Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PENDAHULUAN

PERIOPERATIF

A. PENGERTIAN
Keperawatan Perioperatif adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan
keragaman fungsi keperawatan yang berkaitan dengan pengalaman pembedahan pasien.
Jadi operasi (perioperatif) merupakan tindakan pembedahan pada suatu bagian tubuh
yang mencakup fase praoperatif, intraoperatif dan pascaoperatif (postoperatif) yang pada
umumnya merupakan suatu peristiwa kompleks yang menegangkan bagi individu yang
bersangkutan. Tim operasi terdiri dari dokter ahli, asisten dokter ahli, anesthesiologist
atau perawat anastesi, circulating nurses dan scrub nurses. Butuh kerjasama yang baik
dan fasilitas yang memadai untuk keberhasilan operasi.
B. ETIOLOGI
Pembedahan dilakukan untuk berbagai alasan (Buku ajar Keperawatan Medikal
Bedah Brunner dan Suddarth ) seperti :
1. Diagnostik, seperti dilakukan biopsi atau laparatomi eksplorasi
2. Kuratif, seperti ketika mengeksisi masa tumor atau mengangkat apendiks yang
inflamasi
3. Reparatif, seperti memperbaiki luka yang multipek
4. Rekonstruktif atau Kosmetik, seperti perbaikan wajah
5. Paliatif, seperti ketika harus menghilangkan nyeri atau memperbaiki masalah,
contoh ketika selang gastrostomi dipasang untuk mengkompensasi terhadap
kemampuan untuk menelan makanan
C. KLASIFIKASI
Menurut urgensi dilakukan tindakan pembedahan, maka tindakan pembedahan
dapat diklasifikasikan menjadi 5 tingkatan, yaitu :
1. Kedaruratan/Emergency: Pasien membutuhkan perhatian segera, gangguan mungkin
mengancam jiwa. Indikasi dilakukan pembedahan tanpa di tunda. Contoh:
perdarahan hebat, obstruksi kandung kemih atau usus, fraktur tulang tengkorak, luka
tembak atau tusuk, luka bakar sanagat luas.
2. Urgen: Pasien membutuhkan perhatian segera. Pembedahan dapat dilakukan dalam
24-30 jam. Contoh : infeksi kandung kemih akut, batu ginjal atau batu pada uretra.
3. Diperlukan: Pasien harus menjalani pembedahan. Pembedahan dapat direncanakan
dalam beberapa minggu atau bulan. Contoh: Hiperplasia prostat tanpa obstruksi
kandung kemih. Gangguan tyroid, katarak.
4. Elektif: Pasien harus dioperasi ketika diperlukan. Indikasi pembedahan, bila tidak
dilakukan pembedahan maka tidak terlalu membahayakan. Contoh: perbaikan Scar,
hernia sederhana, perbaikan vaginal.
5. Pilihan: Keputusan tentang dilakukan pembedahan diserahkan sepenuhnya pada
pasien. Indikasi pembedahan merupakan pilihan pribadi dan biasanya terkait dengan
estetika. Contoh: bedah kosmetik.
Sedangkan menurut faktor resikonya, tindakan pembedahan di bagi menjadi :
1. Minor : Menimbulkan trauma fisik yang minimal dengan resiko kerusakan yang
minim. Contoh: insisi dan drainage kandung kemih, sirkumsisi
2. Mayor : Menimbulkan trauma fisik yang luas, resiko kematian sangat serius.
Contoh: Total abdominal histerektomi, reseksi colon, dan lain-lain.
D. KOMPLIKASI
1. Syok
Syok yang terjadi pada pasien bedah biasanya berupa syok hipovolemik.
Tanda-tanda syok adalah : Pucat , Kulit dingin, basah, Pernafasan cepat, Sianosis
pada bibir, gusi dan lidah, Nadi cepat, lemah dan bergetar , Penurunan tekanan
darah, Urine pekat.
Intervensi keperawatan yang dapat dilakukan adalah kolaborasi dengan dokter
terkait dengan pengobatan yang dilakukan seperti terapi obat, terapi pernafasan,
memberikan dukungan psikologis, pembatasan penggunaan energi, memantau reaksi
pasien terhadap pengobatan, dan peningkatan periode istirahat.
2. Perdarahan
Penatalaksanaannya pasien diberikan posisi terlentang dengan posisi tungkai
kaki membentuk sudut 20 derajat dari tempat tidur sementara lutut harus dijag tetap
lurus. Kaji penyebab perdarahan, Luka bedah harus selalu diinspeksi terhadap
perdarahan.
