Anda di halaman 1dari 22

I.

Produk Sampingan (By Product) adalah produk yang diproduksi bersama-sama


dengan produk lain tetapi mempunyai harga jual yang relatif lebih rendah dari
produk lainnya.

II. Karakteristik Produk Sampingan


a) Dihasilkan bersama dengan produk utama dalam suatu proses atau
serangkaian proses tanpa dimaksudkan untuk membuat produk ini.
b) Nilai penjualan adalah relatif lebih kecil atau tidak berarti, bila
dibandingkan dengan produk-produk utama.
c) Dihasilkan dalam jumlah unit atau kuantitas yang lebih sedikit.
d) Kadang-kadang memerlukan pengolahan lebih lanjut dan pembungkusan.
e) Produk ini tidak dapat dihasilkan tanpa memproduksi produk-produk
utama.

III. Akuntansi Untuk Produk Sampingan


Metode Akuntansi yang digunakan untuk memperlakukan produk sampingan
dapat dibagi menjadi 2 golongan :

1. Metode yang hanya melakukan pencatatan terhadap hasil penjualan produk


sampingan, tanpa menghitung harga pokok produk sampingan tersebut
(metode tanpa harga pokok / Non Cost Method).

Dalam metode ini biaya-biaya produksi hanya dibebankan ke produk utama,


kemudian hasil penjualan produk sampingan dicatat langsung sebagai
pendapatan / pengurang terhadap biaya-biaya produksi.
Dalam metode ini terdapat beberapa cara perlakuan terhadap hasil penjualan
produk sampingan sebagai berikut :

a) Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pendapatan lain-


lain / pendapatan diluar usaha.
b) Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai tambahan
terhadap hasil penjualan produk utama. Dengan demikian dalam cara ini
pendapatan usaha bertambah.
c) Hasil produk sampingan diperlakukan mengurangi harga pokok penjualan.
d) Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan mengurangi total biaya
produksi.
e) Nilai pasar produk sampingan dikurangkan ke total biaya produksi (Metode
Nilai Pasar / reversal Cost Method)
2. Metode yang membebankan biaya-biaya produksi ke produk utama dan produk
sampingan (Metode Harga Pokok / Cost Method)

Dalam metode ini biaya-biaya produksi dialokasikan baik ke produk utama


maupun produk sampingan. Sedangkan harga pokok produk sampingan
ditetapkan sebesar harga beli / nilai pengganti (Replacement Cost) yang
berlaku di pasar. Harga pokok tersebut di kredit perkiraan “ Barang Dalam
Proses Bahan Baku ”. Dengan demikian biaya produksi (bahan baku) untuk
produk utama berkurang.

AKUNTANSI PRODUK SAMPINGAN


Klasifikasinya
1.produk sampingan siap di jual setelah titik pemisahan
2. produk sampingan perlu di proses setelah titik pemisahan dan baru bisa di
jual setelah pemrosesan.

Metode penghitungan harga pokok produk sampingan


1. Metode Pengakuan pendapatan kotor

a.hasil penjualan produk sampingan di berlakukan sebagai pendapatan lain-lain

b.Hasil penjualan produk sampingan di berlakukan sebagai hasil penjualan


tambahan.

c. Hasil penjualan produk sampingan di berlakukan sebagai pengurangan dari


harga pokok.

d.hasil penjualan produk sampingan di berlakukan sebagai pengurangan total


biaya produksi produk utama

2. Metode pengakuan pendapatan bersih

Penjualan produk sampingan setelah di kurangi dengan biaya pemasaran dan


administrasi serta biaya pemrosesan lanjutan,di berlakukan seperti metode 1.

3. metode biaya pengganti (replacement cost)

jumlah produk sampingan yang di pergunakan sebagai bahan di nilai dengan


harga pengganti yang berlaku di pasar.
4. Metode nilai pasar (metode biaya reversal)
nilai suatu produk sampingan di tetukan dengan taksiran biaya
produk sampingansaat titik pisah.

