Anda di halaman 1dari 13

MAKALAH

PENGANTAR BISNIS
MANAJEMEN

DI SUSUN OLEH :
KELOMPOK 4
Elpi Nisri Atika Putri

M.Tira Noviandra

Agus Triyanto

UNIVERSITAS ISLAM INDRAGIRI


FALKULTAS EKONOMI
JURUSAN MANAJEMEN
2019/2020
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala rahmatnya sehingga
makalah ini dapat tersusun hingga selesai . Tidak lupa kami juga mengucapkan
banyak terimakasih atas bantuan dari pihak yang telah berkontribusi dengan
memberikan sumbangan baik materi maupun pikirannya.

Dan harapan kami semoga makalah ini dapat menambah pengetahuan dan
pengalaman bagi para pembaca, Untuk ke depannya dapat memperbaiki bentuk
maupun menambah isi makalah agar menjadi lebih baik lagi.

Karena keterbatasan pengetahuan maupun pengalaman kami, Kami yakin masih


banyak kekurangan dalam makalah ini, Oleh karena itu kami sangat mengharapkan
saran dan kritik yang membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini.

Tembilahan, …………………… 2019

Ttd

Kelompok 4

i
DAFTAR ISI
KATA PENGATAR ............................................................................................. i

DAFTAR ISI ......................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................ 1

B. Rumusan Masalah ........................................................................... 1

C. Tujuan .............................................................................................. 1

BAB II PEMBAHASAN

A. Arti Dan Ciri Globalisasi ................................................................. 2

B. Jenis Bisnis Global .......................................................................... 3

C. Hal Yang Terjadi Akibat Bisnis Global ......................................... 6

D. Isu Dalam Bisnis Internasional ...................................................... 7

BAB III PENUTUP

Kesimpulan ........................................................................................... 9

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 10

ii
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar belakang
Globalisasi merupakan fenomena yang tidak dapat terelakan dalam dunia
bisnis. Globalisasi dapat diartikan hilangnya batas negara atau jarak antar
negara bukanlah hambatan lagi bagi masyarakat global, sehingga hasil-hasil
produksi dapat dijual diberbagai negara. Orientasi pasar juga sudah
memperhatikan konsumen secara global atau mendunia sehingga keuntungan
bisa didapatkan bukan hanya didalam negeri saja melainkan skala internasional.
Perkembangan dunia teknologi dan informasi juga menjadi faktor pendorong
terciptanya bisnis global dimana mempermudah mendapatkan informasi-
informasi pasar yang sangat dibutuhkan bagi para produsen atau konsumen.
Seperti yang kita ketahui bersama bisnis global tercipta karena faktor-faktor
alami yang dimana masing-masing negara tidak mungkin bisa memenuhi
kebutuhan dalam negerinya dengan usaha sendiri, meskipun suasembada sebuah
negara membutuhkan teknologi, dan umumnya bagi negara-negara berkembang
yang minim akan teknologi akan membutuhkan bantuan dari negara-negara
maju, begitu pula sebaliknya negara maju juga membutuhkan suplay bahan baku
dari negara kaya akan sumber daya alam yang umumnya adalah negara-negara
berkembang. Jadi bisnis global merupakan langkah atau usaha yang harus
dilakukan bagi suatu negara dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Perdagangan bebas atau yang di kenal pasar bebas sudah menjadi
kesepakantan dunia, beberapa negara sudah melakukan infansi-infansi bisnis
menyerang pasar-pasar global yang umumnya adalah negara-negara berkembang.
Dewasa ini arus perdagangan bebas sudah bisa dirasakan hampir diseluruh
negara, sekarang dengan mudah kita menemukan barang-barang produk luar
yang dijual di beberapa toko di Indonesia. Hal ini justru berbahaya terhadap
perekonomian Indonesia karena jika dibiarkan maka produk-produk lokal justru
bisa terancam eksistendinya akibat maraknya produk-produk luar di pasar
Indonesia. Perlu ada strategi-strategi kompetitif dalam menghadapi perdagangan
bebas ini.
Mengingat perdagangan bebas merupakan masa depan bisnis dunia perlu
adanya pemahaman lebih lanjut terhadap konteks bisnis global yang harus di
pahami bagi pelaku ekonomi agar mampu mempersiapkan diri dan menentukan
langkah-langkah bisnis dalam mewujudkan perekonomian yang stabil dalam
persaingan perdagangan bebas.

