Anda di halaman 1dari 15

TUGAS MANDIRI:

EVALUASI PEMBELAJARAN
DI SD

RANGKUMAN
MODUL 3 & 4

DISUSUN OLEH :
FEBI ANDIKA RAMDAN
836382778
MODUL 3
PENGEMBANGAN ASESMEN ALTERNATIF

Kegiatan Belajar 1
Konsep Dasar Asesmen Alternatif

A. Latar Belakang
Penggunaan asesmen alternative dalam penilaian hasil belajar siswa muncul pada tahun 1980-an,
sebagai akibat banyaknya kritik terhadap asesmen tradisional yang hanya menggunakan tes tertulis. Tes
tertulis hanya dapat digunakan untuk mengukur hasil belajar dalam ranah kognitif dan keterampilan
sederhana.
Masih sering kita temukan banyaknya kasus tes tengah semester atau tes akhir semester yang
perangkat tesnya sudah disediakan oleh pihak Dinas Pendidikan bukan disiapkan oleh guru yang
bersangkutan. Kondisi seperti itu menunjukkan bahwa tes hasil belajar merupakan bagian yang terpisah dari
proses pembelajaran.
Menyadari kelemahan yang ada pada tes, beberapa ahli pendidikan berupaya untuk
mengintegrasikan penilaian dalam keseluruhan proses pembelajaran melalui proses penilaian yang dikenal
dengan asesmen alternatif. Grant P. Wiggins (1998) membedakan antara antara asesmen tradisional dan
asesmen alternatif, yaitu :
a. Asesmen tradisional (tes)
1. Penilaian dilakukan untukmenilai kemampuan siswa dalam memberikan jawaban yang benar.
2. Tes yang diberikan tidak berhubungan dengan realitas kehidupan siswa
3. Tes terpisah dari pembelajaran yang dilakukan siswa
4. Dapat diskor dengan realibilitas tinggi
5. Hasil tes diberikan dalam bentuk skor
b. Asesmen Alternatif
1. Penilaian dilakukan untuk menilai kualitas produk dan unjuk kerja siswa.
2. Tugas yang diberikan berhubungan dengan relitas kehidupan siswa
3. Ada integrasi antara pengetahuan dengan kinerja atau produk yang dihasilkan
4. Sulit diskor dengan reabilitas tinggi
5. Hasil asesmen alternatif diberikan dengan bukti kinerja

B. Langkah-Langkah Model Pembelajaran Portofolio


Penilaian dalam arti asesmen merupakan kegiatan untuk memperoleh informasi untuk pencapaian
dan kemajuan belajar siswa, sedangkan penilaian dalam arti evaluasi merupakan kegiatan yang dirancang
untuk mengukur keefektifan sistem pendidikan secara keseluruhan.
Jadi asesmen merupakan kegiatan untuk mengumpulkan informasi hasil belajar siswa yang
diperoleh dari berbagai jenis tagihan dan mengolah informasi tersebut untuk menilai hasil belajar dan
perkembangan belajar siswa.
Ada beberapa istilah yang berkaitan dengan asesmen yaitu :
1. Traditional Assessment (Asesmen Tradisional), mengacu pada tes tertulis. Asesmen tradisional hanya
mengukur hasil belajar siswa dengan menggunakan satu jenis alat ukur yaitu tes tertulis.
2. Performance Assessment (Asesmen kinerja), merupakan asesmen yang menghendaki siswa untuk
mendemonstrasikan kemampuannya baik keterampilan atau pengetahuan dalam bentuk kinerja nyata.
3. Autentic Assessment, merupakan asesmen yang menuntut siswa mampu menerapkan pengetahuan dan
keterampilannya dalam kehidupan nyata di luar sekolah.
4. Portfolio Assessment (Asesmen portofolio), merupakan hasil karya siswa yang dikumpulkan dan disusun
secara sistematis yang menunjukkan upaya, proses, hasil dan kemajuan belajar yang dilakukan siswa dari
waktu ke waktu.
5. Achievement Assessment, merupakan pengertian umum terhadap semua usaha untuk mengukur,
mengetahui dan mendeskripsikan hasil kerja siswa untuk memperoleh informasi hasil dan kemajuan
belajar siswa.
6. Alternative Assessment, merupakan asesmen yang tidak hanya bergantung pada tes tertulis yang
meruppakan alternatif dari asesmen tradisional.

