Anda di halaman 1dari 10

Ektoparasit pada Ruminansia Kecil

Anamnesa

Sekelompok domba di URR FKH IPB yang diambil sampel ektoparasit memiliki tubuh
yang kurus dan gizi yang buruk. Berdasarkan koleksi ektoparasit yang dilakukan di URR FKH
IPB jenis ektoparasit yang ditemukan adalah berupa kutu Damalinia ovis. Bulu dan rambut
domba terlihat kusam dan dipenuhi larva kutu. ektoparasit yang ditemukan pada ruminansia
kecil dalam hal ini domba dan kambing yang dilakukan di Unit Rehabilitasi Reproduksi (URR)
FKH IPB).

No Lokasi Jenis hewan Jenis ektoparasit


1 URR Domba Damalinia ovis

Domba yang diambil sampel ektoparasit memiliki tubuh yang kurus dan gizi yang
buruk. Berdasarkan koleksi ektoparasit yang dilakukan di URR FKH IPB jenis ektoparasit yang
ditemukan adalah berupa kutu Damalinia ovis.

Damalinia ovis

Taksonomi dan Klasifikasi


Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Phthiraptera
Family : Trichodectidae
Genus : Damalinia
Spesies : Damalinia ovis
Gambar 1 Damalinia ovis yang ditemukan pada koleksi ektoparasit di domba (Dokumentasi Pribadi
2019)

Morfologi
Menurut James (2013), Damalinia ovis memiliki ciri-ciri berupa ukuran tubuh sepanjang
1.5-2 mm berwarna kuning pucat, memilki garis- garis transversal berwarna coklat di bagian
abdomen, serta memiliki kepala lebar berwarna coklat kemerahan. Ukuran tubuh jantan dari
kutu ini lebih kecil dibanding dengan kutu betina dan pada jantan lebih memiliki abdomen
yang lebih meruncing.

Siklus hidup
Kutu betina dewasa akan bertelur sebanyak satu hingga dua telur per hari, kemudian
akan melekatkannya secara tepisah ke serabut wol hingg 12 mm di dekat kulit domba. Seekor
kutu betina dewasa akan memproduksi hingga 30 telur sepanjang hidupnya. Telur-telur
tersebut akan menetas setelah 9-25 hari, bergantung pada waktu dan lokasi geografis. Tahap
perkembangan tiga instar larva akan berangsung selama sekitar 3 minggu. Kutu betina akan
kawin dalam beberapa jam stelah mengganti kulit (moulting) menjadi dewasa dan mulai
bertelur dalam 3-4 hari. Keseluruhan siklus hidup kutu ini berlangsung selama sekitar 32-34
hari. Kutu ini lebih banyak ditemukan di sepanjang garis mid-dorsal dan sisi-sisi tubuh domba
(James 2013).

Gambar 2 Siklus hidup Damalinia ovis (James 2013)

Ektoparasit pada Anjing


Anamnesa

Koleksi ektoparasit pada anjing dengan ras Beagle bernama milkita dilakukan di
kandang anjing RSHP. Ektoparasit yang ditemukan adalah caplak anjing (Rhipicephalus
sanguineus). Anjing memiliki nafsu makan yang baik dan keadaan badan kurus. Lingkungan
terlihat ada penumpukkan kotoran di luar depan kandang.

Rhipicephalus sanguineus
Pemeriksaan fisik dilakukan untuk mengetahui keadaan umum hewan. Pemeriksaan
secara inspeksi, anjing sering menggaruk tubuhnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan ditemukan
adanya infestasi oleh caplak. Hasil identifikasi caplak pada preparat kering setelah dicocokkan
dengan kunci identifikasi (Hadi dan Soviana 2010), pada bagian kapitulum bentuk pedipalpus
tidak berbukit, dan pada bagian posteior abdomen terdafat feston diketahui caplak tersebut
adalah Rhipicephalus sanguineus (Gambar 1).