B. Rumusan masalah
1. Arti Dan Ciri Globalisasi
2. Jenis Bisnis Global
3. Hal Yang Terjadi Akibat Bisnis Global
4. Isu Dalam Bisnis Internasional

C. Tujuan
1. Sebagai bahan bacaan dan referensi mahasiswa untuk lebih memahami
mengenai bisnis global
2. Sebagai landasan diskusi dan persentasi kelas pengantar bisnis

1
BAB II

PEMBAHASAN

GLOBAL BISNIS
A. Arti dan Ciri Globalisasi
1. Arti Globalisasi
Dilansir dari BBC, pengertian globalisasi adalah proses dimana dunia
menjadi semakin terhubung (Globalisation is the process by which the world
is becoming increasingly interconnected) sebagai akibat dari meningkatnya
bisnis secara masif sert terjadinya pertukaran budaya (as a result of massively
increased trade and cultural exchange).

Menurut Held dan McGrew (1999), mengatakan bahwa pengertian


globalisasi adalah proses atau serangkaian proses (a process or set of
processes) yang mewujudkan terjadinya transformasi dalam organisasi spasial
(which embodies a transformation in the spasial organization) yang
menyangkut hubungan sosial dan transaksi, yang dinyatakan dalam arus litas
benua dan lintas regional serta jaringan aktivitas, interaksi dan kekuasaan (of
social relation and transaction, expressed in transcontinental or interregional
flows and networks of activity, interaction and power).

A. G. McGrew (1992) dalam bukunya yang lain memberikan pengertian


globalisasi yang menarik, Beliau mengatakan bahwa pengertian globalisasi
adalah proses dimana berbagai peristiwa, keputusan dan kegiatan di belahan
dunia yang satu dapat membawa konsekuensi penting bagi berbagai individu
dan masyarakat di belahan dunia yang lain.

2. Ciri Globalisasi
Lalu bagaimana tanda tanda atau ciri ciri globalisasi. Terjadinya
globalisasi dapat dikenali dengan 4 karakter perubahan, yang dapat
dikatakan sebagai ciri ciri globalisasi.
a. Ciri pertama globalisasi terjadinya pelebaran aktivitas sosial, politik,
dan ekonomi di pelosok wilayah, regional dan benua.
b. Ciri kedua globalisasi adalah terjadinya intensifikasi atau peningkatan
serta keterhubungan aliran bisnis, investasi, keuangan, serta migrasi
dan pertukaran budaya.
c. Ciri ketiga globalisasi adalah terjadinya percepatan interaksi dan
komunikasi secara mendunia dengan terciptanya sistem transportasi
maju, sehingga mempercepat pertukaran serta difusi ide, barang
barang, informasi, modal dan juga masyarakat.
d. Ciri keempat globalisasi adalah terjadinya peningkatan intensitas dan
kecepatan interaksi global yang mengakibatkan kejadian atau peristiwa
lokal di willayah yang berjauhan dapat menjadi sesuatu yang
berdampak global. Artinya masalah domestik dan masalah global
menjadi semakin berhubungan (become increasingly fluid).

2
Berdasarkan pengertian globalisasi dan ciri ciri globalisasi diatas
dapat dikatakan bahwa globalisasi itu bersifat multidimensi. Artinya,
globalisasi tidak hanya berkutat pada masalah keuangan saja (ekonomi
saja), globalisasi saling mempengaruhi mulai dari dimensi ekonomi,
politik, sosial dan budaya.

