Anda di halaman 1dari 5

Nama : Ariq Kamal Zasyah

NIM : 03031381722095
Shift : Selasa (13.00-16.00 WIB)
Kelompok : 4 (Empat)

PERPINDAHAN PANAS PADA EVAPORATOR

Evaporator adalah sebuah alat yang berfungsi untuk mengubah sebagian


atau keseluruhan sebuah pelarut dari sebuah larutan dari bentuk cair menjadi uap.
Evaporator mempunyai dua prinsip dasar, proses penukaran panas dan untuk
memisahkan uap yang terbentuk dari cairan. Evaporator umumnya terdiri dari tiga
bagian, yaitu penukar panas, bagian evaporasi (tempat di mana cairan mendidih lalu
menguap). Bagian pemisah untuk memisahkan uap dari cairan lalu dimasukkan ke
dalam kondenser untuk diembunkan atau kondensasi (atau ke peralatan lainnya).
Hasil dari evaporator (produk yang diinginkan) biasanya dapat berupa padatan atau
larutan yang berkonsentrasi lebih pekat daripada feed.
Larutan yang sudah dievaporasi bisa saja terdiri dari beberapa komponen
volatil mudah menguap (Hill, 2014). Evaporator biasanya digunakan dalam
industri kimia dan industri makanan. industri kimia contohnya garam diperoleh dari
air asin jenuh yang merupakan contoh dari proses pemurnian dalam evaporator.
Evaporator dapat mengubah air menjadi uap, menyisakan residu mineral di dalam
evaporator. Uap dikondensasikan menjadi air yang sudah dihilangkan garamnya.
Efek pendinginan pada sistem pendingin diperoleh dari penyerapan panas oleh
cairan pendingin yang menguap dengan cepat (penguapan membutuhkan energi
panas). Evaporator juga digunakan untuk memproduksi air minum sehari-hari,
memisahkannya dari air laut atau zat yang terkontaminasi senyawa lain.
Evaporator dibagi menjadi beberapa jenis berdasarkan sumber pemanasnya.
submerged combustion evaporator adalah evaporator yang dipanaskan oleh api
yang menyala di bawah permukaan cairan, dimana gas yang panas bergelembung
melewati cairan. Direct fired evaporator adalah evaporator dengan pengapian
langsung dimana api dan pembakaran dari gas dipisahkan dari cairan mendidih
lewat dinding besi atau permukaan untuk memanaskan.
Steam heated evaporator adalah evaporator dengan pemanasan steam
dengan uap yang dapat dikondensasi berasal dari sumber panas pada uap tersebut
terkondensasi di salah satu sisi dari permukaan pemanas. Panas yang ditransmisi
melewati dinding mengalami perpindahan panas yang terjadi ke dalam cairan yang
mendidih. Evaporator merupakan salah satu mesin berjenis heat exchanger yang
dapat merubah fase suatu zat. Refrigeran melepaskan panas di kondensor dan
menyerap panas di evaporator. Klasifikasi kondensor dan evaporator dilihat dari
letak refrigeran (di dalam atau luar tabung) dan dari zat pendingin yang digunakan
(gas atau cair). Perpindahan panas berperubahan fasa, dalam hal ini dibatasi pada
perubahan dari fasa cair menjadi gas dengan evaporasi refrigeran dan kondensasi
uap air yang terkandung di udara pada sebuah evaporator mesin air conditioner,
masih merupakan penelitian yang menarik (Darmanto dkk, 2019).