Gambar 3 Rhipicephalus sanguineus pada anjing (dokumentasi pribadi)

Caplak R. sanguineus tersebut ditemukan menempel pada bagian sekitar mata, telinga
dan abdominal tubuh anjing. Hal ini sesuai dengan pernyataan Dantas-Torres (2010) R.
sanguineus dapat menempel dimana saja pada tubuh inang, namun lebih menyukai kepala,
telinga, ruang intradigit, punggung, regio inguinal, dan axilla. Caplak mudah dikenali karena
ukurannya yang besar hingga 30 mm dengan bentuknya yang memiliki tiga pasang kaki (tahap
belum dewasa) dan empat pasang kaki (tahap dewasa) serta berwarna coklat gelap (Levine
1990). Caplak betina bagian punggungnya berbentuk heksagonal. Parasit ini paling sering
ditemukan di kepala, leher, telinga, dan telapak kaki anjing. Caplak jantan memiliki lempeng
adrenal menyolok. Menurut Lord (2001) R. sanguineus diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Arachnida
Ordo : Parasitiformes
Sub Ordo : Metastigmata
Famili : Ixodidae
Genus : Rhipicephalus
Spesies : Rhipicephalus sanguineus

Daur hidup caplak terdiri dari telur, larva, nimfa, dan dewasa. Dari larva sampai dewasa
dapat menempel pada satu individu inang ataupun tiap tahap memiliki inang yang berbeda-
beda. Caplak jantan ataupun betina menghisap darah sepanjang hidupnya. Setelah kenyang
menghisap darah sebanyak 1.5–2 ml hingga bobotnya mecapai 100 kali lipat, caplak betina
jatuh ke tanah dan kemudian bertelur, caplak betina dapat bertelur sampai 5000 butir pada suhu
24°C setelah bertelur caplak tersebut mati, sedangkan pada caplak jantan akan mati setelah
perkawinan. Setelah telur menetas, akan muncul larva yang mencari induk semang untuk
menghisap darah. Setelah itu, larva akan berubah menjadi caplak dewasa (Lord 2001; Levine
1990). Perkembangan caplak sangat ditentukan oleh cuaca lingkungannya, suhu yang lebih
hangat membuat perkembangan caplak lebih cepat, tetapi caplak memang toleran terhadap
berbagai kondisi. Telur yang menetas menjadi larva, larva tersebut merayap ke ujung-ujung
rumput untuk kemudian menempel pada hewan-hewan yang melewatinya. Pada rumput larva
dapat bertahan sampai 3 bulan (Lord 2001).
Caplak memiliki 2 tempat kehidupannya yaitu kehidupan di tubuh hewan yang disebut
stadium parasitik dan kehidupan di luar tubuh hewan yang disebut stadium non-parasitik.
Kehidupan caplak pada stadium parasitik dimulai dari saat larva menempel pada hewan sampai
caplak dewasa jenuh darah (engorged) dan jatuh dari tubuh hewan, sedangkan kehidupan
caplak pada stadium non-parasitik dimulai dari saat caplak jenuh darah jatuh dari hewan sampai
stadium larva generasi berikutnya sebelum menempel pada tubuh hewan (Lord 2001).
Umumnya caplak hidup pada kelembaban 40-80%, suhu dengan 19-40ºC (Hadi dan Soviana
2012).
R. sanguineus merupakan caplak berumah tiga, artinya untuk setiap tahapan hidupnya
diperlukan tiga inang yang berbeda. Di lingkungan domestik (rumah), caplak ini dapat
melengkapi siklus hidupnya pada anjing yang sama walaupun juga dapat terjadi dari anjing
yang berbeda karena pergaulan hewan peliharaan dengan lingkungannya, namun juga dapat
terjadi pada tiga inang dengan jenis hewan yang berbeda. R. sanguineus lebih menyukai anjing
sebagai induk semangnya, akan tetapi juga dapat ditemukan pada kelinci, tikus, kucing, kuda,
sapi, domba, anjing dan burung merpati (Lord 2001).
R. sanguines merupakan vektor dari beberapa jenis penyakit pada anjing, seperti
Ehrlichiosis (Ehrlichia canis), Babesiosis (Babesia sp.), Coxiella burnetii, Rickettsia conorii,
dan Rickettsia rickettsia (Dantas-Torres 2010). Gigitan R. sanguineus menimbulkan
ketidaknyamanan pada hewan seperti kegatalan dan kegelisahan. Akibat gigitan caplak
membuat luka pada kulit akibat garukan yang dilakukan secara terus menerus, dapat
menimbulkan anemia, dan infeksi sekunder (Levine 1990). Gejala klinis yang lain adalah
dermatosis yaitu radang pada kuit yang disertai luka dan bengkak serta merupakan predisposisi
timbulnya miasis dan infeksi sekunder, otokariasis terjadi jika infestasi caplak pada saluran
telinga, envenomiasis yaitu reaksi alergi dan gangguan sistemik akibat inokulasi cairan air liur
caplak, dan paralisis akibat toksin yang dikeluarkan oleh caplaj dan menyerang saraf (Levine
1990).
Manajemen peliharaan anjing erat kaitannya dengan derajat infestasi caplak. Anjing
yang dipelihara di dalam rumah tidak akan terinfestasi caplak jika dibanding dengan anjing
yang dibiarkan bebas di kawasan rumah. Perilaku dan siklus hidup caplak ini yang sering
meletakkan telurnya di lingkungan sekitar inang juga menjadi faktor pendukung tingginya
derajat infestasi. Faktor lain yang dapat mempengaruhi derajat infestasi caplak adalah masih
kurangnya kepedulian pemilik terhadap kesejahteraan hewan dengan pemberian obat
antiektoparasit. Manajemen pemeliharaan yang baik dapat mengendalikan populasi caplak dan
menghambat atau memotong siklus hidup caplak. Manajemen pemeliharaan terdiri dari
manajemen lingkungan, kadang, dan anjing itu sendiri. Kandang dilakukan pembersihan secara
rutin dengan menggunakan desinfektan hingga ke celah-celah dan seluruh bagian kandang
yang bertujuan agar caplak yang bersarang maupun telur-telur caplak dapat dibersihkan.
Anjing dimandikan secara rutin dengan shampo yang mengandung bahan anti caplak seperti
permethrin, cypermethrin, dan deltamethrin. Penggunaan obat topikal yang diteteskan pada
tungkuk anjing seperti Amitraz cukup efektif membunuh caplak atau dengan pemberian
Ivermectin dengan dosis 0.3mg/kg setiap bulan untuk pengendalian caplak (Astyawati et al.
2008).