Walaupun memang menurut Joseph E. Stiglitz dalam


bukunya Globalization and its discontents (2002), mengatakan bahwa
globalisasi memang sangat erat berkaitan dengan perekonomian khususnya
bisnis serta globalisasi yang berhasil selalu dicirikan oleh tidak adanya atau
kurangnya keterlibatan IMF, WTO, dan badan global lainnya dalam negara
tersebut, contohnya Taiwan dan Korea Selatan yang lebih menonjolkan dan
mengandalkan kemampuan negaranya dalam “berglobalisasi”.

B. Jenis Bisnis Global


Ada peribahasa mengatakan ‘banyak jalan menuju Roma’ setidaknya hal itu
sangat berlaku bagi kalangan bisnis baik nasional maupun global yang meyakini
bahwa ‘banyak pula jalan menuju keuntungan’. Berbisnis di dunia global, apalagi
di era globalisasi ini sangat mungkin dilakukan oleh setiap orang dengan banyak
cara dan model karena dengan adanya globalisasi dan kemajuan terknologi,
hubungan dan mobilisasi antarmanusia yang tinggal di kutub yang berlainan
dapat dilakukan dengan mudah dan cepat. Pada intinya jarak dan waktu di era
globalisasi ini tidak lagi menjadi masalah.

Contoh dari bisnis global yang sukses memasuki pasar dunia-Indonesia


khususnya- adalah handphone Blackberry. Pada awal mula peluncuran
produknya, Blackberry hanya merupakan ponsel biasa yang bentuknya hampir
sama dengan merek lain seperti Nokia, Sony Ericson, Xiemens yang hanya
memiliki jumlah keypad sedikit. Lalu karena ia dalam bisnis handphone hanya
merupakan followers alias cuma ikut-ikutan saja tanpa ada fitur tambahan yang
‘beda’ dengan merek-merek sebelumnya, maka ia gagal menembus pasaran
handphone. Selang beberapa tahun kemudian, ia kembali meluncurkan
produknya dan kali ini ia berhasil menembus pasaran handphone dengan cara
menyediakan bentuk dan fitur handphone yang ‘beda’ dengan yang lain serta
mengubah cara orang memakai handphone. Tak pelak lagi konsumen mulai
mengenali keistimewaan produk Blackberry ini dan seterusnya Blackberry
menjadi trend baru dalam bisnis telfon genggam dan mengalahkan kompetitor
lain.

Dari contoh diatas dapat dikatakan bahwa di awal, ketika Blackberry hanya
menjadi followers dari handphone berbagai merek, kemunculannya tidak banyak
mendapatkan apresiasi alias gagal. Namun ketika ia menjadi pioneers dari
handphone model ‘qwerty’ ia disambut dengan hangat oleh sejumlah konsumen
bahkan sampai sekarangpun belum ada yang mengalahkan ia di bidangnya.
Contoh kasus diatas sangat tepat apabila dikaitkan dengan artikel Wild yang
mengatakan bahwa ‘…pioner yang dapat bertahan, memegang porsi pasar yang
lebih besar daripada kompetitor lain…’. Wild dalam artikelnya juga mengatakan
bahwa sebenarnya followers tidak selalu gagal, adakalanya ia berhasil menyaingi
pendahulunya dengan catatan jika ia memiliki kecepatatan dan modal yang
memadai, selain itu keuntungan menjadi followers adalah ia dapat menghindari

3
resiko yang diemban oleh pioneers dan mengamati apa saja kelemahan dan
kekuarangan si pioneer (Wild, Wild, & Han, 2008 : 426). Jadi menurut penulis,
untuk memasuki pasar bisnis global selalu ada resiko dan keuntungan baik bagi
followers maupun pioneers, faktor penempatan waktu dan tempat-lah yang
sangat berpengaruh bagi kesuksesan sebuah produk atau jasa (baca: right things
on the right time and place).

