Anda di halaman 1dari 15

PROPOSAL PENELITIAN

Tipologi Dialek Bahasa Osing di Desa Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah Metode Penelitian Bahasa dan
Sastra Indonesia
Dosen Pengampu: Dr. Sugiarti, M.Si

Mohammad Iqbal Alimaghrobi


201310080311045

Pembimbing : Dr. Sugiarti, M.Si

JURUSAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA


FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIIDKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
2015
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Bahasa merupakan hal sangat penting dalam segala aspek kehidupan, terutama kita
sebagai manusia. Dalam bermasyarakat Bahasa tidak dapat dilepaskan dari rutinitas sehari-
hari karena merupakan alat komunikasi yang bersifat universal serta disepakati secara
bersama-sama. Manusia pasti menggunakan bahasa untuk mengungkapkan apa yang ada dalam
hati maupun pikirannya kepada orang lain. Dalam penyampaiannya, manusia melewati
beberapa proses dari sebuah pemikiran menjadi sebuah bahasa yang diungkapkan. Jika dilihat
dari aspek sosiologi, bahasa sangat berhubungan dengan kondisi sosialitas seseorang. Dari
berbagai aspek elemen masyarakat tutur dapat diambil garis besarnya bahwa campur kode
lebih cenderung menitik beratkan kepada fungsi otonomi masing-masing.

Menurut Winford (dalam Ramadhani. 2011:20), pilihan kode berhubungan dengan


perbedaan situasi dan juga ranah sosiolinguistik. Jenis fenomena bahasa ini mencerminkan
cara penutur untuk menganggap diri mereka sebagai bagian dari identitas sosial dan dalam
berhubungan satu sama lain dalam konteks yang lebih luas dari struktur komunitas sosial
mereka. Tipologi merupakan pemetaan daerah dalam aspek kebahasaan yang mencakup
bentuk, jenis, fungsi, serta beberapa faktor yang mempengaruhinya secara langsung maupun
tidak langsung.

Bahasa Osing merupakan dialek asli warga Banyuwangi Jawa Timur khususnya penduduk

yang menetap dan bertempat tinggal di Banyuwangi, hal itu disematkan dalam berbagai aspek

fungsi kebahasaan yakni untuk berinteraksi sesama individu maupun kelompok. Berhubungan

dengan hal itu Geografi dialek merupakan bagian dari linguistik historis yang secara khusus

berbicara mengenai dialek-dialek atau perbedaan-perbedaan lokal suatu bahasa.

Peneliti memiliki arah teori Sependapat dengan August Leskien dalam Keraf (1897:149)

yang mengemukakan bahwasannya hukum bunyi tidak mempunyai kekecualian (ausnahmlos).


Bahwa hukum itu tidak ada kekecualian dibuktikan dengan dialek-dialek. Hal tersebut muncul

karena adanya kelompok masyarakat yang menggunakan suatu bahasa dengan berbagai struktur

fonemis yang sama. Dengan adanya hal ini peneliti dapat diharapkan memberikan

informasi/pengetahuan baru dalam hal linguistik cakupan disiplin ilmu dialektologi.

B. Fokus Masalah

Umumnya bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh masyarakat untuk

menyampaikan informasi dalam interaksi sehari-hari. Untuk itu bahasa yang digunakan harus

bersifat komunikatif agar pesan atau informasi yang disampaikan lebih mudah dipahami oleh para

komunikan. Banyaknya bahasa yang digunakan dalam masyarakat tersebut menciptakan sebuah

daerah kebahasaan yang mempunyai batasan tertentu.

Tipologi Dialek dapat timbul kapanpun dan dimanapun ketika seorang penutur masih aktif

menggunakan bahasa tertentu dengan masa tertentu pula. Pada umumnya, hal tersebut

memudahkan siapapun untuk mengetahui batasan-batasan dialek pada ruanglingkup daerah

maupun wilayah sehingga dibentuklah Tipologi Dialek khususnya di Desa Blimbingsari

Kabupaten Banyuwangi.

