Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dekubitus merupakan suatu hal yang serius, dengan angka morbiditas
dan mortalitas yang tinggi pada klien lanjut usia. Di negara-negara maju,
prosentase terjadinya dekubitus mencapai sekitar 11% dan terjadi dalam dua
minggu pertama dalam perawatan. Dekubitus dapat terjadi pada setiap tahap
umur, tetapi hal ini merupakan masalah yang khusus pada lansia. Khususnya
pada klien dengan imobilitas.Usia lanjut mempunyai potensi besar untuk
terjadi dekubitus karena perubahan kulit berkaitan dengan bertambahnya usia.
1,2

Istilah dekubitus sebenarnya kurang tepat dipakai untuk


menggambarkan luka tekan karena asal kata dekubitus adalah debere yang
artinya berbaring. Ini diartikan bahwa luka tekan hanya berkembang pada
pasien yang dalam keadaan berbaring. Padahal sebenarnya luka tekan tidak
hanya berkembang pada pasien yang berbaring, tapi juga dapat terjadi pada
pasien yang menggunakan kursi roda atau prostesi. Oleh karena itu istilah
dekubitus sekarang ini jarang digunakan di literatur literatur untuk
menggambarkan istilah luka tekan.Adanya luka tekan yang tidak ditangani
dengan baik dapat mengakibatkan masa perawatan pasien menjadi panjang
dan peningkatan biaya rumah sakit. Oleh karena itu perawat perlu memahami
secara komprehensif tentang luka tekan agar dapat memberikan pencegahan
dan intervensi keperawatan yang tepat untuk pasien yang beresiko terkena
luka tekan. 1,3

1
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Luka Dekubitus


Ulkus Dekubitus atau istilah lain Bedsores adalah kerusakan/kematian
kulit yang terjadi akibat gangguan aliran darah setempat dan iritasi pada kulit
yang menutupi tulang yang menonjol, dimana kulit tersebut mendapatkan
tekanan dari tempat tidur, kursi roda, gips, pembidaian atau benda keras
lainnya dalam jangka waktu yang lama.1,4
Luka dekubitus, juga disebut ulkus dekubitus atau luka pada tempat
tidur, adalah area kemerahan, luka, atau ulkus pada kulit di atas penonjolan
tulang. Ulkus dekubitus atau luka tekan terjadi akibat tekanan yang sama pada
suatu bagian tubuh yang mengganggu sirkulasi. Pertama jaringan kulit
memerah. Jika sel mati (nekrosis) akibat kurang nutrisi kulit rusak dan
pembentukan ulkus. Akibatnya luka baring menjadi lebih besar dan dalam.1,2
Bagian tubuh yang sering mengalami ulkus dekubitus adalah bagian
dimana terdapat penonjolan tulang, yaitu bagian siku, tumit, pinggul,
pergelangan kaki, bahu, punggung dan kepala bagian belakang. 5

Gamar: Bagian yang sering terkena decubitus.

2
Luka dekubitus disebabkan oleh gangguan sirkulasi darah ke jaringan
yang mengakibatkan iskemia lokal jaringan. Jaringan berada diantara dua
permukaan keras, biasanya antara permukaan tempat tidur dan rangka tulang.
Iskemia lokal bararti bahwa sel kekurangan oksigen & nutrient, dan sampah
metabolism terakumulasi dalam sel. Jaringan menjadi mati karena anoksia
yang terjadi. Akibat lebih lanjut, tekanan yang tidak berkurang juga dalam
waktu lama menyebabkan kerusakan pembuluh darah kecil. 2