Dari artikel ‘Entry Modes’ dalam buku International Business : The Challenges
of Globalization yang ditulis bersama oleh John J. Wild, Kenneth Wild dan Jerry
Han dijelaskan bahwa macam-macam variasi bisnis global secara garis besar
dapat dibagi menjadi dua kelompok besar yakni yang berbasiskan Equity dan
Non-Equity. Untuk yang berbasiskan equity ada tujuh jenis yaitu:
1. Export, terdiri dari dua jenis yaitu Indirect Export yang mengekspor barang
dan jasa melalui beberapa macam tipe pangkalan induk ekportir. Dan Direct
Export yang bidangnya adalah mengekspor barang atau jasa yang mereka
produksi sendiri. Direct Export disini jika ia sudah berkembang pesat dan
banyak melayani pelanggan diluar negeri, maka kemudian perusahan (yang
memproduksi) tersebut akan membuat sebuah sales company di negara tujuan
ekspor, yang tugasnya adalah bertujuan untuk memasarkan barang dan jasa
tersebut.

2. Turnkey Project adalah sebuah mekanisme ekspor teknologi, keahlian


manajerial, dan sebagian berbentuk perlengkapan modal. Disini yang terlibat
adalah pihak kontraktor dimana ia setuju untuk mendesain dan mendirikan
sebuah pabrik, menyediakan teknologi pemrosesan, menyuplai bahan mentah
yang dibutuhkan dan lain sebagainya serta melatih personel untuk
mengoperasikan alat-alat dan teknologi tersebut, sedangkan instansi yang
menyewanya hanya tinggal meneruskan dan mengembangkan bisnis tersebut.
Contoh, bisnis penyulingan minyak dan produksi baja.

3. Countertrade “Countertrade adalah sebuah penetapan dagang yang mana


penjual atau eksportir diharuskan untuk menerima sebagian atau seluruh
perjanjian dalam proses pengiriman, dapat berupa sebuah penawaran produk
dari negara pengimpor. Intinya, hal ini adalah sebuah purchasing power yang
dimiliki oleh negara atau perusahaan untuk mempengaruhi sebuah perusahaan
untuk membeli atau memasarkan barang atau konsesi lainnya yang bertujuan
untuk membayar barang impor, atau untuk mendapatkan nilai mata uang yang
kuat atau teknologi.

4. Licencing adalah pengaturan kontrak yang mana satu perusahaan (the


licencor) memberikan akses hak paten, keahlian, prosesur pemasaran,
trademarks, rahasia penjualan atau teknologi kepada perusahaan lain (the
licencee) untuk mendapatkan bayaran. Besarnya ongkos tergantung
bargaining power masing-masing perusahaan dan pihak licencee harus
memberikan royalti sebesar 2 sampai 5 persen dari penjualannya sebagai
ganti pertolongan (assistance) yang diberikan oleh licencor selama kontrak
tersebut masih berlaku. Contoh majalah Cosmopolitan yang terbit di lebih
dari 100 negara.
5. Franchising adalah bentuk dari lisensi dimana satu perusahaan (franchisee)
melakukan kontrak dengan perusahaan lain untuk mengoperasikan tipe bisnis
tertentu dibawah nama perusahaan yang sudah terkenal menurut peraturan

4
yang spesifik. Contohnya adalah McDonald di Indonesia dimana walaupun
gerainya milik orang lokal, namun untuk manajemen, produksi dan
pengembangan pasarnya masih tetap dikontrol pihak yang memiliki brand
tersebut.

6. Contract Manufacturing adalah sejenis pengaturan kontrak dimana satu


perusahaan bersedia untuk memproduksi barang bagi perusahaan lain, yang
produk tersebut sesuai dengan spesifikasi permintaan perusahaan kedua yang
nantinya akan mereka pasarkan sendiri. Contoh, perusahaan air kemasan jawa
timur ‘flow’ yang bersedia untuk menyediakan air kemasan bagi Universitas
Airlangga Surabaya dengan memakai label Universitas Airlangga sebagai
merek air kemasan tersebut.

