Anda di halaman 1dari 8

NAMA: R.

YAYANG YULIA LIZA


NIM: 206172931
KELAS: FISIKA 5 B
ARTIKEL 2

UDARA
Udara adalah sumber daya yang berharga bagi kehidupan . Udara terdiri dari campuran gas
antara lain 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% gas-gas lain seperti xenon, karbon dioksida,
argon, neon, hidrogen, helium, dan kripton. Udara merupakan salah satu konsep materi dalam
Fisika yang tidak dapat terlepas dengan kehidupan sehari-hari. Udara memiliki peranan yang
sangat penting terutama dalam proses respirasi makhluk hidup. Selain itu, udara dapat
dimanfaatkan dalam berbagai kehidupan, misalnya sebagai pembangkit listrik tenaga angin.
Konsep tentang udara juga diaplikasikan dalam cara kerja beberapa peralatan, misalnya AC (Air
Conditioner) , kapal layang, dan balon udara. Kurangnya pemahaman dan penguasaan konsep
tentang udara menyebabkan terjadinya miskonsepsi tentang pemanfaatan udara dalam kehidupan
sehari-hari. Seringkali orang tidak menyadari atau bahkan tidak mengetahui bagaimana
peralatan-peralatan yang merupakan aplikasi tentang konsep udara, misalnya bayak pihak yang
belum mengetahui bagaimana AC beroperasi. Hal ini sangat ironis melihat telah menjamurnya
penggunaan AC dalam kehidupan sehari-hari.
Udara merupakan campuran berbagai gas yg tidak berwarna dan tidak berbau yang
memenuhi ruang di atas bumi Udara merujuk kepada campuran gas yang terdapat pada
permukaan bumi. Udara bumi yang kering mengandungi 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1%
uap air, karbon dioksida, dan gas-gas lain.
Kandungan elemen senyawa gas dan partikel dalam udara akan berubah-ubah dengan
ketinggian dari permukaan tanah. Demikian juga massanya, akan berkurang seiring dengan
ketinggian. Semakin dekat dengan lapisan troposfer, maka udara semakin tipis, sehingga
melewati batas gravitasi bumi, maka udara akan hampa sama sekali.
Apabila makhluk hidup bernapas, kandungan oksigen berkurang, sementara kandungan
karbon dioksida bertambah. Ketika tumbuhan menjalani sistem fotosintesa, oksigen kembali
dibebaskan.
Sifat Udara:
1. Udara berbentuk gas
2. Udara menempati ruang
3. Udara memiliki massa
4. Udara mempunyai tekanan
5. Udara memuai jika dipanaskan
6. Udara menyusut jika didinginkan