2.2 ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI


Ada 4 faktor yang telah diterapkan dalam patogenesis dekubitus, yaitu:
1. Tekanan
2. Peregangan dan lipatan kulit
3. Gesekan kulit
4. Beberapa faktor predisposisi.
Faktor-faktor ini mengakibatkan terhambatnya aliran darah ke kulit.
Selain itu, gesekan pada kulit menghilangkan stratum korneum epidermis yang
berfungsi sebagai pelindung kulit.
1. Tekanan
Tekanan darah kapiler berkisar antara 16 mmHg - 33 mmHg. Kulit
akan tetap utuh karena sirkulasi darah terjaga bila tekanannya masih
berkisar pada batas-batas tersebut. Tetapi, sebagai contoh, bila
seseorang menderita imobil / terpancang pada tempat tidurnya secara
pasif dan berbaring diatas kasur busa biasa maka tekanan daerah
sakrum akan mencapai 60-70 mmHg, dan daerah tumit mencapai 30
- 45 mmHg. Tekanan ini akan menimbulkan daerah iskemik dan bila
berlanjut akan terjadi nekrosis jaringan kulit.

2. Peregangan dan lipatan kulit


Bila penderita imobil, tidak dibaringkan terlentang mendatar, tetapi
pada posisi setengah duduk, akan terjadi peregangan dan lipatan
kulit. Ada kecenderungan tubuh akan meluncur ke bawah, apalagi

3
bila keadaannya basah. Seringkali hal ini dicegah dengan
memberikan penghalang, misalnya bantal-bantal kecil atau balok
kayu pada kedua telapak kaki. Upaya ini hanya mencegah
pergerakkan kulit, yang sekarang terfiksasi pada alas, tetapi rangka
tulang tetap cenderung maju ke depan. Akibatnya terjadi garis-garis
penekanan atau peregangan pada jaringan subkutan yang seakan-
akan tergunting pada tempat-tempat tertentu, dan terjadi penutupan
arteriole dan arteri-arteri kecil akibat terlalu teregang bahkan sampai
robek. Tenaga menggunting ini disebut Shearing forces. Akibat
tambahan dari shearing forces ini, pergerakkan tubuh diatas alas
tempat berbaring, dengan fiksasi kulit pada permukaan alas akan
menyebabkan terjadinya lipatan-lipatan kulit (skin folding).
Terutama terjadi pada penderita yang kurus dengan kulit yang
kendur. Lipatan-lipatan kulit yang terjadi ini dapat menarik /
mengacaukan dan menutup pembuluh-pembuluh darah

3. Gesekan
Gesekan terjadi saat penderita bergerak maju atau ditarik dari tempat
tidurnya sehingga terjadi gesekan antara kulit dan alas tempat tidur,
gesekan ini menghilangkan stratum korneum epidermis sehingga
jaringan di bawahnya menjadi terekspose.

4. Faktor predisposisi

a. Faktor tubuh sendiri ( faktor intrinsik ) antara lain :


 Status gizi, underweight atau overweight
 Adanya hipoalbuminemia mempermudah terjadinya dekubitus
dan memperburuk penyembuhan Sebaliknya bila ada dekubitus
akan menyebabkan kadar albumin darah menurun.
 Penyakit-penyakit neurologik, penyakit-penyakit yang merusak
pembuluh darah dan memperburuk dekubitus.

4
 Kulit yang lembab seperti pada penderita dengan inkontinensia,
keadaan hidrasi/cairan tubuh yang kurang.
b. Faktor ekstrinsik
 Kebersihan tempat tidur
 Alat-alat tenun yang kusut dan kotor
 Peralatan medik, sehingga penderita terfiksasi pada suatu sikap
tertentu
Dekubitus dapat terjadi pada setiap umur, tetapi usia lanjut
berpotensi lebih besar. Hal ini disebabkan adanya hubungan antara
perubahan pada kulit dengan bertambahnya usia,yaitu :

a. Berkurangnya jaringan lemak subkutan


b. Berkurangnya jaringan kolagen dan elastin
c. Menurunnya efisiensi kolateral kapiler pada kulit sehingga kulit
menjadi lebih tipis dan rapuh.
2.4 PEMBAGIAN DAN LOKASI TERSERING DEKUBITUS
Mengingat patofisiologi terjadinya ulkus dekubitus, maka perlu diingat
bahwa kerusakan jaringan dibawah tempat yang mengalami dekubitus adalah
lebih luas dari ulkusnya sendiri. Dan sebelumnya perlu dipahami terlebih
dahulu tentang lapisan-lapisan kulit.