Dalam penelitian ini, peneliti memfokuskan masalah yang akan dibahas. Fokus masalah

tersebut, yaitu latar belakang tipologi dialek, jenis tipologi dialek, bentuk tipologi dialek, dan

fungsi tipologi dialek di Desa Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian yang telah dijelaskan di dalam latar belakang di atas, maka

permasalahan yang akan dikemukakan yaitu mengenai Tipologi Dialek Bahasa Osing di Desa
Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi. Oleh karena itu, dapat dirumuskan permasalahannya

sebagai berikut

1. Bagaimanakah Bentuk Tipologi Bahasa Osing di Desa Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi?

2. Bagaimanakah Jenis Tipologi Bahasa Osing di Desa Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi?

3. Bagaimanakah Fungsi Tipologi Bahasa Osing di Desa Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi?

4. Bagaimanakah Faktor Tipologi Bahasa Osing di Desa Blimbingsari Kabupaten Banyuwangi?

D. Manfaat Penelitian
a) Manfaat Secara Akademis
1. Diharapkan dapat memberikan masukan pada perkembangan studi Keguruan dalam hal
kebahasaan dan tata wawasan.
2. Diharapkan menjadi tambahan referensi kepustakaan mengenai kajian isi pesan dalam media
online dan dunia linguistik
3. Diharapkan hasil temuan mengenai tipologi bahasa menambah wawasan akademisi dan
linguistik mengenai perkembangan aspek kebahasaan
4. Diharapkan dapat memberi kontribusi dalam penelitian yang lain mengenai Tipologi bahasa.

b) Manfaat Secara Praktis


1. Diharapkan dapat menjadi kerangka acuan masyarakat dalam membaca dan memahami unsur
kebahasaan khususnya tipologi bahasa
2. Memberi wacana baru kepada masyarakat jika dalam mentelaah diperhatikan sumber
kebenarannya atau dikonfirmasi kebenarannya.
BAB II

KAJIAN PUSTAKA

A. Pengertian Tipologi

Tipologi bahasa adalah cabang linguistik bandingan yang mengelompokkan bahasa

berdasarkan tipe-tipe yang paling banyak terdapat dalam sekelompok bahasa. Tipologi bahasa

secara khusus membahas klasifikasi bahasa berdasarkan kesamaan ciri-ciri atau tipe-tipe yang

terdapat dalam sebuah bahasa. Bahasa-bahasa yang memiliki sejumlah tipe yang sama

dikelompokkan dalam kelompok bahasa yang sama. Bila bidang tinjauan ini di perluas, maka akan

tampak bahwa ada sekelompok individu juga akan memiliki ciri-ciri yang sama, di samping

perbedaan-perbedaan individual tadi. Misalnya ada sekelompok individu yang selalu

menggunakan partikel kah untuk kalimat-kalimat tanya, ada juga kelompok yang tidak suka

mempergunakannya.

Kenyataan lain adalah disamping keanekaan bentuk dalam sub-wilayah (atau daerah)

bahasa yang dinyatakan dalam dialek-dialek bahasa, maka perbedaan-perbedaan ini dapat juga

ditemukan dalam lapisan-lapisan masyarakat atau perkerjaan. Dalam banyak hal perbedaan ini

meliputi ciri-ciri kharakteristik dalam pengucapan bentuk, susunan kata, dan sebagainya, sehingga

dengan mudah kita dapat mengatakan si anu berasal dari golongan tertentu misalnya

Dalam perkembangan suatu dialek mungkin menjadi lebih penting kedudukannya dari

dialek-dialek lainnya karena faktor-faktor non-linguistis. Misalnya dialek X menjadi pusat

keagamaan, pusat perdagangan, atau menjadi pusat pemerintahan. Dengan demikian kedudukan

dialek-dialek lain mulai terdesak. Dan karena prestise tersebut dialek X tadi dianggap sebagai

dialek yang patut dicontoh dan dipakai oleh seluruh wilayah. Dalam hal ini dialek tersebut akan
menjadi dialek standar atau dari segi politis (bukan segi kebahasaan) disebut sebagai bahasa

standar

Pengguna bahasa Osing aktif berada di 13 kecamatan dari 24 yang ada di Banyuwangi,

yakni Kabat, Rogojampi, Glagah, Kalipuro, Srono, Songgon, Cluring, Giri, Gambiran, Singojuruh,

Blimbingsari, Licin, sebagian Genteng, serta sebagian Kota Banyuwangi. Masing-masing desa pun

mempunyai karakter berbeda dalam pengucapan kata dalam bahasa Osing. Orang Osing bisa

menebak asal desa seseorang, hanya dengan mendengar intonasi pengucapan dialek Osingnya.

