Anda di halaman 1dari 24

NAMA : R.

YAYANG YUULIA LIZA


NIM : 206172931
KELAS : FISIKA 5 B
TUGAS 5 ARTIKEL 5
BUMI

Bumi adalah suatu planet yang memiliki urutan ke tiga dari matahari dan planet terbesar kelima
dari semua planet yang ada di tata surya . Bumi juga diartikan sebagai planet yang menjadi
tempat tinggal bagi semua makhluk yang hidup di dalamnya. Dalam bahasa Inggris, bumi
disebut earth. Sementara di Indonesia, istilah bumi berasal dari kata bhumi yang berarti tanah.
Kata tersebut merupakan bahasa Sansekerta.

Bumi mempunyai sebutan lain yaitu benua biru karena jika dilihat dari luar angkasa, planet bumi
mempunyai warna dominan biru. Warna biru tersebut adalah representasi dari dari laut yang
memenuhi dua per tiga dari permukaan bumi. Bumi mempunyai bentuk bulat tak sempurna dan
juga pepat (padat). Luas permukaan bumi sekitar 510.072.000 kilometer persegi dengan jari- jari
rata-rata 6.371 kilometer. Planet bumi memiliki gravitasi atau gaya tarik dengan percepatan
sebesar 9,780327 m/s2 yang dalam perhitungan matematis sering dibulatkan menjadi 9,81 m/s2.

Bumi mengalami rotasi dan juga revolusi. Rotasi yakni berputarnya bumi pada sumbu porosnya
yang memelukan waktu sekitar 24 jam. Sedangkan revolusi yaitu berputarnya bumi mengelilingi
matahari yang membutuhkan waktu sekitar 365 hari. Jarak bumi dan matahari yakni 149,6 juta
kilometer. Rotasi bumi dapat mengakibatkan pergantian malam dan siang, terjadinya perbedaan
waktu di berbagai negara, serta gerak semu harian matahari. Sementara revolusi mengakibatkan
pergantian musim di semua benua di dunia, berubahnya jangka waktu siang dan malam, serta
gerak semu tahunan matahari.

A. Struktur Lapisan Bumi

1. Kerak Bumi (crush)

Kerak bumi merupakan struktur lapisan bumi bagian paling luar dari planet bumi. Pada lapisan
kerak bumi inilah manusia, hewan dan tumbuhan hidup. Dengan ketebalan lapisan kerak bumi
antara 5 – 70 Km. Lapisan dan struktur kerak bumi terdiri atas bebatuan beku, sedimen, dan
metamorf. Tidak hanya berupa bebatuan yang ada di lapisan kerak ini. Terdapat banyak gas
pembentuk bumi yang berada pada lapisan bumi ini. Diantaranya adalah gas oksigen sebanyak
46,6%. Selain oksigen, struktur kimia yang menjadi pembentuk pada kerak bumi diantaranya :

 Silikon sebesar 27,7%;


 Alumunium sebesar 8,1%;
 Besi sebesar 5,0%;
 Kalsium sebesar 3,6%;
 Natrium sebesar 2,8%; K
 alium sebesar 2,6%; dan
 Magnesium sebesar 2,1%

Dengan struktur lapisan bumi tersebut dapat kita jumpai pada kandungan batu-batuan yang ada
tersebar diseluruh penjuru bumi. Tidak hanya itu, pada lapisan bumi ini memiliki suhu yang
beranekaragam. Mulai dari dibawah 0 ºC yang dapat kita jumpai pada daerah kutub, sampai pada
suhu 1.100 ºC yang menjadi perbatasan antara kerak bumi dan lapisan mantel bumi. Karena,
ketebalannya yang berbeda. Maka, struktur kerak bumi dibagi atas dua atas jenis ketebalannya
yaitu :

Kerak Benua, merupakan kerak bumi yang paling tebal sampai dengan 70 km. Dengan rata-rata
ketebalan sekitar 35 km. Kerak benua juga biasa disebut dengan lapisan garanitis. Dikarenakan,
lapisan penyusn kerak bumi ini terdiri dari bebatuan granit.

Kerak Samudra, ialah lapisan tertipis pada kerak bumi yang meiliki ketebalan antara 5 sampai 15
km. Kerak samudra juga sering disebut dengan lapisan basaltis dikarenakan terdapat banyak
batuan penyusun kerak bumi dari bebatuan basalt.

2. Selimut Bumi (mantle)

Lapisan kedua dari struktur lapisan bumi adalah lapisan mantel atau selimut bumi. Lapisan
mantel bumi ini merupakan lapisan yang paling tebal serta memiliki kandungan magma yang
sering kita liat ketika terjadi erupsi atau gunung meletus di guni berapi.
Dengan ketebalan mencapai 2.900 km, struktu bumi pada lapisan mantel ini terdiri dari
kandungan besi, aluminium, magnesium, kalium, silikon, serta oksigen. Selain memiliki
ketebalan yang paling tebal di struktur lapisan bumi, lapisan mantel bumi juga meiliki suhu yang
panas hingga mencapai 3.000 ºC. Mantel bumi ini pun dibagi atas dua lapisan mantel yaitu :

 Lapisan mantel bumi atas, merupkan mantel bumi yang berada setelah kerak bumi yang
memiliki kedalaman sekitar 400 km. Disamping itu pada lapisan bumi ini bersifat plastis
hingga semiplastis yang disebabkan oleh suhu dan tekanan yang berada pada lapisan
bumi ini mengalami kesetimbangan.
 Lapisan mantel bumi bawah, ialah struktur lapisan bumi yang berada pada kedalama
sampai dengan 2900 km. Hingga, mencapai perbatasan dengan inti bumi.

3. Inti Bumi Bagian Luar (outer core)

Inti bumi atau core merupakan bagian terdalam dari struktur lapisan bumi ke bawah. Dengan
ketebalan lapisan inti bumi bagian luar ini setebal 2.000 km serta memiliki kepadatan yang
sangat padat. Walaupun terdiri dari bahan besi dan nikel yang sangat panas dan cair. Disamping
itu, pada struktur lapisan bumi di lapisan luar inti bumi ini memiliki suhu mencapai 2.000 ºC.
Pada lapisan ini pula disebut olehpara peneliti sebagai pengarah kompas magnetik yang
disebabkan ketika bumi melakukan rotasi yang menghasilkan magnet bumi
4. Inti Bumi Bagian Dalam (inner core)

Pada lapisan inti bumi bagian dalam merupakan pusat terdalam dari inti bumi dengan kedalaman
mencapai 5200 km dari kerak bumi. Dengan diameter inti dalam bumi yang seperti bola
mencapai 2.700 km serta mempunyai suhu mencapai 4.500 ºC bahkan dapat melebih hal
tersebut. Para peneliti dan ahli geofisika berpendpat, bahwasanya inti bumi pada struktur lapisan
bumi ini memiliki material yang serupa dengan meteorit logam yang tersusun atas besi dan nikel.
Sehingga, para peneliti mengambil hipotesis bahwasanya inti bumi tersusun atas material yang
bersifat pejal atau keras dan ditutupi oleh struktur cairan kental dengan suhu yang sangat tinggi.

