Anda di halaman 1dari 28

SISTEM INFORMASI AKUNTANSI

ETIKA, FRAUD, DAN PENGENDALIAN INTERNAL

ANALISIS KASUS
SNP FINANCE DAN AUDITOR
DELOITTE INDONSESIA

Mata Kuliah Koperasi dan UMKM


Dosen Pengampu Sohidin, S.E., M.Si., Akt dan Lies Nurhaini, M.Si
Identitas Tugas:

Nama dan NIM Anggota Kelompok


Kartika Mega P. K7717042
Kun Afifah K7717044
Maria Kristi A.P.R K7717046
Nurma Melati K7717054
Rica Meilana R. K7717062
Rini Dwi N. K7717065
Septiana Puspitasari K7717067
Setyaningsih K7717069

Program Studi
Pendidikan Akuntansi

Kelas
B

Mata Kuliah
Sistem Informasi Akuntansi

Semester
5

Dosen Pengampu
Sohidin, S.E., M.Si., Akt
Lies Nurhaini, M.Si

Tanggal Pengumpulan
Selasa, 8 Oktober 2019

PENDIDIKAN AKUNTANSI 2017


FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS SEBELAS MARET


DAFTAR ISI

Halaman Judul .............................................................................................i


Daftar Isi .................................................................................................. iii
Kata Pengantar .......................................................................................... iv
BAB I Pendahuluan ............................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................... 1
1.3 Tujuan Penulisan .................................................................. 2
BAB II Tinjauan Pustaka/Landasan Teori ............................................... 3
2.1 Deskripsi Teori ..................................................................... 3
2.1.1 Etika Bisnis .................................................................. 3
2.1.2 Fraud ........................................................................... 4
2.1.3 Kecurangan Laporan Keuangan ................................. 13
2.1.4 Pengendalian Internal ................................................ 14
2.2 Penelitian Terdahulu ........................................................... 15
BAB III Penutup ..................................................................................... 23
Kesimpulan ............................................................................... 23
KATA PENGANTAR

Puji syukur alhamdulillah kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha


Esa, karena telah melimpahkan rahmat-Nya berupa kesempatan dan pengetahuan
sehingga kami bisa menyelesaikan makalah Analisis Kasus SNP Finance dan
Auditor Deloitte Indonesia.
Terima kasih juga kami ucapkan kepada dosen kami Bapak Sohidin, S.E.,
M.Si., Akt dan Ibu Lies Nurhaini, M.Si yang telah memberikan pengetahuan
dan membimbing kami hingga kami bisa menyelesaikan tugas ini dengan baik.
Kami berharap semoga makalah ini bisa menambah pengetahuan untuk
para pembaca. Namun terlepas dari itu, kami memahami bahwa makalah ini
masih jauh dari kata sempurna, sehingga kami sangat mengharapkan kritik serta
saran yang bersifat membangun demi terciptanya makalah selanjutnya yang
lebih baik lagi.

Kelompok 1
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah


Pada dasarnya perjanjian utang piutang antara SNP Finance dengan
para kreditornya (bank) tersebut adalah kerjasama yang sifatnya
mutualistik. SNP Finance membutuhkan dana, bank juga butuh
menyalurkan kredit. Namun dalam perjalanan waktu, ternyata bisnis retail
Columbia yang merupakan induk dari SNP Finance mengalami
kemunduran.Penyebabnya adalah perilaku pembelian customer telah
berubah, konsumen tidak lagi belanja produk furniture dan elektronik
dengan datang ke toko, melainkan mereka lebih suka membeli secara
online melalui perangkat gadgetnya. Mulai
dari survey harga, survey spesifikasi produk, sampai dengan pembelian,
semua dilakukan secara online. Bahkan para online shop juga
memberikan fasilitas kredit tanpa bunga (bunga 0%) untuk tenor yang
bahkan sampai 12 bulan. Kondisi perubahan perilaku pembelian customer
inilah yang memukul pangsa pasar dari Columbia, dan tentunya juga
berdampak pada SNP Finance. Buntutnya adalah kredit SNP Finance
kepada para bank – bank/krediturnya tersebut menjadi bermasalah, dalam
istilah keuangan disebut Non Performing Loan (NPL).
Deloitte yang merupakan KAP big four melakukan kelalaian
(negligence), yaitu dengan kurang menerapkan prinsip kehati – hatian
(professional skepticism) dalam mengaudit kliennya tersebut.Ketika terjadi
peningkatan hutang dan hutang yang menjadi non performing loan,
harusnya ini sudah menjadi lampu kuning bagi Deloitte untuk memberikan
opini going concern atas laporan keuangan SNP Finance.Opini going
concern adalah informasi tambahan yang diberikan auditor di paragraph
penjelas dalam laporan auditor independen yang berfungsi untuk
menyatakan bahwa perusahaan dalam kondisi beresiko mengalami
kebangkrutan. Dengan adanya opini tersebut, akan menjadi warning bagi