5
Pembagian tipe ulkus dekubitus berdasarkan waktu yang dibutuhkan
untuk penyembuhannya dan perbedaan suhu dari ulkus dengan kulit sekitarnya
dibagi menjadi 3 yaitu :

a. Tipe normal
Tipe ini memiliki beda temperature sampai dibawah 2,5°C
dibandingkan kulit sekitarnya dan akan sembuh dalam perawatan
sekitar 6 minggu. Ulkus ini terjadi karena iskemia jaringan akibat
tekanan, tetapi aliran darah dan pembuluh-pembuluh darah baik.

b. Tipe arteriosklerotik
Tipe ini memiliki beda temperature kurang dari 1°C antara daerah
ulkus dengan kulit sekitarnya. Keadaan ini menunjukkan gangguan
aliran darah akibat penyakit pada pembuluh darah (arteriosklerotik)
ikut berperan untuk terjadinya dekubitus, disamping faktor

6
tekanan. Dengan perawatan, ulkus ini diharapkan sembuh dalam 16
minggu.

c. Tipe terminal
Tipe ini terjadi pada penderita yang akan meninggal dan tidak
dapat sembuh.

2.2 Faktor resiko

Braden dan Bergstrom (2000) mengembangkan sebuah skema untuk


menggambarkan faktor – faktor resiko untuk terjadinya luka tekan.

Ada dua hal utama yang berhubungan dengan resiko terjadinya luka
tekan, yaitu faktor tekanan dan toleransi jaringan. Faktor yang mempengaruhi
durasi dan intensitas tekanan diatas tulang yang menonjol adalah imobilitas,

7
inakitifitas, dan penurunan sensori persepsi. Sedangkan faktor yang
mempengaruhi toleransi jaringan dibedakan menjadi dua yaitu faktor
ekstrinsik dan faktor intrinsik. Faktor intrinsik yaitu faktor yang berasal dari
pasien. sedangkan yang dimaksud dengan faktor ekstrinsik yaitu faktor –
faktor dari luar yang mempunyai efek deteriorasi pada lapisan eksternal dari
kulit.

Di bawah ini adalah penjelasan dari masing masing faktor diatas :

1. Mobilitas dan aktivitas

Mobilitas adalah kemampuan untuk mengubah dan mengontrol posisi


tubuh, sedangkan aktivitas adalah kemampuan untuk berpindah. Pasien yang
berbaring terus menerus ditempat tidur tanpa mampu untuk merubah posisi
beresiko tinggi untuk terkena luka tekan. Imobilitas adalah faktor yang paling
signifikan dalam kejadian luka tekan. Penelitian yang dilakukan Suriadi
(2003) di salah satu rumah sakit di Pontianak juga menunjukan bahwa
mobilitas merupakan faktor yang signifikan untuk perkembangan luka tekan.

2. Penurunan sensori persepsi

Pasien dengan penurunan sensori persepsi akan mengalami penurunan


untuk merasakan sensari nyeri akibat tekanan diatas tulang yang menonjol.
Bila ini terjadi dalam durasi yang lama, pasien akan mudah terkena luka tekan
1,6

3. Kelembapan

Kelembapan yang disebabkan karena inkontinensia dapat


mengakibatkan terjadinya maserasi pada jaringan kulit. Jaringan yang
mengalami maserasi akan mudah mengalami erosi. Selain itu kelembapan juga
mengakibatkan kulit mudah terkena pergesekan (friction) dan perobekan

8
jaringan (shear). Inkontinensia alvi lebih signifikan dalam perkembangan luka
tekan daripada inkontinensia urin karena adanya bakteri dan enzim pada feses
dapat merusak permukaan kulit.