3. Trombosis vena profunda
Trombosis vena profunda adalah trombosis yang terjadi pada pembuluh darah
vena bagian dalam. Komplikasi serius yang bisa ditimbulkan adalah embolisme
pulmonari dan sindrom pasca flebitis.
4. Retensi urin
Retensi urine paling sering terjadi pada kasus-kasus pembedahan rektum, anus
dan vagina. Penyebabnya adalah adanya spasme spinkter kandung kemih. Intervensi
keperawatan yang dapat dilakukan adalah pemasangan kateter untuk membatu
mengeluarkan urine dari kandung kemih.
5. Infeksi luka operasi (dehisiensi, evicerasi, fistula, nekrose, abses)
Infeksi luka post operasi dapat terjadi karena adanya kontaminasi luka operasi
pada saat operasi maupun pada saat perawatan di ruang perawatan. Pencegahan
infeksi penting dilakukan dengan pemberian antibiotik sesuai indikasi dan juga
perawatan luka dengan prinsip steril.
6. Sepsis
Sepsis merupakan komplikasi serius akibat infeksi dimana kuman berkembang
biak. Sepsis dapat menyebabkan kematian karena dapat menyebabkan kegagalan
multi organ.
7. Embolisme Pulmonal
Embolsime dapat terjadi karena benda asing (bekuan darah, udara dan lemak)
yang terlepas dari tempat asalnya terbawa di sepanjang aliran darah. Embolus ini
bisa menyumbat arteri pulmonal yang akan mengakibatkan pasien merasa nyeri
seperti ditusuk-tusuk dan sesak nafas, cemas dan sianosis. Intervensi keperawatan
seperti ambulatori pasca operatif dini dapat mengurangi resiko embolus pulmonal.
8. Komplikasi Gastrointestinal
Komplikasi pada gastrointestinal sering terjadi pada pasien yang mengalami
pembedahan abdomen dan pelvis. Komplikasinya meliputi obstruksi intestinal, nyeri
dan distensi abdomen.
E. PRINSIP OPERATIF
1. Prinsip kesehatan dan baju operasi
a) Kesehatan yang baik sangat penting untuk setiap orang dalam ruang operasi.
Sehingga keadaan pilek, sakit tenggorok, infeksi kulit, merupakan sumber
organisme patogenik yang harus dilaporkan.
b) Hanya baju ruang operasi yang bersih dan dibenarkan oleh institusi yang
diperbolehkan, tidak dapat dipakai di luar ruang operasi.
c) Masker dipakai sepanjang waktu di ruang operasi yang meminimalkan
kontaminasi melalui udara, menutup seluruh hidung dan mulut, tetapi tidak
mengganggu pernafasan, bicara atau penglihatan.
d) Tutup kepala secara menyeluruh menutup rambut.
e) Sepatu sebaiknya nyaman dan menyangga. Bakiak, sepatu tenis, sandal dan bot
tidak diperbolehkan sebab tidak aman dan sulit dibersihkan.
f) Bahaya kesehatan dikontrol dengan pemantauan internal dari ruang operasi
meliputi analisis sampel dari sapuan terhadap agens infeksius dan toksik. Selain
itu, kebijakan dan prosedur keselamatan untuk laser dan radiasi di ruang operasi
telah ditegakkan.
2. Prinsip Asepsis Perioperatif
a) Pencegahan komplikasi pasien, termasuk melindungi pasien dari operasi.
b) Ruang operasi terletak di bagian rumah sakit yang bebas dari bahaya seperti
partikel, debu, polutan lain yang mengkontaminasi, radiasi, dan kebisingan.
c) Bahaya listrik, alat konduktifitas, pintu keluar darurat yang bebas hambatan, dan
gudang peralatan dan gas-gas anesthesia diperiksa secara periodik.
F. TAHAP-TAHAP PERIOPERATIF
1. Fase Pre operatif
Fase pre operatif merupakan tahap pertama dari perawatan perioperatif yang
dimulai ketika pasien diterima masuk di ruang terima pasien dan berakhir ketika
pasien dipindahkan ke meja operasi untuk dilakukan tindakan pembedahan.
Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan selama waktu tersebut dapat
mencakup penetapan pengkajian dasar pasien di tatanan klinik ataupun rumah,
wawancara pre operatif dan menyiapkan pasien untuk anestesi yang diberikan pada
saat pembedahan. Persiapan pembedahan dapat dibagi menjadi 2 bagian, yang
meliputi persiapan psikologi baik pasien maupun keluarga dan persiapan fisiologi
(khusus pasien).
a) Persiapan Psikologi
Terkadang pasien dan keluarga yang akan menjalani operasi emosinya
tidak stabil. Hal ini dapat disebabkan karena takut akan perasaan sakit, narcosa
atau hasilnya dan keeadaan sosial ekonomi dari keluarga. Maka hal ini dapat
diatasi dengan memberikan penyuluhan untuk mengurangi kecemasan pasien.
Meliputi penjelasan tentang peristiwa operasi, pemeriksaan sebelum operasi
(alasan persiapan), alat khusus yang diperlukan, pengiriman ke ruang bedah,
ruang pemulihan, kemungkinan pengobatan-pengobatan setelah operasi, bernafas
dalam dan latihan batuk, latihan kaki, mobilitas dan membantu kenyamanan.

b) Persiapan Fisiologi, meliputi :


 Diet (puasa) : Pada operasi dengan anaesthesi umum, 8 jam menjelang operasi
pasien tidak diperbolehkan makan, 4 jam sebelum operasi pasien tidak
diperbolehkan minum. Pada operasai dengan anaesthesi lokal /spinal
anaesthesi makanan ringan diperbolehkan. Tujuannya supaya tidak aspirasi
pada saat pembedahan, mengotori meja operasi dan mengganggu jalannya
operasi.
 Persiapan Perut : Pemberian leuknol/lavement sebelum operasi dilakukan pada
bedah saluran pencernaan atau pelvis daerah periferal. Tujuannya mencegah
cidera kolon, mencegah konstipasi dan mencegah infeksi.
 Persiapan Kulit : Daerah yang akan dioperasi harus bebas dari rambuy
 Hasil Pemeriksaan : hasil laboratorium, foto roentgen, ECG, USG dan lain-
lain.
 Persetujuan Operasi / Informed Consent Izin tertulis dari pasien / keluarga
harus tersedia.
2. Fase Intra operatif
Fase intra operatif dimulai ketika pasien masuk atau dipindahkan ke instalasi
bedah dan berakhir saat pasien dipindahkan ke ruang pemulihan. Pada fase ini
lingkup aktivitas keperawatan mencakup pemasangan IV cath, pemberian medikasi
intaravena, melakukan pemantauan kondisi fisiologis menyeluruh sepanjang
prosedur pembedahan dan menjaga keselamatan pasien. Contoh : memberikan
dukungan psikologis selama induksi anestesi, bertindak sebagai perawat scrub, atau
membantu mengatur posisi pasien di atas meja operasi dengan menggunakan prinsip
- prinsip dasar kesimetrisan tubuh.
Prinsip tindakan keperawatan selama pelaksanaan operasi yaitu pengaturan
posisi karena posisi yang diberikan perawat akan mempengaruhi rasa nyaman pasien
dan keadaan psikologis pasien. Faktor yang penting untuk diperhatikan dalam
pengaturan posisi pasien adalah :
a) Letak bagian tubuh yang akan dioperasi.
b) Umur dan ukuran tubuh pasien.
c) Tipe anaesthesia yang digunakan.
d) Sakit yang mungkin dirasakan oleh pasien bila ada pergerakan (arthritis).
Prinsip-prinsip didalam pengaturan posisi pasien : Atur posisi pasien dalam
posisi yang nyaman dan sedapat mungkin jaga privasi pasien, buka area yang akan
dibedah dan kakinya ditutup dengan duk. Anggota tim asuhan pasien intra operatif
biasanya di bagi dalam dua bagian. Berdasarkan kategori kecil terdiri dari anggota
steril dan tidak steril :
a) Anggota steril, terdiri dari : ahli bedah utama / operator, asisten ahli bedah, Scrub
Nurse / Perawat Instrumen
b) Anggota tim yang tidak steril, terdiri dari : ahli atau pelaksana anaesthesi, perawat
sirkulasi dan anggota lain (teknisi yang mengoperasikan alat-alat pemantau yang
rumit).
3. Fase Post operatif
Fase Post operatif merupakan tahap lanjutan dari perawatan pre operatif dan
intra operatif yang dimulai ketika klien diterima di ruang pemulihan (recovery
room)/ pasca anaestesi dan berakhir sampai evaluasi tindak lanjut pada tatanan
klinik atau di rumah.