1
para kreditornya untuk berhati – hati dalam menyalurkan pinjaman. Selain
itu dengan adanya kondisi kesulitan keuangan yang dialami oleh SNP
Finance, seharusnya Deloitte juga mengetahui bahwa hal ini menjadi
faktor tekanan/pressure bagi perusahaan untuk melakukan
kecurangan/fraud, yaitu dengan memanipulasi laporan keuangan agar
tampak baik. Deloitte seharusnya mengkategorikan kliennya tersebut
sebagai high risk, atau beresiko tinggi melakukan fraud. Dengan adanya
kondisi high risk tersebut, mengacu pada standar audit yang dikeluarkan
oleh International Standard on Auditing (ISA) no 330 tentang respon
auditor terhadap resiko kecurangan klien, Deloitte seharusnya menambah
porsi pengujian substantive pada test of details, seperti menambah sampel
untuk konfirmasi piutang pelanggan. Sehingga dari prosedur audit tersebut
akan terungkap apabila ternyata banyak piutang fiktif yang sengaja dibuat
oleh kliennya.
B. Tujuan

Mencari solusi atas masalah dari SNP Finance dan Auditor Deloitte
Indonesia

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA / LANDASAN TEORI

A. DESKRIPSI TEORI

2.1 ETIKA BISNIS

2.1.1.Definisi Etika

Menurut Lawrence, Weber, dan Post (2005) dalam Sukirno Agus dan I
Cekik Ardana (2009: 127-128) etika adalah suatu konsepsi tentang perilaku
benar dan salah. Etika menjelaskan kepada kita apakah perilaku kita bermoral
atau tidak berkaitan dengan hubungan 14 kemanusiaan yang fundamental,
bagaimana kita berpikir dan bertindak kepada orang lain dan bagaimana kita
inginkan meraka berpikir dan bertindak terhadap kita.

Menurut Muslich (2004: 9) etika bisnis dapat diartikan sebagai


pengetahuan tentang tata cara ideal pengaturan dan pengelolaan bisnis yang
memperhatikan norma dan moralitas yang berlaku secara universal dan secara
ekonomi/sosial, dan pengetrapan norma dan moralitas ini menunjang maksud
dan tujuan kegiatan bisnis.

Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa etika bisnis adalah perilaku yang
dilakukan individu dalam menjalankan sebuah bisnis yang mencerminkan
konsep benar dan salah.

2.1.2.Prinsip-prinsip Etika

5 prinsip etika bisnis menurut Sonny Keraf (1998) menjelaskan bahwa


prinsip etika bisnis adalah sebagai berikut :
1. Prinsip Otonomi ; yaitu sikap dan kemampuan manusia untuk mengambil
keputusan dan bertindak berdasarkan kesadarannya tentang apa yang
dianggapnya baik untuk dilakukan.

3
2.Prinsip Kejujuran ; terdapat tiga lingkup kegiatan bisnis yang bisa
ditunjukkan secara jelas bahwa bisnis tidak akan bisa bertahan lama dan
berhasil kalau tidak didasarkan atas kejujuran. Pertama, jujur dalam
pemenuhan syarat-syarat perjanjian dan kontrak.Kedua, kejujuran dalam
penawaran barang atau jasa dengan mutu dan harga yang sebanding.Ketiga,
jujur dalam hubungan kerja intern dalam suatu perusahaan.
3.Prinsip Keadilan ; menuntut agar setiap orang diperlakukan secara sama
sesuai dengan aturan yang adil dan sesuai kriteria yang rasional obyektif,
serta dapat dipertanggung jawabkan.
4.Prinsip Saling Menguntungkan (Mutual Benefit Principle) ; menuntut agar
bisnis dijalankan sedemikian rupa sehingga menguntungkan semua pihak.
5.Prinsip Integritas Moral ; terutama dihayati sebagai tuntutan internal dalam
diri pelaku bisnis atau perusahaan, agar perlu menjalankan bisnis dengan
tetap menjaga nama baik pimpinan atau orang-orangnya maupun
perusahaannya.

2.2. FRAUD

2.2.1 Definisi Fraud

Bologna et al.,(dalam Rachmawati, 2014) menjelaskan kecurangan


“fraud is criminal deception intended to financially benefit to deceiver” yaitu
kecurangan adalah penipuan kriminal yang bermaksud untuk memberi
manfaat keuangan kepada si penipu. Kriminal berarti setiap tindakan
kesalahan serius yang dilakukan dengan maksud jahat. Dari tindakan jahat
tersebut ia memperoleh manfaat dan merugikan korbannya secara finansial.