C. Landasan Psikologis
Asesmen alternatif dilaksanakan berdasarkan teori belajar khususnya dari aliran psikologis kognitif.
Beberapa teori belajar yang digunakan sebagai landasan dalam pelaksanaan asesmen alternatif adalah :
1. Teori Fleksibilitas Kognitif dari R. Spiro (1990)
Teori ini beranggapan bahwa hakikat belajar adalah kompleks.
2. Teori Belajar Bruner (1966)
Menurut Bruner, belajar merupakan suatu proses aktif yang dilakukan siswa dengan cara mengkontruksi
sendiri gagasan baru atau konsep baru atas dasar konsep, pengetahuan dan kemampuan yang telah
dimiliki.
3. Generative Learning Model dari Osborne dan Wittrock (1983)
Inti dari teori ini adalah bahwa otak tidak hanya pasif menerima informasi tetapi aktif membentuk dan
menginterpresentasikan informasi serta menarik kesimpulan dari informasi-informasi tersebut.
4. Eksperiential Learning Theory dari C. Rogers (1969)
Teori ini membedakan dua jenis belajar yaitu cognitive learning yang berhubungan dengan pengetahuan
dan experiental learning yang berhubungan dengan pengalaman.
5. Multiple Intelegent Theory dari Howard Gardner (1983)
Menurut Gardner, ada deapan kemampuan pada setiap individu, yaitu : (1) Linguistic; (2) Logical-
mathematic; (3) Visual-spattial; (4) Bodily-kinesthetic; (5) Musical; (6) Intrapersonal; (7) Interpersonal;
(8) Naturalist.

D. Keunggulan dan Kelemahan Asesmen Alternatif


1. Keunggulan asesmen alternatif yaitu :
a. Dapat menilai hasil belajar yang kompleks dan keterampilan-keterampilan yang tidak dapat dinilai
dengan asesmen tradisional
b. Menyajikan hasil penilaian yang lebuh hakiki, langsung dan lengkap
c. Meningkatkan motifasi siswa
d. Mendorong pelajaran dalam situasi yang nyata
e. Memberi kesempatan kepada siswa untuk selfevalution
f. Membantu guru untuk menilai efektifitas pembelajaran yang telah dilakukan
g. Meningkatkan daya transferabilitas hasil belajar
2. Kelemahan asesmen alternatif yaitu :
a. Membutuhkan banyak wakttu
b. Adanya unsure subjektifitas dalam penskoran
c. Ketetapan penskoran rendah
d. Tidak tepat untuk kelas besar
Kegiatan Belajar 2
Bentuk Asesmen Kinerja

Bentuk utama dari asesmen kinerja terdiri dari dua yaitu tugas (Task) dan criteria penskoran (rubric).

A. Tugas (Task)
Jenis-jenis tagihan tentang keberhasilan siswa dalam unjuk kerja yaitu :
1. Computer adaptive testing
Computer adaptive testing adalah tes berbatuan computer untuk menilai hasil belajar siswa.
2. Tes pilhan ganda yang diperluas
Tes pilihan ganda yang diperluas adalah tes pilihan ganda dalam pengerjaan siswa untuk memilih salah
satu jawaban yang paling tepat dan memberikan alasan.
3. Tes uraian terbuka (open ended question)
Tes uraian dugunakan untuk pemberian tugas dalam asesmen kinerja dengan menilai kemampuan siswa
dalam penalaran, logika, menuangkan ide dalam bentuk tulisan.
4. Tugas individu
Tugas individu adalah tugas yang harus dikerjakan guru untuk menilai kinerja anak selama mengerjakan
tugas dan menilai produk.
5. Tugas kelompok
Tugas kelompok adalah tugas yang harus dikerjakan secara berkelompok, tugas guru adalah melakukan
pengamatan terhadap kinerja kelompok.
6. Proyek
Tugas yang diberikan guru (secara individu atau kelompok) untuk menyelesaikan tugas-tugas yang
kompleks dalam waktu tertentu.
7. Interview
Tugas yang diberikan guru kepada siswa baik secara individu atau kelompok dengan membuat laporan
hasil wawancara.

