Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dalam suatu tumbuhan daun biasanya terdapat pada batang dan
cabang-cabangnya. Ada pula daun-daun suatu tumbuhan yang berjejal-jejal
pada suatu bagian batang yaitu pada pangkal batang atau pada ujung-
ujungnya setiap tumbuhan memiliki system percabangan yang berbeda-
beda. Misalkan pada pohon papaya, pohon sirkaya, dan bunga asoka. Dari
ketiga jenis tumbuhan tersebut terlihat jelas perbedaan system percabangan
serta tata letak daun pada batang. Dari perbedaan tata letak daun inilah
maka, setiap tumbuhan memiliki system phyllotaxis yang berbeda. Dari
phyllotaxis ini dapat ditentukan rumus daun serta diagram duduk daun pada
tumbuhan. Untuk tumbuhan yang sejenis (misal semua pohon papaya) akan
kita dapati tata letak daun yang sama. Oleh karena itu dapat kita gunakan
sebagai tanda pengenal suatu tumbuhan. (Rosanti, 2013.)
Tata letak daun pada batang (Phyllotaxis atau Disposito Foliorum).
Bagian batang atau cabang tempat duduknya daun disebut buku-buku
batang (nodus). Dan bagian ini seringkali tampak sebagai bagian batang
yang sedikit membesar dan melingkar batang sebagai suatu cincin, seperti
pada bambu (Bambusa sp.), tebu (Saccharum officinarum L.), dan semua
rumput pada umumnya. Duduknya daun pada batang memiliki aturan yang
disebut tata letak daun. Untuk mengetahui bagaimana tata letak daun pada
batang, harus ditentukan dulu berapa jumlah daun yang terdapat pada suatu
buku-buku batang. (Tjitrosoepomo, 1983.)
B. Rumusan Masalah
Adapun masalah yang akan di bahas dalam makalah ini yaitu:
1. Bagaimana tata letak daun pada batang (phyllotaxis)?
2. Apa saja Jenis-Jenis Phyllotaxis?
3. Bagaimana Bagan (skema) dan diagram pada Phyllotaxis?
`
C. Tujuan
Adapun tujuan di buatnya makalah ini yaitu:
1. Untuk mengetahui tata letak pada daun pada batang.
2. Untuk mengetahui Jenis-Jenis Phyllotaxis.
3. Untuk mengetahui bagan dan diagram pada Phyllotaxis.

1
2
BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Tata Letak Daun pada Daun (Phyllotaxis)


Tata letak daun atau Phyllotaxis adalah aturan tata letak daun pada
batang. Pada batang dewasa, daun tampak tersusun dalam pola tertentu dan
berulang-ulang. Susunan daun pada batang tersebut disebut duduk daun
atau phyilotaxis. Istilah phyilotaxis sebenarnya merupakan istilah yang
digunakan untuk menyatakan urutan terbentuknya daun pada batang, tetapi
dikarenakan urutan daun tersebut tampak jelas setelah daun maupun batang
yang ditempatinya mengalami pendewasaan, maka istilah tersebut
digunakan secara umum untuk menyatakan susunan daun pada batang.
Susunan daun dari suatu tumbuhan biasanya bersifat konstan. Susunan daun
pada batang biasanya turut ditentukan oleh banyaknya helai daun yang
terbentuk dalam suatu nodus (buku). Untuk itu, daun dapat dibentuk secara
tunggal bila ada satu helai daun pada setiap buku, berpasangan bila ada dua
helai daun pada setiap buku, atau dalam karangan bila terdapat tiga helai
daun atau lebih pada setiap buku.
B. Jenis-jenis Phyllotaxis
Jenis-jenis Phyllotaxis ditentukan dari pola duduknya daun pada
buku batang, seperti yang telah dijelaskan di atas. Berdasarkan pola
duduknya daun, Phyllotaxis dibedakan menjadi tiga jenis yaitu folia sparsa,
folia opposita, dan folia verticillata.
1. Folia Sparsa