Menurut Albercht et al., (2011), “Fraud is a generic term, and embraces


all the multivararious means which human ingenuity can devise, which are
resorted to by one individual, to get an advantage over another by false
representation. No definite and invariable rule can be laid down as a general
proposition in definiting fraud, as it includes surprise, trickery, 14 cunning
and unfair ways by which another is cheated. The only boundaries defining it

4
are those which limit human knavery” Artinya, fraud merupakan hal yang
bersifat umum dan memiliki banyak makna, yang terjadi karena kecerdikan
manusia dan ditujukan untuk satu pihak untuk memperoleh keuntungan lebih
dengan penyajian yang salah. Tidak ada aturan khusus yang dapat dijadikan
sebagai dasar dalam mengartikan fraud yang terdiri dari kejutan, penipuan,
kelicikan dan cara yang tidak wajar yang digunakan sebagai cara untuk
menipu orang lain. Satu-satunya cara untuk menjelaskannya adalah bahwa
fraud merupakan hal yang merusak moral manusia. Sedangkan menurut Amin
Widjaja (2011a) (dalam Rini 2012) fraud mengacu pada kesalahan penyajian
suatu fakta yang material dan dilakukan satu pihak ke pihak lain dengan
tujuan menipu dan membuat pihak lain merasa aman untuk bergantung pada
fakta yang merugikan baginya.

Tipologi Fraud Dari bagan Uniform Occupational Fraud Classification


System, TheACFE (Association of certified Fraud Examiner, 2000) membagi
fraud ke dalam tiga (3) tipologi tindakan, yaitu:

1. Penggelapan Aset (Asset Missapropriation) Penyimpangan ini meliputi


penyalahgunaan atau pencurian asset/harta perusahaan. Asset
missapropriation merupakan fraud yang paling mudah dideteksi karena
sifatnya yang tangible atau dapat dihitung.

2. Pernyataan yang Salah (Fraudulent Missatement) Hal ini dilakukan dengan


melakukan rekayasa terhadap laporan keuangan (financial engineering) untuk
memperoleh keuntungan dari berbagai pihak, Penggelapan aset perusahaan
juga dapat menyebabkan laporan keuangan perusahaan tidak disajikan sesuai
dengan prinsip akuntansi yang berlaku umum dan menghasilkan laba yang
atraktif (window dressing).

3. Korupsi (Corruption) Korupsi merupakan fraud paling sulit dideteksi


karena korupsi biasanya tidak dilakukan oleh satu orang saja tetapi sudah
melibatkan pihak lain (kolusi). Kerjasama yang dimaksud dapat berupa

5
penyalahgunaan wewenang, penyuapan (bribery), penerimaan hadiah yang
illegal (gratuities) dan pemerasan secara ekonomis (economic gratuities).

2.2.2.Agency Theory (Teori Keagenan)

Hubungan keagenan (agency relationship) terjadi ketika satu atau lebih


individu, yang disebut principal mempekerjakan individu atau organisasi lain,
yang disebut agent untuk melaksanakan sejumlah jasa dan mendelegasikan
kewenangan untuk mmbuat keputusan kepada agent tersebut. Dalam sebuah
perusahaan, manajer berperan sebagai agent yang secara moral
bertanggungjawab untuk mengoptimalkan keuntungan para pemilik
(principal), namun di sisi lain manajer juga mempunyai kepentingan untuk
memaksimumkan kesejahteraan mereka (Ujiyantho & Pramuka, 2007).

Conflict of interest atau perbedaan kepentingan antara prinsipal dan agen


inilah yang memicu agency problem yang dapat mempengaruhi kualitas laba
yang dilaporkan. Menurut Eisenhardt, 1989 (dalam Norbarani 2012), teori
agensi menggunakan tiga asumsi sifat manusia yaitu:

(1) manusia pada umumnya mementingkan diri sendiri (self interest),

(2) manusia memiliki daya pikir terbatas mengenai persepsi masa mendatang
(bounded rationaliy),

(3) manusia selalu menghindari risiko (risk averse).

Ketiga hal tersebut menyebabkan informasi yang dihasilkan manusia


untuk manusia lain selalu dipertanyakan realibilitasnya. Informasi yang
disampaikan biasanya tidak sesuai dengan kondisi perusahaan yang
sebenarnya atau disebut sebagai informasi yang tidak simetri (asimetry
information). Ketidakjelasan informasi yang dihasilkan manajemen pada
akhirnya akan menyesatkan para pengguna laporan dalam proses
pengambilan keputusan.

6
2.2.3. Teori Fraud

1. FRAUD TRIANGLE
Fraud triangle adalah sebuah teori yang dikemukakan oleh Donald R.
Cressey setelah melakukan penelitian untuk tesis doktor-nya pada tahun
1950. Cressey mengemukakan hipotesis mengenai fraud triangle untuk
menjelaskan alasan mengapa orang melakukan fraud.Berdasarkan penelitian
yang dilakukan, Cressey menemukan bahwa orang melakukan fraud ketika
mereka memiliki masalah keuangan yang tidak bisadiselesaikan bersama,
tahu dan yakin bahwa masalah tersebut bisa diselesaikan secara diam-diam
dengan jabatan/pekerjaan yang mereka miliki dan mengubah pola pikir
darikonsep mereka sebagai orang yang dipercayai memegang aset menjadi
konsep merekasebagai pengguna dari aset yang dipercayakan kepada mereka.
Dari penjelasan di atas, Cressey mengungkapkan bahwa ada 3 faktor
yangmendukung seseorang melakukan fraud, yaitu yaitu pressure (dorongan),
opportunity (peluang), dan rationalization (rasionalisasi), sebagaimana
tergambar berikut ini:

· a) Pressure
Pressure (tekanan) memiliki berbagai arti, di antaranya keadaan di mana
kita merasa ditekan, kondisi yang berat saat kita menghadapi kesulitan,
sesuatu yang dapat membuat kita meningkatkan perhatian dalam melakukan
tindakan, meningkatkan ingatan dan kemampuan untuk mengingat.