4. Tenaga yang merobek ( shear )

Merupakan kekuatan mekanis yang meregangkan dan merobek


jaringan, pembuluh darah serta struktur jaringan yang lebih dalam yang
berdekatan dengan tulang yang menonjol. Contoh yang paling sering dari
tenaga yang merobek ini adalah ketika pasien diposisikan dalam posisi semi
fowler yang melebihi 30 derajad[18]. Pada posisi ini pasien bisa merosot
kebawah, sehingga mengakibatkan tulangnya bergerak kebawah namun
kulitnya masih tertinggal. Ini dapat mengakibatkan oklusi dari pembuluh
darah, serta kerusakan pada jaringan bagian dalam seperti otot, namun hanya
menimbulkan sedikit kerusakan pada permukaan kulit.

5. Pergesekan ( friction)

Pergesekan terjadi ketika dua permukaan bergerak dengan arah yang


berlawanan. Pergesekan dapat mengakibatkan abrasi dan merusak permukaan
epidermis kulit. Pergesekan bisa terjadi pada saat penggantian sprei pasien
yang tidak berhati-hati

6. Nutrisi

Hipoalbuminemia, kehilangan berat badan, dan malnutrisi umumnya


diidentifikasi sebagai faktor predisposisi untuk terjadinya luka tekan[8].
Menurut penelitian Guenter (2000) stadium tiga dan empat dari luka tekan
pada orangtua berhubungan dengan penurunan berat badan, rendahnya kadar
albumin, dan intake makanan yang tidak mencukupi.

9
7. Usia

Pasien yang sudah tua memiliki resiko yang tinggi untuk terkena luka
tekan karena kulit dan jaringan akan berubah seiring dengan penuaan. Penuaan
mengakibatkan kehilangan otot, penurunan kadar serum albumin, penurunan
respon inflamatori, penurunan elastisitas kulit, serta penurunan kohesi antara
epidermis dan dermis[18]. Perubahan ini berkombinasi dengan faktor penuaan
lain akan membuat kulit menjadi berkurang toleransinya terhadap tekanan,
pergesekan, dan tenaga yang merobek.

8. Tekanan arteriolar yang rendah

Tekanan arteriolar yang rendah akan mengurangi toleransi kulit


terhadap tekanan sehingga dengan aplikasi tekanan yang rendah sudah mampu
mengakibatkan jaringan menjadi iskemia. Studi yang dilakukan oleh Nancy
Bergstrom ( 1992) menemukan bahwa tekanan sistolik dan tekanan diastolik
yang rendah berkontribusi pada perkembangan luka tekan.

9. Stress emosional

Depresi dan stress emosional kronik misalnya pada pasien psikiatrik


juga merupakan faktor resiko untuk perkembangan dari luka tekan[18].

10. Merokok

Nikotin yang terdapat pada rokok dapat menurunkan aliran darah dan
memiliki efek toksik terhadap endotelium pembuluh darah. Menurut hasil
penelitian Suriadi (2002) ada hubungaan yang signifikan antara merokok
dengan perkembangan terhadap luka tekan.

10
11. Temperatur kulit

Menurut hasil penelitian Sugama (1992) peningkatan temperatur


merupakan faktor yang signifikan dengan resiko terjadinya luka
tekan.Menurut hasil penelitian, faktor penting lainnya yang juga berpengaruh
terhadap risiko terjadinya luka tekan adalah tekanan antar muka ( interface
pressure). Tekanan antar muka adalah kekuatan per unit area antara tubuh
dengan permukaan matras[19]. Apabila tekanan antar muka lebih besar
daripada tekanan kapiler rata rata, maka pembuluh darah kapiler akan mudah
kolap, daerah tersebut menjadi lebih mudah untuk terjadinya iskemia dan
nekrotik. Tekanan kapiler rata rata adalah sekitar 32 mmHg. Menurut
penelitian Sugama (2000) dan Suriadi (2003) tekanan antarmuka yang tinggi
merupakan faktor yang signifikan untuk perkembangan luka tekan. Tekanan
antar muka diukur dengan menempatkan alat pengukur tekanan antar muka (
pressure pad evaluator) diantara area yang tertekan dengan matras.