A. ATMOSFER DAN LAPISAN-LAPISANNYA


Istilah atmosfer berasal dari dua suku kata, yaitu atmos yang artinya uap atau gas
dan sphaira yang artinya lapisan. Jadi secara harfiah, atmosfer adalah berbagai macam gas yang
menyelimuti bumi. Partikel-partikel gas yang mengisi atmosfer terdiri atas tiga kelompok, yaitu
udara kering, uap air, dan aerosol (Mu’in, 2004).
Bumi kita diselubungi oleh lapisan udara yang terdiri dari berbagai unsur gas. Lapisan udara
yang menyelubungi bumi disebut atmosfer. Unsur-unsur gas yang menyusun atmosfer terutama
unsur nitrogen dan oksigen. Selain berupa gas, di atmosfer juga terdapat air (hidrometeor).
Jumlah berat seluruh atmosfer diperkirakan 5,6 x 1014 ton. Setengah dari berat tersebut berada di
bawah ketinggian 6.000 meter dari permukaan bumi. Hal ini disebabkan oleh adanya gaya
gravitasi bumi. Oleh karena itu, udara yang ada dekat dengan permukaan bumi menjadi lebih
mampat (Sugiharyanto, 2007).
Komposisi Atmosfer
a) Gas
Gas-gas yang terdapat di atmosfer terutama tersusun atas nitrogen (78,08%) dan oksigen
(20,95%). Sebagian besar oksigen di atmosfer dihasilkan oleh tumbuhan. Deforestrasi atau
penebangan hutan akan menyebabkan kadar oksigen di atmosfer berkurang. Gas lain terdapat di
atmosfer dalam jumlah sedikit, di antaranya adalah uap air (0,2-4%), karbon dioksida (0,035%),
ozon (0,000004%) dan argon (0,93%). Selain itu, di atmosfer terdapat pula partikel debu yang
terbawa oleh udara dan gas-gas polutan yang dihasilkan oleh asap kendaraan bermotor dan
industri seperti sulfur dioksida dan nitrogen oksida. Komposisi gas penyusun atmosfer dapat
dilihat pada tabel 1 (Mutiara, 2008).
b) Uap Air
Uap air berasal dari kandungan air pada hidrosfer yang menguap. Kadar uap air di atmosfer
dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu suhu dan lokasi. Semakin tinggi suhu udara, maka kandungan
air dalam udara semakin besar. Hal itu dikarenakan semakin banyak air yang menguap. Di
daerah khatulistiwa (daerah panas), kadar uap air rata-rata adalah 3%, artinya dari 1 liter udara
terdapat 3% x 1 liter = 0,03 liter uap air. Sebaliknya, di daerah kutub (daerah dingin), kadar uap
air di udara dapat mencapai 0%. Suhu yang dingin menyebabkan air hampir tidak menguap
(hampir semua air membeku) (Mikrajuddin, 2007).
Kadar uap air di atas permukaan laut, sungai, atau danau lebih tinggi daripada di atas daratan
karena di daerah tersebut lebih banyak terjadi penguapan. Kadar uap air di daerah yang memiliki
banyak laut, sungai, atau danau lebih tinggi daripada daerah gurun pasir. Gambar perubahan
wujud zat dapat dilihat pada gambar 1 (Mikrajuddin, 2007).
c) Aerosol
Aerosol berupa partikel cair atau padat yang tersuspensi di dalam gas. Ukuran partikel
aerosol antara 0,001-100 µm. Partikel-partikel yang berdiameter kurang dari 2,5 µm pada
umumnya dianggap halus dan partikel yang berdiameter lebih besar dari 2,5 µm dianggap kasar.
Aerosol yang terdiri dari partikel debu, abu, garam, dan asap juga terdapat di udara. Jenis aerosol
yang dominan di udara yang mengakibatkan pencemaran tercantum pada Tabel 2 (Mu’in, 2004).
Pada umumnya, kota-kota besar mempunyai konsentrasi aerosol yang relatif lebih tinggi
jika dibandingkan dengan di lautan. Sumber aerosol ada dua macam, yaitu primer dan sekunder.
Aerosol primer, yaitu aerosol yang dikeluarkan langsung dari berbagai sumber (contoh : debu
yang terbawa oleh udara sebagai akibat adanya angin atau partikel-partikel asap yang
dikeluarkan dari cerobong asap). Aerosol sekunder mengikuti pada partikel-partikel yang
dihasilkan di dalam atmosfer yang mengalami reaksi-reaksi kimia dari komponen-komponen gas
(Mu’in, 2004).
Aerosol dengan ukuran jari-jari 0,2 µm sampai dengan 10 µm dalam proses iklim berperan
sebagai inti kondensasi (inti pengembunan) dalam pembentukan butir air di dalam awan. Tanpa
adanya inti kondensasi di atmosfer, butir air hujan akan sulit terbentuk didalam awan.
Sifat-Sifat Atmosfer
Lapisan atmosfer sebagai lapisan pelindung bumi memiliki beberapa sifat, yaitu tidak
memiliki warna, tidak berbau, dan tidak memiliki wujud, serta hanya bisa dirasakan oleh indera
perasa manusia dalam bentuk angin. Atmosfer memiliki berat sehingga dapat menyebabkan
tekanan. Atmosfer memiliki sifat elastis dan dinamis, sehingga dapat mengembang dan mengerut
hingga dapat bergerak dan berpindah (Hartono, 2007).
Struktur Atmosfer
a) Troposfer
Lapisan troposfer merupakan lapisan udara yang paling dekat dengan permukaan bumi.
Ketebalan lapisan ini mencapai 18 kilometer di daerah equator dan 8 kilometer di daerah kutub.
Sebagian besar massa atmosfer (80%) berada pada lapisan troposfer. Pada lapisan ini, setiap
kenaikan tempat 100 meter menyebabkan suhu udara akan turun ± 0,6 ºC. Hal ini dapat
dibuktikan ketika kita pergi ke daerah pegunungan, suhu udara terasa dingin. Suhu udara di
lapisan teratas troposfer mencapai -60 ºC. Sedangkan suhu udara rata-rata di permukaan air laut
untuk daerah tropis sekitar ± 27 ºC (Sugiharyanto, 2007).
Pada lapisan troposfer terjadi fenomena dan gejala cuaca seperti angin, awan, hujan,
halilintar, pelangi, dan sebagainya. Oleh karena itu, lapisan troposfer mempunyai peranan yang
penting bagi kehidupan. Di atas lapisan troposfer terdapat lapisan antara yang disebut tropopause
(Sugiharyanto, 2007).
b) Tropopause
Tropopause adalah lapisan udara yang terdapat di antara troposfer dan stratosfer. Udara
pada troposfer bagian atas sangat dingin dengan demikian lebih berat dibandingkan dengan udara
yang berada di atas tropopause, sehingga udara pada troposfer tidak dapat menembus tropopause.
Ketinggian tropopause lebih besar di ekuator daripada di daerah kutub. Tropopause terletak pada
ketinggian 18 kilometer dengan suhu -80 ºC di ekuator, sedangkan di kutub tropopause hanya
mencapai ketinggian 6 kilometer dengan suhu -40 ºC (Hartono, 2007).
c) Stratosfer
Lapisan stratosfer terletak di atas tropopause sampai pada ketinggian ± 50 kilometer. Pada
stratosfer terdapat 2 lapisan udara yang sifatnya berbeda, yakni lapisan isothermal, yaitu lapisan
udara pada ketinggian 11-22 kilometer yang suhunya seragam (± -60 ºC) dan lapisan inversi,
yaitu lapisan yang terletak pada ketinggian 20-50 kilometer di atas permukaan bumi. Suhu udara
pada lapisan ini semakin ke atas semakin meningkat, namun pada ketinggian 50 kilometer suhu
udara mencapai -5 ºC. Terjadinya peningkatan disertai penurunan suhu udara disebabkan oleh
adanya kandungan gas ozon (O3). Di atas lapisan stratosfer terdapat lapisan stratopause yang
menjadi pembatas antara stratosfer dengan mesosfer (Sugiharyanto, 2007).
d) Stratopause
Stratopause adalah bagian atmosfer yang berada di antara dua lapisan, yakni stratosfer dan
mesosfer. Stratopause adalah bagian dari atmosfer ketika suhu di stratosfer mencapai titik
tertingginya. Stratopause tidak hanya berada di bumi, namun juga di planet lain yang memiliki
atmosfer. Stratopause terletak 50-55 kilometer di atas permukaan bumi dengan tekanan atmosfer
sekitar 1/1000 tekanan di permukaan laut (Hartono, 2007).

