Anda di halaman 1dari 72

BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah profesi bagi pegawai
negeri dan pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja yang
bekerja pada instansi pemerintah. Dalam Undang-undang Nomor 5
Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN), pegawai ASN
memiliki peranan penting dalam penyelenggaraan pemerintahan
yang berfungsi sebagai : (1) Pelaksana Kebijakan Publik; (2)
Pelayan Publik; (3) Perekat dan Pemersatu Bangsa. Oleh karena
itu penting agar ASN memiliki profesionalisme dan kompetensi
yang memadai untuk bisa menjalankan tugas tersebut dengan baik
dan penuh tanggung jawab.
Dalam Undang-Undang No.5 Tahun 2014 Pasal 63 ayat (3)
dan ayat (4) tentang Aparatur Sipil Negara mengamanatkan
Instansi Pemerintah untuk wajib memberikan Pendidikan dan
Pelatihan terintegrasi bagi Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS)
selama satu tahun masa percobaan. Merujuk Peraturan
Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 tentang Manajemen ASN, ASN
wajib menjalani masa percobaan yang dilaksanakan untuk
membangun moral, kejujuran, semangat nasionalisme dan
kebangsaan, karakter kepribadian yang unggul dan bertanggung
jawab, dan memperkuat profesionalisme serta kompetensi bidang.
Pelatihan yang memadukan pembelajaran klasikal dan non-
klasikal di tempat pelatihan dan di tempat tugas sehingga
memungkinkan peserta mampu mengaktualisasikan dan
membuatnya menjadi kebiasaan (habituasi), dan merasakan
manfaatnya. Karakter ASN profesional dibentuk dari sikap dan
perilaku disiplin ASN, nilai-nilai dasar profesi ASN, dan
pengetahuan tentang kedudukan dan peran ASN dalam NKRI serta

1
mengusai tugasnya sehingga mampu melaksanakan tugas dan
perannya secara profesional sebagai pelayan publik.
Di Era Globalisasi masyarakat semakin kritis terhadap
segala aspek termasuk terhadap mutu pelayanan kesehatan yang
berkualitas sejalan dengan peningkatan pengetahuan dan
teknologi, kebutuhan dan tuntutan masyarakat terhadap paradigma
pelayanan yang bersifat preventif, promotif, kuratif dan
rehabilitative. Hal ini menunjukkan bahwa pandangan masyarakat
terhadap kesehatan semakin kritis, peduli dan meningkat
kebutuhannya, terutama pada pelayanan kesehatan umum
masyarakat yang optimal, efektif dan efisiensi di Puskesmas
dengan berdasarkan pada prinsip nilai-nilai yang terkandung pada
pasal 3 Undang-undang nomor 5 tahun 2014 dan berdasarkan
serta erat relevansinya dengan nilai-nilai dasar ANEKA, yaitu :
Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti
Korupsi.
Kegiatan Lansia merupakan program yang harus di
laksanakan oleh puskesmas karena berpengaruh untuk
meningkatan kualitas hidup melalui peningkatan kesehatan dan
kesejahteraan. Selain itu membantu memacu lansia agar dapat
beraktifitas dan mengembangkan potensi diri. Target program
lansia di Puskesmas Geyer 1 untuk tahun 2018 adalah 100%.
Namun, berdasarkan data mutu pencapaian posyandu lansia hanya
66,60%, dari data tersebut didapatkan kurangnya cakupan program
lansia. Sedangkan target program lansia tahun 2019 adalah 100%
dan capaian program sampai dengan bulan Mei 2019 adalah 46,67
%.

2
B. IDENTIFIKASI ISU DAN RUMUSAN MASALAH
1. Identifikasi Isu
Rencana kegiatan aktualisasi yang akan dilaksanakan
di UPTD Puskesmas Geyer 1 sesuai dengan nilai-nilai dasar
Aparatur Sipil Negara (ASN) yaitu ANEKA (Akuntabilitas,
Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu, dan Anti Korupsi)
dan sesuai dengan peran dan kedudukan ASN dalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Rancangan kegiatan aktualisasi
dan habituasi dibuat berdasarakan identifikasi isu dengan
mempertimbangkan keaktualan, problematik, kekhalayakan dan
kelayakan isu tersebut (metode APKL). Kemudian prioritas isu
ditentukan dengan mengukur tingkat urgensi (urgency),
keseriusan masalah (seriously), dan perkembangan masalah
tersebut jikan tidak dipecahkan (growth) yang dikenal dengan
metode USG. Prioritas isu yang telah ditentukan kemudian
diidentifikasi berdasarkan sumber isu, aktor yang terlibat, peran
masing-masing aktor yang terlibat dan keterkaitan dengan mata
pelatihan, dan kegiatan-kegiatan yang digagas untuk
menyelesaikan permasalahan yang ada di Puskesmas Geyer 1.
Daftar isu yang diperoleh dalam lingkungan kerja
penulis yang dikaitkan dengan agenda ketiga Pelatihan Dasar
CPNS (Manajemen ASN, Whole of Government (WOG), dan
Pelayanan Publik) dapat ditampilkan pada tabel berikut :

3
Tabel 1.1. Identifikasi Isu dikaitkan dengan Agenda Ketiga Pelatihan
Dasar CPNS (Manajemen ASN, Whole of Government (WOG), dan
Pelayanan Publik)
No Identifikasi Isu Prinsip ASN Kondisi Saat Kondisi yang
Ini Diharapkan
1. Belum optimalnya Pelayanan Belum Tercapainya
pelayanan kesehatan publik, tercapainya jumlah sasaran
lansia di wilayah kerja Manajemen sasaran pelayanan
UPTD Puskesmas ASN pelayanan kesehatan lansia
Geyer 1 kesehatan sehingga
lansia mendapatkan
pelayanan
kesehatan yang
optimal, meliputi
promotif,
preventif, kuratif
dan rehabilitatif
2. Belum optimalnya Pelayanan Rendahnya Menurunnya
pelayanan kesehatan publik, penderita angka kejadian
terhadap pasien Manajemen hipertensi hipertensi
Hipertensi ASN berobat secara sehingga dapat
teratur dapat meningkatkan
mengakibatkan kualitas hidup
dampak yang warga yang
lebih tinggal di wilayah
berbahaya kerja Puskesmas
meliputi Geyer 1
komplikasinya Kabupaten
seperti stroke, Grobogan
penyakit

4
jantung, gagal
ginjal, dan
penyakit
berbahaya
lainnya
3. Meningkatnya jumlah Manajemen Meningkatnya Menurunkan
kebiasaan merokok di ASN jumlah jumlah kebiasaan
lingkungan Puskesmas kebiasan merokok
Geyer 1 merokok terutama di
secara global lingkungan
Puskesmas
Geyer 1
4. Belum optimalnya Pelayanan Kunjungan Kesadaran yang
pelayanan kegiatan Publik, peserta tinggi pada
prolanis di UPTD Manajemen prolanis yang pasien tentang
Puskesmas Geyer 1 ASN masih kurang penyakit kronik
dan komplikasi
yang dapat terjadi
5. Rendahnya jumlah ibu Whole of Masih banyak Peningkatan
yang menyusui Government memberikan koordinasi dan
anaknya secara susu formula kolaborasi antara
eksklusif di wilayah kepada puskesmas
kerja Puskesmas bayinya yang dengan kader dan
Geyer 1 berumur kepala desa
kurang dari 6 sehingga
bulan meningkatkan
jumlah ibu yang
peduli menyusui
eksklusif

5
2. Penetapan Kualitas Isu
Penetapan Isu dilakukan melalui analisis isu dengan
menggunakan alat bantu penetapan kriteria kualitas isu. Analisis isu
ini bertujuan untuk menetapkan kualitas isu dan menentukan prioritas
isu yang perlu diangkat untuk diselesaikan melalui gagasan kegiatan-
kegiatan yang akan dilakukan. Analisis isu dilakukan dengan
menggunakan alat bantu APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan,
Kelayakan) dan USG (Urgency, Seriousness, dan Growth).
APKL (Aktual, Problematik, Kekhalayakan, Kelayakan) adalah
suatu alat yang digunakan untuk analisis isu. Aktual artinya benar-
benar terjadi dan sedang hangat dibicarakan dalam masyarakat.
Problematik artinya isu yang memiliki dimensi masalah yang
kompleks, sehingga perlu dicarikan solusinya. Kekhalayakan artinya
isu yang menyangkut hajat hidup orang banyak. Sedangkan
Kelayakan artinya isu yang masuk akal dan realistis serta relevan
untuk dimunculkan inisiatif pemecahan masalahnya. Dari hasil analisis
APKL didapatkan isu yang dinyatakan memenuhi kriteria, kemudian
isu-isu tersebut dianalisis lebih lanjut dengan menggunakan analisis
USG. Analisis APKL disajikan dalam Tabel 1.2.

Tabel 1.2. Analisis APKL

No Identifikasi Isu Kriteria Keterangan


A P K L
1. Belum optimalnya pelayanan
Memenuhi
kesehatan lansia di wilayah kerja + + + +
Syarat
UPTD Puskesmas Geyer 1
2. Belum optimalnya pelayanan + + - + Tidak
kesehatan terhadap pasien memenuhi
Hipertensi syarat

6
3. Meningkatnya jumlah kebiasaan + + + - Tidak
merokok di lingkungan Puskesmas memenuhi
Geyer 1 syarat
4. Belum optimalnya pelayanan + + + + Memenuhi
kegiatan prolanis di UPTD syarat
Puskesmas Geyer 1
5. Rendahnya jumlah ibu yang + + + + Memenuhi
menyusui anaknya secara eksklusif syarat
di wilayah kerja Puskesmas Geyer 1

Berdasarkan tabulasi APKL seperti tercantum pada tabel di atas,


ditemukan tiga isu utama yang memenuhi syarat, yaitu sebagai berikut :
1. Belum optimalnya pelayanan kesehatan lansia di wilayah kerja
UPTD Puskesmas Geyer 1 Kabupaten Grobogan.
2. Belum optimalnya pelayanan kegiatan prolanis di UPTD
Puskesmas Geyer 1.
3. Rendahnya jumlah ibu yang menyusui anaknya secara eksklusif
di wilayah kerja Puskesmas Geyer 1.
Dari ketiga isu yang problematik di atas, ditetapkan isu paling
prioritas menggunakan analisis USG (Urgency, Seriousness, dan Growth)
yang mempertimbangkan tingkat kepentingan, keseriusan, dan
perkembangan setiap variabel dengan rentang skor 1-5.

Tabel 1.3. Komponen USG


No Komponen Keterangan
1 Urgency Seberapa mendesak isu tersebut dibahas
dikaitkan dengan waktu yang tersedia serta
seberapa keras tekanan waktu tersebut untuk
memecahkan masalah yang menyebabkan
isu

7
2 Seriousness Seberapa serius isu tersebut perlu dibahas
dikaitkan dengan akibat yang timbul dengan
penundaan pemecahan masalah yang
menimbulkan isu tersebut atau akibat yang
ditimbulkan masalah-masalah lain kalu
masalah penyebab isu tidak dipecahkan (bisa
mengakibatkan masalah lain)
3 Growth Seberapa kemungkinan isu tersebut menjadi
berkembang dikaitkan kemungkinan masalah
penyebab isu akan semakin memburuk jika
dibiarkan.

Tabel 1.4. Parameter Analisis USG


Skor PARAMETER
Urgency Seriousness Growth
1 Isu tidak Isu tidak begitu serius Isu lamban
mendesak untuk untuk di bahas berkembang
segera karena tidak
diselesaikan berdampak ke hal
yang lain
2 Isu kurang Isu kurang serius Isu kurang cepat
mendesak untuk untuk segera dibahas berkembang
segera karena tidak kurang
diselesaikan berdampak ke hal
yang lain
3 Isu cukup Isu cukup serius Isu cukup cepat
mendesak untuk untuk segera dibahas berkembang,
segera karena akan segera dicegah
diselesaikan berdampak ke hal
yang lain

8
4 Isu mendesak Isu serius untuk Isu cepat
untuk segera segera dibahas berkembang
diselesaikan karena akan untuk segera
berdampak ke hal dicegah
yang lain
5 Isu sangat Isu sangat serius Isu sangat cepat
mendesak untuk untuk segera dibahas berkembang
segera karena akan untuk segera
diselesaikan berdampak ke hal dicegah
yang lain

Analisis USG dilakukan dengan memberikan nilai dengan rentang


antara 1 sampai 5 dengan ketentuan nilai 1 berarti sangat kecil, nilai 2
berarti kecil, nilai 3 berarti sedang, nilai 4 berarti besar, dan nilai 5 berarti
sangat besar . Isu dengan total skor tertinggi merupakan isu prioritas yang
akan ditetapkan untuk diselesaikan dengan kegiatan-kegiatan yang
diusulkan. Hasil analisis USG terkait isu-isu di UPTD Puskesmas Geyer 1
disajikan dalam tabel berikut ini:
Tabel 1.5. Analisis USG

No Identifikasi Isu Kriteria Jumlah Prioritas


U S G
1. Belum optimalnya pelayanan
kesehatan lansia di wilayah kerja 4 5 5 14 1
UPTD Puskesmas Geyer 1
2. Belum optimalnya pelayanan 3 4 4 11 3
kegiatan prolanis di UPTD
Puskesmas Geyer 1
3. Rendahnya jumlah ibu yang 3 4 5 12 2
menyusui anaknya secara eksklusif
di wilayah kerja Puskesmas Geyer 1

9
Dari analisis USG yang telah dilakukan, Isu “Belum optimalnya
pelayanan kesehatan lansia di wilayah kerja UPTD Puskesmas Geyer 1
mendapat prioritas pertama untuk diselesaikan dengan perolehan skor
USG 14.

