Anda di halaman 1dari 19

ASUHAN KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

OVERDOSIS

OLEH;

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN

INSTITUT TEKNOLOGI DAN KESEHATAN BALI

TAHUN 2019
BAB I

KONSEP TEORI
1. Pengertian

Overdosis merupakan keracunan pada penggunaan obat baik

yang tidak disengaja maupun disengaja dengan maksud bunuh diri.

Overdosis merupakan keadaan dimana seseorang mengalami

gejala terjadinya keracunan yang mengakibatkan ketidaksadaran akibat

obat yang melebihi dosis yang bisa diterima oleh tubuh.Overdosis obat

sering disangkutkan dengan erjadinya heroin digunakan bersama

alcohol. (Wikipedia, 14 april 2013 02:05 ).

Overdosis/intoksikasi adalah kondisi fisik dan perilaku

abnormal akibat penggunaan zat yg dosisnya melebihi batas toleransi

tubuh.

2. Etiologi

a. Keadaan ini sering terjadi dan faktor penyebabnya adalah :

1) Usia. Lansia sering lupa bahwa ia sudah minum obat, sehingga

sering terjadi kesalahan dosis karena lansia minum lagi

2) Merek dagang. Banyaknya merek dagang untuk obat yang sama,

sehingga pasien bingung, misalnya furosemid (antidiuretik)

dikenal sebagai lasix, uremia dan unex.

3) Penyakit. Penyakit yang menurunkan metabolisme obat dihati

atau sekresi obat melalui ginjal akan meracuni darah.


4) Gangguan emosi dan mental. Menyebabkan ketagihan

penggunaan obat untuk terapi penyakit (habituasi) misalnya

barbiturate, antidepresan dan tranquilizer.

5) Mengkonsumsi lebih dari satu jenis narkoba misalnya

mengkonsumsi putau hamper bersamaan dengan alcohol atau

obat tidur seperti valium, megadom/ BK, dll.

6) Mengkonsumsi obat lebih dari ambang batas kemampuannya,

misalnya jika seseorang memakai narkoba walaupun hanya

seminggu, tetapi apabilah dia memakai lagi dengan takaran

yang sama seperti biasanya kemungkinan besar terjadi OD.

7) Kualitas barang dikonsumsi berbeda.

b. Faktor ketidakpatuhan terhadap pengobatan :

1) Kurang pahamnya pasien tentang tujuan pengobatan itu

2) Tidak mengertinya pasien tentang pentingnya mengikuti aturan

pengobatan yang ditetapkan sehubungan dengan prognosisnya

3) Sukarnya memperoleh obat itu diluar rumah sakit

4) Mahalnya harga obat

5) Kurangnya perhatian dan kepedulian keluarga, yang mungkin

bertanggung jawab atas pembelian atau pemberian obat itu

kepada pasien

6) Efek samping dapat timbul akibat menaikan dosis obat yang

biasanya tidak bereaksi, mengganti cara pemberian obat, atau

memakai obat dengan merek dagang lain.


Keracunan obat dapat terjadi, baik pada penggunaan untuk

maksud terapi maupun pada penyalahgunaan obat.Keracunan pada

penggunaan obat untuk maksud terapi dapat terjadi karena dosis yang

berlebih (overdosis) baik yang tidak disengaja maupun disengaja dengan

maksud bunuh diri, karena efek samping obat yang tidak diharapkan dan

sebagai akibat interaksi beberapa obat yang digunakan secara bersama-

sama.Kematian akibat penggunaan obat jarang terjadi.Hal yang dapat

menimbulkan reaksi dan mungkin mengakibatkan kematian, terutama

pada penggunaan obat secara IV, penggunaan obat golongan depresan,

penisilin dan turunannya, golongan anti koagulan, obat jantung, k-klorida

golongan diuretik dan insulin.