Pada pola yang pertama, di mana pada satu buku batang duduk hanya
satu tangkai daun. Maka pola seperti ini dikenal sebagai pola daun
duduk tersebar (folia spara). Biasanya daun tersusun bersalang-seling.
Susunan tangkai daun dapat berselang-selang teratur atau tidak
beraturan. Walaupun disebut tersebar namun jika diteliti ternyata ada
hal-hal yang sifatnya teratur. Jika suatu tumbuhan batangnya dianggap
mempunyai bentuk silinder, buku-buku batang sebagai lingkaran-
lingkaran dengan jarak teratur pada silinder tadi, dan tempat duduknya

3
daun merupakan suatu titik pada lingkaran tersebut, maka akan
ditemukan hal-hal berikut.

1) Jika diambil salah satu titik (tempat duduk daun) sebagai titik
tolak, dan bergerak mengikuti garis yang menuju titik duduk
daun pada buku-buku batang di atasnya dengan mengambil
jarak terpendek, demikian seterusnya, pada suatu saat akan
sampai pada suatu daun yang letaknya tepat pada garis vertikal
di atas daun pertama yang digunakan sebagai titik tolak.

2) Jika berputar mengikuti garis spiral yang melingkari batang


tadi, pada perjalanan melingkar sampai tercapainya daun yang
tegak lurus di atas titik tolak, akan melewati beberapa daun.
Kejadian ini akan selalu berulang kembali walaupun dengan
daun yang lain sebagai titik tolak. Jadi mengenai tata letak
daun jelas ada ciri-ciri khas yang bersifat beraturan.

Perbandingan antara banyaknya kali garis spiral tersebut di atas


melingkari batang dengan jumlah daun yang dilewati selama sekian kali
melingkar batang (daun pada titik tolak tidak dihitung) merupakan
suatu pecahan yang bernilai tetap untuk 1 jenis tumbuhan.

Jika untuk mencapai daun yang tegak lurus dengan daun titik
tolak garis spiral tadi mengelilingi batang sebanyak A kali, dan jumlah
daun yang dilewati sebanyak B daun, maka perbandingan kedua
bilangan tadi merupakan pecahan A/B, disebut rumus daun (divergensi).

Telah diterangkan di atas bahwa untuk mencapai 2 daun yang


tegak lurus satu sama lain telah dilewati sebanyak B daun, berarti pada
batang terdapat pula sebanyak B garis-garis tegak lurus (garis vertikal)
yang disebut ortistik. Garis spiral yang diikuti melingkar batang
merupakan suatu garis yang menghubungkan daun-daun berturut-turut

4
dari bawah ke atas, menurut urutan tua mudanya daun. Garis spiral ini
disebut spiral genetik.

Pecahan A/B dapat menunjukkan jarak sudut antara 2 daun


berturut-turut, jika diproyeksikan pada bidang datar. Jarak sudut antara
2 daun berturut-turut pun tetap dan besarnya adalah A/B x besarnya
lingkaran = A/B x 3600 disebut sudut divergensi.

Pada berbagai jenis tumbuhan, pecahan A/B dapat terdiri atas


pecahan: 1/2, 1/3, 2/5, 3/8, 5/13, 8/21 dst. Jika diamati deretan pecahan
tersebut dapat merupakan rumus daun suatu jenis tumbuhan yang
memperlihatkan sifat berikut:

Tiap suku di belakang suku kedua (suku ketiga dst.) merupakan


suatu pecahan yang pembilangnya dapat diperoleh dengan menjumlah
kedua pembilang dua suku di depannya, demikian juga penyebutnya
yang merupakan hasil penjumlahan kedua penyebut dua suku di
depannya.

Tiap suku dalam deret merupakan suatu pecahan yang


penyebutnya merupakan selisih antara penyebut dan pembilang suku di
depannya, sedangkan penyebutnya adalah jumlah penyebut suku di
depannya dengan pembilang suku itu sendiri.