7. Management Contract adalah pengaturan dimana satu perusahaan


menyediakan mekanisme manajemen dalam satu atau semua area kepada
perusahaan lain. Contoh jaringan hotel Hilton di dunia yang kepemilikannya
kepunyaan orang-orang tertentu yang berlainan namun untuk manajemen
hotelnya langsung disediakan oleh jaringan Hilton.
(Wild, Wild, & Han, 2008 : 427-430)

Sedangkan untuk bisnis global yang berbasiskan Non-Equity terdiri dari tiga
jenis yaitu :
a) Wholly Owned Subsidiary atau dalam bahasa sederhananya adalah cabang
perusahaan di luar negeri dimana kepemilikannya bersifat menyeluruh bagi
perusahaan tersebut. Wholly Owned Subsidiary ini dapat dicapai dengan cara
perusahaan membangun cabang pabrik dari awal, atau mengambil alih
kepemilikan perusahaan (akuisisi) lokal dengan begitu ia tidak perlu mulai
dari awal dan hanya tinggal mengembangkannya. Akuisisi dan merger
(penggabungan perusahaan) ini ternyata seringkali dilakukan oleh perusahaan
karena dengan begitu akan lebih menghemat biaya pengembangan dan
distribusi produk (Wild, Wild, & Han, 2008 : 431).

b) Joint Venture adalah usaha kerjasama antara dua atau lebih perusahaan yang
berbagi kepentingan yang sama dalam sebuah perusahaan bisnis atau
pelaksanaannya. Secara garis besar menurut Wild, ada empat bentuk joint
venture; 1) suatu entitas perusahaan yang dibentuk oleh perusahaan global
(skala besar) dan pemilik lokal, 2) sebuah entitas perusahaan yang dibentuk
oleh dua perusahaan global, 3) entitas perusahaan yang dibentuk oleh agen
pemerintah dan perusahaan global, dan 4) kerjasama antara dua atau lebih
perusahaan untuk melaksanakan suatu proyek yang terbatas seperti proyek
pembangunan jalan tol dan bandara udara. Ada banyak keuntungan dalam
menjalankan join venture ini diantaranya ialah, ia menawarkan komitmen
finansial dan sumber pengaturan yang lebih ringan dan mudah karena
ditanggung bersama (walaupun porsinya beda) diantara partner, serta resiko
yang dibawa oleh joint venture lebih kecil. Namun kerugian dari melakukan
joint venture ini adalah pertama keuntungannnya harus dibagi, kedua apalagi
jika ada peraturan pemerintah setempat yang mengharuskan partisipasi
perusahaan luar tidak lebih dari 49% dan jika ditambah dengan sempitnya
atau ketiadaan pasar modal di negara tersebut para pemegang saham tentunya
akan kesulitan untuk mengembangkan dan menjual saham mereka. Pada
intinya semua kelemahan ini bermuara pada satu masalah yakni para