Ektoparasit pada Kuda

Anamnesa

Kandang kuda URR merupakan tempat dilakukan koleksi ektoparasit. Kuda terawat dan
selalu dibersihkan setiap harinya. Koleksi menggunakan alat engine trap. Ektoparasit yang
didapatkan adalah lalat Musca domestica dan Tabanus megalops dan Tabanus rubidus.

Taksonomi dan Klasifikasi


Kingdom : Animalia
Phylum : Arthropoda
Kelas : Hexapoda
Ordo : Diptera
Family : Muscidae, Challiporidae
Genus : Musca
Spesies : Musca domestica

a
Gambar 4 Musca domestica yang ditemukan pada areal sekitar kandang domba di URR FKH IPB
(Dokumentasi pribadi 2019)

Morfologi dan Siklus Hidup


Musca domestica memiliki bagian tubuh terbagi menjadi 3 bagian, kepala, thoraks, dan
abdomen. Lalat ini berukuran medium dan berwarna abu-abu serta memiliki empat pita yang
berupa garis memannjang pada permukaan thoraks.
Secara umum siklus hidup lalat sebagai insekta mengalami pola metamorfosa sempurna
yang terdiri atas stadium telur, stadium larva, stadium pupa, serta stadium dewasa.
Perkembangan lalat memerlukan waktu 7-22 hari, tergantung dari suhu dan makanan yang
tersedia (Hanidhar 2007).