3. Dampak jika Isu Tidak Diselesaikan


Dampak dari isu terpilih yang telah dianalisis menggunakan metode
USG jika tidak diselesaikan dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 1.6. Dampak jika Isu Tidak Diselesaikan
No Sumber Identifikasi Isu Dampak
Isu
1 Pelayanan Belum Menurunnya kualitas hidup
Publik optimalnya lansia sehingga aktifitas dan

pelayanan pengembangan potensi


menurun serta dapat
kesehatan lansia
mengakibatkan masa tua
di wilayah kerja
yang tidak sejahtera dan
UPTD
bahagia.
Puskesmas
Geyer 1

C. Rumusan Masalah
Berdasarkan penjabaran identifikasi isu dan penetapan isu di atas,
rumusan masalah dalam rancangan aktualisasi ini adalah sebagai
berikut :
1. Bagaimana upaya peningkatan pelayanan kesehatan terhadap
lansia di wilayah kerja UPTD Puskesmas Geyer 1 ?
2. Bagaimana cara mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ASN yang
tekandung dalam akuntabilitas, nasionalisme, etika publik,
komitmen mutu dan anti korupsi (ANEKA) ?
3. Bagaimana Keterkaitan antara visi misi dan nilai organisasi dari isu
yang diangkat?

10
D. TUJUAN
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan
rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN ini adalah sebagai
berikut:

1. Meningkatkan pelayanan kesehatan lansia di wilayah kerja


Puskesmas Puskesmas Geyer 1.
2. Mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ASN yang terkandung
dalam akuntabilitas, nasionalisme, etika publik, komitmen mutu
dan anti korupsi (ANEKA) dalam meningkatkan pelayanan
kesehatan pada lansia di Wilayah Kerja Puskesmas
Puskesmas Geyer 1.
3. Mengetahui keterkaitan antara visi misi dan nilai organisasi dari
isu yang diangkat.

E. MANFAAT
Manfaat rancangan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN ini
adalah sebagai berikut:
1. Bagi Peserta Pelatihan Dasar CPNS Golongan III
a. Mampu memahami, dan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar
ASN yang meliputi Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik,
Komitmen Mutu dan Anti Korupsi (ANEKA).
b. Menjadi dokter yang dapat menjalankan fungsi sebagai
pelaksana kebijakan, pelayan publik dan perekat dan
pemersatu bangsa yang memiliki integritas dan profesional di
lingkungan Puskesmas Geyer 1.

2. Bagi Instansi (Puskesmas Geyer 1)


a. Rancangan aktualisasi ini dapat meningkatkan efektivitas,
efisiensi, dan inovasi serta mutu pelayanan di Puskesmas
Geyer 1.

11
b. Terwujudnya visi dan misi Puskesmas Geyer 1.
3. Bagi Stakeholder
Mendapatkan pelayanan yang berkualitas sesuai dengan
kebutuhan dan harapannya dalam bidang kesehatan.

12
BAB II
LANDASAN TEORI

A. SIKAP PERILAKU BELA NEGARA


1. Wawasan Kebangsaan dan Nilai-Nilai Bela Negara
Pemahaman dan pemaknaan wawasan kebangsaan dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan bagi aparatur,
pada hakikatnya terkait dengan pembangunan kesadaran berbangsa
dan bernegara yang berarti sikap dan tingkah laku ASN harus sesuai
dengan kepribadian bangsa dan selalu mengkaitkan dirinya dengan
cita-cita dan tujuan hidup bangsa Indonesia (sesuai amanah yang
ada dalam Pembukaan UUD 1945) melalui:
a. Menumbuhkan rasa kesatuan dan persatuan bangsa dan
negara Indonesia yang terdiri dari beberapa suku bangsa yang
mendiami banyak pulau yang membentang dari Sabang sampai
Merauke, dengan beragam bahasa dan adat istiadat
kebudayaan yang berbeda-beda. Kemajemukan itu diikat dalam
konsep wawasan nusantara yang merupakan cara pandang
bangsa Indonesia tentang diri dan lingkungannya yang
berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.
b. Menumbuhkan rasa memiliki jiwa besar dan patriotisme untuk
menjaga kelangsungan hidup bangsa dan negara. Sikap dan
perilaku yang patriotik dimulai dari hal-hal yang sederhana yaitu
dengan saling tolong menolong, menciptakan kerukunan
beragama dan toleransi dalam menjalankan ibadah sesuai
agama masing-masing, saling menghormati dengan sesama
dan menjaga keamanan lingkungan.
c. Memiliki kesadaran atas tanggungjawab sebagai warga negara
Indonesia yang menghormati lambang-lambang negara dan
mentaati peraturan perundang-undangan.

13
Berbagai masalah yang berkaitan dengan kesadaran
berbangsa dan bernegara perlu mendapat perhatian dan tanggung
jawab bersama. Sehingga amanat pada UUD 1945 untuk menjaga
dan memelihara Negara Kesatuan wilayah Republik Indonesia serta
kesejahteraan rakyat dapat diwujudkan. Hal yang dapat
mengganggu kesadaran berbangsa dan bernegara. Bagi ASN yang
perlu di cermati secara seksama adalah semakin tipisnya kesadaran
dan kepekaan sosial, padahal banyak persoalan-persoalan
masyarakat yang membutuhkan peranan ASN dalam setiap
pelaksanaan tugas jabatannya untuk membantu memediasi
masyarakat agar keluar dari himpitan masalah, baik itu masalah
sosial, ekonomi dan politik, karena dengan terbantunya masyarakat
dari semua lapisan keluar dari himpitan persoalan, maka bangsa ini
tentunya menjadi bangsa yang kuat dan tidak dapat di intervensi
oleh negara apapun, karena masyarakat itu sendiri yang harus
disejahterakan dan jangan sampai mengalami penderitaan. Di situ
ASN telah melakukan langkah konkrit dalam melakukan bela negara.
Kesadaran bela negara adalah dimana kita berupaya untuk
mempertahankan negara kita dari ancaman yang dapat
mengganggu kelangsungan hidup bermasyarakat yang
berdasarkan atas cinta tanah air. Kesadaran bela negara juga
dapat menumbuhkan rasa patriotisme dan nasionalisme di dalam
diri masyarakat. Upaya bela negara selain sebagai kewajiban dasar
juga merupakan kehormatan bagi setiap warga negara yang
dilaksanakan dengan penuh kesadaran, penuh tanggung jawab dan
rela berkorban dalam pengabdian kepada negara dan bangsa.
Keikutsertaan kita dalam bela negara merupakan bentuk cinta
terhadap tanah air kita.
Nilai-nilai bela negara yang harus lebih dipahami penerapannya
dalam kehidupan masyarakat berbangsa dan bernegara antara lain:

14
a. Cinta Tanah Air
Negeri yang luas dan kaya akan sumber daya ini perlu kita
cintai. Kesadaran bela negara yang ada pada setiap
masyarakat didasarkan pada kecintaan kita kepada tanah air
kita. Kita dapat mewujudkan itu semua dengan cara kita
mengetahui sejarah negara kita sendiri, melestarikan budaya-
budaya yang ada, menjaga lingkungan kita dan pastinya
menjaga nama baik negara kita.
b. Kesadaran Berbangsa dan Bernegara
Kesadaran berbangsa dan bernegara merupakan sikap kita
yang harus sesuai dengan kepribadian bangsa yang selalu
dikaitkan dengan cita-cita dan tujuan hidup bangsanya. Kita
dapat mewujudkannya dengan cara mencegah perkelahian
antar perorangan atau antar kelompok dan menjadi anak
bangsa yang berprestasi baik di tingkat nasional maupun
internasional.
c. Pancasila
Ideologi kita warisan dan hasil perjuangan para pahlawan
sungguh luar biasa, pancasila bukan hanya sekedar teoritis dan
normatif saja tapi juga diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
Kita tahu bahwa Pancasila adalah alat pemersatu
keberagaman yang ada di Indonesia yang memiliki beragam
budaya, agama, etnis, dan lain-lain. Nilai-nilai pancasila inilah
yang dapat mematahkan setiap ancaman, tantangan, dan
hambatan.
d. Rela berkorban untuk Bangsa dan Negara
Dalam wujud bela negara tentu saja kita harus rela
berkorban untuk bangsa dan negara. Contoh nyatanya seperti
sekarang ini yaitu perhelatan Sea Games. Para atlet bekerja
keras untuk bisa mengharumkan nama negaranya walaupun
mereka harus merelakan untuk mengorbankan waktunya untuk

15
bekerja sebagaimana kita ketahui bahwa para atlet bukan
hanya menjadi seorang atlet saja, mereka juga memiliki
pekerjaan lain. Begitupun supporter yang rela berlama-lama
menghabiskan waktunya antri hanya untuk mendapatkan tiket
demi mendukung langsung para atlet yang berlaga demi
mengharumkan nama bangsa.
e. Memiliki Kemampuan Bela Negara.
Kemampuan bela negara itu sendiri dapat diwujudkan
dengan tetap menjaga kedisiplinan, ulet, bekerja keras dalam
menjalani profesi masing-masing.
Kesadaran bela negara dapat diwujudkan dengan cara ikut
dalam mengamankan lingkungan sekitar seperti menjadi bagian
dari Siskamling, membantu korban bencana sebagaimana kita
ketahui bahwa Indonesia sering sekali mengalami bencana alam,
menjaga kebersihan minimal kebersihan tempat tinggal kita sendiri,
mencegah bahaya narkoba yang merupakan musuh besar bagi
generasi penerus bangsa, mencegah perkelahian antar perorangan
atau antar kelompok karena di Indonesia sering sekali terjadi
perkelahian yang justru dilakukan oleh para pemuda, cinta produksi
dalam negeri agar Indonesia tidak terus menerus mengimpor
barang dari luar negeri, melestarikan budaya Indonesia dan tampil
sebagai anak bangsa yang berprestasi baik pada tingkat nasional
maupun internasional.

2. Analisis Isu Kontemporer


Saat ini konsep negara,bangsa dan nasionalisme dalam
konteks Indonesia sedang berhadapan dengan dilema antara
globalisasi dan etnik nasionalisme yang harus disadari sebagai
perubahan lingkungan strategis. Termasuk di dalamnya terjadi
pergeseran pengertian tentang nasionalisme yang berorientasi
kepada pasar atau ekonomi global. Dengan menggunakanan logika

16
sederhana, “Pada tahun 2020, diperkirakan jumlah penduduk dunia
akan mencapai 10 milyar dan akan terus bertambah, sementara
sumber daya alam dan tempat tinggal tetap, maka manusia di dunia
akan semakin keras berebut untuk hidup, agar mereka dapat terus
melanjutkan hidup”. Pada perubahan ini perlu disadari bahwa
globalisasi dengan pasar bebasnya sebenarnya adalah sesuatu
yang tidak terhindarkan dan bentuk dari konsekuensi logis dari
interaksi peradaban dan bangsa.
Berdasarkan penjelasan di atas, perlu disadari bahwa ASN
sebagai aparatur negara dihadapkan pada pengaruh yang datang
dari eksternal juga internal yang kian lama kian menggerus
kehidupan berbangsa dan bernegara. Pancasila, UUD 1945, NKRI
dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai konsensus dasar berbangsa
dan bernegara. Fenomena tersebut menjadikan pentingnya setiap
ASN mengenal dan memahami secara kritis terkait isu-isu strategis
kontemporer diantaranya ; korupsi, narkoba, paham radikalisme/
terorisme, money laundry, proxy war, dan kejahatan komunikasi
masal seperti cybercrime, Hate Speech, dan Hoax, dan lain
sebagainya.