5
pemegang saham atau perusahaan asing ingin mendapatkan kontrol yang
lebih besar atas aset yang mereka miliki (Wild, Wild, & Han, 2008, p. 434).
Joint venture, walaupun kelihatannya cukup membatasi gerak perusahaan
asing, namun tak dapat dipungkiri bahwa ia merupakan bentuk kerjasama
yang menguntungkan, buktinya masih banyak perusahaan yang melakukan
mekanisme ini walaupun beberapa negara mensyaratkan harus ada partisipasi
lokal, bahkan tanpa disuruhpun ada perusahaan yang mencari partner lokal
guna memudahkan pemasaran produk mereka di negara tersebut. Hal ini
dilakukan oleh perusahaan asing agar nasionalisme warga negara setempat
tidak tersulut dan menolak perusahaan tersebut, disamping itu di beberapa
negara berkembang seringkali masyarakatnya tidak senang dengan
keberadaan perusahaan asing karena dianggap mengeksploitasi mereka.
Meskipun ketentuan partisipasi perusahaan asing hanya dibolehkan tidak
lebih dari 49 persen, namun perusahaan asing tersebut pada kenyataannya
dapat memperoleh kontrol yang lebih besar terhadap investasi mereka dengan
cara bekerjasama dengan ‘sleeping partner’ seperti agen pemerintah,
perusahaan asuransi, dan institusi finansial dimana fokus mereka hanyalah
mendapatkan keuntungan dan alih-alih menyerahkan seluruh manajemen
perusahaan ke partner asing mereka. Atau kontrol dapat juga diperoleh
dengan mekanisme manajemen kontrak (Wild, Wild, & Han, 2008, pp. 433-
435), yang mana nantinya para ahli (terutama di posisi manajer produksi dan
teknik) dari partner asing inilah yang nantinya akan mengatur jalannya
perusahaan joint venture bukan pemilik besar saham.

c) Strategic Alliances adalah bentuk pertnership atau persekutuan antara


kompetitor, pelanggan, atau suppliers yang melibatkan satu atau bermacam-
macam bentuk baik equity atau non equity. Tujuan dari stategi aliansi ini
adalah untuk mempercepat proses masuk pada pasar global dan memantapkan
posisi awal perusahaan, untuk mendapatkan akses produk terbaru, teknologi,
pasar, dan pembagian biaya produksi, sumber daya dan resiko (Wild, Wild, &
Han, 2008 : 435).

C. Hal Yang Terjadi Akibat Bisnis Global


Dampak yang disebabkan oleh bisnis global dapat berakibat buruk maupun
baik tergantung darimana kita memandangnya. Beberapa hal dapat dianggap
sebagai dampak dari kegiatan bisnis yang mengglobal. Fenomena globalisasi di
dalam bidang transportasi yang semakin menghilangkan arti dan peranan jarak
demografis (distance). Contohnya terlihat dengan semakin kuatnya peranan
“global door-to-door through freight international system”, yang menggunakan
sistem peti kemas (containers system) dalam kaitannya dengan semakin
diberlakukannya sistem “just in time inventory” secara global.

Revolusi dalam bidang komunikasi yang semakin menghilangkan peranan


waktu (time). Komunikasi jarak jauh dapat dilakukan langsung lewat telepon dan
internet sehingga menghemat waktu, tenaga dan biaya. Negosiasi bilateral dan
pendekatan regional telah membuat semakin meningkatnya arus barang (flow of
goods) dan arus modal (flows of capital) secara global, sehingga semakin
memperkecil perbedaan harga dan tingkat suku bunga sedemikian sehingga profit
margin dalam bisnis dan transaksi modal semakin menipis. Dampaknya dalam
bisnis ini meningkatnya persaingan yang semakin besar.

6
Keadaan bisnis global juga ditandai dengan investasi asing langsung
(Foreign Direct Investment, FDI) yang sudah berlipat ganda dan pasar dunia
yang lebih kompetitif daripada biasanya. Investasi lansung adalah suatu
metode

investasi dimana perusahaan membangun bisnis baru atau membeli bisnis


yang telah berjalan di luar negeri, sehingga FDI merupakan metode umum yang
dilakukan oleh bisnis global.

Tanda-tanda lain mengenai meningkatnya persaingan dalam pasar dunia


adalah kehadiran sejumlah perusahaan multinasional (Multinational Company,
MNC) dan dimana MNC itu bermarkas. Perusahaan Multinasional (MNC) adalah
perusahaan yang memiliki bisnis di dua negara atau lebih. Pada tahun 1970, lebih
separuh MNC yang berjumlah 7.000 perusahaan berkantor pusat hanya di dua
negara, Amerika Serikat dan Inggris. Sekarang ada lebih dari 35.000 MNC.
Sekitar 17.000 MNC berkantor pusat di empat negara: Swiss, Jerman, Jepang dan
Amerika Serikat. Sisanya 18.000 MNC, lebih dari dua setengah kali jumlah
perusahaan pada tahun 1970, berkantor pusat di seluruh dunia.