Deretan rumus daun yang memperlihatkan sifat karakteristik


disebut deret Fibonacci (dinamai sesuai dengan penemu deret tersebut).

Pada tumbuhan dengan tata letak daun tersebar, kadang terlihat


daun-daun yang duduknya rapat berjejal-jejal, yaitu jika ruas-ruas
batang sangat pendek sehingga duduk daun pada batang tampak hampir
sama tinggi dan sulit untuk menentukan urut-urutan tua mudanya. Daun

5
dengan susunan yang demikian disebut roset (rosula). Roset dibedakan
menjadi 2:

1) Roset Akar, jika batang sangat pendek sehingga semua daun


berjejal-jejal di atas tanah, jadi roset sangat dekat dengan akar.
Misalnya pada semak unta (Trichodesma zeylanicum Burm. F)

2) Roset Batang, jika daun yang rapat dan berjejal-jejal terdapat


pada ujung batang. Misalnya pada pohon Kelapa (Cocos
nucifera L.) dan jenis palma lainnya.

Pada cabang yang mendarat atau serong ke atas, daun dengan tata
letak tersebar teratur sedemikian rupa sehingga helaian daun pada
cabang tersebut teratur pada suatu bidang datar membentuk pola
mozaik (pola karpet) yang disebut mosaik daun.

Bagi cabang-cabang yang mendatar mosaik daun terjadi karena


semua daun terlentang ke kiri dan ke kanan menggunakan bidang datar
tersebut seefektif mungkin. Letak daun-daun yang demikian misalnya
pada pohon Alnus.

Bagi cabang-cabang yang tumbuh serong ke atas, daun-daun yang


tata letaknya tersebar menempatkan helaian-helaian daun pada suatu
bidang datar pada ujung cabang, helaian daun muda di tengah dan ke
pinggir daun-daun yang lebih tua (biasanya lebih lebar). Hal tersebut
karena tangkai daun-daun menuju ke ujung cabang menjadi semakin
pendek. Contohnya pada pohon Kemiri (Aleurites moluccana Willd.)
dan berbagai jenis Begonia tertentu.

Tata letak daun tersebar yang mengikuti rumus 1/2 oleh sementara
penulis dipisahkan dari tata letak daun yang tersebar umumnya, dan
disebut duduk daun berseling (folia distica), misalnya pada pohon Talok
(Muntingia calabura L.), Srikaya (Annona squamosa L.), dll

6
2. Folia Opposita

Pada pola kedua, setiap buku daun diduduki dua tangkai daun. Pada
pola ini daun duduk berpasang-pasangan atau berhadap-hadapan
sehingga disebut juga Folia Opposita. Contonya dapat ditemukan pada
beberpa jenis tumbuhan bakau seperti:

a) Bakau (Rhizophora mucronata)

b) Api-api (Avicennia sp.)

c) Tunjang (Xylocarpus mekongensis)


Beberapa jenis tumbuhan dari suku jambu-jambuan (familia Myrtaceae)
yaitu sebagai berikut:
a) Salam (Syzygium polyanthum)
b) Jambu air (Eugenia aquatica)
c) Jambu biji (Pisdium guajava)

Ada juga beberapa daun memiliki Folia Opposita yang saling


bersilangan antara satu buku dengan buku yang lainnya. Misalnya pada
buku pertama, ketiga, kelima dan seterusnya posisi daun saling
berhadapan. Pada buku kedua, keempat, keenam dan seterusnya posisi
daun yang berhadapan memutar 90º dari posisi daun-daun yang berada
pada buku di atas dan di bawahnya tersebut. Duduk daun seperti ini
dinamakan berhadapan bersilanga. Contonya:

a) Mengkudu (Morinda citrifolia)

b) Bunga asoka (Ixora javanica)

c) Tapak dara (Catharanthus roseus)