Evaporator diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, evaporator sirkulasi


natural, evaporator dari jenis ini bekerja dengan cara memanfaatkan sirkulasi yang
terjadi akibat perbedaan densitas yang terjadi akibat pemanasan. Proses kerja
evaporator jenis ini adalah ketika air mulai mendidih, maka buih air akan naik ke
permukaan dan memulai sirkulasi yang mengakibatkan pemisahan liquid dan uap
air di bagian atas tabung pemanas. Jumlah evaporasi bergantung dari perbedaan
temperatur uap dengan larutan. Hal tersebut dapat dihindari dengan menggunakan
evaporator sirkulasi paksa, dengan menambahkan pompa untuk meningkatkan
tekanan dan sirkulasi sehingga peristiwa pendidihan pada sistem dapat dihindarkan.
Evaporator sirkulasi paksa proses kerjanya adalah pada cairan yang akan di
evaporasikan dipompa melewati penukar panas. Media pemanas mengelilingi pipa-
pipa yang membawa cairan yang akan dievaporasikan. Gabungan penurunan
tekanan dan head hidrostatik di dalam alat ini cukup besar untuk mencegah larutan
mendidih di dalam pipa penukar panas, sehingga uap yang dihasilkan akan
tersembur keluar pada saat cairan memasuki ruang kosong di dalam tabung.

Prinsip kerja dari alat penukar kalor yaitu memindahkan panas dari dua
fluida yang berada pada temperatur berbeda di mana transfer panas dapat dilakukan
secara langsung maupun tidak langsung. Kontak langsung panas yang dipindahkan
antara fluida panas dan dingin melalui permukaan kontak langsung berarti tidak ada
dinding antara kedua fluida. Transfer panas yang terjadi yaitu melalui interfase atau
penghubung antara kedua fluida. Perpindahan panas secara konduksi terjadi antara
fluida panas dan fluida dingin melalui dinding pemisah. Heat exchanger atau sering
kita sebut alat penukar panas merupakan alat yang berfungsi untuk memindahkan
energi panas antara dua atau lebih fluida dan terjadi pada temperatur yang berbeda
antara fluida, dimana fluida tersebut ada yang bertindak sebagai fluida panas (hot
fluid) dan yang lain bertindak sebagai fluida dingin (cold fluid) (Oktaviano, 2016).
Aliran fluida pada sistem ini, kedua fluida akan mengalir (Holman, 1995).
Menurut Artono (2002), heat exchanger memiliki beberapa jenis, diantaranya
sebagai berikut. Penukar panas pipa rangkap (double pipe heat exchanger), dalam
jenis penukar panas dapat digunakan berlawanan arah aliran atau arah aliran, baik
dengan cairan panas atau dingin cairan yang terkandung dalam ruang annular dan
cairan lainnya yang berada dalam rangkaian pipa.
Alat penukar panas pipa rangkap terdiri dari dua pipa logam standar yang di
kedua ujungnya di las menjadi satu atau dihubungkan dengan kotak berpenyekat.
Fluida yang satu mengalir di dalam pipa, sedangkan fluida kedua mengalir di dalam
ruang anulus antara pipa luar dengan pipa dalam. Alat penukar panas jenis ini
digunakan pada laju alir fluida yang kecil dan tekanan operasi tinggi.
Shell and tube heat exchanger adalah alat yang terdiri atas bundel pipa yang
dihubungkan secara paralel dan ditempatkan dalam sebuah pipa mantel (cangkang)
(Ghaffari dan Jazayeri, 2015). Fluida yang satu mengalir di dalam bundel pipa,
sedangkan fluida yang lain mengalir di luar pipa pada arah yang sama, berlawanan,
atau bersilangan. Kedua ujung pipa tersebut dilas pada penunjang pipa yang
menempel pada mantel. Peningkatkan effisiensi pertukaran panas biasanya pada
alat shell and tube heat exchanger dipasang penyekat. Fungsinya untuk membuat
turbulensi aliran fluida dan menambah waktu tinggal (residence time). Pemasangan
sekat akan memperbesar pressure drop pada operasi dan menambah beban kerja
pada pompa, sehingga laju alir dari fluida yang akan dipertukarkan panasnya harus
