Anda di halaman 1dari 23

MAKALAH

CASE BASED DISCUSSION


BATU URETER

Oleh :
Maimunah Faizin
6120018029
Pembimbing:
dr. Dwimantoro, Sp.U

DEPARTEMEN / SMF BEDAH


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2019
KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala
nikmat, rahmat, dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas
Case Based Discussion dengan baik dan tepat waktu.
Tugas ini disusun dalam rangka memenuhi tugas Kepaniteraan Ilmu
Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya. Di samping
itu, melalui kesempatan ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar –
besarnya kepada dr. Dwimantoro Iman P, Sp.U selaku pembimbing dalam
penyusunan tugas ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada rekan –
rekan anggota Kepaniteraan SMF Bedah serta berbagai pihak yang telah member
dukungan dan bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa tugas ini masih jauh dari sempurna dan tidak
luput dari kesalahan. Oleh karena itu, penulis sangat berharap adanya masukan,
kritik maupun saran yang membangun. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih
yang sebesar – besarnya, semoga tugas ini dapat memberikan tambahan informasi
bagi kita semua.

Surabaya , 01 Oktober 2019

Penulis

SMF BEDAH
BAB I

LAPORAN KASUS

I. IDENTITAS PASIEN
Nama : Sdr. Abd
Usia : 25 tahun
Jenis Kelamin : Laki-laki
Alamat : Rungkut, Surabaya
Pekerjaan : Wiraswasta
Status Perkawinan : Belum Menikah
MRS : 23 September 2019
KRS : Sudah
No. RM : 029882

II. ANAMNESIS
II.1 Keluhan Utama:
Nyeri pinggang kiri
II.2 Riwayat Penyakit Sekarang:
Pasien datang ke poli dengan keluhan nyeri pinggang sebelah kiri
memberat 3 hari SMRS, nyeri pinggang menjalar sampai ke perut bagian
depan. Nyeri rasanya seperti tertusuk (tajam). Pasien hanya mengeluh
mual tidak sampai muntah, dan tidak disertai demam. Pasien mengatakan
hal ini sudah dirasakan sejak 2 bulan yang lalu, nyeri pinggang terasa
tajam disertai mual muntah dan demam. Pasien sudah minum obat yang
dibeli sendiri yaitu ciprofloxacin dan spasminal, dan keluhan dirasa
membaik. Buang air kecil tidak ada keluhan
II.3 Riwayat Penyakit Dahulu
DM disangkal
HT terkontrol (+)
II.4 Riwayat Keluarga
HT (+) Ibu
Keluhan yang sama dengan pasien disangkal

SMF BEDAH
II.5 Riwayat Kebiasaan
Pasien merupakan pekerja yang sering duduk, dan jarang minum air.
II.6 Riwayat Pengobatan
Amlodipin 5 mg
Ciprofloxacin
Spasminal
III. PEMERIKSAAN FISIK
Keadaan Umum : Tampak sakit sedang
Tanda-tanda Vital
Tekanan Darah : 150/80 mmHg
Nadi : 85 x/menit
RR : 19 x/menit
Temperatur : 36 °C axilar
Status Gizi
TB : 170 cm
BB : 78 kg
BMI : 26,9 (0verweight)
Kepala/Leher : Anemis (-/-), Ikterus (-/-), Cyanosis (-), Dyspneu (-),
Pernafasan cuping hidung (-), Pembesaran kelenjar
getah bening (-), pembesaran kelenjar tiroid (-),
peningkatan vena jugularis (-), faring hiperemis (-),
mukosa mulut kering (-), mata cowong (-/-), nyeri telan
(-)
Thoraks
a. Pulmo
Inspeksi : Bentuk simetris, tidak ada retraksi, pergerakan dada
simetris
Palpasi : Pengembangan paru simetris, fremitus raba
hemithoraks simetris
Perkusi : Sonor di kedua lapang paru
Auskultasi : Vesikuler/vesikuler, rhonki-/-, wheezing -/-

SMF BEDAH
b. Cor
Inspeksi : Normochest, ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : Ictus cordis tidak teraba
Perkusi : Batas jantung kanan parasternal kanan ICS 4, batas
jantung kiri ICS 5 MCL kiri
Auskultasi : S1/S2 tunggal, murmur (-), gallop (-)

Abdomen
Inspeksi : Soepel, tidak ada bekas operasi, massa (-)
Auskultasi : Bising usus normal
Palpasi : Soepel, nyeri tekan di epigastrium (-), hepar, renal, lien
tidak teraba, ascites (-), nyeri tekan suprapubik (-)
Perkusi : Hipertimpani di seluruh lapang abdomen

Esktremitas
Akral hangat kering merah, oedema di semua ekstremitas (-), CRT <
2 detik.