B. Teori Tektonik Lempeng

Lempeng-lempeng tektonik di bumi barulah dipetakan pada paruh kedua abad ke-20.
Tectonics plates (preserved surfaces)

Teori tektonika Lempeng (bahasa Inggris: Plate Tectonics) adalah teori dalam bidang geologi
yang dikembangkan untuk memberi penjelasan terhadap adanya bukti-bukti pergerakan skala
besar yang dilakukan oleh litosfer bumi. Teori ini telah mencakup dan juga menggantikan Teori
Pergeseran Benua yang lebih dahulu dikemukakan pada paruh pertama abad ke-20 dan konsep
seafloor spreading yang dikembangkan pada tahun 1960-an. Bagian terluar dari interior bumi
terbentuk dari dua lapisan. Di bagian atas terdapat litosfer yang terdiri atas kerak dan bagian
teratas mantel bumi yang kaku dan padat. Di bawah lapisan litosfer terdapat astenosfer yang
berbentuk padat tetapi bisa mengalir seperti cairan dengan sangat lambat dan dalam skala waktu
geologis yang sangat lama karena viskositas dan kekuatan geser (shear strength) yang rendah.
Lebih dalam lagi, bagian mantel di bawah astenosfer sifatnya menjadi lebih kaku lagi.
Penyebabnya bukanlah suhu yang lebih dingin, melainkan tekanan yang tinggi. Lapisan litosfer
dibagi menjadi lempeng-lempeng tektonik (tectonic plates). Di bumi, terdapat tujuh lempeng
utama dan banyak lempeng-lempeng yang lebih kecil. Lempeng-lempeng litosfer ini
menumpang di atas astenosfer. Mereka bergerak relatif satu dengan yang lainnya di batas-batas
lempeng, baik divergen (menjauh), konvergen (bertumbukan), ataupun transform (menyamping).
Gempa bumi, aktivitas vulkanik, pembentukan gunung, dan pembentukan palung samudera
semuanya umumnya terjadi di daerah sepanjang batas lempeng. Pergerakan lateral lempeng
lazimnya berkecepatan 50–100 mm/a.[1]
Perkembangan Teori

Peta dengan detail yang menunjukkan lempeng-lempeng tektonik dan arah vektor
gerakannya
Pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, geolog berasumsi bahwa kenampakan-kenampakan
utama bumi berkedudukan tetap. Kebanyakan kenampakan geologis seperti pegunungan bisa
dijelaskan dengan pergerakan vertikal kerak seperti dijelaskan dalam teori geosinklin. Sejak
tahun 1596, telah diamati bahwa pantai Samudera Atlantik yang berhadap-hadapan antara benua
Afrika dan Eropa dengan Amerika Utara dan Amerika Selatan memiliki kemiripan bentuk dan
tampaknya pernah menjadi satu. Ketepatan ini akan semakin jelas jika kita melihat tepi-tepi dari
paparan benua di sana.[2] Sejak saat itu banyak teori telah dikemukakan untuk menjelaskan hal
ini, tetapi semuanya menemui jalan buntu karena asumsi bahwa bumi adalah sepenuhnya padat
menyulitkan penemuan penjelasan yang sesuai.[3]

Penemuan radium dan sifat-sifat pemanasnya pada tahun 1896 mendorong pengkajian ulang
umur bumi,[4] karena sebelumnya perkiraan didapatkan dari laju pendinginannya dan dengan
asumsi permukaan bumi beradiasi seperti benda hitam.[5] Dari perhitungan tersebut dapat
disimpulkan bahwa bahkan jika pada awalnya bumi adalah sebuah benda yang merah-pijar, suhu
Bumi akan menurun menjadi seperti sekarang dalam beberapa puluh juta tahun. Dengan adanya
sumber panas yang baru ditemukan ini maka para ilmuwan menganggap masuk akal bahwa
Bumi sebenarnya jauh lebih tua dan intinya masih cukup panas untuk berada dalam keadaan cair.
Teori Tektonik Lempeng berasal dari Hipotesis Pergeseran Benua (continental drift) yang
dikemukakan Alfred Wegener tahun 1912.[6] dan dikembangkan lagi dalam bukunya The Origin
of Continents and Oceans yang diterbitkan pada tahun 1915. Ia mengemukakan bahwa benua-
benua yang sekarang ada dulu adalah satu kesatuan yang bergerak menjauh sehingga melepaskan
benua-benua tersebut dari inti bumi seperti 'bongkahan es' dari granit yang bermassa jenis rendah
yang mengambang di atas lautan basal yang lebih padat.[7][8] Namun, tanpa adanya bukti
terperinci dan perhitungan gaya-gaya yang dilibatkan, teori ini dipinggirkan. Mungkin saja bumi
memiliki kerak yang padat dan inti yang cair, tetapi tampaknya tetap saja tidak mungkin bahwa
bagian-bagian kerak tersebut dapat bergerak-gerak. Di kemudian hari, dibuktikanlah teori yang
dikemukakan geolog Inggris Arthur Holmes tahun 1920 bahwa tautan bagian-bagian kerak ini
kemungkinan ada di bawah laut. Terbukti juga teorinya bahwa arus konveksi di dalam mantel
bumi adalah kekuatan penggeraknya. Bukti pertama bahwa lempeng-lempeng itu memang
mengalami pergerakan didapatkan dari penemuan perbedaan arah medan magnet dalam batuan-
batuan yang berbeda usianya. Penemuan ini dinyatakan pertama kali pada sebuah simposium di
Tasmania tahun 1956. Mula-mula, penemuan ini dimasukkan ke dalam teori ekspansi bumi,[11]
namun selanjutnya justeru lebih mengarah ke pengembangan teori tektonik lempeng yang
menjelaskan pemekaran (spreading) sebagai konsekuensi pergerakan vertikal (upwelling)
batuan, tetapi menghindarkan keharusan adanya bumi yang ukurannya terus membesar atau
berekspansi (expanding earth) dengan memasukkan zona subduksi/hunjaman (subduction zone),
dan sesar translasi (translation fault). Pada waktu itulah teori tektonik lempeng berubah dari
sebuah teori yang radikal menjadi teori yang umum dipakai dan kemudian diterima secara luas di
kalangan ilmuwan. Penelitian lebih lanjut tentang hubungan antara seafloor spreading dan
balikan medan magnet bumi (geomagnetic reversal) oleh geolog Harry Hammond Hess dan
oseanograf Ron G. Mason[12][13][14][15] menunjukkan dengan tepat mekanisme yang menjelaskan
pergerakan vertikal batuan yang baru. Seiring dengan diterimanya anomali magnetik bumi yang
ditunjukkan dengan lajur-lajur sejajar yang simetris dengan magnetisasi yang sama di dasar laut
pada kedua sisi mid-oceanic ridge, tektonik lempeng menjadi diterima secara luas. Kemajuan
pesat dalam teknik pencitraan seismik mula-mula di dalam dan sekitar zona Wadati-Benioff dan
beragam observasi geologis lainnya tak lama kemudian mengukuhkan tektonik lempeng sebagai
teori yang memiliki kemampuan yang luar biasa dalam segi penjelasan dan prediksi. Penelitian
tentang dasar laut dalam, sebuah cabang geologi kelautan yang berkembang pesat pada tahun
1960-an memegang peranan penting dalam pengembangan teori ini. Sejalan dengan itu, teori
tektonik lempeng juga dikembangkan pada akhir 1960-an dan telah diterima secara cukup
universal di semua disiplin ilmu, sekaligus juga membaharui dunia ilmu bumi dengan memberi
penjelasan bagi berbagai macam fenomena geologis dan juga implikasinya di dalam bidang lain
seperti paleogeografi dan paleobiologi.