3. Akuntansi Produk Sampingan

Perlakuan akuntansi produk sampingan ada dua cara, yaitu tidak


mendapat alokasi biaya bersama dan mendapat alokasi biaya bersama.

a. Produk sampingan tidak mendapat alokasi biaya bersama (biaya bersama


dibebankan semuanya ke produk utama), terdiri atas dua 2 metode, yaitu:

1). Metode Pendapatan Kotor

Pendapatan kotor dari penjualan produk sampingan disajikan dalam Laporan


Rugi-Laba sebagai pendapatan lain-lain (menambah laba operasi), menambah
penjualan produk utama, mengurangi harga pokok penjualan produk utama,
mengurangi biaya produksi total produk utama,

a). Pendapatan lain-lain

Contoh:

Penjualan (produk utama 10.000 unit @ Rp100) Rp1.000.000

Harga Pokok Penjualan:

Sediaan awal (1.000 unit @ Rp85) Rp 85.000

Biaya produksi total (11.000 unit @ Rp85) Rp 935.000

Biaya barang tersedia untuk dijual Rp1.020.000

Sediaan akhir (2.000 unit @ Rp85) Rp 170.000

Rp 850.000
Laba kotor Rp 150.000

Biaya pemasaran dan administrasi Rp 50.000

Laba operasi Rp 100.000


Pendapatan lain-lain:

Penjualan produk sampingan Rp 40.000

Laba sebelum pajak Rp 140.000

Jurnal pendapatan penjualan produk sampingan:

Kas / Piutang Dagang Rp40.000

Penjualan produk sampingan Rp40.000

b). Menambah penjualan produk utama

Contoh:

Penjualan (produk utama 10.000 unit @ Rp100) Rp1.000.000

Pendapatan penjualan produk sampingan 40.000 Rp1.040.000

Harga Pokok Penjualan:

Sediaan awal (1.000 unit @ Rp85) Rp 85.000

Biaya produksi total (11.000 unit @ Rp85) Rp 935.000

Biaya barang tersedia untuk dijual Rp1.020.000

Sediaan akhir (2.000 unit @ Rp85) Rp 170.000

Rp 850.000
Laba kotor Rp 190.000

Biaya pemasaran dan administrasi Rp 50.000

Laba operasi Rp 140.000

Jurnal pendapatan penjualan produk sampingan:

Kas / Piutang Dagang Rp40.000

Penjualan produk sampingan Rp40.000

c). Mengurangi harga pokok penjualan produk utama

Contoh:

Penjualan (produk utama 10.000 unit @ Rp100) Rp1.000.000

Harga Pokok Penjualan:

Sediaan awal (1.000 unit @ Rp85) Rp 85.000

Biaya produksi total (11.000 unit @ Rp85) Rp 935.000

Biaya barang tersedia untuk dijual Rp1.020.000

Sediaan akhir (2.000 unit @ Rp85) Rp 170.000

Rp 850.000

Pendapatan penjualan produk sampingan (Rp 40.000)Rp 810.000

Laba kotor Rp 190.000

Biaya pemasaran dan administrasi Rp 50.000

Laba operasi Rp 140.000


Jurnal pendapatan penjualan produk sampingan:

Kas / Piutang Dagang Rp40.000

Penjualan produk sampingan Rp40.000

d). Mengurangi biaya produksi total produk utama

Metode ini mengakibatkan biaya per unit produk utama berubah, sehingga nilai
sediaan akhir juga berubah.

Contoh:

Sediaan awal per unit berubah menjadi Rp80, disebabkan biaya produksi produk
utama dikurangi pendapatan penjualan produk sampingan pada periode
sebelumnya.

Penjualan (produk utama 10.000 unit @ Rp100) Rp1.000.000

Harga Pokok Penjualan:

Sediaan awal (1.000 unit @ Rp80) Rp 80.000

Biaya produksi total (11.000 unit @ Rp85) Rp935.000

Pendapatan penjualan produk sampingan Rp 40.000

Biaya produksi neto Rp895.000

Biaya barang tersedia untuk dijual

(12.000 unit @ Rp 81,25) Rp975.000

Sediaan akhir (2.000 unit @ Rp81,25) Rp162.500

Rp 812.500

Laba kotor Rp 187.500

Biaya pemasaran dan administrasi Rp 50.000

Laba operasi Rp 137.500

Jurnal pendapatan penjualan produk sampingan:


