalnya kru atau anak
kecelakaan kapal ikan sebanyak 14 kasus. buah kapal? Penyebab kecelakaan anak buah
(Jasman, 2015) kapal perikanan Di dalam Jurnal Teknologi
Ada kejadian yang boleh dibilang Perikanan dan Kelautan IPB yang berjudul
berulang setiap tahunnya, nelayan sebagai "Fishing vessel safety from national dan
aktor perikanan mengalami kecelakaan international regulation" yang ditulis
dalam aktivitas penangkapan ikan. Kasus 12 bersama oleh Staf Pusat Pelatihan Kelautan
Mei 2013 silam yang terjadi di Aceh Barat dan Perikanan BPSDMKP,
Daya, Provinsi Aceh, yang dimuat oleh koran Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP)
Serambi Indonesia dimana sebanyak 12 dan akademisi Fakultas Perikanan dan Ilmu
orang nelayan di Aceh Barat Daya hilang di Kelautan IPB, setidaknya ada 5 faktor
laut. Semakin memilukan, ketika kita penyebab kecelakaan ABK kapal perikanan,
mengetahui, para nelayan ini adalah seorang yaitu rendahnya kesadaran awak kapal
ayah dari anak-anak mereka dan suami dari tentang keselamatan kerja pada pelayaran
istri mereka yang mereka tingga di rumal dan kegiatan penangkapan, rendahnya
ketika pergi melaut atau seorang anak yang penguasaan kompetensi keselamatan
pelayaran dan penangkapan ikan, kapal tidak diharapkan mampu mencegah atau
dilengkapi peralatan keselamatan sebagai- menimalisir terjadinya kecelakaan melaut.
mana seharusnya, cuaca buruk seperti Tersedianya alat keselamatan di kapal
gelombang besar dan menderita sakit keras perikanan dan di pelabuhan perikanan Selain
dalam pelayaran. Artinya, selain faktor cuaca dengan pelatihan, sertifikasi bagi nelayan,
buruk seperti gelombang besar, ada faktor maka perlu dipastikan kelengkapan alat
kesalahan manusia (human factor) dan kapal keselamatan di setiap kapal perikanan yang
serta peralatan keselamatan. Kejadian naas akan melaut. Alat-alat keselamatan yang
atau musibah yang tidak serta merta kerena seharusnya dimiliki oleh boat nelayan yaitu
faktor alam, oleh karena itu keahlian atau skil jaket pelampung (life jacket), pelampung
dari ABK serta peralatan keselamatan dan penolong (life bouy), dan alat isyarat visual
kelayakan dari kapal/boat seharusnya seperti isyarat asap apung (buoyant smoke
menjadi perhatian juga, baik oleh awak kapal signal) yang digunakan pada siang hari dan
perikanan maupun pemerintah, utamanya pada malam hari dapat menggunakan obor
pengawas perikanan. Pengembangan tangan (Red hand flare) atau obor parasut
Sumberdaya Manusia/ABK Perikanan (parachute signal). (Hafimmudin,2015)
Untuk meminimalisir kecelakaan melaut
bagi kapal perikanan dari faktor kesalahan Tujuan
manusia, dan dalam rangka terwujudnya 1. Mengambarkan tingkat pengtahuan K3
budaya keselamatan operasi penangkapan nelayan
ikan, sebagaimana yang telah diatur di dalam 2. Menggambarkan pola penyakit nelayan
Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009, 3. Menggambarkan status Gizi nelayan
bahwasanya pemerintah menyelenggarakan KAJIAN PUSTAKA

pendidikan, pelatihan dan penyuluhan Keselamatan dan Kesehatan Kerja

perikanan untuk meningkatkan Nelayan

pengembangan sumberdaya manusia Keselamatan dan kesehatan kerja (K3)

perikanan. Sekurang-kurangnya satu satuan secara menyeluruh dapat dijelaskan bahwa