Pada fase ini lingkup aktivitas keperawatan mencakup rentang aktivitas yang
luas selama periode ini. Pada fase ini fokus pengkajian meliputi efek agen anestesi
dan memantau fungsi vital serta mencegah komplikasi. Aktivitas keperawatan
kemudian berfokus pada peningkatan penyembuhan pasien dan melakukan
penyuluhan, perawatan tindak lanjut dan rujukan yang penting untuk penyembuhan
dan rehabilitasi serta pemulangan ke rumah.
Fase post operatif meliputi beberapa tahapan, diantaranya adalah :
a) Pemindahan pasien dari kamar operasi ke unit perawatan pasca anastesi (recovery
room)
Pemindahan ini memerlukan pertimbangan khusus diantaranya adalah letak
insisi bedah, perubahan vaskuler dan pemajanan. Pasien diposisikan sehingga ia
tidak berbaring pada posisi yang menyumbat drain dan selang drainase. Selama
perjalanan transportasi dari kamar operasi ke ruang pemulihan pasien diselimuti,
jaga keamanan dan kenyamanan pasien dengan diberikan pengikatan diatas lutut
dan siku serta side rail harus dipasang untuk mencegah terjadi resiko injury.
Proses transportasi ini merupakan tanggung jawab perawat sirkuler dan perawat
anastesi dengan koordinasi dari dokter anastesi yang bertanggung jawab.

b) Perawatan post anastesi di ruang pemulihan atau unit perawatan pasca anastesi
Setelah selesai tindakan pembedahan, pasien harus dirawat sementara di
ruang pulih sadar (recovery room : RR) atau unit perawatan pasca anastesi
(PACU: post anasthesia care unit) sampai kondisi pasien stabil, tidak mengalami
komplikasi operasi dan memenuhi syarat untuk dipindahkan ke ruang perawatan
(bangsal perawatan).
PACU atau RR biasanya terletak berdekatan dengan ruang operasi. Hal ini
disebabkan untuk mempermudah akses bagi pasien untuk :
 Perawat yang disiapkan dalam merawat pasca operatif (perawat anastesi)
 Ahli anastesi dan ahli bedah
 Alat monitoring dan peralatan khusus penunjang lainnya.
G. ASUHAN KEPERAWATAN
1. Pengkajian fase Pre Operatif
a) Pengkajian Psikologis : meliputi perasaan takut / cemas dan keadaan emosi
pasien
b) Pengkajian Fisik : pengkajian tanda-tanda vital : tekanan darah, nadi, pernafasan
dan suhu.
c) Sistem integument : apakah pasien pucat, sianosis dan adakah penyakit kulit di
area badan.
d) Sistem Kardiovaskuler : apakah ada gangguan pada sisitem cardio, validasi
apakah pasien menderita penyakit jantung ?, kebiasaan minum obat jantung
sebelum operasi., Kebiasaan merokok, minum alcohol, Oedema, Irama dan
frekuensi jantung.
e) Sistem pernafasan : Apakah pasien bernafas teratur dan batuk secara tiba-tiba di
kamar operasi.
f) Sistem gastrointestinal : apakah pasien diare ?
g) Sistem reproduksi : apakah pasien wanita mengalami menstruasi ?
h) Sistem saraf : bagaimana kesadaran ?
i) Validasi persiapan fisik pasien : apakah pasien puasa, lavement, kapter, perhiasan,
Make up, Scheren, pakaian pasien / perlengkapan operasi dan validasi apakah
pasien alaergi terhadap obat ?

j) Pemeriksaan penunjang antara lain:


Hasil pemeriksaan Radiologi: Thorax foto, foto abdomen, USG, CT scan, BNO-
IVP, Colon in loop, EKG, ECHO
Hasil pemeriksaan Laboratorium: Hemoglobin, Angka leukosit, Limfosit, Jumlah
trombosit, Protein total (albumin dan globulin), Elektrolit (kalium, natrium,
chlorida), BUN, LED, Ureum kreatinin
2. Pengkajian fase Intra Operatif
Hal-hal yang dikaji selama dilaksanakannya operasi bagi pasien yang diberi
anaesthesi total adalah yang bersifat fisik saja, sedangkan pada pasien yang diberi
anaesthesi lokal ditambah dengan pengkajian psikososial. Secara garis besar yang
perlu dikaji adalah :
a) Pengkajian mental : Bila pasien diberi anaesthesi lokal dan pasien masih sadar /
terjaga maka sebaiknya perawat menjelaskan prosedur yang sedang dilakukan
terhadapnya dan memberi dukungan agar pasien tidak cemas/takut menghadapi
prosedur tersebut.
b) Pengkajian fisik : Tanda-tanda vital (bila terjadi ketidaknormalan maka perawat
harus memberitahukan ketidaknormalan tersebut kepada ahli bedah).
c) Transfusi dan infuse : Monitor flabot sudah habis apa belum.
d) Pengeluaran urin : Normalnya pasien akan mengeluarkan urin sebanyak 1 cc/kg
BB/jam.