Status Lokalis
Status Urologis :
Regio Flank : Nyeri ketok costovertebrae -/+, flank mass -/-
Regio Suprapubik : Vesika Urinaria kosong, nyeri tekan (-)
Regio Inguinal : Hernia (-), pembesaran KGB -/-
Regio Genitalia eks : Penis sirkumsisi (+), testis +/+
Rectal Touche : Tidak dilakukan karena pasien menolak
IV. DIAGNOSA KERJA
Susp. Batu Ureter (Ureterolithiasis) DD Batu ginjal (Nephrolithiasis)

SMF BEDAH
V. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Darah Lengkap
Pemeriksaan Hasil Nilai rujukan

Leukosit 11,95 3,8-10,6 ribu/uL

Basofil 0,819 0-1 %

Neutrofil 71,57 39,3-73,7 %

Limfosit 15,010 25-40%

Eosinofil 0,620 2-4 %

Monosit 11,980 2-8 %

Eritrosit 5,68 4,4-5,9 juta/uL

Hemoglobin 13,53 13,2-17,3 g/dL

Hematokrit 43,3 40-50 %

Trombosit 223 150-440 ribu/uL

MCV 76,2 84,0 – 96,0 fL


MCH 23,8 28,0 – 34,0 pg
MCHC 31,3 26,0 – 34,0%

RDW CV 12,2 11,5 – 14,5%

HEMOSTASIS
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
PPT 12,4 11,8 – 15,1 detik
APTT 31,2 25 – 35 detik

IMUNOSEROLOGI
Hepatitis Marker
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
HbsAg Rapid Non Reaktif Non Reaktif

SMF BEDAH
IMUNOSEROLOGI
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
HIV Rapid Non Reaktif Non Reaktif

FUNGSI GINJAL
Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan
BUN 7,4 10 – 20 mg/dL
Serum Kreatinin 1,4 0,62-1,10 mg/dL

SMF BEDAH
BOF:
Bayangan gas usus normal
Hepar dan lien kesan tak membesar
Psoas shadow normal
Bayangan ginjal kanan kiri kesan normal
Tulang tulang kesan normal
Tak tampak bayangan radio opaque di distal tractus urinarius
Tidak terdapat adanya ground glass
Kesimpulan:
BOF dalam batas normal

SMF BEDAH
USG:
Ginjal Kanan: ukuran normal, echo cortex tak meningkat, batas sinus cortex jelas.
Tak tampak ectasis systema pelviocalyceal. Tak tampak batu/ massa/ kista
Ginjal kiri : ukuran normal, echo cortex tak meningkat, batas sinus cortex jelas.
Tampak ectasis sedang systema pelvicocalyceal yang disebabkan batu ureter distal
uk 1 cm.
Buli-buli:

SMF BEDAH
Berisi cukup, dinding rata, tak tampak batu/massa
Prostat:
Besar dan bentuk normal. Massa (-), kalsifikasi (-)
Tak tampak intensitas echo cairan di cavum abdomen
Kesimpulan: Hidronefrosis sedang kiri yang disebabkan batu di ureter distal uk. 1
cm

Foto Thorax:
Cor: besar dan bentuk normal
Pulmo : Tak tampak infiltrate
Sinus costophrenicalis kanan dan kiri tajam
Tulang dan soft tissue normal
Kesimpulan : Foto thorax dalam batas normal

SMF BEDAH
VI. DIAGNOSIS
Batu ureter (Ureterolithiasis) + Hidronefrosis sedang

VII.Tatalaksana
Planning Diagnostik
 DL , Foto Thorax, , Faal Hemostasis, HbsAg, BUN SK
 BOF
 USG
Planning Terapi :
 Terapi Non Farmakologis
 Konsumsi air putih min. 1500cc setiap hari
 Terapi Farmakologis
 Pro Ureteroskopi + pemasangan DJ stent
 Infus PZ 14 tpm/24 jam
 Inj. Ceftriaxone 2x1g profilaksis
 Inj. Antrain 3x1
 Harnal ocas 0-0-1
 Renalof 2x1
 Buscopan 2x1 prn