pendidikan dan/ atau pelatihan. setiap pekerja berhak memperoleh pelayanan

Pengembangan sumberdaya manusia dalam keselamatan dan kesehatan kerja terlepas

hal ini nelayan, dalam bentuk pelatihan dari status sektor industri formal atau
informal, besar kecilnya perusahaan, dan seperti kekurangan gizi, dermatitis, diare,
jenis pekerjaan. Perkembangan dan dan infeksi saluran pernafasan atas (ISPA)
pertumbuhan kedua sektor industri tersebut yang disebabkan karena persoalan
selalu diiringi dengan masalah besar lingkungan seperti sanitasi, air bersih, dan
kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja indoor pollution (Cahyawati, 2010). Dalam
(Dharmawirawan dan Modjo, 2012). proses pekerjaannya nelayan merupakan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) juga pekerjaan yang dilakukan di luar gedung
dibutuhkan oleh nelayan. Pelayanan serta terpapar langsung dengan sinar
keselamatan dan kesehatan kerja pada matahari sehingga nelayan adalah salah satu
nelayan dapat berupa pembuatan pos upaya pekerjaan yang berisiko untuk mengalami
kesehatan kerja (UKK), pelatihan katarak (Kementerian Kesehatan Republik
pemahaman tentang K3 untuk nelayan, Indonesia, 2013).
peningkatan sarana dan prasarana berupa
media penyuluhan (buku tentang K3), Nelayan
pelampung, alat pelindung diri pada nelayan Nelayan adalah suatu kelompok
selama melaut. Upaya kesehatan kerja masyarakat yang kehidupannya bergantung
(UKK) yang perlu dilakukan antara lain: langsung dari hasil laut, baik dengan cara
pembentukan kader UKK bidang perikanan melakukan penangkapan ataupun budidaya.
dan kelautan, penyuluhan kesehatan kerja Mereka pada umumnya tinggal di pinggir
tentang risiko pekerjaan, pencegahan pantai, sebuah lingkungan pemukiman yang
kecelakaan kerja, penggunaan alat pelindung dekat dengan lokasi kegiatannya. Mata
diri, dan kesehatan lingkungan kerja. pencaharian nelayan adalah segala sesuatu
Kegiatan upaya kesehatan kerja (UKK) pada yang berhubungan dengan perikanan, berupa
nelayan yang bisa dikembangkan antara lain; proses penyediaan rumah ikan, peralatan
pemeriksaan kesehatan sebelum kerja, penangkapan, proses penangkapan,
berkala dan khusus, pemantauan kesehatan penjualan, dan seterusnya. Dari bangunan
lingkungan, dan pengobatan penyakit akibat struktur sosial, kelompok nelayan terdiri atas
kerja (Martiana dan Wilujeng, 2006). Dilihat komunitas yang heterogen dan homogen.
dari aspek kesehatan, nelayan berisiko Komunitas nelayan terdiri dari orang-orang
terhadap munculnya masalah kesehatan yang berbeda dari latar belakang
pendidikannya, namun mereka berasal dari akan digunakan untuk melaut. Pada
daerah yang sama sehingga mereka aktivitas persiapan ini terdapat bahaya
membentuk suatu komunitas/kelompok (hazard) ergonomi yang timbul karena
nelayan. Ciri-ciri komunitas nelayan antara nelayan mengangkat perahu secara
lain: manual. Selain itu, terdapat hazard
1. Dari segi mata pencaharian, nelayan kebisingan yang bersumber dari suara
adalah mereka yang segala aktivitasnya mesin perahu.
berkaitan dengan lingkungan laut dan
pesisir. 2. Tahapan penangkapan ikan Pada proses
2. Dari segi cara hidup, komunitas nelayan penangkapan ikan, terdapat beberapa
adalah komunitas gotong royong dan kegiatan yang dilakukan oleh nelayan,
saling tolong menolong. antara lain: pemasangan alat
3. Dari segi keterampilan, nelayan tangkap/menurunkan jaring ke laut serta
merupakan pekerjaan berat namun penggiringan ikan dan pengangkatan
mereka merupakan pekerjaan yang jaring. Pada proses pemasangan jaring
diturunkan oleh orang tua, bukan serta pengangkatan jaring terdapat
dipelajari secara professional. hazard ergonomi karena nelayan bekerja
dengan posisi berdiri bertumpu pada
Proses Kerja Nelayan kedua kaki untuk menahan
Proses penangkapan ikan yang keseimbangan badan disertai dengan
dilakukan oleh nelayan dibagi menjadi tiga posisi membungkuk. Beban akan
tahapan umum menurut yaitu: bertambah ketika kondisi laut sedang
1. Tahapan persiapan Tahapan persiapan berombak besar. Selain itu, selama
dilakukan oleh nelayan pada saat proses melaut terdapat pula hazard
menuju lokasi penangkapan, kegiatan kebisingan yang bersumber dari suara
yang dilakukan pada tahap persiapan ini mesin perahu serta hazard fisik berupa
meliputi kegiatan pengecekan alat cuaca kerja panas.
tangkap (jaring), pengecekan terhadap
mesin perahu serta memindahkan perahu 3. Tahapan penanganan hasil tangkapan
yang semula berada di tepi pantai yang Tahapan penanganan hasil tangkapan
merupakan tahap akhir dari proses kerja pada pukul 03.00 dini hari atau setelah
nelayan. Pada tahap ini dilakukan subuh dan kembali pada pukul 09.00
aktivitas penyortiran terhadap hasil pagi.
tangkapan secara manual. Pada tahap ini
terdapat hazard biologi yang berasal dari METODOLOGI PENELITIAN Populasi
ikan, nelayan banyak yang tergigit atau Penelitian ini dilakukan pada seluruh
tertusuk duri ikan. Selain itu, terdapat nelayan yang berada di Desa Jeruklegi
hazard ergonomi pada proses ini karena Wetan kecamatan Jeruklegi Kabupaten
proses penyortiran dilakukan secara sebanyak 30 orang.
manual yaitu dengan cara memisahkan
satu per satu hasil tangkapan sesuai Sampel
dengan ukuran ikan. Sampel yang akan diambil adalah
sebagian atau seluruh populasi nelayan
Dalam proses kerjanya, terdapat tiga yang berada di Desa Jerukegi Wetan
pola penangkapan ikan yang dilakukan kecamtan Jeruklegi Kabupaten sebanyak 30
nelayan yaitu: orang.