Kas / Piutang Dagang Rp40.000

Biaya Produksi Produk Utama Rp40.000

2). Metode Pendapatan Bersih

Pada metode ini, pendapatan dari penjualan produk sampingan dikurangi dengan
seluruh biaya yang terjadi setelah titik pisah. Biaya setelah titik pisah meliputi
biaya administrasi, biaya pemasaran dan biaya pemrosesan lebih lanjut
produk sampingan. Pendapatan bersih produk sampingan disajikan dalam
laporan Rugi-Laba sebagai:

a). Pendapatan lain-lain

b). Menambah pendapatan penjualan produk utama

c). Mengurangi harga pokok penjualan produk utama

d). Mengurangi biaya total produksi produk utama

b. Produk sampingan mendapat alokasi biaya bersama

Biaya produk sampingan meliputi biaya bersama yang dialokasikan ke produk


sampingan ditambah dengan biaya setelah titik pisah (biaya pemrosesan
produk sampingan lebih lanjut). Metode untuk menentukan jumlah biaya
bersama yang dialokasikan ke produk sampingan ada dua, yaitu:

1). Metode Biaya Pengganti

Metode ini diterapkan pada perusahaan yang produk sampingannya digunakan


sebagai bahan dalam proses produksinya, sehingga tidak membeli dari
pemasok. Biaya bersama dialokasikan ke produk sampingan sebesar harga
beli atau biaya pengganti produk tersebut di pasar.
2). Metode Biaya Reversal / Harga Pasar

Pada metode ini biaya bersama dialokasikan ke produk sampingan sebesar


taksiran biaya produk sampingan pada saat titik pisah. Taksiran biaya produk
sampingan dihitung dengan cara nilai / harga pasar produk sampingan
dikurangi taksiran laba kotor, taksiran biaya pemasaran, taksiran biaya
administrasi dan umum, dan taksiran biaya proses lanjut produk sampingan.
Rumusnya sebagai berikut:

Nilai pasar produk sampingan xx

Dikurangi:

Taksiran laba kotor xx

Taksiran biaya pemasaran xx

Taksiran biaya administrasi & umum xx

Taksiran biaya proses lanjut xx

xx

Taksiran biaya produk sampingan xx

Contoh:

Elemen Produk utama Produk


sampingan

Biaya bahan baku Rp3.000.000

Biaya tenaga kerja langsung 4.000.000

BOP 2.000.000

Total biaya produksi (40.000 unit) Rp9.000.000

Nilai pasar (5.000 unit @ Rp100) Rp500.000

Taksiran laba kotor terdiri atas:

Laba kotor (20% dari harga jual) Rp100.000


Biaya pemasaran & adm (5% dari harga jual) 25.000

Rp125.000

Rp375.000

Taksiran biaya produksi setelah pemisahan:

Biaya bahan
baku Rp70.000

Biaya tenaga kerja langsung 80.000

BOP 20.
000

Rp170.000

Taksiran nilai produk sampingan saat titik pisah dikurangkan ke produk


utama Rp205.000
*Rp205.000

Biaya produk utama **Rp8.795.000

Ditambah dengan biaya produksi sesungguhnya setelah pemisahanRp 80.000

Biaya produk sampingan Rp285.000

Total jumlah unit 40.000 5.000

Biaya produk per unit Rp220 Rp57

Catatan:

Tanda * adalah taksiran nilai produk sampingan pada saat titik pisah

Tanda ** adalah biaya produk utama setelah dikurangi biaya produk sampingan
Soal-soal:

1). PT Z menghasilkan produk utama dan produk sampingan. Biaya produksi


bersama sebesar Rp200.000. Setelah titik pisah, dikeluarkan biaya sebesar
Rp150.000 untuk menyelesaikan produk utama, dan Rp5.000 untuk
menyelesaikan produk sampingan. Produk utama memiliki harga pasar
sebesar Rp400.000, sedangkan produk sampingan harga pasarnya sebesar
Rp20.000. Tidak ada sediaan akhir.

Diminta:

a). Metode pendapatan bersih digunakan untuk mencatat produk sampingan


sebagai pendapatan lain-lain dan beban pemasaran serta administrasi produk
tersebut sama dengan nol. Berapa jumlah pendapatan lain-lainnya? Sajikan
dalam laporan Laba-Rugi?

b). Manajemen mengalokasikan beban pemasaran dan administrasi sebesar


Rp2.000 ke produk sampingan dan memperoleh laba kotor sebesar 10% dari
harga jual. Dengan menggunakan metode harga pasar, hitunglah jumlah biaya
bersama yang dialokasikan ke produk sampingan.

