Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KELOMPOK II

ANALISA SITUASI KESEHATAN LANJUT USIA


DI INDONESIA DAN DIJAWA TENGAH

Disusun Oleh :
Dhenok Budiutami (180710)
Dian Ayu Juniar (180711)
Dwi Susanti (180712)
Dyah Puspita (180713)
Eka Mustika (180714)
Elsa Yuliani (180715)
Endang Poncowati (180716)
Erna Puspitarini (180717)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN KARYA HUSADA
SEMARANG
2019
1. Kategori usia lansia
Menurut World Health Organitation(WHO) lansia meliputi :
a. Usia pertengahan (middle age) antara usia 45 sampai 59 tahun
b. Lanjut usia (elderly) antara usia 60 sampai 74 tahun
c. Lanjut usia tua (old) antara usia 75 sampai 90 tahun
d. Usia sangat tua (very old) diatas usia 90 tahun

Menurut Departemen Kesehatan RI pengelompokan lansia menjadi :


a. Virilitas (prasenium) yaitu masa persiapan usia lanjut yang menampakan
kematangan jiwa (usia 55-59 tahun).
b. Usia lanjut usia (senescen) yaitu kelompok yang mulai memasuki masa usia
lanjut dini (usia 60-64 tahun)
c. Lansia berisiko tinggi untuk menderita berbagai penyakit degenerative
(usia>65 tahun).

2. Populasi 2017
Berdasarkan data penduduk lansia di Indonesia tahun 2017 terdapat 23,66
juta jiwa penduduk lansia di Indonesia (9,03%). Lansia terbesar adalah di DI
Yogyakarta (13,81%), Jawa Tengah (12,59%), Jawa Timur (12,25%), Bali
(10,71%), Sulut (10,42%). Sementara penduduk terkecil terdapat di Papua
(3,20%), papua barat (4,33%), Kepulauan Riau (4,35%) dan Kalteng (5,58%).
Menurut jenis kelamin lansia perempuan (9,53%) dan laki –laki (8,54%).

3. Usia harapan hidup menurut badan pusat statistik


Tahun 2015 : 70,8 %
Tahun 2016 :70,18 %
Tahun 2017: 70,9 %
4. Perubahan status kesehatan lansia
perubahan yang akan terjadi pada lansia diantaranya adalah perubahan
fisik,intlektual, dan keagamaan.
a. Perubahan fisik
 Sel, saat seseorang memasuki usia lanjut keadaan sel dalam tubuh akan
berubah, seperti jumlahnya yang menurun, ukuran lebih besar sehingga
mekanisme perbaikan selakan terganggu dan proposi protein di otak, otot,
ginjal, darah dan hati berkurang.
 Sistem persyarafan, keadaan system persyarafan pada lansia akan mengalami
perubahan, seperti mengecilnya syaraf panca indra.
 Sistem gastrointestinal, pada lansia akan terjadi menurunya selaramakan
 Sistem musculoskeletal, pada lansia tulang akan kehilangan cairan dan
makin rapuh, keadaan tubuh akan lebih pendek, persendian kaku dan tendon
mengerut.
 Sistem Kardiovaskuler, pada lansia jantung akan mengalami pompa darah
yang menurun.
b. Perubahan intelektual
Akibat proses penuaan juga akan terjadi kemunduran pada kemampuan
otak seperti perubahan intelegenita Quantion (IQ) yaitu fungsi otak kanan
mengalami penurunan sehingga lansia akan mengalami kesulitan dalam
berkomunikasi nonverbal, pemecehan masalah, konsentrasi dan kesulitan
mengenal wajah seseorang. Perubahan yang lain adalah perubahan ingatan
,karena penurunan kemampuan otak maka seorang lansia akan kesulitan
untuk menerima rangsangan yang diberikan kepadanya sehingga kemampuan
untuk mengingat pada lansia juga menurun.
c. Perubahan keagamaan
Pada umumnya lansia akan semakin teratur dalam kehidupan keagamaannya,
hal tersebut bersangkutan dengan keadaan lansia yang akan meninggalkan
kehidupan dunia.
d. Tugas perkembangan pada lanjut usia
Tugas perkembangan adalah tugas yang muncul pada periode tertentu dalam
keidupan suatu individu. Ada beberapa tahapan perkembangan yang terjadi
pada lansia, yaitu:
 Penyesuaikan diri kepada penurunan kesehatan dan kekuatan fisik.
 Penyesuaian diri kepada masa pension dan hilangnya pendapatan.
 Penyesuaaian diri kepada kematian pasangan dan orang terdekat lainnya.
 Pembantukan gabungan (pergelompokan) yang sesuai denganya.
 Pemenuhan kewajiban social dan kewarganegaraan.
 Pembentukan kepuasan pengaturan dalam kehidupan.

5. Angka kesakitan pada lansia


Angka kesakitan lansia menurut tipe daerah di Indonesia pada tahun 2015
kesakitan lansia (28,62%) artinya bahwa setiap 100 orang lansia terdapat 28
orang mengalami sakit, lansia yang berada di perkotaan pada 2015 (26,89%) dan
yang berada di perdesaan (30,14%). Bila dilihat Berdasarkan tipe daerah derajat
kesehatan lansia yang tinggal di perkotaan cenderung lebih baik dari pada lansia
yang tinggal di pedesaan.
Presentase penduduk lansia sakit yang di rawa tinap, sebagian besar
penduduk lansia yang mengalami sakit tidak lebih dari seminggu yaitu lama sakit
1-3 hari sebesar (36,44%), dan 4-7 hari sebesar (35,05%). Sementara penduduk
lansia yang sakit lebih dari 3 minggu cukup besar (14,5%). Presentase lansia
yang tidak berobat jalan perkotaan (25,59%) dan di pedesaan (29,6%) menurut
penduduk lansia berobat jalan dapat dilakukan dengan mendatangi tempat -
tempat pelayanan kesehatan modern atau tradisional tanpa menginap. Tempat
berobat jalan yang sering di kunjungi penduduk lansia yaitu praktek dokter/bidan
(43,11%), puskesmas (25,97%) dan rumah sakit (12,72%).

6. Masalah yang kemungkinan muncul akibat kenaikan atau penurunan usia


harapan hidup
Bertambahnya jumlah lansia bias berefekpositif jika lansia dalam keadaan sehat
namun jika dalam keadaan sakit maka potensi kerugian Negara dari pembiayaan
jaminan kesehatan nasional (JKN) juga akan meningkat. Perubahan biaya JKN
paling besar berasal dari penyakit tidak menular seperti cuci darah,stroke, jantung
hingga hipertensi. Kalau lansia banyak tapi sakit malah akan menambah beban
negara,tapi juga menambah beban keluarga.