1. Pola penangkapan lebih dari satu hari Sumber Data Penelitian


Penangkapan ikan yang dilakukan pada Data sekunder untuk penelitian ini
pola ini merupakan penangkapan ikan diperoleh dari internet dan pustaka dari
lepas pantai dan besar kecilnya perahu berbagai sumber buku. Data primer
menentukan lamanya melaut. diperoleh melalui wawancara langsung
kepada responden dengan bantuan
2. Pola penangkapan ikan satu hari Pada kuesioner yang dibagikan dan diisi oleh
pola ini nelayan biasanya berangkat nelayan yang berada di Desa Jeruklegi
melaut sekitar pukul 14.00 serta kembali Wetan kecamtan Jeruklegi
pada pukul 09.00 hari berikutnya. Kabupaten sebanyak 30 orang

3. Pola penangkapan ikan tengah hari


Nelayan pada pola ini berangkat melaut
Instrumen Penelitian Kegiatan memasukan data dengan
Instrumen penelitian yang menggunakan program komputer SPSS
digunakan berupa kuesioner yang akan for Windows Versi 10.0.
dibagikan dan diisi langsung oleh nelayan
yang berada di Desa Jeruklegi Wetan 4. Tabulasi
kecamtan Jeruklegi Kabupaten sebanyak 30 Data yang sudah melalui tahapan coding
orang dan alat kantor berupa kalkulator dan dan entri data selanjutnya akan
komputer dengan menggunakan program dikelompokan sesuai dengan tujuan
STATISTIK. penelitian. Berdasarkan tujuan penelitian
yang ada, maka jenis tabulasi yang
Pengolahan Data dipakai adalah tabulasi silang antara
Pada pengolahan data dilakukan variabel bebas dan variabel terikat.
secara manual serta menggunakan bantuan
program komputer SPSS for Windows Versi
10.0 dengan langkah-langkah : HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Editing Penelitian dilakukan pada
Dalam tahapan ini data yang telah 30 nelayan yang berada di Desa Jeruklegi
terkumpul akan dikoreksi kembali untuk wetan yang merupakan nelayan tradsional.
mengetahui kesalahan yang ada. Editing Dengan hasil sebagai berikut.
dilakukan di lapangan untuk
mempermudah koreksi dari kesalahan
tersebut.
2. Coding
Merupakan usaha untuk mengelompokan Tabel 1.
data menurut variabel penelitian yang ada. Distribusi Frekuensi Tingkat
Coding dilakukan untuk mempermudah Pengetahuan
dalam proses tabulasi dan analisa data Nelayan
No. Pengetahuan F %
selanjutnya.
1. Baik 1 3,3

3. Entri Data 2. Cukup 6 20,0


3 Kurang 23 76,7 Jumlah 30 100,0
Jumlah 30 100,0
Dari tabel di atas terlihat bahwa status
Dari tabel di atas terlihat bahwa gizi diperoleh sebagai besar berstatus gizi
tingkat pengetahuan tentang keselamatan dan normal yaitu 24 orang atau 80 % dan yang
kesehatan kerja diperoleh sebagai besar nersttus gizi kurus 5 orang atau 16,6 %
berpengatahuan kurang yaitu 23 orang atau sedang yang bergizi lebih 1 orang yaitu 3,3
76,7% dan yang pengetahuan cukup 6 orang %. Menurut penelitian Hendrawan (2016)
atau 20 % sedang yang baik hanya 1 orang mengatakan bahwa sebagaian besar status
yaitu 3,3 %. gizi para nelayan pada status gizi normal
Tingkat pengetahuan nelayan di karena tingkat ekonomi yang sudah membaik
pengaruhi dari pengalaman dan dapat
menambah pengetahuan seseorang tentang Tabel 3.
sesuatu yang bersifat informasi. Dengan Distribusi Frekuensi Kejadian Penyakit
No. Gizi F %
budaya yang dimiliki seseorang dengan
tingkat pengetahuan yang baik bisa 1. Katarak 10 33,3