KIE
 Bed rest yang cukup
 Konsumsi air yang cukup
 Diet untuk mengurangi kadar zat komponen pembentuk batu

SMF BEDAH
Tanggal Subjective Objective Assesmen Planning

24/09/2019 Nyeri berkurang, nyeri GCS 456 Batu ureter


saat posisi tidur miring KU baik sinistra+ P.Terapi :
ke kiri TTV Hidronefrosis -Pro Ureteroskopi
Nadi 114x/mnt sedang -Inf.PZ 14 tpm/24jam
T 36,5 C - Inj. Antrain 3x1
TD 160/86 mmHg - Harnal ocas 0-0-1
RR 20x/mnt - Renalof 2x1
 Flank test: -/+ - Buscopan 2x1 prn
 BOF:
Didapatkan gambaran -Puasa pre op
batu di distal tractus
urinarius
 USG:
Hidronefrosis sedang
kiri yang disebabkan
batu di ureter distal uk.
1 cm

25/09/2019 Pos op masih merasa GCS 456 Batu Ureter P.Terapi:


sedikit nyeri pada KU baik sinistra + -Ureteroskopi
bekas operasi TTV Hidronefrosis -Inf. PZ 14 tpm/24jam
Nadi 86x/mnt sedang -Inj. Ceftriaxone 2x1g
T 36,6 C - Inj. Antrain 3x1
TD 135/77 mmHg - Harnal ocas 0-0-1
RR 20x/mnt - Renalof 2x1
- Buscopan 2x1 prn

P.Edukasi
-Mencoba untuk latihan
duduk
-Minum air putih yang
banyak
-Hindari konsumsi teh,
kopi
-Konsumsi obat sesuai
petunjuk dokter
-Kontrol rutin

26/09/2019 Pos op tidak ada GCS 456 Batu Ureter P.Terapi:


keluhan KU baik sinistra + - Inf. PZ 14 tpm/24jam
Rencana KRS hari ini TTV Hidronefrosis - Inj. Antrain 3x1

SMF BEDAH
Nadi 67x/mnt sedang - Harnal ocas 0-0-1
T 36 C - Renalof 2x1
TD 140/90 mmHg - Buscopan 2x1 prn
RR 20x/mnt
P.Edukasi:
-Mencoba untuk latihan
duduk
-Minum air putih yang
banyak
-Hindari konsumsi teh,
kopi
-Konsumsi obat sesuai
petunjuk dokter
-Kontrol rutin

SMF BEDAH
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. DEFINISI
Batu ureter adalah keadaan dimana terdapat batu saluran kencing, yang
terbentuk ketika konsentrasi substansi tertentu seperti kalium, oksalat,
kalium fosfat, dan asam urat meningkat. Batu ureter pada umumnya berasal
dari batu ginjal yang turun ke ureter. Batu ureter mungkin dapat lewat
sampai ke kandung kemih dan kemudian keluar bersama kemih. Batu ureter
juga bisa sampai ke kandung kemih dan kemudian berupa nidus menjadi
batu kandung kemih yang besar. Batu juga bisa tetap tinggal di ureter sambil
menyumbat dan menyebabkan obstruksi kronik dengan hidroureter yang
mungkin asimtomatik. Tidak jarang terjadi hematuria yang didahului oleh
serangan kolik (Sjamsuhidajat, 2017).
B. ANATOMI
Ureter merupakan saluran sepanjang 25-30 cm yang membawa hasil
penyaringan ginjal (filtrasi, reabsorpsi, sekresi) dari pelvis renalis menuju
vesica urinaria. Terdapat sepasang ureter yang terletak retroperitoneal,
masing-masing satu untuk setiap ginjal.
Ureter setelah keluar dari ginjal (melalui pelvis) akan turun di depan
m.psoas major, lalu menyilangi pintu atas panggul dengan a.iliaca
communis. Ureter berjalan secara postero-inferior di dinding lateral pelvis,
lalu melengkung secara ventro-medial untuk mencapai vesica urinaria.
Adanya katup uretero-vesical mencegah aliran balik urine setelah memasuki
kandung kemih. Terdapat beberapa tempat di mana ureter mengalami
penyempitan yaitu peralihan pelvis renalis-ureter, fleksura marginalis serta
muara ureter ke dalam vesica urinaria. Tempat-tempat seperti ini sering
terbentuk batu/kalkulus.
Ureter diperdarahi oleh cabang dari a.renalis, aorta abdominalis, a.iliaca
communis, a.testicularis/ovarica serta a.vesicalis inferior. Sedangkan
persarafan ureter melalui segmen T10-L1 atau L2 melalui pleksus renalis,
pleksus aorticus, serta pleksus hipogastricus superior dan inferior.