3. Manefestasi klinis overdosis umum

a. Penurunan kesadaran

b. Frekuensi pernapasan kurang dari 12kali/menit

c. Pupil miosis

d. Adanya riwayat pemakaian obat-obat terlarang

e. suhu tubuh menurun.

f. kuku, bibir menjadi kebiru- biruan.

g. Adanya suara- suara mengorok atau mendengkur yang berasal dari

tenggorokkan yang menandakan bawha seorang itu mengalami

kesulitan dalam melakukan pernafasan yang benar.

4. Jenis-jenis
Beberapa jenis intoksikasi/overdosis yang sering ditemui pada

kasus penggunaan NAPZA diantaranya adalah sebagai berikut :

a. Intoksikasi opioida

b. Intoksikasi sedatif hipnotik (Benzodiazepin)

c. Intoksikasi Amfetamin

d. Intoksikasi Alkohol

e. Intoksikasi Kokain

Salah satu jenis overdosis yang akan dibahas lebih spesifik disini

adalah overdosis yang diakibatkan oleh amfetamin.

a. Over Dosis Amfetamin

Amfetamin adalah kelompok obat psikoaktif sintesis yang

disebut sistem saraf pusat (SSP) stimulant. Amfetamin merupakan

satu jenis narkoba yang dibuat secara sintesis dan kini terkenal

diwilayah asia tenggara. Amfetamin dapat berupa bubuk putih,

kuning, maupun coklat, atau bubuk putih Kristal kecil.

Secara klinis, efek amfetamin sangat mirip dengan kokain,

tetapi amfetamin memliki waktu paruh lebih panjang dibandingkan

dengan kokain (waktu paruh amfetamin 10-15 jam) dan durasi yang

memberikan efek euforianya 4-8kali lebih lama dibandingkan

kokain. Hal ini disebabkan oleh stimulator-stimulator tersebut

mmengaktivasi “ reserve power” yang ada didalam tubuh manusia


dan ketika efek yang ditimbulkan oleh amfetamin melemah, tubuh

memberikan “signal” bahwa tubuh membutuhkan senyawa itu lagi.

Cara yang paling umum dalam menggunakan amfetamin

adalah dihirup melalui tabung.Amfetamin dapat membuat seseorang

merasa energik, efek amfetamin termasuk rasa kesejahteraan dan

membuat seseorang merasa lebih percaya diri. Perasaan ini bias

bertahan sampai 12 jam, dan beberapa orang terus menggunakan

untuk menghindari turun dari obat.

Obat-obat yang termasuk kedalam amfetamin : Amfetamin,

Metamfetamin, Metilendioksimetamfetamin (ektasi).

1) Metilendioksimetamfetamin (ektasi).

Shabu-shabu / metilendioksimetamfetamin/ ekstasi atau

3,4-metilen-dioksimetamfetamin karena efek neurotoksisitas

dan potensial disalahgunakan, diinggris telah dimasukkan

dalam golongan A dari “misuse of drug Act” pada tahun 1971

dan diamerika serikat dilarang sejak tahun 1985. Dinggris, atau

kapsul ekstasi digunakan pada pesta dengan gerakan dansa yang

cepat dan lama, sehingga efek farmakologinya bercampur

dengan penggunaan tenaga yang berlebihan dan dehidrasi berat.

Gejala klinis :

Tanda dan gejala intoksikasi/overdosis amfetamin bia

sanya ditunjukkan dengan adanya dua atau lebih gejala-gejala


seperti : takikardi atau bradikardi,

dilatasi pupil, peningkatan atau penurunan tekanan darah,

banyak keringat atau kedinginan, mual atau muntah, penurunan

BB, agitasi atau retardasi psikomotor, kelelahan otot, depresi

sistem pernapasan, nyeri dada atau aritmia jantung,

kebingungan, kejang-kejang, diskinesia, distonia atau koma.

Pada penyalahgunaan yang ringan, gejala yang timbul,

antara lain agitasi, takikardi, hipertensi, dilatasi pupil yang

kelihatan jelas, trimus, dan berkeringat.Pada kasus yang berat

dapat terjadi hipertermia, koagulasi intravaskuler yang

menyebar, rhabdomiolisis, dan gagal ginjal akut.Kematian

mungkin terjadi dan jika sembuh dapat terjadi kerusakan hati

dengan mekanisme yang belum diketahui.