3. Kesiapsiagaan Bela Negara


Untuk melatih kesiapsiagaan bela negara bagi CPNS ada
beberapa hal yang dapat dilakukan, salah satunya adalah tanggap dan
mau tahu terkait dengan kejadian-kejadian permasalahan yang
dihadapi bangsa negara Indonesia, tidak mudah terprovokasi, tidak
mudah percaya dengan barita gosip yang belum jelas asal usulnya,
tidak terpengaruh dengan penyalahgunaan obat-obatan terlarang dan
permasalahan bangsa lainnya, dan yang lebih penting lagi ada
mempersiapkan jasmani dan mental untuk turut bela negara.
Pasal 27 dan Pasal 30 UUD Negara RI 1945 mengamanatkan
kepada semua komponen bangsa berhak dan wajib ikut serta dalam

17
upaya pembelaan negara dan syarat-syarat tentang pembelaan
negara. Dalam hal ini setiap CPNS sebagai bagian dari warga
masyarakat tentu memiliki hak dan kewajiban yang sama untuk
melakukan bela Negara sebagaimana diamanatkan dalam UUD
Negara RI 1945 tersebut.
Kesadaran bela negara itu hakikatnya kesediaan berbakti pada
negara dan kesediaan berkorban membela negara. Cakupan bela
negara itu sangat luas, dari yang paling halus, hingga yang paling
keras. Mulai dari hubungan baik sesama warga negara sampai
bersama-sama menangkal ancaman nyata musuh bersenjata.
Tercakup di dalamnya adalah bersikap dan berbuat yang terbaik bagi
bangsa dan negara.
Setidaknya unsur Bela Negara antara lain :
a. Cinta tanah air
b. Kesadaran berbangsa dan bernegara
c. Yakin akan Pancasila sebagai ideologi Negara
d. Rela berkorban untuk bangsa dan negara; dan
e. Memiliki kemampuan awal bela negara.
Terkait dengan Pelatihan Dasar bagi CPNS, sudah barang tentu
kegiatan bela negara bukan memanggul senjata sebagai wajib militer
atau kegiatan semacam militerisasi, namun lebih bagaimana
menanamkan jiwa kedisiplinan, mencintai tanah air (dengan menjaga
kelestarian hayati), menjaga aset bangsa, menggunakan produksi
dalam negeri, dan tentu ada beberapa kegiatan yang bersifat fisik
dalam rangka menunjang kesiapsiagaan dan meningkatkan kebugaran
fisik saja.
Oleh sebab itu maka dalam pelaksanaan latihan dasar bagi
CPNS akan dibekali dengan latihan-latihan seperti :
a. Kegiatan Olah Raga dan Kesehatan Fisik;
b. Kesiapsiagaan dan kecerdasan Mental;
c. Kegiatan Baris-berbaris, Apel, dan Tata Upacara;

18
d. Keprotokolan;
e. Fungsi-fungsi Intelijen dan Badan Pengumpul Keterangan;
f. Kegiatan Ketangkasan dan Permainan.

B. NILAI DASAR ASN


1. Akuntabilitas
a. Pengertian Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban pertanggungjawaban yang
harus dicapai. Akuntabilitas merujuk pada kewajiban setiap
individu, kelompok atau institusi untuk memenuhi tanggung
jawab yang menjadi amanahnya. Akuntabilitas memiliki 5
tingkatan yang berbeda yaitu akuntabilitas personal, akuntabilitas
individu, akuntabilitas kelompok, akuntabilitas organisasi, dan
akuntabilitas stakeholder (Kusumasari et al., 2015).
b. Aspek Akuntabilitas
1) Akuntabilitas adalah sebuah hubungan (accountability is a
relationship)
2) Akuntabilitas berorientasi pada hasil (accountability is results
oriented)
3) Akuntabilitas membutuhkan adanya laporan (accountability
requires reporting)
4) Akuntabilitas memerlukan konsekuensi (accountability is
meaningless without consequences)
5) Akuntabilitas memperbaiki kinerja (accountability improves
performance)
c. Jenis-jenis Akuntabilitas
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam, yaitu:
akuntabilitas vertikal (vertical accountability), dan akuntabilitas
horizontal (horizontal accountability). Akuntabilitas vertikal adalah
pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas

19
yang lebih tinggi. Akuntabilitas horizontal adalah
pertanggungjawaban kepada masyarakat luas.
d. Tingkatan Akuntabilitas
1) Akuntabilitas Personal
2) Akuntabilitas Individu
3) Akuntabilitas Kelompok
4) Akuntabilitas Organisasi
5) Akuntabilitas Stakeholder
e. Nilai-nilai Akuntabilitas
1) Kepemimpinan : Pimpinan memberi contoh pada orang lain,
adanya
2) Komitmen yang tinggi dalam melakukan pekerjaan.
3) Transparansi : keterbukaan informasi akan mendorong
tercapainya akuntabilitas
4) Integritas : mematuhi hukum dan peraturan yang berlaku
5) Responsibilitas : kewajiban bagi setiap individu dan lembaga,
bahwa ada suatu konsekuensi dari setiap tindakan yang telah
dilakukan, karena adanya tuntutan untuk bertanggung jawab
atas keputusan yangtelah dibuat.
6) Keadilan : landasan utama dari akuntabilitas yng harus
dipelihara dan dipromosikan karena ketidakadilan dapat
menghancurkan
7) kepercayaan dan kredibilitas organisasi yang mengakibatkan
kinerja tidak optimal.
8) Kepercayaan : rasa keadilan akan membawa pada sebuah
kepercayaan
9) Keseimbangan : keseimbangan kapasitas sumber daya dan
keahlian yang yang dimiliki

20
2. Nasionalisme
a. Pengertian Nasionalisme
Nasionalisme adalah pandangan atau paham kecintaan
terhadap bangsa dan tanah air Indonesia yang didasarkan pada
Pancasila (Latief et al., 2015).
b. Nilai-nilai Nasionalisme
Adapun nilai-nilai nasionalisme jumlahnya ada 5 yang
sesuai dengan sila Pancasila, diantaranya:
1) Sila pertama: Ketuhanan yang Maha Esa
a) Bangsa Indonesia menyatakan kepercayaannya dan
ketakwaannya terhadap Tuhan yang Maha Esa,
b) Manusia Indonesia percaya dan takwa terhadap Tuhan
yang Maha Esa, sesuai dengan agama dan
kepercayaannya masing-masing, menurut dasar
kemanusiaan yang adil dan beradab,
c) Mengembangkan sikap hormat-menghormati dan
bekerjasama antara pemeluk agama dan penganut
kepercayaan yang berbeda-beda terhadap Tuhan yang
Maha Esa,
d) Membina kerukunan hidup diantara sesama umat
beragama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha
Esa,
e) Agama dan kepercayaan terhadap Tuhan yang Maha Esa
adalah masalah yang menyangkut hubungan pribadi
manusia dengan Tuhan yang Maha Esa,
f) Mengembangkan sikap saling menghormati kebebasan
menjalankan ibadah sesuai dengan agama dan
kepercayaan masing-masing,
g) Tidak memaksakan suatu agama dan kepercayaan
terhadap Tuhan yang Maha Esa kepada orang lain.

21
2) Sila kedua : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
a) Mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan
harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan yang
Maha Esa,
b) Mengakui persamaan derajat, persamaan hak, dan
kewajiban asasi setiap manusia, tanpa membeda-bedakan
suku, keturunan, agama, kepercayaan, jenis kelamin,
kedudukan sosial,warna kulit dan sebagainya,
c) Mengembangkan sikap saling mencintai sesama manusia,
d) Mengembangkan sikap saling tenggang rasa dan tepa
selira,
e) Mengembangkan sikap tidak semena-mena terhadap orang
lain,
f) Menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan,
g) Gemar melakukan kegiatan kemanusiaan,
h) Berani membela kebenaran dan keadilan,
i) Bangsa Indonesia merasa dirinyaa sebagai bagian dari
seluruh umat manusia,
j) Mengembangkan sikap hormat-menghormati dan bekerja
sama dengan bangsa lain.
3) Sila ketiga: Persatuan Indonesia
a) Mampu menempatkan persatuan, kesatuan serta
kepentingan dan keselamatan bangsa dan negara sebagai
kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan
golongan,
b) Sanggup dan rela berkorban untuk kepentingan negara dan
bangsa apabila diperlukan,
c) Mengembangkan rasa cinta kepada tanah air dan bangsa,
d) Mengembangkan rasa kebanggaan berkebangsaan dan
bertanah air Indonesia,

22
e) Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan
kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial,
f) Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar
Bhinneka Tunggal Ika,
g) Memajukan pergaulan demi persatuan dan kesatuan
bangsa.
4) Sila keempat : Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan
a) Sebagai warga negara dan warga masyarakat, setiap
manusia Indonesia mempunyai kedudukan, hak dan
kewajiban yang sama,
b) Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain,
c) Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan
untuk kepentingan bersama,
d) Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh
semangat kekeluargaan,
e) Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang
dicapai sebagai hasil musyawarah,
f) Dengan itikad baik dan rasa tanggung jawab menerima
dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah,
g) Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di
atas kepentingan pribadi dan golongan,
h) Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai
dengan hati nurani yang luhur,
i) Keputusan yang diambil harus dapat
dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan yang
Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia,
nilai-nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan
persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama,
j) Memberikan kepercayaan kepada wakil-wakil yang
dipercayai untuk melaksanakan permusyawaratan.

23
5) Sila kelima : Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia
a) Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang
mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan
kegotongroyongan,
b) Mengembangkan sikap adil terhadap sesama,
c) Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban,
d) Menghormati hak orang lain,
e) Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat
berdiri sendiri,
f) Tidak menggunakan hak milik untuk usaha-usaha yang
bersifat pemerasan terhadap orang lain,
g) Tidak menggunakan hak milik untuk hal-hal yang bersifat
pemborosan dan gaya hidup mewah,
h) Tidak menggunakan hak milik untuk bertentangan dengan
atau Tidak menggunakan hak milikmerugikan kepentingan
umum,
i) Suka bekerja keras,
j) Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermanfaat
bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama,
k) Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan
kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.

3. Etika Publik
Etika adalah tujuan hidup yang baik bersama dan untuk
orang lain di dalam institusi yang adil (LAN, 2015). Etika lebih
dipahami sebagai refleksi atas baik atau buruk, benar atau salah
yang harus dilakukan atau bagaimana melakukan kewajiban yang
baik atau benar. Dalam kaitannya dengan pelayanan publik, etika
publik adalah refleksi tentang standar/norma yang menentukan
baik/buruk, benar/salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk
mengarahkan kebijakan publik dalam rangka menjalankan

24
tanggung jawab pelayanan publik (LAN, 2015). Integritas publik
menuntut para pemimpin dan pejabat publik untuk memiliki
komitmen moral dengan mempertimbangkan keseimbangan antara
penilaian kelembagaan, dimensi-dimensi pribadi, dan
kebijaksanaan di dalam pelayanan publik (Haryatmoko dalam LAN,
2015).
Kode etik adalah aturan-aturan yang mengatur tingkah laku
dalam suatu kelompok khusus, sudut pandangnya hanya ditujukan
pada hal-hal prinsip dalam bentuk ketentuan-ketentuan tertulis
(LAN, 2015). Kode etik profesi dimaksudkan untuk mengatur
tingkah laku/etika suatu kelompok khusus dalam masyarakat
melalui ketentuan-ketentuan tertulis yang diharapkan dapat
dipegang teguh oleh sekelompok profesional tertentu.
Berdasarkan undang-undang ASN, kode etik dan kode
perilaku ASN yakni sebagai berikut :
a. Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab, dan
berintegritas tinggi;
b. Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
c. Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
d. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan peraturan perundangan
yang berlaku;
e. Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan atau
pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan dan etika
pemerintahan;
f. Menjaga kerahasiaan yang menyangkut kebijakan negara;
g. Menggunakan kekayaan dan barang milik negara secara
bertanggung jawab, efektif, dan efisien;
h. Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam
melaksanakan tugasnya;

25
i. Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait
kepentingan kedinasan;
j. Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan dan jabatannya untuk mendapat atau mencari
keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau untuk orang lain;
k. Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi
dan integritas ASN;
l. Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai disiplin pegawai ASN.
Dimensi etika publik terdiri dari dimensi tujuan pelayanan
publik yang bertujuan untuk mewujudkan pelayanan yang
berkualitas dan relevan, dimensi modalitas yang terdiri dari
akuntabilitas, transparansi, dan netralitas, serta dimensi tindakan
integritas publik (LAN, 2015). Ketiga dimensi tersebut dapat
menjadi dasar untuk dapat menjadi pelayan publik yang beretika.

4. Komitmen Mutu
LAN RI (2015) menjelaskan bahwa karakteristik utama yang
dapat dijadikan dasar untuk mengukur tingkat efektivitas adalah
ketercapaian target yang telah direncanakan, baik dilihat dari
capaian jumlah maupun mutu hasil kerja, sehingga dapat memberi
kepuasan, sedangkan tingkat efisiensi diukur dari penghematan
biaya, waktu, tenaga, dan pikiran dalam menyelesaikan kegiatan.
Inovasi muncul karena adanya dorongan kebutuhan
organisasi/perusahaan untuk beradaptasi dengan tuntutan
perubahan yang terjadi di sekitarnya. Mengenai inovasi, LAN RI
(2015) menyatakan bahwa proses inovasi dapat terjadi secara
perlahan (bersifat evolusioner) atau bisa juga lahir dengan cepat
(bersifat revolusioner). Inovasi akan menjadi salah satu kekuatan
organisasi untuk memenangkan persaingan.