SMF BEDAH
C. ETIOLOGI
Terbentuknya batu saluran kemih diduga ada hubungannya dengan
gangguan aliran urin, gangguan metabolik, infeksi saluran kemih, dehidrasi,
dan keadaan-keadaan lain yang masih belum terungkap (idiopatik). Secara
epidemiologis terdapat beberapa faktor yang mempermudah terjadinya batu
saluran kemih pada seseorang. Faktor-faktor itu adalah faktor intrinsik yaitu
keadaan yang berasal dari tubuh seseorang dan faktor ekstrinsik yaitu
pengaruh yang berasal dari lingkungan sekitarnya (Purnomo, 2016).
a. Faktor intrinsik itu antara lain adalah :
1. Herediter (keturunan)
Penyakit ini diduga diturunkan dari orang tuanya.
2. Umur
Penyakit ini paling sering didapatkan pada usia 30-50 tahun.
3. Jenis kelamin
Jumlah pasien laki-laki tiga kali lebih banyak dibandingkan dengan
pasien perempuan.
b. Faktor ekstrinsik diantaranya adalah:
1. Geografi
Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian batu saluran
kemih yang lebih tinggi daripada daerah lain sehingga dikenal sebagi
daerah stone belt (sabuk batu), sedangkan daerah Bantu di Afrika
Selatan hampir tidak dijumpai penyakit batu saluran kemih.
2. Iklim dan temperatur
3. Asupan air
Kurangnya asupan air dan tingginya kadar mineral kalsium pada air
yang dikonsumsi, dapat meningkatkan insiden batu saluran kemih.
4. Diet
Diet tinggi purin, oksalat dan kalsium mempermudah terjadinya
penyakit batu saluran kemih.
5. Pekerjaan
Penyakit ini sering dijumpai pada orang yang pekerjaannya banyak
duduk atau kurang aktivitas atau sedentary life.

SMF BEDAH
D. PATOFISIOLOGI
Terdapat 2 mekanisme pembentukan batu yaitu supersaturasi atau infeksi.
Batu yang dihasilkannyapun dapat berbeda, pada supersaturasi (free stone
formation) batu yang terbentuk biasanya adalah batu asam urat dan sistein.
Pada infeksi batu yang terbentuk adalah hasil dari metabolisme bakteri.
Sedangkan formasi batu yang frekuensinya paling banyak, kalkulus yang
mengandung kalsium, lebih kompleks masih belum dapat jelas dimengerti
(Knoll, 2010).
Batu terdiri dari bahan-bahan organik maupun anorganik yang terlarut
dalam urin. Kristal-kristal tersebut tetap berada dalam keadaan metastable
dalam urin jika tidak ada keadaan keadaan tertentu yang menyebabkan
terjadinya presipitasi kristal. Kristal yang saling mengadakan presipitasi
membentuk inti batu yang kemudian akan mengadakan agregasi dan
menarik bahan bahan lain sehingga menjadi Kristal yang lebih besar. Kristal
tersebut bersifat rapuh dan belum cukup membuntukan saluran kemih.
Maka dari itu agregat Kristal menempel pada epitel saluran kemih dan
membentuk retensi kristal. dengan mekanisme inilah bahan bahan lain
diendapkan pada agregat tersebut hingga membentuk batu yang cukup besar
untuk menyumbat saluran kemih (Wein dkk, 2012).
Kondisi metastable dapat dipengaruhi oleh suhu, pH larutan, adanya
koloid di dalam urin, konsentrasi solute di dalam urin, laju aliran urin di
dalam saluran kemih, atau adanya korpus alienum di dalam saluran kemih
yang bertindak sebagai inti batu. Batu asam urat lebih mudah terbentuk
dalam suasana asam, sedangkan magnesium ammonium fosfat cenderung
terformasi dalam keadaan basa. Lebih dari 80% batu saluran kemih terdiri
atas batu kalsium. Kalsium dapat berikatan dengan oksalat, fosfat
membentuk batu kalsium fosfat dan kalsium oksalat (Wein dkk, 2012).
Ada beberapa zat yang dapat bertindak sebagai inhibitor pembentukan
batu. Ion magnesium dapat menghambat pembentukan batu kalsium oksalat
dengan cara berikatan dengan oksalat. Demikian pula sitrat jika berikatan
dengan ion kalsium akan membentuk garam kalsium sitrat sehingga dapat
mengurangi formasi batu yang berkomponen kalsium. Beberapa proteinpun

