Anda di halaman 1dari 5

TUGAS I

ORGANISASI-EKMA4157

Nama : Dheka Ary Pandana


NIM : 032211511
Jurusan : Manajemen
UPBJJ : Kendari

UNIVERSITAS TERBUKA
2018
TUGAS 1

1. Mengapa pengelola organisasi harus memiliki kemampuan mengidentifikasi elemen


elemen lingkungan?

Seperti yang kita ketahui lingkungan berpengaruh terhadap organisasi. Lingkungan yang
berpengaruh terhadap organisasi adalah lingkungan dalam artian sebagai seluruh elemen
yang terdapat di luar batas-batas organisasi yang mempunyai potensi untuk
mempengaruhi bagian atau keseluruhan organisasi tersebut. Elemen-elemen yang
berpengaruh terhadap perilaku maupun performansi organisasi terdiri dari 2 (dua) elemen
yaitu elemen internal dan elemen eksternal. Elemen eksternal adalah seluruh bagian-
bagian lingkungan yang berada di luar organisasi yang mempengaruhi organisasi tersebut
baik secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung misalnya adalah industry,
bahan baku, tenaga kerja, keuangan, pasar. Sementara secara tidak langsung elemen
seperti teknologi, kondisi ekonomi, pemerintah, dan kebudayaan di letak geografis
organisasi mempengaruhi perilaku dan performansi organisasi. Sementara elemen
internal yang juga mempengaruhi organanisasi dari dalam organisasi itu sendiri seperti
norma organanisasi, pemegang saham, dewan pimpinan/direksi, SDM organisasi itu
sendiri. Perubahan dan kondisi elemen-elemen di atas sedikit ataupun banyak
berpengaruh terhadap organisasi. Kita mengenal bahwa sifat lingkungan itu memiliki
peluang untuk membahayakan dan merugikan organisasi (ketidakpastian lingkungan).
Ketika pengelola organisasi tidak dapat memahami elemen-elemen lingkungan tersebut
dan gagal dalam memperkirakan dan mengidentifikasi perubahan-perubahan yang terjadi
di lingkungan baik perubahan kecil maupun besar, maka tindakan-tindakan yang akan
diambil oleh pengelola organisasi mempunyai resiko kegagalan yang tinggi. Oleh karena
itu pengelola organisasi harus memiliki kemampuan mengidentifikasi elemen elemen
lingkungan agar dapat mempertahankan kelangsungan organisasi dalam lingkungannya.

2. Apa sebab organisasi memiliki ketergantungan ganda terhadap lingkungannya?

Dalam hubungannya dengan lingkungan, organisasi mengambil input (masukan) dari


lingkungannya, melakukan proses transformasi merubah input (masukan) menjadi output
(keluaran), dan mengeluarkan output (keluaran) tersebut kepada lingkungan di luar
organisasi. Keluaran yang berupa produk/jasa yang dihasilkan oleh organisasi digunakan
dan dikonsumsi oleh pemakai (costumer) yang terdapat pada lingkungan organisasi. Di
lain pihak, organisasi juga mendapatkan berbagai jenis input (masukan) dari
lingkungannya. Dalam memproduksi produk/jasa di atas organisasi membutuhkan
seluruh sumber daya yang didapatkan dari lingkungannya. Ini menunjukkan organisasi
memiliki ketergantungan ganda terhadap lingkungan, dimana organisasi harus
menemukan semua sumber yang diperlukan untuk melakukan proses transformasi
menjadi output dari lingkungan dan lingkungan menjadi tempat organisasi untuk
melemparkan seluruh produk/jasa hasil output organisasi tersebut. Posisi organisasi
menjadi berbahaya jika pertukaran input dan output ini menjadi tidak seimbang. Hal ini
memaksa organisasi untuk berusaha menguasai dan menstabilkan lingkungannya, yaitu
usaha untuk mencapai posisi tertentu, dimana organisasi dapat mencapai transaksi timbal
balik yang harmonis dengan lingkungannya. Usaha-usaha untuk menjaga keamanan
organisasi karena ketergantungan tersebut organisasi perlu menyesuaikan diri terhadap
kondisi lingkungan seperti mengusahakan hubungan baik terhadap elemen-elemen
lingkungan dalam bentuk integrasi melalui merger, kontrak, kooptasi dan interlocking,
pengangkatan eksekutif, iklan dan hubungan masyarakat. Adapun dengan cara lain yaitu
membentuk lingkungan agar tidak berbahaya dan bisa menguntungkan bagi organisasi
dengan cara mengubah bidang kegiatan organisasi, melalui kegiatan berpolitik, atau
dalam bentuk asosiasi pengusaha.

