Anda di halaman 1dari 9

GEJALA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN PADI

Disusun oleh :
Dian Sulistyaningrum (B1A017110)
Fiqita Mayliani (B1A017119)
Arlina Setyoningtyas (B1A017150)
Dhea Nur Khomala Sari (B1A017155)

KEMENTERIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2019
I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Padi (Oryza sativa) merupakan makanan pokok dari setengah penduduk dunia.
Luas sekitar 100 juta ha dan lebih 90 % nya terdapat di Asia Selatan, Timur dan
Tenggara. Indonesia merupakan negara konsumen dan juga penghasil beras ketiga di
dunia setelah Cina dan India. Jawa merupakan salah satu wilayah pertanaman dan
penghasil padi terbesar di Indonesia. Produktivitas padi di Jawa dipengaruhi oleh
berbagai faktor, di antaranya penggunaan bibit, pengolahan tanah, pengelolaan tanaman
serta adanya infeksi patogen penyebab penyakit tumbuhan. Salah satu kendala untuk
meningkatkan produksi padi baik kwalitas maupun kwantitasnya adalah masalah hama
dan penyakit.
Keberadaan hama dan penyakit pada tanaman padi dirasakan sangat
mengganggu. Beberapa hama yang mengganggu tanaman padi antara lain, hama tikus,
walang sangit, wereng, belalang, penggerek batang, dan kera. Jenis wereng yang
merusak tanaman padi antara lain wereng cokelat (Nilaparvata lugens Stal.) dan wereng
punggung putih (Sogatella furcifera Horvath) termasuk dalam familia Delpacidae serta
wereng hijau (Nephotettix spp.) dan wereng loreng zigzag yang termasuk familia
Cicadellidae. Sedangkan penyakit yang mengganggu tanaman padi antara lain penyakit
blas, bercak cokelat, hawar upih daun dan busuk batang, bercak cokelat sempit, gosong
palsu, busuk upih, busuk batang, penyakit Fusarium, lapuk daun, penyakit akibat bakteri
(hawar daun bakteri, dan daun bergores bakteri), penyakit akibat virus (tungro, kerdil
rumput, dan kerdil hampa), dan hawar bibit padi.
Gejala adalah keadaan penyakit yang merupakan perwujudan dari reaksi
fisiologis dari tanaman terhadap kegiatan yang bersifat merusak yang disebabkan
pathogen. Setiap penyakit pada tanaman tertentu akan memberikan gejala khusus, yang
biasanya timbul dalam suatu rangkaian selama terjadinya penyakit. Gejala yang dapat
diamati secara langsung disebut juga gejala morfologis. Gejala ini dapat dilihat dengan
mata tanpa bantuan alat, atau juga dapat dirasa, dibaui, diraba. Sedangkan gejala yang
hanya diamati dengan bantuan alat seperti mikroskop disebut sebagai gejala histologist.
Gejala morfologis ada tiga macam yaitu, nekrosa, hipoplasia, hyperplasia.
Wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens) merupakan serangga hama yang
banyak menimbulkan kerugian pada tanaman padi di Indonesia. Selain itu, wereng
batang cokelat juga berperan sebagai vektor penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput
sehingga menyebabkan kerusakan yang lebih besar. Penyakit kerdil rumput yang
disebabkan oleh Rice grassy stunt virus (RGSV) dilaporkan pertama kali di Indonesia
tahun 1971 dan disebut sebagai kerdil rumput tipe I, kemudian pada tahun 2006
ditemukan penyakit kerdil rumput tipe II. Gejala penyakit kerdil rumput diantaranya
tanaman menjadi sangat kerdil, anakan banyak, daun hijau pucat sampai kuning atau
daun-daun sempit berwarna kuning sampai oranye, dan daun sempit dengan bintik-
bintik karat kecil
Penyakit kerdil hampa pada padi yang disebabkan oleh Rice ragged stunt virus
(RRSV), dilaporkan pertama kali di Indonesia pada tahun 1976. Gejala tanaman padi
yang terserang penyakit kerdil hampa mengalami hambatan pertumbuhan (kerdil), daun
menjadi berwarna gelap dengan tepi bergerigi atau ujung memutar, dan tulang daun
mengalami pembengkakan atau benjolan di bagian bawah helai daun dan bagian luar
permukaan pelepah daun. Penyakit kerdil rumput yang disebabkan oleh Rice grassy
stunt virus (RGSV) dan kerdil hampa yang disebabkan oleh Rice ragged stunt virus
(RRSV) pada tanaman singgang. Gejala tanaman yang terinfeksi RRSV dan RGSV
bersama-sama menunjukkan adanya gejala kerdil yang lebih parah dari infeksi tunggal,
biasanya gejala RRSV muncul pertama dengan anakan berwarna hijau gelap, lebih
pendek, lebih tipis dan tegak dengan anakan kecil-kecil, kemudian diikuti dengan
munculnya gejala RGSV, yaitu daun muda menjadi lebih kecokelatan dan kadang
terdapat daun tua yang menunjukkan adanya daun menguning.