26
Ada empat indikator dari nilai-nilai dasar komitmen mutu
yang harus diperhatikan, yaitu :
a. Efektif
Efektif adalah berhasil guna, dapat mencapai hasil sesuai
dengan target. Sedangkan efektivitas menunjukkan tingkat
ketercapaian target yang telah direncanakan, baik menyangkut
jumlah maupun mutu hasil kerja. Efektifitas organisasi tidak
hanya diukur dari performans untuk mencapai target (rencana)
mutu, kuantitas, ketepatan waktu dan alokasi sumber daya,
melainkan juga diukur dari kepuasan dan terpenuhinya
kebutuhan pelanggan.
b. Efisien
Efisien adalah berdaya guna, dapat menjalankan tugas dan
mencapai hasil tanpa menimbulkan keborosan. Sedangkan
efisiensi merupakan tingkat ketepatan realiasi penggunaan
sumberdaya dan bagaimana pekerjaan dilaksanakan sehingga
dapat diketahui ada tidaknya pemborosan sumber daya,
penyalahgunaan alokasi, penyimpangan prosedur dan
mekanisme yang ke luar alur.
c. Inovasi
Inovasi Pelayanan Publik adalah hasil pemikiran baru yang
konstruktif, sehingga akan memotivasi setiap individu untuk
membangun karakter sebagai aparatur yang diwujudkan dalam
bentuk profesionalisme layanan publik yang berbeda dari
sebelumnya, bukan sekedar menjalankan atau menggugurkan
tugas rutin.
d. Mutu
Mutu merupakan suatu kondisi dinamis berkaitan dengan
produk, jasa, manusia, proses dan lingkungan yang sesuai atau
bahkan melebihi harapan konsumen. Mutu mencerminkan nilai
keunggulan produk/jasa yang diberikan kepada pelanggan

27
sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya, bahkan
melampaui harapannya. Mutu merupakan salah satu standar
yang menjadi dasar untuk mengukur capaian hasil kerja. Mutu
menjadi salah satu alat vital untuk mempertahankan
keberlanjutan organisasi dan menjaga kredibilitas institusi.
Ada lima dimensi karakteristik yang digunakan pelanggan
dalam mengevaluasi kualitas pelayan (Berry dan Pasuraman dalam
Zulian Zamit, 2010), yaitu:
a. Tangibles (bukti langsung), yaitu : meliputi fasilitas fisik,
perlengkapan, pegawai, dan sarana komunikasi;
b. Reliability (kehandalan), yaitu kemampuan dalam memberikan
pelayanan dengan segera dan memuaskan serta sesuai dengan
yang telah dijanjikan;
c. Responsiveness (daya tangkap), yaitu keinginan untuk
memberikan pelayanan dengan tanggap;
d. Assurance (jaminan), yaitu mencakup kemampuan, kesopanan,
dan sifat dapat dipercaya;
e. Empaty, yaitu kemudahan dalam melakukan hubungan,
komunikasi yang baik, dan perhatian dengan tulus terhadap
kebutuhan pelanggan.

5. Anti Korupsi
Kata korupsi berasal dari bahasa latin yaitu Corruptio yang
artinya kerusakan, kebobrokan dan kebusukan. Korupsi sering
dikatakan sebagai kejahatan luar biasa, karena dampaknya yang
luar biasa, menyebabkan kerusakan baik dalam ruang lingkup
pribadi, keluarga, masyarakat dan kehidupan yang lebih luas.
Kerusakan tidak hanya terjadi dalam kurun waktu yang pendek,
namun dapat berdampak secara jangka panjang. (Widita, 2015)
Ada 9 (sembilan) indikator dari nilai-nilai dasar anti korupsi
yang harus diperhatikan, yaitu :

28
a. Jujur
Kejujuran merupakan nilai dasar yang menjadi landasan utama
bagi penegakan integritas diri seseorang. Tanpa adanya
kejujuran mustahil seseorang bisa menjadi pribadi yang
berintegritas. Seseorang dituntut untuk bisa berkata jujur dan
transparan serta tidak berdusta baik terhadap diri sendiri
maupun orang lain, sehingga dapat membentengi diri terhadap
godaan untuk berbuat curang.
b. Peduli
Kepedulian sosial kepada sesama menjadikan seseorang
memiliki sifat kasih sayang. Individu yang memiliki jiwa sosial
tinggi akan memperhatikan lingkungan sekelilingnya di mana
masih terdapat banyak orang yang tidak mampu, menderita,
dan membutuhkan uluran tangan. Pribadi dengan jiwa sosial
tidak akan tergoda untuk memperkaya diri sendiri dengan cara
yang tidak benar tetapi ia malah berupaya untuk menyisihkan
sebagian penghasilannya untuk membantu sesama.
c. Mandiri
Kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri
seseorang menjadi tidak bergantung terlalu banyak pada orang
lain. Mentalitas kemandirian yang dimiliki seseorang
memungkinkannya untuk mengoptimalkan daya pikirnya guna
bekerja secara efektif. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin
hubungan dengan pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab
demi mencapai keuntungan sesaat.
d. Disiplin
Disiplin adalah kunci keberhasilan semua orang. Ketekunan dan
konsistensi untuk terus mengembangkan potensi diri membuat
seseorang akan selalu mampu memberdayakan dirinya dalam
menjalani tugasnya. Kepatuhan pada prinsip kebaikan dan
kebenaran menjadi pegangan utama dalam bekerja. Seseorang

29
yang mempunyai pegangan kuat terhadap nilai kedisiplinan
tidak akan terjerumus dalam kemalasan yang mendambakan
kekayaan dengan cara yang mudah.
e. Tanggung Jawab
Pribadi yang utuh dan mengenal diri dengan baik akan
menyadari bahwa keberadaan dirinya di muka bumi adalah
untuk melakukan perbuatan baik demi kemaslahatan sesama
manusia. Segala tindak tanduk dan kegiatan yang dilakukannya
akan dipertanggungjawabkan sepenuhnya kepada Tuhan Yang
Maha Esa, masyarakat, negara, dan bangsanya. Dengan
kesadaran seperti ini maka seseorang tidak akan tergelincir
dalam perbuatan tercela dan nista.
f. Kerja Keras
Individu beretos kerja akan selalu berupaya meningkatkan
kualitas hasil kerjanya demi terwujudnya kemanfaatan publik
yang sebesar-besarnya. Ia mencurahkan daya pikir dan
kemampuannya untuk melaksanakan tugas dan berkarya
dengan sebaik-baiknya. Ia tidak akan mau memperoleh sesuatu
tanpa mengeluarkan keringat.
g. Sederhana
Pribadi yang berintegritas tinggi adalah seseorang yang
menyadari kebutuhannya dan berupaya memenuhi
kebutuhannya dengan semestinya tanpa berlebih-lebihan. Ia
tidak tergoda untuk hidup dalam gelimang kemewahan.
Kekayaan utama yang menjadi modal kehidupannya adalah
ilmu pengetahuan. Ia sadar bahwa mengejar harta tidak akan
pernah ada habisnya karena hawa nafsu keserakahan akan
selalu memacu untuk mencari harta sebanyak-banyaknya.
h. Berani
Seseorang yang memiliki karakter kuat akan memiliki
keberanian untuk menyatakan kebenaran dan menolak

30
kebathilan. Ia tidak akan mentolerir adanya penyimpangan dan
berani menyatakan penyangkalan secara tegas. Ia juga berani
berdiri sendirian dalam kebenaran walaupun semua kolega dan
teman-teman sejawatnya melakukan perbuatan yang
menyimpang dari hal yang semestinya. Ia tidak takut dimusuhi
dan tidak memiliki teman kalau ternyata mereka mengajak
kepada hal-hal yang menyimpang.
i. Adil
Pribadi dengan karakter yang baik akan menyadari bahwa apa
yang dia terima sesuai dengan jerih payahnya. Ia tidak akan
menuntut untuk mendapatkan lebih dari apa yang ia sudah
upayakan. Bila ia seorang pimpinan maka ia akan memberi
kompensasi yang adil kepada bawahannya sesuai dengan
kinerjanya. Ia juga ingin mewujudkan keadilan dan kemakmuran
bagi masyarakat dan bangsanya.
Kesadaran anti korupsi yang dibangun melalui pendekatan
spiritual, dengan selalu ingat akan tujuan keberadaannya sebagai
manusia di muka bumi, dan selalu ingat bahwa seluruh ruang dan
waktu kehidupannya harus dipertanggungjawabkan sehingga dapat
menjadi benteng kuat untuk anti korupsi. Tanggung jawab spiritual
yang baik akan menghasilkan niat yang baik dan mendorong untuk
memiliki visi dan misi yang baik, hingga selalu memiliki semangat
untuk melakukan proses atau usaha terbaik dan mendapatkan hasil
terbaik agar dapat dipertanggungjawabkan secara publik.

C. KEDUDUKAN DAN PERAN ASN DALAM NKRI


1. Manajemen ASN
Manajemen ASN adalah pengelolaan ASN untuk
menghasilkan pegawai ASN yang profesional, memiliki nilai dasar,
etika profesi, bebas dari intervensi politik, bersih dari praktek
korupsi, kolusi, dan nepotisme. Manajemen ASN diselenggarakan

31
berdasarkan Sistem Merit. Manajemen ASN meliputi Manajemen
ASN dan Manajemen PPPK. Manajemen ASN meliputi penyusunan
dan penetapan kebutuhan, pengadaan, pangkat dan jabatan,
pengembangan karier, pola karier, promosi, mutasi, penilaian
kinerja, penggajian dan tunjangan, penghargaan, disiplin,
pemberhentian, jaminan pensiun dan jaminan hari tua, dan
perlindungan (LAN, 2015).
Pegawai ASN wajib :
a. Setia dan taat pada Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara
Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik
Indonesia, dan pemerintah yang sah;
b. Menjaga persatuan dan kesatuan bangsa;
c. Melaksanakan kebijakan yang dirumuskan pejabat pemerintah
yang berwenang;
d. Menaati ketentuan peraturan perundang-undangan;
e. Melaksanakan tugas kedinasan dengan penuh pengabdian,
kejujuran,. Kesadaran, dan tanggung jawab;
f. Menunjukkan integritas dan keteladanan dalam sikap, perilaku,
ucapan, dan tindakan kepada setiap orang, baik di dalam
maupun diluar kedinasan;
g. Menyimpan rahasia jabatan dan hanya dapat mengemukakan
rahasia jabatan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-
undangan, dan
h. Bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Negara Kesatuan
Republik Indonesia.

2. Whole of Government (WoG)


WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan
pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaborasi
pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup
koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan

32
pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan
publik. WoG dikenal sebagai pendekatan interagency yaitu
pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait
dengan urusan-urusan yang relevan.
Untuk mengatasai wicked problem tidak hanya dibutuhkan
koordinasi tetapi juga kolaborasi. Koordinasi dengan kolaborasi
memiliki perbedaan, dimana koordinasi merupakan kerja sama intra
atau inter instansi tetapi masing-masing memiliki tujuan dan
kepentingannya sendiri. Sedangkan kolaborasi, masing-masing
pihak yang bekerjasama memiliki tujuan dan kepentingan bersama.

3. Pelayanan Publik
Negara berkewajiban melayani setiap warga negara dan
penduduk untuk memenuhi hak dan kebutuhan dasarnya dalam
kerangka pelayanan publik yang merupakan amanat UUD RI 1945.
Pengertian pelayanan publik menurut Pasal 1 ayat 1 Undang-
Undang Nomor 25 Tahun 2009 tentang Pelayanan Publik
disebutkan bahwa pelayanan publik adalah kegiatan atau rangkaian
kegiatan dalam rangka pemenuhan kebutuhan pelayanan sesuai
dengan peraturan perundang-undangan bagi setiap warga negara
dan penduduk atas barang, jasa, dan atau pelayanan administratif
yang disediakan oleh penyelenggara pelayan publik. Sembilan
prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan
prima adalah: partisipatif, transparan, responsif, non diskriminatif,
mudah dan murah, efektif dan efisien, aksesibel, akuntabel, dan
berkeadilan.
Tiga unsur penting dalam pelayanan publik yaitu
a. Organisasi penyelenggara pelayanan publik;
b. Penerima layanan (orang, masyarakat, organisasi lain);
c. Kepuasan yang diberikan atau diterima oleh penerima layanan.

