Anda di halaman 1dari 440

PEMBAHASAN

LATIHAN SOAL UKDI CLINIC I

OPTIMAPREP
BATCH AGUSTUS 2015
Office Address:
Jl Padang no 5, Manggarai, Setiabudi, Jakarta Selatan
(Belakang Pasaraya Manggarai)
Phone Number : 021 8317064
Pin BB 2A8E2925
WA 081380385694
Medan : dr. Widya, dr. Eno, dr. Yolina
Jl. Setiabudi No. 65 G, Medan dr. Cemara, dr. Reza
Phone Number : 061 8229229
Pin BB : 24BF7CD2 dr. Yusuf
www.optimaprep.com
ILMU PENYAKIT DALAM
1. Syok Anafilaktik
www.resus.org.uk/pages/reaction.pdf
2012.
2. Intoksikasi Kadmium

• Etiologi
– Digunakan dalam industri baterai, fotografi,
TV tabung dll

• Patogenesis:
– Dalam tubuh terakumulasi dalam ginjal dan
hati  terikat sebagai metalothionein
– Lebih beracun bila terhisap melalui saluran
pernafasan daripada saluran pencernaan

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/POLUSI DAN
LINGKUNGAN
2. Intoksikasi Kadmium
• Keracunan akut: menghisap debu dan asap kadmium oksida (CdO).
– Gejala: Gangguan saluran nafas, nausea, muntah, kepala pusing
dan sakit pinggang. Kematian disebabkan karena terjadinya edema
paru-paru. Apabila pasien tetap bertahan, akan terjadi emfisema
atau gangguan paru-paru yang jelas terlihat

• Keracunan kronis: Memakan atau inhalasi dosis kecil Cd dalam waktu


yang lama.
– Nefrotoksisitas karena tingginya afinitas jaringan ginjal terhadap
Kadmium
– Gangguan kardiovaskuler dan hipertensi
– Osteomalasea karena terjadi gangguan daya keseimbangan
kandungan kalsium dan fosfat dalam ginjal.

http://file.upi.edu/Direktori/FPIPS/LAINNYA/POLUSI DAN
LINGKUNGAN
3. Defisiensi G6PD
• Penderita defisiensi enzim G6PD yang dicurigai
melalui anamnesis ada keluhan atau riwayat
warna urin coklat kehitaman setelah minum obat
(golongan sulfa, primakuin, kina, klorokuin dan
lain-lain)  dosis mingguan 0,75mg/kgBB selama
8-12 minggu.

• Pengobatan malaria pada penderita dengan


Defisiensi G6PD segera dirujuk ke rumah sakit
dan dikonsultasikan kepada dokter ahli
Lampiran Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 5
Tahun 2013 Tentang Pedoman Tata Laksana Malaria
3. Defisiensi G6PD: Etiologi
Defisiensi G6PD
• Diturunkan melalui kromosom X
• Tidak dapat mengaktifkan jalur metabolik fantose-fosfat 
tidak dapat melawan stres oksidatif
• Hemolisis hanya terjadi bila terpapar obat yang berpotensi
oksidan, kacang fava, atau setelah infeksi  anemia hemolitik
akut, favism, neonatal jaundice, atau anemia kronis non-
hemolitik sferositik
• Gejala: kelelahan, sakit punggung, anemia, dan jaundice.
Peningkatan bilirubin tak terkonjugasi, laktat
dehidrogenase,dan retikulositosis adalah marker kelainan
tersebut

(Cappellini,2008)
Defisiensi G6PD
• Diagnosis
– Penilaian aktivitas enzim,secara kuantitatif dengan analisa
spektrofotometri dari produksi NADPH dari NADP
(Cappellini,2008)
– Dipikirkan juga jika ditemukan hemolisis akut pada laki-laki ras
afrika

• Terapi
– hemolisis terjadi self-limited sehingga tidak perlu terapi khusus
kecuali terapi untuk infeksi yang mendasari dan hindari zat
oksidan yang mencetuskan hemolisis serta mempertahankan
aliran ginjal yang adekuat karena adanya hemoglobinuria saat
hemolisis akut. Pada hemolisis berat mungkin diperlukan
transfusi darah

(Rinaldi,2009)
4. Acute Mountain Sickness
• Patogenesis:
– Atmosfer yang lebih tinggi tekanan barometrik ↓ Tiap
1x nafas: O2 menjadi lebih sedikit di setiap ketinggian 
Nafas lebih cepat & dalam  menyebabkan ↓ CO2
darah rangsangan untuk bernafas <<

• Proses aklimatisasi:
– Proses di mana tubuh seseorang menyesuaikan dengan
ketersediaan oksigen yang menurun di daerah dataran
tinggi. Seseorang yang akan pergi ke dataran tinggi
dianjurkan untuk pelan-pelan menapaki ketinggiannya,
bukan langsung mendarat di ketinggian tertentu sehingga
membuat badan kaget gejala AMS.
http://www.alma.nrao.edu/memos/html-memos/alma162/memo162.html#4
http://www.webmd.com/a-to-z-guides/altitude-sickness-topic-overview?page=2
http://www.traveldoctor.co.uk/altitude.htm
Acute Mountain Sickness
• High altitude: 1500 – 3500 meter di atas
permukaan air laut.
• Very high altitude: 3500 – 5500 meter di atas
permukaan air laut.
• Extremely high altitude: >5500 meter di atas
permukaan air laut.
5. GERD
• GERD
– Kondisi patologis dan cedera pada esofagus akibat
naiknya isi lambung/ GI
– Gejala
• Nyeri ulu hati; rasa terbakar yang menjalar dari
kerongkongan,regurgitasi, disfagia
• Terapi
– Modifikasi gaya hidup dan terapi farmakologis

GI-Liver secrets
5. Barrett’s Esophagitis
• Definisi: Epitel skuamosa pada distal esofagus
digantikan oleh epitel kolumnar (seperti pada
usus) dan memiliki sel goblet
• Merupakan komplikasi dari GERD
• Merupakan lesi premaligna dari adenokarsinoma
esofagus

NEJM 2002; 346: 836-842


Barrett’s Esofagitis

NEJM 2002; 346: 836-842


6. Inflammatory Bowel Disease
• Kondisi kronik akibat
autoimun
• Ulcerative colitis
– Penyakit inflamasi kronis
ulseratif yang terbatas
pada rektum dan kolon
– Hanya sedalam mukosa
dan submukosa
• Crohn disease
– Dapat mengenai bagian
mana saja sepanjang
saluran cerna
– Sedalam transmural

Robbins & Kumar Pathologic basis of disease. 2010.


6. Inflammatory Bowel Disease
Diagnosis Karakteristik
Crohn Diare tidak berdarah; nyeri perut tumpul pada
disease kuadran kanan bawah, dipicu atau diperparah
seteah makan, penurunan BB
Colitis Diare dengan atau tanpa darah di feses. Bila
ulcerative inflamasi mengenai rektum, darah terlihat
melapisi feses, tnesmus, urgensi, nyeri rektal, BAB
lendir

Fauci et al. Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2012.
6. Inflammatory Bowel Disease
• Faktor risiko kanker
pada kolitis ulseratif
– kronik
– meluas
– Riwayat Ca pada
keluarga
– Kolangitis sklerosis
primer
– Striktur kolom
– Adanya pseudopolip
pada kolonoskopi

Fauci et al. Harrison’s principles of internal medicine. 18th ed. McGraw-Hill; 2012.
7. Algoritma Terapi Hipertensi
Anti Hipertensi
• The Joint National Committee on prevention,
detection, evaluation, and treatment of high blood
pressure (JNC) 7 membagi tatalaksana terapi
hipertensi secara farmakologis menjadi menjadi dua :
1. First Line:
– Diuretik, β-blocker, ACE, ARB, CCB
2. Second Line:
– Penghambat saraf adrenergik, α-blocker, dan
vasodilator

In Health Gazzette Divisi Pelayanan Obat


α-1 blocker (Terazosin dan Doxazosin)
• Bekerja pada pembuluh darah perifer dan menghambat
pengambilan katekolamin pada sel otot halus dan menyebabkan
terjadinya vasodilatasi dan penurunan tekanan darah

• Keuntungan pada laki-laki dengan BPH (benign prostatic


hyperplasia) karena obat ini memblok reseptor postsinaptik alfa
adrenergik pada prostat sehingga menyebabkan relaksasi dan aliran
urin berkurang.

• Efek samping
– Pusing sementara atau pingsan, palpitasi, dan bahkan sinkop 1 -3 jam
setelah dosis pertama.
– Dapat juga terjadi pada kenaikan dosis
– Diatasi dengan meminum dosis pertama dan kenaikan dosis
berikutnya menjelang tidur.
– Hati-hati pada pasien lansia: α-1 bloker melewati hambatan darah
otak dan dapat menyebabkan efek samping CNS seperti kehilangan
tenaga, letih, dan depresi.
In Health Gazzette Divisi Pelayanan Obat
8. Parotitis
• Etiologi
– Virus mumps merupakan virus RNA genus paramyxovirus,
merupakan salah satu virus parainfluenza
– Virus mumps mudah menular melalui droplet, kontak langsung,
air liur, dan urin

• Gejala
– Demam, nyeri kepala, nafsu makan menurun selama 3-4 hari,
yang diikuti peradangan kelenjar parotis (parotitis) dalam waktu
48 jam dan dapat berlangsung selama 7-10 hari
– Penularan terjadi 24 jam sebelum sampai 3 hari setelah
terlihatnya pembengkakan kelenjar parotis.
– Satu minggu setelah terjadi pembengkakan kelenjar parotis
pasien dianggap sudah tidak menular

Masarani M, Wazait H, Dinneen M. Parotitis epidemica orchitis. J R Soc Med 2006;99:573-5.


9. Manson, AL. Parotitis epidemica orchitis. Urology 1990;36:355.
Orkhitis Pasca Parotitis
• Reaksi inflamasi testis akibat infeksi virus mumps yang
ditandai dengan pembengkakan testis yang disertai rasa
nyeri.

• Insidens: Sebelum pubertas 14%, sesudah pubertas 30%-


38%. Insidens tertinggi: Usia 15-29 tahun

• Patogenesis
– Terjadi satu sampai dua minggu setelah pembengkakan kelenjar
parotis.
– Muncul tiba-tiba, dapat disertai kenaikan suhu, nyeri kepala,
mual, dan nyeri pada abdomen bagian bawah.
– Testis yang terkena terasa nyeri, bengkak, dan kulit disekitarnya
menjadi merah dan edematous.
– Umumnya terjadi selama 4 hari.
– Orkitis juga dapat terjadi tanpa tanda-tanda parotitis.
Masarani M, Wazait H, Dinneen M. Parotitis epidemica orchitis. J R Soc Med 2006;99:573-5.
9. Manson, AL. Parotitis epidemica orchitis. Urology 1990;36:355.
9. Aksis Hipotalamus - Pituitari
10. Tipe-Tipe Demam
1. Continued fever: Suhu tubuh terus-menerus di atas normal

2. Remittent fever: Suhu tubuh tiap hari turun naik tanpa kembali ke
normal

3. Intermittent fever: Suhu tubuh tiap hari kembali ke (bawah)


normal, kemudian naik lagi

4. Hectic fever: Memiliki fluktuasi temperatur yang jauh lebih besar


daripada remittent fever, mencapai 2°C - 4° C. Hal ini ditandai
dengan menurunnya temperatur dengan cepat ke normal atau di
bawah normal, biasanya disertai dengan pengeluaran keringat
yang berlebihan.
Munandar, A. dan Tjandra Leksana. 1979. Pedoman Pengobatan. cet. I .
Jakarta : Medipress, hal. 9-11.
Tipe-Tipe demam
5. Recurrent fever: Demam yang mengambuh.

6. Undulant fever: Kenaikan suhu tubuh secara berangsur yang diikuti


dengan penurunan suhu tubuh secara berangsur pula sampai normal

7. Irreguler fever: Variasi diurnal yang tidak teratur dalam selang waktu
yang berbeda

8. Inverted fever: Suhu tubuh pagi hari lebih tinggi daripada malam hari 
TBC paru-paru, sepsis dan bruselosis.

9. Demam siklik : Kenaikan suhu badan selama beberapa hari, diikuti oleh
periode bebas demam untuk beberapa hari yang kemudian diikuti oleh
kenaikan suhu seperti semula.

10. Demam saddleback/ pelana (bifasik): Beberapa hari demam tinggi


disusul oleh penurunan suhu lebih kurang satu hari, dan kemudian
muncul demam tinggi kembali Sudoyo, dkk. 2009.
Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam Edisi 5 Jilid 3
. Jakarta:Universitas Indonesia
11-12. Pneumonia Atipik
• Resisten terhadap penisilin, tapi dihambat oleh
tetrasiklin atau eritromisin
• Gejala:
– Sakit kepala, demam dan batuk bersputum, toraks:
gambaran infiltrat, ronki basah dan wheezing
– Penularan: melalui sekresi tubuh
• Penunjang:
– Kultur, serologi, dan PCR
– Media kultur: khusus  Enriched SP 4 (mycotrim RS
Biphasic System/SP 4 broth agar lyophilized)
11-12. Pneumonia Atipik
• Penularan
– Sekret tubuh pasien

• Reaksi Non Spesifik


– Hemaglutinin dingin
– Complement Fixation Test: positif bila titer ↑4x

• Terapi
– β laktam tidak efektif
– DOC: Makrolid atau fluorokuinolon
13. Hipoparatiroid
• Pada proses tiroidektomi
maka kelenjar paratiroid
dapat ikut terambil.
• Terdapat 4 kelenjar paratiorid
yang terletak pada bagian
psoterior kelenjar tiroid
• Kelenjar parathyorid
bertanggungjawab pada
menjada keseimbangan
kalsium:
– Tulang: menstimulasi
pelepasan kalsium, resorpsi
kalsium oleh osteoklas
– Ginjal: menstimulasi absorpsi
kalsium, meningkatkan
absorbsi kalsium di usus
Gejala Hipokalsemia
• Sistemik • Kardiak
– Confusion – Prolonged QT interval
– kelemahan – Perubahan gelombang T
• Neuromuskular • Okular
– Paresthesia – katarak
– Psikosis • Dental
– Kejang – Hipoplasia enamel gigi
– Chovstek sign • Pernafasan
– Depresi – Laryngospasm
– Bronkospasm
– stridor
Tatalaksana
• Pada pasien dengan hipokalsemia ringan tanpa
gejala maka terapi berupa suplementasi kalsium
oral dengan anjuran sebanyak 1-3 g/hari.
• Pada hipokalsemia berat dengan gejala
simptomatik, diperlukan terapi kalsium IV
sebanyak 0,5-2 mg/kg per jam. Terapi parenteral
biasanya hanya diberikans elama beberapa hari
dan selanjutnya diberikan terapi oral.
14 & 16. Sirosis Hati: Uji Fungsi Hati
• Klinis dibedakan menjadi bentuk laten dan
dekompensasi
• Laten
– ↑SGOT& SGPT, SGOT > SGPT, ↑GGT,
• Dekompensasi
– ↑SGOT, SGPT, ALP, GGT, ↑urobilinogen,
hiperbilirubinemia, ↓albumin

www.abclab.co.id
14 & 16. Sirosis Hati: Uji Fungsi Hati
• ↓albumin: shifting dullness, asites
• ↑estrogen tak terdegradasi: eritema palmaris
• Hiperbilirubinemia: sklera ikterik
15. Hepatoma
• Faktor Risiko: infeksi hepatitis kronis,
aflatoksin, sirosis

• Gejala
– ↑ɑ-fetoprotein pada > 50% kasus
– Hati teraba keras, bisa terdapat nodul
– Adanya bruit atau friction rub pada perabaan hati

Current diagnosis & treatment in gastroenterology.


15. Hepatoma
17. Intoksikasi Metanol
• Etiologi: terhirup, minuman keras yang dioplos
• Patofisiologi:
– Metanol terminum  diubah menjadi formaldehid 
segera berubah menjadi asam formiat  racun bagi tubuh

• Gejala dan Tanda


– 12-24 jam pertama: Sakit kepala, pusing, sakit otot, lemah,
kehilangan kesadaran dan kejang-kejang ini\
– Tahap selanjutnya: Kerusakan syaraf optik dengan gejala
berupa dilatasi pupil, penglihatan menjadi kabur dan
akhirnya kebutaan yang permanen, metabolisme acidosis

POM RI: Penyalahgunaan Zat


17. Intoksikasi Metanol: Terapi
• Bersihkan diri dari paparan
– Kulit: Segera cuci daerah yang terkena dengan air hangat dan
sabun sedikitnya selama 10-15 menit.
– Mata: Cuci mata dengan cairan pencuci mata yang umum
digunakan, sedikitnya 10-15 menit.
– Terhirup atau tertelan, segera minta bantuan kesehatan dari
dokter untuk dilakukan usaha-usaha

• Detoksifikasi: Etanol dan sodium bikarbonat.


• Etanol memiliki afinitas terhadap enzim alkohol dehidrogenase 10-20 kali
lebih kuat daripada metanol mengurangi pembentukan asam format
• Diberikan secara per-oral dengan konsentrasi sampai 40%, atau melalui
intravena dengan konsentrasi 10% dalam 5% dekstrosa.
• Sodium bikarbonat  mengurangi metabolik asidosis akibat asam format.

POM RI: Penyalahgunaan Zat


18. Pengobatan TB pada Keadaan Khusus
• Penderita TB pengguna kontrasepsi
– Rifampisin berinteraksi dengan kontrasepsi hormonal (pil KB, suntikan
KB, susuk KB)  ↓efektifitas
– Sebaiknya menggunakan kontrasepsi non-hormonal atau kontrasepsi
yang mengandung estrogen dosis tinggi (50 mcg).

• Kehamilan
– WHO: hampir semua OAT aman untuk kehamilan, kecuali
streptomisin.
– Streptomisin tidak dapat dipakai pada kehamilan karena bersifat
permanent ototoxic dan dapat menembus barier placenta 
gangguan pendengaran dan keseimbangan yang menetap pada bayi
yang akan dilahirkan.

• Ibu menyusui dan bayinya


– Semua jenis OAT aman untuk ibu menyusui
– Bayi dapat terus disusui. Pengobatan pencegahan dengan INH
diberikan kepada bayi sesuai dengan berat badannya.
TUBERKULOSIS: PEDOMAN DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2006
Pengobatan TB pada Keadaan Khusus

• Penderita TB dengan infeksi HIV/AIDS


– Prinsip pengobatan penderita TB-HIV adalah dengan
mendahulukan pengobatan TB.
– Pengobatan ARV(antiretroviral) dimulai berdasarkan stadium
klinis HIV sesuai dengan standar WHO.

• Penderita TB dengan hepatitis akut


– Pada penderita TB dengan hepatitis akut dan atau klinis ikterik:
ditunda sampai hepatitis akutnya mengalami penyembuhan.
– Bila pengobatan TB sangat diperlukan dapat diberikan
streptomisin (S) dan Etambutol (E) maksimal 3 bulan sampai
hepatitisnya menyembuh dan dilanjutkan dengan Rifampisin (R)
dan Isoniasid (H) selama 6 bulan.

TUBERKULOSIS: PEDOMAN DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2006
Pengobatan TB pada Keadaan Khusus
• Penderita TB dengan kelainan hati kronik
– Kecurigaan gangguan faal hati: Pemeriksaan faal hati sebelum
pengobatan TB
– SGOT & SGPT ↑ > 3x  OAT tidak diberikan dan bila telah dalam
pengobatan, harus dihentikan.
– ↑< 3x, pengobatan dapat dilaksanakan atau diteruskan dengan
pengawasan ketat.
– Penderita dengan kelainan hati, Pirasinamid (Z) tidak boleh digunakan.
– Paduan OAT yang dapat dianjurkan adalah 2RHES/6RH atau
2HES/10HE

• Penderita TB dengan gagal ginjal


– Isoniasid (H), Rifampisin (R) dan Pirasinamid (Z)  diekskresi melalui
empedu dicerna menjadi senyawa-senyawa yang tidak toksik
dapat diberikan dengan dosis standar pada penderita dengan
gangguan ginjal.
– Streptomisin & Etambutol diekskresi melalui ginjal  hindari
– Paduan OAT yang paling aman untuk penderita dengan gagal ginjal
adalah 2HRZ/4HR
TUBERKULOSIS: PEDOMAN DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2006
Pengobatan TB pada Keadaan Khusus
• Penderita TB dengan Diabetes Melitus
– Rifampisin mengurangi efektifitas sulfonil urea  dosis obat anti
diabetes perlu ditingkatkan.
– Insulin dapat digunakan untuk mengontrol gula darah, setelah selesai
pengobatan TB, dilanjutkan dengan anti diabetes oral.
– Pada penderita Diabetes Mellitus sering terjadi komplikasi retinopati
diabetik hati-hati dengan pemberian etambutol, karena dapat
memperberat kelainan tersebut.

• Penderita TB yang perlu mendapat tambahan kortikosteroid


• Digunakan pada keadaan khusus yang membahayakan jiwa penderita
seperti:
– Meningitis TB
– TB milier dengan atau tanpa meningitis
– TB dengan Pleuritis eksudativa
– TB dengan Perikarditis konstriktiva.
– Fase akut: Prednison diberikan dengan dosis 30-40 mg per hari,
kemudian diturunkan secara bertahap. Lama pemberian disesuaikan
dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan

TUBERKULOSIS: PEDOMAN DIAGNOSIS & PENATALAKSANAAN DI INDONESIA. Perhimpunan Dokter Paru Indonesia 2006
19. Teh
• Polifenol
– Sebagai anti oksidan bebas
– Menghambat penyerapan vitamin B1 
mengurangi metabolisme karbohidrat  ↓BB
• Tannin
– Mengurangi penyerapan zat besi

Agus Sumanto, 2009. Tetap Langsing dan Sehat


dengan Diet
20.
21.
22 & 23
24. Obat-Obatan dalam SKA: Nitrat
• Nitrat mempunyai efek anti-iskemik melalui
berbagai mekanisme :
– Menurunkan kebutuhan oksigen miokard karena
penurunan preload dan afterload,
– Efek vasodilatasi sedang,
– Meningkatkan aliran darah kolateral,
– Menurunkan kecendrungan vasospasme, serta
– Potensial dapat menghambat agregasi trombosit.

DIREKTORAT BINA FARMASI KOMUNITAS DAN KLINIK DITJEN BINA KEFARMASIAN DAN ALAT
KESEHATAN DEPARTEMEN KESEHATAN 2006: PHARMACEUTICAL CARE UNTUK PASIEN PENYAKIT
JANTUNG KORONER : FOKUS SINDROM KORONER AKUT
25. Gagal ginjal kronik
Klasifikasi penyakit ginjal kronik atas dasar penyakit dan tatalaksana
derajat penjelasan LFG tatalaksana
1 Kerusakan ginjal dengan LFG normal ≥90 Terapi penyakit dasar,kondisi
atau↑ komorbid
2 Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ 60-89 Menghambat pemburukan
ringan funsi ginjal
3 Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ 30-59 Evaluasi dan terapi komplikasi
sedang
4 Kerusakan ginjal dengan LFG ↓ 15-29 Persiapan untuk terapi
berat pengganti ginjal
5 Gagal ginjal <15 HD atau terapi pengganti
ginjal
Indikasi Hemodialisa cito :
LFG = (140-umur)xBB -Keadaan umum buruk dan gejala klinis nyata
-K serum > 6 mEq/L
72xCreatinin
-Ur darah > 200mg/dL
-pH darah < 7,1
-Anuria
-Fluid overload
26. Hipoglikemia
• Kadar glukosa darah <60 mg/dl atau <80mg/dl
dengan gejala klinis
• Tatalaksana :
– Berikan D40% 2 fl bolus intravena
– Cairan D10% infus 6 jam/kolf
– Cek GDS setiap 1 jam setelah pemberian D40%
ILMU BEDAH, ANASTESIOLOGI DAN
RADIOLOGI
27. Nerve Blocks of the Metatarsals
and Toes
• Anatomy
• Technique
– Metatarsals
– Interdigital web
spaces
– Toes
Great Toe block
Step 1: Step 3:
• Inject lateral edge of toe • Inject medial toe aspect
• Needle perpendicular to toe • Insert needle perpendicular to
(straight up and down) medial aspect
• Inject from dorsal to plantar • Enter skin via area anesthesized
surface in step 2
• Use 1-2 cc of anesthetic • Inject medial aspect of toe with
1-2 cc
Step 2: • Inject from dorsal to plantar
• Inject dorsum of toe surface
• Partially withdraw needle to tip
• Redirect needle across dorsal
aspect of toe
• Inject from lateral to medial
aspect of toe dorsum
Digital Blocks
• Dorsal and palmar digital nerves

• Toes (except 1st) single needle insertion


Digital Blocks
Landmarks - bone and web space
28. Atheroma cyst (Sebacous cyst)
• Massa non kanker yang
tumbuh dengan lambat
• Berisi material dari folikel
ramabutkulit atau
komponen minyak yang
disebut dengan sebum
• Kista sebaceous dapat
muncul saat pilosebaseus
atau kelenjar sebaseus
tersumbat
• Biasanya sewarna dengan
kulit, dan memiliki punctum
(comedo, blackhead) pada
bag.puncak kubah
Diagnosis Histologic

Lipoma Soft mass, pseudofluctuant with a slippery edge

Atherom cyst Occur when a pilosebaceous unit or a sebaceous gland becomes


blocked. Skin Color is usually normal, and there is a punctum
(comedo, blackhead) on the dome

Dermoid Cyst Lined by orthokeratinized, stratified squamous epithelium surrounded


by a connective tissue wall. The lumen is usually filled with keratin.
Hair follicles, sebaceous glands, and sweat glands may be seen in the
cyst wall
Epidermal Cyst A raised nodule on the skin of the face or neck. HistologicLined by
keratinizing epithelium the resembles the epithelium of the skin
• Most commonly superotemporal • Occasionally superonasal
• Freely mobile under skin • Posterior margins are easily palpable
Dermoid Cyst