8. Pengamatan
Pengamatan adalah tugas yang diberikan kepada siswa baik secara individu atau kelompom untuk
melakukan pengamatan terhadap sesuatu yang ditugaskan. Langkah langkah yang harus diperhatikan guru
dalam menyusun tugas adalah :
a. Mengidentifikasi pengetahuan dan keterampilan yang akan dimiliki siswa setelah mengerjakan tugas.
b. Merancang tugas yang memungkinkan siswa menunjukan kempauan berpikir dan keterampilan.
c. Menetapkan criteria keberhasilan.

B. Kriteria Penilaian (Rubric)


Kriteria penskoran pada tes adalah jawaban yang benar harus ada pada jawaban siswa. Asesmen
kinerja tidak menggunakan criteria penskoran yang berisi konsep ata kata kunci yang merupakan jawaban
benar atas pertanyaan.
Menurut Donna Szpyrka dan Eliyn B Smith yang dikutip oleh Zainul. A (2001) terdapat beberapa
langkah-langkah yang perlu diperhatikan :
1. Menentukan konsep
2. Merumuskan atau mengidentifikasikan dan menentukan urutan konsep yang akan dinilai.
3. Menentukan tugas yang akan dinilai
4. Menentukan skala yang akan digunakan
5. Mendeskripsikan kinerja yang diharapkan
6. Melakukan uji coba
7. Melakukan revisi berdasar hasil uji coba.
Menurut Chicago Public School (CPS) menjelaskan langkah-langkah dalam pengembangan rubric
yaitu :
1. Guru bersama teman sejawat menentukan dimensi kerja yang dinilai
2. Mengidentifikasi adanya dimensi kerja yang belum tercantum
3. Merevisi dimensi-dimensi kerja menjadi tepat
4. Membuat definisi setiap dimensi kerja
5. Menentukan skala dan dimensi yang dinilai
6. Melakukan penilaian terhadap rubric
7. Melakukan uji coba untuk mengetahui rubric
8. Melakukan sosialisasi dengan melibatkan pihak terkait.
Kegunaan rubric dapat dibedakan menjadi dua yaitu :
a) Holistic Rubric
Holistic rubric adalah rubric yang deskripsi dimensi kinerjanya dibuat secara umum.
b) Analitic Rubric
Analytic Rubric adalah rubric yang dimensi atau aspek kinerjanya dibuat lebih rinci setiap aspek
kinerjanya.
Kegiatan Belajar 3
Asesmen Portofolio

A. Pengertian dan TUjuan Portofolio


Portofolio adalah kumpulan hasil karya siswa yang disusun secara sistematis yang menunjukkan
upaya, proses, hasil dan kemajuan belajar yang dilakukan siswa dari waktu ke waktu.
Secara lebih rinci karakteristik portofolio adalah :
1. Asesmen portofolio adalah asesmen yang menuntut adanya kerja sama antara murid dengan guru.
2. Asesmen portofolio tidak hanya sekedar kumpulan hasil karya siswa tetapi yang terpenting adalah adanya
proses seleksi yang dilakukan berdasar criteria tertentu untuk dimasukkan ke dalam kumpulan hasil karya
siswa.
3. Hasil karya siswa dikumpulkan dari waktu ke waktu.
4. Kritertia penilaian yang digunakan harus jelas baik bagi guru ataupun bagi siswa dan ditetapkan secara
konsisten.
Menurut Jon Mueller tujuan penggunaan portofolio adalah :
1. Portofolio yang bertujuan untuk menunjukkan perkembangan hasil belajar siswa.
2. Menunjukkan kemampuan siswa secara langsung
3. Menilai secara keseluruhan pencapaian belajar siswa.
Portofolio tidak dimaksudkan untuk membandingkan hasil kerja siswa tetapi portofolio
dimaksudkan untuk member gambaran terhadap hasil kerja keras yang telah dilakukan siswa untuk mencapai
standar penilaian yang telah disepakati bersama antara siswa dengan guru.
Ada beberapa komponen penting yang harus diperhatikan dalam menggunakan portofolio sebagai
asesmen :
1. Portofolio hendaknya memiliki criteria penilaian yna gjelas, spesifik dan berorientasi pada research based
criteria.
2. Untukmenilai kemampuan dan keterampilan siswa dapat digunakan berbagai sumber informasi yang
mengenal dengan baik kemampuan dan keterampilan siswa.
3. Untuk mendesain portofolio perlu diperhatikan berbagai cara yang digunakan untuk mengumpulkan
bukti-bukti yang dikontribusi terhadap portofolio.
4. Portofolio dapat terdiri dari berbagai bentuk informasi.
5. Kualitas portofolio harus ditingkatkan dari waktu ke waktu.
6. Setiap mata pelajaran mungkin mempunyai bentuk portofolio yang berbeda.
7. Portofolio harus dapat diakses secara langsung.