B. Tujuan
Mengetahui penyakit pada tanaman padi (Oryza sativa).dan penyebabnya.
II. DISKUSI

1. Penyakit yang disebabkan Bakteri


1) Hawar daun bakteri (HDB)
Hawar daun bakteri (HDB) merupakan salah satu penyakit tanaman padi.
Awalnya penyakit ini dinamai kresek dan patogennya dinamai Xanthomonas
kresek. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Xanthomonas oryzae pv. oryzae
(Xoo), yang dapat menginfeksi tanaman padi pada semua fase pertumbuhan,
mulai dari pesemaian sampai menjelang panen. Perkembangan penyakit HDB
dipengaruhi oleh faktor lingkungan terutama kelembapan, suhu dan cara
budidaya, terutama varietas dan pemupukan N.
Gejala HDB sangat mirip dengan gejala sundep yang timbul akibat serangan
hama penggerek batang pada tanaman.
1. Fase vegetatif umur 1-4 minggu setelah tanam
Mula-mula pada tepi atau bagian daun yang luka tampak garis bercak
kebasahan, kemudian berkembang meluas, berwarna hijau keabu-abuan,
seluruh daun keriput, dan akhirnya layu seperti tersiram air panas. Gejala
yang khas adalah penggulungan helaian daun dan warna daun menjadi hijau
pucat atau ke abu-abuan.
2. Padi dewasa umur lebih dari 4 minggu setelah tanam
Menimbulkan gejala hawar (blight). Gejala diawali berupa bercak
kebasahan berwarna keabu-abuan pada satu atau kedua sisi daun, biasanya
dimulai dari pucuk daun atau beberapa sentimeter dari pucuk daun. Bercak
ini kemudian berkembang meluas ke ujung dan pangkal daun dan melebar.
Bagian daun yang terinfeksi berwarna hijau keabu-abuan dan agak
menggulung, kemudian mengering dan berwarna abu-abu keputihan. Pada
tanaman yang rentan, gejala ini menjadi sistemik terus berkembang hingga
seluruh daun bahkan sampai pelepah menjadi kering dan mirip gejala
terbakar. Apabila penularan terjadi pada saat tanaman berbunga maka gabah
tidak terisi penuh bahkan hampa.
2) Hawar malai bakteri
Penyakit hawar malai bakteri disebabkan oleh Burkholderia glumae. Gejala
penyakit ini yaitu busuk pada benih dan perubahan warna cokelat pada pelepah
daun.
Gejala infeksi B. glumae diantaranya adalah :

1. Bagian pelepah muncul bercak panjang keabuan dengan bagian tepi


berwarna cokelat kemerahan.
2. Malai tumbuh ke atas dan berwarna kekuningan dengan bagian pangkal
bunga berwarna gelap serta terdapat garis cokelat kemerahan yang
melintang di bagian tengah.
3. Pada tingkat infeksi yang tinggi, proses pengisian bulir dapat terganggu. Hal
ini menyebabkan malai tumbuh tegak, karena bulir tidak terisi.