3. Pengkajian fase Post Operatif
a) Status respirasi : Meliputi : kebersihan jalan nafas, kedalaman pernafasaan,
kecepatan dan sifat pernafasan dan bunyi nafas.
b) Status sirkulatori : Meliputi : nadi, tekanan darah, suhu dan warna kulit.
c) Status neurologis : Meliputi tingkat kesadaran.
d) Balutan Meliputi : keadaan drain dan terdapat pipa yang harus disambung
dengan sistem drainage.
e) Kenyamanan Meliputi : terdapat nyeri, mual dan muntah
f) Keselamatan Meliputi : diperlukan penghalang samping tempat tidur, kabel
panggil yang mudah dijangkau dan alat pemantau dipasang dan dapat berfungsi.
g) Perawatan Meliputi : cairan infus, kecepatan, jumlah cairan, kelancaran cairan.
Sistem drainage : bentuk kelancaran pipa, hubungan dengan alat penampung, sifat
dan jumlah drainage.
h) Nyeri Meliputi : waktu, tempat, frekuensi, kualitas dan faktor yang
memperberat / memperingan.
H. DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Ansietas
2. Defisit pengetahuan
3. Resiko aspirasi
4. Bersihan jalan nafas tidak efektif
5. Resiko syok
6. Resiko jatuh
7. Gangguan integritas kulit/jaringan
8. Nyeri akut
9. Hipotermia
10. Resiko infeksi
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth. (2013). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah vol 2. Jakarta: EGC.

Potter & Perry (2010). Buku Ajar Fundamental Keperawatan vol 2. Jakarta : EGC
Baradero, M. (2009). Keperawatan Perioperatif: Prinsip Dan Praktik. Jakarta EGC
NO DIAGNOSA KEPERAWATAN SLKI SIKI
1 Ansietas Dalam waktu 3x24 jam kondisi emosi dan REDUKSI ANSIETAS
Definisi: kondisi emosi dan pengalaman emosi dan pengalaman subjektif Observasi
pengalaman subyektif individu terhadap objek yang tidak jelas dan spesifik - Identifikasi saat tingkat ansietas berubah.
terhadap objek yang tidak jelas akibat antisipasi bahaya yang memungkinkan - Identifikasi kemampuan mengambil keputusan.
dan spesifik akibat antisipasi individu melakukan tindakan untuk - Monitor tanda-tanda ansietas.
bahaya yang memungkinkan menghadapi ancaman dengan ekspektasi Terapeutik
individu melakukan tindakan menurun. - Ciptakan suasana terapeutik untuk menumbuhkan
untuk menghadapi ancaman. kepercayaan.
Kriteria hasil: - Temani pasien untuk mengurangi kecemasan, jika perlu
1. Verbalisasi kebingungan menurun. - Pahami situasi yang membuat ansietas dengarkan
2. Perilaku gelisah menurun. dengan penuh perhatian.
3. Perilaku tegang berkurang. - Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
4. Keluhan pusing berkurang. - Tempatkan barang pribadi yang memberikan
5. Tidak anoreksia. kenyamanan.
6. Tidak palpitasi. - Motivasi mengidentifikasi situasi yang memicu
7. Frekuensi pernafasan normal. kecemasan.
8. Frekuensi nadi normal. - Diskusikan perencanaan realistis tentang peristiwa yang
9. Tekanan darah normal. akan datang.
10. Tidak diaforesis. Edukasi
11. Tidak tremor. - Jelaskan prosedur,termasuk sensasi yang mungkin
12. Tidak pucat. dialami.
13. Konsentrasi membaik. - Informasikan secara faktual mengenai diagnosis,
14. Pola tidur membaik. pengobatan dan prognosis.
- Anjurkan keluarga untuk bersama pasien, jika perlu.
- Anjurkan mengungkapkan perasaan dan persepsi.
- Latih kegiatan pengalihan untuk mengurangi
ketegangan.