Lipoma
29. The Breast
Tumors Onset Feature
Breast cancer 30-menopause Invasive Ductal Carcinoma , Paget’s disease (Ca Insitu),
Peau d’orange , hard, Painful, not clear border,
infiltrative, discharge/blood, Retraction of the
nipple,Axillary mass
Fibroadenoma < 30 years They are solid, round, rubbery lumps that move freely in
mammae the breast when pushed upon and are usually painless.
Fibrocystic 20 to 40 years lumps in both breasts that increase in size and
mammae tenderness just prior to menstrual bleeding.occasionally
have nipple discharge
Mastitis 18-50 years Localized breast erythema, warmth, and pain. May be
lactating and may have recently missed feedings.fever.
Philloides 30-55 years intralobular stroma . “leaf-like”configuration.Firm,
Tumors smooth-sided, bumpy (not spiky). Breast skin over the
tumor may become reddish and warm to the touch.
Grow fast.
Duct Papilloma 45-50 years occurs mainly in large ducts, present with a serous or
bloody nipple discharge
Pemeriksaan Radiologis Payudara
Mammography
• Skrening wanita usia 50thn atau lebih yang
asimptomatik
• Skrening wanita usia 35 thn atau lebih yang
asimtomatik dan memiliki resiko tinggi terkena
kanker payudara :
– Wanita yang memiliki saudara dengan kanker
payudara yang terdiagnosis premenopaus
– Wanita dengan temuan histologis yang memiliki resiko
ganas pada operasi sebelumnya, spt atypical ductal
hyperplasia
• Untuk pemeriksaan wanita usia 35 thn atau lebih
yang simptomatik dengan adanya massa pada
payudara atau gejala klinis kanker payudara
yang lain
www.rad.washington.edu
• USG Mamae
– Tujuan utama USG mamae adalah untuk
membedakan massa solid dan kistik
– Sebagai pelengkap pemeriksaan klinis dan
mamografi
– Merupakan pemeriksaan yang dianjurkan untuk
wanita usia muda (<35) dan berperan dalam
penilaian hasil mamografi ‘ dense’ breast
30-31. Batu Uretra
• Berasal dari batu kandung kemih yang turun ke uretra
– Sangat jarang batu uretra primerkecuali pada keadaan stasis urin yang
kronis dan infeksi seperti pada striktur uretra atau divertikel uretra
• Batu uretra:
– 2/3 batu uretra terletak di uretra posterior
– 1/3 batu uretra terletak di uretra anterior
• Gejalatidak spesifik, terdapat gejala-gejala obstruksi
– Asimptomatik
– Riwayat sering nyeri pinggang sebelumnya
– Retensi urinKeluhan tersering
– Disuria
– Aliran mengecil
– Frequency
– Dribbling
– Hematuria
– Mengeluar batu kecil saat kencing atau kencing berpasir
– Batu uretra posteriorNyeri yang menjalar ke perineum atau rectum
– Batu uretra anteriornyeri pada daerah tempat batu berada atau menjalar ke
penis http://www.bjui.org/ContentFullItem.aspx?id=840&SectionType=1&title=Ob
structing-Calculi-within-the-Male-Urethra
• Pemeriksaan fisik:
– Teraba massa batu pada penis • Tata laksana:
atau peno-scrotal junction – Batu uretra posterior:
– RT: teraba massa kerasbatu • Push-back lalu diterapi seperti batu
uretra posterior kandung kemihlitotripsi/open
bladder
• Pemeriksaan Penunjang:
– batu uretra anterior
– USGSkrinning batu radiolisen
• Lubrikasi anterior
– CT-scan UroGold standar • Push-back lalu diterapi seperti batu
untuk kasus urolitiasis kandung kemih
• Belum ada penelitian tentang • Uretrotomi terbuka
sensitivitasnya terhadap batu
uretra – batu di Fossa navikularis/meatus
eksterna
– Cystourethroscopymelihat
• Uretrotomi terbuka:meatotomi
langsung dgn endoskopi
• Tujuan tatalaksana: • Komplikasi:
– postobstructive renal failure
– Analgetik
– long term urethral damage
– Relieve the outflow obstruction
• Punksi suprapubik – urethrocutaneous fistulas
– remove the stone without – incontinence and impotence
damaging the urethra. Case Reports: A stone down below: a urethral stone causing acute urinary
retention and renal failure. Hanna Bielawska, MD; Norman L. Epstein, MD.
CJEM 2010;12(4):377-380 in http://cjem-online.ca/v12/n4/p377
32. Urinary obstruction
Etiology
• Types of obstruction
– Mechanical blockade
• Intrinsic
• extrinsic
– Functional defects
– Congenital
• Common sites Obstructions:
– ureteropelvic and ureterovesical junctions
– bladder neck
– urethral meatus
• When blockage is above the level of the
bladder
– unilateral dilatation of the ureter
(hydroureter) and renal pyelocalyceal
system (hydronephrosis)
• Lesions at or below the level of the
bladderbilateral Hydronephrosis
Ureter Bladder Outlet Urethra
Acquired Intrinsic Defects
Calculi Benign prostatic stricture
hyperplasia

Inflammation Cancer of the tumor


prostate
Infection Cancer of the calculi
bladder
Trauma Calculi trauma
Sloughed Diabetic phimosis
Papillae neuropathy
Tumor Spinal cord
disease
Blood Clots Anticholinergic
drugs and alpha
adrenergic
antagonists

Uric acid
crystals
Hydronephrosis
• Tanda adanya hidronefrosis:
• Palpable kidney or bladder
• Hydronephrosis on USG
• Non visualized bladder
• evidence of a dilated urinary
collection system
• No bladder visualization
– bilateral ureter obstruction
• Bilateral ureteral obstruction
– always asymmetric process
– One ureter obstructed not
diagnosed because urine
production not decreased.
– The next ureter obstructed
symptomatic
Derajat Hidronefrosis
• I Dilatasi pelvis renalis tanpa dilatasi kaliks
• Kaliks berbentuk blunting/tumpul
• II Dilatasi pelvis renalis dan kaliks mayor
• Kaliks berbentuk flattening/mendatar
• III Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor, tanpa adanya penipisan
korteks
• Kaliks berbentuk clubbing/menonjol
• IV Dilatasi pelvis renalis, kaliks mayor dan kaliks minor, adanya penipisan korteks
• Calices berbentuk ballooning/menggembung
• Management
– mid to proximal ureter – percutaneous nephrostomy
– Distal obstruction – cystoscopic placement of ureteral stent
– Intrarenal obstruction secondary to crystals or protein casts -
hydration
• Acute obstruction require prompt release
– emergency nephrostomy
– In order to save functioning kidney
33. Acute Urinary retention
• Painful inability to void, with relief of pain
following drainage of the bladder by
catheterization.
• Pathophysiology:
– Increased urethral resistance, i.e., bladder outlet
obstruction (BOO)
– Low bladder pressure, i.e., impaired bladder
contractility
– Interruption of sensory or motor innervations of
the bladder
Non traumatic
Acute urinary retention… emergency

• Causes : • Initial Management :


– Men: – Urethral catheterisation
• Benign prostatic enlargement – Suprapubic puncture and
(BPE) due to BPH catheter ( SPC)
• Carcinoma of the prostate
• Urethral stricture
• Late Management:
• Prostatic abscess – Treating the underlying
• Urolithiaisis cause
– Women
• Pelvic prolapse (cystocoele,
rectocoele, uterine)
• Urethral stricture;
• Urethral diverticulum;
• Post surgery for ‘stress’
incontinence
• pelvic masses (e.g., ovarian
masses)
http://urology.iupui.edu/papers/reconstructive_bph/s0094014305001163.pdf

34. Trauma Uretra


• Curiga adanya trauma
pada traktus urinarius
bag.bawah, bila:
– Terdapat trauma
disekitar traktus
urinarius terutama
fraktur pelvis
– Retensi urin setelah
kecelakaan
– Darah pada muara OUE
– Ekimosis dan hematom
perineal
http://crashingpatient.com/trauma/abdominal-trauma.htm/

35. Retroperitoneal hematom


• Zone 1: the midline
retroperitoneum
• Zone 2: the perinephric
space
• Zone 3: the pelvic
retroperitoneum

A hematoma in zone 2 is usually


the result of injury of the renal
vessels or parencyhma
Radiologic Examination • Penetrating injury
• Ultrasonography exploration
– primary evaluation of polytrauma
patients • A non-expanding stable
– follow-up of recuperating patients hematoma resulting from blunt
• CT scan urology with contrastthe trauma  better left
best imaging study
– diagnosis and staging renal injuries unexplored
– haemodynamically stable patients
Cullen’s sign: purple-blue discoloration
Grey Turner’s sign:flank
discoloration (retroperitoneal
around umbilicus (peritoneal hemorrhage)
hemorrhage)

http://www.sharinginhealth.ca/clinical_assessment/abdominal_exam.html
36. Peritonitis
• Peritonitis
– Peradangan dari peritoneum
– Disebabkan oleh infeksi bakteri atau jamur atau reaksi
inflamasi peritoneum terhadap darah(pada kasus trauma
abdomen)
• Jenis:
– Peritonitis Primer
• Disebabkan oleh penyebaran infeksi dari peradaran darah dan
pembuluh limfe ke peritoneumpenyakit hati
• Cairaan terkumpul pada rongga peritoneum, menghasilkan
lingkungan yang cocok untuk pertumbuhan bakteri
• Jarang terjadi  kurang dari 1% dari seluruh kasus peritonitis
– Peritonitis Sekunder
• Lebih sering terjadi
• Terjadi ketika infeksi menyebar dari traktus bilier atau GIT

http://www.umm.edu/altmed/articles/peritonitis-000127.htm#ixzz28YAqqYSG
• Peritonitis Sekunder
– Bakteri, enzim, atau cairan empedu mencapai
peritoneum dari suatu robekan yang berasal dari
traktus bilier atau GIT
– Robekan tersebut dapat disebabkan oleh:
• Pancreatitis
• Perforasi appendiks
• Ulkus gaster
• Crohn's disease
• Diverticulitis
• Komplikasi Tifoid
Gejala dan Tanda
• Distensi dan nyeri pada Tanda
abdomen • BU berkurang atau
• Demam, menggigil absenusus tidak dapat
• Nafsu makan berkurang berfungsi
• Mual dan muntah • Perut seperti papan
• Peningkatan frekuensi • Peritonitis primerasites
napas dan nadi
• Nafas pendek
• Hipotensi
• Produksi urin berkurang
• Tidak dapat kentut atau BAB
Perforasi Gaster
• Faktor RisikoUlkus
Peptikum e.c NSAID
• Gejala klasik:
– Nyeri seluruh lapang perut
yang timbul mendadak
– Menjalar sampai ke bahu
– Tanda peritonitis
• Peneriksaan Fisik
– Nyeri tekan seluruh lapang
perut
– rigid abdomen; with rebound
and percussion tenderness,
and guarding (a characteristic
‘drum-like’ tender abdomen)
– Pekak hepar menghilang
• Radiologic Findings
– Plain radiograph of abdomen
(AP)
• Air under diaphragm
37. Fisura Ani
38. Hemoroid

Hemoroid eksterna Hemoroid Interna


Diluar anal canal, sekitar sphincter Didalam anal canal
Gejala terjadi karena thrombosis Gejala timbul karena perdarahan atau
iritasi mukosa
Tidak dapat dimasukkan ke dalam anal dapat dimasukkan ke dalam anal canal
canal sampai grade III
http://emedicine.medscape.com/article/2047916

39-40. Chest Trauma


Disorders Etiology Clinical

Hemothorax lacerated blood Anxiety/Restlessness,Tachypnea,Signs of


vessel in thorax Shock,Tachycardia
Frothy, Bloody Sputum
Diminished Breath Sounds on Affected
Side,Flat Neck Veins, Dullness to percussion

Simple/Closed Blunt trauma Opening in lung tissue that leaks air into
Pneumothorax spontaneous chest cavity, Chest Pain,Dyspnea,Tachypnea
Decreased Breath Sounds on Affected
Side,hipersonor
Open Pneumothorx Penetrating Opening in chest cavity that allows air to
chest wound enter pleural cavity, Dyspnea,Sudden sharp
pain,Subcutaneous Emphysema
Decreased lung sounds on affected side
Red Bubbles on Exhalation from wound
(Sucking chest wound)
Simple/Closed Pneumothorax
• Opening in lung tissue that
leaks air into chest cavity
• Blunt trauma is main cause Th/
• May be spontaneousLung • ABC’s with C-spine
infection control
• Usually self correcting • Airway Assistance as
needed
S/S : • If not contraindicated
transport in semi-sitting
• Chest Pain position
• Dyspnea • Provide supportive care
• Tachypnea • Contact Hospital and/or
• Decreased Breath Sounds on ALS unit as soon as
Affected Side possible
http://emedicine.medscape.com/ Saat darah semakin banyak, akan menimbulkan
Rongga pleura terisi oleh darah tekanan pada jantung dan pembuluh darah
besar di rongga dada

Treatment for Hemothorax


• ABC’s dengan c-spine control sesuai indikasi
• Amankan Airway dengan bantuan ventilasi
bila dibutuhkan
• Atasi syok karena kehilangan darah
• Pertimbangkan posisi LLD bila tidak di
kontraindikasikan
• Transport Secepatnya
• Memberitahukan RS dan unit trauma
secepatnya
• Needle decompressionBila ada indikasi
Upright chest radiograph:
• Chest tube&WSDsegera setelah pasien blunting at the costophrenic angle or
stabil
an air-fluid interface
41. Management of Trauma Patient
Shock position
• Legs higher than head
• “auto transfusion” of
about 250ml of venous
blood
http://en.wikipedia.org/wiki/Burn

42. Luka Bakar

prick test (+)


To estimate scattered burns: patient's
palm surface = 1% total body surface Total Body
area
Surface Area

Parkland formula = baxter formula

http://www.traumaburn.org/referring/fluid.shtml
Indikasi resusitasi cairan
• American Burn • Unit Luka Bakar RSCM
Association – LB derajat II > 10 % ( <
– LB derajat II > 10 % ( < 10 tahun / > 50 tahun ).
10 tahun / > 50 tahun ). – LB derajat II > 15% ( 10 –
– LB derajat II > 20 % ( 10 – 50 tahun )
50 tahun )
• Cairan RL 4cc x BB (Kg)x
% luas luka bakar
(Baxter) dibagi 8 jam
pertama dan 16 jam
berikutnya
http://emedicine.medscape.com/article/1277360
SOP Unit Pelayanan Khusus Luka Bakar RSUPNCM 2011
43. Breast Cancer
I T1N0
T1N1
IIA
T2N0 • Localized breast cancer
T2N1 – Surgery is mainstay
IIB
T3N0 – Halsted, 1882, radical
T1N2 mastectomy
T2N2 • John Hopkins
IIIA
T3N1
T3N2
• Metastatic breast
T4N0
cancer
IIIB T4N1
– Systemic treatment
T4N2
IIIC N3
IV M1
Mastectomy
Breast Sparing Surgery: Lumpectomy & Partial
Mastectomy
Lumpectomy vs. Mastectomy

Breast Conserving therapy


• Indication
• Stage 0
• Stage I
• Stage IIA
• Single lession
Modified radical mastectomy (MRM)
• Methode:
– Entire breast is removed
– Classically some lymph nodes in
the level 1 (B) and level 2 (C )
were removed, called an axillary
lymph node dissection.
– Pectoral muscles are spared
– Used to examine the lymph
nodes identify whether the
cancer cells have spread beyond
the breasts.
• Indication:
– Locally Advance breast cancer
– Multifocal/multicentrics cancer
– Residual large cancer that persist
after adjuvant therapy
– Stage I and Stage II
• Neoadjuvant or preoperative induction
chemotherapy is now considered a legitimate
strategy for inclusion in the multidisciplinary
approach to locally advanced breast cancer
– To downstage the tumour
– to facilitate less invasive surgery
– hopefully improve treatment outcome.
Radical Mastectomy
• Rarely used
• Method:
– removing the entire
breast, the axillary
lymph nodes, and the
pectoralis major and
minor muscles behind
the breast
• Indication:
– Large tumor that involve
chest wall and muscle
(Stage IV)
Simple/Total Mastectomy
• Indication:
– Low grade carcinoma
stage II and III
– Tumor phylloides
– Large tumor that persist
after adjuvant therapy
– Multifocal/multicentrics
carsinoma insitu
44. Hernia
HERNIA HIATALHERNIA DIAFRAGMATIKA

/VENTRAL HERNIA
Tipe Hernia Definisi

Reponible Kantong hernia dapat dimasukkan kembali ke dalam rongga


peritoneum secara manual atau spontan
Irreponible Kantong hernia tidak dapat dimasukkan kembali ke dalam rongga
peritoneum
Incarserated Obstruksi dari pasase usus halus yang terdapat di dalam kantong
hernia
Strangulated Obstruksi dari pasase usus dan Obstruksi vaskular dari kantong
herniatanda-tanda iskemik usus: bengkak,nyeri,merah

• Indirek mengikuti kanalis inguinalis


• Karena adanya prosesus vaginalis
persistent
• The processus vaginalis outpouching
of peritoneum attached to the testicle
that trails behind as it descends
retroperitoneally into the scrotum.

DirekTimbul karena adanya defek atau


kelemahan pada fasia transversalis dari
trigonum Hesselbach
http://emedicine.medscape.com/article/
Inguinal hernia
•Most common
•Most difficult to understand

•Congenital ~ indirect
•Acquired ~ direct or indirect

•Indirect Hernia
•has peritoneal sac
•lateral to epigastric vessels

•Direct Hernia
•usually no peritoneal sac
•through Hasselbach triangle,
medial to epigastric vessels
45. HYDROPNEUMOTHORAKS
• Akumulasi dari cairan dan
udara bebas pada rongga
pleura
• Menyebabkan tekanan
positif pada rongga
pekuraparu-paru
kolaps
• Karena trauma
Biasanya darah
hematopneumothorax
• X-RaysAir fluid
http://emedicine.medscape.com/article/ http://en.wikipedia.org/wiki/

46-47. Male Genital Disorders


Disorders Etiology Clinical
Testicular torsion Intra/extra-vaginal Sudden onset of severe testicular pain followed by
torsion inguinal and/or scrotal swelling. Gastrointestinal
upset with nausea and vomiting.
Hidrocele Congenital anomaly, accumulation of fluids around a testicle, swollen
blood blockage in the testicle,Transillumination +
spermatic cord
Inflammation or
injury

Varicocoele Vein insufficiency Scrotal pain or heaviness, swelling. Varicocele is


often described as feeling like a bag of worms
Hernia skrotalis persistent patency of Mass in scrotum when coughing or crying
the processus
vaginalis
Chriptorchimus Congenital anomaly Hypoplastic hemiscrotum, testis is found in other
area, hidden or palpated as a mass in inguinal.
Complication:testicular neoplasm, subfertility,
testicular torsion and inguinal hernia
Kriptorkismus
• Kriptorkismus: testis tidak ada dalam skrotum dan
tidak dapat dimasukkan ke skrotum
• Ectopic: tidak melewati jalur turunnya testis
• Retraktil: dapat dimanipulasi hingga masuk ke dalam
skrotum dan dapat menetap tanpa tarikan
• Gliding: dapat dimanipulasi hingga masuk ke dalam
skrotum namun bila dilepas akan tertarik kembali
• Ascended: sebelumnya telah ada dalam skrotum lalu
tertarik ke atas secara spontan
• Testis yang tidak teraba
• Gejala: muncul sekitar 20-30% pada
– Keluhan infertilitas pasien kriptorkismus
– benjolan di perut bagian • Hanya 20-40% dari testis yang
bawah tidak teraba, saat dioperasi
– testis tersebut dapat benar-benar tidak ada
mengalami trauma,
infeksi, torsio, atau
berubah menjadi tumor
testis
• Pemeriksaan Fisik:
– Pada skrotum dan inguinal,
teraba massa seperti
benang
– Jaringan ini biasanya
gubernakulum atau
epididimis dan vas
deferens
– bisa bersamaan dengan
testis intraabdominal
http://www.medscape.org/viewarticle/420354_8

HERNIA SKROTALIS
48. Ankle Sprain
Diagnosis

• History of trauma
• Swelling/discoloration
• Pain/tenderness
• Eversion restriction
• Anterior drawer test www.uwec.edu/kin/majors/AT/aidil/images
/Ankle.JPG
for
•ankle
•X-ray
Rehabilitation
• After 5 to7 days (after inflammation subside)
– start restoring motion to the hindfoot by turning
the heel in and out (Active Range of motion)
• After 60 to70 percent of the ankle’s normal
motion has returned
– begin strengthening exercises using a rubber tube
for resistance
• Balance is restored by standing on the injured
leg
Ankle Sprain Tx BIG-THREE
• PROTECTION (BRACE)
• STRENGTH EXERCISE
• PRIPRIOCEPTION TRAINING
49. Volume Perdarahan Fraktur Femur

• Anatomi Os Femur
– Terletak dekat dengan
pembuluh darah besar
(femoral artery)
• Perdarahan akibat
fraktur femur dapat
mencapai 1,500 ml per
femur
50. Pemeriksaan Penunjang Trauma Wajah

Schedel/AP view
soundnet.cs.princeton.edu
51. Posterior Hip
Dislocation
Gejala
• Nyeri lutut
• Nyeri pada sendi
panggul bag.
belakang
• Sulit
menggerakkan
ekstremitas
bawah
• Kaki terlihat
memendek dan
dalam posisi
fleksi, endorotasi
dan adduksi
Risk Factor
• Kecelakaan
• Improper seating
adjustment
• sudden break in
the car
netterimages.com
http://www.aaos.org/

Treatment
• Survei primer (ABC) selalu
didahulukan
• Setelah pasien stabil dan
diamankanperiksa
fraktur/dislokasi yang dialami
• Tatalaksana terpenting untuk
fraktur dan
dislokasiPembidaian,
terutama sebelum transport
Tatalaksana Definitif Dislokasi Sendi
Panggul: Reposisi
• Bila pasien tidak memiliki komplikasi lain:
– Berikan Anestetic atau sedative dan manipulasi
tulang sehingga kembali pada posisi yang
seharusnya reduction/reposisi
• Pada beberapa kasus, reduksi harus dilakukan
di OK dan diperlukan pembedahan
• Setelah tindakan, harus dilakukan
pemeriksaan radiologis ulang atau CT-scan
untuk mengetahui posisi dari sendi.
http://orthoinfo.aaos.org/topic.cfm?topic=A00352

Anterior reduction/reposition

Posterior reduction/reposition
52. Breast Mass Diagnostic Algorithm
ILMU PENYAKIT MATA
Vaughn DG, Oftalmologi Umum, ed.14

53. Ablasio Retina


• Ablasio retina adalah suatu • Jenis:
keadaan terpisahnya sel – Rhegmatogenosa (paling
kerucut dan batang retina sering)  lubang / robekan
(retina sensorik) dari sel pada lapisan neuronal
epitel pigmen retina menyebabkan cairan vitreus
• Mengakibatkan gangguan masuk ke antara retina
nutrisi retina pembuluh sensorik dengan epitel
darah yang bila berlangsung pigmen retina
lama akan mengakibatkan – Traksi  adhesi antara vitreus
gangguan fungsi / proliferasi jaringan
penglihatan fibrovaskular dengan retina
– Serosa / hemoragik 
eksudasi ke dalam ruang
subretina dari pembuluh
darah retina
Sumber: Riordan-Eva P, Whitcher JP. Vaughan and Asbury’s General Ophtalmology 17th ed. Philadephia: McGraw-Hill, 2007.
Ablasio Retina
• Anamnesis: • Funduskopi : adanya
– Riwayat trauma robekan retina, retina yang
– Riwayat operasi mata terangkat berwarna keabu-
– Riwayat kondisi mata abuan, biasanya ada
sebelumnya (cth: uveitis, fibrosis vitreous atau
perdarahan vitreus, miopia fibrosis preretinal bila ada
berat) traksi. Bila tidak ditemukan
– Durasi gejala visual & robekan kemungkinan
penurunan penglihatan
suatu ablasio
• Gejala & Tanda: nonregmatogen
– Fotopsia (kilatan cahaya) 
gejala awal yang sering
– Defek lapang pandang 
bertambah seiring waktu
– Floaters
54. Perdarahan subkonjungtiva
• Perdarahan • Perdarahan
subkonjungtiva adalah subkonjungtiva akan
perdarahan akibat hilang atau diabsorpsi
rupturnya pembuluh dalam 1- 2 minggu tanpa
darah dibawah lapisan diobati.
konjungtiva yaitu • Pengobatan penyakit
pembuluh darah yang mendasari bila ada.
konjungtivalis atau
episklera.
• Dapat terjadi secara
spontan atau akibat
trauma.
55. Dakrioadenitis
• Peradangan dari kelenjar • Gejala: nyeri, kemerahan, dan
lakrimalis gejala penekanan pada unilateral
supratemporal orbita
• Kelenjar lakrimalis berada di • Tanda: Khemosis
supratemporal orbita + lobus – Injeksi konjungtiva
palpebral – Sekret mukopurulent
– Kelopak merah
• Patofisiologi masih belum
– Limfadenopati submandibular
dimengerti, diperkirakan akibat – Bengkak pada 1/3 lateral kelopak
ascending infection kuman dari mata (S-shaped lid)
duktus lakrimalis ke dalam – Proptosis
kelenjar – Gangguan gerak bola mata
– Pembesaran kelenjar parotis
• Lobus palpebral biasanya juga – Demam
ikut terkena – ISPA
• Penyebab: mumps, EBV, – Malaise
stafilokokus, GO
DAKRIOSISTITIS – ANATOMI DUKTUS LAKRIMALIS
Tatalaksana
• Viral (paling sering) - Self-
limiting, tx suportif
(kompres hangat, NSAID
oral)
• Bacterial – 1st generation
cephalosporins
• Protozoa / fungal –
antiamoebic/ antifungal
• Inflammatory
(noninfectious) – cek
penyebab sistemik,
tatalaksana berdasarkan
penyebabnya.
56. DAKRIOSISTITIS
• Partial or complete obstruction of the nasolacrimal duct
with inflammation due to infection (Staphylococcus aureus
or Streptococcus B-hemolyticus), tumor, foreign bodies,
after trauma or due to granulomatous diseases.
• Clinical features : epiphora, acute, unilateral, painful
inflammation of lacrimal sac, pus from lacrimal punctum,
fever, general malaise, pain radiates to forehead and teeth
• Diagnosis : Anel test(+) :not dacryocystitis, probably skin
abcess; (-) or regurgitation (+) : dacryocystitis. Swab and
culture
• Treatment : Systemic and topical antibiotic, irrigation of
lacrimal sac, Dacryocystorhinotomy
• Evaluasi Sistem Lakrimal-Drainase Lakrimal :
• Uji Anel : Dengan melakukan uji anel, dapat diketahui apakah fungsi dari
bagian eksresi baik atau tidak.
• Cara melakukan uji anel :
– Lebarkan pungtum lakrimal dengan dilator pungtum
– Isi spuit dengan larutan garam fisiologis. Gunakan jarum lurus atau bengkok
tetapi tidak tajam
– Masukkan jarum ke dalam pungtum lakrimal dan suntikkan cairan melalui
pungtum lakrimal ke dalam saluran eksresi , ke rongga hidung
• Uji anel (+): terasa asin di tenggorok atau ada cairan yang masuk hidung.
Uji anel (-) jika tidak terasa asinberarti ada kelainan di dalam saluran
eksresi.
• Jika cairan keluar dari pungtum lakrimal superior, berarti ada obstruksi di
duktus nasolakrimalis. Jika cairan keluar lagi melalui pungtum lakrimal
inferior berarti obstruksi terdapat di ujung nasal kanalikuli lakrimal
inferior, maka coba lakukan uji anel pungtum lakrimal superior.
http://emedicine.medscape.com/article/1206147