Warga Desa Kemiren dengan Alian berbeda pada penekanan lafal pengucapan, intonasi Kemiren

cenderung singkat, tegas, dan lugas, sedangkan Alian sedikit ditarik.

Perbedaan lafal pengucapan ini tidak menjadi masalah bagi warga Banyuwangi. Mereka

bisa menerima sebagai suatu bentuk keanekaragaman pemakaian Bahasa Osing dalam kehidupan

sehari-hari. Menurut Ketua Tim Bahasa Osing, Maskur, bahasa dan sastra Osing yang dulu lebih

dikenal dengan bahasa dan sastra Blambangan, pernah mencapai kejayaanya pada abad XIV-

XVIII. Bahkan syair-syair Sri Tanjung, tokoh pejuang Banyuwangi dan Sudamala serta Sang

Setyawan yang diakui sebagai puncak karya sastra aliran sastra Blambangan, telah dipahatkan di

teras Pendapa Candi Penataran yang dibangun pada masa Majapahit tahun 1375. Namun,

peperangan dan kekuasaan VOC pada abad setelah itu menghentikan perkembangan bahasa dan

sastra Blambangan yang kemudian berkembang hanya sebagai bahasa dan sastra lisan
B. Bentuk Tipologi

Menurut Suwito, berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalam Tipologi

Bahasa dapat dibedakan menjadi:

a.) Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata

b.) Penyisipan unsur-unsur berwujud frasa

c.) Penyisipan unsur-unsur bentuk baster

d.) Penyisipan unsur-unsur berwujud perulangan kata

e.) Penyisipan unsur-unsur berwujud ungkapan atau idiom

f.) Penyisipan unsur-unsur berwujud kalusa

Dapat disimpulkan bahwa Tipologi bahasa menurut unsur-unsur


kebahasaannya, berwujud:
a. Kata dasar,
b. Kata jadian,
c. Perulangan kata atau reduplikasi, dan
d. Frasa.
C. Jenis Tipologi
a. Fonologis
Fonologi adalah ilmu tentang perbendaharaan bunyi-bunyi (fonem) bahasa dan

distribusinya. Fonologi diartikan sebagai kajian bahasa yang mempelajari tentang bunyi-bunyi

bahasa yang diproduksi oleh alat ucap manusia. Bidang kajian fonologi adalah bunyi bahasa

sebagai satuan terkecil dari ujaran dengan gabungan bunyi yang membentuk suku kata.

Asal kata fonologi, secara harfiah sederhana, terdiri dari gabungan kata fon (yang berarti bunyi)

dan logi (yang berarti ilmu). Dalam khazanah bahasa Indonesia, istilah fonologi merupakan

turunan kata dari bahasa Belanda, yaitu fonologie.


Fonologi terdiri dari 2 (dua) bagian, yaitu Fonetik dan Fonemik. Fonologi berbeda

dengan fonetik. Fonetik mempelajari bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan

atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia, terutama yang

berhubungan dengan penggunaan dan pengucapan bahasa. Dengan kata lain, fonetik adalah bagian

fonologi yang mempelajari cara menghasilkan bunyi bahasa atau bagaimana suatu bunyi bahasa

diproduksi oleh alat ucap manusia. Sementara itu,Fonemik adalah bagian fonologi yang

mempelajari bunyi ujaran menurut fungsinya sebagai pembeda arti.

b. Morfologis
Morfologi adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan

dasarbahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta

pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata Atau dengan kata lain

dapat dikatakan bahwa morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta fungsi perubahan-

perubahan bentuk kata itu, baik fungsi gramatik maupun fungsi semantik.

c. Sintaksis
Sintaksis secara etimologis berarti menempatkan bersama-sama kata-kata menjadi

kelompok kata atau kalimat. Sintaksis adalah tata bahasa yang membahas hubungan antarkata

dalam tuturan. Sama halnya dengan morfologi, akan tetapi morfologi menyangkut struktur

gramatikal di dalam kata.Unsur bahasa yang termasuk di dalam sintaksis adalah frase, kalusa,dan

kalimat. Tuturan dalam hal ini menyangkut apa yang dituturkan orang dalam bentuk kalimat.