- Latih teknik relaksasi.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian obat antlansietas, jika perlu.
2 Resiko syok Dalam waktu 3x24 jam ketidakcukupan PENCEGAHAN SYOK
Definisi: beresiko mengalami aliran darah ke jaringan tubuh, yang dapat Observasi
ketidakcukupan aliran darah ke mengakibatkan disfungsi seluler ang - Monitor status kardiopulmonal.
jaringan tubuh, yang dapat mengancam jiwa dengan ekspektasi menurun. - Monitor status oksigenasi.
mengakibatkan disfungsi seluler - Monitor status cairan.
yang mengancam jiwa. Kriteria hasil: - Monitor tingkat kesadaran dan respon pupil.
1. Kekuatan nadi meningkat. - Periksa riwayat alergi.
2. Output urine meningkat. Terapeutik
3. Tingkat kesadaran membaik. - Berikan oksigen untuk mempertahankan saturasi
4. Saturasi oksigen meningkat. oksigen >94%.
5. Akral tidak dingin. - Persiapkan intubasi dan ventilasi mekanis, jika perlu.
6. Tidak pucat. - Pasang jalur IV, jika perlu.
7. Tidak konfusi. - Pasang kateter urine untuk menilai produksi urin, jika
8. Tidak letargi. perlu.
9. Tidak asidosis metabolik. - Lakukan skin test untuk mencegah reaksi alergi.
10. MAP membaik. Edukasi
11. Tekanan darah sistolik membaik. - Jelaskan penyebab/ faktor resiko syok.
12. Tekanan darah diastolik membaik. - Jelaskan tanda dan gejala awal syok.
13. Tekanan nadi membaik. - Anjurkan melapor jika menemukan/merasakan tanda
14. Pengisian kapiler baik. dan gejala awal syok.
15. Frekuensi napas membaik. - Anjurkan memperbanyak asupan cairan oral.
16. Frekuensi nadi membaik. - Anjurkan menghindari alergen.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian IV, jika perlu.
- Kolaborasi pemberian tranfusi darah, jika perlu.
- Kolaborasi pemberian antiinflamasi, jika perlu.
3 Nyeri akut Dalam waktu 3x24 jam pengalaman sensorik MANAJEMEN NYERI
Definisi: pengalaman sensorik atau emosional yang berkaitan dengan Observasi
atau emosional yang berkaitan kerusakan jaringan aktual atau fungsional, - Identifikasi lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi,
dengan kerusakan jaringan aktual dengan onset mendadak/lambat kualitas, intensitas nyeri.
atau fungsional, dengan onset &berintensitas ringan hingga berat & konstan - Identifikasi skala nyeri.
mendadak/lambat &berintensitas dengan ekspektasi menurun. - Identifikasi respon nyeri non verbal.
ringan hingga berat yang - Identifikasi faktor yang memperberat dan
berlangsung kurang dari 3 bulan. Kriteria hasil: memperingan nyeri.
1. Keluhan nyeri menurun. - Identifikasi pengetahuan dan keyakinan tentang nyeri.
2. Tidak meringis. - Identifikasi pengaruh budaya terhadap respon nyeri.
3. Tidak bersikap protektif. - Identifikasi pengaruh nyeri pada kualitas hidup.
4. Tidak gelisah. - Monitor keberhasilan terapi komplementeryang sudah
5. Tidak kesulitan tidur. diberikan.monitor efek samping penggunaan analgesik.
6. Tidak menarik diri. Terapeutik
7. Tidak berfokus pada diri sendiri. - Berikan teknik non farmakologis untuk mengurangi
8. Tidak ada ketegangan otot. rasa nyeri.
9. Tidak ada dilatasi pupil. - Kontrol lingkungan yang memperberat rasa nyeri.
10. Tidak mual. - Fasilitasi istirahat dan tidur.
11. Tidak muntah. - Pertimbangkan jenis dan sumber nyeri dalam
12. Pola nafas membaik. pemilihan strategi meredakan nyeri.
13. Tekanan darah membaik. Edukasi
14. Nafsu makan membaik. - Jelaskan penyebab, periode dan pemicu nyeri.
15. Pola tidur membaik. - Jelaskan strategi meredakan nyeri.
- Anjurkan memonitor nyeri secara mandiri.
- Anjurkan menggunakan analgesik secara tepat.
- Ajarkan teknik nonfarmakologis untuk mengurangi
rasa nyeri.
Kolaborasi
- Kolaborasi pemberian analgesik, jika perlu.