Anda di halaman 1dari 2

NAMA : RUDI SARKIM

NIM : 152802719
Jurusan : S1 Keperawatan (Alih Jenjang)

Kebudayaan Kabupaten Nagekeo koa ngi’i

“ritual potong gigi untuk pendewasaan anak perempuan”

Nagekeo memiliki ritual adat yang masih dipertahankan walaupun mulai jarang
ditemui. Salah satu ritual yang masih diberlakukan yaitu ritual pendewasaan yang
meliputi koa ngi’i (ritual potong gigi untuk pendewasaan anak perempuan). Ritual ini
sesungguhnya hendak mengajarkan perlunya pematangan perempuan sebelum memasuki usia
perkawinan.

Ritual koa ngi’i ini dilakukan bila diketahui anak perempuan tersebut sudah
menstruasi atau datang bulan maka orang tua dan keluarga besar saling mengingatkan untuk
melaksanakan upacara pendewasaan koa ngi’i. Dalam bahasa adat diibaratkan dengan pohon
kayu. Kata-katanya,”ana kaju ne bai lewa, kita ngusa aka pogo toa” (anak kayu sudah terlalu
tinggi harus dipangkas).

Percaya atau tidak, kesucian seorang gadis Nage akan dibuktikan pada saat koa ngi’i.
Kalau gadis masih suci maka ketika digosok atau dikikir tidak mengalami kesulitan (ngi’i
meku, dhedhe ne’e ko’o oso dhaka). Kalau sang gadis sudah tidak suci lagi maka gigi terasa
keras, saat digosok atau dikikir akan terasa licin (ngi’i waja, dhedhe ne’e ko’o oso ngelu).

Dari segi kesehatan ritual adat koa ngi’i ini memiliki manfaat yang baik untuk
kesehatan, tetapi juga ada beberapa yang dapat berpengaruh pada tingkat kesehatan
seseorang.

Pada ritual koa ngi’i dimana seorang anak perempuan sudah menstruasi, menandakan
dia sudah dewasa dan dipersiapkan untuk ritual koa ngi’i yaitu dia sudah layak untuk
menikah.
Menarche adalah periode menstruasi yang pertama terjadi pada masa pubertas seorang
anak perempuan, biasanya terjadi pada usia 10 – 16 tahun. Penelitian menunjukkan bahwa
kecenderungan anak perempuan mencapai usia pubertas semakin dini. Rata – rata usia
menarche menurun.
Menarche yang makin dini memungkinkan anak perempuan lebih cepat bersentuhan
dengan kehidupan seksual sehingga kemungkinan remaja untuk hamil dan menjadi seorang
ibu semakin besar.
Adapun dari ritual ini yang perlu dinegosiasikan bersama, yaitu saat seorang anak
perempuan memasuki masa pubertas yang ditandai dengan didapatkannya menstruasi, secara
fisiologis dia sudah bisa hamil, dan menjadi seorang ibu, tetapi dalam budaya nagekeo
dimana seorang anak mengalami menstruasi pertama dan dianggap sudah bisa menikah, maka
kaitannya dengan umur anak perempuan tersebut yaitu masih sangatlah muda dan terlalu dini
untuk menikah.
Penting untuk diketahui bahwa kehamilan pada usia kurang dari 17 tahun
meningkatkan risiko komplikasi medis, baik pada ibu maupun pada anak. Kehamilan di usia
yang sangat muda ini ternyata berkorelasi dengan angka kematian dan kesakitan ibu.
Disebutkan bahwa anak perempuan berusia 10-14 tahun berisiko lima kali lipat meninggal
saat hamil maupun bersalin dibandingkan kelompok usia 20-24 tahun, sementara risiko ini
meningkat dua kali lipat pada kelompok usia 15-19 tahun.
Anatomi tubuh anak belum siap untuk proses mengandung maupun melahirkan,
sehingga dapat terjadi komplikasi berupa obstructed labour serta obstetric fistula. Fistula
merupakan kerusakan pada organ kewanitaan yang menyebabkan kebocoran urin atau feses
ke dalam vagina. Wanita berusia kurang dari 20 tahun sangat rentan mengalami obstetric
fistula. Obstetric fistula ini dapat terjadi pula akibat hubungan
seksual di usia dini.
Menjadi orangtua di usia dini disertai keterampilan yang kurang untuk mengasuh
anak sebagaimana yang dimiliki orang dewasa dapat menempatkan anak yang dilahirkan
berisiko mengalami perlakuan salah dan atau penelantaran.
Oleh karena itu asuhan yang dapat diberikan yaitu menegosiasikan agar ritual adat
tetap dipertahankan namun seorang anak perempuan yang sudah dianggap dewasa tetapi
dengan umur yang masih terlalu dini, belumlah layak untuk menikah dari segi kesehatan dan
psikologis. Pernikahan dini dapat menyebabkan ganguan kesehatan, dan secara psikologis
belum siap menjadi seorang ibu. Sehingga pada ritual koa ngi’i ini seorang anak perempuan
yang telah dimengalami menstruasi bila usia masih dibawah 24 tahun disarankan untuk
menunda pernikahan sampai seorang anak mencapai usia yang pas, dan secara psikologis
diapun telah siap.

Anda mungkin juga menyukai