diatur sedemikian rupa supaya terjadi perpindahan panasnya.
Evaporator dalam suatu sistem refrigerasi adalah alat penukar kalor yang
memegang peranan penting di dalam siklus refrigerasi, yaitu mendinginkan media
sekitarnya. Tujuan sistem refrigerasi adalah untuk membebaskan panas dari fluida
seperti udara, air atau beberapa benda yang lain. Evaporator diletakkan dibagian
unit pendingin dari lemari pendingin yang bersentuhan secara langsung dengan
media yang akan didinginkan yaitu air. Cairan metanol akan menguap pada saat
temperatur adsorben naik. Metanol akan mencair di kondensor dan cairannya akan
terkumpul kembali di evaporator, dan malam hari temperatur adsorben akan turun
perlahan-lahan dan akan menyerap metanol. Metanol kemudian akan menguap dan
menyerap kalor sehingga temperaturnya akan turun. Faktor yang mempengaruhi
koefisien perpindahan kalor adalah kecepatan aliran fluida atau benda yang akan
didinginkan. Semakin besar luas bidang benda yang hendak diinginkan atau dekat
dengan bidang pendingin juga mempengaruhi koefisien perpindahan kalor.
Temperatur penguapan refrigeran, temperatur benda dan fluida yang akan
didinginkan akan dipengaruhi oleh kecepatan aliran zat yang hendak didinginkan.
Perpindahan panas pada evaporator, dan banyaknya perpindahan kalor dihitung
berdasarkan perbedaan rata-rata dari temperatur. Semakin besar perbedaan antara
temperatur, makan akan semakin kecil ukuran dari area alat penukar kalor (luas
bidang perpindahan kalor) yang bersangkutan. Temperatur penguapannya pada saat
itu akan menjadi turun dan akan menjadi rendah.
Evaporator dibagi menjadi tiga macam Berdasarkan bentuk dan permukaan
koilnya, yaitu, bare tube evaporator. evaporator ini umumnya terbuat dari tembaga
atau baja. Bahan tembaga biasanya digunakan pada evaporator yang berukuran
kecil dimana refrigeran yang digunakan adalah selain dari ammonia. Bahan baja
biasanya digunakan pada evaporator yang berukuran besar dimana refrigeran yang
digunakan adalah ammonia. Evaporator pelat (plate surface evaporator),
evaporator pada jenis ini terdapat piringan yang digunakan sebagai permukaan
untuk pemanasan, bukanlah tabung atau shell penukar kalor. Assembling piring ini
mempunyai kesamaan dengan piring penukar kalor dalam jumlah sangat besar.
Evaporator bersirip adalah tipe bare tube evaporator yang ditutupi dengan
sirip. fluida (udara atau air) yang kemudian didinginkan akan mengalir melalui bare
tube evaporator. Efek pendinginan terdapat banyak dari refrigeran yang terbuang
sia-sia karena kurangnya permukaan untuk mentransfer panas. Fluida cenderung
mengalir di antara ruang terbuka dari tabung dan tidak bersentuhan langsung
dengan permukaan kumparan, maka itu bare tube evaporator menjadi kurang
efektif. Sirip berfungsi untuk meningkatkan kontak permukaan dari tabung logam
DAFTAR PUSTAKA

Artono, K. R. 2002. Perpindahan Kalor. Jakarta: Salemba Teknika.


Darmanto, P. S., Arjanto, D. D., dan Ismail, M. 2017. Kaji Numerik dan
Eksperimental Perpindahan Panas Pada Evaporator untuk Mendinginkan
Udara. Jurnal Mesin. Vol. 20(1): 24-31.
Ghaffari, S. S., dan Jazayeri, S. A., 2015. The Design of a Shell-Tube Heat
Exchanger as Evaporator an Absorption Chiller Cycle to Reduce the
Temperature of the Air Entering a Diesel Engine Operating at Full Load
Engine Medium. Journal Modern Applied Science. Vol. 9(13): 122-132.
Holman, J. P. 1995. Perpindahan Kalor. Jakarta: Erlangga.
Hill, M. 2004. Concise Encyclopedia of Chemistry. New York: McGraw-Hill.
Oktaviano, D. 2016. Prinsip Dasar Kerja Heat Exchanger dalam Berbagai Aplikasi
Sistem Enjineering. (Online). http://tagoleki.com/prinsip-dasar-kerja-heat-
exchanger-dalam-berbagai-aplikasi-sistem-enjineering/. (Diakses pada
tanggal 28 September 2019).