Bakteri ini juga diketahui dapat menginfeksi dan menyebabkan layu pada
beberapa tanaman seperti tomat, perila, cabai dan terong. B. glumae diketahui
menghasilkan toksin yang diduga sebagai salah satu faktor virulensi. B. glumae
menghasilkan tingkat infeksi yang tinggi pada tahap pertumbuhan akhir, yaitu
pada fase pembungaan dan pembentukan bulir. Bakteri ini dapat ditemukan pada
bagian pelepah daun, namun tidak terdeteksi pada permukaan daun.

2. Penyakit yang disebabkan Virus


Wereng batang cokelat (Nilaparvata lugens) berperan sebagai vektor
penyakit kerdil hampa dan kerdil rumput sehingga menyebabkan kerusakan yang
lebih besar.
1. Rice grassy stunt virus (RGSV) menyebabkan penyakit kerdil rumput
Gejala penyakit kerdil rumput diantaranya tanaman menjadi sangat kerdil,
anakan banyak, daun hijau pucat sampai kuning atau daun-daun sempit
berwarna kuning sampai oranye, dan daun sempit dengan bintik-bintik karat
kecil, dan tidak menghasilkan malai.
2. Rice ragged stunt virus (RRSV) menyebabkan penyakit kerdil hampa
Gejala tanaman padi yang terserang penyakit kerdil hampa mengalami
hambatan pertumbuhan (kerdil), daun menjadi berwarna gelap dengan tepi
bergerigi atau ujung memutar, dan tulang daun mengalami pembengkakan atau
benjolan di bagian bawah helai daun dan bagian luar permukaan pelepah daun.
3. Rice grassy stunt virus (RGSV) dan Rice ragged stunt virus (RRSV)
menyebabkan penyakit kerdil rumput dan kerdil hampa
Gejala tanaman yang terinfeksi RRSV dan RGSV bersama-sama menunjukkan
adanya gejala kerdil yang lebih parah dari infeksi tunggal, biasanya gejala
RRSV muncul pertama dengan anakan berwarna hijau gelap, lebih pendek,
lebih tipis dan tegak dengan anakan kecil-kecil, kemudian diikuti dengan
munculnya gejala RGSV, yaitu daun muda menjadi lebih kecokelatan dan
kadang terdapat daun tua yang menunjukkan adanya daun menguning.
4. Virus tungro
Gejala secara morfologis tanaman padi yang tertular virus tungro menjadi
kerdil, daun berwarna kuning sampai kuning jingga disertai bercak-bercak
berwarna coklat. Perubahan warna daun di mulai dari ujung, meluas ke bagian
pangkal. Jumlah anakan sedikit dan sebagian besar gabah hampa. Infeksi virus
tungro juga menurunkan jumlah malai per rumpun, malai pendek sehingga
jumlah gabah per malai rendah. Serangan yang terjadi pada tanaman yang telah
mengeluarkan malai umumnya tidak menimbulkan kerusakan fatal.