Ramlan (1981:1) mengatakan: “Sintaksis ialah bagian atau cabang dari ilmu bahasa yang

membicarakan seluk beluk wacana, kalimat, klausa, dan frase .”


d. Semantik
Kata semantik itu sendiri menunjukkan berbagai ide - dari populer yang sangat teknis. Hal

ini sering digunakan dalam bahasa sehari-hari untuk menandakan suatu masalah pemahaman yang

datang ke pemilihan kata atau konotasi. Masalah pemahaman ini telah menjadi subyek dari banyak

pertanyaan formal, selama jangka waktu yang panjang, terutama dalam bidang semantik formal.

Dalam linguistik, itu adalah studi tentang interpretasi tanda-tanda atau simbol yang digunakan

dalam agen atau masyarakat dalam keadaan tertentu dan konteks. Dalam pandangan ini, suara,

ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan proxemics memiliki semantik konten (bermakna), dan masing-

masing terdiri dari beberapa cabang studi. Dalam bahasa tertulis, hal-hal seperti struktur ayat dan

tanda baca menanggung konten semantik, bentuk lain dari bahasa menanggung konten semantik

lainnya
BAB III

METODE PENELITIAN

Van Valin dan La Polla (1973: 3) mengungkapkan bahwa penelitian linguistik bertujuan

untuk menjelaskan fenomena-fenomena kebahasaan. Penjelasan tentang fenomena kebahasaan ini

terkait dengan bahasa sebagai bahasa individu atau bahasa yang bersifat universal. Penelitian

tipologi Bahasa Osing ini merupakan penelitian lapangan (field research) karena data penelitian

diperoleh dari penutur.

A. Jenis dan Sumber Data

1. Jenis Data

Penelitian tipologi Bahasa OSing ini merupakan penelitian deskriptif yangbersifat

kualitatif. Penelitian ini memfokuskan perhatian pada pengungkapan klausa dan kalimat kompleks

BKm yang pada akhirnya juga dapat menentukan tipologi Bahasa Osing itu sendiri. Data penelitian

berupa data kualitatif, berupa data lisan dan data tulis. Lebih lanjut, sebagian besar wujud data

penelitian ini berupa klausa atau kalimat Bahasa Osing yang umum dan nyata digunakan dalam

komunikasi oleh penuturnya sehari-hari di tempat-tempat, seperti di pusat kota, tempat

perdagangan, pendidikan, dan tempat-tempat umum lainnya. Dengan demikian, bahasa yang

digunakan tersebut menunjukkan kecenderungan menjadi Bahasa Osing baku.

2. Sumber Data

Mallinson dan Blake (1981: 12--18) mengungkapkan terdapat tiga sumber data yang

digunakan dalam penelitian secara lintas bahasa (semesta), yaitu (1) buku-buku gramatika bahasa

yang diteliti, (2) data yang berasal dari contoh- contoh yang digunakan oleh penulis lainnya yang

diakui kebenarannya, dan (3) informan yang merupakan penutur asli bahasa yang diteliti.
Berdasarkan pendapat Mallinson dan Blake (1981) di atas, maka penelitian ini hanya

menggunakan dua dari tiga sumber data lingual, yaitu (1) data yang berasal dari contoh-contoh

yang digunakan oleh penulis lainnya yang diakui kebenarannya dan (2) informan yang merupakan

penutur asli bahasa yang diteliti. Penggunaan dua sumber data lingual ini didasarkan pada

kenyataan bahwa tidak terdapat buku-buku tata bahasa Osing. Pemilihan informan dalam

penelitian ini didasarkan pada asumsi bahwa informan yang dipilih dapat mewakili populasi

penutur BKm berdasarkan sebaran wilayah penuturnya

B. Teknik Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan langkah yang sangat penting dalam penelitian, karena itu

seorang peneliti harus terampil dalam mengumpulkan data agar mendapatkan data yang valid.

Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematis dan standar untuk memperoleh data yang

diperlukan.