SMF BEDAH
dapat bertindak sebagai inhibitor dengan cara menghambat pertumbuhan
kristal, menghambat agregasi kristal maupu menghambat retensi kristal.
senyawa itu antara lain adalah: glikosaminoglikan, protein Tamm Horsfall,
nefrokalsin dan osteopontin (Wein dkk, 2012).
E. MANIFESTASI KLINIS
Keluhan yang dialami pasien tergantung pada posisi atau letak batu, besar
batu dan penyulit yang telah terjadi. Keluhan yang paling sering adalah
nyeri pinggang, bisa berupa nyeri kolik atau bukan kolik. Karena peristalsis,
akan terjadi gejala kolik, yakni nyeri yang hilang timbul yang disertai
perasaan mual dengan atau tanpa muntah dengan nyeri alih khas. Selama
batu bertahan di tempat yang menyumbat, selama itu kolik akan berulang –
ulang sampai batu bergeser dan memberi kesempatan air kemih untuk lewat
(Purnomo, 2016).
Batu yang terletak di sebelah distal ureter dirasakan oleh pasien sebagai
nyeri pada saat berkemih atau sering kencing. Hematuria seringkali
dikeluhkan oleh pasien akibat trauma pada mukosa saluran kemih yang
disebabkan oleh batu. Kadang-kadang hematuria didapatkan dari
pemeriksaan urinalisis (Purnomo, 2016).
Jika didapatkan demam harus curiga urosepsis dan ini merupakan
kedaruratan di bidang urologi. Dalam hal ini harus secepatnya ditentukan
letak kelainan anatomik pada saluran kemih dan segera dilakukan terapi
berupa drainase dan pemberian antibiotik (Purnomo, 2016).
Pada pemeriksaan fisik mungkin didapatkan nyeri ketok pada daerah
kosto-vertebra, teraba ginjal pada sisi sakit akibat hidronefrosis, terlihat
tanda-tanda gagal ginjal, retensi urin (Purnomo, 2016).
F. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Laboratorium
Pemeriksaan urinalisis makroskopik didapatkan gross hematuria.
Pemeriksaan sedimen urin menunjukkan adanya leukosituria, hematuria,
dan dijumpai kristal-kristal pembentuk batu. 85 % pasien dengan batu
ginjal didapatkan hematuria maksoskopik dan mikroskopik. Namun,
tidak ditemukannya hematuria tidak berarti menghilangkan

SMF BEDAH
kemungkinan menderita batu ginjal. Pemeriksaan kultur urin mungkin
menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea (Henry, 2000).
Pemeriksaan kimiawi ditemukan pH urin lebih dari 7,6
menunjukkan adanya pertumbuhan kuman pemecah urea dan
kemungkinan terbentuk batu fosfat. Bisa juga pH urin lebih asam dan
kemungkinan terbentuk batu asam urat (Henry, 2000).
Pemeriksaan faal ginjal bertujuan untuk mencari kemungkinan
terjadinya penurunan fungsi ginjal dan untuk mempersiapkan pasien
menjalani pemeriksaan foto PIV. Proteinuria juga disebut albuminuria
adalah kondisi abnormal dimana urin berisi sejumlah protein.
Kebanyakan protein terlalu besar untuk melewati filter ginjal ke dalam
urin. Namun, protein dari darah dapat bocor ke dalam urin ketika
glomeruli rusak. Proteinuria merupakan tanda penyakit ginjal kronis
(CKD), yang dapat disebabkan oleh diabetes, tekanan darah tinggi, dan
penyakit yang menyebabkan peradangan pada ginjal. Sebagai akibat
fungsi ginjal menurun, jumlah albumin dalam urin akan meningkat.
Perlu juga diperiksa kadar elektrolit yang diduga sebagai faktor
penyebab timbulnya batu saluran kemih, antara lain kalsium, oksalat,
fosfat, maupun urat (Henry, 2000).
Pemeriksaan darah lengkap, dapat menentukan kadar hemoglobin
yang menurun akibat terjadinya hematuria. Bisa juga didapatkan jumlah
lekosit yang meningkat akibat proses peradangan di ureter.
2. Radiologis
Foto polos abdomen bertujuan untuk melihat kemungkinan adanya
batu radioopak di saluran kemih. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan
kalsium fosfat bersifat radioopak, sedangkan batu asam urat bersifat
radio lusen.
Foto BNO-IVP untuk melihat lokasi batu, besarnya batu, apakah
terjadi bendungan atau tidak. Pada gangguan fungsi ginjal maka IVP
tidak dapat dilakukan, pada keadaan ini dapat dilakukan retrograde
pielografi atau dilanjutkan. Dengan anterograd pielografi, bila hasil
retrograd pielografi tidak memberikan informasi yang memadai. Pada