3. Perbedaan gaya kepemimpinan dalam organisasi akan mempunyai pengaruh yang


berbeda pada partisipasi individu dan perilaku kelompok. Jelaskan!

Seperti yang di di dalam BMP EKMA 4157, dalam mengelola organisasi dan
pengambilan keputusan selalu ada pengorganisasian yang dijalankan dan dipertahankan
melalui wewenang atau kepemimpinan (otoritas). Weber menyatakan ada 3 (tiga) jenis
gaya kepemimpinan (otoritas) yang berpengaruh terhadap pola kepemimpinan dan
pengambilan keputusan dalam suatu organisasi yaitu:

a. Tipe Kepemimpinan (Otoritas) Kharismatik

Otoritas Karismatik ialah ketaatan kepada seseorang yang dianggap suci,


pahlawan atau berkualitas luar biasa bergantung pada beberapa bukti yang tak
dapat dibantah umumnya yang bersifat magis atau karya mukjizat. Weber
berpandangan bahwa tanda-tanda nyata otoritas tersebut bukanlah sebagian
bentuk kharisma murni, akan tetapi charisma murni adalah pengabdian pemimpin
kepada orang dan dukungan dari kelompok sosial yang kuat. Contohnya, Presiden
Soekarno yang dianggap memiliki charisma yang luar biasa oleh rakyatnya dan
koleganya bahkan kharismanya diakui oleh dunia internasional pada masanya,
Gusdur sosok yang dianggap (minimal oleh pengikutnya) kekuatan “supra”, dsb.

b. Tipe Kepemimpinan (Otoritas) Tradisional

Otoritas Tradisional berdasarkan atas suatu kepercayaan yang telah ada


(estabilished) pada kesucian tradisi kuno. Dengan kata lain yakni bentuk
kepercayaan terhadap legalitas praktek-praktek yang telah disucikan dan
dibakukan. Polanya berasal dari kepercayaan dan faktor keturunan atau garis
keluarga atau kesukuan. Penerimaan tersebut dianggap aturan-aturan suci karena
aturan-aturan itu telah lama ada dan dalam legitimasi mereka yang telah
mewariskan hak untuk memerintah dengan aturan-aturan ini. Pada tatanan
tradisional individu merupakan loyalitas dari masa lalu dan mereka mewakili
masa lalu itu, sebuah loyalitas yang seringkali berakar dalam sebuah kepercayaan
akan kesakralan peristiwa-peristiwa sejarah tertentu. Misalnya seorang kyai,
maka anak dan keturunan kyai akan cenderung menjadi kyai pula karena tradisi
yang diterima oleh masyarakatnya. Walaupun seringkali sang kyai muda ini tidak
memiliki ilmu agama yang memadai. Tetapi tidak ada orang yang menentang
karena mereka percaya. Contoh: Gusdur sosok yang dianggap (minimal oleh
pengikut NU) kekuatan “supra”.

c. Tipe Kepemimpinan (Otoritas) Rasional-Legal

Otoritas Legal-Rasional Berasal dari peraturan (legal-rasional) yang diberlakukan


secara hukum dan rasional. Otoritas hukum didasarkan pada suatu kepercayaan
akan keabsahan peraturan-peraturan yang impersonal dan pada tata pengambilan
dan pelaksanaan peraturan-peraturan1. Pemimpin yang lahir dari otoritas ini
berdasarkan atas kemunculan sosok yang mampu mengemban amanat massa
yang pelaksanaanya mengikuti dan sesuai prosedur undang-undang yang berlaku.
Misalnya pemimpin negara, organisasi modern, Ketua RT, RW, yang dipilih
secara langsung oleh musyawarah warga RT, RW. Mereka memperoleh otoritas
tertinggi dari hukum masyarakat.
Terkait tiga jenis sistem otoritas-tradisional, karismatik dan rasional legal, sistem
otoritas rasional legal hanya dapat berkembang dalam masyarakat modern dan
hanya dalam otoritas rasional legal itulah birokrasi modern dapat berkembang
penuh. Masyarakat lain ada juga yang tetap didominasi oleh otoritas tradisional
atau karismatik yang umumnya merintangi perkembangan sistem hukum rasional
dan birokrasi modern. Singkatnya, sistem otoritas tradisional berasal dari sistem
kepercayaan di zaman kuno. Pemimpin karismatik mendapatkan otoritasnya dari
kemampuan atau ciri-ciri luar biasa, atau mungkin keyakinan pengikut bahwa
pemimpin itu mempunyai ciri-ciri tersebut. Meski kedua jenis otoritas itu
mempunyai arti penting di masa lalu, akhirnya masyarakat cenderung menuju
sistem otoritas rasional-legal, yang mana sistem otoritas ini berasal dari peraturan
yang diberlakukan secara hukum dan rasional.