3. Penyakit yang disebabkan Jamur


Gejala serangan jamur patogen pada tanaman antara lain yaitu adanya
bercak coklat berbentuk jorong dan ujungnya runcing, pusat bercak berwarna
kelabu agak keputihan dan tepi coklat atau coklat kemerahan pada daun, malai,
batang. Kemudian gejala bercak coklat memanjang pada daun dan pada malai.
Reaksi ketahanan varietas ditunjukan dari warna gejala pada daun, yaitu: bercak
cokelat kecil menunjukkan reaksi tahan, coklat kekuningan reaksi ketahanan
moderat, cokelat kelabu kekuningan reaksi peka, dan abu abu keputihan sangat
peka. Bercak yang banyak pada daun dapat mengakibatkan kematian tanaman, yang
diikuti dengan pengeringan pelepah. Intensitas serangan yang tinggi pada bercak
daun di saat pertumbuhan vegetatif akan dapat mengakibatkan kekerdilan.
Jenis jamur patogen pada padi, yaitu:
1. Jamur Pyricularia oryzae
Bentuk konidia adalah seperti buah pear dengan tiga septa, ukuran konidia
berkisar antara 16-32 x 7,0 – 11 μm. Menurut Semangun (1993), penyakit blas
disebabkan oleh jamur patogen Pyricularia grisea. Variasi genetis (ras blas)
mudah berubah yang mengakibatkan cepat patahnya ketahanan tanaman.
2. Jamur Drechslera oryzae
Menurut Ou (1985), konidia bentuknya sedikit melegkung (kurva), membesar
dibagian tengah dengan ukuran 35 - 170 x 11 – 17 µm, jumlah septa mencapai
13. Jamur patogen penyakit bercak coklat adalah Cocliobolus miyabeanus
(Drechslera oryzae sp).
3. Jamur Curvularia sp.
Beberapa spesies Curvularia sp kebanyakan konidiumnya bersekat 3 dan 4,
dengan dua sel yang lebih besar dan lebih gelap, sedikit bengkok. Jamur ini
menyebabkan beras menjadi hitam dan terhambatnya pertumbuhan padi.
4. Jamur Alternaria sp.
Jamur Alternaria sp. merupakan penyebab penyakit Stacburn. Adapun gejala
serangan penyakit ini adalah pada daun terdapat bercak besar, jorong atau bulat,
dengan tepi coklat, sempit dan jelas yang melingkari bercak seperti cincin.
Jamur Alternaria sp memunyai hifa kuning krem, bulat. Jamur ini berbentuk
gada terbalik, seperti buah per, jorong atau berbentuk kumparan, bersekat 3-7,
dengan beberapa sekat membujur seperti murbei.
5. Jamur Pyricularia grisea
Jamur Pyricularia grisea menyebabkan penyakit blas, rotten neck, atau blast
panicle, tergantung atas bagian tanaman yang diserang.
Gejala penyakit ini dapat menyebabkan bercak atau lesi pada daun, sekat dari
bentuk permata sampai memanjang dan berakhir meruncing. Pusat bercak
biasanya berwarna abu-abu dan lembarannya coklat atau coklat kemerahan.
Keduanya baik bentuk maupun warna bercak dapat bervariasi menyerupai
penyakit bercak daun coklat.
III. KESIMPULAN

Macam-macam penyakit yang menyerang tanaman padi diantaranya disebabkan


oleh bakteri, virus, jamur, dan hama. Penyakit yang disebabkan oleh bakteri antara lain
adalah hawar daun bakteri dan hawar malai. Penyakit yang disebabkan oleh virus antara
lain penyakit kerdil rumput, penyakit kerdil hampa, dan penyakit tungro. Jamur yang
menyebabkan penyakit pada padi antara lain jamur Pyricularia oryzae, Drechslera
oryzae, Curvularia sp., Curvularia sp., Alternaria sp dan Pyricularia grisea.
DAFTAR PUSTAKA

Defitri, Y., 2013. Identifikasi Jamur Patogen Penyebab Penyakit Pada Tanaman Padi
(Oryza Sativa) di Lubuk Ruso Kecamatan Pemayung Kabupaten Batanghari
Jambi. Jurnal Ilmiah Universitas Batanghari Jambi, 13(4), pp.113-117.

Dini, A. F., Winasa, I. W. & Hidayat, S. H., 2015. Identifikasi Virus Penyebab Penyakit
Kerdil pada Tanaman Padi di Sukamandi, Jawa Barat. Jurnal Fitopatologi
Indonesia, 11(6), pp. 205-210.

Handiyanti, M., Subandiyah, S., & Joko, T. 2018. Deteksi Molekuler Burkholderia
glumae, Penyebab Penyakit Hawar Malai Padi. Jurnal Perlindungan Tanaman
Indonesia, 98-107.

Nuryanto, S. B. & Kadir, T. S., 2012. Epidemiologi, Patotipe, dan Strategi Pengendalian
Penyakit Hawar Daun Bakteri pada Tanaman Padi. Jurnal Iptek Tanaman
Pangan, 7(2), pp. 79-87.

Ou, S. H., 1985. Rice Disease Common Wealth Mycological Institute. England: Key
Surrey.

Semangun, H., 1993. Penyakit Tanaman Pangan di Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press.

Sudarma, I. M., N. M. Sritamin, I. G. N. Bagus., 2016. Pengendalian Hama dan


Penyakit Tanaman Padi di Desa Pesaban, Kecamatan Rendang, Karangasem.
Jurnal Udayana Mengabdi, 15(3), pp. 106-112.