2). PT Y memproduksi satu produk utama dan dua produk sampingan, A dan B.
Untuk bulan April, tersedia data sebagai berikut:

Produk Utama Produk Sampingan

A B Total

Penjualan Rp75.000 Rp6.000 Rp3.500 Rp84.50


0

Biaya produksi setelah titik pisah Rp11.500 Rp1.100 Rp900 Rp13.500

Beban pemasaran dan


administrasi Rp 6.000 Rp 750 Rp550 Rp 7.300

Biaya produksi sebelum titik


pisah Rp37.500

Laba yang diperoleh untuk produk A dan B masing-masing sebesar 15% dan 12%.
Hitung biaya produksi sebelum titik pisah untuk produk sampingan A dan B
menggunakan metode harga pasar, dan buat laporan LabaRugi yang merinci
penjualan dan biaya untuk setiap produk.

4. Alokasi Biaya Produksi Bersama pada Produk Bersama

Biaya produksi bersama dialokasikan ke setiap produk bersama menggunakan


metode nilai pasar, rata-rata biaya per satuan, rata-rata tertimbang dan unit
kuantitatif.

a. Metode Nilai Pasar / Nilai Jual Relatif

Metode ini mengasumsikan bahwa setiap produk yang dihasilkan dalam proses
produksi bersama memiliki nilai jual atau nilai pasar yang berbeda. Perbedaan
nilai pasar disebabkan tingkat pemakaian biaya yang berbeda, produk yang
mengkonsumsi biaya yang tinggi memiliki nilai jual tinggi juga dan
sebaliknya.

Contoh:
Biaya produksi bersama
untuk pemrosesan minyak
mentah sebesar
Rp1.500.000. Proses
produksi bersama
menghasilkan secara
bersamaan bensin sebesar
50.000 liter, minyak
pelumas sebanyak 30.000
liter dan minyak tanah
sebesar 20.000 liter. Harga
jual setiap produk per liter
setelah titik pisah adalah
bensin Rp5.500, minyak
pelumas Rp3.000 dan
minyak tanah Rp1.750.
Hitung alokasi biaya
bersamanya!
Produk Jumlah Harga Nilai Jual Nilai Jual Alokasi Biaya Biaya / Unit
Bersa Produ Jual / (3)=(1)x(2) Relatif Bersama
ma k Unit (5)=(4)x1.500.0 (6)=(5)/(1)
(%) 00
(liter) (2)
(4)
(1)

Bensin 50.000 Rp5.500 Rp275.000.000 68,75 Rp1.031.250. Rp21

Pelumas 30.000 3.000 90.000.000 22,5 337.500 Rp12

Minyak 20.000 1.750 35.000.000 8,75 131.250 Rp7


tanah

Total 100.000 Rp400.000.000 100 Rp1.500.000


b. Metode rata-rata biaya per satuan

Metode ini digunakan jika dari satu proses produksi bersama dihasilkan beberapa
produk dengan kualitas yang berbeda, dan produk bersama yang dihasilkan
diukur dalam satuan yang sama. Penentuan biaya untuk setiap produk
dihitung sesuai dengan proporsi kuantitas masing-masing produk yang
dihasilkan.

Contoh:

Berdasarkan contoh soal diatas, total produksi sebesar 100.000 liter, dengan
biaya produksi rata-rata per liter adalah Rp15 (Rp1.500.000/100.000). Alokasi
biaya bersama sebagai berikut:

Produk Kuantitas Rata-rata biaya per Alokasi Biaya Bersama


satuan

Bensin 50.000 Rp15 Rp750.000

Pelumas 30.000 Rp15 450.000

Minyak tanah 20.000 Rp15 300.000

Total 100.000 Rp1.500.000


c. Metode rata-rata tertimbang

Asumsi yang mendasari adalah setiap produk yang dihasilkan dalam proses
produksi bersama memiliki faktor penimbang yang berbeda, seperti tingkat
kesulitan pembuatan produk, waktu yang dikonsumsi, keahlian tenaga kerja,
kualitas produk yang dihasilkan, dll. Penentuan alokasi biaya bersama pada
setiap produk didasarkan atas perkalian jumlah unit produk dengan angka
penimbang, dan hasilnya digunakan sebagai dasar untuk alokasi.