57. Jenis Glaukoma


Causes Etiology Clinical
Acute Glaucoma Pupilllary block Acute onset of ocular pain, nausea, headache, vomitting, blurred
vision, haloes (+), palpable increased of IOP(>21 mm Hg),
conjunctival injection, corneal epithelial edema, mid-dilated
nonreactive pupil, elderly, suffer from hyperopia, and have no
history of glaucoma
Open-angle Unknown History of eye pain or redness, Multicolored halos, Headache,
(chronic) IOP steadily increase, Gonioscopy Open anterior chamber
glaucoma angles, Progressive visual field loss
Congenital abnormal eye present at birth, epiphora, photophobia, and blepharospasm,
glaucoma development, buphtalmus (>12 mm)
congenital infection
Secondary Drugs Sign and symptoms like the primary one. Loss of vision
glaucoma (corticosteroids)
Eye diseases (uveitis,
cataract)
Systemic diseases
Trauma
Absolute end stage of all types of glaucoma, no vision, absence of
glaucoma pupillary light reflex and pupillary response, stony appearance.
Severe eye pain. The treatment  destructive procedure like
cyclocryoapplication, cyclophotocoagulation,injection of 100%
alcohol
http://emedicine.medscape.com/article/798811

Angle-closure (acute) glaucoma


• The exit of the aqueous humor fluid is sud
• At least 2 symptoms:
– ocular pain
– nausea/vomiting
– history of intermittent blurring of vision with halos
• AND at least 3 signs:
– IOP greater than 21 mm Hg
– conjunctival injection
– corneal epithelial edema
– mid-dilated nonreactive pupil
– shallower chamber in the presence of occlusiondenly
blocked
58. GLAUKOMA SEKUNDER
• Glaucoma sekunder merupakan glaukoma yang diketahui penyebab yang
menimbulkannya. Hal tersebut disebabkan oleh proses patologis intraokular
yang menghambat aliran cairan mata (cedera, radang, tumor)
• Glaukoma terjadi bersama-sama dengan kelainan lensa seperti :
 Luksasi lensa anterior, dimana terjadi gangguan pengaliran cairan mata ke sudut bilik mata.
 Katarak imatur, dimana akibat mencembungnya lensa akan menyebabkan penutupan sudut bilik
mata (glaukoma fakomorfik)
 Katarak hipermatur, dimana bahan lensa keluar dari lensa sehingga menutupi jalan keluar
cairan mata (glaukoma fakolitik)
• Glaukoma yang terjadi akibat penutupan sudut bilik mata oleh bagian lensa
yang lisis ini disebut glaukoma fakolitik, pasien dengan galukoma fakolitik akan
mengeluh sakit kepala berat, mata sakit, tajam pengelihatan hanya tinggal
proyeksi sinar.
• Pada pemeriksaan objektif terlihat edema kornea dengan injeksi silier, fler berat
dengan tanda-tanda uveitis lainnya, bilik mata yang dalam disertai dengan
katarak hipermatur. Tekanan bola mata sangat tinggi

Ilyas, Sidarta., 2004. Ilmu Penyakit Mata, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta.
59. Glaukoma
• Mekanisme : Gangguan aliran keluar humor akueus akibat
kelainan sitem drainase sudut kamera anterior (sudut
terbuka) atau gangguan akses humor akueus ke sistem
drainase (sudut tertutup)
• Pemeriksaan :
 Tonometri : mengukur tekanan Intraokuler (TIO): perpalpasi,
dengan schiotz, atau cara lain spt anaplasi
 Penilaian diskus optikus : pembesaran cekungan diskus optikus
dan pemucatan diskus
 Lapang pandang: kampimetri/perimetri
 Gonioskopi : menilai sudut kamera anterior  sudut terbuka
atau sudut tertutup
• Pengobatan : menurunkan TIO  obat-obatan
(asetazolamide, timolol, pilokarpin), terapi bedah atau laser
60,62. Konjungtivitis Alergi
• Allergic conjunctivitis may be divided into 5
major subcategories.
• Seasonal allergic conjunctivitis (SAC) and
perennial allergic conjunctivitis (PAC) are
commonly grouped together.
• Vernal keratoconjunctivitis (VKC), atopic
keratoconjunctivitis (AKC), and giant papillary
conjunctivitis (GPC) constitute the remaining
subtypes of allergic conjunctivitis.
Konjungtivitis Alergi
Konjungtivitis Atopi Konjungtivitis Vernal
• Nama lain: spring catarrh/ seasonal
• Biasanya ada riwayat atopi conjunctivitis/ warm weather
• Gejala + Tanda: sensasi conjunctivitis
• Etiologi: reaksi hipersensitivitas bilateral
terbakar, sekret mukoid mata (alergen sulit diidentifikasi)
merah, fotofobia • Epidemiologi:

• Terdapat papila-papila halus Dimulai pada masa prepubertal, bertahan
selama 5-10 tahun sejak awitan
yang terutama ada di tarsus – Laki-laki > perempuan
inferior • Gejala & tanda:
– Rasa gatal yang hebat, dapat disertai
• Jarang ditemukan papila fotofobia
– Sekret ropy
raksasa – Riwayat alergi pada RPD/RPK
• Karena eksaserbasi datang –

Tampilan seperti susu pada konjungtiva
Gambaran cobblestone (papila raksasa
berulanga kali  berpermukaan rata pada konjungtiva
tarsal)
neovaskularisasi kornea, – Tanda Maxwell-Lyons (sekret menyerupai
sikatriks benang & pseudomembran fibrinosa halus
pada tarsal atas, pada pajanan thdp panas)
– Bercak Trantas (bercak keputihan pada
limbus saat fase aktif penyakit)
– Dapat terjadi ulkus kornea superfisial
Tatalaksana Konjungtivitis Alergi
• Self-limiting • Jangka panjang & prevensi
• Akut: sekunder:
• Antihistamin topikal
• Steroid topikal (+sistemik • Stabilisator sel mast Sodium
kromolin 4%: sebagai
bila perlu), jangka pengganti steroid bila gejala
pendek  mengurangi sudah dapat dikontrol
gatal (waspada efek • Tidur di ruangan yang sejuk
dengan AC
samping: glaukoma, • Siklosporin 2% topikal (kasus
katarak, dll.) berat & tidak responsif)

• Vasokonstriktor topikal • Desensitisasi thdp antigen


(belum menunjukkan hasil
• Kompres dingin & ice baik)
pack

Vaughan & Asbury General Ophtalmology 17th ed.


Table. Major Differentiating Factors Between VKC and AKC

Characteristics VKC AKC


Age at onset Generally presents at a younger -
age than AKC
Sex Males are affected preferentially. No sex predilection
Seasonal variation Typically occurs during spring months Generally perennial
Discharge Thick mucoid discharge Watery and clear discharge
Conjunctival - Higher incidence of
scarring conjunctival scarring
Horner-Trantas Horner-Trantas dots and shield ulcers Presence of Horner-Trantas
dots are commonly seen. dots is rare.
Corneal Not present Deep corneal
neovascularization neovascularization tends to
develop
Presence of Conjunctival scraping reveals Presence of eosinophils is
eosinophils in eosinophils to a greater degree in less likely
conjunctival VKC than in AKC
scraping
61. Presbiopia
• Koreksi→ lensa positif untuk • Pemeriksaan dengan kartu Jaeger
menambah kekuatan lensa yang untuk melihat ketajaman penglihatan
berkurang sesuai usia jarak dekat.
• Kekuatan lensa yang biasa digunakan: – The card is held 14 inches (356 mm)
+ 1.0 D → usia 40 tahun from the persons's eye for the test. A
result of 14/20 means that the person
+ 1.5 D → usia 45 tahun + 2.0 D → can read at 14 inches what someone
usia 50 tahun + 2.5 D → usia 55 with normal vision can read at 20
tahun + 3.0 D → usia 60 tahun inches.

• (HOTV chart  kartu utk memeriksa


visual acuity pd anak-anak;
sedangkan ETdRS (Early Treatment of
Diabetic Retinopathy Study) adalah
salah satu jenis kartu selain snellen
optic chart yang digunakan untuk
ketajaman penglihatan pada
umumnya

http://www.ivo.gr/files/items/1/145/51044.jpg
63. Jaegger Chart
• Jaeger chart merupakan tes
yang dilakukan untuk
menilai penglihatan dekat
• Jaeger chart terdiri atas
beberapa teks tulisan
dengan berbagai ukuran
huruf
• Terdiri atas tipe J1 (ukuran
terkecil) dan J11 (terbesar)
• Tulisan harus dibaca pada
jarak 12 inch, pasien
diminta untuk membaca
tulisan terkecil yang mampu
dibaca olehnya
64. Post Partum bloodshot eye
• During delivery, women are told to push in order
to pass their baby through the vaginal canal and
into the world. While pushes should be centered
in the lower region of the body, the pressure may
feel like the same pushing associated with a
bowel movement. Out of embarrassment and
extreme effort, some women push with their face
instead of their lower body and this can cause the
blood vessels in the eyes to burst resulting in
bloodshot eyes.
• Can be resolved in 1-2 weeks
NEUROLOGI
65-66. Migrain
Tatalaksana Migrain
67.Spondilitis TB
• Merupakan presentasi infeksi TB ekstrapulmonal
yang menyerang vertebrae.
• Dikenal juga dengan nama Pott’s Disease
• Bagian yang sering terkena adalah bagian bawah
vertebrae thorakal dan bagian atas vertebrae
lumbal.
• Manifestasi dari penyebearan TB hematogen.
• Karena vertebrae merupakan bagian yang
avascular, dapat terjadi destruksi tulang yang
akibatnya terjadi kolaps vertebra dan jejas pada
medula spinalis akibat penyebaran kuman TB ini.
Tanda dan Gejala
• Nyeri punggung
• Kesulitan berdiri
• Kesemutan, Kelemahan otot ekstremitas
inferior
• Gejala klasik TB (Keringat malam, demam
subfebris, batuk lebih dari 3 minggu, dan
nafsu makan menurun)
68.Guillain Barre Syndrome
• Nama lain: Acute Inflammatory Demyelienating
Polyradiculoneuropathy
• Sindrom Guillain Barre adalah kumpulan gejala klinis yang
bermanifestasi kelemahan otot atau menurunnya refleks
akibat acute inflammatory polyradiculoneuropathy
• Gejala klasik GBS ada demyelinating neuropathy dengan
kelemahan yang bersifat ascending yang muncul 2-4
minggu setelah infeksi saluran napas akut atau
gastrointestinal.
• Kelemahan yang terjadi bersifat akut, progresif, dan dalam
beberapa hari dapat memengaruhi keempat otot
ekstremitas, otot trunkal, saraf kranial, dan otot respirasi.
Tanda dan Gejala GBS
• Kelemahan otot ekstremitas
• Gejala saraf kranial meliputi: kelemahan otot fasialis
(dapat rancu dengan Bell’s palsy), diplopia, disartria,
disfagia, oftalmoplegia, gangguan pupil.
• Gangguan sensoris yang dirasakan umumnya perasaan
tebal, parestesia, tebal.
• Gangguan otonomik pada GBS meliputi: takikardia,
bradikardia, paroksismal hipertensi, kemerahan pada
wajah, anhidrosis atau diaforesis, retensio urin
• Gangguan pernapasan pada GBS meliputi: dispnea
pada saat aktivitas, sesak, kesulitan menelan, dan
bicara pelo
Tatalaksana GBS
• Perawatan intensif diperlukan apabila didapatkan
gejala disautonomia, berkurangnya forced vital
capacity (< 20 mL/kg), kelemahan otot bulbar, dan
berkurangnya trigger napas.
• Imunomodulasi dengan Intravenous Immunoglobulin
(IVIG) dan plasma exchange memiliki efektivitas yang
sama untuk memercepat proses penyembuhan
• Terapi rehabilitasi untuk fisik, okupasi, dan wicara.
Sumber: http://emedicine.medscape.com/article/315632
; Harrison 18th Edition
69-70.Stroke iskemik
• Gangguan neurologis yang disebabkan oleh adanya iskemia
pembuluh darah otak oleh karena adanya oklusi yang
disebabkan trombotik maupun emboli.
• Manifestasi klinis yang sering didapatkan adalah defisit
neurologis akut dengan perubahan kesadaran. Manifestasi
lain adalah defisit fungsi hemosensoris, defisit lapangan
pandang, diplopia, disartria, ataksia, vertigo, nistagmus,
kelainan otot fasialis, dan afasia.
• Diagnosis dapat ditegakkan dengan CT angiografi dan MRI.
• Tatalaksana awal: stabilisasi ABC, kontrol tekanan darah,
identifikasi kemungkinan terapi reperfusi (fibrinolisis,
antiplatelet, maupun trombektomi mekanis)
Faktor risiko stroke
• Tidak dapat dimodifikasi: umur, ras, jenis kelamin,
adanya riwayat stroke pada keluarga, dan
displasia fibromuskuler.
• Faktor risiko yang dapat dimodifikasi: hipertensi,
diabetes mellitus, penyakit jantung,
hiperkolestereolemia, stenosis arteri karotis,
adanya riwayat TIA, hiperhomosisteinemia,
obesitas, pengonsumsian alkohol, rokok, obat-
obat terlarang, dan sedentary lifestyle
Diagnosis Topis
• ICA = Internal Carotid Artery
• ACA = Anterior Cerebral Artery
• MCA = Medial Cerebral Artery
• VA = Vertebral Artery
• PICA = Posterior inferior Cerebellar Artery
• AICA = Anterior inferior Cerebellar Artery
• Small arteries
• PCA = Posterior cerebral artery
• SCA = Superior cerebellar artery
71.Bell’s palsy
• Penyebab tersering dari kelemahan wajah unilateral yang muncul tiba-
tiba adalah stroke dan Bell’s palsy.
• Penyebab yang paling umum dari kasus Bell’s palsy adalah HSV tipe 1,
diduga akibat reaktivasi virus dari tempat latennya.
• Selain itu, yang banyak diperdebatkan adalah iritasi terus-menerus dalam
durasi yang cukup lama menyebabkan pembengkakan nervus fasialis
sehingga terjepit diduga juga sebagai penyebab Bell’s palsy.
• Gejala yang didapatkan adalah: kelumpuhan otot wajah unilateral,
gangguan pada telinga (hyperacusis, otalgia), gangguan pada mata (nyeri,
mata kering oleh karena menurunnya produksi air mata, lagoftalmus,
penglihatan kabur), gangguan sensoris (rasa tebal pada pipi dan mulut)
• Terapi: Kortikosteroid, antiviral (efektifitas kurang bila dibandingkan
steroid), dan perawatan mata (untuk mencegah timbulnya ulkus kornea),
dan bedah.
Sumber: Harrison, 18th Edition;
http://www.hopkinsmedicine.org/healthlibrary/GetImage.aspx?ImageId=16
1363; http://emedicine.medscape.com/article/1146903-overview
Inervasi Saraf VII
• Intracranial branches
– Greater petrosal nerve - provides parasympathetic
innervation to several glands, including the nasal
gland, palatine gland, lacrimal gland, andpharyngeal gland.
It also provides parasympathetic innervation to
the sphenoid sinus, frontal sinus, maxillary sinus, ethmoid
sinus and nasal cavity.
– Nerve to stapedius - provides motor innervation
for stapedius muscle in middle ear
– Chorda tympani
• Submandibular gland
• Sublingual gland
• Special sensory taste fibers for the anterior 2/3 of the tongue.
• Extracranial branches
– Distal to stylomastoid foramen, the following nerves branch off
the facial nerve:
– Posterior auricular nerve - controls movements of some of the
scalp muscles around the ear
– Branch to Posterior belly of Digastric muscle as well as
the Stylohyoid muscle
– Five major facial branches (in parotid gland) - from top to
bottom (a helpful mnemonic being To Zanzibar By Motor Car):
• Temporal branch of the facial nerve
• Zygomatic branch of the facial nerve
• Buccal branch of the facial nerve
• Marginal mandibular branch of the facial nerve
• Cervical branch of the facial nerve
72.Gerakan Mata
• For each eye, six muscles work together to
control eye position and movement. Two
extraocular muscles, themedial rectus and lateral
rectus, work together to control horizontal eye
movements
• Contraction of the medial rectus pulls the eye
towards the nose (adduction or medial
movement).
• Contraction of the lateral rectus pulls the eye
away from the nose (abduction or lateral
movement).
• Four other extraocular muscles working together control vertical eye movements and eye
rotation around the mid-orbital axis (Figure 8.1, right). Contraction of the
• superior rectus produces

– eye elevation

– minor movements: medial rotation and adduction

• superior oblique produces

– eye depression

– other movements: medial rotation and abduction

• inferior rectus produces

– eye depression

– minor movements: lateral rotation and adduction

• inferior oblique produces

– eye elevation

– other movements: lateral rotation and abduction


• Three cranial motor nuclei provide efferent control of the extraocular muscles.
Activation of the motor neurons produces contraction of the innervated muscle.
• The abducens nucleus

– sends its axons in the abducens (VI cranial) nerve

– controls the lateral rectus of the ipsilateral eye.

• The trochlear nucleus

– sends its axons in the trochlear (IV cranial) nerve

– controls the superior oblique of the contralateral eye.

• The oculomotor complex contains nuclei that

– send axons in the oculomotor (III cranial) nerve

– control

• the superior levator in the eyelid of both eyes

• extraocular muscles, which include the

– medial rectus of the ipsilateral eye,

– inferior oblique of the ipsilateral eye

– inferior rectus of the ipsilateral eye

– superior rectus of the contralateral eye1.


73.Transient Ischemic Attack
– Stroke in evolution/stroke-in-progression/
progressing stroke
– Adalah suatu defisit neurologis yang berfluktuasi ketika pasien sedang
dalam amsa observasi.
• TIA (Transient Ischemic Attack), based on AHA/ASA 2009
– Episode transient mengenai disfungsi neurologis yang disebabkan oleh
iskemia sistem saraf pusat tanpa disertai infark. Gejala dapat hilang
dalam waktu 24 jam.
• RIND (Reversible Ischemic Neurology Deficit)
– Infark serebral yang bertahan lebih dari 24 jam namun kurang dari 72
jam.
• Complete Stroke
– Defisit neurologis yang masih ada dalam waktu lebih dari 3 minggu
74.Demensia
• Demensia adalah kelainan kognitif dan perilaku yang
mengakibatkan gangguan fungsi sosial dan okupasional.
• Demensia bersifat progresif dan tidak dapat disembuhkan.
• Pada penyakit Alzheimer, didapatkan plak pada hipokampus,
struktur di dalam otak yang mengkode memori dan area otak yang
mengatur pusat berpikir dan membuat keputusan.
• Gejala klinis meliputi: lupa, kebingungan mengenai lokasi rumah,
memerlukan waktu lebih lama untuk menyelesaikan tugas sehari-
hari, sering lupa menghitung uang, kehilangan spontanitas dan
inisiatif, perubahan mood, tidak dapatmengingat hal baru, kesulitan
membaca, menulis, menghitung, kehilangan perhatian, kehilangan
kendali untuk buang air kecil maupun besar, berat badan berkurang,
hingga kesulitan menelan.
Diagnosis Demensia
• Pemeriksaan kognitif meliputi atensi, konsentrasi, ingatan, bahasa, praksis, fungsi luhur, dan fungsi
visuospasial
• Diagnosis Demensia
– The development of multiple cognitive deficits manifested by both of the following:
Memory impairment (impaired ability to learn new information or to recall previously learned information)
– One or more other cognitive disturbances: aphasia (language disturbance), apraxia (impaired ability to carry out
motor activities despite intact motor function), agnosia (failure to recognize or identify objects despite intact sensory
function), disturbance of executive functioning

B. The cognitive deficits must each cause significant impairment in social or occupational function and represent a
significant decline from a previous level of functioning.

C. The course of disease is characterized by gradual onset and continuing decline.

D. The cognitive deficits are not due to any of the following:

Other central nervous system conditions that cause progressive deficits in memory and cognition
– Systemic conditions that are known to cause dementia
– Substance-induced conditions
– E. The deficits do not occur exclusively during the course of a delirium.

F. The disturbance is not better accounted for by another DSM-IV Axis I disorder (ie, a clinical disorder).
• Pemeriksaan radiologis: didapatkan beta-amiloid plak, atrofi serebral, dan gliosis reaktif
75.Myastenia Gravis
• MG merupakan kelainan transmisi neuromuskuler dengan
karakteristik kelemahan dan fatigue otot skeletal.
• Kelainan yang mendasari MG adalah berkurangnya jumlah
reseptor asetilkolin (AChR) pada membran otot
postsinaptik akibat reaksi autoimun didapat yang
menghasilkan antibodi anti-AChR.
• 90% pasien MG mengalami manifestasi oftalmik. Ptosis
sendiri merupakan tanda yang prominen dari MG.
• Fatigue merupakan karakteristik kelopak mata myasthenik,
dan biasanya disertai variasi diurnal atau variasi aktivitas,
dan bertambah berat setelah menatap (terutama ke atas)
dalam jangka waktu yang lama.
Tatalaksana Myastenia Gravis
• Farmakologis: Piridostigmin, neostigmin,
edrophonium, dan kortikosteroid
• Plasmapheresis
• Timektomi
• Pembatasan aktivitas
• Diet dengan makanan cairan yang dikentalkan
untuk mencegah aspirasi
76.Glasgow Coma Scale
73. Epilepsi
PSKIATRI
77. Depresi
Gejala Keterangan
GejalaUtama • Afek depresif;
• hilang minat dan kegembiraan;
• mudah lelah dan menurunnya aktifitas
Gejala Lain • Konsentrasi menurun;
• harga diri dan kepercayaan diri berkurang;
• rasa bersalah dan tidak berguna yang tidak beralasan;
• merasa masa depan suram & pesimistis;
• gagasan atau perbuatan membahayakan diri atau bunuh
diri;
• tidur terganggu; perubahan nafsu makan (naik atau
turun)

• Ringan: 2 gej utama +2 gejala lain> 2 mgg


• Sedang : 2 gej utama + 3 gejala lain >2 mgg
• Berat: 3 gejala utama+ 4 gejala lain > 2mgg. Jika gejala sgt berat dan onset cepat boleh
ditegakkan < 2mgg
• Berat dengan gejala psikotik: depresi berat+ waham, halusinasi atau stupor depresif
biasanya melibatkan ide tentang dosa, malapetaka yang mengancam, dan pasien merasa
bertanggung jawab utk hal itu
Maslim R, Buku Saku Diagnosis gangguan
Jiwa Rujukan ringkas dari PPDGJ - III
78.Bentuk Pikir
 Gangguan Bentuk Pikir :
Ketidak mampuan mengorganisasikan proses pikir
membentuk ide bertujuan.