1. Observasi Langsung

Observasi langsung adalah cara pengambilan data dengan menggunakan mata tanpa ada

pertolongan alat standar lain untuk keperluan tersebut. Dalam kegiatan sehari-hari, kita selalu

menggunakan mata untuk mengamati sesuatu. Observasi ini digunakan untuk penelitian yang telah

direncanakan secara sistematik tentang tipologi bahasa osing di daerah blimbingsari. Observasi

lansung juga dapat memperoleh data dari subjek baik yang tidak dapat berkomunikasi secara

verbal atau yang tak mau berkomunikasi secara verbal.

2. Wawancara

Wawancara adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara

tanya jawab, sambil bertatap muka antara si penanya dengan si penjawab dengan menggunakan

alat yang dinamakan interview guide (panduan wawancara)6.


Tujuan penulis menggunakan metode ini, untuk memperoleh data secara jelas dan kongkret

tentang aspek kebahasaan tipologi bahasa osing di daerah blimbingsari

3. Dokumentasi

Dokumentasi adalah setiap bahan tertulis baik berupa karangan, memo, pengumuman,

instruksi, majalah, buletin, pernyataan, aturan suatu lembaga masyarakat, dan berita yang disiarkan

kepada media massa. Dari uraian di atas maka metode dokumentasi adalah pengumpulan data

dengan meneliti catatan-catatan penting yang sangat erat hubungannya dengan obyek penelitian.

Tujuan digunakan metode ini untuk memperoleh data secara jelas dan konkret tentang tipologi

bahasa osing di daerah bimbingsari.

C. Analisis Data

Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data kedalam pola,

kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis

kerja seperti yang disarankan oleh data. Dari rumusan di atas dapatlah kita tanarik garis besar

bahwa analisis data bermaksud pertama-tama mengorganisasikan data.

Data yang terkumpul banyak sekali dan terdiri dari catatan lapangan, komentar peneliti,

gambar, foto, dokumen berupa laporan, biografi, artikel, dan sebagainya. Setelah data dari

lapangan terkumpul dengan menggunakan metode pengumpulan data di atas, maka peneliti akan

mengolah dan menganalisis data tersebut dengan menggunakan analisis secara deskriptif-

kualitatif, tanpa menggunakan teknik kuantitatif.

Analisis deskriptif-kualitatif merupakan suatu tehnik yang menggambarkan dan

menginterpretasikan arti data-data yang telah terkumpul dengan memberikan perhatian dan

merekam sebanyak mungkin aspek situasi yang diteliti pada saat itu, sehingga memperoleh

gambaran secara umum dan menyeluruh tentang keadaan sebenarnya. Menurut M. Nazir bahwa
tujuan deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis,

faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki.
DAFTAR PUSTAKA

Lexy J Moleong. 1991. Metode Penelitian Kualitatif (Bandung: Remaja Rosda Karya,)

Chaer, Abdul dan Agustina Leonie. 2010. Sosiolinguistik Perkenalan Awal, Jakarta: Rineka
Cipta
Keraf, Gorys. 1996. Linguistik Bandingan Historis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama
Budiarta, I Wayan.2013. “ Tipologi Sintaksis Bahasa Kemak”. (Universitas Udayana)

Hauriyah, Anisya.2012. “ Tipologi Bahasa dan Penerapannya”. (Universitas Pendidikan


Indonesia) hal. 16-17
Proposal ini telah di lihat oleh:

Fakhrur Razi Andi. P (015)

Menurut saya proposal ini mencakup banyak sekali aspek kebahasaan yang nantinya akan
diteliti oleh peneliti itu sendiri. Maka dari itu wawasan mengenai aspek kebahasaan mutlak
harus dikuasai agar landasan peneliti bisa matang dan tak terbebani.

Alga Rivaldi (055)

Dengan mengambil tema aspek kebahasaan tentunya akan menjadi penelitian yang menarik
di bidang kebahasaan, oleh karena itu peneliti harus fokus dengan kajian penelitiannya
mengenai linguistik.

Pratiwi (037)

Sekilas pembaca akan tertarik membaca proposal yang anda ajukan karena selain
menawarkan berbagai upaya untuk mengupas tentang aspek kebahasaan yakni tipologi
bahasa. Peneliti harus lebih kreatif lagi dalam upaya pengembangan penelitiannya agar
bermanfaat untuk pembaca khususnya di bidang linguistic/kebahasaan.