7
b) Opportunity
Opportunity adalah peluang / kesempatan yang dapat dipahami sebagai
situasi dan kondisi yang ada pada setiap orang atau individu.Situasi dan
kondisi tersebut memungkinkan seseorang bisa berbuat atau melakukan
kegiatan yang memungkinkan fraud terjadi.Biasanya disebabkan karena
internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan,
dan/atau penyalahgunaan wewenang.
c) Rationalization
Association of Certified Fraud Examiners (ACFE) menyebutkan bahwa
faktorketiga terjadinya sebuah fraud adalah rasionalisasi. Secara garis besar ra
sionalisasi dapat diartikan sebagai tindakan yang mencari alasan pembenaran
oleh orang-orangyang merasa dirinya terjebak dalam suatu keadaan yang
buruk. .
2.FRAUD SCALE

Menurut teori Fraud Scale ini, penyebab terjadinya fraud sama dengan
teori fraud triangle. Dan teori scale ini merupakan teori lanjutan dari teori
Fraud Triangle yang merupakan pengukuran dari teori tersebut. Dalam scale
dijelaskan bahwa kemungkinan tindakan penipuan dapat dinilai dengan
mengevaluasi kekuatan tekanan, kesempatan dan integritas pribadi. Tekanan
yang tinggi, kesempatan besar dan integritas pribadi rendah memungkinkan
resiko terjadinya fraud tinggidan begitupun sebaliknya.Tujuan teori ini adalah
untuk mengukur kemungkinan pelanggaran etika, kepercayaan dan tanggung

8
jawab.Teori ini berlaku untuk beberapa pelanggaran salah satunya
pelanggaran yang mengarah ke penipuan laporan keuangan.Sumber Tekanan
menurut teori ini adalah perkiraan penjualan, laba manajemen.
3.FRAUD DIAMOND
Pada awalnya Cressey melakukan penelitian kepada 113 orang yang
melakukan pelanggaran hukum dibidang penggelapan uang di
perusahaan.Berdasarkan hasil penelitian tersebut bahwa alasan yang
mendorong seseorang melakukan fraud ada 3 yang tergabung dalam Fraud
Triangle yang sudah dijelaskan diatas. Namun seiring dengan perkembangan
zaman, ditemukan 1 faktor lagi yang merupakan alasan seseorang melakukan
kecurangan. Berikut penjelasannya :

a) Tekanan (Pressure)
Pressure adalah sesuatu yang mendorong orang melakukan kecurangan
dapat disebabkan oleh tuntutan gaya hidup, ketidakberdayaan dalam soal
keuangan, perilaku gambling, mencoba-coba untuk mengalahkan sistem dan
ketidakpuasan kerja.Tekanan/motif ini sesungguhnya mempunyai dua bentuk
yaitu :

a. Bentuk nyata (direct) ini adalah kondisi kehidupan nyata yang dihadapi
oleh pelaku seperti kebiasaan sering berjudi, party/clubbing, atau persoalan
keuangan.

9
b. Berikutnya adalah bentuk Persepsi (indirect) yang merupakan opini
yang dibangun oleh pelaku yang mendorong untuk melakukan kecurangan
seperti executive need.

Dalam SAS No. 99, terdapat empat jenis kondisi yang umum terjadi pada
tekanan/motif yang dapat mengakibatkan keempat kondisi tersebut adalah :

a. financial stability,

b. external pressure,

c. personal financial need, dan

d. financial target

b) Kesempatan (Opportunity)

Kesempatan yaitu peluang yang menyebabkan pelaku secara leluasa dapat


menjalankan aksinya yang disebabkan oleh pengendalian internal yang lemah,
ketidakdisplinan, kelemahan dalam mengakses informasi, tidak ada mekanisme
audit & sikap apatis.Hal yang paling menonjol di sini adalah pengendalian
internal. Pengendalian internal yang tidak baik akan memberi peluang orang
untuk melakukan kecurangan.
Menurut SAS No. 99 menyebutkan bahwa peluang/kesempatan
pada financial statement fraud dapat terjadi pada tiga kategori kondisi tersebut
adalah

a. nature of industry,

b. ineffective monitoring, dan

c. organizational structure

c) Rasionalisasi (Rationalization)

Rasionalisasi menjadi elemen penting dalam terjadinya fraud, dimana


pelaku selalu mencari pembenaran atas perbuatannya. Sikap atau karakter yang
dimiliki pelaku, akan menentukan rasionalisasi atas pembenaran kecurangan yg
dilakukan, contohnya bagi mereka yang umumnya tidak jujur, mungkin lebih
mudah untuk merasionalisasi penipuan.