Gambar 5 Siklus hidup lalat (Hanidhar 2007)

Lalat betina pada stadium telur dapat menghasilkan telur pada usia 4-20 hari setelah
dewasa sebanyak 75 sampai 150 telur setiap kelompoknya. Telur ini diletakkan pada daerah
yang terhindar dari sinar matahari dan tersedia cukup makanan. Selanjutnya pada stadium larva
dapat berkembang pada suhu 30-35oC dan dalam waktu 4 sampai 7 hari akan berubah menjad
pupa Dalam waktu 3 hari jika lingkungan yang tepat dan cocok terpenuhi maka pupa akan
berubah menjadi bentuk dewasa. Ukuran dari lalat Musca domestica sekitar 6-9 mm (Hanidhar
2007).

Tabanus sp.

Kasus ektoparasit yang ditemukan di lapangan yaitu pada kandang kuda ditemukan
adanya lalat pengisap darah. Lalat yang ditemukan yaitu lalat tabanus sp.

Taksonomi dan Klasifikasi Lalat Tabanidae

Taksonomi lalat Tabanidae menurut Stekhoven (1926) yaitu sebagai berikut:


Kingdom : Animalia
Filum : Invertebrata
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Sub ordo : Brachycera
Famili : Tabanidae
Subfamili : Pangoninae
Genus : Chrysops
Subfamili : Tabaninae
Genus : Tabanus
Species : Tabanus megalops
Tabanus rubidus
Gambar 5 Tabanus sp (Dokum pribadi)
Ciri morfologi lalat Tabanus, yaitu tubuhnya besar dan kokoh berukuran 6- 25 mm
dengan kepala yang berbentuk setengah lingkaran, dan memiliki mata yang dominan (Hadi dan
Soviana 2010). Bentuk antena pendek dan memiliki tiga ruas dengan berbagai modifikasi pada
ruas terakhirnya. Bagian mulut terdiri atas probosis yang pendek dengan maksila yang bekerja
sebagai pisau untuk merobek, serta labrum-epifaring dan hipofaring sebagai penusuk dan
pengisap. Lalat ini merupakan bagian lalat yang penting dalam dunia medik dan veteriner
karena lalat ini termasuk dalam lalat pengisap darah (El-Hassan et al. 2010). Hanya lalat betina
dewasa yang menghisap darah dan aktif pada siang hari. Betina membutuhkan darah segar
untuk perkembangan oogenesisnya atau menjalankan siklus gonotropiknya (Chandra et al.
2015).

Siklus Hidup
Lalat Tabanidae memiliki siklus hidup metamorfosis sempurna (holometabola). Siklus
hidupnya terdiri atas fase telur, larva, pupa, dan dewasa. Lalat betina akan menghasilkan 100
sampai 1000 telur. Tempat peletakan telur oleh lalat Tabanidae adalah pada lapisan air di atas
daun atau tempat yang berlumpur dan daerah yang basah. Telur berbentuk lonjong dan
biasanya ditempatkan pada dedaunan didekat sumber air. Telur akan menetas menjadi larva
dalam waktu 1 minggu. Larva berbentuk silinder dan akan masuk ke dalam lumpur atau tanah
yang lembab. Stadium ini dapat berlangsung selama 6 minggu sampai 1 tahun. Stadium pupa
berlangsung selama 1-3 minggu dan biasa ditemukan menempel pada dedaunan (Hadi dan
Soviana 2010). Tabanidae normalnya tidak terbang terlalu jauh dari daerah perkawinan lalat
jantan dan betina (Lehane 2005).
Lalat jantan dan betina dewasa menghisap polen atau nektar sebagai bahan makanan.
Akan tetapi, lalat betina dewasa juga bersifat penghisap darah atau hematophagous. Darah
merupakan sumber protein dan lemak sedangkan karbohidrat berasal dari nektar (Lehane
2005).