Prinsip-prinsip utama

Bagian lapisan luar, interior bumi dibagi menjadi lapisan litosfer dan lapisan astenosfer
berdasarkan perbedaan mekanis dan cara terjadinya perpindahan panas. Llitosfer lebih dingin
dan kaku, sedangkan astenosfer lebih panas dan secara mekanik lemah. Selain itu, litosfer
kehilangan panasnya melalui proses konduksi, sedangkan astenosfer juga memindahkan panas
melalui konveksi dan memiliki gradien suhu yang hampir adiabatik. Pembagian ini sangat
berbeda dengan pembagian bumi secara kimia menjadi inti, mantel, dan kerak. Litosfer sendiri
mencakup kerak dan juga sebagian dari mantel. Suatu bagian mantel bisa saja menjadi bagian
dari litosfer atau astenosfer pada waktu yang berbeda, tergantung dari suhu, tekanan, dan
kekuatan gesernya. Prinsip kunci tektonik lempengan adalah bahwa litosfer terpisah menjadi
lempengan-lempengan tektonik yang berbeda-beda. Lempengan ini bergerak menumpang di atas
astenosfer yang mempunyai viskoelastisitas sehingga bersifat seperti fluida. Pergerakan
lempengan bisa mencapai 10–40 mm/a (secepat pertumbuhan kuku jari) seperti di Mid-Atlantic
Ridge, ataupun bisa mencapai 160 mm/a (secepat pertumbuhan rambut) seperti di Lempeng
Nazca. Lempeng-lempeng ini tebalnya sekitar 100 km dan terdiri atas mantel litosferik yang di
atasnya dilapisi dengan hamparan salah satu dari dua jenis material kerak. Yang pertama
adalah kerak samudera atau yang sering disebut dengan "sima", gabungan dari silikon dan
magnesium. Yang kedua adalah kerak benua yang sering disebut "sial", gabungan dari silikon
dan aluminium. Kedua jenis kerak ini berbeda dari segi ketebalan di mana kerak benua memiliki
ketebalan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan kerak samudera. Ketebalan kerak benua
mencapai 30–50 km sedangkan kerak samudera hanya 5–10 km. Dua lempeng akan bertemu di
sepanjang batas lempeng (plate boundary), yaitu daerah di mana aktivitas geologis umumnya
terjadi seperti gempa bumi dan pembentukan kenampakan topografis seperti gunung, gunung
berapi, dan palung samudera. Kebanyakan gunung berapi yang aktif di dunia berada di atas batas
lempeng, seperti Cincin Api Pasifik (Pacific Ring of Fire) di Lempeng Pasifik yang paling aktif
dan dikenal luas. Lempeng tektonik bisa merupakan kerak benua atau samudera, tetapi biasanya
satu lempeng terdiri atas keduanya. Misalnya, Lempeng Afrika mencakup benua itu sendiri dan
sebagian dasar Samudera Atlantik dan Hindia. Perbedaan antara kerak benua dengan kerak
samudera ialah berdasarkan kepadatan material pembentuknya.

 Kerak samudera lebih padat daripada kerak benua dikarenakan perbedaan perbandingan
jumlah berbagai elemen, khususnya silikon.

 Kerak benua kurang padat karena komposisinya yang mengandung lebih sedikit silikon
dan lebih banyak materi yang berat. Dalam hal ini, kerak samudera dikatakan lebih
bersifat mafik ketimbang felsik.[18] Maka, kerak samudera umumnya berada di bawah
permukaan laut seperti sebagian besar Lempeng Pasifik, sedangkan kerak benua timbul
ke atas permukaan laut, mengikuti sebuah prinsip yang dikenal dengan isostasi.

Jenis-jenis batas lempeng

Tiga jenis batas lempeng (plate boundary).