Jenis-2 Gangguan Bentuk /Arus Pikir :


1. Inkoherensi: gagasan satu dengan lain tidak berhubungan,
tidak logis, secara keseluruhan tidak dapat dimengerti.
2. Asosiasi longgar: bentuk lebih ringan dari inkoherensi. 
gangguan proses pikir
3. Asosiasi bunyi : gagasan satu dengan yang lain
dirangkaikan oleh kesamaan bunyi  setiap kalimatnya ad
berhubungan bunyi/ kata
4. Neologisme: membentuk logika baru yang hanya
dimengerti oleh pasien
5. Sirkumstansial: penyampaian gagasan secara berbelit
dan cenderung terpaku pada detail  muter2 tetapi
terjawab
6. Tangensial: ketidakmampuan untuk mempertahankan
gagasan bertujuan (cth pada pasien demensia) 
berusaha jawab tetapi ide patah
7. Flight of Ideas: gagasan yang bertubi-tubi melompat
dari satu topik ke topik lain ganguan mood, cerita
cepat,
8. Verbigerasi: pengulangan kata tanpa tujuan
9. Preserverasi: pengulangan gagasan secara
persisten/tidak responsif terhadap stimulus baru 
pembicaraan mengulang walaupun sudah pindah ke
topik lain
79. Transexualism
• Merupakan suatu kelainan pengenalan
identitas jenis kelamin yang dicirikan dengan
keinginan untuk merubah jenis kelamin
• Faktor resiko terjadinya kelainan ini:
– Kedekatan yang berlebihan dengan ibu
– Ketidakadaan ayah
– Dinamika parenteral (ibu yang menginginkan anak
perempuan)
80.Anamnesis
• Autoanamensis :
– Melakukan anamnesis langsung kepada pasien
• Alloanamnesis :
– Melakukan anamnesis kepada keluarga atau
pengantar pasien, karena pasien memiliki
hambatan untuk dilakukan anamnesis
81. Defense Mechanism
Istilah Keterangan
Denial Menyangkal
Proyeksi Emosi negatif yang dirasakan seseorang ditekan dan
diproyeksikan pada orang lain
Sublimasi Perasaan dan pemikiran yang kurang baik disalurkan menjadi
yang baik
Introyeksi Internalisasi objek (orang lain) untuk membangun kedekatan
dan kehadiran
Represi Perasaan dan impuls “tidak terima” yang dikeluarkan dari
pikiran
82. Skizofrenia
Kriteria umum diagnosis skizofrenia:
• Harus ada minimal 1 gejala berikut:
– Thought echo
– Thought insertion or withdrawal
– Thought broadcasting
– Delusion of control
– Delusion of influence
– Delusion of passivity
– Delusion of perception
– Halusinasi auditorik

• Atau minimal 2 gejala berikut:


– Halusinasi dari panca-indera apa saja
– Arus pikiran yang terputus
– Perilaku katatonik
– Gejala negatif: apatis, bicara jarang, respons emosi menumpul

• Gejala-gejala tersebut telah berlangsung minimal 1 bulan.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
Skizofrenia Gangguan isi pikir, waham, halusinasi

Paranoid merasa terancam/dikendalikan


Hebefrenik 15-25 tahun, afek tidak wajar, tidak dapat diramalkan,
senyum sendiri

Katatonik stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea


Skizotipal perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh, bersifat
magik, pikiran obsesif berulang

Waham menetap hanya waham > 3 bulan


Psikotik akut gejala psikotik <2 minggu.
Gangguan afektif Gangguan Psikotik hanya ada selama gangguan afektif (+).
dengan ciri Gangguan afektif ada walau tanpa gejala psikotik
psikotik Waham sesuai dengan afeknya. Episode depresif dgn waham
bencana & pasien merasa sebagai penyebab.
Skizoafektif gejala skizofrenia & afektif bersamaan
• Siklotimik  terpasuk gangguan mood  type of chronic mood disorder widely
considered to be a milder or subthreshold form of bipolar disorder. Cyclothymia
is characterized by numerous mood disturbances, with periods of hypomanic
symptoms alternating with periods of mild or moderate depression.
83. Gangguan Somatoform
Diagnosis Presentasi klinis
Somatization Banyak keluhan
disorder Berulang dan kronis
Riwayat penyakit lama
Conversion disorder Satu keluhan
Kebanyakan akut
Adanya stimulus penyebab penyakit

Hypochondriasis Penyakit dimana pasien meyakini satu keluhan yang dideritanya


Kelainan Body Perasaan subjektif dimana pasien merasa bagian tubuhnya
dysmorphic terdapat kekurangan atau suatu yang buruk pada dirinya (fisik).
Pain disorder Sindrome keluhan denggan tekanan

(Adapted from Folks DG, Ford CV, Houck CA. Somatoform disorders, factitious disorders,
and malingering. In: Stoudemire A, ed. Clinical Psychiatry for Medical Students.
Philadelphia: JB Lippincott; 1990:233, with permission.)
84. Gangguan Cemas
• Kecemasan merupakan reaksi umum terhadap
stress.
• Menyimpang bila individu tidak dapat meredam
(merepresikan) rasa cemas tersebut dalam situasi
dimana kebanyakan orang mampu menanganinya
tanpa adanya kesulitan yang berarti.
• Gangguan kecemasan muncul bila rasa cemas
tersebut terus berlangsung lama, terjadi perubahan
perilaku, atau terjadinya perubahan metabolisme
tubuh.
Gejala umum gangguan cemas : • Gangguan Panik di ICD-10
• Berdebar diiringi detak jantung (F41.0) termasuk dalam sub
cepat kategori gangguan cemas
• Rasa sakit atau nyeri pada lainnya (F41) dimana
dada manifestasi cemas merupakan
gejala utama, dan kejadiannya
• Rasa sesak napas tidak terbatas situasi tertentu.
• Berkeringat secara berlebihan • Gangguan panik sendiri
• Kehilangan gairah seksual didefinisikan sebagai serangan
• Gangguan tidur berulang dari kecemasan yang
• Tubuh gemetar berat (panik) yang tidak
terbatas situasi atau keadaan
sekitar dan tidak dapat
diprediksi. Dan disertai dengan
gejala somatik seperti gejala
serangan panik.
• Diagnosis definitif dari • Obat AntiAnxietas
gangguan panik bila serangan • Diazepam, alprazolam,
panik terjadi beberapa kali buspirone, sulpiride,
dalam waktu 1 bulan: hydroxyzine, bromazepam,
• Tanpa ada bukti bahaya di lorazepam, chlordiazepoxide
sekitar
• Tidak terbatas pada situasi
yang telah diketahui atau yang
dapat diduga sebelumnya
• Dengan keadaan yang relatif
bebas dari gejala-gejala
anxietas pada periode antara
serangan-serangan panik
85. Psychosexual Development Theory

• Personality developed through a series of childhood


stages in which the pleasure-seeking energies of the
id become focused on certain erogenous areas
– psychosexual energy(libido) driving force behind
behavior
• If these psychosexual stages are completed
successfullyhealthy personality
• If certain issues are not resolved at the appropriate
stagefixations
– Fixationpersistent focus on an earlier psychosexual stage
– Until this conflict is resolved, the individual will remain
"stuck" in this stage
86. Gangguan Kepribadian
Gangguan Kepribadian Keterangan
Antisosial/ dissosial Gangguan kepribadian ini biasanya
menjadi perhatian disebabkan adanya
perbedaan yang besar antara perilaku dan
norma sosial yang berlaku, Ditandai:
• Sikap tidak perduli perasaan orang lain
• Dikap tidak bertanggung jawab, tidak
peduli aturan
• Tidak mampu memelihara suatu
hubungan
• Toleransi terhadap frustasi rendah
• Sangat cenderung menyalahkan orang
lain
Histrionik • Ekspresi emosi dibuat – buat seperti
bersandiwara (thetrically)
• Mudah dipengaruhi orang lain atau
suatu keadaan
• Keadaan afektif yang dangkal dan labil
• Ingin jadi pusat perhatian
Paranoid • Kepekaan berlebih terhadap kegagalan dan penolakan
• Kecenderungan untuk menyimpan dendam/ menolak
memaafkan
• Kecurigaan berulang tanpa dasar
• Preokupasi dengan penjelasan – penjelasan yang bersekongkol
dan tidak substantif

Skizoid • Sedikit aktifitas yang memberikan kesenangan


• Emosi dingin, afek mendatar atau tak perduli
• Tidak mempunyai teman dekat atau hubungan pribadi yang akrab
dan tidak ingin untuk menjali hubungan seperti itu

Narcissistic • Preokupasi dengan fantasi tanpa batas tentang kesuksesan,


kekuatan, keindahan, cinta yang ideal
• Adanya kekaguman berlebihan
• Kurang empathy
• arogant
• Pembahasan : Gangguan kepribadian adalah Kondisi yg tidak berkaitan langsung
degan kerusakan atau penyakit otak berat atau gangguan jiwa lain
• Memenuhi kriteria berikut :
• Disharmoni sikap dan perilaku yg cukup berat biasanya meliputi beberapa bidang
fungsi ( misalnya afek, kesiagaan, pengendalian impuls, cara memandang dan
berpikir, serta gaya berhubungan dengan orang lain)
• Pola perilaku abnormal berlangsung lama, jangka panjang, dan tidak terbatas pd
episode gangguan jiwa
• Pola perilaku abnormalnya bersifat pervasive ( mendalam) dan amaladaptif yg jelas
terhadap berbagai keadaan pribadi dan social yg luas
• Manifestasi di atas selalu muncul pd masa kanaka tau remaja dan berlanjut sampai usia
dewasa
• Gangguan ini menyebabkan penderitaan pribadi yg cukup berarti, tetapi baru menjadi nyata
setelah perjalanan yang lanjut
• Gangguan ini biasanya, tetapi tidak selalu, berkaitan secara bermakna dengan masalah-
masalah dalam pekerjaan dan kinerja social
87. Skizofrenia
Kriteria umum diagnosis skizofrenia:
• Harus ada minimal 1 gejala berikut:
– Thought echoisi pikirannya berulang dikepalanya
– Thought insertion or withdrawalisi pikiran yang asing dari luar masuk ke dalam pikirannya
– Thought broadcastingisi pikirannya keluar sehingga orang lain/ umum mengetahuinya
– Delusion of controlwaham tentang dirinya dikendalikan oleh kekuatan dari luar dirinya
– Delusion of influencewaham tentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari
luar
– Delusion of passivitywaham tentang dirinya tak berdaya terhadap suatu kekuatan dari luar
– Delusion of perceptionpengalaman inderawi yang tidak wajar
– Halusinasi auditorik

• Atau minimal 2 gejala berikut:


– Halusinasi dari panca-indera apa saja
– Arus pikiran yang terputus
– Perilaku katatonik
– Gejala negatif: apatis, bicara jarang, respons emosi menumpul

• Gejala-gejala tersebut telah berlangsung minimal 1 bulan.

Maslim R. Buku saku diagnosis gangguan jiwa. Rujukan ringkas dari PPDGJ-III.
Skizofrenia Gangguan isi pikir, waham, halusinasi, minimal
1 bulan
Paranoid merasa terancam/dikendalikan
Hebefrenik 15-25 tahun, afek tidak wajar, perilaku tidak dapat diramalkan,
senyum sendiri
Katatonik stupor, rigid, gaduh, fleksibilitas cerea
Skizotipal perilaku/penampilan aneh, kepercayaan aneh, bersifat magik,
pikiran obsesif berulang
Waham menetap hanya waham
Psikotik akut gejala psikotik <2 minggu.
Skizoafektif gejala skizofrenia & afektif bersamaan
Residual Gejala negatif menonjol, ada riwayat psikotik di masa lalu yang
memenuhi skizofrenia
Simpleks Gejala negatif yang khas skizofrenia (apatis, bicara jarang, afek
tumpul/tidak wajar) tanpa didahului halusinasi/waham/gejala
psikotik lain. Disertai perubahan perilaku pribadi yang bermakna
(tidak berbuat sesuatu, tanpa tujuan hidup, penarikan diri).

PPDGJ
88. Gangguan Somatoform
Diagnosis Karakteristik
Gangguan somatisasi Banyak keluhan fisik (4 tempat nyeri, 2 GI tract, 1
seksual, 1 pseudoneurologis).
Hipokondriasis Keyakinan ada penyakit fisik.

Disfungsi otonomik Bangkitan otonomik: palpitasi, berkeringat,


somatoform tremor, flushing.

Nyeri somatoform Nyeri menetap yang tidak terjelaskan.

Gangguan Dismorfik Preokupasi adanya cacat pada tubuhnya


Tubuh Jika memang ada kelainan fisik yang kecil,
perhatian pasien pada kelainan tersebut akan
dilebih-lebihkan

PPDGJ
Gangguan Hipokondrik
Untuk diagnosis pasti, kedua hal ini harus ada:
• Keyakinan yang menetap adanya sekurang-
kurangnya 1 penyakit fisik yang serius,
meskipun pemeriksaan yang berulang tidak
menunjang
• Tidak mau menerima nasehat atau dukungan
penjelasan dari beberapa dokter bahwa tidak
ditemukan penyakit/abnormalitas fisik
Psikosomatis
Dalam DSM-4 psikosomatis • Gangguan psikokutan terdiri dari
dimasukkan ke dalam faktor berbagai penyakit kulit yang
psikologis yang mempengaruhi dipengaruhi oleh gejala psikiatri atau
kondisi medis dengan kriteria: stres di mana kulit menjadi sasaran
gangguan pikir, perilaku, atau
• Adanya kondisi medis persepsi.
– Atopic Dermatitis
• Faktor psikologi mempengaruhi
– Psoriasis
kondisi medis umum, melalui 1
– Psychogenic Excoriation
cara di bawah:
– Localized Pruritus
– Faktor psikologi mempengaruhi
perjalanan penyakit, dilihat dari – Hyperhidrosis
hubungan waktu antara stresor – Urticaria
dengan timbulnya gejala
– Faktor psikologi mengganggu terapi
medis
– Faktor psikologi menambah risiko
pada kesehatan
– Respons fisiologis terakit stres
mempresipitasi atau
mengeksaserbasi kondisi medis
Kaplan & Sadock's Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical Psychiatry, 10th Edition.
ILMU PENYAKIT KULIT DAN
KELAMIN
89. Crazy pavement dermatosis
• 10-20% anak dengan kwashiokor mengalami
kelainan kulit ini
• Ditandai dengan kulit yang menjadi gelap dan
kering, lalu mengalami peregangan sehingga
tampak daerah berwarna pucat dan pecah –
pecah
90. Furunkel
• Furunkel adalah peradangan folikel rambut
dan sekitarnyafolikel pilosebaseus
• Etiologi: staphylococcus aureus
• Karbunkelkumpulan furunkel (beberapa
furunkel beronfluens)
• Gejala klinis: Nyeri, nodus eritematosa
berbentuk kerucut, di tengah terdapat pustul
• Pengobatan: antibiotik topikal

Buku ajar ilmu penyakit kulit dan kelamin FKUI edisi kelima
91. Pemeriksaan Dermatofitosis
• Penyakit jamur di kulit oleh jamur • Morfologi dermatofitosis
dermatofita khas:
• 3 genus:
1. Microsporum Kelainan berbatas tegas
2. Tricophyton Polimorfik (papul, vesikel,
3. Epidermophyton skuama, dll)
Tepi lebih aktif
Disertai rasa gatal
• Penderita pria lebih sering
gatal karena struktur
anatominya
• Klasifikasi dermatofitosis
didasarkan pada lokalisasi
kelainan kulit
Diagnosis Dermatofitosis:
1. Anamnesa
2. Gambaran klinis
3. Sediaan langsung + lar KOH 10%
• Hifa sejatipanjang dan bersekat
4. Wood’s light (T.kapitis, T.kruris – eritrasma,
P.versicolor)
5. Biakan pada agar Sabouraud  spesies
penyebabnya
Terapi Dermatofitosis:
1. Griseofulvin (lini pertama),
2. ketokonazol, itrakonazol (golongan azol)
3. terbinafin
92. Kelainan Kuku
• Onycholysis : pemisahan ujung kuku bagian
distal dari nail bed. Disebabkan oleh pajanan
air berlebihan, sabun, deterjen, alkali dan
baha pembersih industri
– Infeksi kandida, penguat kuku dan obat-obat
pemicu fotosensitivitas dapat menyebabkan
kelainan ini
• Diskolorasi
93. Filariasis
• Penyakit yang disebabkan cacing Filariidae, dibagi menjadi 3
berdasarkan habitat cacing dewasa di hospes:
– Kutaneus: Loa loa, Onchocerca volvulus, Mansonella streptocerca
– Limfatik: Wuchereria bancroftii, Brugia malayi, Brugia timori
– Kavitas tubuh: Mansonella perstans, Mansonella ozzardi
• Fase gejala filariasis limfatik:
– Mikrofilaremia asimtomatik
– Adenolimfangitis akut: limfadenopati yang nyeri, limfangitis
retrograde, demam, tropical pulmonary eosinophilia (batuk, mengi,
anoreksia, malaise, sesak)
– Limfedema ireversibel kronik
• Grading limfedema (WHO, 1992):
– Grade 1 - Pitting edema reversible with limb elevation
– Grade 2 - Nonpitting edema irreversible with limb elevation
– Grade 3 - Severe swelling with sclerosis and skin changes

Wayangankar S. Filariasis. http://emedicine.medscape.com/article/217776-overview


WHO. World Health Organization global programme to eliminate lymphatic filariasis. WHO Press; 2010.
94. Malaria
95. Gonorrhea
• Penyakit yang disebabkan infeksi Neisseria
gonorrhoeae
• Masa tunas 2-5 hari
• Jenis infeksi:
– Pada pria: uretritis, tysonitis, parauretritis, littritis,
cowperitis, prostatitis, vesikulitis, funikulitis, epididimitis,
trigonitis
– Gambaran uretritis: gatal, panas di uretra distal, disusul
disuria, polakisuria , keluar duh yang kadang disertai
darah, nyeri saat ereksi
– Pada wanita: uretritis, oarauretritis, servisitis, bartholinitis,
salpingitis, proktitis, orofaringitis, konjungtivitis (pada bayi
baru lahir), gonorrhea diseminata

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Gonorrhea
• Pemeriksaan:
– Sediaan langsung: diplokokus gram negatif
– Kultur: agar Thayer-Martin
• Pengobatan
Diagnosis Pilihan pengobatan
Uncomplicated gonococcal First line: Ceftriaxone (250 mg IM, single dose) or Cefixime
infection of the cervix, (400 mg PO, single dose)
urethra, pharynx, or rectum plus
Treatment for Chlamydia if chlamydial infection is not ruled
out: Azithromycin (1 g PO, single dose) or Doxycycline (100 mg
PO bid for 7 days)

Alternative: Ceftizoxime (500 mg IM, single dose) or


Cefotaxime (500 mg IM, single dose) or Spectinomycin (2 g IM,
single dose) or Cefotetan (1 g IM, single dose) plus probenecid
(1 g PO, single dose) or Cefoxitin (2 g IM, single dose) plus
probenecid (1 g PO, single dose)

Longo DL. Harrison’s principles of internal medicine, 18th ed. McGraw-Hill; 2012.
96. Erupsi akneiformis
97. Urinary Tract Infection (UTI)
Pathophysiology
1. Infection spreads from renal pelvis to renal cortex
2. Kidney grossly edematous; localized abscesses in cortex
surface
3. E. Coli responsible organism for 85% of acute pyelonephritis;
also Proteus, Klebsiella

Manifestations
1. Demam dan menggigil yang tiba-tiba
2. Malaise
3. muntah
4. Nyeri pinggang
5. Nyeri dan nyeri ketok Costovertebral
6. Urinary frequency, dysuria
E. coli
• Ada di GIT
• Patofisiologi:
– Infeksi endogen setelah menembus barier imun
– Sepsis dengan fokus infeksi pada traktus urinarius atau GIT,
merupakan bakteri gram negatif tersering penyebab sepsis
– Urinary tract infectionSebagian besar menginfeksi pasien
dalam komunitas, ditransmisikan dari GIT secara asenden,
beberapa serotipe menempel pada traktus urinarius
– Forms complex of numerous o-somatic, H- flagellar and K -
capsular antigens
• Kultur  Media Mc Conkey
– Koloni merah mudamemfermentasi laktosa
• Tes Methyl Red identifikasi bakteri melalui jalur
fermentasi glukosa yang digunakan
– Jalur fermentasi
• Menghasilkan produk asam yang cepat diubah menjadi produk
netral
– Butylene glycol pathway
• Produk netralacetoin and 2,3-butanediol
– Mixed acid pathway
• Produk asamlactic, acetic, and formic acid
– Indikator pH
• Merah: pH < 4.4
• Kuning: pH > 6.2
• Orange : diantaranya
98. Morbus Hansen
99. DERMATITIS NUMULARIS
Sinonim :
Ekzem numular
Ekzem diskoid

Etiopatogenesis

Tidak diketahui : Multi Faktor


Peningkatan koloni Staphylococcus &
Micrococcus

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
• Mekanisme → Hipersensitifitas, infeksi oleh
bakteri
• Dermatitis kontak ( nikel, krom, kobalt )
• Trauma fisik / kimiawi
• Kelembaban kurang → kulit kering
• Stres emosional

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Gejala Klinis
• >> pada laki-laki
– awitan 55 th – 65 th/ 15 th – 25 th
• Subjektif : gatal hebat
• Objektif
• Lesi awal: vesikel / papulovesikel bergabung :
Coin berbatas tegas, edematosa & eritematosa
vesikel pecah : krusta kekuningan
melebar : ukuran ± 5 cm

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
• Lesi lama : likenifikasi, skuama
• Predileksi : tungkai bawah, lengan
bawah, badan dan punggung
tangan
• Distribusi : bilateral, simetris
• Jumlah : 1 atau lebih tersebar
• Ukuran : bervariasi milier – plakat

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Dermatitis Numularis
• Perjalanan Penyakit
– Papula, makula, vesikula  bergabung menjadi
bulatan batas tegas, eritematosa  vesikel pecah
 eksudasi & krusta  likenifikasi & skuama

Atlas Penyakit Kulit & Kelamin


Airlangga University Press
Pengobatan
UMUM
• Cari faktor provokasi
• Fokal infeksi
• Kulit kering
• Hindari bahan iritan / alergen

KHUSUS
• Sistemik : Antibiotika
Kortikosteroid
• Topikal : Kompres PK 1/10.000 (lesi basah)
Kortikosteroid (lesi kering)

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Diagnosis Banding
100. Kandidosis
• Kandidosis: penyakit jamur bisa bersifat akut/subakut disebabkan
oleh genus Candida
• Klasifikasi
– Kandidosis mukosa: kandidosis oral, perleche, vulvovaginitis, balanitis,
mukokutan kronik, bronkopulmonar
– Kandidosis kutis: lokalisata, generalisata, paronikia & onikomikosis,
granulomatosa
– Kandidosis sistemik: endokarditis, meningitis, pyelonefritis, septikemia
– Reaksi id (kandidid)
• Faktor
– Endogen: perubahan fisiologik (kehamilan, obesitas, iatrogenik, DM,
penyakit kronik), usia (orang tua & bayi), imunologik
– Eksogen: iklim panas, kelembaban tinggi, kebiasaan berendam kaki,
kontak dengan penderita

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
Kandidosis kutis
• Bentuk klinis:
– Kandidosis intertriginosa: Lesi di daerah lipatan kulit ketiak, lipat
paha, intergluteal, lipat payudara, sela jari, glans penis, dan
umbilikus berupa bercak berbatas tegas, bersisik, basah,
eritematosa. Dikelilingi oleh satelit berupa vesikel-vesikel dan
pustul-pustul kecil atau bula
– Kandidosis perianal: Lesi berupa maserasi seperti dermatofit
tipe basah
– Kandidosis kutis generalisata: Lesi terdapat pada glabrous skin.
Sering disertai glossitis, stomatitis, paronikia
• Pemeriksaan: KOH (selragi, blastospora, hifa semu), kultur
di agar Sabouraud
• Pengobatan: hindari faktor predisposisi, antifungal (gentian
violet 0,5-1%, nistatin, amfoterisin B, grup azole)
Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
101. Virulensi C. albicans
• Mannoprotein:
– Mempunyai sifat imunosupresif  mempertinggi
pertahanan jamur terhadap imunitas hospes  C.
albicans tidak hanya menempel, namun juga
melakukan penetrasi ke dalam mukosa.

• Enzim yang berperan sebagai faktor virulensi


– Enzim-enzim hidrolitik: proteinase, lipase dan
fosfolipase.
• Tjampakasari, CR. Karakteristik Candida albicans. Cermin Dunia Kedokteran. 2006; 151: 33-36
• Fuberlin. Candida albicans Patogenicity. [Cited 2012 Jan 22].
4.
Vaginal Discharge
Patologi Candida Trikomonas BV Gonorre Chlamydia
Warna Putih seperti Kuning keabuan Kuning Non spesifik,
santan kehijauan keruh (pus) ada darah

Bau Asam Seperti ikan Amis, ikan Purulen mukopurulen


busuk
Serviks Bercak putih Strawberry Putih homogen, Edema Edema serviks,
menempel cervix melekat serviks rapuh
pada serviks
Px/ Pseudohifa, Parasit Clue cell Diplokokus PMN > 30/LPB
blastospora berflagel gram (-)
intrasel
102. Trikomoniasis
• Infeksi saluran urogenital bagian bawah oleh Trichomonas vaginalis, bisa
bersifat akut/kronik, penularan biasanya melalui hubungan seksual (dapat
juga melalui pakaian atau karena berenang)
• Gejala klinis:
– Pada wanita:
• Sekret vagina seropurulen berwana kekuningan, kuning-hijau, berbau tidak enak,
berbusa
• Dinding vagina kemerahan, terdapat abses yang tampak sebagai granulasi berwarna
merah (strawberry appearance), dispareunia, perdarahan pascakoitus, perdarahan
intermenstrual
– Pada laki-laki: gambaran klinis lebih ringan, mirip uretritis nongonore
• Pemeriksaan:
– Sediaan basah
– Pemeriksaan pewarnaan Giemsa
• Pengobatan:
– Topikal: cairan irigasi (H2O, asam laktat), supositoria/gel trikomoniasudal
– Sistemik: metronidazol (2 g single dose atau 500 mg x 7 hari), tinidazol

Djuanda A. Ilmu penyakit kulit dan kelamin, 5th ed. Balai Penerbit FKUI; 2007.
103. Skabies
• Etiologi: Sarcoptes scabiei

• Gejala (4 tanda kardinal):


– Pruritus nokturna, menyerang sekelompok orang, ditemukan
terowongan, ditemukan s. scabiei

• Burrow ink test:


– Papul skabies dilapisi dengan tinta cina  biarkan 20-30 menit
bersihkan dengan kapas alkohol: terowongan terlihat lebih
gelap dibanding kulit sekitar karena akumulasi tinta didalam
terowongan. Tes dinyatakan positif bila terbetuk gambaran
kanalikuli yang khas berupa garis menyerupai bentuk zigzag.
• Burns DA. Diseases Caused by Arthropods and Other Noxious Animals, in: Burns T,
Breathnach S, Cox N, Griffiths C. Rooks Textbook of Dermatology. Vol.2. USA: Blackwell
publishing; 2004. 37-47.
• Itzhak Brook. Microbiology of Secondary Bacterial Infection in Scabies Lesions.
J Clin Microbiol. 1995. August: 33/2139-2140.
Pengobatan Skabies
• Permethrin 5%
– Pilihan utama, kontra indikasi pada bayi < 2 bulan , ibu
hamil (penggunaan < 2 jam) dan menyusui

• Sulfur presipitat (2-10%), biasanya 6%


– Aman pd segala umur, dioles 24 jam selama 3 hari

• Benzil benzoat 12,5% (anak), 25%


– Kontraindikasi menyerupai permethrin

• Gameksan 1%
– Selama 6 jam, kontraindikasi < 6 tahun
• Harahap M. Ilmu Penyakit Kulit.Ed.1. Jakarta: Hipokrates; 2000. 109-13.
• Amiruddin MD. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Ed.1. Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin ; 2003. 5-10.
104. Investasi cacing
A. Lumbricoides A. duodenale N. americanus T. trichiura O. vermicularis

Morf 12-49 cm 8-13 mm 7-11 mm 30-50 mm 8-13 mm


Entry Telur terfertilisasi Larva filariform Larva filariform Telur Telur

Parasitologi Kedokteran FKUI


Loeffler's syndrome
• Eosinofil terakumulasi di paru-paru akibat
reaksi hipersensitivitas terhadap infeksi parasit
 pneumonia eosinofilik
• Etiologi:
– Ascaris lumbricoides, Strongyloides stercoralis,
Ancylostoma duodenale, dan Necator americanus
105. Creeping Eruption
• Etiologi
– Invasi larva cacing tambang Ancylostoma braziliense
dan Ancylostoma caninum
• Gejala Klinis
– Gatal, panas, papula linier atau berkelok-kelok
eritema
– Predileksi di tungkai/ daerah yang berkontak dgn
tanah
• Terapi:
– Spray kloretil
– Tiabendazole 50 mg/kgBB/hari, 2x/hari selama 2 hari

Atlas Penyakit Kulit & Kelamin


Airlangga University Press
106. Enterobiasis
• Enterobiasis disebabkan
oleh Enterobius
vermicularis
• Gejala: sering asimtomatik
– Pruritus ani & vulva
terutama malam hari
– Insomnia, nyeri abdomen
– Enuresis pada anak
• Diagnosis: menemukan
telur dengan tape di
perineum saat
malam/pagi hari sebelum
mandi

Wolfram W. Enterobiasis. http://emedicine.medscape.com/article/997814-overview


Nama cacing Cacing dewasa Telur Obat

Ascaris Mebendazole,
lumbricoides pirantel pamoat

Taenia solium Albendazole,


prazikuantel, bedah

Enterobius Pirantel pamoat,


vermicularis mebendazole,
albendazole
Ancylostoma Mebendazole,
duodenale pirantel pamoat,
Necator albendazole
americanus
Schistosoma Prazikuantel
haematobium

Trichuris Mebendazole,
trichiura albendazole

Brooks GF. Jawetz, Melnick & Adelberg’s medical microbiology, 23rd ed. McGraw-Hill; 2004.
107. Farmakologi Primakuin

Keputusan Menteri Kesehatan RI No 44/Menkes/SK/1/2007 Tentang Pengobatan Malaria


Farmakologi Primakuin

Keputusan Menteri Kesehatan RI No 44/Menkes/SK/1/2007 Tentang Pengobatan Malaria


108. Kemoprofilaksis Malaria
• Tujuan
– Mengurangi risiko terjangkit penyakit malaria sehingga bila terinfeksi
gejala klinis tidak berat

• Sasaran Pengguna
– Orang yang akan bepergian ke daerah endemis malaria dalam waktu
yang tidak terlalu lama (turis, peneliti)
– Untuk orang yang menetap lama: personal protection (kelambu,
repellent, kawat kassa, dll)

• Terutama ditujukan untuk P. falciparum karena memiliki virulensi


tertinggi  resisten kloroquin

• Dosis
– 2 mg/kgBB diminum mulai H-1 keberangkatan hingga tidak lebih dari 2
minggu
– Kontraindikasi: anak < 8 tahun dan ibu hamil

Pedoman Penatalaksanaan Kasus Malaria di Indonesia, Direktorat Jenderal


Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan DepKes RI
109.
110-111. Media Pertumbuhan Selektif
• Eosin methylene blue (EMB): selektif untuk spesies coli
• YM (yeast and mold): pH rendah  untuk media jamur
• MacConkey agar: Untuk bakteri gram (-)
• Mannitol salt agar (MSA): Selektif untuk bakteri gram
(+)
• Xylose lysine desoxyscholate (XLD): Selektif untuk
bakteri gram (-)
• Buffered charcoal yeast extract agar: untuk Legionella
pneumophila
• Baird–Parker agar: Untuk stafilokokus
Media Pertumbuhan Diferensial
• Untuk membedakan subspesies
• Blood agar: mengandung darah sapi yang akan
menjadi transparan bila terdapat streptokokus
hemolitikus
• Eosin methylene blue (EMB): Untuk membedakan
bakteri yang memfermentasi laktosa
• MacConkey (MCK): Sama seperti EMB
• Mannitol salt agar (MSA): Untuk membedakan
bakteri yang memfermentasi manitol
Agar Lowenstein-Jensen
• Sebagai media pertumbuhan bakteri
mycobacterium, terutama mycobacterium
tuberculosis
• Tampak seperti koloni coklat bergranular
Pewarnaan Ziel-Nielsen
• Pewarnaan tahan asam  mewarnai golongan Mycobacterium dan
Actinomyces.