3. Folia Verticillata

Pada pola yang ketiga, pada setiap daun terdapat tiga atau lebih daun
yang duduk di sana. Pola seperti ini dinamankan sebagai daun yang
berkarang disebut Folia Verticillata. Pada beberapa buku determinasi

7
tumbuhan, pola berkarang sering di sebut sebagai karang daun. Contoh
daun berkarng dengan tiga daun pada satu bukunya dapat ditemukan
pada:

a) Oleander (Nerium oleander)

b) Kaca piring (Gardenia augusta)

Sedangkan tumbuhan berkarang lebih dari tiga daun pada satu


bukunya dapat ditemukan pada :

a) Alamanda (Allamanda cathartica)

b) Pulai (Alstonia schorllis)

C. Bagan (skema) dan diagram tata letak daun

Adapun bagan dan diagram pada tata letak daun pada batang sebagai
berikut:

1. Bagan Tata Letak Daun

Batang tumbuhan digambarkan sebagai silinder dan padanya


digambar membujur ortostik-ortostiknya demikian pula buku-buku
batangnya. Daun-daun digambar sebagai penampang melintang
helaian daun yang kecil. Pada bagan akan terlihat misalnya pada daun
dengan rumus 2/5 maka daun-daun nomor 1, 6, 11, dst atau daun-daun
nomor 2, 7, 12, dst akan terletak pada ortostik yang sama.

8
2. Diagram Tata Letak Daun
Untuk membuat diagramnya batang tumbuhan harus dipandang
sebagai kerucut yang memanjang, dengan buku-buku batangnya
sebagai lingkaran-lingkaran yang sempurna. Pada setiap lingkaran
berturut-turut dari luar kedalam digambarkan daunnya, seperti pada
pembuatan bagan tadi dan di beri nomor urut. Dalam hal ini perlu
diperhatikan, bahwa jarak antara dua daun adalah 2/5 lingkaran, jadi
setiap kali harus meloncati satu ortostik. Spiral genetikya dalam
diagram daun akan merupakan suatu garis spiral yang putarannya
semakin keatas digambar semakin sempit.

9
BAB II

PENUTUP

A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan dapat disimpulkan bahwa tata letak daun
(Phyllotaxis) adalah aturan tata letak daun pada batang dan tata letak daun
pada batang berlaku pada setiap buku-buku hanya terdapat satu daun saja,
tiap buku-buku batang terdapat dua daun yang berhadap-hadapan dan setiap
buku-buku batang terdapat lebih dari dua daun. Untuk mengetahui bagan
tata letak daun batang tumbuhan digambarkan sebagai silinder dan padanya
digambar membujur ortostik-ortostiknya demikian pula buku-buku
batangnya. Daun-daun digambar sebagai penampang melintang helaian
daun yang kecil sedangkan untuk membuat diagram daun Untuk membuat
diagramnya batang tumbuhan harus dipandang sebagai kerucut yang
memanjang, dengan buku-buku batangnya sebagai lingkaran-lingkaran yang
sempurna.
B. Saran
Sebaiknya penulis dalam mengerjakan makalah ini hendaknya
menggunakan referensi yang lebih banyak dan harapan penulis kepada
pembaca yaitu agar mampu memahami tata letak daun pada batang.

10
DAFTAR PUSTAKA

http://belajar-di-rumah.blogspot.com/2015/03/tata-letak-daun-pada-batang.html#
http://ekplorasialam.blogspot.com/2016/12/tata-letak-daun-pada-batang.html
http://noopitasari.blogspot.com/2015/06/morfologi-tumbuhan-tata-letak-
daun.html
https://id.scribd.com/document/378433840/Makalah-Bagan-Skema-Tata-Letak-
Daun
Rosanti, dewi. 2013, Morfologi Tumbuhan, Jakarta : Erlangga
Tjitrosoepomo, Gembong. 2007, Morfologi Tumbuhan, Yogyakarta : Gadjah
Mada University press

11

Anda mungkin juga menyukai