e) Mesosfer
Lapisan mesosfer terletak pada ketinggian ± 50-85 kilometer di atas permukaan bumi.
Suhu udara pada lapisan ini semakin ke atas semakin rendah. Setiap naik 1.000 meter suhu udara
akan turun 2,5-3 ºC dan pada ketinggian 85 kilometer suhu udara mencapai -90 ºC. Di atas
mesosfer terdapat lapisan mesopause yang membatasi dengan lapisan di atasnya (thermosfer)
(Sugiharyanto, 2007)
f) Mesopause
Mesopause adalah lapisan batas antara mesosfer dan thermosfer yang memiliki temperatur
minimum. Mesopause adalah tempat terdingin di bumi dengan suhu serendah -100 ºC karena
kurangnya pemanasan dan pendinginan radiasi matahari yang sangat kuat dari karbondioksida.
Mesopause memiliki ketinggian sekitar 85-100 kilometer dari permukaan bumi (Hartono, 2007).
g) Thermosfer
Lapisan thermosfer terdapat pada ketinggian ± 85-500 kilometer di atas permukaan bumi.
Lapisan ini sering disebut lapisan panas (hot layer). Suhu udara di bagian paling atas dari lapisan
ini dapat mencapai > 1.000 ºC. Lapisan bawah dari thermosfer (85-375 kilometer) disebut
lapisan ionosfer. Lapisan ionosfer berfungsi untuk penyebaran gelombang radio (Sugiharyanto,
2007).
Lapisan ionosfer dibagi menjadi tiga lapisan, yakni lapisan ozon yang terletak antara 80-
150 kilometer dengan rata-rata 100 kilometer diatas permukaan laut. Lapisan ini merupakan
tempat terjadinya proses ionisasi tertinggi. Lapisan ini dinamakan pula dengan lapisan ozon yang
mempunyai sifat memantulkan gelombang radio. Suhu udara pada lapisan ini berkisar antara -70
ºC sampai +50ºC. Lapisan kedua adalah lapisan udara F yang terletak antara 150-400 kilometer.
Lapisan ini dinamakan pula dengan lapisan udara appleton. Lapisan ketiga adalah lapisan udara
atom dimana materi-materi berada dalam bentuk atom. Letak lapisan ini antara 400-500
kilometer di atas permukaan laut. Lapisan udara ini menerima panas langsung dari matahari, dan
suhunya dapat mencapai 1200 ºC (Hartono, 2007).