Ada tiga jenis batas lempeng yang berbeda dari cara lempengan tersebut bergerak relatif
terhadap satu sama lain. Tiga jenis ini masing-masing berhubungan dengan fenomena yang
berbeda di permukaan. Tiga jenis batas lempeng tersebut adalah:

1. Batas transform (transform boundaries) terjadi jika lempeng bergerak dan mengalami
gesekan satu sama lain secara menyamping di sepanjang sesar transform (transform
fault). Gerakan relatif kedua lempeng bisa sinistral (ke kiri di sisi yang berlawanan
dengan pengamat) ataupun dekstral (ke kanan di sisi yang berlawanan dengan pengamat).
Contoh sesar jenis ini adalah Sesar San Andreas di California.
2. Batas divergen/konstruktif (divergent/constructive boundaries) terjadi ketika dua
lempeng bergerak menjauh satu sama lain. Mid-oceanic ridge dan zona retakan (rifting)
yang aktif adalah contoh batas divergen
3. Batas konvergen/destruktif (convergent/destructive boundaries) terjadi jika dua
lempeng bergesekan mendekati satu sama lain sehingga membentuk zona subduksi jika
salah satu lempeng bergerak di bawah yang lain, atau tabrakan benua (continental
collision) jika kedua lempeng mengandung kerak benua. Palung laut yang dalam
biasanya berada di zona subduksi, di mana potongan lempeng yang terhunjam
mengandung banyak bersifat hidrat (mengandung air), sehingga kandungan air ini
dilepaskan saat pemanasan terjadi bercampur dengan mantel dan menyebabkan pencairan
sehingga menyebabkan aktivitas vulkanik. Contoh kasus ini dapat kita lihat di
Pegunungan Andes di Amerika Selatan dan busur pulau Jepang (Japanese island arc).
Batas konvergen dibagi kembali menjadi tiga, yaitu:
1. Bila 2 lempeng samudra yang saling mendekat, lempeng yang satu akan menghu
njam kebawah lempeng yang lain membentuk busur kepulauan.
2. Bila lempeng benua dan lempeng samudra yang saling mendekat, maka lempeng
samudranya akan menghunjam kebawah lempeng benua, membentuk pegunungan
uplift seperti Andes.
3. Bila 2 lempeng benua yang saling mendekat, terjadilah peristiwa tumbukan (colli
sion), membentuk pegunungan lipatan seperti Himalaya.

Selain 3 jenis batas lempeng di atas, terdapat juga plate boundary zone, dimana interaksi antar
lempengnya belum diketahui. Dan pada umumnya, plate boundary zone melibatkan paling tidak
2 lempeng besar dan beberapa microplate yang bergerak dengan cukup rumit, sehingga pada
daerah tersebut terdapat fitur geologi yang kompleks dan pola gempa bumi. Contoh dari plate
boundary zone adalah daerah Mediterranean-Alpine yang merupakan batas antara lempeng
Eurasia dan Afrika, dimana terdapat kenampakan subduksi, kolisi, dan transform fault.

Kekuatan Penggerak Pergerakan Lempeng

Pergerakan lempeng tektonik bisa terjadi karena kepadatan relatif litosfer samudera dan karakter
astenosfer yang relatif lemah. Pelepasan panas dari mantel telah didapati sebagai sumber asli dari
energi yang menggerakkan lempeng tektonik. Pandangan yang disetujui sekarang, meskipun
masih cukup diperdebatkan, adalah bahwa kelebihan kepadatan litosfer samudera yang
membuatnya menyusup ke bawah di zona subduksi adalah sumber terkuat pergerakan
lempengan.

Pada waktu pembentukannya di mid ocean ridge, litosfer samudera pada mulanya memiliki
kepadatan yang lebih rendah dari astenosfer di sekitarnya, tetapi kepadatan ini meningkat seiring
dengan penuaan karena terjadinya pendinginan dan penebalan. Besarnya kepadatan litosfer yang
lama relatif terhadap astenosfer di bawahnya memungkinkan terjadinya penyusupan ke mantel
yang dalam di zona subduksi sehingga menjadi sumber sebagian besar kekuatan penggerak-
pergerakan lempengan. Kelemahan astenosfer memungkinkan lempengan untuk bergerak secara
mudah menuju ke arah zona subduksi [19] Meskipun subduksi dipercaya sebagai kekuatan terkuat
penggerak-pergerakan lempengan, masih ada gaya penggerak lain yang dibuktikan dengan
adanya lempengan seperti lempengan Amerika Utara, juga lempengan Eurasia yang bergerak
tetapi tidak mengalami subduksi di manapun. Sumber penggerak ini masih menjadi topik
penelitian intensif dan diskusi di kalangan ilmuwan ilmu bumi.

Pencitraan dua dan tiga dimensi interior bumi (tomografi seismik) menunjukkan adanya
distribusi kepadatan yang heterogen secara lateral di seluruh mantel. Variasi dalam kepadatan ini
bisa bersifat material (dari kimia batuan), mineral (dari variasi struktur mineral), atau termal
(melalui ekspansi dan kontraksi termal dari energi panas). Manifestasi dari keheterogenan
[20]
kepadatan secara lateral adalah konveksi mantel dari gaya apung (buoyancy forces)
Bagaimana konveksi mantel berhubungan secara langsung dan tidak dengan pergerakan planet
masih menjadi bidang yang sedang dipelajari dan dibincangkan dalam geodinamika. Dengan satu
atau lain cara, energi ini harus dipindahkan ke litosfer supaya lempeng tektonik bisa bergerak.
Ada dua jenis gaya yang utama dalam pengaruhnya ke pergerakan planet, yaitu friksi dan
gravitasi.

Gaya gesek
Basal drag
Arus konveksi berskala besar di mantel atas disalurkan melalui astenosfer, sehingga pergerakan
didorong oleh gesekan antara astenosfer dan litosfer.
Slab suction
Arus konveksi lokal memberikan tarikan ke bawah pada lempeng di zona subduksi di palung
samudera. Penyerotan lempengan (slab suction) ini bisa terjadi dalam kondisi geodinamik di
mana tarikan basal terus bekerja pada lempeng ini pada saat ia masuk ke dalam mantel,
meskipun sebetulnya tarikan lebih banyak bekerja pada kedua sisi lempengan, atas dan bawah.