33
D. Kesehatan Lansia
Menurut World Health Organisation (WHO), lansia adalah
seseorang yang telah memasuki usia 60 tahun keatas. Lansia
merupakan kelompok umur pada manusia yang telah memasuki
tahapan akhir dari fase kehidupannya. Kelompok yang dikategorikan
lansia ini akan terjadi suatu proses yang disebut Aging Process atau
proses penuaan.
Proses penuaan adalah siklus kehidupan yang ditandai
dengan tahapan-tahapan menurunnya berbagai fungsi organ tubuh,
yang ditandai dengan semakin rentannya tubuh terhadap berbagai
serangan penyakit yang dapat menyebabkan kematian misalnya pada
sistem kardiovaskuler dan pembuluh darah, pernafasan, pencernaan,
endokrin dan lain sebagainya. Hal tersebut disebabkan seiring
meningkatnya usia sehingga terjadi perubahan dalam struktur dan
fungsi sel, jaringan, serta sistem organ. Perubahan tersebut pada
umumnya mengaruh pada kemunduran kesehatan fisik dan psikis
yang pada akhirnya akan berpengaruh pada ekonomi dan sosial
lansia. Sehingga secara umum akan berpengaruh pada activity of
daily living (Fatmah, 2010).
a. Batasan-batasan usia lanjut
Batasan umur pada usia lanjut dari waktu ke waktu berbeda.
Menurut World Health Organitation (WHO) lansia meliputi :
1) Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59
tahun
2) Lanjut usia (elderly) antara usia 60 sampai 74 tahun
3) Lanjut usia tua (old) antara usia 75 sampai 90 tahun
4) Usia sangat tua (very old) diatas usia 90 tahun
Berbeda dengan WHO, menurut Departemen Kesehatan RI (2006)
pengelompokkan lansia menjadi :
1) Virilitas (prasenium) yaitu masa persiapan usia lanjut yang
menampakkan kematangan jiwa (usia 55-59 tahun)

34
2) Usia lanjut dini (senescen) yaitu kelompok yang mulai
memasuki masa usia lanjut dini (usia 60-64 tahun)
3) Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit
degeneratif (usia >65 tahun)
Secara umum, menjadi tua ditandai oleh kemunduran biologis
yang terlihat sebagai gejala-gejala kemunduran fisik, antara lain :
1) Kulit mulai mengendur dan wajah mulai keriput serta garis-garis
yang menetap.
2) Rambut kepala mulai memutih atau beruban.
3) Gigi mulai lepas.
4) Penglihatan dan pendengaran berkurang.
5) Mudah lelah dan mudah jatuh.
6) Gerakan menjadi lamban dan kurang lincah.
Disamping itu, juga terjadi kemunduran kognitif antara lain :
1) Suka lupa, ingatan tidak berfungsi dengan baik.
2) Ingatan terhadap hal-hal di masa muda lebih baik daripada hal-
hal yang baru saja terjadi.
3) Sering adanya disorientasi terhadap waktu, tempat dan orang.
4) Sulit menerima ide-ide baru (Haryono, 2013).

b. Gizi lansia
1) Kebutuhan Gizi pada Lansia
Diet dan penuaan mempunyai peran besar dalam
meningkatkan kualitas hidup dan proses penuaan. Pada
percobaan tikus dengan pembatasan jumlah asupan kalori diet
dapat memperpanjang usia hidup atau penyakit yang bersamaan
dengan usia lanjut karena akan menurunkan produksi radikal
bebas. Diet juga dapat menurunkan penyakit kronis. Bila adanya
peningkatan asupan protein dan lemak maka insiden kanker
(tumor ganas) meningkat dan terjadi gangguan organ dan

35
mempercepat proses penuaan secara fisik, biokimia dan
imunologi (Oenzil, 2012).

Tabel 2.1. Kebutuhan kalori berdasarkan usia


Usia Kebutuhan kalori
40-49 tahun (0,95 Berat Badan x 40 kal) x indeks aktivitas
50-59 tahun (0,90 Berat Badan x 40 kal) x indeks aktivitas
60-69 tahun (0,80 Berat Badan x 40 kal) x indeks aktivitas
Dengan nilai indeks aktivitas :
Aktivitas Ringan = 0,90
Aktivitas Sedang = 1,0
Aktivitas Aktif = 1,17 (Oenzil, 2012)

2) Masalah Gizi pada Lansia


Masalah gizi pada lansia menurut Beck (2011) dibedakan
menjadi 3 kelompok yaitu:
a. Malnutrisi Umum
Malnutrisi umum dapat diartikan sebagai diet tidak
mengandung beberapa nutrien dalam jumlah yang memadai.
Keadaan ini disebabkan oleh ketidakacuhan secara umum
yang disebabkan oleh berbagai keadaan.
b. Defisiensi nutrien tertentu
Defisiensi ini terjadi bila suatu makanan atau kelompok
makanan tertentu tidak ada dalam diet, seperti Vitamin C,
Vitamin D, asam folat dan besi.
c. Obesitas
Besarnya permasalahan ini akan meningkat bilamana
masukan energi tidak dikurangi saat aktivitas jasmaniah
semakin menurun. Obesitas yang ekstrem jarang terjadi
begitu seseorang masuk usia pensiun. Obesitas biasanya

36
disebabkan oleh kebiasaan makan yang jelek sejak usia
muda.
3) Penilaian Status Gizi Lansia
Status gizi seseorang dapat ditentukan oleh beberapa
pemeriksaan gizi. Pemeriksaan gizi yang memberikan data
paling meyakinkan tentang keadaan aktual gizi seseorang terdiri
dari empat langkah, yaitu pengukuran antropometri, pemeriksaan
laboratorium, pengkajian fisik atau secara klinis dan riwayat
kebiasaan makanan. The Mini Nutritional Assessment (MNA)
adalah alat penilaian gizi lain yang dapat digunakan untuk
mengidentifikasi resiko malnutrisi pada lansia.
Pemeriksaan status gizi dapat memberikan informasi
tentang keadaan gizi seseorang saat itu dan kebutuhan nutrisi
yang harus dipenuhi. The American Society for Parental and
Enteral Nutrition (ASPEN) dalam Meiner (2006) mengidentifikasi
tujuan dari pengkajian status gizi adalah untuk mendirikan
parameter gizi secara subjektif dan objektif, mengidentifikasi
kekurangan nutrisi dan menentukan faktor resiko dari masalah
gizi seseorang. Selain itu pengkajian status gizi juga dapat
menentukan kebutuhan gizi seseorang dan mengidentifikasi
faktor psikososial dan medis yang dapat mempengaruhi
dukungan status gizi. Kategori status gizi lansia berdasarkan
Index Massa Tubuh ditampilkan dalam tabel 2.2.

Tabel 2.2. Kategori status gizi lansia berdasarkan IMT


IMT Status Gizi
<18,5 kg/m2 Gizi kurang
18,5-25 kg/m2 Gizi Normal
>25 kg/m2 Obesitas

37
c. Beberapa Masalah Khusus Pada Lanjut Usia
1) Gangguan fisik
Banyak perubahan fisik yang terjadi pada lansia karena
penyakit, akan tetapi sebagian juga disebabkan karena proses
penuaan. Beberapa perubahan fisik yang terjadi adalah
berkurangnya ketajaman pancaindra, berkurangnya kemampuan
melaksanakan sesuatu karena turunnya kekuatan motorik,
perubahan penampilan fisik yang mempengaruhi peranan dan
status ekonomi dan sosial, serta kemunduran efisiensi integratif
susunan saraf pusat, misalnya penciutan minat, kelemahan ingatan
dan penurunan inteligensi. Tidak jarang terjadi depresi pada orang
berumur 60-an. Depresi sering mengisyaratkan adanya suatu
penyakit organik. Penyakit yang laten mungkin menunjukkan
eksaserbasi, seperti diabetes, hipertensi, dan glaukoma. Gangguan
pembuluh darah yang progresif pada jantung dan otak yang
mengancam serta membatasi hidup, dapat menimbulkan reaksi
takut, amarah dan depresi. Sebaliknya, reaksi emosional yang
berlebihan dapat memperhebat gangguan kardiovaskuler, endokrin
dan penyakit lain yang sebelumnya masih ringan (Maramis, 2009).
Orang lanjut usia sering menyatakan kekhawatirannya
terhadap ketidak mampuan fisiknya, tetapi jarang tentang rasa
takutnya terhadap kematian. Ada yang dengan tenang menyiapkan
diri dan mengatur hal-hal duniawi (warisan, makam dan
sebagainya) dalam menghadapi hal yang tidak dapat dielakkan
tersebut. Kadang-kadang memang timbul depresi atau
penyangkalan dan kompensasi (yang berlebihan) terhadap hal mati
(Maramis, 2009).
2) Kehilangan dalam bidang sosial ekonomi
Kehilangan keluarga atau teman karib, kedudukan sosial,
uang, pekerjaan (pensiun), atau mungkin rumah tinggal, semua ini
dapat menimbulkan reaksi yang merugikan. Perasaan aman dalam

38
hal sosial dan ekonomi serta pengaruhnya terhadap semangat
hidup, rupanya lebih kuat dari pada keadaan badani dalam
melawan depresi (Maramis, 2009).
3) Seks pada usia lanjut
Orang usia lanjut dapat saja mempunyai kehidupan seks
yang aktif sampai umur 80-an. Libido dan nafsu seksual penting
juga pada usia lanjut, tetapi sering hal ini mengakibatkan rasa malu
dan bingung pada mereka sendiri dan anak-anak mereka yang
menganggap seks pada usia lanjut sebagai tabu atau tidak wajar.
Orang yang pada masa muda mempunyai kehidupan seksual yang
sehat dan aktif, pada usia lanjut masih juga demikian, biarpun
sudah berkurang, jika saat muda sudah lemah, pada usia lanjut
akan habis sama sekali (Maramis, 2009).
Memang terdapat beberapa perubahan khusus mengenai
seks. Pada wanita karena proses penuaan, maka pola
vasokongesti pada buah dada, klitoris dan vagina lebih terbatas.
Aktivitas sekretoris dan elastisitas vagina juga berkurang. Pada pria
untuk mencapai ereksi diperlukan waktu lebih lama. Ereksi mungkin
tidak akan dicapai penuh, tetapi cukup untuk melakukan koitus.
Kekuatan saat ejakulasi juga berkurang. Pada kedua seks, semua
fase eksitasi menjadi lebih panjang, akan tetapi meskipun
demikian, pengalaman subjektif mengenai orgasme dan
kenikmatan tetap ada dan dapat membantu relasi dengan
pasangan (Maramis, 2009).
4) Gangguan psikiatri
Yang sering terdapat pada usia lanjut adalah, sindrom otak
organik dan psikosis involusi. Skizofrenia, psikosis bipolar dan
ketergantungan obat bila ada, mungkin terjadi sejak masa muda.
Hampir semua gangguan jiwa pada masa muda dapat bertahan
sampai atau timbul lagi pada masa usia lanjut. Neurosis sering
berupa neurosis cemas dan depresi. Gangguan psikosomatis dapat

39
juga berlangsung sampai masa tua, tetapi beberapa menjadi lebih
baik atau hilang dengan sendirinya. Diabetes, hipertensi dan
glaukoma dapat menjadi lebih parah karena depresi. Insomnia,
anorexia dan konstipasi sering timbul dan tidak jarang gejala-gejala
ini berhubungan dengan depresi. Depresi pada masa usia lanjut
sering disebabkan karena aterosklerosis otak, tetapi juga tidak
jarang psikogenik atau kedua-duanya (Maramis, 2009).

d. Karakteristik Penyakit Lansia di Indonesia


1) Penyakit persendian dan tulang
Misalnya : osteoporosis, osteoartritis.
2) Penyakit kardiovaskular
Misalnya : penyakit jantung koroner, hipertensi, kolesterolemia,
angina, cardiac attack, stroke, trigliserida tinggi, anemia.
3) Penyakit pencernaan, yaitu gastritis dan ulkus peptikum.
4) Penyakit urogenital, seperti infeksi saluran kemih (ISK), gagal ginjal
akut atau kronis, benign prostat hiperplasia.
5) Penyakit metabolik atau endokrin. Misalnya: diabetes mellitus,
obesitas.
6) Penyakit pernafasan, seperti asma dan tuberkulosis paru.
7) Penyakit keganasan, seperti kanker.
8) Penyakit lainnya, seperti dimensia, alziemer, depresi, parkinson

e. Upaya Kesehatan Lansia


Kementerian Kesehatan dalam upaya untuk meningkatkan status
kesehatan para lanjut usia, melakukan beberapa program yaitu:
1) Peningkatan dan pemantapan upaya kesehatan para lansia di
pelayanan kesehatan dasar, khususnya Puskesmas dan kelompok
lansia melalui program Puskesmas Santun Lanjut Usia.
Puskesmas Santun Usia Lanjut adalah Puskesmas yang
melaksanakan pelayanan kepada lansia dengan mengutamakan

40
aspek promotif dan preventif di samping aspek kuratif dan
rehabilitatif, secara pro-aktif, baik dan sopan serta memberikan
kemudahan dan dukungan bagi lansia.
Puskesmas Santun Usia Lanjut menyediakan loket, ruang
tunggu dan ruang pemeriksaan khusus bagi lansia serta
mempunyai tenaga yang sudah terlatih di bidang kesehatan lansia
dengan target Rencana Strategis Kesehatan tahun 2012 adalah
352 dan tahun 2014 sebanyak 602.
2) Peningkatan upaya rujukan kesehatan bagi lansia melalui
pengembangan Poliklinik Geriatri di Rumah Sakit.
Saat ini baru ada 8 Rumah Sakit Umum tipe A dan B yang
memiliki Klinik Geriatri Terpadu yaitu RSUPN Cipto
Mangunkusumo, Jakarta; RSUP Karyadi, Semarang; RSUP
Sardjito, Yogyakarta; RSUP Sanglah, Denpasar; RSUP Hasan
Sadikin Bandung; RSUP Wahidin, Makassar; RSUD Soetomo,
Surabaya dan RSUD Moewardi, Solo.
Untuk Rumah Sakit Khusus pada rumah sakit jiwa yang
melayani geriatri sudah ada 16 rumah sakit yaitu: RSJ Dr. Rad-
jiman Wediodoningrat, Lawang, RSJ Dr. H. Marzoeki Mahdi, Bogor,
RSJ Provinsi Jawa Barat, Mataram, RSJ Nusa Tenggara Barat,
RSJ Aceh, RSJ Jambi, RSJKO Soeprapto, Bengkulu, RSJ Menur,
Surabaya, Jawa Timur, RSJ Lampung, RSJ Ambon, RSJ Dr.
Suparto Hardjo Husodo, Kendari, Sulawesi Tenggara, RSJ Prof. Dr.
Hb. Saanin, Padang, Sumatera Barat, RSJ Daerah Dr. Amino
Gondohutomo, RSJ Daerah Surakarta, Jawa Tengah, RSJ Daerah
Madani Propinsi Sulawesi Tengah, RSJ Sambang Lihum,
Kalimantan Selatan, Rumah Sakit Khusus Daerah Atma Husada
Ma-hakam, Kalimantan Timur, Rumah Sakit Khusus Daerah Prof.
Dr. V.L Ratumbuysang.
3) Peningkatan penyuluhan dan penyebarluasan informasi kesehatan
dan gizi bagi usia lanjut.