B. Perencanaan Portofolio
Shakle et.al (1977) memberikan delapan pedoman yang harus diperhatikan pada saat merencanakan
portofolio :
1. Menentukan criteria dan atau standar yang akan digunakan sebagai dasar asesmen portofolio.
2. Menerjemahkan standar atau kriteria tersebut ke dalam rumusan-rumusan hasil belajar yang dapat
diamati.
3. Menggunakan kriteria, memeriksa ruang lingkup dan urutan materi dalam kurikulum untuk menentukan
perkiraan waktu yang diperlukan.
4. Menentukan orang-orang yang berkepentingan secara langsung dengan portofolio siswa.
5. Menentikan jenis-jenis bukti yang harus dikumpulkan.
6. Menentukan cara yang akan digunakan untuk pengambilan keputusan berdasar bukti yang dikumpulkan.
7. Menentukan system yang akan digunakan untuk membahas hasi portofolio.
8. Mengatur bukti-bukti portofolio berdasarkan umur, kelas atau isi agar kita dapat membandingkan.

C. Pelaksanaan Portofolio
Berdasarkan perencanaan yang telah dibuat dan disepakati dengan siswa maka tugas guru adalah
melaksanakan asesmen portofolio sesuai dengan apa yang telah direncanakan. Tugas guru adalah :
1. Mendorong dan memotivasi siswa,
2. Memonitor pelaksanaan tugas,
3. Memberikan umpan balik,
4. Memamerkan hasil portofoio siswa.

D. Pengumpulan Bukti Portofolio


Kumulan karya siswa dapat dikatakan sebagai portofolio jika kumpuan karya tersebut merupakan
representasi dari kumpulan karya terpilih yang menunjukkan pencapaian dan perkembangan belajar siswa
dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

E. Tahap Penilaian
1. Penilaian dimulai dengan menetapkan kriteria penilaian,
2. Kriteria penilaian yang telah disepakati diterapkan secara konsisten,
3. Hasil penilaian selanjutnya digunakan sebagai penentuan tujuan pembelajaran berikutnya
4. Penilaian dalam asesmen portofolio pada dasarnya dilakukan secara terus menerus atau
berkesinambungan
Kegiatan Belajar 4
Penilaian Ranah Afektif

A. Konsep Dasar

Kemampuan afektif merupakan bagian dari hasil belajar siswa yang sangat penting. Keberhasilan
pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotorik sangat ditentukan oleh kondisi afektif siswa. Sisiwa yang
memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran
tersebut. Sehingga mereka akan dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Fakta yang ada sampai saat
ini pembelajaran masih didominasi pada pengembangan ranah kognitif.
Menurut Krathwohl (dalam Bronlund and Linn, 1990), ranah afektif terdiri atas lima level yaitu : (1)
receiving; (2) responding; (3) valuing; (4) organization; (5) characterization. Level yang paling rendah adalah
receiving dan paling tinggi adalah characterization.
1. Receiving meruakan keinginan siswa untukmemperhatikan suatu gejala atau stimulus misalnya aktifitas
dalam kelas, buku atau musik,
2. Responding merupakan pertisipasi aktif siswa untuk merespon gejala yang dipelajari,
3. Valuing merupakan kemampuan siswa untuk memberikan nilai keyakinan, atau sikap dan menunjukkan
suatu derajat internalisasi dan komitmen,
4. Organization merupakan kemampuan siswa untuk mengorganisasi nilai yang satu dengan nilai yang lain,
5. Characterization merupakan level tertinggi dalam ranah afektif. Pada level ini siswa sudah memiliki
system nilai yang mampu mengendalikan perilaku sampai waktu tertentu hingga menjadi poa hidupnya.
Karakteristik yang penting dalam ranah afektif adalah sikap, minat, konsep diri, dan nilai.
1. Sikap
Menurut Fishbein dan Ajzen seerti dikutip oleh Mardapi (2004), sikap didefinisikan sebagai predisposisi
yang dipelajari untuk merespon secara postif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep atau
orang.
2. Minat
Menurut Getzel (dalam Mardapi, 2004) minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui
pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktifitas, pemahaman dan
keterapilan untuk tujuan perhatian dan pencapaian.
3. Konsep Diri
Konsep diri adalah penilaian yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan diri sendiri
(Smith dalam Mardapi, 2004)
4. Nilai
Nilai merupakan suatu keyakinan yang dalam tentang pembuatan tindakan atau perilaku yang dianggap
baik dan yang dianggap tidak baik (Rokeach dalam Mardapi, 2004)
B. Beberapa Cara Penilaian Rana Afektif