Gravitasi
Runtuhan gravitasi: Pergerakan lempeng terjadi karena lebih tingginya lempeng di oceanic ridge.
Litosfer samudera yang dingin menjadi lebih padat daripada mantel panas yang merupakan
sumbernya, maka dengan ketebalan yang semakin meningkat lempeng ini tenggelam ke dalam
mantel untuk mengkompensasikan beratnya, menghasilkan sedikit inklinasi lateral proporsional
dengan jarak dari sumbu ini. :Dalam teks-teks geologi pada pendidikan dasar, proses ini sering
disebut sebagai sebuah doronga. Namun, sebenarnya sebutan yang lebih tepat adalah runtuhan
karena topografi sebuah lempeng bisa jadi sangat berbeda-beda dan topografi pematang (ridge)
yang melakukan pemekaran hanyalah fitur yang paling dominan. Sebagai contoh, pembengkakan
litosfer sebelum ia turun ke bawah lempeng yang bersebelahan menghasilkan kenampakan yang
bisa memengaruhi topografi. Lalu, mantel plume yang menekan sisi bawah lempeng tektonik
bisa juga mengubah topografi dasar samudera.
Slab-pull (tarikan lempengan)
Pergerakan lempeng sebagian disebabkan juga oleh berat lempeng yang dingin dan padat yang
turun ke mantel di palung samudera.[21] Ada bukti yang cukup banyak bahwa konveksi juga
terjadi di mantel dengan skala cukup besar. Pergerakan ke atas materi di mid-oceanic ridge
mungkin sekali adalah bagian dari konveksi ini. Beberapa model awal Tektonik Lempeng
menggambarkan bahwa lempeng-lempeng ini menumpang di atas sel-sel seperti ban berjalan.
Namun, kebanyakan ilmuwan sekarang percaya bahwa astenosfer tidaklah cukup kuat untuk
secara langsung menyebabkan pergerakan oleh gesekan gaya-gaya itu. Slab pull sendiri sangat
mungkin menjadi gaya terbesar yang bekerja pada lempeng. Model yang lebih baru juga
memberi peranan yang penting pada penyerotan (suction) di palung, tetapi lempengan seperti
Lempeng Amerika Utara tidak mengalami subduksi di manapun juga, tetapi juga mengalami
pergerakan seperti juga Lempeng Afrika, Eurasia, dan Antartika. Kekuatan penggerak utama
untuk pergerakan lempengan dan sumber energinya itu sendiri masih menjadi bahan riset yang
sedang berlangsung
Gaya dari luar

Dalam studi yang dipublikasikan pada edisi Januari-Februari 2006 dari buletin Geological
Society of America Bulletin, sebuah tim ilmuwan dari Italia dan Amerika Serikat berpendapat
bahwa komponen lempeng yang mengarah ke barat berasal dari rotasi Bumi dan gesekan pasang
bulan yang mengikutinya. Mereka berkata karena Bumi berputar ke timur di bawah bulan,
gravitasi bulan meskipun sangat kecil menarik lapisan permukaan bumi kembali ke barat.
Beberapa orang juga mengemukakan ide kontroversial bahwa hasil ini mungkin juga
menjelaskan mengapa Venus dan Mars tidak memiliki lempeng tektonik, yaitu karena ketiadaan
bulan di Venus dan kecilnya ukuran bulan Mars untuk memberi efek seperti pasang di bumi.[22]
Pemikiran ini sendiri sebetulnya tidaklah baru. Hal ini sendiri aslinya dikemukakan oleh bapak
dari hipotesis ini sendiri, Alfred Wegener, dan kemudian ditentang fisikawan Harold Jeffreys
yang menghitung bahwa besarnya gaya gesek oasang yang diperlukan akan dengan cepat
membawa rotasi bumi untuk berhenti sejak waktu lama. Banyak lempeng juga bergerak ke utara
dan barat, bahkan banyaknya pergerakan ke barat dasar Samudera Pasifik adalah jika dilihat dari
sudut pandang pusat pemekaran (spreading) di Samudera Pasifik yang mengarah ke timur.
Dikatakan juga bahwa relatif dengan mantel bawah, ada sedikit komponen yang mengarah ke
barat pada pergerakan semua lempeng

Signifikansi relatif masing-masing mekanisme

Pergerakan lempeng berdasar pada data satelit GPS NASA JPL. Vektor di sini menunjukkan
arah dan magnitudo gerakan.
Vektor yang sebenarnya pada pergerakan sebuah planet harusnya menjadi fungsi semua gaya
yang bekerja pada lempeng itu. Namun, masalahnya adalah seberapa besar setiap proses ambil
bagian dalam pergerakan setiap lempeng Keragaman kondisi geodinamik dan sifat setiap
lempeng seharusnya menghasilkan perbedaan dalam seberapa proses-proses tersebut secara aktif
menggerakkan lempeng. satu cara untuk mengatasi masalah ini adalah dengan melihat laju di
mana setiap lempeng bergerak dan mempertimbangkan bukti yang ada untuk setiap kekuatan
penggerak dari lempeng ini sejauh mungkin Salah satu hubungan terpenting yang ditemukan
adalah bahwa lempeng litosferik yang lengket pada lempeng yang tersubduksi bergerak jauh
lebih cepat daripada lempeng yang tidak. Misalnya, Lempeng Pasifik dikelilingi zona subduksi
(Ring of Fire) sehingga bergerak jauh lebih cepat daripada lempeng di Atlantik yang lengket
pada benua yang berdekatan dan bukan lempeng tersubduksi. Maka, gaya yang berhubungkan
dengan lempeng yang bergerak ke bawah (slab pull dan slab suction) adalah kekuatan penggerak
yang menentukan pergerakan lempeng kecuali untuk lempeng yang tidak disubduksikan. Walau
bagaimanapun juga, kekuatan penggerak pergerakan lempeng itu sendiri masih menjadi bahan
perdebatan dan riset para ilmuwan.

Lempeng-lempeng utama

Lempeng-lempeng tektonik utama yaitu:

 Lempeng Afrika, meliputi Afrika - Lempeng benua


 Lempeng Antartika, meliputi Antartika - Lempeng benua
 Lempeng Australia, meliputi Australia (tergabung dengan Lempeng India antara 50
sampai 55 juta tahun yang lalu)- Lempeng benua
 Lempeng Eurasia, meliputi Asia dan Eropa - Lempeng benua
 Lempeng Amerika Utara, meliputi Amerika Utara dan Siberia timur laut - Lempeng
benua
 Lempeng Amerika Selatan, meliputi Amerika Selatan - Lempeng benua
 Lempeng Pasifik, meliputi Samudera Pasifik - Lempeng samudera

Lempeng-lempeng penting lain yang lebih kecil mencakup Lempeng India, Lempeng Arabia,
Lempeng Karibia, Lempeng Juan de Fuca, Lempeng Cocos, Lempeng Nazca, Lempeng Filipina,
dan Lempeng Scotia. Pergerakan lempeng telah menyebabkan pembentukan dan pemecahan
benua seiring berjalannya waktu, termasuk juga pembentukan superkontinen yang mencakup
hampir semua atau semua benua. Superkontinen Rodinia diperkirakan terbentuk 1 miliar tahun
yang lalu dan mencakup hampir semua atau semua benua di Bumi dan terpecah menjadi delapan
benua sekitar 600 juta tahun yang lalu. Delapan benua ini selanjutnya tersusun kembali menjadi
superkontinen lain yang disebut Pangaea yang pada akhirnya juga terpecah menjadi Laurasia
(yang menjadi Amerika Utara dan Eurasia), dan Gondwana (yang menjadi benua sisanya) .