BAB II

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KEGAWAT DARURATAN

DENGAN KLIEN “ OVERDOSIS”

A. Pengkajian

1. Primary survey

Sebelum penyalahgunaan terjadi biasanya dalam bentuk

pendidikan, penyebaran informasi mengenai bahaya narkoba,

pendekatan melalui kekuarga, dan lain-lain. Instansi pemerintah seperti

halnya BKKBN, lebih banyak berperan pada tahap intervensi ini.

Kegiatan yang dilakukan seputar pemberian informasi melalui berbagai

bentuk materi KTE yang di tunjukkan kepada remaja langsung dan

keluarga.

B1 : Breath, kaji pernapasana klien. Apakah klien mengalami gangguan

dalam bernapas

B2 : Blood, kaji apakah terjadi perdarahan yang menyumbat jalan napas

dan cek tekanan darah pasien.

B3 : Brain, kaji apakah klien mengalami gangguan pada proses berfikir.

B4 : Bladder, kaji apakah ada terjadi kerusakan pada daerah ginjal yang

dikarenakan overdosis karna keasaman obat tersebut.

B5 : Bowel, kaji intake dan output pasien


a. Airway support

Pada klien dengan overdosis yang perlu diperhatikan adalah

ada tidaknya sumbatan pada jalan napas seperti lidah. Lidah

merupakan penyebab utama tertutupnya jalan napas pada klien tidak

sadar karena pada kondisi ini lidah klien akan terjatuh ke belakang

rongga mulut. Hal ini akan mengakibatkan tertutupnya trakea

sebagai jalan napas. Sebelum diberikan bantuan pernapasan, jalan

napas harus terbuka. Teknik yg dapat digunakan adalah cross finger

(silang jari). Jika terdapat sumbatan bersihkan dengan teknik finger

sweep (sapuan jari).

Gbr. 3.1 cross finger

Gbr. 3.2 finger sweep


Adapun Teknik untuk membuka jalan napas :

1) Head tilt / chin lift

Teknik ini dapat digunakan jika penderita tidak mengalami

cedera kepala, leher dan tulang belakang

Gbr. 3.3 headtilt/chinlift

2) Jaw trust

Gbr. 3.4 jaw trust

b. Breathing support

Setelah dipastikan bahwa jalan napas aman, maka langkah

selanjutnya adalah melakukan penilaian status pernapasan klien,


apakah masih bernapas atau tidak. Teknik yg digunakan adalah

LOOK, LISTEN and FEEL (LLF). LLF dilakukan tidak lebih dari

10 menit, jika klien masih bernapas, tindakan yg dilakukan adalah

pertahankan jalan napas agar tetap terbuka, jika klien tidak

bernapas, berikan 2 x bantuan pernapasan dgn volume yg cukup.

c. Circulation support

Circulation support adalah pemberian ventilasi buatan dan

kompresi dada luar yang diberikan pada klien yang mengalami henti

jantung. Selain itu untuk mempertahankan sirkulasi spontan dan

mempertahankan sistem jantung paru agar dapat berfungsi optimal

dilakukan bantuan hidup lanjut (advance life support).

d. Disability

Pemantauan status neurologis secara cepat meliputi tingkatan

kesadaran dan GCS, dan ukur reaksi pupil serta tanda-tanda vital.

e. Exposure

Lakukan pengkajian head to toe.

f. Folley kateter

Pemasangan kateter pada klien overdosis biasanya dilakukan

untuk melakukan perhitungan balance cairan.

g. Gastric tube
Salah satu Penatalaksanaan yang bisa dilakukan adalah

kumbah lambung yang bertujuan untuk membersihkan lambung

serta menghilangkan racun dari dalam lambung. Prosedur kumbah

lambung :