Menurut Emeson (dalam Nasution dan Suryanto, 2002), penilaian afektif dapat dilakukan dengan
cara :
1. Pengamatan langsung, yaitu dengan memperhatikan dan mencatat sikap dan tingkah laku siswa terhadap
sesuatu, benda, orang, gambar atau kejadian.
2. Wawancara dilakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka atau tertutup. Pernyataan tersebut
digunakan sebagai pancingan.
3. Angket atau kuisioner,, meruakan suatu perangkat pertanyaan atu isia,
4. Teknik Proyektil, merupakan tugs atau pekerjaan atau objek yang belum pernah dikenal siswa.
Rangkuman Modul 4

Pengumpulan dan Pengolahan Informasi Hasil Belajar

Kegiatan Belajar 1: (Mengumpulkan dan Mengolah Informasi Hasil Belajar)

1. Tujuan utama kegiatan penilaian adalah untuk mengetahui apakah kompetensi dasar yang telah diterapkan
sudah dapat dicapai oleh siswa atau belum.

2. Isi kisi-kisi pengukuran, yaitu:

a. Aspek yang akan diukur: kognitif, afektif, atau psikomotorik.

b. Jenis alat ukur yang digunakan: tes atau non-tes.

c. Teknik atau cara pengukurannya: tertulis, lisan atau perbuatan.

d. Cara penskoran serta pengolahannya.

3. Informasi hasil belajar siswa dapat dikumpulkan dengan berbagai bentuk penilaian, misalnya: tes tertulis
serta dari penilaian unjuk kerja.

4. Bentuk tes tertulis, terdiri dari: tes objektif dan tes uraian.

5. Bentuk penilaian unjuk kerja yaitu dinilai dengan cara pemberian tugas atau portofolio.

6. Pengumpulan informasi hasil belajar dari tes tertulis berasal dari: ulangan harian, tes tengah semester, dan
tes akhir semester.

7. Keunggulan tes objektif yaitu hasil tes dapat diperiksa sangat cepat dan tepat serta mempunyai ketetapan
hasil yang tinggi.

8. Cara pemeriksaan tes objektif yaitu dengan cara manual (membuat master kunci jawaban pada plastik
transparansi) atau dengan fasilitas komputer (dengan bantuan mesin pembaca (scanner machine)).

9. Kelemahan tes objektif yaitu adanya kemungkinan siswa menjawab hanya dengan menebak.

10. Cara meminimalkan kemungkinan siswa menebak jawaban yaitu dengan menggunakan formula tebakan
(guessing formula) yang bisa berakibat penurunan skor yang diperoleh jika siswa salah menjawab.
𝑆
11. Formula tebakan (guessing formula), yaitu: 𝑠𝑘𝑜𝑟 = 𝐵 − 𝑛−1,

dimana, B: jumlah jawaban benar

S: jumlah jawaban salah

n: banyaknya alternatif jawaban

12. Faktor-faktor yang menjadi permasalahan saat memeriksa hasil tes uraian (Hopkins, dkk., 1990), yaitu:
a. Ketidaktetapan pemeriksa dalam memberikan skor, dapat dihindari dengan cara memeriksa jawaban
setiap butir soal untuk seluruh siswa.

b. Adanya hallo effect, dapat dihindari dengan menutup nama dan nomor peserta tes.

c. Carry over effect, dapat dihindari dengan berpegang selalu pada pedoman penskoran.

d. Order effect, dapat dihindari dengan berpegang selalu pada pedoman penskoran.

e. Adanya efek penggunaan bahasa serta tulisan siswa, dapat dihindari dengan berpegang selalu pada
pedoman penskoran.

13. Tes uraian ada 2 jenis, yaitu tes uraian terbuka dan tes uraian terbatas.

14. Tes uraian terbuka adalah tes yang memiliki jawaban siswa yang bervariasi (beragam), sehingga pengaruh
subjektivitas pemeriksa dalam penskoran akan sangat tinggi.