C. Gempa Bumi dan Pengukuran kekuatannya

Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa
bumi biasa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga
digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi
kita walaupun padat, selalu bergerak, dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi
karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.

PENGUKURAN GEMPABUMI

Skala kekuatan gempa bumi diukur berdasarkan kuat atau lemahnya getaran. Kekuatan gempa
bumi umumnya dinyatakan dengan skala Richter. Skala Richter didasarkan pada alat pengukur
gempa bumi, yaitu seismograf Wood Anderson. Hasil pengukuran alat pengukur gempa bumi ini
dengan cepat dapat diketahui berapa kekuatan gempa dan jarak antara lokasi pengamat dengan
sumber gempa. Skala kekuatan gempa bumi tidak hanya skala Richter saja, tetapi ada juga skala
Mercalli dan skala Omori. Pada skala Richter, kekuatan gempa diukur berdasarkan getaran
magnitudo. Akan tetapi, pada skala Mercalli dan skala Omori berdasarkan tahapan yang
berkaitan dengan intensitas gempa. Untuk mengukur intensitas kekuatan gempa, ada beberapa
macam skala, antara lain :

1. Skala kekuatan gempa bumi menurut C.F. Richter Skala Richter adalah skala logaritmis, dan
setiap selisih satu skala perbedaan energi adalah 31,5 kali lebih besar.
C.F. Richter menyusun skala gempa bumi berdasarkan skala magnitudo (ukuran besarnya
gempa) dengan menggunakan klasifikasi angka 0 sampai 8. Semakin besar angkanya, maka
semakin besar magnitudonya. Cara menentukan intensitas gempa menurut Richter adalah
menggunakan jarak dan besaran amplitudo. Berikut ini adalah tabel skala kekuatan gempa bumi
menurut C.F. Richter. No. Magnitudo Klasifikasi secara umum

78 Bencana nasional (national disaster), 77 – 8 Gempa besar (major earth quake), 76 – 7 Gempa
destruktif (destructive earth quake), 76 – 6 Gempa merusak (damaging earth quake), 74 – 5
Gempa keras (strongly earth quake), 73 – 4 Gempa kecil (small quake), 0 – 3 Goncangan kecil
(small shock quake), Skala Richter terdapat pada pesawat pengukur antara lain pesawat
Anderson. Dengan model pesawat ini orang dengan cepat dapat membaca kekuatan atau
magnitudo gempa, jarak episentrum dari pengamatan, serta besarnya amplitudo getaran gempa.
Jika jarak episentrum 300 km, dengan arah 30, sedangkan amplitudo menunjukkan 10 mm, maka
kekuatan gempa (magnitudo) gempa adalah 5 pada skala Richter.
Sampai sekarang orang belum mampu meramalkan gempa bumi secara tepat, walaupun para ahli
telah mampu menentukan daerah-daerah gempa bumi, namun meramalkan akan terjadinya
gempa bumi, lokasi episentrumnya, serta besarnya belum terpecahkan.
2. Skala kekuatan gempa bumi menurut Mercalli Mercalli menyusun skala gempa bumi
berdasarkan skala intensitas gempa. Intensitas gempa suatu tempat adalah kekuatan gempa
ditaksir berdasarkan eek geologis dan efeknya terhadap bangunan-bangunan dan manusia. Skala
Mercalli disusun dengan menggunakan angka romawi. Berikut ini adalah tabel skala gempa
bumi menurut Mercalli :No. Intensitas Klasifikasi secara umum

I Getaran tidak dapat dirasakan oleh semua orang, kecuali orang yang sangat peka terhadap
getaran, II Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda ringan yang bergantung bergoyang
III Getaran dirasakan nyata di dalam rumah, terutama lebih satu lantai dan kendaraan yang
sedang berhenti agak bergerak, IV Getaran dirasakan oleh banyak orang, pecah belah, daun
jendela bergetar, dinding berbunyi karena pecah, V Getaran dirasakan oleh setiap penduduk.
Barang-barang banyak yang berjatuhan, tiang tampak bergoyang, dan bandul jam dinding
berhenti, VI Getaran dirasakan oleh setiap penduduk dan pada umumnya penduduk terkejut.
Meja dan kursi bergerak, cerobong asap pabrik rusak, VII Getaran terasa agak kuat dan setiap
orang keluar rumah. Bangunan banyak yang rusak, cerobong asap pabrik pecah dan getaran
dirasakan oleh orang yang sedang naik kendaraan, VIII Getaran terasa kuat. Dinding bangunan
dapat lepas dari rangka rumah dan meja kursi terlempar, orang yang sedang naik kendaraan
terganggu keseimbangannya, IX Getaran terasa sangat kuat. Kerangka rumah banyak yang
terlepas, rumah tampak bergeser, instalasi air minum banyak yang putus, X Getaran agak
dahsyat. Dinding rumah tergeser dari pondasinya, tanah terbelah, rel kereta api tampak
melengkung dan banyak tanah longsor, XI Getaran terasa dahsyat. Bangunan roboh, jembatan
putus, rel kereta api semuanya melengkung, pipa dalam tanah bengkok, XII Getaran terasa
dahsyat. Bangunan hancur berkeping-keping, permukaan tanah bergelombang, banyak benda-
benda yang terlempar ke udara

3. Skala kekuatan gempa bumi menurut Omori Skala gempa menurut Omori secara umum
hampir sama dengan skala kekuatan gempa yang ditulis oleh Mercalli, yaitu :
No. Derajat Klasifikasi secara umum :Getaran lunak, tidak dirasakan oleh semua orang, Getaran
sedang, banyak orang terbangun karena bunyi barang-barang yang pecah dan bunyi jendela atau
pintu berderit karena bergoyang, Getaran yang agak kuat, pintu dan jendela terbuka, Getaran
kuat, gambar di dinding berjatuhan dan dinding retak-retak, Getaran sangat kuat, dinding dan
atap runtuh, Rumah-rumah banyak yang roboh, Terjadi kerusakan umum

MACAM MACAM GEMPA BUMI

1. Gempa bumi vulkanik ( Gunung Api ) ; Gempa bumi ini terjadi akibat
adanya aktivitas magma, yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila
keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga
akan menimbulkan terjadinya gempabumi. Gempabumi tersebut hanya terasa di
sekitar gunung api tersebut.