Contoh:

Berdasarkan contoh soal


diatas, angka penimbang
untuk setiap produk adalah
bensin 3, minyak pelumas
2, dan minyak tanah 1.
Alokasi biaya bersamanya
sebagai berikut:
Produk Jumlah Angka penimbang Jumlah produk x Alokasi biaya
produk angka penimbang bersama
(2)
(1) (3)=(1)x(2) (4)=(3)/230.000x
Rp1.500.000

Bensin 50.000 3 150.000 Rp978.261

Pelumas 30.000 2 60.000 391.304

Minyak 20.000 1 20.000 130.435


tanah

Total 100.000 230.000 Rp1.500.000

d. Metode unit kuantitatif

Asumsi yang mendasari adalah setiap produk yang dihasilkan dalam proses
produksi bersama menggunakan bahan baku sesuai dengan tingkat
pemanfaatan bahan baku yang terdapat pada setiap produk yang dihasilkan.
Setiap produk dapat diidentifikasi sesuai dengan tingkat pemanfaatan bahan
baku dalam ukuran satuan yang sama.

Contoh:
Produk Kuantitas (1) Persentase (%) Alokasi Biaya Bersama

(2)=(1)/100.000 (3)=(2)xRp1.500.000

Bensin 50.000 50 Rp750.000

Pelumas 30.000 30 450.000

Minyak tanah 20.000 20 300.000

Total 100.000 100 Rp1.500.000


Harga Pokok Bersama dan Sampingan
I. Pengertian
Berikut ini pengertian tentang harga pokok produk bersama dan produk sampingan :
1. Biaya Bersama (Joint Cost) adalah biaya-biaya yang timbul untuk menghasilkan dua jenis
produk atau lebih dalam suatu proses produksi yang dilakukan secara simultan, dimana
terjadinya biaya. Biaya ini terbatas sampai dengan titik pemisahan (spilt of point).
2. Titik Pemisahan (Spilt Of Point) adalah suatu titik atau waktu, dimana masing-masing
produk bersama dan produk sampingan dapat didefinisikan.
3. Biaya Produk Bersama (Joint Product Cost) adalah biaya sejak awal proses, meliputi
biaya bahan baku, biaya tenaga kerja dan biaya overhead pabrik, yang dikeluarkan
mengolah beberapa jenis produk.
4. Produk Bersama (joint Product ) adalah dua atau lebih jenis produk yang diproduksi
secara bersama-sama dalam satu rangkaian proses produksi dan masing-masing produk
mempunyai harga jual yang relatif sama. Produk-produk ini disebut juga Produk Utama
(Major Product).
5. Produk Sampingan (By Product) adalah produk yang diproduksi bersama-sama dengan
produk lain tetapi mempunyai harga jual yang relatif lebih rendah dari produk lainnya.
II. Karakteristik
1. Karakteristik Produk Bersama :
a) Merupakan produk-produk utama yang dihasilkan dengan sengaja sesuai dengan tujuan
produksi, melalui suatu proses atau serangkaian proses dan dilakukan secara simultan
b) Nilai penjualan adalah relatif lebih besar bila dibandingkan dengan produk-produk
sampingan yang dihasilkan, dan relatif sama diantara produk-produk umum.
c) Biasanya dihasilkan dalam jumlah unit atau kuantitas yang besar.
d) Seringkali memerlukan pengolahan lebih lanjut dan pembungkusan.
e) Salah satu produk tidak dapat dihasilkan tanpa memproduksi yang lain.
2. Karakteristik Produk Sampingan
a) Dihasilkan bersama dengan produk utama dalam suatu proses atau serangkaian proses
tanpa dimaksudkan untuk membuat produk ini.
b) Nilai penjualan adalah relatif lebih kecil atau tidak berarti, bila dibandingkan dengan
produk-produk utama.
c) Dihasilkan dalam jumlah unit atau kuantitas yang lebih sedikit.
d) Kadang-kadang memerlukan pengolahan lebih lanjut dan pembungkusan.
e) Produk ini tidak dapat dihasilkan tanpa memproduksi produk-produk utama.
III. Akuntansi Untuk Produk Bersama
Masalah akuntansi dalam produk bersama adalah masalah pembebanan biaya produksi ke
masing-masing produk yang dihasilkan agar dapat di tentukan nilai persediaan akhir dan
penghasilan (laba) bersih. Dalam hal ini terdapat beberapa metode untuk mengalokasikan
biaya bersama ke masing-masing produk sebagai berikut :
1. Metode Nilai Pasar Relatif
Dalam penerapan metode nilai pasar atau nilai jual terdapat 2 variasi berdasarkan dari
kondisi produk bersama tersebut, yaitu :