1) Jelaskan prosedur yang akan dilakukan

2) Membawa alat dekat pasien

3) Atur posisi pasien dalam sikap fowler bila sadar

4) Pasang sampiran

5) Pasang pengalas : satu dibawah dagu klien yg dipentingkan

dbagian punggung dan satu diletakkan pada sisi dimana ember

diletakkan

6) Letakkan ember diatas kain pel d bawah TT

7) Perawat cuci tangan dan masang sarung tangan

8) Ambil selang sende langsung dan keluarkan air dari dalam

selang

9) Selang diukur dari epigastrika mulut ditambah dari mulut

kebawah telinga ( 40-45 cm) kemudian diberikan tanda

10) Memasang selang yang telah diklem perlahan-lahan kedalam

lambung melalui mulut

11) Pastikan apakah selang lambung benar-benar telah masuk

kedalam lambung dengan cara memasukkan pangkalnya

kedalam air dan klem dibuka. Jika tidak ada gelembung udara

yang keluar maka selang sudah masuk kedalam lambung.


Sebaiknya jika ada udara yang keluar berarti sonde dimasukkan

keparu-paru

12) Atur posisi pasien, berbaring tanpa bantal dengan kepala lebih

rendah

13) Kosongkan isi lambung dengan cara merendahkan dan

mengarahkan sonde kedalam ember.

14) Jepit selang dan pasang corong pada pangkal selang lambut /

spuit besar (100 cc), tinggi corong/spuit + 30 cm diatas

lambung, kemudian menuangkan cairan perlahan-lahan + 500

cc kedalam corong yang sedikit dimiringkan sambil klem

dibuka.

15) Sebelum cairan terakhir dalam corong/spuit habis, cairan yang

masuk tadi keluarkan kembali dengan cara merendahkan corong

dan tuangkan kedalam ember (jangan terlalu rendah agar selaput

lender lambung tidak hisap masuk kedalam selang lambung

16) Lakukan berulang-ulang sampai cairan yang keluar kelihatan

jernih kemudian pangkal selang lambung.

17) Keluar kan selang lambung perlahan-lahan dengan cara menarik

sonde berlahan-lahan, kemudian selang + corong di masukkan

dalam kom.

18) Beri air untuk kumur kepada klien, kemudian mulut dan

sekitarnya dibersihkan dengan tissue

19) Angkat pengalas dan rapikan klien

20) Bersih kan alat-alat dan perawat cuci tangan


h. Heart monitor

Lakukan pemantauan peningkatan detak jantung,

peningkatan tekanan darah dan kerusakan sistem kardiovaskuler.

Setelah primary survey dan intervensi krisis selesai, perawat harus

mengkaji riwayat pasien :

A : Allergies ( jika pasien tidak dapat memberikan informasi

perawat bisa menanyakan keluarga atau teman dekat

tentang riwayat alergi pasien )

M : Medication ( overdosis obat : ekstasi )

P : Past medical history ( riwayat medis lalu seperti masalah

kardiovaskuler atau pernapasan

L : Last oral intake ( obat terakhir yang dikonsumsi : ekstasi)

E : Even ( kejadian overdosisnya obat, dekskripsi gejala, keluhan

utama, dan mekanisme overdosis)

2. Secondary survey

Pada saat penggunaan sesudah terjadi dan diperlukan upaya

penyembuhan (treatmen). Fase ini meliputi : fase penerimaan awal

(intialintek) antara 1-3 hari dengan melakukan pemeriksaan fisik dan

mental dan fase detoksifikasi dan terapi komplikasi medic, antara 1-3

minggu untuk melakukan pengurangan ketergantungan bahan-bahan

adiktif secara bertahap. Tindakan yang harus dilakukan adalah

melakukan tindakan keperawatan head to toe.