Genus Culex
Telur culex diletakkan diatas air secara berderet deret seperti rakit oleh nyamuk betina
dewasa, Larva nyamuk culex memiliki sifon yang tumbuh langsing dan pekten yang terlihat
sempurna dan umumnya terdiri dari lebih dari satu kelompok rambut (hair tuft). Larva
menggantung dan membentuk sudut 45ᵒ dengan permukaan air, nyamuk betina menggigit
induk semangnya dengan posisi abdomen yang sejajar dengan permukaan kulit induk
semangnya. Nyamuk culex dapat menjadi vector penyebaran fillaria seperti Dirofillaria
immitis (Cacing jantung), Setaria marshalli, dan Ensefalitis (Levine 1994)

Taksonomi lalat culicuidae menurut (Levine 1994)) yaitu sebagai berikut:


Kingdom : Animalia
Filum : Arthropoda
Kelas : Insecta
Ordo : Diptera
Sub ordo : Nematocera
Famili : Culicidae
Subfamili : Culianeae
Genus : Culex
Genus : Culex
Species : Culex quinquefasciatus

Morfologi Culex
Nyamuk Culex sp mempunyai ukuran kecil sekitar 4-13 mm dan tubuhnya rapuh. Pada
kepala terdapat probosis yang halus dan panjangnya melebihi panjang kepala. Probosis pada
nyamuk betina digunakan sebagai alat untuk menghisap darah, sedangkan pada nyamuk jantan
digunakan untuk menghisap zat-zat seperti cairan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan dan juga
keringat. Terdapat palpus yang mempunyai 5 ruas dan sepasang antena dengan jumlah ruas 15
yang terletak di kanan dan kiri probosis. Pada nyamuk jantan terdapat rambut yang lebat
(plumose) pada antenanya, sedangkan pada nyamuk betina jarang terdapat rambut (pilose)
(Sutanto 2011).
Sebagian besar thoraks yang terlihat (mesonotum) dilingkupi bulu-bulu halus. Bagian
belakang dari mesonotum ada skutelum yang terdiri dari tiga lengkungan (trilobus). Sayap
nyamuk berbentuk panjang akan tetapi ramping, 21 pada permukaannya mempunyai vena yang
dilengkapi sisik-sisik sayap (wing scales) yang letaknya menyesuaikan vena. Terdapat barisan
rambut atau yang biasa disebut fringe terletak pada pinggir sayap. Abdomen memiliki 10 ruas
dan bentuknya menyerupai tabung dimana dua ruas terakhir mengalami perubahan fungsi
sebagai alat kelamin. Kaki nyamuk berjumlah 3 pasang, letaknya menempel pada toraks, setiap
kaki terdiri atas 5 ruas tarsus 1 ruas femur dan 1 ruas tibia (Hoedojo, 2008).
Siklus Hidup
Nyamuk adalah hewan yang mempunyai metamorfosis sempurna, yaitu telur, larva,
pupa dan nyamuk dewasa. Pada stadium telur, letaknya adalah dipermukaan air. Stadium larva
dan pupa hidup di dalam air, sedangkan nyamuk dewasa hidup berterbangan di udara . Siklus
hidup dan perkembangan nyamuk Culex Sp. (Hoedojo, 2008). adalah sebagai berikut :
Telur
Telur nyamuk Culex Sp. diletakkan saling berlekatan di atas permukaan air sehingga
berbentuk rakit (raft). Warna telur yang baru diletakkan adalah putih, kemudian warnanya
berubah menadi hitam setelah 1-2 jam. Telur nyamuk Culex Sp. berbentuk menyerupai peluru
senapan. Spesies-spesies nyamuk Culex Sp. berkembang biak ditempat yang berbeda-beda,
sebagai contoh, nyamuk Culex quinquefasciatus bertelur di air comberan yang kotor dan
keruh, nyamuk Culex annulirostris bertelur di air sawah, daerah pantai dan rawa berair
payau, nyamuk Culex bitaeniorrhynchus bertelur di air yang mengandung lumut dalam air
tawar dan atau air payau (Hoedojo, 2008)..
Larva
Stadium larva terbagi menjadi empat tingkatan perkembangan (instar) yang terjadi
selama 6-8 hari. Instar ke-1 terjadi selama 1-2 hari, instar ke-2 terjadi selama 1-2 hari, instar
ke-3 terjadi selama 1-2 hari dan instar ke-4 terjadi selama 1-3 hari . Untuk memenuhi
kebutuhannya, larva mencari makan di tempat perindukkannya. Larva nyamuk Culex Sp.
membutuhkan waktu 6-8 hari hingga menjadi pupa
Pupa
Pupa jantan lebih cepat menetas menjadi nyamuk daripada pupa betina. Pupa tidak
memerlukan makanan, tetapi memerlukan oksigen yang diambil melalui tabung pernapasan .
Tabung pernapasannya berbentuk sempit dan panjang. Gambar pupa nyamuk Culex Sp.
(Sutanto 2011).
Dewasa
Nyamuk jantan tidak pergi jauh dari tempat perindukannya karena menunggu nyamuk
betina untuk berkopulasi. Nyamuk betina akan mencari darah untuk pembentukkan telurnya .
Nyamuk Culex Sp. betina memiliki palpi yang lebih pendek daripada probosisnya, sedangkan
nyamuk Culex Sp. jantan memiliki palpi yang lebih panjang daripada probosisnya. Sayap
nyamuk Culex Sp. berbentuk sempit dan panjang. Nyamuk Culex Sp. biasanya mencari darah
pada malam hari. (Sutanto 2011).