a) Nilai pasar produk bersama diketahui pada titik pemisahan produk.
Jika nilai pasar diketahui pada titik pisah produk, total biaya bersama dialokasikan diantara
produk bersama dengan membagi total nilai pasar tiap produk yang dihasilkan dengan total
nilai pasar semua produk yang dihasilkan sehingga diketemukan ratio individu dari nilai
pasar terhadap total nilai pasar. Ratio inilah yang dikalikan dengan total biaya bersama.
b) Nilai pasar produk bersama tidak diketahui pada titik pemisahan produk / Nilai pasar
diketahui setelah titik pisah proses.
Nilai pasar pada titik pisah produk mungkin tidak diketahui, khususnya apabila tambahan
proses pengolahan produksi diperlukan untuk menjadikan produk bersangkutan berada
pada kondisi siap untuk dijual. Untuk itu perlu dilakukan sedikit modifikasi atas rumus yang
disajikan diatas dengan sebuah nilai pasar yang hipotesis pada titik pisah produk mesti
dihitung. Nilai pasar yang hipotesis itu ditentukan dengan mengurangi tambahan biaya
untuk pemrosesan dari nilai pasar dari produk yang selesai.
2. Metode Kuantitatif Unit
Menurut metode ini, kuantitas hasil produksi dipergunakan sebagai dasar untuk
mengalokasikan biaya bersama. Metode menghendaki bahwa produk bersama pada
akhirnya harus diukur dalam unit pengukur yang sama, apabila mempunyai unit pengukur
yang berlainan maka dapat digunakan suatu angka penyebut yang umum.
3. Metode Biaya Rata-rata Sederhana per Unit
Menurut metode ini total biaya bersama dibagi dengan jumlah unit yang dihasilkan untuk
mendapatkan biaya per unit lalu biaya per unit dikalikan dengan jumlah unit dari tiap yang
diproduksi untuk menentukan porsi biaya bersama yang akan dialokasikan kepada masing-
masing produk.
4. Metode Biaya Rata-rata Tertimbang per Unit
Mungkin kita temukan variasi yang sangat kompleks dalam produksi produk bersama
seperti kesulitan dalam produksi, jumlah waktu yang diperlukan, atau kuantitas tenaga
kerja yang dibutuhkan atau ukuran tiap unit. Faktor-faktor yang menunjukkan bobot tiap
produk, yang didasarkan pada kompleksitas tersebut, oleh karena itu harus diperhitungkan
untuk memperoleh alokasi yang lebih tepat.
IV. Akuntansi Untuk Produk Sampingan
Metode Akuntansi yang digunakan untuk memperlakukan produk sampingan dapat dibagi
menjadi 2 golongan :
1. Metode yang hanya melakukan pencatatan terhadap hasil penjualan produk sampingan,
tanpa menghitung harga pokok produk sampingan tersebut (metode tanpa harga pokok /
Non Cost Method).
Dalam metode ini biaya-biaya produksi hanya dibebankan ke produk utama, kemudian hasil
penjualan produk sampingan dicatat langsung sebagai pendapatan / pengurang terhadap
biaya-biaya produksi.
Dalam metode ini terdapat beberapa cara perlakuan terhadap hasil penjualan produk
sampingan sebagai berikut :
a) Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai pendapatan lain-lain /
pendapatan diluar usaha.
b) Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan sebagai tambahan terhadap hasil
penjualan produk utama. Dengan demikian dalam cara ini pendapatan usaha bertambah.
c) Hasil produk sampingan diperlakukan mengurangi harga pokok penjualan.
d) Hasil penjualan produk sampingan diperlakukan mengurangi total biaya produksi.
e) Nilai pasar produk sampingan dikurangkan ke total biaya produksi (Metode Nilai Pasar /
reversal Cost Method)
2. Metode yang membebankan biaya-biaya produksi ke produk utama dan produk
sampingan (Metode Harga Pokok / Cost Method)
Dalam metode ini biaya-biaya produksi dialokasikan baik ke produk utama maupun produk
sampingan. Sedangkan harga pokok produk sampingan ditetapkan sebesar harga beli / nilai
pengganti (Replacement Cost) yang berlaku di pasar. Harga pokok tersebut di kredit
perkiraan “ Barang Dalam Proses Bahan Baku ”. Dengan demikian biaya produksi (bahan
baku) untuk produk utama berkurang.
Iklan
Report this ad