15. Tes uraian terbatas adalah tes yang menuntut jawaban siswa terbatas sesuai dengan batasan-batasan dalam
butir soal, sehingga pengaruh subjektivitas pemeriksa dalam penskoran lebih rendah.

16. Pada tes uraian diharuskan untuk membuat pedoman penskoran.

17. Cara meminimalkan permasalahan pemeriksaan penskoran pada tes uraian, yaitu:

a. Lembar jawaban sebaiknya diperiksa oleh 2 orang, bertujuan untuk menjaga ketetapan hasil
pemeriksaan (reliabilitas).

b. Sebelum memeriksa lembar jawaban siswa, kedua pemeriksa harus duduk bersama, bertujuan untuk
menyamakan persepsi tentang kesesuaian antara butir soal dengan pedoman penskoran.

c. Butir soal dan pedoman penskoran yang telah disepakati harus diuji cobakan pada 5-10 lembar
jawaban siswa, yang diperiksa sendiri-sendiri terlebih dahulu setelah itu dicocokkan, jika hasilnya
mendekati maka berarti persepsi kedua pemeriksa sudah sama dan bisa dilanjutkan untuk diperiksa
semua lembar jawabannya.

18. Cara mengolah data tes objektif (tanpa formula tabakan) dalam bentuk persentase, yaitu:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑗𝑎𝑤𝑎𝑏𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟


𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑎𝑠𝑎𝑎𝑛 = 𝑥100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑏𝑢𝑡𝑖𝑟 𝑠𝑜𝑎𝑙

19. Cara mengolah data tes uraian dalam bentuk persentase, yaitu:

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑑𝑖𝑝𝑒𝑟𝑜𝑙𝑒ℎ 𝑠𝑖𝑠𝑤𝑎


𝑃𝑒𝑟𝑠𝑒𝑛𝑡𝑎𝑠𝑒 𝑝𝑒𝑛𝑔𝑢𝑎𝑠𝑎𝑎𝑛 = 𝑥100%
𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 𝑚𝑎𝑘𝑠𝑖𝑚𝑎𝑙

20. Pengumpulan informasi hasil belajar dari unjuk kerja siswa berupa unjuk kerja yang langsung diamati
guru, pembuatan laporan, pengumpulan hasil karya dan pengumpulan portofolio serta proses selama
menghasilkan karya.
21. Perolehan informasi hasil belajar unjuk kerja siswa melalui pedoman pengamatan yang dilengkapi kriteria
penskoran yang dikenal dengan rubrik.

22. Keterampilan pengolahan skor dari unjuk kerja siswa, yaitu:

a. Hitung jumlah skor maksimal dan minimal yang mungkin diperoleh siswa untuk semua indikator.

b. Jumlahkan skor yang diperoleh untuk semua indikator.

c. Bandingkan skor total yang diperoleh dengan standard yang telah ditetapkan.

d. Jika menghitung prosentase keberhasilan, dapat dilakukan dengan membagi skor yang diperoleh
dibagi dengan skor maksimal kali 100%.

Kegiatan Belajar 2: (Pendekatan dalam Pemberian Nilai)

1. Informasi hasil belajar yang diperoleh awalnya berupa skor mentah yang berupa data terserak (belum
beraturan).

2. Data hasil belajar siswa agar mudah dipahami perlu diatur dan ditata sedemikian rupa, misalnya diurutkan
mulai dari data terbesar sampai data terkecil, sehingga dapat dengan mudah melihat ranking siswa.

3. Jika jumlah siswa banyak, maka kumpulan data hasil belajar lebih mudah dipahami jika diolah dalam
bentuk tabel distribusi frekuensi.

4. Cara membuat daftar distribusi frekuensi, yaitu:

a. Tentukan rentang, yaitu data terbesar dikurangi dengan data terkecil.

b. Tentukan banyak kelas interval dengan aturan Sturges, yaitu: 𝐵𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠 = 1 + 3,3 log 𝑛, di
mana n adalah banyak data.
𝑅𝑒𝑛𝑡𝑎𝑛𝑔
c. Tentukan panjang kelas interval (p), dengan aturan sebagai berikut: 𝑝 = 𝑏𝑎𝑛𝑦𝑎𝑘 𝑘𝑒𝑙𝑎𝑠

d. Tentukan ujung bawah kelas interval untuk data terkecil.

e. Masukkan semua data ke dalam kelas interval, untuk memudahkan kerja bisa ditambahkan kolom
tally dan frekuensi.