• Bakteri genus Mycobacterium dan beberapa spesies nocardia pada


dinding selnya mengandung banyak zat lipid (lemak) sehingga
bersifat permeable dengan pewarnaan biasa

• Bahan pemeriksaan TB: Sputum yang diambil dari pasien tersangka


KP (Koch pulmonum), tetapi dapat pula diambil dari lokasi lain
seperti cairan otak (Liquor Cerebro Spinalis), getah lambung, urine,
ulkus, dll.

• Prinsip Pewarnaan
– Bakteri tahan asam (BTA) akan memberikan warna merah, sedangkan
yang tidak tahan asam akan berwarna biru.

Rinda. 2014. Bakteri 1. [Online] http://rindachie.weng.com/menu/labs/bakteri-5.html


Admin. 2014. Mycobacterium tuberculosis.[Online]
http://id.m.wikipedia.org/wiki/mycobacterium.tuberculosis .
112. Pembagian Menurut WHO
Pengobatan Kusta
ILMU KESEHATAN ANAK
113-114. Congenital Hypothyroidism
Etiology
• Thyroid Function: • The fetal pituitary-thyroid axis is
– normal brain growth and myelination believed to function independently
and for normal neuronal of the maternal pituitary-thyroid
connections. axis.
– The most critical period fis the first
few months of life. • The contributions of maternal
thyroid hormone levels to the fetus
• The thyroid arises from the fourth are thought to be minimal, but
branchial pouches.
maternal thyroid disease can have
• The thyroid gland develops between a substantial influence on fetal and
4 and 10 weeks' gestation. neonatal thyroid function.
• By 10-11 weeks' gestation, the fetal – Immunoglobulin G (IgG)
thyroid is capable of producing autoantibodies, as in autoimmune
thyroid hormone. thyroiditis, can cross the placenta
• By 18-20 weeks' gestation, blood and inhibit thyroid function
levels of T4 have reached term levels. (transient)
T – Thioamides (PTU) can block fetal
thyroid hormone synthesis
(transient)
– Radioactive iodine administered to
a pregnant woman can ablate the
fetus's thyroid gland permanently.
http://emedicine.medscape.com/article/919758-overview#aw2aab6b2b2aa
115. Atrial Septal Defect
ASD:
Pathophysiology & Clinical Findings
Ro:
Increased flow into right side of - enlargement of RV, RA, &
the heart & lungs pulmonary artery
- increased vasvular marking

Constant increased of Wide, fixed 2nd heart sound


ventricular diastolic volume splitting

Increased flow across tricuspid Mid-diastolic murmur at the lower


valve left sternal border

Increased flow across Thrill & systolic ejection murmur, best


heard at left middle & upper sternal
pulmonary valve border

Flow across the septal defect doesn’t produce murmur because the pressure gap
between LA & RA is not significant
1. Nelson’s textbook of pediatrics. 18th ed.
116. Patent Ductus Arteriosus
117. Pewarisan
Genetik
Thalassemia-α
Penurunan genetik thalassemia
beta jika kedua orang tua
merupakan thalassemia trait

NB: need four genes (two from


each parent) to make enough alpha
globin protein chains.

http://imagebank.hematology.org/AssetDetail.aspx?AssetID=9909&AssetType=Asset
Thalassemia-β
Penurunan genetik
thalassemia beta jika kedua
orang tua merupakan
thalassemia trait
http://elcaminogmi.dnadirect.com/grc
/patient-site/alpha-thalassemia-
carrier-screening/genetics-of-alpha-
thalassemia.html?6AC396EC1151986D
584C6C02B56BBCC0

NB: need
two genes
(one from
each parent)
to make
enough beta
globin
protein
chains.
118. Difteri
• Penyebab : toksin • Pemeriksaan : Gram, Kultur
Corynebacterium diphteriae • Obat:
• Organisme: – Antitoksin: 40.000 Unit ADS IM/IV,
– Basil batang gram positif skin test
– Pembesaran ireguler pada salah – Anbiotik: Penisillin prokain 50.000
satu ujung (club shaped) Unit/kgBB IM per hari selama 7
– Setelah pembelahan sel, hari atau eritromisin 25-50 kgBB
membentuk formasi seperti huruf dibagi 3 dosis selama 14 hari
cina atau palisade – Hindari oksigen kecuali jika terjadi
obstruksi saluran repirasi
• Gejala: (Pemberian oksigen dengan nasal
– Gejala awal nyeri tenggorok prongs dapat memebuat anak
– Bull-neck (bengkak pada leher) tidak nyaman dan mencetuskan
– Pseudomembran purulen obstruksi)
berwarna putih keabuan di faring, – Indikasi trakeostomi/intubasi :
tonsil, uvula, palatum. Terdapat tanda tarikan dinding
Pseudomembran sulit dilepaskan. dada bagian bawah ke dalam yang
Jaringan sekitarnya edema. berat
– Edema dapat menyebabkan stridor
dan penyumbatan sal.napas
Todar K. Diphtheria. http://textbookofbacteriology.net/diphtheria.html; Demirci CS. Pediatric diphtheria. http://emedicine.medscape.com/article/963334-overview; PPM IDAI
http://4.bp.blogspot.com/
119. Inverted Nipple
• Bentuk puting: normal (menonjol), flat • Utk bisa menyusu scr efektif, bayi harus
nipple, inverted nipple bisa meraih puting dan mereganggkannya
• Derajat inverted/ terbenam bervariasi ke atas menuju langit-langit mulutnya
• Grade inverted nipple: • Sebagian besar puting rata maupun
– Grade 1 : Puting tertarik ke dalam, terbenam tidak akan menyebabkan
masih mudah untuk ditarik dan dapat
bertahan cukup lama tanpa perlu kesulitan dalam menyusui
tarikan. Namun tekanan lembut di • 1/3 wanita bisa mengalami inverted
sekitar areola pada kulit dapat nipple, tetapi selama kehamilan terjadi
menyebabkan puting tertarik ke
dalam kembali. perubahan kulit yg mjd lebih elastis.
– Grade 2: Puting yang tertarik ke Hanya 10% sisanya yg tetap mengalami
dalam dan masih bisa ditarik keluar, inversi saat bayi lahir
tidak semudah grade 1. Setelah • “pinch” test (penekanan daerah areola
tarikan dilepas, puting akan masuk ke
dalam kembali sekitar 2 cm di luar puting): utk
– Grade 3: posisinya sangat tertarik ke menentukan apakah puting datar/
dalam dan sulit untuk ditarik keluar terbenam
apalagi untuk mempertahankan tetap – Kalau Flat  menjadi menonjol
terlihat. (karena perlekatan jaringan
puting di jaringan bawahnya) – Kalau inverted  menjadi retraksi atau
terbenam menghilang
Cara mengatasi inverted nipple
• Setelah beberapa kali menyusu, • After baby is born, a breast pump can
isapan bayi yg kuat akan be used to draw out a flat or inverted
mengalahkan gaya yg menarik puting nipple immediately before putting
ke dalan dan membuat puting your baby on the breast.
menonjol  semakin bertambah – Pumping can also be useful in order to
besar bayi, isapan semakin kuat, break the adhesions under the skin by
puting akan semakin keluar. applying uniform pressure from the
center of the nipple.
• Hoffman Technique: latihan manual
untuk melepaskan adhesi/ perlekatan • Jalan terkahir: rekonstruksi dengan
yg terjadi di dasar puting tindakan pembedahan (operasi).
– Place the thumbs of both hands
opposite each other at the base of the
nipple and gently but firmly pull the
thumbs away from each other. Do this
up and down and sideways. Repeat this
exercise twice a day at first, then work
up to five times a day. You can do this
during pregnancy to prepare your
nipples, as well as after your baby is
born in order to draw them out.
120. Food Allergy (Protein Susu Sapi)
• Hipersensitivitas terhadap protein di dalam makanan (cth kasein & whey dari
produk sapi)
• Mekanisme pertahanan spesifik dan non-spesifik saluran cerna belum sempurna,
antigen masuk lewat saluran cerna  hipersensitivitas
• Hipersensitivitas bisa diperantarai IgE atau Tidak diperantarai IgE
• The prevalence of food allergies has been estimated to be 5-6% in infants and
children younger than 3 years and 3.7 % in adults
• Gejala:
– Anafilaktik
– Kulit: dermatitis atopik, urtikaria, angioedema
– Saluran nafas: asma, rinitis alergi
– Saluran cerna: oral allergy syndrome, esofagitis eosinofilik, gastritis eosinofilik, gastroenteritis
eosinofilik, konstipasi kronik, dll.
• Pemeriksaan: skin test, IgE serum, eliminasi diet, food challenge
• Tata laksana:
– Eliminasi makanan yang diduga mengandung alergen
– Breastfeeding, ibu ikut eliminasi produk susu sapi dalam dietnya
– Susu terhidrolisat sempurna bila susah untuk breastfeeding
Nocerino A. Protein intolerance. http://emedicine.medscape.com/article/931548-overview
PPM IDAI
121. Jenis Susu Formula/ PASI
• PASI (Pengganti Air Susu Ibu) adalah alternatif terakhir bila memang ASI
tidak keluar, kurang atau karena sebab lainnya.
• PASI dapat dikelompokkan menjadi
1. susu formula awal (starting formula): Starting Formula biasanya
diberikan sejak lahir sebelum usia 6 bulan
2. susu lanjutan (Followup Formula): Followup Formula diberikan di atas
usia 6 bulan.
3. susu formula khusus (specific formula): Spesific formula merupakan
formula khusus yang diberikan pada bayi yang mengalami gangguan
malabsorbsi, alergi, intoleransi ataupun penyakit metabolik.
• susu hidrolisa protein ektensif
– termasuk yang paling aman karena komposisinya tanpa laktosa, mengandung banyak lemak
MCT (monochain trigliserida) dan protein susu yang lebih mudah dicerna.
– untuk penderita alergi susu sapi, alergi susu kedelai, malabsorspsi
• susu hidrolisat protein parsial: untuk bayi yang beresiko alergi atau untuk mencegah
gejala alergi agar tidak semakin memberat
• Susu formula khusus kedelai atau susu formula soya
– mengandung bahan dasar kedelai sebagai pengganti susu sapi.
• susu bebas atau rendah laktosa. Susu formula khusus ini digunakan untuk penderita
intoleransi laktosa
122. PNEUMONIA
• Inflammation of the parenchyma of the lungs

http://emedicine.medscape.com/article/967822
Pneumonia
• Tanda utama menurut WHO: fast • rawat jalan
breathing & lower chest indrawing – Kotrimoksasol (4 mg TMP/kg BB/kali) 2
• Signs and symptoms : kali sehari selama 3 hari atau
Amoksisilin (25 mg/kg BB/kali) 2 kali
– Non respiratory: fever, headache, sehari selama 3 hari.
fatigue, anorexia, lethargy, • Rawat inap
vomiting and diarrhea,
abdominal pain – ampisilin/amoksisilin (25-50
mg/kgBB/kali IV atau IM setiap 6 jam)
– Respiratory: cough, chest pain, selama 5 hari. Selanjutnya dilanjutkan
tachypnea , grunting, nasal dgn amoksisilin PO (15 mg/ kgBB/kali
flaring, subcostal retraction tiga kali sehari) untuk 5 hari berikutnya.
(chest indrawing), cyanosis,
– Bila keadaan klinis memburuk sebelum
crackles and rales (ronchi) 48 jam, atau terdapat keadaan yang
berat ampicillin ditambah kloramfenikol
(25 mg/kgBB/kali IM atau IV setiap 8
jam).
– Alternatif: ampisilin-gentamisin,
seftriakson (80-100 mg/kgBB IM atau IV
sekali sehari).
Fast breathing (tachypnea)
Respiratory thresholds
Age Breaths/minute
< 2 months 60
2 - 12 months 50
1 - 5 years 40
123. Glomerulonefritis akut
• Glomerulonefritis akut ditandai dengan edema, hematuria,
hipertensi dan penurunan fungsi ginjal (sindrom nefritik) di mana
terjadi inflamasi pada glomerulus
• Acute poststreptococcal glomerulonephritis is the archetype of
acute GN
• GNA pasca streptokokus terjadi setelah infeksi GABHS nefritogenik
→ deposit kompleks imun di glomerulus
• Diagnosis
– Anamnesis: Riwayat ISPA atau infeksi kulit 1-2 minggu sebelumnya,
hematuri nyata, kejang atau penurunan kesadaran, oliguri/anuri
– PF: Edema di kedua kelopak mata dan tungkai, hipertensi, lesi bekas
infeksi, gejala hipervolemia seperti gagal jantung atau edema paru
– Penunjang: Fungsi ginjal, komplemen C3, urinalisis, ASTO
• Terapi: Antibiotik (penisilin, eritromisin), antihipertensi, diuretik

Geetha D. Poststreptococcal glomerulonephritis. http://emedicine.medscape.com/article/240337-overview


Nefrotik vs Nefritik
124. ISK: Pielonefritis
• 3 bentuk gejala UTI:
– Pyelonefritis (upper UTI): nyeri abdomen, demam, malaise, mual,
muntah, kadang-kadang diare
– Sistitis (lower UTI): disuria, urgency, frequency, nyeri suprapubik,
inkontinensia, urin berbau
– Bakteriuria asimtomatik: kultur urin (+) tetapi tidak disertai gejala
• Pemeriksaan Penunjang :
– Urinalisis : Proteinuria, leukosituria (>5/LPB), Hematuria
(Eritrosit>5/LPB)
– Biakan urin dan uji sensitivitas
– Kreatinin dan Ureum
– Pencitraan ginjal dan saluran kemih untuk mencari kelainan
anatomis maupun fungsional
• Diagnosa pasti : Bakteriuria bermakna pada biakan urin (>10 5 koloni
kuman per ml urin segar pancar tengah (midstream urine) yang
diambil pagi hari)

Pelayanan Kesehatan Anak di Rumah Sakit. WHO. & PPM IDAI


Interpretasi Hasil Biakan Urin
125. Pediatric Airway Foreign Body
• 3% in the larynx LARYNGEAL FOREIGN BODY
• 13% in the trachea • Highest risk of death before
• 52% in the right main bronchus arrival to the hospital
• 6% in the right lower lobe • Additional history/physical:
bronchus – Complete airway obstruction
• fewer than 1% in the right – Hoarseness
middle lobe bronchus
– Stridor
• 18% in the left main bronchus
– dyspnea
• 5% in the left lower lobe
bronchus; 2% were bilateral. • Imaging Studies
• In a child in a supine position, – Neck X-Ray lateral and AP:
material is more likely to enter foreign body in larynx will be
the right main bronchus. in the anterior and sagittal
planes
– Direct Laryngoscopy:
diagnostic and therapeutic
Airway Foreign Body
TRACHEAL FOREIGN BODY BRONCHIAL FOREIGN BODY
• Additional • 80-90% of airway foreign
history/physical: bodies
– Complete airway • Right main stem most
obstruction common (controversial)
– Audible slap • Additional history/physical:
– Diagnostic triad (<50% of
– Palpable thud cases):
– Asthmatoid wheeze • unilateral wheezing
• decreased breath sounds
• cough
– Chronic cough or asthma,
recurrent pneumonia, lung
abscess

http://emedicine.medscape.com/article/1001253-workup
126.
Algoritme
Penanggulan
gan dan
Pencitraan
Anak dengan
ISK
126. Tatalaksana UTI
• Tujuan : Memberantas kuman penyebab, mencegah dan menangani komplikasi dini, mencari
kelainan yang mendasari
• Umum (Suportif)
– Masukan cairan yang cukup
– Edukasi untuk tidak menahan berkemih
– Menjaga kebersihan daerah perineum dan periurethra
– Hindari konstipasi
• Khusus
– Sebelum ada hasil biakan urin dan uji kepekaan, antibiotik diberikan secara empirik
selama 7-10 hari
– Obat rawat jalan : kotrimoksazol oral 24 mg/kgBB setiap 12 jam, alternatif ampisilin,
amoksisilin, kecuali jika :
• Terdapat demam tinggi dan gangguan sistemik
• Terdapat tanda pyelonefritis (nyeri pinggang/bengkak)
• Pada bayi muda
– Jika respon klinis kurang baik, atau kondisi anak memburuk berikan gentamisin (7.5
mg/kg IV sekali sehari) + ampisilin (50 mg/kg IV setiap 6 jam) atau sefalosporin gen-3
parenteral
– Antibiotik profilaksis diberikan pada ISK simpleks berulang, pielonefritis akut, ISK pada
neonatus, atau ISK kompleks (disertai kelainan anatomis atau fungsional)
– Pertimbangkan komplikasi pielonefritis atau sepsis
127. Skoring Tuberkulosis pada Anak
Kriteria Keterangan di soal Nilai
Kontak TB Kontak TB BTA (+) 3
Uji tuberkulin
Demam > 2 1 bulan 1
minggu
Batuk > 3 1 bulan 1
minggu
Kelainan sendi + - 0
tulang
Foto rontgen - 0
Pembesaran -
KGB
Status gizi BB turun tapi status 0
gizi tidak diketahui di
soal
JUMLAH 5
128. Pemberian Vaksin BCG
• Vaksin BCG diberikan pada umur <3 bulan, sebaiknya pada
anak dengan uji Mantoux (tuberkulin) negatif.
• Efek proteksi timbul 8–12 minggu setelah penyuntikan.
• Vaksin BCG diberikan secara intradermal 0,10 ml untuk
anak, 0,05 ml untuk bayi baru lahir.
• Diberikan secara intrakutan di daerah lengan kanan atas
pada insersio M.deltoideus
• Vaksin BCG diberikan apabila uji tuberkulin negatif pada
umur lebih dari 3 bulan.
• Pada bayi yang kontak erat dengan pasien TB dengan
bakteri tahan asam (BTA) +3 sebaiknya diberikan INH
profilaksis dulu, apabila pasien kontak sudah tenang bayi
dapat diberi BCG.
129. Enkopresis
• involuntary discharge of feces (ie, • Diagnostic criteria (DSM 5):
fecal incontinence) – Repeated passage of feces into
• divided into 2 subtypes: encopresis inappropriate places, whether
involuntary or intentional
with constipation (retentive
– One such event occurs each month for
encopresis) and encopresis without at least 3 months
constipation (non retentive – Occurs in children at least age 4 years
encopresis) (or of equivalent developmental level)
• Signs and symptoms – The behavior is not attributable to the
– History of constipation or painful physiologic effects of a substance or
defecation (~80-95% of children with another medical condition except
encopresis) through a mechanism involving
– Inability to differentiate passing gas and constipation
passing feces in underwear
– Soiling episodes usually occurring
during the daytime (soiling during sleep
is uncommon)
– With retentive encopresis, intermittent
passage of extremely large bowel
movements
progressive
rectal
distention Soft or
and liquid stool
Chronic cons eventually
stretching of the child
tipation due no longer leaks
both the habituates
to irregular senses the
and
internal anal to chronic
normal urge
around the
sphincter rectal retained
incomplete to defecate
and the distention fecal mass
evacuation
external —> fecal
anal
soiling.
sphincter
(EAS)
Konstipasi
Enuresis
• Eneuresis: mengompol
• Diagnostic criteria:
– Repeated voiding of urine into bed or clothes, whether
involuntary or intentional
– The behavior either (a) occurs at least twice a week for at
least 3 consecutive months or (b) results in clinically
significant distress or social, functional, or academic
impairment
– The behavior occurs in a child who is at least 5 years old
(or has reached the equivalent developmental level)
– The behavior cannot be attributed to the physiologic
effects of a substance or other medical condition
130. Penyebab ikterik ec. Anemia Hemolisis
pada neonatus
Penyakit Keterangan
Inkompatibilitas ABO Adanya aglutinin ibu yang bersirkulasi di darah anak
terhadap aglutinogen ABO anak. Ibu dengan golongan darah
O, memproduksi antibodi IgG Anti-A/B terhadap gol. darah
anak (golongan darah A atau B). Biasanya terjadi pada anak
pertama. Pemeriksaan: Coomb’s Test
Inkompatibilitas Rh Rh+ berarti mempunyai antigen D, sedangkan Rh– berarti
tidak memiliki antigen D. Hemolisis terjadi karena adanya
antibodi ibu dgn Rh- yang bersirkulasi di darah anak
terhadap antigen Rh anak (berati anak Rh+). Jarang pada
anak pertama krn antibodi ibu terhadap antigen D anak yg
berhasil melewati plasenta belum banyak.
Ketika ibu Rh - hamil anak kedua dgn rhesus anak Rh +
antibodi yang terbentuk sudah cukup untuk menimbulkan
anemia hemolisis. Pemeriksaan: Coomb’s Test
Inkompatibilitas ABO
• Terjadi pada ibu dengan • Gejala yang timbul adalah
golongan darah O terhadap ikterik, anemia ringan, dan
janin dengan golongan peningkatan bilirubin
darah A, B, atau AB serum.
• Tidak terjadi pada ibu gol A • Lebih sering terjadi pada
dan B karena antibodi yg bayi dengan gol darah A
terbentuk adalah IgM yg tdk dibanding B, tetapi
melewati plasenta, hemolisis pada gol darah
sedangkan 1% ibu gol darah tipe B biasanya lebih parah.
O yang memiliki titer • Inkompatibilitas ABO jarang
antibody IgG terhadap sekali menimbulkan hidrops
antigen A dan B, bisa fetalis dan biasanya tidak
melewati plasenta separah inkompatibilitas Rh
131. Ikterus yang Berhubungan
dengan ASI
Breast Feeding Jaundice (BFJ) Breast Milk Jaundice (BMJ)
• Disebabkan oleh kurangnya asupan • Berhubungan dengan pemberian ASI dari ibu
tertentu dan bergantung pada kemampuan
ASI sehingga sirkulasi enterohepatik bayi mengkonjugasi bilirubin indirek
meningkat (pada hari ke-2 atau 3 saat
• Kadar bilirubin meningkat pada
ASI belum banyak)
hari 4-7
• Timbul pada hari ke-2 atau ke-3
• Dapat berlangsung 3-12 minggu
• Penyebab: asupan ASI kurang  tanpa penyabab ikterus lainnya
cairan & kalori kurang  penurunan
• Penyebab: 3 hipotesis
frekuensi gerakan usus  ekskresi
– Inhibisi glukuronil transferase oleh
bilirubin menurun
hasil metabolisme progesteron
yang ada dalam ASI
– Inhibisi glukuronil transferase oleh
asam lemak bebas
– Peningkatan sirkulasi enterohepatik
Indikator BFJ BMJ
Awitan Usia 2-5 hari Usia 5-10 hari
Lama 10 hari >30 hari
Volume ASI asupan ASI kurang  cairan & Tidak tergantung dari volume ASI
kalori kurang  penurunan
frekuensi gerakan usus 
ekskresi bilirubin menurun
BAB Tertunda atau jarang Normal
Kadar Bilirubin Tertinggi 15 mg/dl Bisa mencapai >20 mg/dl
Pengobatan Tidak ada, sangat jarang Fototerapi, Hentikan ASI jika kadar
fototerapi Teruskan ASI bilirubin > 16 mg/dl selama lebih
disertai monitor dan evaluasi dari 24 jam (untuk diagnostik)
pemberian ASI AAP merekomendasikan
pemberian ASI terus menerus dan
tidak menghentikan
Gartner & Auerbach
merekomendasikan penghentian
ASI pada sebagian kasus
• For healthy term infants with breast milk or breastfeeding
jaundice and with bilirubin levels of 12 mg/dL to 17 mg/dL, the
following options are acceptable: Increase breastfeeding to 8-12
times per day and recheck the serum bilirubin level in 12-24
hours.
• Temporary interruption of breastfeeding is rarely needed and is
not recommended unless serum bilirubin levels reach 20 mg/dL.
• For infants with serum bilirubin levels from 17-25 mg/dL, add
phototherapy to any of the previously stated treatment options.
• The most rapid way to reduce the bilirubin level is to interrupt
breastfeeding for 24 hours, feed with formula, and use
phototherapy; however, in most infants, interrupting
breastfeeding is not necessary or advisable

Breast Milk Jaundice Treatment & Management. Medscape.com


132. Atresia Bilier
• Merupakan penyebab kolestasis tersering dan serius pada bayi yang
terjadi pada 1 per 10.000 kelahiran
• Ditandai dengan adanya obstruksi total aliran empedu karena destruksi
atau hilangnya sebagian atau seluruh duktus biliaris. Merupakan proses
yang bertahap dengan inflamasi progresif dan obliterasi fibrotik saluran
bilier
• Etiologi masih belum diketahui
• Tipe embrional 20% dari seluruh kasus atresia bilier,
– sering muncul bersama anomali kongenital lain seperti polisplenia, vena porta
preduodenum, situs inversus dan juga malrotasi usus.
– Ikterus dan feses akolik sudah timbul pada 3 minggu pertama kehidupan
• tipe perinatal yang dijumpai pada 80% dari seluruh kasus atresia bilier,
ikterus dan feses akolik baru muncul pada minggu ke-2 sampai minggu
ke-4 kehidupan.

Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Dept IKA RSCM. 2007
Atresia Bilier
• Gambaran klinis: biasanya terjadi pada bayi perempuan,
lahir normal, bertumbuh dengan baik pada awalnya, bayi
tidak tampak sakit kecuali sedikit ikterik. Tinja
dempul/akolil terus menerus. Ikterik umumnya terjadi
pada usia 3-6 minggu
• Laboratorium : Peningkatan SGOT/SGPT ringan-sedang.
Peningkatan GGT (gamma glutamyl transpeptidase) dan
fosfatase alkali progresif.
• Diagnostik: USG dan Biopsi Hati
• Terapi: Prosedur Kasai (Portoenterostomi)
• Komplikasi: Progressive liver disease, portal hypertension,
sepsis

Diagnosis dan Tatalaksana Penyakit Anak dengan Gejala Kuning. Dept IKA RSCM. 2007
133. Dehidrasi pada anak dgn diare akut
134. Hipoglikemia pada Neonatus
• Insulin dalam aliran darah fetus
• Hipoglikemia adalah kondisi bayi tidak bergantung dari insulin ibu,
dengan kadar glukosa darah <45 tetapi dihasilkan sendiri oleh
mg/dl (2.6 mmol/L), baik bergejala pankreas bayi
atau tidak
• Pada Ibu DM terjadi
• Hipoglikemia berat (<25 mg/dl) dapat
hiperglikemia dalam peredaran
menyebabkan palsi serebral,
retardasi mental, dan lain-lain
darah uteroplasental bayi
mengatasinya melalui
• Etiologi
– Peningkatan pemakaian glukosa
hiperplasia sel B langerhans yang
(hiperinsulin): Neonatus dari ibu DM, menghasilkan insulin  insulin
Besar masa kehamilan, eritroblastosis tinggi
fetalis
– Penurunan produksi/simpanan glukosa: • Begitu lahir, aliran glukosa yang
Prematur, IUGR, asupan tidak adekuat menyebabkan hiperglikemia
– Peningkatan pemakaian glukosa: stres
perinatal (sepsis, syok, asfiksia,
tidak ada, sedangkan insulin bayi
hipotermia), defek metabolisme tetap tinggi  hipoglikemia
karbohidrat, defisiensi endokrin, dsb

Pedoman Pelayanan Medis IDAI 2010


Hipoglikemia
• Diagnosis
– Anamnesis: tremor, iritabilitas, kejang/koma, letargi/apatis, sulit menyusui,
apneu, sianosis, menangis lemah/melengking
– PF: BBL >4000 gram, lemas/letargi/kejang beberapa saat sesudah lahir
– Penunjang: Pemeriksaan glukosa darah baik strip maupun darah vena, reduksi
urin, elektrolit darah
• Penatalaksanaan
– Bolus 200 mg/kg dengan dextrosa 10% IV selama 5 menit
– Hitung Glucose Infusion Rate (GIR), 6-8 mg/kgBB/menit untuk mencapai GD
maksimal. Dapat dinaikkan sampai maksimal 12mg/kgBB/menit
– Cek GD per 6 jam
– Bila hasil GD 36-47 mg/dl 2 kali berturut-turut + Infus dextrosa 10%
– Bila GD >47 mg/dl setelah 24 jam terapi, infus diturunkan bertahap
2mg/kgBB/menit setiap jam
– Tingkatkan asupan oral
SOP Divisi Perinatologi Departemen Ilmu
Kesehatan Anak FKUI RSCM
135. Osteomielitis hematogen akut
• Osteomyelitis is strictly defined as any form of • Sign + symptoms
inflammation involving bone and/or bone – Most children and adolescents with AHO present
marrow, but it is almost exclusively the result of with a history of bone pain for several days.
infection. – The hallmark of AHO pain is its constant nature,
with the level of pain increasing gradually.
• unlike the infection in adults, osteomyelitis in
– Pain generally leads to restricted use of the
children is generally of hematogenous origin
involved limb.
and is most often acute
– As the sites most often involved are the long
• Acute hematogenous osteomyelitis typically bones of the lower limbs, children frequently
arises in the metaphysis of long tubular bones, present with a limp.
with approximately two-thirds of all cases – In all cases, localized bone pain and fever should
involving the femur, tibia or humerus raise the clinical suspicion of AHO.
• Bacterial pathogens: – The classic signs of inflammation (redness,
warmth and swelling) do not appear unless the
– S. aureus is the pre-eminent pathogen and is
infection has progressed through the
responsible for 70–90% of AHO infections in
metaphyseal cortex into the subperiosteal space.
children
– Other etiological agents, include Streptococcus • Laboratory
pyogenes, Streptococcus pneumoniae, Group B – Elevated erythrocyte sedimentation rate (ESR),
streptococci (in infants), coagulase-negative elevated C-reactive protein (CRP) and leukocytosis
staphylococci (especially in implant-associated
infections), Kingella kingae, enteric Gram-negative
bacilli (especially Salmonella spp.

• .
136. Status Gizi
• Berat Badan/Umur
– Parameter pertumbuhan yang paling sederhana,
mudah diukur dan diulang, dan merupakan indeks
untuk status nutrisi sesaat
• Tinggi Badan/Umur
– Memberikan informasi bermakna (menggambarkan
status nutrisi dan pertumbuhan fisik) apabila dikaitkan
dengan hasil pengukuran BB
• Berat Badan/Tinggi Badan
– Untuk penilaian status nutrisi, mencerminkan proporsi
tubuh serta dapat membedakan antara wasting dan
stunting atau perawakan pendek
Pemantauan Pertumbuhan
Interpretasi Pengukuran TB/U Interpretasi Pengukuran BB/U
• Z Score • Z Score
– >2 SD : Tergolong sangat tinggi. – > 2 SD : Memiliki masalah
Rujuk anak jika dicurigai adanya pertumbuhan, lebih baik dinilai
gangguan endokrin (tinggi tidak dari pengukuran berat
sesuai perkiraan tinggi kedua orang terhadap tinggi atau BMI/U
tua, atau cenderung terus – 2 sd (-2) SD : Normal
meningkat) – <-2 SD : Underweight
– 2 sd (-2) SD : Normal
– <-3 SD : Severly underweight
– <-2 SD : Stunted
– <-3 SD : Severly stunted
• CDC-NCHS
– >120% : Gizi lebih
• CDC-NCHS
– 80-120% : Gizi baik
– 90-110% : Baik/normal
– 60-80% : Gizi kurang, buruk
– 70-89% : Tinggi kurang dengan edema
– <70% : Tinggi sangat kurang – <60% : Gizi buruk

Pedoman Pelayanan Medis Dept. IKA RSCM dan IDAI


Status Nutrisi BB/TB
• Cara penilaian status nutrisi:
– Z-score → menggunakan kurva WHO weight-for-height
• >3 – obesitas
• 2-3 – overweight
• 1-2 – possible overweight
• (-2) – (-1) -- normal
• (-2) – (-3) – moderate wasted
• <-3 – severe wasted
– BB/IBW (Ideal Body Weight) → menggunakan kurva CDC
• ≥120%  obesity
• ≥110 -120%  overweight
• ≥90-110%  normal
• ≥80-90%  mild malnutrition
• ≥70-80%  moderate malnutrition
• ≤70%  severe malnutrition.
137. KLASIFIKASI DBD
Derajat (WHO 1997):
• Derajat I : Demam dengan test rumple leed
positif.
• Derajat II : Derajat I disertai dengan perdarahan
spontan dikulit atau perdarahan lain.
• Derajat III : Ditemukan kegagalan sirkulasi, yaitu
nadi cepat dan lemah, tekanan nadi menurun/
hipotensi disertai dengan kulit dingin lembab dan
pasien menjadi gelisah.
• Derajat IV : Syock berat dengan nadi yang tidak
teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur.
WHO. SEARO. Guidelines for treatment of dengue fever/dengue hemorrhagic fever in
small hospitals. 1999.
Pemeriksaan Penunjang DBD
138. Sefalohematoma
• Definisi: perdarahan subperiosteal akibat trauma
persalinan; biasanya mengenai tulang parietal dan oksipital
• Etiologi: partus lama/obstruksi, persalinan dengan ekstraksi
vakum
• Tanda dan gejala: massa yang teraba agak keras dan
berfluktuasi; pada palpasi ditemukan kesan suatu kawah
dangkal didalam tulang di bawah massa; pembengkakan
tidak meluas melewati batas sutura yang terlibat
• Tatalaksana: dapat sembuh spontan setelah beberapa
minggu.
• Catatan: Jangan mengaspirasi sefalohematoma meskipun
teraba berfluktuasi
• Caput succedaneum
– Serosanguineous, subcutaneous, extraperiosteal fluid collection with
poorly defined margins
– Caused by the pressure of the presenting part against the dilating cervix
– Extends across the midline and over suture lines and is associated with
head molding
– Does not usually cause complications and usually resolves over the first
few days. Management consists of observation only
• Subgaleal hematoma
– Bleeding in the potential space between the skull periosteum and the
scalp galea aponeurosis. Result from a vacuum applied to the head at
delivery
– Fluctuant, boggy mass developing over the scalp (especially over the
occiput). The swelling may obscure the fontanelle and cross suture lines
– Patients with subgaleal hematoma may present with hemorrhagic shock.
Transfusion and phototherapy may be necessary

Nirupama Laroia. http://emedicine.medscape.com/article/980112-overview#aw2aab6b5


http://cdn.nursingcrib.com/wp-content/uploads/caput-and-cephal.jpg?9d7bd4
ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI
139,150,174. Hipertensi pada Kehamilan
TABLE 49-1. Classification ofHypertensive Disorders Complicating Pregnancy
Gestational hypertension
BP ≥ 140/90 mmHg for the first time during pregnancy
No proteinuria
BP return to normal < 12 weeks postpartum
Final diagnosis made only on postpartum
May have other signs of preeclampsia, for example epigatric discomfort or thrombocytopenia
Preeclampsia
Minimum criteria
BP ≥ 140/90 mmHg after 20 weeks gestation
Proteinuria ≥ 300 mg/24 h or ≥ 1+ dipstick
Increased certainty of preeclampsia
BP ≥ 160/110 mmHg
Proteinuria 2 g/24 h or ≥ 2+
Serum creatinine >1,2 mg/dL unless known to be previously elevated
Platelets < 100.000/mm3
Microangiopathic hemolysis (increased LDH)
Elevated AST or ALT
Persistent headache or other cerebral or visual disturbance
Persistent epigastric pain
Eclampsia
Seizures that cannot be attributed to other causes in a woman with preeclampsia.
Superimposed preeclampsia (on chronic hypertension)
New onset proteinuria ≥ 300 mg/24 h in hypertensive women but no proteinuria before
20 weeks of gestation
A sudden increase in proteinuria or BP or platelet count <100.000/mm3 in women with
hypertension and proteinuria before 20 weeks of gestation
Chronic hypertension
BP ≥ 140/90 mmHg before pregnancy or diagnosed before 20 weeks of gestation
or
Hypertension first dignosed after 20 weeks gestation and persistent after 12 weeks
postpartum
140.Kehamilan Ektopik
Kehamilan Ektopik
• Kehamilan ektopik yang mengalami ruptur disebut KET.
• Nyeri goyang serviks ditemukan pada ¾ wanita dengan
kehamilan tuba yang ruptur.
• Manifestasi klinis lain adalah adanya perdarahan per
vaginam yang dapatmenimbulkan penonjolan cavum
Douglas, kesadaran menurun, pucat, hipotensi,
hipovolemia, nyeri abdomen, dan serviks tertutup.
• Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG.
• Faktor predisposisi adalah adanya riwayat kehamilan
ektopik, operasi di daerah tuba, penggunaan AKDR,
merokok, infertilitis, riwaya abortus, dan riwayat persalinan
sectio caesarea
141. Perkiraan Persalinan dengan
Rumus Naegel
142.Metritis
• Metritis adalah infeksi uterus pasca persalinan.
Keterlambatan terapi metritis dapat menyebabkan
abses, peritonitis, syok, trombosis vena, emboli paru,
infeksi panggul kronik, sumbatan tuba, dan infertilitas.
• Faktor predisposisi adalah kurangnya higiene pasien,
nutrisi, dan tindakan aseptik saat melakukan tindakan.
• Manifestasi klinis yang didapatkan adalah demam di
atas 380C dapat disertai menggigil, nyeri perut bawah,
lokia berbau dan purulen, nyeri tekan uterus,
subinvolusi uterus, dan dapat disertai perdarahan per
vaginam hingga syok
Pemeriksaan Penunjang Metritis
• Pemeriksaan darah perifer lengkap
• Golongan darah AB0 dan jenis rhesus
• Glukosa darah sewaktu
• Analisis urin
• Kultur (cairan vagina, urin, dan darah)
• USG (untuk menyingkirkan kemungkinan sisa
plasenta)
Tatalaksana Metritis
• Berikan antibiotika sampai 48 jam bebas demam dengan
Ampisilin 2 gram IV tiap 6 jam ditambah gentamisin 5
mg/kgB IV tiap 24 jam dan metronidazol 500 mg IV tiap 8
jam. Bila demam tidak menurun dalam 72 jam, lakukan kaji
ulang tatalaksana dan diagnosis.
• Cegah dehidrasi
• Pertimbangkan imunisasi TT bila dicurigai terpapar tetanus
• Periksa apakah ada kemungkinan sisa plasenta
• Jika tidak ada kemajuan dan ada peritonitis lakukan
laparotomi dan drainase abdomen bila terdapat pus
• Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas
kesehatan dasar dan rujukan.
143. Solusio
Plasenta
Sumber
http://emedicine.medscape.c
om/article/252810-overview
Solusio Plasenta
• Solusio plasenta adalah suatu keadaan di mana plasenta
terlepas dari uterus sebelum terjadinya persalinan
• Merupakan salah satu penyebab perdarahan antepartum.
• Gejala klinis yang sering didapatkan adalah perdarahan
antepartum, kontraksi uterus, dan gawat janin.
• Pemeriksaan fisis didapatkan adanya perdarahan
antepartum, kontraksi uterus, nyeri perut, tanda syok yang
tidak sesuai dengan jumlah darah yang keluar akibat
adanya perdarahan tersembunyi, kenaikan tinggi fundus
uteri oleh karena adanya perdarahan intrauterin, dan tanda
gawat janin.
• Tatalaksana: resusitasi cairan, segera terminasi kehamilan
144. Fritsch or Asherman Syndrome
• Merupakan suatu kondisi yang memiliki ciri khas
adanya adesi atau fibrosis endometrium yang sering
disebabkan oleh proses dilatasi dan kuretase.
• Istilah lain yang sering digunakan: adesi intrauterin,
atresia uterine, atrofi uterine traumatika, sklerosis
endometrium, dan sinekia intrauterin
• Diagnosis: riwayat dilatasi dan kuretase ditunjang
dengan adanya jaringan parut pada uterus oleh
histerosonografi atau histerosalfingografi.
• Terapi: Bedah diikuti dengan hormonal untuk
mencegah timbulnya jaringan parut.
145. Inversio Uteri
• Inversio uteri merupakan salah satu penyebab
perdarahan pasca salin
• Inversio uteri harus dipikirkan bila:
– Nyeri perut bawah
– Fundus uteri tidak didapatkan pada palpasi
abdomen
– Terdapat massa pada vagina
• Tatalaksana: Reposisi uterus, Laparotomi,
Histerektomi
146. Persalinan Normal
• Kala 1  pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala
pembukaan)
– Fase laten
Dimulai dari awal kontraksi hingga pembukaan mendekati 4 cm
Kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih diantara 20-30 detik
Tidak terlalu mulas
– Fase aktif
Kontraksi diatas 3x dalam 10 menit
Lama kontraksi 40 detik atau lebih dan mulas lebih hebat
Pembukaan dari 4 cm sampai lengkap (10 cm)
Terdapat penurunan bagian terbawah janin
• Kala 2  lahirnya bayi (kala pengeluaran)
• Kala 3  lahirnya plasenta (kala uri)
• Kala 4  masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi
Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan
rujukan
Kala II Persalinan
• Dimulai dari pembukaan lengkap hingga pada
saat bayi lahir.
• 1 jam pada primigravida, 2 jam pada multigravida
• Tanda dan Gejala Kala II:
– Ibu memiliki keinginan meneran
– Ibu merasa tekanan semakin menguat pada rektum
dan atau vagina
– Perineum menonjol dan menipis
– Vulva-vagina dan Sfingter ani membuka
147. Infeksi Saluran Kemih pada
Kehamilan
• Merupakan kasus infeksi bakterial tersering pada
kehamilan.
• Perubahan fisiologis kehamilan menyebabkan
meningkatnya risiko stasis urin dan refluks vesikoureteral.
Dengan ukuran uretra yang pendek dan perut membesar
memberikan tantangan tersendiri pada higiene dan
sanitasi.
• Prinsip tatalaksana ISK pada kehamilan: pemberian
antibiotik, rehidrasi, rawat inap bila terdapat komplikasi.
• Tatalaksana ISK: higiene sanitasi pada saat sehabis buang
air kecil, antibiotik (ampisilin 4x500mg, nitrofurantoin
2x100 mg, sulfisoxazole 4x1 gram, selama 10-14 hari)
148. Abortus
DIAGNOSIS PERDARAHAN SERVIKS BESAR UTERUS GEJALA LAIN
Abortus Sedikit-sedang Tertutup lunak Sesuai usia Tes kehamilan +
imminens kehamilan Nyeri perut
Uterus lunak
Abortus Sedang-banyak Terbuka lunak Sesuai atau lebih Nyeri perut
insipiens kecil hebat
Uterus lunak
Abortus Sedikit-banyak Terbuka lunak Lebih kecil dari Nyeri perut kuat
inkomplit usia kehamilan Jaringan +
Uterus lunak
Abortus komplit Sedikit-tidak ada Tertutup atau Lebih kecil dari Sedikit atau
terbuka lunak usia kehamilan tanpa nyeri
perut
Jaringan keluar ±
Uterus kenyal
Abortus septik Perdarahan Lunak Membesar, nyeri Demam
berbau tekan leukositosis
Missed abortion Tidak ada Tertutup Lebih kecil dari Tidak terdapat
usia kehamilan gejala nyeri
perut
149. Ekstraksi Vakum
• Indikasi: Kala II memanjang, ibu tidak memiliki tenaga
untuk meneran, dan terdapat kontraindikasi medis bagi ibu
untuk meneran.
• Kontraindikasi: didapatkan kelainan anatomi pada bayi,
cephalopelvic disproportion, malpresentasi fetal, selapit
amnion belum pecah.
• Syarat: Letak bayi harus berada di hodge III-IV, pembukaan
lengkap, janin cukup bulan, presentasi kepala
• Komplikasi: perdarahan intrakranial, edema skalp,
sefalhematoma, aberasi, dan laserasi kulit kepala pada
janin, laserasi perineum, laserasi anal, maupun laserasi
jalan lahir pada ibu.
151. Menopause
• Merupakan suatu periode dalam kehidupan perempuan
setelah menstruasi berhenti lebih dari 2 tahun.
• Merupakan suatu proses fisiologis, biasanya terjadi setelah
umur lebih dari 45 tahun
• Patofisiologi: Ovarium berhenti memroduksi estrogen dan
progesteron.
• Tanda dan Gejala dapat terjadi sebelum terjadi menopause
itu sendiri seperti perubahan pola haid, hot flashes,
kesulitan tidur, vagina menjadi kering sehingga sering nyeri
saat bersenggama, perubahan mood, kesulitan konsentrasi,
dan kerontokan rambut.
• Tatalaksana: Edukasi
152.Trichomonas Vaginalis
• Merupakan salah satu etiologi dari
keputihan pada perempuan
• Penularan melalui hubungan seksual.
• Gejala: vaginitis, keputihan yang berbuih,
berwarna hijau, berbau khas, uretritis
pada pria.
• Tanda khas: “strawberry cervix” atau
colpitis macularis oleh karena dilatasi
kapiler oleh karena inflamasi
• Tatalaksana: Metronidazole 2x500 mg
selama 7 hari
153. Perdarahan Pasca Persalinan
• Merupakan perdarahan pasca persalinan yang
terjadi dalam 24 jam pertama setelah melahirkan
(primer). Perdarahan pasca persalinan sekunder
adalah perdarahan yang terjadi setelah 24 jam
hingga 12 minggu pertama setelah melahirkan.
• Faktor predisposisi: Kelainan plasenta, trauma
persalinan, persalinan lama, penggunaan obat
anestesi, volume darah ibu minimal, gangguan
koagulasi, dan overdistensi uterus.
Tatalaksana Umum
• Nilai tanda vital pasien, bila terdapat syok segera
lakukan tatalaksana syok.
• Berikan oksigen
• Pasang infus intravena dengan kanula besar dan
berikan kristaloid.
• Jika fasilitas tersedia, lakukan pemeriksaan darah
lengkap, golongan darah, dan profil hemostasis.
• Evaluasi tanda vital
• Lakukan pemeriksaan abdomen, jalan lahir,
kelengkapan plasenta untuk mencari penyebab
perdarahan.
154. Kondiloma Akuminata
• Ialah vegetasi oleh human papilloma virus, bertangkai, dan
permukaannya berjonjot
• Merupakan penyakit akibat hubungan seksual. Serotipe 16
dan 18 memiliki asosiasi terhadap keganasan cervix
• Tempat predileksi
– Pria: di perineum, sekitar anus, glans penis, muara uretra
eksterna, korpus, pangkal penis.
– Wanita: di vulva,introitus vagina
• Vegetasi yang bertangkai dan berwarna kemerahan (lesi
baru) dan kehitaman bila telah lama. Permukaannya
berjonjot
• Manifestasi klinis: adanya benjolan yang tidak nyeri,
perdarahan pada saat berhubungan badan.
Tatalaksana Kondiloma Akuminata
• Kemoterapi :
– Podofilin 25%
– Asam triklorasetat
– Podofilox
• Elektrokauterisasi (bedah listrik)
• Bedah beku
• Bedah skalpel
• Laser karbondioksida
• Interferon
• Imunoterapi
155. Kontrasepsi Pil KB
• Pil KB sebaiknya dikonsumsi setiap hari pada saat yang sama
• Pil pertama dimulai pada hari pertama sampai hari ke tujuh siklus
haid (dianjurkan diminum pada hari pertama).
• Aturan Pil lupa. Bila lupa minum 1 pil, setelah ingat segera minum 2
pil pada hari yang sama. Bila lupa minum 2 pil sebaiknya minum 2
pil sampai 2 hari kemudian gunakan metode kontrasepsi lain atau
tidak melakukan hubungan seksual sampai pil habis.
• Untuk pasien post partum yang tidak menyusui sebaiknya diminum
3 minggu setelah post partum atau menunggu haid.
• Untuk pasien post partum yang menyusui sama dengan aturan
umum maupun aturan lupa.
Sumber: Buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi;
mayoclinic.com/health/best-birth-control-pill/MY00996/rss=1
156.Persalinan Normal
• Kala 1  pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala
pembukaan)
– Fase laten
Dimulai dari awal kontraksi hingga pembukaan mendekati 4 cm
Kontraksi mulai teratur tetapi lamanya masih diantara 20-30 detik
Tidak terlalu mulas
– Fase aktif
Kontraksi diatas 3x dalam 10 menit
Lama kontraksi 40 detik atau lebih dan mulas lebih hebat
Pembukaan dari 4 cm sampai lengkap (10 cm)
Terdapat penurunan bagian terbawah janin
• Kala 2  lahirnya bayi (kala pengeluaran)
• Kala 3  lahirnya plasenta (kala uri)
• Kala 4  masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi
Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas kesehatan dasar dan
rujukan
157.Anemia pada Kehamilan
• Anemia adalah suatu kondisi di mana terdapat
kekurangan sel darah merah atau hemoglobin.
• Diagnosis ditegakkan dengan kadar Hb < 11
gram/dL (trimester I dan III) atau < 10,5 gram/dL
(pada trimester II)
• Faktor predisposisi
– Diet rendah zat besi, B12, dan asam folat
– Kelainan gastrointestinal
– Penyakit kronis
– Adanya riwayat keluarga
Tatalaksana Anemia
• Tatalaksana umum anemia
– Lakukan pemeriksaan apusan darah tepi untuk melihat morfologi sel
darah merah.
– Bila fasilitas tidak tersedia berikan tablet 60 mg besi elemental dan
250 µg asam folat, 3 kali sehari evaluasi 90 hari.
• Tatalaksana khusus anemia
– Bila terdapat pemeriksaan apusan darah tepi, lakukan pengobatan
sesuai hasil apusan darah tepi.
– Anemia defisiensi besi (hipokromik mikrositer): 180 mg besi elemental
per hari
– Anemia defisiensi asam folat dan vitamin B12: asam folat 1 x 2 mg,
dan vitamin B12 1 x 250-1000µg
– Transfusi dilakukan bila Hb < 7 g/dL atau hematokrit < 20% atau Hb > 7
g/dL dengan gejala klinis pusing, pandangan berkunang-kunang atau
takikardia
Sumber: Buku pelayanan kesehatan Ibu di Fasilitas Kesehatan dasar
dan Rujukan
158.Bakterial Vaginosis
• Bakterial vaginosis atau nonspesifik vaginitis adalah suatu
istilah yang menjelaskan adanya infeksi bakteri sebagai
penyebab inflamasi pada vagina.
• Bakteri yang sering didapatkan adalah Gardnerella
vaginalis, Mobiluncus, Bacteroides, Peptostreptococcus,
Mycoplasma hominis, Ureaplasma urealyticum ,
Eubacterium, Fusobacterium, Veilonella, Streptococcus
viridans, dan Atopobium vaginae
• Gejala klinis yang sering dijumpai adalah keputihan, vagina
berbau, iritasi vulva, disuria, dan dispareuni
• Faktor risiko yang meningkatkan BV adalah penggunaan
antibiotik, penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim,
promiskuitas, douching, penurunan estrogen.
Pemeriksaan Bakterial Vaginosis
• Didapatkan keputihan yang homogen
• Labia, introitas, serviks dapat normal maupun didapatkan tanda
servisitis.
• Keputihan biasanya terdapat banyak di fornix posterior
• Dapat ditemukan gelembung pada keputihan
• Pemeriksaan mikroskopis cairan keputihan harus memenuhi 3 dari
4 kriteria Amsel untuk menegakkan diagnosis bakterial vaginosis
– Didapatkan clue cell.
– pH > 4,5
– Keputihan bersifat thin, gray, and homogenous
– Whiff test + (pemeriksaan KOH 10% didapatkan fishy odor sebagai
akibat dari pelepasan amina yang merupakan produk metabolisme
bakteri)
159.Abortus
DIAGNOSIS PERDARAHAN SERVIKS BESAR UTERUS GEJALA LAIN
Abortus Sedikit-sedang Tertutup lunak Sesuai usia Tes kehamilan +
imminens kehamilan Nyeri perut
Uterus lunak
Abortus insipiens Sedang-banyak Terbuka lunak Sesuai atau lebih Nyeri perut
kecil hebat
Uterus lunak
Abortus Sedikit-banyak Terbuka lunak Lebih kecil dari Nyeri perut kuat
inkomplit usia kehamilan Jaringan +
Uterus lunak
Abortus komplit Sedikit-tidak ada Tertutup atau Lebih kecil dari Sedikit atau
terbuka lunak usia kehamilan tanpa nyeri
perut
Jaringan keluar ±
Uterus kenyal
Abortus septik Perdarahan Lunak Membesar, nyeri Demam
berbau tekan leukositosis
Missed abortion Tidak ada Tertutup Lebih kecil dari Tidak terdapat
usia kehamilan gejala nyeri
perut
Tidak disertai
ekspulsi jaringan
160.Kehamilan Ektopik
• Kehamilan ektopik yang mengalami ruptur disebut KET.
• Nyeri goyang serviks ditemukan pada ¾ wanita dengan
kehamilan tuba yang ruptur.
• Manifestasi klinis lain adalah adanya perdarahan per
vaginam yang dapatmenimbulkan penonjolan cavum
Douglas, kesadaran menurun, pucat, hipotensi,
hipovolemia, nyeri abdomen, dan serviks tertutup.
• Penegakkan diagnosis dibantu dengan pemeriksaan USG.
• Faktor predisposisi adalah adanya riwayat kehamilan
ektopik, operasi di daerah tuba, penggunaan AKDR,
merokok, infertilitis, riwaya abortus, dan riwayat persalinan
sectio caesarea
161.Laserasi Perineum
• First-degree tear: laceration is limited to the fourchette and
superficial perineal skin or vaginal mucosa
• Second-degree tear: laceration extends beyond fourchette, perineal
skin and vaginal mucosa to perineal muscles and fascia, but not the
anal sphincter
• Third-degree tear: fourchette, perineal skin, vaginal mucosa,
muscles, and anal sphincter are torn; third-degree tears may be
further subdivided into three subcategories:
– 3a: partial tear of the external anal sphincter involving less than 50%
thickness
– 3b: greater than 50% tear of the external anal sphincter
– 3c: internal sphincter is torn
• Fourth-degree tear: fourchette, perineal skin, vaginal mucosa,
muscles, anal sphincter, and rectal mucosa are torn
162.Plasenta Previa
Tatalaksana Plasenta Previa
163.Manajemen Kala III
• Setelah bayi dilahirkan, berikan suntikan oksitosin 10 unit
IM di bagian paha atas bagian distal lateral agar kontraksi
uterus baik
• Jika tidak ada oksitosin, dapat dilakukan:
– Merangsang puting payudara ibu atau minta ibu untuk
menyusui agar menghasilkan oksitosin alamiah.
– Terapi farmakologi yang dapat diberikan adalah injeksi
ergometrin 0,2 mg IM namun tidak boleh dilakukan pada pasien
dengan preeklampsia, eklampsia, dan hipertensi karena dapat
memicu penyakit serebrovaskular.
• Lakukan peregangan tali pusat terkendali
• Sumber: Buku pelayanan kesehatan ibu di fasilitas
kesehatan dasar dan rujukan
164. Tatalaksana Preeklampsia-
eklampsia
• Tatalaksana umum
• Semua ibu dengan preeklampsia maupun eklampsia
harus dirawat masuk rumah sakit
• Pencegahan dan tatalaksana kejang
– Bila terjadi kejang perhatikan prinsip ABCD
• Magnesium sulfat diberikan sebagai tatalaksana kejang pada
eklampsia dan pencegahan kejang pada preeklampsia berat. Dosis
pemberian magnesium sulfat intravena adalah 4 gram selama 20
menit untuk dosis awal dilanjutkan 6 gram selama 6 jam untuk
dosis rumatan. Magnesium sulfat dapat diberikan IM dengan dosis
5 gram pada bokong kiri dan 5 gram pada bokong kanan.
• Syarat pemberian magnesium sulfat adalah terdapat refleks
patella, tersedia kalsium glukonas, dan jumlah urin minimal 0,5
ml/kgBB/jam
• Antihipertensi
– Ibu dengan hipertensi berat perlu mendapat terapi
antihipertensi
– Ibu dengan terapi antihipertensi di masa antenatal dianjurkan
untuk melanjutkan terapi antihipertensi hingga persalinan.
– Terapi antihipertensi dianjurkan untuk hipertensi pasca
persalinan berat
– Antihipertensi yang diberikan nifedipin, nikardipin, dan
metildopa. Jangan berikan ARB inhibitor, ACE inhibitor dan
klortiazid pada ibu hamil.
• Pemeriksaan penunjang tambahan
– Hitung darah perifer lengkap
– Golongan darah AB0, Rh, dan uji pencocokan silang.
– Fungsi hati (LDH, SGOT, SGPT)
– Fungsi ginjal (ureum, kreatinin serum)
– Fungsi koagulasi (PT, APTT, fibrinogen)
– USG (terutama jika ada indikasi gawat janin atau pertumbuhan
janin terhambat)
Tatalaksana Khusus
• Edema paru
– Edema paru dapat diketahui dari adanya sesak napas,
hipertensi, batuk berbusa, ronki basah halus pada basal
paru pada ibu dengan preeklampsia berat.
– Tatalaksana
• Posisikan ibu dalam posisi tegak
• Oksigen
• Furosemide 40 mg IV
• Bila produksi urin masih rendah (<30 ml/jam dalam 4 jam)
pemberian furosemid dapat diulang.
• Ukur Keseimbangan cairan. Batasi cairan yang masuk
• Sindrom HELLP (hemolysis, elevated liver enzymes, low
platelets) dilakukan dengan terminasi kehamilan
Sumber: Buku Pelayanan Kesehatan Ibu di Fasilitas
Kesehatan Dasar dan Rujukan, 2013
FORENSIK
165. EUTHANASIA
Euthanasia secara etimologi berasal dari bahasa yunani yaitu ; “ue” yang berarti
normal atau baik, dan “thanatos” yang artinya mati
Dalam kamus kedokteran dinyatakan bahwa euthanasia mengakhiri dengan sengaja
kehidupan seseorang dengan cara kematian atau menghilangkan nyawa secara tenang
dan mudah untuk menamatkan penderitaan