Report this ad

Akuntansi Biaya : Metode Tanpa Harga Pokok

a. Pendapatan Penjualan Produk Sampingan Diperlakukan Sebagai Pendapatan Di Luar Usaha. Dalam
metode ini pendapatan yang diperoleh dari penjualan produk sampingan dikurangi dengan penjualan
returnya dicatat pada rekening “Pendapatan Penjualan Produk Sampingan” dan pada akhir periode
akuntansi ditutup ke rekening Rugi Laba. Rekening Penjualan Produk Sampingan dicantumkan dalam
laporan rugi laba kelompok penghasilan diluar usaha.

metode ini tidak mencoba menentukan harga pokok produk sampingan. Metode ini cocok digunakan
dalam perusahaan yang:
 Nilai produk sampingannya tidak begitu penting atau tidak dapat ditentukan
 Penggunaan metode yang lebih teliti memerlukan biaya yang tidak sebanding
dengan manfaat yang di peroleh.
 Saat terpisahnya produk sampingan dari produk utama tidak begitu jelas dan
pembebanan harga pokok produk sampingan kepada produk utama tidak
sebanding dengan manfaat yang diperoleh.

Keberatan penggunaan metode ini adalah:


 Apabila akhir periode akuntansi terdapat persediaan produk sampingan, maka
timbul masalah penilaian persediaan untuk tujuan pembuatan neraca perusahaan.
 Dapat mengakibatkan penandingan pendapatan dengan biaya tidak dalam
periode yang tepat.
 Tidak adanya pengawasan terhadap persediaan produk sampingan, sehingga
hal ini membuka kesempatan untuk terjadinya penggelapan terhadap produk sampingan tersebut.
 Meskipun nilai jual produk sampingan kecil, tetapi kalau pendapatan
penjualannya dilaporkan sebagai penghasilan diluar usaha, maka hal ini akan mengaburkan gambaran
menyeluruh tentang hasil usaha di perusahaan.

Contoh:
Pendapatan penjualan produk utama (25.000 unit @ Rp 4) Rp 100.000
Harga pokok penjualan:
Biaya produksi bersama (30.000 unit @ Rp 2) Rp 60.000
Harga pokok persediaan akhir (5.000 unit @ Rp 2) Rp 10.000 -
Rp 50.000 -
Laba bruto Rp 50.000
Biaya usaha:
Biaya Pemasaran Rp 20.000
Biaya administrasi dan umum Rp 10.000 +
Rp 30.000 -
Laba bersih usaha Rp 20.000
Penghasilan di luar usaha:
Pendapatan penjualan produk sampingan Rp 4.000 +
Laba bersih sebelum pajak Rp 24.000

e. Pendapatan Penjualan Produk Sampingan Diperlakukan Sebagai Tambahan Penjualan Produk