10
d) Kemampuan (Capability)
Dalam kenyataannya ternyata ada satu faktor lain yang perlu
dipertimbangkan, yaitu Individual capability. Individual capability adalah sifat
dan kemampuan pribadi seseorang yang mempunyai peranan besar yang
memungkinkan melakukan suatu tindak kecurangan. Pada elemen Individual
Capability terdapat beberapa komponen kemampuan (Capability) untuk
menciptakan fraud yaitu :
1. posisi/fungsi seseorang dalam perusahaan,
2. kecerdasan (brain)
3. tingkat kepercayaan diri/ego (confident/ego),
4. kemampuan pemaksaan (coercion skills)
5. kebohongan yang efektif (effective lying), dan
6. kekebalan terhadap stres (immunity to stress).
Pada intinya fraud diamond adalah alasan seseorang yang
melakukan fraud karena adanya kesempatan, tekanan dan rasionalitas yang
ketiga alasan tersebut dapat terjadi jika seseorang memiliki kemampuan
(capability). Fraud Diamond ini yang dapat menjadi alasan seseorang yang
melakukan kecurangan terhadap laporan keuangan (fianancial statement).
4. FRAUD CROWE PENTAGON
Sesuai dengan perkembangan zaman teori fraud juga mengikuti
perubahan. Dari awal Cressey mencetuskan teori Fraud Triangle dengan 3 hal
yang mendukung terjadinya fraud, kemudian menjadi Fraud Diamond dengan
ditambah 1 faktor lagi yaitu capability dan yang terbaru dewasa ini adalah
“Fraud Crowe Pentagon” . Kondisi perusahaan yang kini semakin berkembang
dan kompleks dibanding dulu, serta para pelaku fraud yang kini lebih cerdik
dan mampu mengakses berbagai informasi perusahaan.Hal ini menyebabkan
teori fraud perlu dikembangkan dari fraud triangle menjadi fraud pentagon.5
elemen dalam fraud pentagon adalah pressure, opportunity, rationalization,
competence/capability, and arrogance.

11
a) Pressure
Pressure adalah sebuah dorongan yang menyebabkan seseorang
melakukan tindakan fraud.Pada umumnya yang mendorong terjadinya fraud
adalah kebutuhan atau masalah finansial.Tapi banyak juga yang hanya
terdorong oleh keserakahan.
b)Opportunity
Opportunity adalah peluang / kesempatan yang dapat kita pahami sebagai
situasi dan kondisi yang ada pada setiap orang atau individu. Situasi dan
kondisi tersebut memungkinkan seseorang bisa berbuat atau melakukan
kegiatan yang memungkinkan fraud terjadi. Biasanya disebabkan karena
internal control suatu organisasi yang lemah, kurangnya pengawasan, dan/atau
penyalahgunaan wewenang
c)Rasionalisasi
Rasionalisasi dapat diartikan sebagai tindakan yang mencari alasan
pembenaran oleh orang-orangyang merasa dirinya terjebak dalam suatu
keadaan yang buruk. Pelaku akan mencarialasan untuk membenarkan
kejahatan untuk dirinya agar tindakan yang sudahdilakukannya dapat diterima
oleh masyarakat.Menurut Spillane (2003), rasionalisasi adalah sebuah gaya
hidup dalam masyarakat yang tidak sesuai dengan prinsip yang menyatukan,
secara tidak langsung rasionalisasi menyediakan cara untuk membenarkan
tindakan-tindakan yang tidak sesuai dengan keadaan yang ada
d) Capability/Competency

12
Dalam kenyataannya ternyata ada satu faktor lain yang perlu
dipertimbangkan, yaitu Individual capability. Individual capability adalah sifat
dan kemampuan pribadi seseorang yang mempunyai peranan besar yang
memungkinkan melakukan suatu tindak kecurangan.Competence merupakan
perkembangan dari elemen opportunity yaitu kemampuan individu untuk
mengesampingkan internal control dan mengontrolnya sesuai dengan
kedudukan sosialnya untuk kepentingan pribadinya.
e) Arrogance
Arrogance adalah sikap superioritas dan keserakahan dalam sebagian
dirinya yang menganggap bahwa kebijakan dan prosedur perusahaan
sederhananya tidak berlaku secara pribadi. Dengan sifat seperti ini, seseorang
dapat melakukan kecurangan dengan mudah karna merasa/menganggap dirinya
paling unggul diantara yang lain dan menganggap kebijakan tidak berlaku
untuknya.

2.3. KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN

2.3.1.Definisi Kecurangan Laporan Keuangan

Menurut Wells, 2011 (dalam Sihombing, 2014) kecurangan laporan


keuangan mencakup beberapa modus, antara lain:

1. Pemalsuan, pengubahan, atau manipulasi catatan keuangan (financial


record), dokumen pendukung atau transaksi bisnis.