SMF BEDAH
foto BNO batu yang dapat dilihat disebut sebagai batu radioopak,
sedangkan batu yang tidak tampak disebut sebagai batu radiolusen.
Berikut ini adalah urutan batu menurut densitasnya, dari yang paling
opak hingga yang paling bersifat radiolusen, kalsium fosfat(opak),
kalsium oxalat(opak), Magnesium (semi opak), amonium fosfat (semi
opak), sistin(non opak), asam urat (non opak).
Pielografi Intravena (IVP)
Pemeriksaan ini bertujuan menilai keadaan anatomi dan, fungsi
ginjal. Juga untuk mendeteksi adanya batu semi-opak ataupun batu non-
opak yang, tidak terlihat oleh foto polos abdomen.
Ultrasonografi
USG dikerjakan bila tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP
yaitu pada keadaan seperti allergi terhadap bahan kontras, faal ginjal
yang menurun dan pada wanita yang sedang hamil. Terlihat pada
gambar echoic shadow jika terdapat batu (Mos dkk, 2010).
CT-scan
Teknik CT-scan adalah tehnik pemeriksaan yang paling baik untuk
melihat gambaran semua jenis batu dan juga dapat terlihat lokasi dimana
terjadinya obstruksi (Mos dkk, 2010).
G. TATALAKSANA
1. Medikamentosa
Ditujukan untuk batu yang ukurannya < 5 mm, karena batu
diharapkan dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan bertujuan
mengurangi nyeri, memperlancar aliran urine dengan pemberian
diuretikum, dan minum banyak supaya dapat mendorong batu keluar.
Dapat juga diberi pelarut batu seperti batu asam urat yang dapat
dilarutkan dengan pemberian bikarbonas natrikus disertai makanan
alkalis (Tanagho, 2008).
Oral alkanizing agents seperti natrium atau kalium bikarbonat
dapat mendisolusikan batu yang bersifat asam. Kontraindikasi obat ini
adalah pasien dengan riwayat gagal jantung atau gagal ginjal (Tanagho,
2008).

SMF BEDAH
Gambar 1. Algoritme penatalaksanaan non medika mentosa pada urolithiasis
2. Non Medikamentosa
a. ESWL (Extracorporeal Shock Wave Lithotripsi)
Alat ESWL adalah pemecah batu yang yang diperkenalkan
pertama kali oleh Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah
batu ginjal, batu ureter proksimal, atau batu buli-buli tanpa melalui
tindakan invasif atau pembiusan. Prinsip dari ESWL adalah
memecah batu menjadi fragmen-fragmen kecil dengan menggunakan
gelombang kejut yang dihasilkan oleh mesin dari luar tubuh,
sehingga mudah dikeluarkan melalui saluran kemih.
Komplikasi ESWL untuk terapi batu ureter hampir tidak ada.
Tetapi SWL mempunyai beberapa keterbatasan, antara lain bila
batunya keras ( misalnya kalsium oksalat monohidrat ) sulit pecah
dan perlu beberapa kali tindakan. Juga pada orang gemuk mungkin
akan kesulitan. Penggunaan ESWL untuk terapi batu ureter distal
pada wanita dan anak-anak juga harus dipertimbangkan dengan
serius. Sebab ada kemungkinan terjadi kerusakan pada ovarium.
Meskipun belum ada data yang valid, untuk wanita di bawah 40
tahun sebaiknya diinformasikan sejelas-jelasnya.