Utama. metode ini merupakan variasi periode pertama di atas. Semua biaya produksi dikurang dari
pendapatan penjualan semua produk (baik produk utama maupun sampingan) untuk mendapat laba
bruto. Dalam metode ini tidak diadakan alokasi biaya bersama seperti halnya metode pertama. Dari
contoh dimuka, pendapatan penjualan produk sampingan sebesar Rp 4.000 dicantumkan dalam laporan
rugi laba dibawah pos pendapatan penjualan produk utama, sehingga pendapatan penjualan semua
produk berjumlah Rp 104.000. angka- angka lain dalam laporan tersebut tetap sama kecuali jumlah laba
bruto dan laba bersih usaha.
e. Pendapatan Penjualan produk Sampingan Diperlakukan sebagai Pengurang Harga Pokok
Penjualan. Dalam metode ini pendapatan penjualan produk sampingan sebesar Rp 4.000 dikurangkan
dari harga pokok penjualan sehingga menghasilkan laba bruto Rp 54.000 (Rp 100.000 – Rp 46.000). laba
bersih sebelum pajak tetap sama sebesar Rp 24.000
e. Pendapatan Penjualan produk Sampingan Diperlakukan sebagai Pengurang Total Biaya
Produksi. Pendapatan penjualan produk sampingan sebesar Rp 4.000 dikurangkan dari total biaya
produksi Rp. 60.000, Sehingga biaya produksi turun menjadi Rp 56.000. hal ini menyebabkan biaya
produksi per satuan turun menjadi Rp 1,87 (56.000 : 30.000). sehingga harga pokok persediaan produk
akhir turun menjadi Rp 9.350.
e. Metode Nilai Pasar atau Reversal Cost Method. Metode perlakuan produk sampingan ini pada
dasarnya sama dengan metode terakhir yang telah dibicarakan diatas. Ada perbedaan sedikit diantara
keduanya, yaitu kalau pada metode terakhir yang dikurangkan dari total biaya produksi adalah
pendapatan penjualan produk sampinga, sedangkan pada metode nilai pasar ini yang di kurangkan
adalah taksiran nilai pasar produk sampingan. Metode ini mencoba menaksir biaya produk sampingan
dengan titik tolak dari nilai pasarnya.
Contoh:
Produk Utama
Produk Sampingan
Biaya bersama Rp 6.400.000
Taksiran pendapatan penjualan produk sampingan
5000 Kg x Rp 80 Rp 400.000
dikurangi dengan:
Taksiran laba bruto 15% x Rp 400.000 Rp 60.000
Taksiran biaya pemasaran 5% x Rp 400.000 Rp 20.000
Biaya pengolahan produk sampingan saat terpisah Rp 70.000 +
Rp
150.000 -
Taksiran biaya produk saat terpisah Rp 250.000
Taksiran biaya tambahan setelah produk sampingan
Terpisah dari produk utama Rp 70.000
+
Harga pokok produk sampingan Rp 320.000
Nilai produk sampingan yang harus dikurang dari
Biaya bersama pada saat terpisah Rp 250.000 -
Harga pokok produk utama Rp 6.150.000
Harga pokok produk utama persatuan Rp 153,75/ Kg
Rp 6.150.000 : 40.000 Kg
Harga pokok produk sampingan per satuan Rp 64/ Kg
Rp 320.000 : 5.000 Kg

 Metode Harga Pokok


Metode Biaya Pengganti (Replacement Cost Method)
metode ini biasanya digunakan dalam perusahaan yang produk sampingannya dipakai dalam pabrik
sebagai bahan baku atau bahan penolong. Harga pokok yang diperhitungkan dalam produk sampingan
adalah sebesar harga beli atau biaya pengganti yang berlaku dipasar. Jumlah ini kemudian dikreditkan
pada rekening barang dalam proses – biaya bahan baku, sehingga mengurangi biaya produksi produk
utama. pengurangan biaya produksi produk utama ini akan mengakibatkan harga pokok persatuan
persediaan produk utama menjadi lebih rendah.
Contoh:
Diketahui data berikut ini:
Jumlah biaya produksi untuk 18.000 Kg produk utama Rp 27.000
Pendapatan penjualan produk utama 15.000 x Rp 3,00 Rp 45.000
Biaya pengganti produk sampingan yg digunakan dlm pengolahan produk utama Rp 1.800
Biaya pemasaran dan administrasi & umum Rp 4.000
Persediaan akhir produk utama 3.000 Kg

Laporan laba rugi dgn Replacement Cost Method dlm perlakuan terhadap produk sampingan

Pendapatan penjualan produk utama Rp 45.000


Harga pokok penjualan:
Biaya Produksi (18.000 Kg produk utama) Rp 27.000
Dikurangi: biaya pengganti produk sampingan Rp 1.800 -
Rp 25.200
Dikurangi: Persediaan akhir 3.000 Kg x (Rp 25.200 : 18.000) Rp 4.200 -
Rp 21.000 -
Laba bruto Rp 24.000
Biaya pemasaran dan Administrasi & Umum Rp 4.000 -
Laba bersih sebelum PPh Rp 20.000