Kemudian, dampak bisnis global juga menyebabkan terjadinya peningkatan


penjualan produk-produk impor maupun ekspor. Hal itu dapat diperhatikan
dalam kehidupan masyarakat sehari-hari bahwa pada umumnya penduduk satu
negara kebanyakan memakai atau mengkonsumsi produk-produk impor seperti
sepatu, kendaraan bermotor, TV, barang elektronik lainnya dan produk-produk
kebituhan sehari-hari.

D. Isu Dalam Bisnis Internasional


Membicarakan tentang persaingan dunia dalam bisnis internasional, selalu
ada perdebatan tentang perlukah pemerintah ikut campur atau tidak di dalamnya.
Dua pihak yang berdebat di sini adalah kaum liberalisme dan merkantilisme.

Liberalisme menganggap bahwa bisnis harus dilakukan di dalam free


market yang mengambang tanpa campurtangan pemerintah. Antara ekspor dan
impor harus seimbang. Tujuan utamanya adalah mencapai kesejahteraan bersama
dengan bisnis yang saling menguntungkan.

Merkantilisme menganggap bahwa ekspor adalah segalanya dan impor


harus dikurangi. Untuk melakukannya, mereka akan membutuhkan bantuan
pemerintah agar melindungi usaha domestik. Prakteknya adalah seperti ini, saat
ada barang yang diimpor, maka pemerintah akan meminta agar usaha domestik
dapat menciptakan barang yang sama kualitasnya dengan barang tersebut.
Setelah berhasil, maka pemerintah akan membantu mempromosikan barang
tersebut agar dapat dijual di negara lain (dengan memberikan subsidi,
pelindungan, dll). Contohnya adalah Jepang yang lebih banyak menjual Totota
ke negara lain, tapi tidak digunakan di negara sendiri.

Bagaimana dengan Indonesia? Masih terdapat keambiguan tentang apa


yang akan dilakukan pemerintah dalam berdagang dengan negara lain. Saat ini
kita memang masih hanya berupa negara periphery yang belum mampu

7
memproduksi sendiri. Namun anehnya, kita justru menyutujui bisnis bebas,
padahal pemerintah sendiri tidak pernah melakukan usaha untuk melindungi
usaha domestiknya.

Kembali soal teori bisnis internasional, ada sebuah teori yang disebut
dengan Hegemonic Stability. Teori ini mengungkapkan bahwa sebuah free
market economy jika ingin stabil maka ia memerlukan satu negara adidaya atau
hegemoni yang dapat menentukan jalannya free market tersebut. Untuk menjadi
negara adidaya di bidang ekonomi, maka sebuah negara harus memiliki kekuatan
ekonomi dan militer yang kuat. Militer penting karena tanpa adanya militer,
sebuah negara tidak dapat melakukan ancaman. Kekuatan ekonomi adalah soft
power dan kekuatan militer adalah hard power, tanpa adanya kedua kekuatan ini
sebuah negara tidak akan dapat menjadi hegemoni.

Bagaimana sebuah negara yang kekuatan ekonominya tidak kuat dapat


menjadi kuat? Mereka harus membentuk kekuatan dengan regionalnya terlebih
dahulu. Prinsip dasar dari organisasi regional adalah menciptakan collective
prosperity agar setiap negara tetangga dapat maju bersama dan sama-sama kuat
di dunia internasional. Misal negara2 ASEAN daripada harus repot-repot
berjualan ke AS, lebih baik jika mereka dapat berdagang di regionalnya sendiri.
Hal itu akan meningkatkan kesejahteraan serta kekuatan mereka dan mereka
akan seimbang dengan negara hegemon. Untuk melakukannya, akan lebih mudah
jika kita memiliki sistem moneter tunggal.