1. Euthanasia pasif,
yakni mempercepat kematian dengan cara menolak memberikan
pertolongan medis, atau menghentikan proses perawatan medis
yang sedang berlangsung

2. Euthanasia aktif
mempercepat kematian dengan mengambil tindakan yang baik
secara langsung maupun tidak langsung mengakibatkan kematian,
misalnya dengan memberikan tablet sianida atau menyuntikan zat-
zat yang mematikan kepada tubuh pasien
166.Badan Kelengkapan IDI
167&171. Jenis Autopsi
• Otopsi Anatomi, dilakukan untuk keperluan pendidikan mahasiswa fakultas
kedokteran. Bahan yang dipakai adalah mayat yang dikirim ke rumah sakit yang
setelah disimpan 2 x 24 jam di laboratorium ilmu kedokteran kehakiman tidak ada
ahli waris yang mengakuinya. Setelah diawetkan di laboratorium anatomi, mayat
disimpan sekurang-kurangnya satu tahun sebelum digunakan untuk praktikum
anatomi.
• Otopsi Klinik, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga terjadi akibat
suatu penyakit. Tujuannya untuk menentukan penyebab kematian yang pasti,
menganalisa kesesuaian antara diagnosis klinis dan diagnosis postmortem,
pathogenesis penyakit, dan sebagainya. Otopsi klinis dilakukan dengan
persetujuan tertulis ahli waris, ada kalanya ahli waris sendiri yang memintanya.
• Otopsi Forensik/Medikolegal, dilakukan terhadap mayat seseorang yang diduga
meninggal akibat suatu sebab yang tidak wajar seperti pada kasus kecelakaan,
pembunuhan, maupun bunuh diri. Otopsi ini dilakukan atas permintaan penyidik
sehubungan dengan adanya penyidikan suatu perkara. Tujuan dari otopsi
medikolegal adalah :
– Untuk memastikan identitas seseorang yang tidak diketahui atau belum jelas.
– Untuk menentukan sebab pasti kematian, mekanisme kematian, dan saat
kematian.
– Untuk mengumpulkan dan memeriksa tanda bukti untuk penentuan identitas
benda penyebab dan pelaku kejahatan.
– Membuat laporan tertulis yang objektif berdasarkan fakta dalam bentuk
visum et repertum.
168 &173. Asfiksia Mekanik
• Asfiksia mekanik : Mati lemas yang terjadi bila
udara pernapasan terhalang oleh berbagai
kekerasan (yang bersifat mekanik)
• Meliputi : Pembekapan, penyumbatan,
pencekikan, penjeratan, gantung diri, serta
penekanan pada dada
Tanda Kematian akibat Asfiksia
• Sianosis pada bibir, ujung-ujung jari dan kuku
• Lebam mayat yang gelap dan luas
• Perbendungan pada bola mata
• Busa halus pada lubang hidung, mulut, dan saluran
pernapasan, perbendungan pada alat-alat dalam
• Bintik perdarahan (Tardieu’s spot) pada konjungtiva
bulbi, mukosa usus halus, epikardium, subpleura
visceralis
• Perbendungan sistemik maupun pulmoner dan dilatasi
jantung kanan (lorgan lebih berat, gelap, pada
pengirisan banyak mengeluarkan darah)
169,172. Kejahatan seksual
• Pemeriksaan Umum
– Lukiskan penampilannya  rambut dan wajah,
rapi atau kusut, keadaan emosional, tenang, sedih
atau gelisah, tanda – tanda hilang kesadaran,
needle marks
– Tanda bekas kekerasan, memar atau luka lecet
pada mulut, leher, pergelangan tangan, lengan,
paha bagian dalam dan pinggang
– Tanda perkembangan alat kelamin sekunder,
refleks cahaya pupil, status generalis umum
Pemeriksaan genitalia
• Vulva • Selaput dara
– Rambut kemaluan yang – Ruptur atau tidak  baru
saling melekat menjadi atau lama, lokasi, sampai
satu karena air mani ke insersio atau tidak
mengering – Tentukan besar orifisum
– Bercak air mani di sekitar (perawan 2,5 cm 
alat kelamin persetubuhan 9 cm
– Tanda – tanda kekerasan – Pengambilan cairan mani
(hiperemi, edema, memar, dan sel mani dalam lendir
dan luka lecet) vagina diambil dengan
– Edema atau hiperemi pada swab pada forniks
introitus vagina posterior
170. Rahasia Kedokteran
Pasal 12 Kode Etik Kedokteran Indonesia
Setiap dokter wajib merahasiakan segala
sesuatu yang diketahuinya tentang seorang
pasien, bahkan juga setelah pasien itu
meninggal dunia

Undang-undang Praktik Kedokteran


No. 29 Tahun 2004
Undang-undang Praktik Kedokteran
No. 29 Tahun 2004
171 & 174. Kekakuan Mayat
Keterangan

Cadaveric Kekakuan otot yang terjadi pada saat kematian dan menetap.
Spasm Muncul akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat
setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang
hebat sesaat sebelum meninggal. Contoh : menggenggam erat
benda yang diraihnya pada kasus tenggelam
Heat stiffening Kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas. Dijumpai
pada mayat mati terbakar. Pugilistic attitude

Cold Stiffening Kekakuan tubuh akibat lingkungan dingingi, sehingga terjadi


pembekuan cairan sendi, pemadatan jaringan lemak subkutan
dan otot, sehingga bila sendi ditekuk akan tedengar bunyi
pecahnya es dalam rongga sendi
175. Kekerasan dalam Rumah Tangga
• Kekerasan dalam Rumah Tangga adalah setiap
perbuatan terhadap seseorang terutama perempuan,
yang berakibat timbulnya kesengsaraan atau
penderitaan secara fisik, seksual, psikologis, dan/atau
penelantaran rumah tangga termasuk ancaman untuk
melakukan perbuatan, pemaksaan,atau perampasan
kemerdekaan secara melawan hukum dalam lingkup
rumah tangga.

• Korban adalah orang yang mengalami kekerasan


dan/atau ancaman kekerasan dalam lingkup rumah
tangga
176. Thanatologi

Livor mortis
Livor mortis mulai lengkap dan
muncul menetap

20 30 2 6 8 12 24 36
0 mnt mnt jam jam jam jam jam jam

Rigor mortis Rigor mortis Pembusukan Pembusuk


mulai lengkap (8- mulai an tampak
muncul 10 jam) tampak di di seluruh
caecum tubuh

Budiyanto A dkk. Ilmu Kedokteran Forensik. Bagian Kedokteran Forensik Fakultas Kedokteran Indonesia.
ILMU KEDOKTERAN KOMUNITAS
177. Uji Hipotesis

* : Uji Parametrik; Tanda panah ke bawah : Uji alternatif jika parametrik tidak
terpenuhi
Langkah-langkah untuk menentukan uji hipotesis yang sesuai

Langkah Jawaban
Menentukan variable yang dihubungkan Berat badan bayi lahir (nominal/
kategorik) dengan IMT ibu sebelum
hamil (nominal/kategorik)

Menentukan jenis hipotesis “Apakah terdapat hubungan antara


berat badan bayi lahir dengan IMT ibu
sebelum hamil? (Komparatif)

Menentukan masalah skala variable Kategorik


(Rendah/normal vs
normal/abnormal)
Menentukan berpasangan/tidak Tidak berpasangan
berpasangan
Menentukan jenis tabel B x K 2x2
Kesimpulan:
Janis tabel adalah 2x2, maka uji yang digunakan adalah uji chi square bila
memenuhi syarat. Bila tidak memenuhi syarat uji chi-square, digunakan uji
• Variabel Kategorik vs Numerik
– Kategorik : Memiliki kategori variabel. Nominal
(kategori sederajat, cth laki-laki-perempuan)/Ordinal
(kategori bertingkat, cth baik-sedang-buruk)
– Numerik : Dalam angka numerik, rasio (memiliki nilai
nol alami, cth tinggi badan)/interval (tidak memiliki
nilai nol alami, cth suhu)
• Hipotesis Komparatif vs Korelatif
– Komparatif : perbedaan/hubungan (cth. Apakah
terdapat/hubungan antara kadar gula darah dengan
jenis pengobatam?)
– Korelasi : Cth. Berapa besar korelasi antara kadar
trigliserida dan kadar gula darah?
• Skala Pengukuran
– Komparatif : Dianggap skala kategorikal bila kedua
variabel kategorik. Skala numerik jika salah satu
variabel numerik
– Korelatif : Dianggap skala kategorikal bila salah
satu variabel kategorik. Skala numerik jika kedua
variabel numerik
• Berpasangan vs Tidak Berpasangan
– Berpasangan : Dua atau lebih kelompok data
berasal dari subyek yang sama atau yang berbeda
tapi telah dilakukan matching
– Tidak berpasangan : Data berasal dari kelompok
subyek yang berbeda, tanpa matching
• Semua hipotesis untuk kategorik tidak berpasangan
menggunakan uji chi square, bila memenuhi syarat
uji chi square
• Syarat uji chi square adalah sel yang mempunyai
nilai expected kurang dari 5, maksimal 20% dari
jumlah sel
• Jika syarat uji chi square tidak terpenuhi, maka dapat
dipakai uji alternatifnya:
– Alternatif uji chi square untuk tabel 2x2 adalah uji Fisher
– Alternatif uji chi square untuk tabel 2xK adalah uji
Kolmogorov-Smirnov
– Alternatif uji chi square untuk tabel selain 2x2 dan 2xK
adalah penggabungan sel. Setelah dilakukan
penggabungan sel akan terbentuk suatu tabel BxK yang
baru. Uji hipotesis yang dipilih sesuai dengan tabel BxK
yang baru tersebut
Regresi vs Korelasi
• Analisis Korelasi : mengetahui APAKAH ADA
HUBUNGAN antara dua variabel atau lebih
• Analisis Regresi : MEMPREDIKSI SEBERAPA JAUH
pengaruh yang ada tersebut (yang telah dianalisis
melalui analisis korelasi)
• Tujuan dari analisis regresi adalah untuk
memprediksi besar Variabel Terikat (Dependent
Variable) dengan menggunakan data Variabel
Bebas (Independent Variable) yang sudah
diketahui besarnya
Regresi Linier (RL) vs Regresi Logistik
(RG)
1. Dalam RL variabel respon (dependen) berskala metrik dan
prediktor (independen) dapat berskala interval
atau kategori, sebaliknya, dalam RG var.respon (dependen)
berskala non-metrik (kategorik) dan prediktor (independen)
dapat berskala interval atau kategori (mixed/bebas).
2. Regresi logistik digunakan pada kasus dimana variabel
dependent bersifat dikotomi dan kategori dengan dua atau
lebih kemungkinan
3. Dalam RL asumsi normalitas, homogenitas varians,
linieritas harus terpenuhi (masing2 dibuktikan melalui uji
statistik tersendiri)
178. Teknik pengumpulan data
Teknik Keterangan
Wawancara proses komunikasi atau interaksi untuk mengumpulkan informasi dengan cara
tanya jawab antara peneliti dengan informan atau subjek penelitian

Teknik Keterangan
Observasi adalah metode pengumpulan data yang digunakan untuk menghimpun data
partisipasi penelitian melalui pengamatan dan penginderaan di mana peneliti terlibat
dalam keseharian informan
observasi non- yaitu peneliti melakukan penelitian dengan cara tidak melibatkan dirinya dalam
partisipan interaksi dengan objek penelitian. Sehingga, peneliti tidak memposisikan
dirinya sebagai anggota kelompok yang diteliti
Observasi tidak ialah pengamatan yang dilakukan tanpa menggunakan pedoman observasi,
terstruktur sehingga peneliti mengembangkan pengamatannya berdasarkan
perkembangan yang terjadi di lapangan
Observasi ialah pengamatan yang dilakukan oleh sekelompok tim peneliti terhadap
kelompok sebuah isu yang diangkat menjadi objek penelitian

Teknik Keterangan
Focus Group yaitu upaya menemukan makna sebuah isu oleh sekelompok orang yang
Discussion dianggap mewakili sejumlah publik yang berbeda lewat diskusi untuk
menghindari diri pemaknaan yang salah oleh seorang peneliti
optimized
Hariwijaya, M, Metodologi dan teknik penulisan skripsi, tesis,bydan
optima
disertasi, elMatera Publishing, Yogyakarta, 2007
179. Desain penelitian

Exposure
assignment (+)

Exposure and
outcome analyzed
prospectively (+)

Kohort
Relative risk
• Risiko munculnya penyakit pada populasi yang
terpajan risiko (relatif terhadap populasi yang tidak terpajan risiko)
180. Jarak Septic tank-Sumur
• Jarak 10 meter sumur dan tangki septic bermula dari bakteri Coli
patogen (bersifat anaerob) yg bertahan hidup selama tiga hari.
• Kecepatan aliran air dalam tanah berkisar 3 meter per hari (rata-rata
kecepatan aliran air dalam tanah di Pulau Jawa tiga meter/hari),
sehingga jarak ideal antara tangki septic dengan sumur sejauh tiga
meter per hari dikali tiga hari yang menghasilkan 9 meter + 1 meter
sebagai jarak pengaman = 10 meter
181. Identifikasi Masalah dalam
Program Puskesmas

Standar.
Bandingk OUTPUT
an
Standar
Masalah (Pendekatan Keluaran
dengan HASIL
Sistem ) adalah Hasil Output..
Kesenjangan antara Keluaran
Kalau
Tolok ukur dengan ada
Hasil pencapaian, pada Kesenjan
gan,
unsur Keluaran / MASALAH. artinya
Output. ada
Masalah.
http://www.scribd.com/doc/53054543/kebijakan-promkes-2010-2014

Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan


• Strategi dasar promosi kesehatan
– Gerakan pemberdayaan
• upaya atau proses untuk menumbuhkan kesadaran, kemauan, dan
kemampuan masyarakat dalam mengenali, mengatasi, memelihara,
melindungi, dan meningkatkan kesejahteraan mereka sendiri
– Bina suasana
• Menciptakan lingkungan yang kondusif
– Advokasi
• pendekatan kepada para pimpinan atau pengambil kebijakan agar dapat
memberikan dukungan maksimal, kemudahan perlindungan pada upaya
kesehatan
• Diperkuat
– Kemitraan
• kerjasama formal antara individu-individu, kelompok-kelompok atau
organisasi-organisasi untuk mencapai suatu tugas atau tujuan tertentu
– Metode sarana komunikasi yang tepat

http://isnopugel.wordpress.com/2011/03/28/strategi-promosi-kesehatan/
182. Sumber-sumber bias
1. Proses seleksi atau partisipasi subyek (
bias seleksi)
2. Proses pengumpulan data ( bias informasi)
3. Tercampurnya efek pajanan utama dengan
efek faktor risiko eksternal lainnya (
kerancuan/ confounding)
Bias seleksi
• Distorsi efek berkaitan dengan cara pemilihan
subyek kedalam populasi studi
• Bisa terjadi bila status penyakit pada studi
kohort (retrospektif), atau status exposure
pada kasus kontrol atau kedua-duanya pada
studi kros-seksional mempengaruhi pemilihan
subyek pada kelompok-kelompok yang
diperbandingkan
Bias informasi
• Bias informasi (information bias) atau bias observasi
(observation bias) atau bias pengukuran (measurement
bias) adalah bias yang terjadi karena perbedaan
sistematik dalam mutu dan cara pengumpulan data
• (misalnya karena menggunakan kriteria atau metode
pengukuran yang tidak sahih) tentang pajanan atau
penyakit/masalah kesehatan dari kelompok-kelompok
studi.
• Ascertainment Bias disebut juga Information Bias.
Merupakan penyimpangan dalam memperkirakan efek
atau pengaruh karena kesalahan pengukuran atau
kesalahan pengelompokan subyek penelitian menurut
satu atau lebih variabel.
Types of bias
1. Sample (subject selection) biases
• which may result in the subjects in the sample being
unrepresentative of the population which you are
interested in
2. Measurement (detection) biases
• which include issues related to how the outcome of
interest was measured
3. Intervention (performance) biases
• which involve how the treatment itself was carried
out.
Selection Bias
• Volunteer or referral bias
– People who volunteer to participate in a study (or who are referred to
it) are often different than non-volunteers/non-referrals. This bias
usually, but not always, favors the treatment group, as volunteers tend
to be more motivated and concerned about their health.
• Non-response bias
– When those who do not respond to a survey differ in important ways
from those who respond or participate. This bias can work in either
direction.
• Self-selection bias
– Arises in any situation in which individuals select themselves into
a group
• Prevalence-incidence bias
– Happens when mild or asymptomatic cases as well as fatal short
disease episodes are missed when studies are performed late in
disease process
http://www.umdnj.edu/idsweb/shared/biases.htm
Measurement Bias
• Instrument bias. Calibration errors lead to inaccurate measurements being
recorded
• Insensitive measure bias. When the measurement tool(s) used are not
sensitive enough to detect what might be important differences in the
variable of interest.
• Expectation bias. Occurs in the absence of masking or blinding, when
observers may measuring data toward the expected outcome.
• Recall or memory bias. If outcomes being measured require that subjects
recall past events. Often a person recalls positive events more than
negative ones.
• Attention bias. Occurs because people who are part of a study are usually
aware of their involvement, and as a result of the attention received may
give more favorable responses or perform better than people who are
unaware of the study’s intent.
• Verification or work-up bias. Associated mainly with test validation
studies. In

http://www.umdnj.edu/idsweb/shared/biases.htm
Intervention Bias
• Contamination bias. When members of the 'control' group inadvertently
receive the treatment or are exposed to the intervention
• Co-intervention bias. When some subjects are receiving other
(unaccounted for) interventions at the same time as the study treatment.
• Timing bias(es). If an intervention is provided over a long period of time,
maturation alone could be the cause for improvement. If treatment is very
short in duration, there may not have been sufficient time for a noticeable
effect in the outcomes of interest.
• Compliance bias. When differences in subject adherence to the planned
treatment regimen or intervention affect the study outcomes.
• Withdrawal bias. When subjects who leave the study (drop-outs) differ
significantly from those that remain.
• Proficiency bias. When the interventions or treatments are not applied
equally to subjects. This may be due to skill or training differences among
personnel and/or differences in resources

http://www.umdnj.edu/idsweb/shared/biases.htm
183. Uji Hipotesis

* : Uji Parametrik; Tanda panah ke bawah : Uji alternatif jika parametrik tidak
terpenuhi
184. Penelitian Diagnostik

