Anda di halaman 1dari 4

Mata Kuliah : Manajemen Keuangan 2

Kelompok 4 :
1. Moh. Ilham Fauzi ( )
2. Achmad Rosyid ( )
3. Abdul Ghoni ( )
4. M. Maulana Habib ( )
5. Abdur Rohman ( )

Materi Leverage dan Struktur Modal

1. LEVERAGE
1) Pengertian Leverage
a) Penggunaan asset dan sumber dana oleh perusahaan yang memiliki biaya tetap
dengan maksud agar meningkatkan keuntungan potensial pemegang saham.
(menurut manajemen keuangan)
b) Pengguna aktiva atau dana dimana untuk penggunaan tersebut perusahaan harus
menutup biaya tetap atau membayar beban tetap. (Bambang Riyanto (2001:375)).

2) Tujuan Penggunaan Leverage


untuk meningkatkan dan memaksimalkan kekayaan dari pemilik perusahaan
itu sendiri. untuk memenuhi kebutuhan dana, dapat menggunakan modal sendiri dan
juga dari hutang atau modal pinjaman. Menggunakan modal dari pinjaman harus
membayar bunga secara rutin yang merupakan beban tetap. Leverage timbul karena
perusahaan menggunakan aktiva tetap yang menyebabkan harus membayar biaya
tetap dan menggunakan hutang yang harus membayar biaya bunga atau beban tetap.

3) Jenis- jenis Leverage


a) Operating Leverage (Pengungkit Operasi)
Penggunaan aktiva dengan biaya tetap yang bertujuan untuk menghasilkan
pendapatan yang cukup untuk mengukur biaya tetap dan variabel serta dapat
meningkatkan profitabilitas. Leverage opererasi dapat mengukur perubahan
pendapatan atau penjualan terhadap keuntungan operasi perusahaan. Menurut
Mamduh M. Hanafi (2004:327) Operating leverage diartikan sebagai seberapa
besar perusahaan menggunakan beban tetap operasional. Operating leverage
ditentukan oleh hubungan antara sales revenue yang diperoleh perusahaan dengan
laba sebelum bunga dan pajak (EBIT). Analisis operating leverage dapat
membantu pimpinan perusahaan dalam mengambil keputusan sejauh mana
peningkatan penjualan berpengaruh terhadap laba operasi perusahaan. Besar
kecilnya operating leverage diukur dengan degree of operating leverage (DOL),
yaitu diukur dengan rumus :

1
DOL PADA X = % PERUBAHAN EBIT
% PERUBAHAN PENJUALAN

b) Financial Leverage (Pengungkit Keuangan)


Menurut Mamduh M. Hanafi (2004:332) besarnya beban tetap keuangan
yang digunakan oleh perusahaan beban tetap keuangan tersebut biasanya berasal
dari pembayaran bunga untuk utang yang digunakan oleh perusahaan. Leverage
keuangan mengukur pengaruh perubahan keuangan operasi terhadap perubahan
pendapatan bagi pemegang saham yang pada akhirnya akan berpengaruh terhadap
pendapatan per lembar saham. Oleh karena itu leverage keuangan berkaitan
dengan laba perusahaan sebelum bunga dan pajak serta pendapatan saham biasa
per lembar.
Finansial leverage dibedakan menjadi 2 yaitu :
 Financial structure (struktur keuangan) : menunjukkan bagaimana perusahaan
membelanjai aktivanya. Financial structure tampak ada neraca sebelah kredit,
yang terdiri atas utang lancar, utang jangka panjang dan modal.
 Capital structure (struktur modal) : merupakan bagian dari struktur keuangan
yang hanya menyangkut pembelanjaan yang sifatnya permanen atau jangka
panjang. Struktur modal ditunjukkan oleh komposisi: utang jangka panjang,
saham istimewa, saham biasa dan laba ditahan.

4) Kesimpulan
Adanya leverage dapat meningkatkan dan memaksimalkan kekayaan dari pemilik
perusahaan itu sendiri.untuk memenuhi kebutuhan dana, dapat menggunakan
modal sendiri dan juga dari hutang atau modal pinjaman., Leverage timbul karena
perusahaan menggunakan aktiva tetap yang menyebabkan harus membayar biaya
tetap dan menggunakan hutang yang harus membayar biaya bunga atau beban
tetap.Teori struktur modal menjelaskan kebijakan pembelanjaan jangka panjang
dapat mempengaruhi nilai modal perusahaan, biaya modal perusahaan, dan harga
pasar saham perusahaan. Kebijakan deviden merupakan sebuah bagian dari
beberapa pendanaan perusahaan. Dimana ada beberapa pendanaan yang diberikan
pada pemegang saham dan juga ada laba ditahan yang merupakan laba yang
masih menjadi aset perusahaan.