2. Penghilangan yang disengaja atas peristiwa, transaksi, akun, atau


informasi signifikan lainnya sebagai sumber dari penyajian laporan keuangan.

3. Penerapan yang salah dan disengaja terhadap prinsip akuntansi,


kebijakan, dan prosedur yang digunakan untuk mengukur, mengakui,
melaporkan dan mengungkapkan peristiwa ekonomi dan transaksi bisnis.

13
4. Penghilangan yang disengaja terhadap informasi yang seharusnya
disajikan dan diungkapkan menyangkut prinsip dan kebijakan akuntansiyang
digunakan dalam membuat laporan keuangan (Rezaee, 2002).

2.3.2 Pelaku Kecurangan Laporan Keuangan

Kecurangan laporan keuangan dilakukan oleh siapa saja pada level apa
pun dan siapa pun yang memiliki kesempatan. Urutan keterlibatan pelaku
dijelaskan sebagai berikut:

1. Senior manajemen (CEO, CFO, dan lain-lain). CEO terlibat fraud pada
tingkat 72%, sedangkan CFO pada tingkat 43 %.

2. Karyawan tingkat menengah dan tingkat rendah. Mereka dapat


melakukan kecurangan pada laporan keuangan untuk melindungi kinerja
mereka yang buruk atau untuk mendapatkan bonus berdasarkan hasil kinerja
yang lebih tinggi (Sihombing, 2014).

2.4.PENGENDALIAN INTERNAL

2.4.1.Definisi dan Tujuan Pengendalian Internal

Secara umum, pengendalian internal merupakan bagian dari masing-


masing sistem yang dipergunakan sebagai prosedur dan pedoman operasional
perusahaan atau organisasi tertentu.Pengendalian internal biasanya digunakan
untuk mengarahkan, mengawasi, dan mengukur sumber daya organisasi
sebagai upaya mencegah terjadinya penyimpangan dalam mencapai tujuan
perusahaan.

Dalam Mulyadi (2002:180), pengendalian internal didefinisikan sebagai


suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel
lain yang didesain untuk memberikan keyakinan memadai tentang pencapaian
tiga golongan tujuan berikut ini:

14
1. Keandalan pelaporan keuangan
2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku
3. Efektivitas dan efisiensi operasi

B. PENELITIAN TERDAHULU

Berikut adalah contoh penelitian terdahulu yang relevan, diantaranya :

Penelitian Judul Variabel Kesimpulan


Sihombing Analsisis fraud Analisis fraud Variabel financial
(2014) diamond dalam diamond dalam stability yang
mendeteksi mendeteksi diproksikan dengan
financial statement terjadinya financial rasio perubahan total
fraud : studi statement fraud asset, variabel
empiris pada pada perusahaan external pressure
perusahaan manufaktur di BEI yang diproksikan
manufaktur yang tahun 2010-2012. dengan leverage
terdaftar di BEI ratio, variabel nature
tahun 2010-2012 of industry yang
diproksikan dengan
rasio perubahan
piutang dan variabel
rationalization yang
diproksikan dengan
rasio perubahan total
akrual terbukti
berpengaruh terhadap
financial statement
fraud. Variabel
financial target yang
diproksikan dengan

15
ROA, variabel
innefective
monitoring yang
diproksikan dengan
rasio dewan
komisaris
independen, change
in auditor, dan
capability yang
diproksikan dengan
perubahan direksi
tidak memiliki
pengaruh terhadap
financial statement
fraud.
Norbarani Pendeteksian risk factor dari External pressure
(2012) kecurangan SAS 99 yang diproksikan
Laporan Keuangan yangdiadopsi dari dengan rasio arus kas
dengan analisis fraud triangle yang bebas memiliki
fraud triangle yang dikemukakan hubungan negatif
diadopsi dalam Cressey pada dengan financial
SAS 99 perusahaan statement fraud;
manufaktur yang financial targets yang
terdaftar di Bursa diproksikan dengan
Efek Indonesia Return On Asset
Tahun 2009-2010 memiliki hubungan
positif dengan
financial statement
fraud. Variabel
financial stability
yang diproksikan

16
dengan rasio
perubahan total aset,
variabel personal
financial need yang
diproksikan dengan
rasio kepemilikan
saham oleh orang
dalam, dan variabel
ineffective
monitoring yang
diproksikan dengan
rasio dewan
komisaris
independen tidak
memiliki pengaruh
terhadap financial
statement fraud.
Karagiorgos Effectiveness of Effectiveness of Semua komponen
, T., G Control System In Control System pengendalian internal
Drogalas, The Greek Bank adalah vital untuk
dan A System mencapai efektivitas
Dimou, pengendalian internal
2012, JEL yang selanjutnya
Classificatio berakibat pada
n, M40, M41, pencapaian sukses
M10, dan kelangsungan
Greece, usaha perbankan.
2012, p 1-11
Wilopo.2006 Analisis Faktor- Analisis Faktor- Perilaku tidak etis
. Simposium. Faktor Yang Faktor Yang manajemen dan

17
Surabaya: Berpengaruh Berpengaruh kecenderungan
STIE Terhadap Terhadap kecurangan akuntansi
Perbanas Kecenderungan Kecenderungan dapat diturunkan
Kecurangan Kecurangan dengan
Akuntansi: Studi Akuntansi meningkatkan
Pada Perusahaan keefektifan
Publik Dan Badan pengendalian
Usaha Milik internal, ketaatan
Negara Di aturan akuntansi,
Indonesia moralitas
manajemen, serta
menghilangkan
asimetri informasi.