8
BAB III

PENUTUP
Kesimpulan

Global bisnis adalah kegiatan perdagangan berupa ekspor dan impor antara dua
Negara atau lebih. Terciptanya bisnis global dipengaruhi beberapa factor
seperti keterbatasan produksi maupun sumber daya suatu negara, keterbatasan
teknologi yang di miliki suatu negara, Ada pertimbangan efesiensi dalam
memproduksi suatu barang, dan Adanya cita-cita go international bagi sebuah
perusahaan. Di dalam ekonomi bisnis global memiliki terori-teori yang menjadi tolak
ukur dalam melihat atau memahami keunggulan dan potensi Negara yaitu: Teori
Keunggulan koparatif (comparative advantage theory) menyatakan bahwa sebuah
negara harus menjual produk yang dapat diproduksinya secara paling efektif dan
efesien kepada negara lain dan membeli dari negara lain produk dari negara lain
produk yang tidak dapat diproduksinya dengan efektivitas dan efesiensi yang sama 3,
dan Teori keunggulan absolut (absolute advantage) jika negar atersebut mempunyai
monopoli dalam memproduksi suatu produk tertentu atau mampu memproduksinya
secara lebih efesien dibandingkan semua negara lain.

Dalam hal mengukur perdagangan internasional kita bias melihat dari dua neraca
yaitu Neraca perdagangan (balance of trade) adalah total nilai ekspor sebuah negara
dibandingkan dengan impornya yang diukur selama periode waktu tertentu5,
dan Neraca pembayaran (balance of payments) adalah perbedaan antara uang yang
masuk ke dalam sebuah negara (dari ekspor) dan uang yang keluar dari negara
tersebut (untuk impor) plus uang yang mengalir masuk atau keluar sebuah negara dari
faktor-faktor lainya, seperti pariwisata, bantuan asing, pengeluaran militer, dan
investasi6. Strategi menjangkau persaingan dalam bisnis global ada beberapa tahap
yang perlu diperatikan yaitu pemberian lisence, melakukan ekspor, melakukan
manufaktur kontrak, ventura bersama dan aliansi starategis internasional, dan
investasi asing langsung.

Didalam perdegangan global memiliki beberapa hambatan yang harus di


antisipasi bagi para produsen diantaranya sosialkultural, ekonomi dan financial, dan
kekuatan lingkungan. Proteksi perdagangan adalah salah satu cara pemerintah dalam
negeri untuk melindungi pasar dalam negerti dari serangan produk-produk luar
mendominasi pasar, bentuk-bentuk dari proteksi perdagangan adalah kuota, subsidi,
larangan impor, dan tarif. Dampak dari bisnis global dapat dilihat dari bagaimana
cara kita melihatnya dari sisi positif adalah dari segi produsen dapat meningkatkan
profit karana pasar yang luas, dapat meningkatkan devisa Negara, bagi perusahaan
dapat eksis di dunia internasional, dan lain sebagainya. Selain itu terdapat dampak
negatif yaitu dapat melumpuhkan barang-barang dalam negeri yang tidak mampu
bersaing, dan kemungkinan deficit anggran bagi Negara. Ada beberapa organisasi
perdagangan internasional yang merupakan hasil kesepakatan dagang oleh Negara-
negara di dunia yang berfungsi sebagai pengatur pengawsan media pejanjian dagang.
Keespakatan dagang internasional itu seperti GATT, WTO, ASEAN, APEC dan
MAI.

9
DAFTAR PUSTAKA

http://www.peaceanarchy.com/2012/08/isu-isu-tentang-perdagangan.html

https://hafidfathur.wordpress.com/2015/03/24/bisnis-global/

https://learniseasy.com/globalisasi-pengertian-globalisasi-ciri-ciri-dampak-dan-pentingnya-
globalisasi/

10