B. Diagnosa keperawatan

1. Bersihan jalan napas tidak efektif b.d intoksikasi

2. Pola napas tidak efektif b.d depresi susunan syaraf pusat

3. Gangguan perfusi jaringan perifer b.d penurunan konsentrasi

hemoglobin dalam darah

4. Kekurangan volume cairan b.d kehilangan cairan aktif (konsumsi

psikotropika yang berlebihan secara terus menerus)

5. Resiko distress pernapasan b.d asidosis metabolik

C. Intervensi keperawatan

Diagnosa 1

Tujuan : pasien menunjukkan bersihan jalan napas yang efektif

Kriteria : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 2x24 jam, pasien

menunjukkan kemudahan bernapas, pergerakan sumbatan keluar dari jalan

napas

Intervensi :

1. Kaji frekuensi, kedalaman dan upaya pernapasan

2. Pengisapan jalan napas : mengeluarkan sekret dari jalan napas dengan

memasukkan sebuah kateter pengisap ke dalam jalan napas oral dan/atau

trakea
3. Auskultasi bagian dada anterior dan posterior untuk mengetahui

penurunan atau ketiadaan ventilasi dan adanya suara napas tambahan

4. Ajarkan pasien dan keluarga tentang makna perubahan pada sputum,

seperti warna, karakter jumlah dan bau

5. Konsultasikan dengan tim medis dalam pemerian oksigen, jika perlu

Diagnosa 2

Tujuan : Pasien menunjukkan pola pernapasan efektif

Kriteria : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, pasien

menunjukkan status pernapasan : status ventilasi dan pernapasan yang tidak

terganggu, kedalaman inspirasi dan kemudahan bernapas

Intervensi :

1. Pantau kecepatan, irama, kedalaman dan upaya pernapasan

2. Pantau pola pernapasan

3. Auskultasi suara napas, perhatikan area penurunan/tidak adanya ventilasi

dan adanya suara napas tambahan

4. Informasikan kepada pasien dan keluarga tentang teknik relaksasi untuk

memperbaiki pola pernapasan

Diagnosa 3

Tujuan : keadekuatan aliran darah melalui pembuluh darah kecul ekstremitas

untuk mempertahankan fungsi jaringan.


Kriteria : Setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam suhu, hidrasi,

warna kulit, nadi perifer, tekanan darah, dan pengisisan kapiler baik dan

lancar dan dalam batas normal

Intervensi:

1. Kaji terhadap sirkulasi perifer pasien (nadi perifer, edema, warna, suhu

dan pengisisan ulang kapiler pada ekstremitas)

R/ memantau sirkulasi perifer

2. Manajemen sensasi perifer

R/ mencegah atau meminimalkan ketidaknyamanan pasien

3. Ajarkan pasien / keluarga tentang : menghindari suhu ekstrempada

ekstremitas

R/ jika ada tanda dan gejalanya dapat langsung dilaporkan ke ruang

perawat

4. Kolaborasi : berikan obat antitrombosit atau antikoagulan

R/ untuk mencegah pembekuan darah karena infusiensi arteri dan vena

Diagnosa 4

Tujuan : pengembalian volume cairan klien

Kriteria : setelah dilakukan tindakan keperawatan 1x24 jam hidrasi adekuat

dan status nutrisi adekuat maupun keseimbangan cairan pasien dalam batas

normal

Intervensi :

1. Pantau cairan elektrolit pasien (intake/output)


R/ mengumpulkan dan menganalisis data pasien untuk mengatur

keseimbangan elektrolit.

2. Manajemen cairan (timbang berat badan, ttv, intake/output)

R/ meningkatkan keseimbangan cairan dan mencegah komplikasi akibat

dari kadar elektrolit serum yang tidak diharapkan.

3. Anjurkan pasien untuk menginformasikan perawat bila haus

R/ agar dapat mencatat intake pasien

4. Kolaborasi : laporkan dan catat haluaran kurang/lebih dari batas normal

dan berikan terapi IV sesuai program.

Diagnosa 5

Tujuan :Pasien mempertahankan pernapasannya secara efektif .

Kriteria : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 1 x 24 jam, pasien

bebas dari sianosis dan tanda – tanda syok.

Intervensi :

1. Pantau frekuensi, irama, kedalaman pernapasan

R/ mendeteksi derajat trauma

2. Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya (semi/fowler)

R/ memudahkan ekspansi paru

3. Anjurkan pasien melakukan latihan napas dalam

R/ mencegah atau menurunkan atelektasis

4. Kolaborasi : pemberian oksigen (non rebirthing)

R : mempertahankan breathing pasien