B. SUHU, TEKANAN DAN KELEMBABAN


Suhu

Suhu merupakan salah satu faktor lingkungan fisik selain faktor lainnya. Penurunan maupun
peningkatan suhu lingkungan akan berperan penting pada kehidupan manusia.
Suhu menunjukkan derajat panas benda. Mudahnya, semakin tinggi suhu suatu benda, semakin
panas benda tersebut. Secara mikroskopis, suhu menunjukkan energi yang dimiliki oleh suatu
benda. Setiap atom dalam suatu benda masing-masing bergerak, baik itu dalam bentuk
perpindahan maupun gerakan di tempat getaran. Makin tingginya energi atom-atom penyusun
benda, makin tinggi suhu benda tersebut.
Sebuah peta global jangka panjang suhu udara permukaan rata-rata bulanan dalam proyeksi
Mollweide.
Suhu juga disebut temperatur yang diukur dengan alat termometer. Empat macam termometer
yang paling dikenal adalah Celsius, Reumur, Fahrenheit dan Kelvin.
Karena dari Kelvin ke derajat Celsius, Kelvin dimulai dari 273 derajat, bukan dari -273 derajat.
Dan derajat Celsius dimulai dari 0 derajat. Suhu Kelvin sama perbandingan nya dengan derajat
Celsius yaitu 5:5, maka dari itu, untuk mengubah suhu tersebut ke suhu yang lain, sebaiknya
menggunakan atau mengubahnya ke derajat Celsius terlebih dahulu, karena jika kita
menggunakan Kelvin akan lebih rumit untuk mengubahnya ke suhu yang lain.