41
Program kesehatan lansia adalah upaya kesehatan berupa
promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif untuk meningkatkan
status kesehatan lansia. Kegiatan program kesehatan lansia terdiri
dari:
a) Kegiatan promotif penyuluhan tentang Perilaku Hidup
Sehat dan Gizi Lansia;
b) Deteksi Dini dan Pemantauan Kesehatan Lansia;
c) Pengobatan Ringan bagi Lansia;
d) Kegiatan Rehabilitatif berupa Upaya Medis, Psikososial dan
Edukatif.

42
BAB III
DESKRIPSI UNIT ORGANISASI

A. PROFIL ORGANISASI
4) Dasar Hukum pembentukan organisasi
Berdasarkan Undang – Undang Dasar 1945 Pasal 28 B,
bahwa setiap orang berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan
berkembang serta perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.
Pembangunan kesehatan adalah integral dari pembangunan
nasional. Untuk tercapainya keberhasilan pembangunan nasional
tersebut diperlukan kebijakan pembangunan kesehatan yang lebih
dinamis dan proaktif dengan melibatkan semua sektor terkait,
pemerintah, swasta, dan masyarakat. Berdasarkan Peraturan
Menteri Kesehatan No. 75 tahun 2014 bahwa Pusat Kesehatan
Masyarakat sebagai salah satu fasilitas pelayanan kesehatan
tingkat pertama yang memiliki peranan penting dalam sistem
kesehatan nasional, khususnya sub sistem upaya kesehatan.
Pelayanan kesehatan adalah suatu tempat yang digunakan untuk
menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan baik promotif,
preventif, kuratif maupun rehabilitatif, yang dilakukan oleh
pemerintah, pemerintah daerah dan/atau masyarakat.
Prinsip penyelenggaraan Puskesmas yaitu Paradigma
Sehat; Pertanggungjawaban Wilayah; Kemandirian masyarakat;
Pemerataan; Teknologi tepat guna; dan Keterpaduan dan
kesinambungan
Dasar Hukum Pusat Kesehatan Masyarakat, yaitu:
a. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 29 Tahun 2004
tentang Praktik Kedokteran;
b. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009
tentang Kesehatan;

43
c. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2014
tentang Tenaga Kesehatan;
d. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 269
Tahun 2008 tentang Rekam Medis
e. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 75
Tahun 2014 tentang Pusat Kesehatan Masyarakat;
f. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 46
Tahun 2015 tentang Akreditasi Puskesmas, Kinik Pratama
Tempat Praktek Mandiri Dokter dan Tempat Praktek mandiri
Dokter Gigi;
g. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44
Tahun 2016 tentang pedoman Manajemen Puskesmas.

Puskemas Geyer 1 beralamat di Jalan Raya Purwodadi –


Solo KM.15 Desa Ledokdawan Kecamatan. Geyer Kabupaten
Grobogan. Puskesmas Geyer 1 terletak di pusat kota kecamatan.
Letaknya yang relatif strategis, berdekatan dengan jalan raya dan
instansi / kantor lain seperti kantor urusan Agama, BKK, Kantor
Kecamatan, Pasar induk Kecamatan Geyer yang memungkinkan
kemudahan masyarakat untuk datang mendapatkan pelayanan
kesehatan.
Puskesmas Geyer 1 merupakan puskesmas rawat inap yang
menyediakan pelayanan rawat inap, persalinan, pelayanan IGD 24
jam, BP Umum, BP Gigi, KIA, laboratoriun, konseling gizi,
kesehatan lingkungan dan kegiatan promotive lainnya.
Puskesmas Geyer 1 masih membawahi 2 Puskesmas
pembantu, 6 Pos pelayanan Kesehatan Desa ( PKD ), 9 Desa
siaga dengan jenis pelayanan berupa promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif.

44
5) Visi, Misi, Serta Nilai Organisasi
a. Visi
Terwujudnya Masyarakat Geyer Sehat
b. Misi
1) Meningkatkan Profesionalisme Pegawai
2) Meningkatkan Pelayanan Yang Berkualitas Dan
Berkesinambungan.
3) Membangun Komunikasi Efektif Dengan Masyarakat
c. Motto
Senyum Sapa Dan Ramah, Layani Dengan Sepenuh Hati
d. Tata Nilai
“PRINSIP”
( Profesional, Inovatif, Simpatik )
e. Tujuan
Meningkatkan pelayanan kesehatan dengan memprioritaskan
kegiatan promotif preventif, baik di dalam maupun luar gedung
menuju masyarakat Geyer sehat dengan di dukung SDM yang
professional.

45
6) Struktur Organisasi dan Job Deskripsi
a. Struktur Organisasi
BAGAN STRUKTUR ORGANISASI PUSKESMAS GEYER 1
KABUPATEN GROBOGAN

Kepala Puskesmas

Kasubbag Tata Usaha

Sistem Kepegawaian Rumah Tangga Keuangan


Informasi
Puskesmas
Muji Yatun, Jaringan Pelayanan
UKM Essensial dan Keperawatan UKM Pengembangan UKP, Kefarmasian, dam
A.MKL
Kesmas Laboratorium Puskes dan Layanan
Anas Darmastuti, S.ST.Keb
Kesehatan Lingkungn Promkes dan UKS Kesehatan Kesehatan Pemeriksaan Gizi Pusban
Jiwa Indera Umum
Ida Manisih,
Gizi KIA-KB Kesehatan Gizi Kesehatan
Puspitaningsih, Kesehatan Persalinan Pusling
S.Kep
Amd Keb
Lansia Gigi dan Mulut
Masyarakat
Toat Sujai, Manisih, dr. Rohmat
Keperawatan P2P PKPR
S.Kep anto Kefarmasian Bidan Desa
BATRA
AMKG Priy
KIA-KB
Kesmas
Setyoningsih
Keterangan : Laboratoriu Jejaring
Gawat
Penulis menempati posisi di bawah PJ UKP di dalam struktur organisasi. Darurat m Fasyankes
Untung
Jasma, AMK Rekam
Dwiyanto,S.S.IT
Medis
46 Rima Anisa
KN, Amd.PK
b. Job Deskripsi
Struktur organisasi Puskesmas Geyer 1 berdasarkan
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 75 tahun 2014 tentang
puskesmas dengan pengembangan, terdiri dari :
5) Kepala Puskesmas
Memimpin Puskesmas dalam menjalankan Fungsi Puskesmas
sesuai dengan azas penyelenggaraan Puskesmas dan
melaksanakan sebagai tenaga teknis Dinas.
6) Unit Tata Usaha
Bertanggung jawab membantu Kepala Puskesmas dalam
pengelolaan :
Data dan informasi, perencanaan dan penilaian, keuangan,
umum dan kepegawaian
3) Unit Pelaksana Teknis Fungsional
Merencanakan operasionalisasi, memberi tugas, memberi
petunjuk, meyelia, mengatur, mengevaluasi dan melaporkan
penyelenggaraan tugas di unit pelaksana teknis fungsional.
Terdiri dari :
a. Upaya kesehatan masyarakat
Terdiri dari :
a) UKM essensial
1) Promosi kesehatan dan UKS
2) Kesehatan Lingkungan dan Kesehatan
Jasmani dan olahraga
3) Gizi UKM
4) Kesehatan Ibu Anak & Keluarga Berencana
5) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit
6) Perawatan Kesehatan Masyarakat
b) UKM pengembangan
1) Kesehatan Jiwa

47
b. Upaya kesehatan Perorangan
Terdiri dari
a) Gawat Darurat
b) Pemeriksaan Umum
c) Kesehatan Gigi dan Mulut
d) Kesehatan Ibu dan KB UKP
e) Kesehatan Anak
f) Imunisasi
g) Konseling
h) Kefarmasian
i) Laboratorium
j) Rawat Inap
k) Persalinan
4). Jaringan Pelayanan Puskesmas
a. Unit Puskesmas Pembantu
b. Unit Pos Kesehatan Desa (PKD)

7) Deskripsi SDM, Sarana prasarana dan Sumber daya yang lain


a. Deskripsi SDM
Dalam menjalankan tugas sehari-hari, UPTD Puskesmas Geyer
1 dilaksanakan oleh pegawai sejumlah 85 orang yang secara rinci
sebagai berikut :
- Kepala UPTD /Dokter : 1 orang
- Ka.Sub. bag. TU : 1 orang.
- Dokter Umum : 3 orang.
- Dokter Gigi : 1 orang
- Bidan : 25 orang.
- Perawat Kesehatan : 25 orang.
- Perawat Gigi : 1 orang.
- Petugas Gizi : 2 orang.
- Petugas Laboratorium : 1 orang.

48
- Staf : 6 orang.
- Farmasi : 4 orang
- HS : 1 orang
- Rekam Medik : 1 orang.
- Petugas Bersih-bersih : 7 orang.
- Penjaga Malam : 2 orang.
- Pengemudi : 1 orang
- Petugas masak : 3 orang
Jumlah : 85 orang

b. Sarana Prasarana
1) Ruang Pelayanan
a) Ruangan Pemeriksaan Umum/BP Umum
b) Ruangan Pendaftaran dan rekam medik
c) Ruangan Tunggu
d) Ruangan Gudang Umum
e) KM/WC Pasien (Laki dan Wanita Terpisah)
f) Ruangan Kes Gigi & Mulut
g) Ruangan Konsultasi Gizi Puskesmas
h) Ruangan Gawat Darurat(RI)
i) Ruang Tindakan(NRI)
j) Ruangan Rawat Inap
k) Ruangan Kesehatan Ibu dan KB
l) KM/WC Untuk Rawat Inap
m) Ruangan Penyelenggaraan Makanan
n) Ruangan Apotek
o) Gudang Obat
p) Laboratorium
q) KM/WC Petugas
r) Ruangan Jaga Perawat/Nurse Station
s) Tempat/Area Penyimpanan Vaksin

49
t) Ruangan Persalinan dan Resusitasi Bayi
u) Ruangan Rawat Pasca Persalinan
v) Ruangan Farmasi/Kamar Obat
w) Ruangan Kesehatan Anak & Imunisasi
x) Ruangan Istirahat Petugas
y) KM/WC Untuk Persalinan
z) Ruangan ASI / LaktasiAda
æ) Ruangan Promosi Kesehatan
ø) Ruangan Sterilisasi
å) Ruangan Rawat Inap Anak
aa) Ruangan Rawat Inap Pria
2) Ruang Kantor
a) Ruang Kepala Puskesmas
b) Ruangan Administrasi Kantor/Tata Usaha
c) Ruang Rapat/Diskusi
3) Ruang pendukung
a) Rumah Dinas Tenaga Kesehatan
b) Parkir Kendaraan Roda 2
c) Parkir Ambulance
d) Parkir Kendaraan Roda 4
e) Rumah Dinas Tenaga Kesehatan II
f) Parkir Pusling Darat

B. Tugas Jabatan Peserta Diklat


Dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara
Nomor: 139/KEP/M.PAN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Dokter
dan Angka Kreditnya diterangkan bahwa dokter adalah Pegawai
Negeri Sipil yang diberi tugas, tanggung jawab dan hak secara penuh
oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat pada sarana pelayanan kesehatan.
Tugas pokok dokter adalah memberikan pelayanan kesehatan pada