18
BAB III

PEMBAHASAN

3.1 Faktor yang menimbulkan fraud


Kasus yang dialami oleh PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP
Finance) disebabkan karena faktor integritas pribadi yang dimiliki para
pengurus perseroan sangat buruk didukung dengan kesempatan sehingga
cenderung melakukan fraud. Walaupun ada kesempatan akan tetapi jika
integritas pribadinya tinggi maka tidak akan melakukan fraud. Dimana
lima petinggi PT SNP ditangkap terkait dengan kasus ini. Lima petinggi
tersebut yaitu Direktur Utama PT SNP berinisial DS, Direktur keuangan
berinisial RA, Direktur Operasional berinisial AP, Manajer Akuntansi
berinisial CDS, dan seorang perempuan berinisial AS yang menjabat
Asisten Manajer Keuangan.
PT SNP melalui para petinggi perseroan tersebut, memanfaatkan
situasi perusahaan yang sedang mengalami kredit macet terhadap Bank
Mandiri sebesar Rp 1,4 trilun dan seiring dengan turunnya bisnis toko
Columbia menjadi kredit bermasalah. Berdasarkan hal tersebut para
petinggi SNP memanfaatkan kesempatan dengan mengajukan kredit
kepada Bank Panin dengan jaminan data list konsumen PT Cipta Prima
Mandiri (Columbia) dan dokumen tersebut ternyata fiktif. Dokumen yang
diajukan kepada Bank Panin dimanipulasi dengan daftar pembiayaan ini
ternyata di-mark up, ditambah, diubah, atau diulangi.Hasil dari fasilitas
kredit ini digunakan untuk keperluan operasional peruahaan dan
mengajukan lagi fasilitas kredit rekening Koran kepada Bank Panin
dengan jaminan daftar piutang pembiayaan yang ternyata juga
fiktif.Fasilitas kredit yang disetujui digunakan untuk keperluan para
pemegang saham dan grup perusahaan. Daftar piutang pembiayaan
tersebut tidak dapat ditagih dan para petinggi SNP ayng terlibat tidak
dapat menunjukan dokumen kontrak pembiayaan yang dijadikan sebagai

19
jaminan. Dan pengajuan kredit bukan hanya pada bank tersebut tetapi ke
13 bank lainnya dengan total kerugian Rp 14 triliun.
Selain itu sistem pada auditor KAP yang lemah juga mendukung
terjadinya kelalaian dalam mengaudit laporan keuangan PT SNP. Audit
yang dilakukan oleh KAP tidak sampai pada dokumen dasar sehingga
dokumen fiktif yang dibuat oleh para petinggi PT SNP tidak dapat
dideteksi.
3.2 Kerugian keuangan akibat penipuan
Biaya sesungguhnya dari penipuan sulit diukur karena beberapa alasan
yaitu :

1. Tidak semua penipuan terdeteksi


2. Dari semua penipuan yang terdeteksi, tidak semua dilaporkan
3. Dalam banyak kasus penipuan, hanya dapat dikumpulkan informasi yang
tidak lengkap
4. Informasi tidak disebarkan dengan benar ke pihak manajemen atau ke
badan penegak hukum
5. Perusahaan tidak memutuskan untuk tidak melakukan tuntutan hukum atau
pengadilan terhadap pelaku penipuan.

Menurut sumber https://keuangan.kontan.co.id/news/nilai-pembobolan-


kasus-snp-finance-versi-ojk-rp-24-triliun
“Kredit tersebut dibentuk cadangan yang cukup sehingga risikonya sudah
terabsorb,” kata Slamet kepada kontan.co.id, Selasa (25/9). Sehingga
menurut OJK, nilai pembobolan dana SNP Finance di 14 bank sebenernya
adalah Rp 2,4 triliun
Direktorat Tindak Pidana Ekonomi Khusus Badan Reserse Kriminal
(Tipideksus Baeskrim) Mabes Polri mencatat nilai pembobolan dana yang
dilakukan PT Sunprima Nusantara Pembiayaan (SNP) Finance mencapai
Rp 14 triliun.