memenuhi kebutuhannya dengan sikap dan 2. Gatal 18 60,0


kepercayaan yang dimiliki. Menurut 3 Darah 2 6,7
tinggi/diabetes
Notoatmodjo (2005) merupakan suatu cara
untuk memperoleh kebenaran dan Jumlah 30 100,0
pengalaman dapat menuntun seseorang
untuk menarik kesimpulan dengan benar, Dari tabel di atas terlihat bahwa status
sehingga dari pengalaman yang benar gizi diperoleh sebagai besar pernah
diperlukan berfikir yang logis dan kritis. mengalami berpenyakit gatal yaitu 18 orang
Tabel 2. atau 60 % dan yang pernah
Distribusi Frekuensi Status Gizi Nelayan berpenyakit katarak 10 orang atau 33,6 %
No. Gizi F % sedang yang pernah mengalami
1. Lebih 1 3,3 hipertensi/diabetes 2 orang yaitu 6,7 %.
2. Normal 24 80 Pekerjaan dalam hal ini berhubungan
3 kurus 5 16,6 dengan paparan sinar ultraviolet, dimana
sinar ultraviolet merupakan faktor risiko % sedang yang pernah mengalami
katarak. Penelitian yang dilakukan oleh hipertensi/diabetes 2 orang yaitu 6,7 %.
Hendrawan, dkk., (2013) menemukan pada
kelompok pekerja lapangan dengan tingkat
kematangan katarak matur persentasenya DAFTAR PUSTAKA
lebih tinggi (60%) dibanding dengan
kelompok pekerja ruangan (40%) demikian Aisyah F., Santi D.N., & Chahaya, I. (2013).
Hubungan Hygiene
juga untuk tingkat kematangan katarak Perorangan dan Pemakaian Alat
imatur. Pelindung Diri dengan Keluhan
Gangguan Kulit pada
Pekerja Pengupas Udang di
KESIMPULAN Kelurahan Pekan Labuhan
Kecamatan Medan Labuhan Tahun
1. Berdasarkan penelitian terlihat bahwa
2012. Lingkungan dan Kesehatan
tingkat pengetahuan tentang keselamatan Kerja (Vol. 2, No.
2).
dan kesehatan kerja diperoleh sebagai
http://portalgaruda.org/index.php?r
besar berpengatahuan kurang yaitu 23 ef=browse&mod=viewarticle
orang atau 76,7% dan yang pengetahuan &article=51450. Diakses 19
Januari 2015
cukup 6 orang atau 20 % sedang yang
baik hanya 1 orang yaitu 3,3 %. Arikunto, S. (2010). Prosedur Penelitian
Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta:
2. Berdasarkan penelitian bahwa status gizi
Rineka Cipta
diperoleh sebagai besar pernah
mengalami berpenyakit gatal yaitu 18 Baughman, D.C., & Hackley, J.C. (2000).
Keperawatan Medikal Bedah Buku
orang atau 60 % dan yang pernah Saku Untuk Brunner dan Suddart
berpenyakit katarak 10 orang atau 33,6 (Yasmin Asih, Penerjemah).
Jakarta: EGC.
% sedang yang pernah mengalami Bickley, L. S. (2014). Buku Ajar
Pemeriksaan Fisik dan Riwayat
hipertensi/diabetes 2 orang yaitu 6,7 %.
Kesehatan (Andry Hartono,
3. Berdasarkan penelitian bahwa status gizi Penerjemah) (Edisi 8). Jakarta:
diperoleh sebagai besar pernah EGC