50
sarana pelayanan kesehatan yang meliputi promotif, preventif, kuratif
dan rehabilitatif untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat,
serta membina peran serta masyarakat dalam rangka kemandirian di
bidang kesehatan kepada masyarakat.
Rincian kegiatan penulis sebagai calon Dokter Pertama yang
tercantum dalam Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur
Negara Nomor: 139/KEP/M.PAN/11/2003 yaitu:
1. Melakukan pelayanan medik umum rawat jalan tingkat pertama;
2. Melakukan pelayanan spesialistik rawat jalan tingkat pertama;
3. Melakukan tindakan khusus tingkat sederhana oleh dokter umum;
4. Melakukan tindakan khusus tingkat sedang oleh dokter umum;
5. Melakukan tindakan spesialistik tingkat sederhana;
6. Melakukan tindakan spesialistik tingkat sedang;
7. Melakukan tindakan darurat medik/pertolongan pertama pada
kecelakaan (P3K) tingkat sederhana;
8. Melakukan kunjungan (visite) pada pasien rawat inap;
9. Melakukan pemulihan mental tingkat sederhana;
10. Melakukan pemulihan mental kompleks tingkat I;
11. Melakukan pemulihan fisik tingkat sederhana;
12. Melakukan pemulihan fisik kompleks tingkat I;
13. Melakukan pemeliharaan kesehatan Ibu;
14. Melakukan pemeliharaan kesehatan bayi dan balita;
15. Melakukan pemeliharaan kesehatan anak;
16. Melakukan pelayanan keluarga berencana;
17. Melakukan pelayanan imunisasi;
18. Melakukan pelayanan gizi;
19. Mengumpulkan data dalam rangka pengamatan epidemiologi
penyakit;
20. Melakukan penyuluhan medik;
21. Membuat catatan medik rawat jalan;
22. Membuat catatan medik rawat inap;

51
23. Melayani atau menerima konsultasi dari luar atau keluar;
24. Melayani atau menerima konsultasi dari dalam;
25. Menguji kesehatan individu;
26. Menjadi Tim Penguji Kesehatan;
27. Melakukan visum et repertum tingkat sederhana;
28. Melakukan visum et repertum kompleks tingkat 1;
29. Menjadi saksi ahli;
30. Mengawasi penggalian mayat untuk pemeriksaan;
31. Melakukan otopsi dengan pemeriksaam laboratorium;
32. Melakukan tugas jaga panggilan/ on calls;
33. Melakukan tugas jaga di tempat / rumah sakit;
34. Melakukan tugas jaga di tempat sepi pasien;
35. Melakukan kaderisasi masyarakat dalam bidang kesehatan tingkat
sederhana.

52
C. ROLE MODEL

Gambar 3.1 Role Model

Role Model adalah panutan, yang dalam Kamus Besar


Bahasa Indonesia sama artinya dengan teladan yaitu suatu yang
patut ditiru atau baik untuk dicontoh seperti teladan, kelakuan,
perbuatan, sifat dan sebagainya.
Dalam hal ini role model bagi penulis adalah Kepala UPTD
Puskesmas Geyer 1 yaitu dr. Yatino. Lahir pada tanggal 7 Agustus
1969, beliau menempuh pendidikan Dokternya di Fakultas Kedokteran
Universitas Sebelas Maret Surakarta. Beliau adalah pemimpin yang
dapat menjadi panutan, inspirasi, contoh dan teladan bagi penulis.
Selama penulis bekerja di berbagai tempat dan instansi,
beliau adalah sosok yang paling bisa menempatkan diri dimana,
kapan dan bagaimana situasi yang ada. Dr. Yatino selalu memberikan
solusi yang terbaik dan objektif terhadap masalah kepentingan
Puskesmas atau masyarakat. Beliau tidak pernah bersikap
diskriminatif, bukan melihat siapa yang menyampaikan
pendapat/saran, tetapi melihat apa yang disampaikan saat menerima
masukan. Setiap harinya beliau selalu memberikan kata-kata
penyemangat dan motivasi kepada para karyawan agar selalu
melaksanakan semua tugas dengan baik dan menerapkan nilai-nilai
ANEKA. Terutama saat pembuatan rancangan aktualisasi ini, beliau

53
sangat beperan andil dalam rancangan dan kegiatan yang akan kami
lakukan berprinsip bukan hanya formalitas menyelesaikan tugas
melainkan sebagaimana mungkin apa yang kami kerjakan dapat
bermanfaat untuk masyarakat serta meningkatkan mutu pelayanan
Puskesmas Geyer 1 .Meskipun jadwal beliau sebagai Kepala
Puskesmas sangat padat, namun beliau selalu memperhatikan
penampilan yaitu selalu tampil rapi. Sebagai Penyedia layanan publik
hal tersebut harus dicontoh, agar masyarakat merasa senang dilayani
oleh Pegawai yang Profesional, berpakaian rapi dan menarik.

54
BAB IV
RANCANGAN KEGIATAN AKTUALISASI

A. Daftar Rancangan Kegiatan Aktualisasi dan Keterkaitan dengan


Nilai ANEKA
Unit Kerja : UPTD Puskesmas Geyer 1
Identifikasi isu : 1. Belum optimalnya pelayanan kesehatan lansia di
wilayah kerja UPTD Puskesmas Geyer 1
2. Belum optimalnya pelayanan kesehatan terhadap
pasien Hipertensi
3. Meningkatnya jumlah kebiasaan merokok di
lingkungan Puskesmas Geyer 1
4. Belum optimalnya pelayanan kegiatan prolanis di
UPTD Puskesmas Geyer 1
5. Rendahnya jumlah ibu yang menyusui anaknya
secara eksklusif di wilayah kerja Puskesmas Geyer
1
Isu yang diambil : Belum optimalnya pelayanan kesehatan lansia di
wilayah kerja UPTD Puskesmas Geyer 1

Gagasan : 1. Melakukan Gerakan Lansia Persingkat Waktu


Pemecahan isu Tunggu ( Gelas perunggu)
2. Melakukan kegiatan posyandu lansia
3. Melakukan Pemeriksaan secara komprehensif
sesuai buku pemantauan kesehatan Lansia
4. Melakukan Gerakan Lansia beri Layanan Gizi
(Gelas Bezi)
5. Melakukan penyuluhan tentang Penyakit Geriatri
6. Melakukan Gerakan Lansia Tinjau kerumah
(Gelas Timah)

55
Tabel 4.1. Kegiatan dengan Keterkaitan ANEKA

Kontribusi
Keterkaitan
Terhadap Visi Penguatan Nilai-Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
Dan Misi Organisasi
Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
1. Melakukan 1. Melakukan 1. Petugas pendaftaran, dan 1. Nasionalisme Kegiatan ini Kegiatan melakukan
Gerakan koordinasi dengan petugas pelayanan ( musyawarah mendukung visi : gerakan lansia
Lansia bagian petugas mengetahui gerakan lansia mufakat) Terwujudnya persingkat waktu tunggu
Persingkat pendaftaran, dan persingkat wktu tunggu 2. Etika public Masyarakat meningkatkan nilai-nilai
Waktu pelayanan tentang 2. Pengunjung yang lain (kebersamaan) Geyer Sehat organisasi yaitu
Tunggu adanya Gerakan mengetahui bahwa lansia 3. Akuntabilitas Serta sesuai profesionalisme,
( Gelas lansia persingkat merupakan prioritas untuk (Transparant ) dengan misi : inovatif, dan simpatik
perunggu) waktu tunggu. didahulukan. 4. Anti korupsi Meningkatkan
2. Petugas pendaftaran 3. Lansia terlayani dengan (Jujur) Profesionalisme
( PERINTAH memberikan baik di pendaftaran dan poli 5. Etika Publik Pegawai,
ATASAN ) informasi didepan umum ( jujur, tanggap Meningkatkan
pengunjung atau cepat, tepat, Pelayanan Yang
pasien tentang cara akurat, berdaya Berkualitas Dan
mengambil nomor guna , berhasil Berkesinambung

56
Kontribusi
Keterkaitan
Terhadap Visi Penguatan Nilai-Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
Dan Misi Organisasi
Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
antrian khusus. guna dan an, Membangun
3. Petugas pendaftaran santun) Komunikasi
mendahulukan lansia Efektif Dengan
untuk mendaftar Masyarakat
4. Petugas poli umum
mendahulukan
pasien lansia untuk
dilakukan
pemeriksaan setelah
Rekam medis sudah
ada di ruang periksa.
2. Melakukan 1. Berdiskusi dengan 1. Mendapatkan jadwal untuk 1. Nasionalisme Kegiatan Kegiatan posyandu
kegiatan pemegang program posyandu lansia (menghargai posyandu lansia lansia sesuai dengan
posyandu untuk jadwal 2. Persetujuan jadwal dari pendapat, mendukung visi : nilai-nilai organisasi
lansia kegiatan posyandu pimpinan untuk posyandu Pancasila Sila Terwujudnya yaitu profesionalisme
( SKP ) lansia lansia Keempat ) Masyarakat dan simpatik

57
Kontribusi
Keterkaitan
Terhadap Visi Penguatan Nilai-Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
Dan Misi Organisasi
Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
2. Meminta persetujuan 3. Undangan telah siap 2. Etika Publik Geyer Sehat
Dari kepala 4. Desa mengetahui kegiatan (sopan dan Serta sesuai
puskesmas posyandu lansia santun) dengan misi :
3. Menyusun undangan 5. Terlaksananya kegiatan 3. Komitmen mutu Meningkatkan
posyandu lansia posyandu lansia (efektif, efisien, Profesionalisme
4. Memberikan berorientasi pada Pegawai,
undangan kepada mutu) Meningkatkan
desa melalui bidan 4. Akuntabilitas Pelayanan Yang
desa tentang jadwal (Percaya, Berkualitas Dan
posyandu lansia tanggung jawab,) Berkesinambung
5. Melaksanakan 5. Anti korupsi : an, Membangun
sesuai jadwal yang tanggung jawab, Komunikasi
telah dibuat disiplin Efektif Dengan
Masyarakat
3. Melakukan 1. Melakukan 1. Tergalinya data dan keluhan 1. Etika Public Kegiatan ini Kegiatan melakukan
Pemeriksaan anamnesis 2. Mengetahui adanya (sopan, mendukung visi : pemeriksaan secara

58
Kontribusi
Keterkaitan
Terhadap Visi Penguatan Nilai-Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
Dan Misi Organisasi
Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
secara 2. Melakukan kelainan/ tidak membuat Terwujudnya komprehensif sesuai
komprehensif pemeriksaan fisik 3. Mengetahui penyakit yang keputusan Masyarakat nilia-nilai organisasi
sesuai 3. Melakukan derita berdasarkan Geyer Sehat profesionalisme dan
panduan pemeriksaan darah 4. Mengetahui hasil prinsip Serta sesuai simpatik
program sesuai indikasi pemeriksaan darah (apabila keahlian) dengan misi :
lansia 4. Menetapkan dilakukan) 2. Anti korupsi Meningkatkan
( SKP) diagnosis 5. Mendapatkan terapi sesuai (peduli, simpati, Profesionalisme
5. Memberikan terapi dengan diagnose jujur) Pegawai,
6. Memberikan 6. Mendapatkan konseling 3. Komitmen Meningkatkan
konseling sesuai dengan diagnose mutu Pelayanan Yang
7. Menulis di buku 7. Dokumentasi keseluruhan (professional Berkualitas Dan
pemantaun lansia hasil pemeriksaan efisien dan Berkesinambung
efektif ) an, Membangun
4. Akuntabilitas Komunikasi
(tanggung Efektif Dengan
jawab, Masyarakat

59
Kontribusi
Keterkaitan
Terhadap Visi Penguatan Nilai-Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
Dan Misi Organisasi
Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
kejelasan dan
transparan)
5. nasionalisme :
(nilai
kemanusian
tidak
membeda-
bedakan)
4. Melakukan 1. Melakukan 1. Petugas gizi mengetahui 1. Etica public Kegiatan ini Kegiatan melakukan
Gerakan koordinasi dengan adanya gerakan lansia (sopan santun) mendukung visi : gerakan lansia beri
Lansia beri petugas gizi tentang beri layanan gizi 2. Akunta bilitas Terwujudnya layanan gizi
layanan Gizi adanya gerakan 2. Lansia mengetahui dan (transparan dan Masyarakat menguatkan nilai
(gelas besi) lansia beri layanan memahami tentang status jelas) Geyer Sehat organisasi yaitu
gizi gizi dan gizi yang 3. Anti korupsi Serta sesuai profesionalisme, inovatif
( INOVASI) 2. Bekerja sama diperlukan makanan yang (jujur) dengan misi : dan simpatik
dengan petugas gizi diperbolehkan dan tidak 4. Komitmen Meningkatkan