20
Jadi kerugian yang diderita oleh 14 bank akibat kasus SNP Finance ini
mencapai Rp 14 triliun menurut (Tipideksus Baeskrim). Tetapi menurut OJK,
dana yang diraup oleh SNP Finance adalah sejumlah Rp 2,4 triliun

A. SOLUSI UNTUK KASUS


1. Adanya syarat sertifikasi untuk menjadi seorang Direktur (menurut
IAI)
Menggunakan sebagai modal pertahanan paling mendasar dan
terciptanya kredibilitas laporan keuangan. Menurut IAI penyusunan
atau penandatanganan laporan keuangan adalah seorang yang paham
akuntansi dan memiliki sertifikat CA.

2. Menggunakan Software yang Accountable


Saat ini, banyak start up maupun produsen perangkat lunak, yang
mendesain produk-produk akuntansi dan manajemen data, sesuai
dengan kebutuhan spesifik dari para pengguna. Jika perusahaan
bersedia mengeluarkan uang atau budget khusus, bisa mendapat
software yang sangat mumpuni dalam mengatasi masalah-masalah
akuntansi dan pembukuan lainnya, sesuai dengan kinerja perusahaan.
Penggunaan software khusus dapat meningkatkan efisiensi kerja dan
juga efisiensi pengawasan kerja. Software yang baik setidaknya
memenuhi dua syarat. Pertama, terintegrasi satu sama lain, di internal
perusahaan, sehingga mempercepat transfer data dan pengawasan
data. Ketika seorang karyawan hendak melakukan manipulasi, bisa
langsung terlacak dari komputer perusahaan manajer ataupun
karyawan lain.Kedua, terdapat jaminan kerahasiaan untuk dokumen-
dokumen penting. Fraud seringkali terjadi karena kebocoran
password yang menjadi akses untuk dokumen-dokumen penting.
Untuk itu, sistem keamanan software mesti terpercaya dan desainnya
sejalan dengan kepentingan perusahaan, sehingga tidak gampang
diretas ataupun diutak-atik oleh karyawan yang tidak bertanggung

21
jawab. Software yang tepat dapat membantu perusahaan membangun
akuntabilitas secara efisien.
3. Memperkuat sistem auditor perusahaan
Committee of Sponsoring Organizations (COSO) mengharuskan
perusahaan untuk memiliki kerangka pengendalian internal sebagai
berikut :
a. Lingkungan pengendalian yang baik
b. Penilaian Resiko
c. Aktivitas pengendalian yang baik
d. Arus komunikasi dan informasi yang baik
e. Pengawasan
Resiko audit menurut Arens et al (2008:148) resiko audit
merupakan kemungkinan bahwa auditor akan menyimpulkan setelah
melaksanakan audit yang memadai, bahwa laporan keuangan telah
dinyatakan secara wajar, sedangkan dalam kenyataannya mengandung
salah saji yang material. Arti dari pernyataan Arens et al yaitu resiko
audit merupakan resiko bahwa auditor salah dalam memberikan opini
terhadap laporan keuangan yang telah di audit. Sehingga Kearifan
profesional dan pemikiran yang cermat diperlukan untuk menyusun
rencana audit dalam memberi tanggapan yang tepat pada resiko yang
dinilai. Auditor juga harus memperkirakan resiko salah saji dalam
laporan keuangan karena penipuan, dan menempatkan dia dalam
pikiran ketika merancang prosedur audit yang akan dilakukan. Ketika
merancang prosedur audit, auditor mempelajaran faktor-faktor resiko
yang terkait dengan masing-masing penipuan pelaporan keuangan
yang curang dan penyelewengan aset (El-faki, 2013).

22
BAB IV

KESIMPULAN

Berdasarkan analisis yang kami lakukan berdasarkan teori dan beberapa


sumber, kami menyimpulkan bahwa fraud yang terjadi pada PT SNP adalah fraud
yang berkaitan dengan SDM. Semua anggota yang berkepentingan pada PT SNP
menggunakan kesempatan yang ada untuk melakukan tindak kecurangan, selain
didukung dengan solusi yang kami paparkan pada poin nomor dua mengenai
penggunaan aplikasi yang menunjang kegiatan sehingga terdapat adanya deteksi
mengenai kecurangan atau tindakan yang tidak sesuai prosedur maka hal tersebut
harus diimbangi dengan peningkatan mutu karyawan juga. Kesalahan yang
dilakukan tersebut dapat saja dilakukan apabila sudah menggunakan aplikasi yang
hebat dalam mendeteksi kecurangan dan bahkan sertifikat yang dimiliki direktur
tidak menjamin baik buruknya perilaku seseorang.

Maka dalam kepengurusan PT SNP diharapkan adanya penguatan motivasi


kerja dan etika dalam bekerja yang diberikan rutin untuk menumbuhkan rasa
kepedulian akan bekerja dengan bersih dan sesuai aturan. Pimpinan juga harus
memberikan contoh yang baik dalam menciptakan suasana kerja yang efektif,
sesuai dengan jobdesk setiap anggota karyawan, dan sesuai dengan tujuan
perusahaan, sehingga kepentingan perseorangan tidak dapat muncul dalam
kondisi apapun.

23