Daftar Pustaka
Astyawati, Tutuk, Wulansari R. 2008. Penanggulangan Caplak Rhipichepalus sanguineus
dengan Vaksinasi. ISSN 08534217, Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia.
Chandra K, Halder S, Raha A, Parui P, Banerjee D. 2015. Tabanid flies (Insecta: Diptera) from
Chhattisgarh, India. J Threatened Taxa. 7(10): 720–725.
Dantas-Torres F. 2010. Biology and ecology of the brown dog tick, Rhipicephalus sanguineus.
Parasites & Vectors 3(26).
El-Hassan GMMA, Badrawy HBM, Fadl HH, Mohammad AK. 2010. Cladistic analysis of
Egyptian horse flies (Diptera: Tabanidae) based on morphological data. Egypt Acad J
Biolog Sci. 3(2):51-62.
Hadi UK, Soviana S. 2010. Ektoparasit: Pengenalan, Identifikasi, dan Pengendaliannya.
Bogor (ID): IPB Press
Hadi UK, Soviana S. 2012. Ektoparasit Pengenalan, Identifikasi, dan Pengendaliannya. Bogor
(ID): IPB Press.
Hanidhar, DI 2007, Pengaruh Pemberian Ekstrak Kemangi (Ocimmum basilicum
forma citratum) Terhadap Perkembangan Larva Lalat Rumah (Musca
domestica).[skripsi]. Bogor (ID):Institut Pertanian Bogor.
Hoedojo, 2008. Buku Ajar Parasitologi Kedokteran, edisi IV. Jakarta: Balai Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.
James P. 2013. Biology of sheep lice (Bovicolla ovis). Australia (AU): Australian Wool
Innovation Limited.
Lehane MJ. 2005. The Biology of Sucking Blood in Insects. Second Edition. New York
(US): Cambridge University Press
Levine N. 2003. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Terjemahan Ashadi G. Yogyakarta
(ID): Gadjah Mada University Press.
Levine ND. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Terjemahan Gatut Ashadi dan
Wardianto. Yogyakarta (ID): Gajah Mada University Pr.
Lord CC. 2001. Brown Dog Tick, Rhipicephalus sanguinus Latreille (Arachnida: Acari:
Ixodidae). EENY-221.
Sutanto, Inge, Is Suhariah Ismid, 2008. Parasitologi Kedokteran. Jakarta: Balai Penerbit
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.