2. Gempa bumi tektonik ; Gempabumi ini disebabkan oleh adanya aktivitas


tektonik, yaitu pergeseran lempeng lempeng tektonik secara mendadak yang
mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempabumi
ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi
yang kuat mampu menjalar keseluruh bagian bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oleh
perlepasan [tenaga] yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya
gelang karet ditarik dan dilepaskan dengan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara
batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari tektonik plate (plat tektonik) menjelaskan
bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar area
dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan
tersebut begerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama
lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa tektonik.[1] Gempa bumi
tektonik memang unik. Peta penyebarannya mengikuti pola dan aturan yang khusus
dan menyempit, yakni mengikuti pola-pola pertemuan lempeng-lempeng tektonik
2 yang menyusun kerak bumi. Dalam ilmu kebumian (geologi), kerangka teoretis
tektonik lempeng merupakan postulat untuk menjelaskan fenomena gempa bumi
tektonik yang melanda hampir seluruh kawasan, yang berdekatan dengan batas
pertemuan lempeng tektonik. Contoh gempa tektonik ialah seperti yang terjadi
di Yogyakarta, Indonesia pada Sabtu, 27 Mei 2006 dini hari, pukul 05.54 WIB,[2]
3. Gempa bumi runtuhan ; Gempabumi ini biasanya terjadi pada daerah kapur
ataupun pada daerah pertambangan, gempabumi ini jarang terjadi dan bersifat lokal.
4. Gempa bumi buatan ; Gempa bumi buatan adalah gempa bumi yang
disebabkan oleh aktivitas dari manusia, seperti peledakan dinamit, nuklir atau palu
yang dipukulkan ke permukaan bumi.

D. Batuan dan Mineral

Batuan adalah sekumpulan mineral-mineral yang menjadi satu. Bisa terdiri dari satu atau lebih
mineral. Lapisan lithosphere di bumi terdiri dari batuan. Sedangkan mineral adalah substansi
yang terbentuk karena kristalisasi dari proses geologi, yang memiliki komposisi fisik dan kimia.
Batuan diklasifikasikan berdasarkan mineral dan komposisi kimia, dengan tekstur partikelnya
dan dengan proses terbentuknya. Maka batuan diklasifikasikan menjadi Igneous, Sedimentary
dan Metamorphic. Ketiga jenis batuan ini pada proses pembentukannya saling melengkapi dan
berupa siklus. Lihat gambar siklus pembentukan batuan.

1. Igneous Rock (Batuan Beku), terbentuk oleh pembekuan magma dan dibagi menjadi batuan
plutonic dan batuan volcanic. Plutonik atau intrusive terbentuk ketika magma mendingin dan
terkristalisasi perlahan didalam crust (contohnya granite). Sedangkan volcanic atau extrusive
membeku dan terbentuk pada saat magma keluar kepermukaan sebagai lava atau fragment
bekuan (contohnya batu apung dan basalt).
2. Sedimentary Rock (Batuan Sedimen), terbentuk karena endapan dari hasil erosi material-
material batuan, organic, kimia dan terkompaksi serta tersementasi. Batuan ini terbentuk di
permukaan bumi yang terdiri dari; 65% Mudrock (mudstone, shale dan siltstone); 20%-25%
Sandstone dan 10%-15% Carbonate Rock (limestone dan dolostone).
3. Metamorphic Rock (Batuan Metamorf), terbentuk hasil ubahan/alterasi dari mineral dan
batuan lain karena pengaruh tekanan dan temperatur. Tekanan dan temperatur yang
mempengaruhi pembentukan batuan ini sangat tinggi dari pada pembentukan batuan beku dan
sedimen sehingga mengubah mineral asal menjadi mineral lain.

Sedangkan Mineral diklasifikasikan berdasarkan sifat fisik dan komposisi kimia. Sifat fisik
mineral antara lain berdasarkan:
1. Struktur kristal, diamati melalui mikroskop.
2. Kekerasan (Hardness), diukur berdasarkan Mohs scale (1-10) ;Talc Mg3Si4O10(OH)2,
Gypsum CaSO4•2H2O, Calcite CaCO3, Fluorite CaF2, Apatite Ca5(PO4)3(OH,Cl,F),
Orthoclase KAlSi3O8, Quartz SiO2, Topaz Al2SiO4(OH,F)2, Corundum Al2O3, Diamond C
(pure carbon)
3. Kilap (Luster), diukur dari interaksi terhadap cahaya.
4. Warna (Colour), tampak oleh mata.
5. Streak
6. Cleavage
7. Fracture
8. Specific gravity
9. Lain-lain (Fluorescence, Magnetism, Radioaktivity, dll).

Mineral diklasifikasikan berdasarkan komposisi kima dengan grup anion. Berikut klasifikasinya
menurut Dana :

1. Silicate Class, merupakan grup terbesar. silicates (sebagian besar batuan adalah >95%
silicates), yang terdiri dari silicon dan oxygen, dan dengan ion tambahan seperti aluminium,
magnesium, iron, dan calcium. Contoh lain seperti feldspars, quartz, olivines, pyroxenes,
amphiboles, garnets, dan micas.
2. Carbonate Class, merupakan mineral yang terdiri dari anion (CO3)2- dan termasuk calcite dan
aragonite (keduanya merupakan calcium carbonate), dolomite (magnesium/calcium carbonate)
dan siderite (iron carbonate). Carbonate terbentuk pada lingkungan laut oleh endapan bangkai
plankton. Carbonate juga terbentuk pada daerah evaporitic dan pada daerah karst yang
membentuk gua/caves, stalactites dan stalagmites.Carbonate class juga termasuk mineral-mineral
nitrate dan borate.

3. Sulfate Class, Sulfates terdiri dari anion sulfate, SO42-. Biasanya terbentuk di daerah
evaporitic yang tinggi kadar airnya perlahan-lahan menguap sehingga formasi sulfate dan halides
berinteraksi. Contoh sulfate; anhydrite (calcium sulfate), celestine (strontium sulfate), barite
(barium sulfate), dan gypsum (hydrated calcium sulfate). Juga termasuk chromate, molybdate,
selenate, sulfite, tellurate, dan mineral tungstate.