5. Pendekatan dalam menginterpretasikan data hasil pengukuran terdiri dari Penilaian Acuan Norma (PAN)
dan Penilaian Acuan Kriteria (PAK).

6. Penilaian Acuan Norma (PAN) adalah suatu pendekatan penilaian di mana hasil belajar seorang siswa
dibandingkan dengan hasil belajar yang diperoleh kelompoknya.

7. Jika jumlah siswa sedikit, maka pengolahan data PAN dapat dilakukan dengan cara: memberikan nilai
tertinggi kepada siswa yang memperoleh skor tertinggi dan sebaliknya.
8. Jika jumlah siswa banyak (mencapai ratusan), maka pengolahan data PAN dapat menggunakan statistika
sederhana yaitu harga rata-rata (mean) dan simpangan baku (SB).

9. Mean dapat dihitung dengan rumus:

∑ 𝑥 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑒𝑙𝑢𝑟𝑢ℎ 𝑑𝑎𝑡𝑎


𝑀= =
𝑛 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑑𝑎𝑡𝑎

10. Simpangan baku (SB) dapat dihitung dengan rumus (Jenkins):

𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 1⁄6 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑜𝑚𝑝𝑜𝑘 𝑎𝑡𝑎𝑠 − 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑠𝑘𝑜𝑟 1⁄6 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎 𝑘𝑒𝑙𝑜𝑚𝑝𝑜𝑘 𝑏𝑎𝑤𝑎ℎ
𝑆𝐵 =
1⁄ 𝐽𝑢𝑚𝑙𝑎ℎ 𝑝𝑒𝑠𝑒𝑟𝑡𝑎
2

11. Semakin besar harga SB menunjukkan bahwa sebaran skor dari mean semakin besar, sehingga data
tersebut semakin heterogen.

12. Semakin kecil harga SB menunjukkan bahwa sebaran skor dari mean semakin kecil, sehingga data
tersebut semakin homogen.

13. Penilaian Acuan Kriteria (PAK) adalah suatu pendekatan penilaian yang mendasarkan pada pencapaian
setiap individu siswa terhadap standard keberhasilan yang telah ditetapkan terlebih dahulu.

14. Penentuan kriteria atau patokan berorientasi pada pencapaian kompetensi atau tujuan pembelajaran yang
telah ditetapkan.

15. Siswa yang mampu melampaui atau sama dengan kriteria keberhasilan yang telah ditetapkan, maka ia
dinyatakan berhasil. Apabila belum mencapai kriteria, maka ia dinyatakan belum berhasil.

16. Pembelajaran berbasis kompetensi penilaiannya harus menggunakan PAK.

17. Penilaian adalah serangkaian kegiatan yang dilakukan untuk memperoleh informasi tentang pencapaian
hasil belajar siswa dan menggunakan informasi tersebut untuk mencapai tujuan pendidikan.

18. Prinsip-prinsip penilaian, yaitu:

a. Berorientasi pada pencapaian kompetensi

b. Valid

c. Mendidik

d. Terbuka

e. Adil dan objektif

f. Berkesinambungan

g. Menyeluruh

h. Bermakna
19. Bentuk penilaian berbasis kompetensi, yaitu:

a. Penilaian dengan menggunakan angka

b. Penilaian dengan menggunakan kategori

c. Penilaian dengan uraian atau narasi

d. Penilaian kombinasi

20. Kriteria penilaian bisa diperoleh dengan menggunakan statistik sederhana yaitu median dan kuartil.

21. Median digunakan jika ingin mengelompokkan hasil penilaian menjadi 2 kelompok.

22. Kuartil digunakan jika ingin mengelompokkan hasil penilaian menjadi 3 kelompok.

23. Jenis alat ukur dan jenis tagihan antara lain:

a. Kuis, bentuknya berupa tes lisan atau isian singkat yang dilakukan sebelum pelajaran dimulai.

b. Pertanyaan lisan di kelas

c. Ulangan harian

d. Tugas individu atau kelompok

e. Ulangan semesteran

f. Laporan tugas atau laporan kerja

g. Ujian praktek

24. Pengambilan keputusan tentang hasil belajar siswa dilakukan dengan cara menggabungkan keseluruhan
komponen informasi hasil belajar siswa.

Anda mungkin juga menyukai