SMF BEDAH
Gambar 2. Cara bekerja ESWL
b. Endourologi
 Ureteroskopi atau uretero-renoskopi: memasukkan alat
ureteroskopi per uretra guna melihat keadaan ureter atau sistem
pielokaliks ginjal. Dengan memakai energi tertentu, batu yang
berada di dalam ureter maupun sistem pelvikalises dapat
dipecah melalui tuntutan ureteroskopi atau uretero-renoskopi ini
(Purnomo, 2016).
 PNL (Percutaneous Nephro Litholapaxy) : mengeluarkan batu
yang berada di saluran ginjal dengan cara memasukkan alat
endoskopi ke sistem kaliks melalui insisi pada kulit. Batu
kemudian dikeluarkan atau dipecah terlebih dahulu (Purnomo,
2016).
 Litotripsi : yaitu memecah batu bull-buli atau batu uretra dengan
memasukkan alat pemecah batu (litotriptor) ke dalam buli-buli.
Pecahan batu dikeluarkan dengan evakuator Ellik (Purnomo,
2016).
 Retrograde Intrarenal Surgery (RIRS): Metode operasi
endoskopi pada ginjal yang menggunakan pendekatan retrograd
dan tindakan invasive yang minimal.

H. PENCEGAHAN
Pencegahan urolithiasis dapat dilakukan dan dibedakan bergantung pada
komposisi batu:
a. Batu asam urat: pengaturan diet rendah purin dan pemberian allopurinol
sebagai pengontrol kadar asam urat dalam darah.

SMF BEDAH
b. Batu kalsium fosfat: melakukan pemeriksaan ekskresi kalsium dalam
urin dan nilai kalsium darah. Nilai yang melebihi normal dapat
menandakan etiologi primer seperti hiperparatiroidisme.
c. Batu kalsium oksalat: sumbernya dapat berasal dari eksogen maupun
endogen. Makanan yang banyak mengandung oksalat adalah bayam, teh,
kopi dan coklat. Selain itu, hiperkalsemia dan hiperkalsiuria dapat
disebabkan penyakit lain, seperti hiperparatiroidisme dan kelebihan
vitamin D.
Pada umumnya pembentukan batu juga dapat dihindarkan dengan cara
asupan cairan yang mencukupi, aktivitas yang cukup dan mengontrol
beberapa kadar zat dalam urin. Pada keadaan infeksi, pencegahan
pembentukkan batu dapat dilakukan dengan cara mengobati infeksi yang
ada dengan antibiotik dan asupan cairan yang banyak.
I. KOMPLIKASI
Batu yang menyumbat pada saluran kemih dapat menyebabkan komplikasi
terhadap organ superior terhadap penyumbatan. Beberapa komplikasi
urolithiasis adalah obstruksi ureter yang dapat menyebabkan hidroureter
hingga hidronefrosis. Urin yang statis karena penyumbatan ginjal pun dapat
menjadi media yang baik untuk berkembangnya bakteri hingga dapat
menyebabkan infeksi hingga urosepsis. Pada keadaan tertentu pyonefrosis
juga dapat terjadi pada batu saluran kemih bagian atas. Perjalan pengeluaran
batu juga dapat menimbulkan trauma pada ureter hingga dapat membetuk
striktur ureter. Dalam jangka waktu yang lama batu dapat mengiritasi
mukosa vesika urinaria secara kronis, hingga dapat menyebabkan
komplikasi karsinoma sel skuamosa (Purnomo, 2016).
J. PROGNOSIS
Prognosis batu ginjal tergantung dari faktor-faktor ukuran batu, letak batu,
dan adanya infeksi serta obstruksi. Makin besar ukuran suatu batu, makin
buruk prognosisnya. Letak batu yang dapat menyebabkan obstruksi dapat
mempermudah terjadinya infeksi (Knoll, 2010).

SMF BEDAH
DAFTAR PUSTAKA

Knoll T. 2010. Epidemiology, Pathogenesis and Pathophysiology of Urolithiasis.


European Urology Supplements 9. Department of Urology, Sindelfingen-
Boeblingen Medical Center, Germany. P.802-806.
Purnomo, Basuki 2016. Dasar-dasar Urologi. edisi ketiga. Jakarta: Sagung Seto
Sjamsuhidajat, R & Wim, de Jong (ed). 2017. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta:
EGC
Wein, Kavoussi, Novick, Partin, Peters. 2012. Campbell-Walsh Urology. Tenth
Edition. Philadelphia

SMF BEDAH