2
2. STRUKTUR MODAL

A. Pengertian struktur modal


Menurut manajemen keuangan pembelanjaan jangka panjang suatu
perusahaan yang diukur dengan perbandingan utang jangka panjang dengan modal
sendiri. Teori struktur modal menjelaskan kebijakan pembelanjaan jangka panjang
dapat mempengaruhi nilai modal perusahaan, biaya modal perusahaan, dan harga
pasar saham perusahaan.
Struktur Modal adalah perimbangan atau perbandingan antara modal asing
dan modal sendiri. Modal asing diartikan dalam hal ini adalah hutang baik jangka
panjang maupun dalam jangka pendek. Sedangkan modal sendiri bisa terbagi atas
laba ditahan dan bisa juga dengan penyertaan kepemilikan perusahaan.
Struktur Modal merupakan masalah penting dalam pengambilan keputusan
mengenai pembelanjaan perusahaan. Untuk mengukur Struktur Modal tersebut maka
dapat digunakan beberapa Teori yang menjelaskan Struktur Modal dalam suatu
Perusahaan.

B. Faktor Faktor yang Mempengaruhi Struktur Modal


1. Tingkat Penjualan
Perusahaan dg penjualan stabil, cashflow relatif stabil, shg dpt
menggunakan hutang relatif besar
2. Struktur Aktiva
Perusahaan dg aktiva tetap besar (sbg kolateral) dpt menggunakan hutang
relatif besar
3. Tingkat Pertumbuhan Perusahaan
Semakin cepat pertumbuhan perusahaan, semakin besar kebutuhan dana
untuk ekspansi.
4. Profitabilitas
Pecking order theory menyatakan, bahwa urutan pembiayaan ; laba
ditahan → hutang → jual saham baru (utk menghindari pengawasan eksternal)
5. Variabel Laba & perlindungan pajak (tax shield)
Jika variabilitas laba kecil, besar kemampuan menanggung beban tetap
dari hutang. Penggunaan hutang memberi manfaat perlindungan pajak.
6. Skala perusahaan
Perusahaan besar memiliki akses besar masuk pasar modal, shg ada
korelasi positif antara skala perusahaan dg debt to book value of equity ratio.

3
7. Kondisi intern perusahaan & ekonomi makro
Saat yg tepat menjual saham/obligasi; tingkat bunga pasar rendah & pasar
bursa sdgbullish (lawan dari bearish)

C. Keputusan Struktur Modal dalam Praktik

Analisis EBIT – EPS.


Melalui analisis ini manajemen dapat melihat dampak dari berbagai
alternatif pendanaan terhadap EPS ( Earning per share ) pada tingkatan EBIT (
Earning Before Interest and Tax ) yang bervariasi. Yang dimaksud dengan EPS
adalah laba bersih sesudah pajak atau Earning After Tax ( EAT ) dibagi jumlah
lembar saham perusahaan yang beredar.

Pada analisis ini, hubungan antara EBIT dan EPS dapat dicari dengan cara
1. Menghitung EPS pada berbagai alternatif pendanaan untuk EBIT tertentu ,
dan
2. Mengulang lankah pertama untuk EBIT yang berbeda – beda. Hasilnya
kemudian digambarkan dalam grafik EBIT-EPS.

Indifference point memberikan masukan penting bagi manajemen dalam


memilih alternatif pembelanjaan, Jika expected EBIT lebih besar dari indifference
point, perusahaan sebaiknya menggunakan hutang. Jika sebaliknya, menggunakan
saham akan lebih menguntungkan. Perlu dicatat bahwa keputussan ini bisa salah
jika actual EBIT tidak besar yang diharapkan. Oleh karena itu, didalam
mengambil keputusan, manajemen harus memperhatikan juga deviasi standard (
tingkat variabilitas ) EBIT perusahaan. Expected dan deviasi standard EBIT dapat
dicari dengan mengembangkan sejumlah skenario tentang EBIT dimasa
mendatang beserta dengan probabilita terjadinya. Jika deviasi standard EBIT
relatif besar, manajemen harus lebih hati – hati karena expected EBIT menjadi
kurang dapat dipercaya. Sebaiknya manajemen memutuskan menggunakan
hutang hanya bila ecpected EBIT cukup jauh di atas indifference point.

EAT ( saham ) EAT ( hutang )


= Jumlah saham Jumlah saham
( EBIT* - C1) ( 1 – T ) (EBIT* - C2 ) ( 1 – T) = S1 S2

Dimana:
EBIT * = Indifferent point
C1 = Biaya bunga pada alternatif pembelanjaan 1
C2 = Biaya bunga pada alternatif pembelanjaan 2
S1 = Jumlah saham pada alternatif pembelanjaan 1
S2 = Jumlah saham pada alternatif pembelanjaan 2
T = Tingkat pajak
4