mengalami berpenyakit gatal yaitu 18 BPS. (2014). Laporan Bulanan Data


orang atau 60 % dan yang pernah Sosial Ekonomi (Edisi 55).
berpenyakit katarak 10 orang atau 33,6
http://www.bps.go.id/index.php/pu
blikasi/ downloadFile/425. Diakses
25 Faridawati, Y. (2013). Hubungan antara
Januri 2015 Personal Hygiene dan
Karakteristik Individu dengan
Brink, P.J., & Wood, M.J. (2000). Langkah Keluhan Gangguan Kulit pada
Dasar dalam Perencanaan Riset Pemulung (Laskar Mandiri) di
Keperawatan: dari Kelurahan Sumur Batu Kecamatan
pertanyaan sampai Bantar Gebang Tahun 2013.
proposal (Aniek http://repository.uinjkt.ac.id/dspace
Maryunani, Penerjemah). Jakarta: /browse?type=author&value=
EGC Yeni+ Faridawati. Diakses 25
Desember 2014
Cahyadi, I. N & Budiono, I. (2011). Faktor
yang Berhubungan dengan FKUI (Fakultas Kedokteran Universitas
Kejadian Dematitis pada Nelayan. Indonesia). (2007). Ilmu Penyakit
KEMAS: Jurnal Kesehatan kulit dan Kelamin (Edisi 5).
Masyarakat (Vol. 6, No. 2). Jakarta: Balai penerbit FKUI
http://journal.unnes.ac.id/nju/index
.php/kemas/article/view/1766/ Girsang, W. (2009, 26 Februari).
1959. Diakses 19 Januari 2015 Dampak Negatif
Penggunaan Pestisida.
Dahlan, S. (2012). https://usitani.wordpress.com/categ
Langkah-Langkah Membuat ory/
Proposal Penelitian Bidang Januari 2015
Kedokteran dan Kesehatan.
Jakarta: CV Sagung Seto
Graham-Brown, R., & Burns, T. (2005).
Lecture Notes Dermatologi (M.
Darmawan, D. (2013). Metode Penelitian Anies Zakaria, Penerjemah) (Edisi
Kuantitatif. Bandung: 8). Jakarta: Penerbit Erlangga
PT Remaja Rosdakarya.
Haerani. (2010). Penerapan Keselamatan dan
Departemen Pendidikan Nasional. (2014). Kesehatan Kerja di Bidang
Kamus Besar Bahasa Indonesia Pertanian di Indonesia. Media
(Edisi 4). Jakarta: PT Gramedia Kesehatan Masyarakat Indonesia
Pustaka Utama (Vol. 6, No. 3).
http://portalgaruda.org/indcleex.ph
Efendi F., & Makhfudli. (2009). p? ref=browse&mod=
Keperawatan Kesehatan
viewarticle&article=16579.
Komunitas: Teori dan Praktik
Diakses 23 Desember 2014
dalam Keperawatan.
Jakarta:
Harahap, Marwali. (2000). Ilmu Penyakit
Salemba Medika
Kulit. Jakarta: Hipokrates Haffifudin, go.idindex.phpjekarticleview1690pd
2015, Keselamatan Nelayan, f. Diakses Tanggal 28 April 2015
http://www.kompasiana.com/hafinuddin
Jasman, 2015, Aspek Keselamatan Kerja
Hendrawan,2013, kejadian katarak agroteKapal knologi/Purse Seine.
hubungan dengan
pencahayaan pada tenaga Diakses di Tempat 27
kerja asmad art Pelelangan Ikan Pelabuhan Kota
galery,laporan penelitian , CIlacap Tegal, Juenal Oceatek, Tegal

Hendrawan,2016, Kesehatan Kerja pada Jeyaratnam, & Koh, D. (2010). Buku Ajar
Nelayan, Prosiding Seminar Praktek Kedokteran Kerja (Suryadi,
Nasional Kemaritiman, CIlacap Penerjemah). Jakarta: EGC

Ismy F., Ashar T., & Dharma, S. (2013). Kementerian Kesehatan RI. (2009). Profil
Analisis Kualitas Air dan Keluhan Kesehatan Indonesia Tahun 2008.
Gangguan Kulit pada Masyarakat Jakarta: Kementerian Kesehatan.
Pengguna Air Sungai Siak di http://www.depkes.go.id/resources/
Pelabuhan Sungai Duku Kelurahan download/pusdatin/profilkesehatan
Tanjung Rhu Kecamatan Limapuluh -indonesia/profilkesehatan-
Kota Pekanbaru Tahun 2013. Jurnal indonesia-2008.pdf. Diakses 17
Lingkingan dan Keselamatan Kerja Nopember 2014
(vol 2, No 3).
httpejournal.litbang.depkes.
_______________________. (2012). Profil
Kesehatan Indonesia Tahun 2011.
Jakarta: Kementerian Kesehatan.
http://www.depkes.go.id/resources/
download/pusdatin/profilkesehatan-
indonesia/profilkesehatan-indonesia-
2011.pdf. Diakses 17 Nopember 2014
View publication stats