4. Halide Class, halides adalah grup mineral yang membentuk garam alami (salts) dan termasuk
fluorite (calcium fluoride), halite (sodium chloride), sylvite (potassium chloride), dan sal
ammoniac (ammonium chloride). Halides, seperti halnya sulfates, ditemukan juga di daerah
evaporitic settings seperti playa lakes dan landlocked seas seperti Dead Sea dan Great Salt Lake.
The halide class termasuk juga fluoride, chloride, dan mineral-mineral iodide.
Oxide Class, Oxides sangatlah penting dalam dunia pertambangan karena bijih (ores) terbentuk
dari mineral-mineral dari kelas oxide. Kelas mineral ini juga mempengaruhi perubahan Kutub
Magnetic Bumi. Biasanya terbentuk dekat dengan permukaan bumi, teroksidasi dari hasil
pelapukan mineral lain dan sebagai mineral asesori pada batuan beku crust dan mantle. Contoh
mineral Oxides; hematite (iron oxide), magnetite (iron oxide), chromite (iron chromium oxide),
spinel (magnesium aluminium oxide – mineral pembentuk mantle), ilmenite (iron titanium
oxide), rutile (titanium dioxide), dan ice (hydrogen oxide). Juga termasuk mineral-mineral
hydroxide.

5. Sulfide Class, hampir serupa dengan Kelas Oxide, pembentuk bijih (ores). Contohnya
termasuk pyrite (terkenal dengan sebutan emas palsu ‘fools’ gold), chalcopyrite (copper iron
sulfide), pentlandite (nickel iron sulfide), dan galena (lead sulfide). Termasuk juga selenides,
tellurides, arsenides, antimonides, bismuthinides, dan sulfosalts.
6. Phosphate Class, termasuk mineral dengan tetrahedral unit AO4, A dapat berupa phosphorus,
antimony, arsenic atau vanadium. Phospate yang umum adalah apatite yang merupakan mineral
biologis yang ditemukan dalam gigi dan tulang hewan. Termasuk juga mineral arsenate,
vanadate, dan mineral-mineral antimonate.

7. Element Class, terdiri dari metal dan element intermetalic (emas, perak dan tembaga), semi-
metal dan non-metal (antimony, bismuth, graphite, sulfur). Grup ini juga termasuk natural alloys,
seperti electrum, phosphides, silicides, nitrides dan carbides.

8. Organic Class, terdiri dari substansi biogenic; oxalates, mellitates, citrates, cyanates, acetates,
formates, hydrocarbons and other miscellaneous species. Contoh lain juga; whewellite,
moolooite, mellite, fichtelite, carpathite, evenkite and abelsonite

E. Hazard Mitigasi Gempa

Mitigasi bencana adalah serangkaian upaya untuk mengurangi risiko bencana, baik melalui
pembangunan fisik maupun penyadaran dan peningkatan kemampuan menghadapi ancaman
bencana. Mitigasi bencana merupakan suatu aktivitas yang berperan sebagai tindakan
pengurangan dampak bencana, atau usaha-usaha yang dilakukan untuk megurangi korban ketika
bencana terjadi, baik korban jiwa maupun harta. Dalam melakukan tindakan mitigasi bencana,
langkah awal yang kita harus lakukan ialah melakukan kajian resiko bencana terhadap daerah
tersebut. Dalam menghitung resiko bencana sebuah daerah kita harus mengetahui Bahaya
(hazard), Kerentanan (vulnerability) dan kapasitas (capacity) suatu wilayah yang berdasarkan
pada karakteristik kondisi fisik dan wilayahnya.

Bahaya (hazard) adalah suatu kejadian yang mempunyai potensi untuk menyebabkan terjadinya
kecelakaan, cedera, hilangnya nyawa atau kehilangan harta benda. Bahaya ini bisa menimbulkan
bencana maupun tidak. Bahaya dianggap sebuah bencana (disaster) apabila telah menimbulkan
korban dan kerugian. Kerentanan (vulnerability) adalah rangkaian kondisi yang menentukan
apakah bahaya (baik bahaya alam maupun bahaya buatan) yang terjadi akan dapat menimbulkan
bencana (disaster) atau tidak. Rangkaian kondisi, umumnya dapat berupa kondisi fisik, sosial dan
sikap yang mempengaruhi kemampuan masyarakat dalam melakukan pencegahan, mitigasi,
persiapan dan tindak-tanggap terhadap dampak bahaya.Jenis-jenis kerentanan :
1. Kerentanan Fisik : Bangunan, Infrastruktur, Konstruksi yang lemah.

2. Kerentanan Sosial : Kemiskinan, Lingkungan, Konflik, tingkat pertumbuhan yang tinggi,


anak-anak dan wanita, lansia.

3. Kerentanan Mental : ketidaktahuan, tidak menyadari, kurangnya percaya diri, dan lainnya.
Kapasitas (capacity) adalah kemampuan untuk memberikan tanggapan terhadap situasi tertentu
dengan sumber daya yang tersedia (fisik, manusia, keuangan dan lainnya). Kapasitas ini bisa
merupakan kearifan lokal masyarakat yang diceritakan secara turun temurun dari generasi ke
generasi. Resiko bencana (Risk) adalah potensi kerugian yang ditimbulkan akibat bencana pada
suatu wilayah dan kurun waktu tertentu yang dapat berupa kematian, luka, sakit, jiwa terancam,
hilangnya rasa aman, mengungsi, kerusakan atau kehilangan harta, dan gangguan kegiatan
masyarakat. , akibat kombinasi dari bahaya, kerentanan, dan kapasitas dari daerah yang
bersangkutan. Menghitung Resiko bencana di suatu wilayah berdasarkan pada penilaian bahaya,
kerentanan dan kapasitas di wilayah tersebut. Menghitung resiko bencana menggunakan
persamaan sebagai berikut :

Risk (R) = H xV/ C

Keterangan : H= Bahaya, R= Resiko Bencana, V= Kerentanan, C= Kapasitas

Setelah melakukan resiko bencana, yang harus kita lakukan ialah melakukan tindakan untuk
mengurangi resiko bencana tersebut. Tindakan yang dilakukan bertujuan untuk mengurangi
kerentanan dan menambah kapasitas sebuah daerah. Kegiatan yang dapat dilakukan untuk
menguarangi resiko bencana antara lain :

1.Relokasi penduduk dari daerah rawan bencana, misal memindahkan penduduk yang berada
dipinggir tebing yang mudah longsor

2.Pelatihan-pelatihan kesiapsiagaan bencana bagi penduduk di sebuah daerah.

3.Pengkondisian rumah atau sarana umum yang tanggap bencana. 4.Bangunannya relatif lebih
kuat jika dilanda gempa.
5.Penciptaan dan penyebaran kearifan lokal tentang kebencanaan.

6.Dan lain-lain