60
Kontribusi
Keterkaitan
Terhadap Visi Penguatan Nilai-Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
Dan Misi Organisasi
Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
memberikan edukasi diperbolehkan mutu Profesionalisme
tentang gizi dan 3. Tercatatatnya di buku (konsisten) Pegawai,
pemantaun gizi pemantauan lansia Meningkatkan
lansia di posyandu Pelayanan Yang
lansia Berkualitas Dan
3. Mencatat di buku Berkesinambung
pemantauan an, Membangun
kesehatan lansia Komunikasi
Efektif Dengan
Masyarakat
5. Melakukan 1. Mempersiapkan 1. Tersusunnya materi 1. Akuntablititas Kegiatan ini Melakukan penyuluhan
Penyuluhan materi untuk penyuluhan dengan media (tanggung jawab) mendukung visi : tentang penyakit
tentang penyuluhan dan power point dan leaflet 2. Anti korupsi Terwujudnya geriatric sesuai dengan
penyakit leaflet 2. Rekomendasi kapus akan (tanggung jawab Masyarakat nilai-nilai organisasi
geriatri 2. Meminta melakukan penyuluhan dan mandiri) Geyer Sehat yaitu profesionalisme
persetujuan kapus dengan materi tersebut Serta sesuai

61
Kontribusi
Keterkaitan
Terhadap Visi Penguatan Nilai-Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
Dan Misi Organisasi
Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
( SKP ) untuk materi 3. Terlaksananya penyuluhan 3. Nasionalisme dengan misi :
penyuluhan tentang penyakit pada lansia (sila ke 4) Meningkatkan
3. Melaksanakan 4. Etika public Profesionalisme
penyuluhan tentang (menghargai, Pegawai,
penyakit pada kerjasama) Meningkatkan
lansia 5. Komitmen mutu Pelayanan Yang
(professional ) Berkualitas Dan
Berkesinambung
an, Membangun
Komunikasi
Efektif Dengan
Masyarakat
6. Melakukan 1. Petugas mendatangi 1. Petugas menguungi rumah 1. Nasionalisme Kegiatan ini Kegiatan melakukan
Gerakan rumah lansia yang lansia (sila ke 5) mendukung visi : gerakan lansia tinjau ke
Lansia Tinjau jarang datang ke 2. Lansia mendapatkan 2. Anti korupsi Terwujudnya rumah menguatkan
ke Rumah posyandu pemeriksaan secara (Peduli) Masyarakat nilai-nilai organisasi

62
Kontribusi
Keterkaitan
Terhadap Visi Penguatan Nilai-Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Substansi Mata
Dan Misi Organisasi
Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
Gelas Timah 2. Melakukan komprehensif 3. Komitmen mutu Geyer Sehat yaitu profesionalisme,
( INOVASI ) Pemeriksaan 3. Memperoleh pengetahuan (professional) Serta sesuai inovatif dan simpatik
komprehensif tentang gizi 4. Etika public dengan misi :
3. Melakukan Konseling 4. Mendapatkan edukasi jujur dan santun Meningkatkan
gizi tentang penyakit 5. Akuntabilitas Profesionalisme
4. Melakukan Edukasi degenerative (transparan) Pegawai,
5. Mencatat dibuku 5. Terdokumentasinya semua di Meningkatkan
pemantauan lansia buku lansia Pelayanan Yang
Berkualitas Dan
Berkesinambung
an, Membangun
Komunikasi
Efektif Dengan
Masyarakat

63
B. Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi
Kegiatan aktualisasi akan dilaksanakan di wilayah kerja Puskesmas Geyer I. Kegiatan-kegiatan aktualisasi akan di jabarkan
dalam timeline kegiatan pada tabel 4.2.
Tabel 4.2 Jadwal Pelaksanaan Aktualisasi

Jadwal Habituasi
AGUSTUS 2019 SEPTEMBER 2019 Portofolio/ Bukti
No Kegiatan Kegiatan
7 8 9 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 2 2 2 2 2 2 2 2 2 2 3 3 1 2 3 4 5 6 7 8 9 1 1 1 1
0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 1 0 1 2 3
1. Melakukan Lembar

Penyuluhan konsultasi

Pengendalian dengan Kepala


Puskesmas,
Tuberkulosis
Lembar
kepada
rencana
pengunjung
(PEPES KEJU) kegiatan, foto

Puskesmas dan video


kegiatan,
Purwodadi I
(sumber: SKP)
2. Melaksanakan Lembar catatan
medis pasien,
Pemeriksaan
foto kegiatan

64
secara
Komprehensif
sebagai Deteksi
Dini dan Tindak
Lanjut Melakukan
(PERPRES DEDI
TIKA)
(Sumber: SKP)
3. Membuat Lembar
banner konsultasi
mengenai dengan Kepala
tuberculosis Puskesmas,
untuk dipasang banner, foto
di Puskesmas
kegiatan.
Purwodadi I
(BATU)
(Sumber:
Inovasi)
4. Membuat leaflet Lembar
yang akan konsultasi
dibagikan dengan Kepala
kepada Puskesmas,
pengunjung di

65
ruang tunggu foto kegiatan,
Puskesmas leaflet
Purwodadi I
(LELE TUKU)
(sumber:
Inovasi)
5. Membuat Lembar
promosi konsultasi
kesehatan dengan Kepala
melalui media Puskesmas,
online tentang foto kegiatan,
tuberculosis materi promosi
melalui media kesehatan
online
Puskesmas
Purwodadi I (SI
KETUS)
(Sumber :
Inovasi)
6. Melakukan Lembar
Kunjungan ke
rumah pasien konsultasi
tuberkulosis dengan Kepala
(KUPAS)
(Sumber: Puskesmas,
Inovasi) foto & video
kegiatan

66
Keterangan :
Indikator warna keterangan
Melakukan kegiatan
Libur

B. Antisipasi dan Strategi Menghadapi Kendala


Kegiatan aktualisasi nilai-nilai dasar ASN akan dilaksanakan pada tanggal
18 Juli 2019 sampai dengan 24 Agustus 2019 pada institusi tempat kerja.
Dalam pelaksanaannya dimungkinkan terjadinya kendala-kendala yang berisiko
menghambat kegiatan yang telah direncanakan menjadi kurang optimal. Oleh
karena itu diperlukan antisipasi untuk menghadapi kendala-kendala tersebut,
sehingga dampak yang menghambat kegiatan tersebut dapat diminimalisir.
Antisipasi dalam menghadapi kendala-kendala selama aktualisasi dapat
dijelaskan lebih lanjut pada tabel dibawah ini:

Tabel 4.3 Antisipasi menghadapi kendala-kendala aktualisasi


Strategi Menghadapi
No. Kegiatan Kendala
Kendala
1. Melakukan kegiatan Kurangnya Berkoordinasi dengan
posyandu lansia partisipasi lansia bidan desa, kader dan
untuk mengikuti kepala desa
kegiatan posyandu
lansia

2. Gerakan Lansia Pasien yang lain Informasi alur pendaftran


Persingkat Waktu tidak mau mengalah dan pelayanan oleh
Tunggu ( Gelas dan tidak paham petugas pendaftaran
perunggu)

67
Strategi Menghadapi
No. Kegiatan Kendala
Kendala
3. Melakukan Kurang Mengedukasi lansia
Pemeriksaan secara kooperatifnya lansia sebelum dilakukan
komprehensif sesuai ketika dilakukan pemeriksaan
panduan program pemeriksaan
lansia
4. Gerakan Lansia beri Lansia kurang Menggunakan bahasa
layanan Gizi (gelas paham yang mudah dipahami
besi) penjelasanan
tentang gizi
5. Gerakan Lansia Lansia tidak Berkoordinasi dengan
Tinjau ke Rumah dirumah kader dan bidan desa
Gelas Timah untuk memberitahu
terlebih dahulu
6. Penyuluhan tentang Lansia tidak paham Menggunakan bahasa
penyakit geriatri tentang materi yang yang mudah dipahami
disampaikan

Sedangkan dampak yang mungkin terjadi jika kegiatan dilakukan tanpa


menggunakan nilai-nilai ANEKA antara lain sebagai berikut:

Tabel 4.4. Dampak jika Kegiatan Dilaksanakan Tanpa Menggunakan Nilai-Nilai


ANEKA
No. Kegiatan Dampak
1. Melakukan kegiatan posyandu Tidak terlaksananya kegiatan
lansia posyandu lansia
2. Melakukan Gerakan Lansia Waktu tunggu pasien lansia
Persingkat Waktu Tunggu ( Gelas sama seperti pasien yang
perunggu) lainnya
3. Melakukan Pemeriksaan secara Lansia tidak mendapatkan
komprehensif sesuai panduan pemeriksaan yang tidak
program lansia berkesinambungan

68
No. Kegiatan Dampak
4. Melakukan Gerakan Lansia beri Lansia tidak mendapat
layanan Gizi (gelas besi) pengetahuan tentang gizi
5. Melakukan Gerakan Lansia Tinjau Lansia tidak mendapatkan
ke Rumah (Gelas Timah) pemeriksaan setara
6. Melakukan Penyuluhan tentang Pasien tidak memahami dengan
penyakit geriatri baik materi penyuluhan

69
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Rancangan aktualisasi melalui habituasi di unit kerja merupakan
rancangan kegiatan utuk menyelesaikan isu dengan identifikasi isu yang telah
dirumuskan melaui analisa APKL dan analisa USG. Identifikasi isu yang ada
dapat berasal dari individu, unit kerja maupun dari organisasi, dari sana
beberapa isu telah dapat diidentifikasi. Dari beberapa isu tersebut kemudian
dilakukan identifikasi dengan metode USG. Isu yang diangkat yaitu Belum
optimalnya pelayanan kesehatan lansia di wilayah kerja Puskesmas
Geyer 1. Dari isu tersebut muncul gagasan pemecahan isu yang tertuang
dalam 5 kegiatan. Adapun kegiatan tersebut sebagai berikut:
1) Melakukan kegiatan posyandu lansia
2) Melakukan Gerakan Lansia Persingkat Waktu Tunggu ( Gelas
perunggu)
3) Melakukan Pemeriksaan secara komprehensif sesuai buku pemantauan
kesehatan Lansia
4) Melakukan Gerakan Lansia beri Layanan Gizi (Gelas Bezi)
5) Melakukan Gerakan Lansia Tinjau kerumah (Gelas Timah)
6) Melakukan penyuluhan tentang Penyakit Geriatri

B. Saran
Pelayanan kesehatan terhadap lansia harus di optimalkan supaya
angka kunjungan lansia di Posyandu Lansia dapat tercapai dengan baik
sehingga lansia dapat menikmati masa tua dengan bahagia, berguna dan
sejahtera sesuai dengan amanat pemerintah. Bagi organisasi dengan
pelayanan kesehatan yang optimal berarti melaksanakan visi dan misi
dengan berkesinambungan dan mendukung program pemerintah. Demikian
Rancangan Aktualisasi ini kami buat, besar harapan kami dapat bermanfaat
untuk orang banyak. Karena keterbatasan pengetahuan dan referensi, penulis
menyadari laporan ini jauh dari kata sempurna, oleh karena itu saran dan
kritik membangun sangat diharapkan agar laporan ini dapat di susun dan
dikembangkan menjadi lebih baik lagi dimasa yang akan datang.

70
DAFTAR PUSTAKA

Fatmah. 2010. Gizi Usia Lanjut. Erlangga : Jakarta.


Keputusan Menteri Pendayagunaan Apratur Negara Nomor:
139/KEP/M.PAN/11/2003 tentang Jabatan Fungsional Dokter dan Angka
Kreditnya.
Lembaga Administrasi Negara. 2014. Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar Profesi Pegawai
Negeri Sipil. Modul Penyelenggaraan Perdana Pendidikan dan Pelatihan
Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan III. Jakarta: Lembaga
Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2014.Akuntabilitas. Modul Penyelenggaraan
Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan
Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2014.Nasionalisme. Modul Penyelenggaraan
Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan
Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2014.Etika Publik. Modul Penyelenggaraan Perdana
Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan
III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2014.Komitmen Mutu.Modul Penyelenggaraan
Perdana Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan
Golongan III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Lembaga Administrasi Negara. 2014.Anti Korupsi. Modul Penyelenggaraan Perdana
Pendidikan dan Pelatihan Calon Pegawai Negeri Sipil Prajabatan Golongan
III. Jakarta: Lembaga Administrasi Negara.
Maramis, F. 2009. Catatan Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabya : Airlangga University.
Oenzil, F. 2012. Gizi Meningkatkan Kualitas Manula. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil
Negara

71
DAFTAR RIWAYAT HIDUP
a. Identitas Diri

1. NamaLengkap dr. Kharisma Setya Harnani

2. Formasi Dokter Umum


Jabatan
3. NIP 19911121 201902 2 005
4. Tempat dan Grobogan, 21 Nopember 1991
TanggalLahir
5. Alamat Rumah Jl. Wijaya Kusuma RT 7 RW 15
Purwodadi Grobogan

6. Nomor HP 081325503290
7. Alamat Kantor Jl. Raya Purwodadi – Solo Km
15 Geyer
8. Alamat e-mail kharismasetyaharnani@gmail.
com

b. Riwayat Pendidikan

Nama Sekolah Tahun Jurusan


Lulus
SD Negeri 4 Purwodadi 2004 -
SMP Negeri 1 Purwodadi 2007 -

SMA Negeri 1 Purwodadi 2010 IPA


Fakultas Kedokteran Universitas S1 Kedokteran
2014
Sebelas Maret Surakarta Umum
Fakultas Kedokteran Universitas
2016 Profesi Dokter
Sebelas Maret Surakarta

72