• Positive predictive value (a/a+b)


adalah probabilitas adanya
penyakit pada seseorang yang
hasil testnya positif
• Negative predictive value (d/c+d)
adalah probabilitas seseorang
bebas dari penyakit karena hasil
test negative
optimized by optima
Sukardi. (2004). Metodologi Penelitian Pendidikan, Kompetensi dan Prakteknya. Jakarta : Bumi aksara.
185. Keberhasilan Posyandu
• Cakupan SKDN
– S : Semua balita diwilayah kerja Posyandu
– K : Semua balita yang memiliki KMS
– D : Balita yang ditimbang
– N : Balita yang naik berat badannya

• D / S : baik/kurangnya peran serta masyarakat


• N / D : Berhasil tidaknya Program posyandu
PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU. Kementerian Kesehatan
RI dan Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011
• Tingkat partisipasi masyarakat
– (D/S x 100%)
– minimal mencapai 80 %
– <80 % partisipasi mayarakat untuk kegiatan pemantauan
pertumbuhan dan perkembangan berat badan sangatlah rendah
• Tingkat Liputan Program
– (K/S x 100%)
– Mencapai 100 %.
– Apabila tidak digunakan atau tidak dapat KMS
• program Posyandu tersebut mempunyai liputan yang sangat rendah
• Balita kehilangan kesempatan untuk mendapat pelayanan dalam KMS
– Tingkat Kehilangan Kesempatan{(S-K)/S x 100%)
• Tingkat Keberhasilan Program Posyandu
– (N/D x 100%)
• Indikator Drop Out
– balita yang sudah mempunyai KMS dan pernah datang menimbang
berat badannya tetapi kemudian tidak pernah datang lagi di posyandu
untuk selalu mendapatkan pelayanan kesehatan
– (K-D)/K x 100%

PEDOMAN UMUM PENGELOLAAN POSYANDU. Kementerian Kesehatan


RI dan Kelompok Kerja Operasional (POKJANAL POSYANDU). 2011
186. Observational Study
• Case Control
– Menganalisa faktor risiko dengan
menentukan dua kelompok yang
memiliki perbedaan outcome
(penyakit), kemudian dihubungkan
dengan causal attribute- nya
– Keuntungan : Membutuhkan sumber
daya, dana yang lebih sedikit, serta
waktu yang lebih singkat. Good for
rare cases, long latent period, ethical
related cases
– Useful when epidemiologists
investigate an outbreak of a disease
– Kelemahan : provide less evidence
for causal inference
Case control

optimized by optima
Odd Ratio

optimized by optima
187. Metode PAHO
Pemecahan Masalah

I. Membuat Prioritas Masalah


• Priority = Importance x Technological Feasibility x Resources
• Pentingnya masalah (Importancy = I) yang terdiri dari:
– Prevalence = P. Merupakan besarnya masalah
– Severity = S .Akibat yang ditimbulkan oleh masalah
– Rate of Increase = RI. Merupakan suatu kenaikan besarnya masalah
– Degree of unmeet need = DU. Yaitu derajat kebutuhan masyarakat yang
tidak terpenuhi
– Social Benefit = SB. Adalah keuntungan sosial karena selesainya masalah
– Public Concern = PB. Merupakan rasa prihatin masyarakat terhadap
masalah
– Political Climate = PC. Adalah suasana politik
Importance = Prevalence + Severity +Rate of Increase + Degree of unmet need +
Political Climate + Social Benefit + Public Concern
• Technology = T . Merupakan kelayakan teknologi . Makin layak
teknologi yang tersedia dan dapat dipakai untuk mengatasi
masalah, makin diprioritaskan masalah tersebut.
• Sumber daya yang tersedia (Resources = R). Terdiri dari tenaga
(man), dana (money), dan sarana (material). Penyelesaian masalah
akan semakin diprioritaskan bila sumber daya yang diperlukan
tersedia.
• (P = priority, T = technology, I =importancy, R=resources), dengan
memberi nilai antara 1 (tidak penting) sampai dengan 5 (sangat
penting).
II. Alternatif Pemecahan Masalah
III. Prioritas Pemecahan Masalah
= Efektivitas Jalan keluar (MxIxV)
Efisiensi jalan keluar (C)
• Efektifitas jalan keluar : Magnitude x Importancy
x Velocity
– Magnitude : Besarnya masalah yang dapat diatasi
– Importancy : Pentingnya jalan keluar untuk
permasalahan
– Velocity : Kecepatan jalan keluar mengatasi masalah
• Efisiensi jalan keluar berkaitan dengan cost
• Nilai diberikan 1-5
188. Studi Epidemiologi
Desain Studi
Desain Keterangan
Deskriptif mendeskripsikan distribusi penyakit pada populasi, berdasarkan
karakteristik dasar individu, seperti umur, jenis kelamin, pekerjaan,
kelas sosial, status perkawinan, tempat tinggal dan sebagainya,
serta waktu
Analitik menguji hipotesis dan menaksir (mengestimasi) besarnya hubungan/
pengaruh paparan terhadap penyakit
Studi peneliti tidak sengaja memberikan intervensi, melainkan hanya
observasional mengamati (mengukur), mencatat, mengklasifikasi, menghitung, dan
menganalisis (membandingkan) perubahan pada variabel-variabel
pada kondisi yang alami
Studi peneliti meneliti efek intervensi dengan cara memberikan berbagai
eksperimental level intervensi kepada subjek penelitian dan membandingkan efek
dari berbagai level intervensi itu

optimized by optima
Cross Sectional
• Studi epidemiologi yang mempelajari prevalensi, distribusi
maupun hubungan penyakit dan paparan (faktor penelitian)
dengan cara mengamati status paparan, penyakit atau
karakteristik terkait kesehatan lainnya
• Status paparan dan penyakit diukur pada saat yang sama.
• Data yang dihasilkan adalah data prevalensi, maka disebut
juga survei prevalensi.
• Studi potong lintang pada dasarnya adalah survei

optimized by optima
Budiarto, Eko.2003. Pengantar Epidemiologi.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC
THT
189. Tonsillitis
• Acute tonsillitis:
– Viral: similar with acute rhinits +
sore throat
– Bacterial: GABHS, pneumococcus, S.
viridan, S. pyogenes.
• Detritus  follicular tonsillitits
• Detritus coalesce  lacunar tonsillitis.
• Sore throat, odinophagia, fever, malaise,
otalgia.
• Th: penicillin or erythromicin

• Chronic tonsillitis
– Persistent sore throat, anorexia, dysphagia, &
pharyngotonsillar erythema
– Lymphoid tissue is replaced by scar  widened
crypt, filled by detritus.
– Foul breath, throat felt dry.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Diagnostic handbook of otorhinolaryngology.
Sore Throats
Diagnosis Clinical Features

Tonsillar neoplasm Tonsillar asymmetry associated with rapid enlargement,


constitutional symptoms, atypical tonsillar appearance,
ipsilateral cervical lymphadenopathy, and a history of
previous malignant growths
Acute tonsillitis Sore throat & dysphagia, earache, headache & malaise.
Fever, enlarged, hyperaemic tonsil, inflamed pharynx.

Parapharyngeal abscess Can be caused by spread of infection from peritonsilllar,


retropharyngeal, or submandibular space.
Trismus, induration or swelling around angulus
mandibularis, high fever, swelling of pharyngeal lateral
wall.
Submandibular abscess Infection is originated from teeth, mouth floor, pharynx,
salivary gland, submandibular lymph node.
Fever, neck pain, swelling below the mandible or tongue.
1) Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007. 3) Cummings otolaryngology. 4th ed. Mosby; 2005.
190. Polip Nasi
Nasal Congestion
191. Rinitis
Diagnosis Clinical Findings
Rinitis alergi Riwayat atopi. Gejala: bersin, gatal, rinorea, kongesti. Tanda: mukosa
edema, basah, pucat atau livid, sekret banyak.

Rinitis Gejala: hidung tersumbar dipengaruhi posisi, rinorea, bersin.


vasomotor Pemicu: asap/rokok, pedas, dingin, perubahan suhu, lelah, stres.
Tanda: mukosa edema, konka hipertrofi merah gelap.
Rinitis hipertrofi Hipertrofi konka inferior karena inflamasi kronis yang disebabkan
oleh infeksi bakteri, atau dapat juga akrena rinitis alergi & vasomotor.
Gejala: hidung tersumbat, mulut kering, sakit kepala. Sekret banyak
& mukopurulen.
Rinitis atrofi / Disebabkan Klesiella ozaena atau stafilokok, streptokok, P. Aeruginosa
ozaena pada pasien ekonomi/higiene kurang. Sekret hijau kental, napas bau,
hidung tersumbat, hiposmia, sefalgia. Rinoskopi: atrofi konka media
& inferior, sekret & krusta hijau.
Rinitis Hidung tersumbat yang memburuk terkait penggunaan
medikamentosa vasokonstriktor topikal. Perubahan: vasodilatasi, stroma
edema,hipersekresi mukus. Rinoskopi: edema/hipertrofi konka
dengan sekret hidung yang berlebihan.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Diagnosis Clinical Findings
Acute rhinitis Warm, dry, & itchy followed by sneezing, congestion, & serous
(rhinovirus) secrete along with fever & headache.
Rhinoscopy: reddened & swollen mucous membrane.
Foreign Nasal obstruction, unilateral rhinorrea, thick & foul smell secrete.
bodies Edema, inflammation, sometimes ulceration.
Removal: hook for round smooth object, crocodile forceps if object
can be grasped, or suction for many object.

Rhinosinusitis •Two or more symptoms, included nasal obstruction or nasal


discharge as one of them and: facial pain/pressure or
hyposmia/anosmia.
Nasal septal Nasal obstruction, unilateral or bilateral, headache or pain around
deviation eyes, hyposmia if deviation located at upper septum.
Polip white-greyish/pale soft tissue containing fluid at meatus medius.
Symptoms: nasal obstruction, nasal discharge, hyposmia, sneezing,
pain, frontal headache.
Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Rinitis Alergi
Rinitis Alergi

Allergic rhinitis management pocket reference 2008


Rhinitis
• Atopic sign:
– Allergic shiner
• Dark shadow below the eyes due to nasal obstruction
causing secondary vein stasis
– Allergic crease
• Horizontal line at the lower third dorsum nasi caused by
repeted rub
– Facies adenoid
• Mouth open with high arch palate  disrupted teeth growth
– Cobblestone appearance at posterior pharyngeal wall
– Geographic tongue

Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


192. Vertigo
Peripheral Vertigo Central Vertigo
Involving Inner ear, vestibular nerve Brainstem, cerebellum,
cerebrum
Onset Sudden Gradual
Nausea, vomitting Severe Varied
Hearing symptom Often Seldom
Neurologic symptom - Often
Compensation/resolution Fast Slow
Spontaneous nystagmus Horizontal, rotatoir Vertical
Positional nystagmus Latency (+), fatigue (+) Latency (-), no fatigue (-)
Calory nystagmus Paresis Normal
• Vertigo of peripheral origin
Condition Details
BPPV Brief, position-provoked vertigo episodes caused by
abnormal presence of particles in semisircular canal
Meniere’s disease An excess of endolymph, causing distension of
endolymphatic system (vertigo, tinnitus, sensorineural
deafness)
Vestibular neuronitis Vestibular nerve inflammation, most likely due to virus
Acute labyrinthitis Labyrinth inflammation caused by viral or bacterial
infection
Labyinthine infarct Compromises blood flow to labyrinthine
Labyrinthine concussion Damage after head trauma
Perylimnph fistula Labyrinth membrane damage resultin in perylimph
leakage into middle ear
Diagnosis Vertigo
Dix Hallpike Maneuver
Treatment of BPPV
canalith repositioning maneuvre
• Office treatment fo BPPV: Epley Maneuver
(canalith repositioning)
• Home treatment
for BPPV: Brandt
Daroff maneuver
– 3 sets x 5
repetitions/day
for 2 weeks
– Success rate 95%
– Mostly complete
relief after 30 sets
(10 days)
• Symptomatic treatment:
– Antivertigo (vestibular suppressant)
• Ca channel blocker: flunarizin
• Histaminic: betahistine mesilat
• Antihistamin: difenhidramine, sinarisin
– Antiemetic:
• prochlorperazine, metoclopramide
– Psycoaffective:
• Clonazepam, diazepam for anxiety & panic attack
193. Epistaksis
• Epistaksis Posterior
– Perdarahan berasal dari a.
ethmoidalis posterior atau a.
Sphenopalatina, sering sulit
dihentikan.
– Terjadi pada pasien dengan
hipertensi atau arteriosklerosis.
• Epistaksis anterior: – Terapi: tampon bellocq/posterior
– Sumber: pleksus kisselbach plexus selama 2-3 hari.
atau a. ethmoidalis anterior
– Dapat terjadi karena infeksi &
trauma ringan, mudah dihentikan.
– Penekanan dengan jari selama 10-
15 menit akan menekan pembuluh
darah & menghentikan perdarahan.
– Jika sumber perdarahan terlihat 
kauter dengan AgNO3, jika tidak
berhenti  tampon anterior 2 x 24
jam. Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
194. Sore Throats
Peritonsillar abscess
Inadequately treated tonsillitis  spread of infection  pus formation between the
tonsil bed & tonsillar capsule

Symptoms & Signs


Quite severe pain with referred otalgia
Odynophagia & dysphagia  drooling
Irritation of pterygoid musculature by pus & inflammation  trismus
unilateral swelling of the palate & anterior pillar  displace the tonsil downward & medially 
uvula toward the opposite side

Therapy
Needle aspiration: if pus (-)  cellulitis  antibiotic. If pus (+)  abscess .
If pus is found on needle aspirate, pus is drained as much as possible.
Abses Leher Dalam

Peritonsillar abscess Parapharyngeal abscess

Retropharyngeal abscess
Submandibular abscess
193. Sore Throats

1) Menner, a pocket guide to the ear. Thieme; 2003. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007. 3) Cummings otolaryngology. 4th ed. Mosby; 2005.
195. Otitis Media
Acute Otitis Media
• The bacteria responsible:
Streptococcus pneumoniae 35%,
Haemophilus influenzae 25%,
Moraxella catarrhalis 15%.

 The sequence of events in acute otitis media:


1. Tubal occlusion: retracted tympanic membrane or dull.
2. Hyperemic/presuppuration: redness & edema.
3. Suppuration: painful, fever, exudate in middle ear, bulging tympanic
membrane, sometimes flattening of the manubrium mallei
4. Perforation: rupture of tympanic membrane, fever subsides.
5. Resolution: if there is no perforation  tympanic membrane return
to normal. Perforated membrane  secrete diminish.
1) Lecture notes on diseases of the ear, nose, and throat. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
Otitis Media
Acute otitis media
• Therapy:
– Occlusion tubal: topical decongestan (ephedrin HCl)
– Presuppuration: AB for at least 7 days
(ampicylin/amoxcylin/ erythromicin) & analgetic.
– Suppuration: AB, myringotomy.
– Perforation: ear wash H2O2 3% & AB.
– Resolution: if secrete isn’t stopped  AB is continued until
3 weeks.

1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.


Otitis Media
• Miringotomi:
– Tindakan insisi pada pars tensa membran timpani agar terjadi drainase
sekret dari telinga tengah ke telinga luar.
• Miringoplasti:
– Timpanoplasti tipe 1 (paling ringan), hanya merekonstruksi membran
timpani.
– Tujuan: mencegah berulangnya infeksi pada OMSK tipe aman dengan
perforasi menetap.
• Timpanoplasti:
– Rekonstruksi membran timpani sering disertai dengan rekonstruksi
tulang pendengaran.
– Tujuan: menyembuhkan penyakit & memperbaiki pendengaran.
• Timpanosentesis:
– Pungsi pada membran timpani untuk mendapatkan sekret guna
pemeriksaan mikrobiologik.

Buku ajar THT-KL. 6th ed. FKUI.


196. Otitis Media Supuratif Kronik
• Benign/mucosal type/tubotympanic:
– Tidak mengenai tulang.
– Jenis perforasi: sentral.
– Th: ear wash with H2O2 3% for 3-5 days, ear
drops AB & steroid, systemic AB

Large central perforation


• Malignant/bony type/aticoantral:
– Mengenai tulang atau kolesteatoma.
– Jenis perforasi: marjinal atau attic.
– Tahap lanjut: abses atau fistel retroaurikel,
polip/jaringan granulasi, terlihat
kolesteatoma pad atelinga tengah, sekret
bentuk nanah & berbau khas
– Th: mastoidektomi.

Cholesteatoma at attic
type perforation
1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.
1) Diagnostic handbook of otorhinolaryngology. 2) Buku Ajar THT-KL FKUI; 2007.

OMSK Tipe Benigna


• Fase aktif Tatalaksana
– terdapat sekret pada telinga dan • Fase Tenang
tuli – Tidak memerlukan pengobatan,
– Didahului oleh perluasan infeksi – Edukasi
saluran nafas atas melalui tuba
• tidak mengorek telinga,
eutachius, atau setelah berenang
dimana kuman masuk melalui liang • air jangan masuk ke telinga sewaktu
mandi,
telinga luar • dilarang berenang
– Sekret bervariasi dari mukoid • segera berobat bila menderita infeksi
sampai mukopurulen saluran nafas atas
• Fase Tenang • sebaiknya dilakukan operasi
rekonstruksi (miringoplasti,
– Tampak perforasi total yang kering timpanoplasti) untuk mencegah
dengan mukosa telinga tengah infeksi berulang serta gangguan
yang pucat pendengaran.
– Gejala yang dijumpai berupa tuli • Fase Aktif
konduktif ringan – Membersihkan liang telinga dan
– Gejala lain yang dijumpai seperti kavum timpaniBila sekret keluar
vertigo, tinitus,atau suatu rasa terus menerus diberikan H2O2 3%
penuh dalam telinga. selama 3 – 5 hari.
– Pemberian antibiotika : topikal
antibiotik ( antimikroba) dan
sistemik.
197. Trauma Laring
Etiologi menurut Ballenger : Gejala Klinik :
• Trauma mekanik eksternal • Stridor perlahan sampai kuat.
(trauma tumpul, tajam, • Disfoni/afoni
komplikasi • Emfisema subkutan
• trakeostomi/krikotirotomi) • Hemoptisis
dan internal (endoskopi,
intubasi endotrakea atau • Disfagi/odinofagi
pemasangan NGT).
• Akibat luka bakar oleh panas
dan kimia (alkohol, amonia,
Natrium hipoklorit, lisol) yang
terhirup.
• Akibat radioterapi
• Trauma otogen akibat vocal
abuse
Tatalaksana
Konservatif :
• Istirahat suara
• Humidifikasi
• Kortikosteroid bila mukosa edem, hematom atau laserasi
ringan tanpa sumbatan laring.

Indikasi eksplorasi :
• Sumbatan nafas yg perlu trakeostomi
• Emfisema subkutis yg progresif
• Laserasi mukosa yg luas
• Terbukanya tlg rawan krikoid
• Paralisis bilateral pita suara
Luka Terbuka
• Diagnosis gelembung udara di daerah luka keluar
dari trakea.
• Tatalaksana
– ditujukan utk perbaikan sal nafas dan mencegah aspirasi ke
paru.
– Tindakan segera : Trakeostomi dgn kanul yang memakai
balon.
– Eksplorasi mencari dan mengikat pembuluh darah
– Antibiotika dan serum ATS.
• Komplikasi : aspirasi darah, paralisis pita suara dan
stenosis laring.
Luka Tertutup ( closed injury)
• Diagnosis lebih sulit
• Tatalaksana
– Endoskopi dgn fiber opticbila fasilitas
memungkinkan
– Laringoskopi direk atau indirek
– foto jaringan lunak leher, foto toraks, CT-scan.
– Tindakan eksplorasi dan konservatif tergantung
diagnosa diatas
• After a complete trauma evaluation, flexible fiberoptic
laryngoscopy is performed to carefully evaluate the
airway
198. Tuli
• Cocktail party deafness
– The sign for choclear deafness, the patient is disturbed by background
noise  difficult to hear in noisy environment.
– found in presbikusys & noice induced hearing loss.

• Presbikusys • Noise induced hearing loss


₋ Occur in elderly >65 yo. ₋ Long term exposure with noise
₋ Bilateral  cochlear sensorineural
deafness with/wo tinnitus.
₋ Bilateral
199. Audiometri
Tes Bisik Semi kuantitatif, menentukan derajat ketulian secara kasar. Hal yang perlu
diperhatikan ialah ruangan cukup tenang, panjang minimal 6 meter. Pada
nilai normal tes berbisik : 5/6 – 6/6
Tes Garpu Tala Pemeriksaan kualitatif, Jenis pemeriksaan ini adalah tes rinne, schwabach,
dan weber.
Tes Audiometri Untuk menilai kemampuan pasien dalam pembicaraan sehari-hari, dan
tutur untuk menilai pemberian alat bantu dengar. Pada tes ini dipakai kata-kata
yang sudah disusun dalam silabus (suku kata). Pasien diminta untuk
mengulangi kata-kata yang didengar melalui kaset tape recorder.

Tes Audiometri Diperiksa kelenturan membran timpani dengan tekanan tertentu pada
impedans meatus akustikus eksternus. Pada lesi di koklea, ambang rangsang refleks
stapedius menurun, sedangkan pada lesi di retrokoklea, ambang itu naik.
Tes Audiometri Dilakukan dengan menggunakan audiometer, dan hasil pencatatannya
Nada Murni disebut audiogram. Dapat dilakukan pada anak berusia lebih dari 4 tahun
yang kooperatif. Sebagai sumber suara digunakan nada murni yaitu bunyi
yang hanya terdiri dari 1 frekuensi. Menilai hantaran suara melalui udara
(air conduction) dengan headphone beda frekuensi, serta menilai hantaran
tulang (bone conduction) dengan bone vibrator pada prosesus mastoid.
Interpretasi hasil audiometri
• Pada interpretasi audiogram harus ditulis (a) telinga
yang mana, (b) apa jenis ketuliannya, (c) bagaimana
derajat ketuliannya, misalnya: telinga kiri tuli campur
sedang
• Dalam menentukan derajat ketulian, yang dihitung
hanya ambang dengar hantaran udaranya (AC) saja.
• Derajat Ketulian ISO:
– 0 – 25 dB : normal
– >25 – 40 dB : tuli ringan
– >40 – 55 dB : tuli sedang
– >55 – 70 dB : tuli sedang berat
– >70 – 90 dB : tuli berat
– >90 dB : tuli sangat berat
200. Laringomalasia
• Laringomalasia merupakan suatu kelainan dimana terjadi
kelemahan struktur supraglotik sehingga terjadi kolaps dan
obstruksi saluran nafas. Sedangkan padatrakeomalasia,
kelemahan terjadi pada dinding trakea.
• Laringomalasia dapat terjadi di epiglotis, kartilago aritenoid,
maupun pada keduanya. Jika mengenai epiglotis, biasanya
terjadi elongasi dan bagian dindingnya terlipat. Epiglotis yang
bersilangan membentuk omega, dan lesi ini dikenal sebagai
epiglotis omega (omega-shaped epiglottis).
• Jika mengenai kartilago aritenoid, tampak terjadi pembesaran.
Pada kedua kasus, kartilago tampak terkulai dan pada
pemeriksaan endoskopi tampak terjadi prolaps di atas laring
selama inspirasi. Obstruksi inspiratoris ini menyebabkan stridor
inspiratoris, yang terdengar sebagai suara dengan nada yang
tinggi
• Tiga gejala yang terjadi pada berbagai tingkat dan
kombinasi pada anak dengan kelainan laring kongenital
adalah obstruksi jalan napas, tangis abnormal yang dapat
berupa tangis tanpa suara (muffle) atau disertai stridor
inspiratoris serta kesulitan menelan yang merupakan akibat
dari anomali laring yang dapat menekan esofagus
• Riwayat stridor inspiratoris diketahui mulai 2 bulan awal
kehidupan. Suara biasa muncul pada minggu 4-6 awal.
• Stridor berupa tipe inspiratoris dan terdengar seperti
kongesti nasal, yang biasanya membingungkan. Namun
demikian stridornya persisten dan tidak terdapat sekret
nasal.
• Stridor bertambah jika bayi dalam posisi terlentang, ketika
menangis, ketika terjadi infeksi saluran nafas bagian atas,
dan pada beberapa kasus, selama dan setelah makan.
• Tangisan bayi biasanya normal
• Biasanya tidak terdapat intoleransi ketika diberi makanan,
namun bayi kadang tersedak atau batuk ketika diberi
makan jika ada refluks pada bayi
• Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan laring
dengan menggunakan serat fiber fleksibel selama periode
pernapasan spontan.
• Penemuan endoskopik yang paling sering adalah kolapsnya
plika ariepiglotik dan kartilago kuneiform ke sebelah dalam.
• Laringoskopi langsung merupakan cara yang terbaik untuk
memastikan diagnosis. Bilah laringoskop dimasukkan ke
valekula dengan tekanan yang minimal pada epiglotis untuk
menegakkan diagnosis.
• Pada inspirasi, struktur sekitar vestibulum, terutama plika
ariepiglotik, epiglotis, dan kartilago aritenoid akan tampak
turun ke saluran nafas, disertai stridor yang sinkron.
Visualisasi langsung memperlihatkan epiglotis berbentuk
omega selama inspirasi