2.3 Stadium Luka Dekubitus 2


Stadium luka dekubitus antara lain :
1. Dekubitus derajat I

11
Dengan reaksi peradangan masih terbatas pada epidermis. Kulit
yang kemerahan dibersihkan hati-hati dengan air hangat dan sabun,
diberi lotion, kemudian dimassase 2-3 kali/hari.
2. Dekubitus derajat II
Dimana sudah terjadi ulkus yang dangkal. Perawatan luka harus
memperhatikan syarat-syarat aseptik dan antiseptik. Daerah
bersangkutan digesek dengan es dan dihembus dengan udara
hangat bergantian untuk meransang sirkulasi. Dapat diberikan salep
topikal, mungkin juga untuk merangsang tumbuhnya jaringan
muda/granulasi. Penggantian balut dan salep ini jangan terlalu
sering karena malahan dapat merusak pertumbuhan jaringan yang
diharapkan.
3. Dekubitus derajat III
Dengan ulkus yang sudah dalam, menggaung sampai pada bungkus
otot dan sering sudah ada infeksi. Usahakan luka selalu bersih dan
eksudat diusahakan dapat mengalir keluar. Balut jangan terlalu
tebal dan sebaliknya transparan sehingga permeabel untuk
masukknya udara/oksigen dan penguapan. Kelembaban luka dijaga
tetap basah, karena akan mempermudah regenarasi sel-sel kulit.
Jika luka kotor dapat dicuci dengan larutan NaCl fisiologis.
4. Dekubitus derajat IV
Dengan perluasan ulkus sampai pada dasar tulang dan sering pula
diserta jaringan nekrotik. Semua langkah-langkah diatas tetap
dikerjakan dan jaringan nekrotik yang ada harus dibersihkan ,
sebab akan menghalangi pertumbuhan jaringan/epitelisasi.

Proses ulkus decubitus

12
2.4 Jenis-jenis Luka Dekubitus 1,2
1. Ulkus Varikosum
Adalah ulkus pada tungkai bawah yang disebabkan oleh gangguan
aliran darah vena. Tanda khas dari pederita sering mengeluh bengkak
pada kaki yang semakin meningkat saat berdiri dan diam, dan akan
berkurang bila dilakukan elevasi tungkai. Keluhan lain adalah kaki
terasa pegal, gatal, rasa terbakar, tidak nyeri dan berdenyut.
Cara pengobatannya yaitu dengan meninggikan letak tungkai saat
berbaring untuk mengurangi hambatan aliran vena. Bila terdapat pus oleskan
GCO- Puregan Oil.

2. Ulkus Arteriosum

13
Adalah ulkus yang terjadi akibat gangguan peredaran darah arteri.
Gejalannya perubahan kulit menjadi menipis kering dan bersisik,
sianotik, bulu tungkai berkurang, kuku jari kaki menebal dan distrofik.
Selanjutnya terjadi gangguan pada jari kaki, kaki dan tungkai dan
akhirnya timbul ulkus.
Untuk menanggulangi infeksi dapat diberikan antibiotik atau metronidazol
(khusus kuman anerob) dan analgetik untuk mengurangi nyeri. Untuk
pengobatan dari luar gunakan GCO-Puregan Oil.
3. Ulkus Neurotropik
Adalah ulkus yang terjadi karena tekanan atau trauma pada kulit yang
anestetik ( hilangnya rasa nyeri ) biasanya diderita oleh pasien penyakit
DM ( Diabetes Mellitus). Penyembuhan ulkus ini biasanya lambat dan
sering tidak memuaskan. Upaya yang dilakukan adalah mengurangi
tekanan, mengatasi infeksi, dan konsul ke dokter, jika ada penderita
Diabetes Mellitus. Pengobatan luka dapat dianjurkan Puregan oil untuk
pembersihan luka dapat dianjurkan cairan NaCl .
GCO – Puregan Oil ini dapat menumbuhkan jaringan kulit yang sudah
hilang ( Bolong ) dan membantu mencegah dekubitus/ulkus datang
kembali. Kandungan oil ini juga dapat mencegah infeksi dan
mematikan jamur dan virus yang akan menyerang luka dekubitus
sehingga luka dekubitus tidak dapat terkontaminasi oleh virus ataupun
infeksi kulit lainnya.
4. Ulkus Tropikum
Ulkus yang cepat berkembang dan nyeri, biasanya pada tungkai
bawah, dan lebih sering ditemukan pada anak-anak kurang gizi di
daerah tropik, cara pengobatan pada ulkus Tropikum adalah:

14
a. Perbaikan keadaan gizi dengan cara memberikan makanan yang
mengandung kalori dan protein tinggi, serta vitamin dan
mineral.
b. etrasiklin Peroral dengan dosis 3 x 500 mg sehari dapat juga
dipakai sebagai pengganti penicillin. Pengobatan luar Kompres
dengan NACL & oleskan Puregan Oil tiap 2-3 jam sekali
Gambar luka dekubitus lainnya :

Contoh gambar luka dekubitus

15
2.5 Alat atau Perlengkapan
1. Pinset anatomi
2. Pinset chirurgis
3. Kasa steril
4. Gunting plester
5. Plester/perekat
6. Alkohol 70 % / Wash bensin
7. Desinfektant
8. Larutan NaCl
9. Sarung tangan bersih
10. Sarung tangan steril

11. Penggaris millimeter disposable


12. Lidi kapas steril
13. Pencahayaan yang adekuat
14. GCO-puregen oil

2.6 Cara Perawatan Dekubitus


Cara perawatan luka dekubitus:
1. Bersihkan luka dekubitus dengan menggunakan kasa bersih yang
steril dengan menggunakan caiaran NaCl (caiaran infus) dan di angin-
anginkan selama 5 menit lalu oleskan betadin kebagian lika yang agak
dalam dan biarkan sampai kering (oleskan betadin agar mencegah
infeksi saja), setelah itu baru oleskan lagi dengan puregan oil ke
seluruh luka dekubitusdan usahakan jangan ditutup agar luka cepat
kering.
2. Hari berikutnya, jika luka bernanah, bersihkan lagi dengan caiaran
NaCl (caiaran infuse) dengan kasa steril sampai bersih tidak ada
nanah sama sekali dan oleskan lagi betadin setelah kering baru oles
lagi puregan oil. Jika daerah yang dibersihkan agak membesar dan
membentuk lobang agak dalam, ambil kain kasa steril larutkan dalam

16
cairan NaCl (cairan inpus) lalu masukkan dalam lobang luka tsb
sambil ditekan sedikt agar nanah menempel ke bagian kain kasa
lakukan berulang-ulang sampai benar-benar bersih setelah bersih baru
boleh teruskan tahap no 1.
3. Jika dekubitus ada pada daerah punggung sesekali biarkan pasien
tiduragak miring atau merubah posisi tidur pasien.
4. Oleskan puregan oil pada pagi hari dan malam hari, tentunya setelah
dibersihkan dan jika luka masih kemerahan (awal dekubitus) oleskan
GCO-puregan oil ini dengan cara di meses secara perlahan-lahan
keseluruh luka dekubitus.
5. Memerlukan waktu beberapa minggu untuk proses penyembuhan jika
jaringan kulit sudah mati (nevkrotik) dan jika sampai ke tulang butuh
waktu lebih lama lagi tapi kadang tergantung kondisi fisik dan
kejiwaan pasien jadi pasien harus selalu punya semangat yang kuat
dan selalu ceria (proses penyembuhan biasanya berbea-beda tiap
pasien).
6. Atur pola makan pasien yaitu makanan yang memenuhi gizi 4 sehat 5
sempurna.