TEKANAN
Tekanan (P) adalah satuan fisika untuk menyatakan gaya (F) per satuan luas (A)
Satuan tekanan sering digunakan untuk mengukur kekuatan dari suatu cairan atau gas.
Satuan tekanan dapat dihubungkan dengan satuan volume (isi) dan suhu. Semakin tinggi tekanan
di dalam suatu tempat dengan isi yang sama, maka suhu akan semakin tinggi. Hal ini dapat
digunakan untuk menjelaskan mengapa suhu di pegunungan lebih rendah dari pada di dataran
rendah, karena di dataran rendah tekanan lebih tinggi. Akan tetapi pernyataan ini tidak
selamanya benar atau terkecuali untuk uap air, uap air jika tekanan ditingkatkan maka akan
terjadi perubahan dari gas kembali menjadi cair. (dikutip dari wikipedia : kondensasi). Rumus
dari tekanan dapat juga digunakan untuk menerangkan mengapa pisau yang diasah dan
permukaannya menipis menjadi tajam. Semakin kecil luas permukaan, dengan gaya yang sama
akan dapatkan tekanan yang lebih tinggi.
Jenis Tekanan :
Tekanan Zat Padat
Tekanan merupakan besarnya gaya yang bekerja per satuan luas.
Tekanan Zat Cair
Jika kamu amati kondisi air di danau dan di sungai, kamu dapat melihat bahwa air di danau akan
lebih tenang dibandingkan air di sungai. Mengapa demikian? Karena air di danau itu diam,
sedangkan air di sungai akan terus mengalir. Air mengalir akibat adanya perbedaan tekanan
sehingga dapat dikatakan bahwa air sungai memiliki tekanan. Lalu, apakah air danau yang diam
dapat dikatakan tidak memiliki tekanan? Ternyata, tidak demikian. Air yang diam pun memiliki
tekanan yang disebabkan oleh zat cair yang berada pada kedalaman tertentu, disebut dengan
tekanan hidrostatis. Besarnya tekanan hidrostatis bergantung pada ketinggian zat cair, massa
jenis zat cair, dan percepatan zat cair.
KELEMBABAN
Definisi kelembaban udara adalah banyaknya kandungan uap air di udara (atmosfer).
Udara atmosfer adalah campuran dari udara kering dan uap air. Kelembaban udara ditentukan
oleh banyaknya uap air dalam udara. Kalau tekanan uap air dalam udara mencapai maksimum .
maka mulailah terjadi pengembunan. Temperature dimana terjadi pengembunan disebut titik
embun.
Tingkat kelembaban bervariasi menurut suhu. Semakin hangat suhu udara, semakin
banyak uap air yan dapat ditampung. Semakin rendah suhu udara, semakin sedikit jumlah uap air
yang dapat ditampung. Jadi pada siang hari yang panas dapat menjadi lebih lembab
dibandingkan dengan hari yang dingin. Kemampuan udara untuk menampung uap air
dipengaruhi oleh suhu. Jika udara jenuh uap air dinaikkan suhunya, maka udara tersebut menjadi
tidak jenuh uap air. Sebaliknya, jika udara tidak jenuh uap air suhunya diturunkan dan kerapatan
airnya dijaga konstan, maka udara tersebut akan mendekati kondisi jenuh uap air. Jadi ketika
udara hangat naik dan mulai mendingin, lama kelamaan akan kehilangan kemampuan untuk
menahan / menampung uap air.
Pada kondisi tekanan/kerapatan uap air jenuh, maka udara tidak dapat lagi menampung
tambahan uap air. Suhu pada saat udara mencapai kondisi jenuh uap air disebut SUHU TITIK
EMBUN (dew-point temperature). Pada suhu titik embun terjadi saat ea=es atau RH 100%. Bila
suhu terus turun maka uap air akan berubah menjadi air (disebut dengan KONDENSASI). Udara
dapat menampung sejumlah uap air tertentu sebelum terjadi kondensasi.
Di alam, pengembunan terjadi pada pagi hari sekitar saat terjadinya suhu udara minimum. Proses
kondensasi ini juga terjadi di atmosfer yang tingggi (awan), yang kemudian kita alami sebagai
terjadinya hujan (presipitasi).
Kelembaban udara dapat dinyatakan sebagai kelembaban absolut, kelembaban nisbi (relatif),
maupun defisit tekanan uap air.