Penatalaksanaan luka dekubitus :


1. Hilangkan tekanan pada daerah-daerah yang terkena dengan mengubah-
ubah posisi.
2. Mengusahakan agar ventilasi antara badan dan tempat tidur berjalan lancer.
3.Sistemik : antibiotik spectrum luas seperti amoksisilin 4 x 500 mg selama
15-30 hari, siklosporin 1-2 gr/hari selama 3-19 hari atau golongan kuinolon
4 x 500 mg/hari selama 14 hari.
4. Topikal : salep antibiotic seperti salep kloramfenikol 2 %.

17
2.7 Tindakan Pencegahan Dekubitus
1. Meningkatkan status kesehatan klien
Memperbaiki dan menjaga keadaan umum klien, misalnya anemia
diatasi, hipoalbuminemia dikoreksi, nutrisi dan hidrasi yang cukup,
vitamin (vitamin C) dan mineral (Zn) ditambahkan.
2. Mengurangi/memeratakan faktor tekanan yang mengganggu aliran
darah
a. Alih posisi/alih baring/tidur selang seling, paling lama tiap dua jam.
Keburukan pada cara ini adalah ketergantungan pada tenaga
perawat yang kadang-kadang sudah sangat kurang, dan kadang-
kadang mengganggu istirahat klien bahkan menyakitkan.
b. Kasur khusus untuk lebih membagi rata tekanan yang terjadi pada
tubuh klien, misalnya; kasur dengan gelembung tekan udara yang
naik turun, kasur air yang temperatur airnya dapat diatur. (keberatan
alat canggih ini adalah harganya mahal, perawatannya sendir harus
baik dan dapat rusak.
c. Regangan kulit dan lipatan kulit yang menyebabkan sirkulasi darah
setempat terganggu, dapat dikurangi antara lain:
1) Menjaga posisi klien, apakah ditidurkan rata pada tempat
tidurnya, atau sudah memungkinkan untuk duduk dikursi.
2) Bantuan balok penyangga kedua kaki, bantal-bantal kecil untuk
menahan tubuh klien, “kue donat” untuk tumit.

18
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Luka dekubitus, juga disebut ulkus dekubitus atau luka pada tempat
tidur, adalah area kemerahan, luka, atau ulkus pada kulit di atas penonjolan
tulang. Faktor yang mempengaruhi toleransi jaringan dibedakan menjadi dua
yaitu faktor ekstrinsik dan faktor intrinsik. Faktor intrinsik yaitu faktor yang
berasal dari pasien. sedangkan yang dimaksud dengan faktor ekstrinsik yaitu
faktor – faktor dari luar yang mempunyai efek deteriorasi pada lapisan
eksternal dari kulit.
Ulkus dekubitus atau luka tekan terjadi akibat tekanan yang sama pada
suatu bagian tubuh yang mengganggu sirkulasi. Pertama jaringan kulit
memerah. Jika sel mati (nekrosis) akibat kurang nutrisi kulit rusak dan
pembentukan ulkus. Akibatnya luka baring menjadi lebih besar dan dalam.

19
DAFTAR PUSTAKA

1. Perry & Potter, 1999. Buku Ajar Fundamental Of Nursing Vol.2.


Jakarta : EGC Luka dan Perawatannya (Ismail S.Kep, Ns, M.Kes),
Manajemen Luka (Moya J. Morison, 2003).
2. M. Rendy Clevo, Margareth TH. (2012 ). Asuhan Keperawatan
Medikal Bedah dan Penyakit Dalam. Nuha Medika.
3. Capernito, Linda Juall. 2009. Rencana Diagnosa dan Dokumentasi
Keperawatan : Diagnosa Keperawatan dan Masalah Kolaboratif Ed.2.
Jakarta : EGC.
4. Doenges, Marilynn E. 2000. Rencana Keperawatan : Pedoman
Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Jakarta : EGC.
5. Nurachman, Elly. 2006. Nutrisi Dalam Keperawatan. Jakarta : Sagung
Seto.
6. Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC
7. Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.
8. JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas
Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

20