Anda di halaman 1dari 25

LAPORAN TUTORIAL

Blok 21 Perawatan Kelainan


Tumbuh Kembang dan Estetik

SKENARIO 3 : Analisa Kebutuhan Ruang


Tutor : Dr. drg. Erna Sulisyani, M.Kes

Kelompok Tutorial 5
Anggota Kelompok :
1. Ghafran Nailul Farchi (161610101041)
2. Sunana Ageng Hikmawati (161610101042)
3. Nafra Glenivio Agretdie (161610101043)
4. Khairunnisa Fadhilatul Arba (161610101044)
5. Firmansyah Adi Pradana (161610101045)
6. Liyathotun Fatimah (161610101046)
7. Hamy Rafika Pratiwi (161610101047)
8. Shintia Dwi Pramesty (161610101048)
9. Endang Nur Hidayati (161610101049)
10. Windy Nanda Eriyati (161610101050)

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI


UNIVERSITAS JEMBER
2019
1

SKENARIO 3. ANALISA KEBUTUHAN RUANG

Seorang ibu dengan kewarganegaraan Indonesia dan suku Jawa datang ke


RSGM bersama 2 orang anaknya yang berusia sang kakak laki – laki 17 tahun dan
adiknya perempuan 9 tahun bertujuan ingin memeriksakan gigi kedua anaknya
yang saling tumpang tindih dan maju. Dari pemeriksaan kliniskakaknya seluruh
gigi permanen pengganti sudah erupsi sempurna, sedangkan si adik masih dalam
fase geligi pergantian. Selanjutnya untuk menentukan analisa kasus serta
kebutuhan ruang pasien tersebut dokter melakukan pencetakan model studi serta
merujuk pasien untuk melakukan foto rontgen. Pada kedua pasien tersebut untuk
menentukan macam perawatan dokter akan melakukan analisa kebutuhan ruang
dengan metode yang berbeda.

STEP 1 (Clarifying UnfamiliarTerms)

1. Diskrepansi Ruang
Diskrepansi : adalah ketidaksesuaian atau ketidakcocokan
Ruang : adalah tempat
Jadi diskrepansi ruang adalah Ketidasesuaian tempat yang ada di rongga
mulut atau selisih ruang tersedia dan ruang yang dibutuhkan.
2. Model studi
Model : adalah cetakan gigi atau representasi objek
Studi : adalah kajian
Jadi model studi adalah cetakan rongga mulut untuk mengkaji morfologi
dan kasus sebagai penentuan diagnosa dan rencana perawatan.
Model studi merupakan representasi benda dalam hal ini rongga mulut
untuk menegakkan diagnosa dan rencana perawatan
3. Analisis Kebutuhan Ruang
Analisa : adalah sebuah usaha untuk mengamati secara detail dan dikaji
lebih dalam
2

Jadi analisis kebutuhan ruang merupakan usaha untuk mengamati secara


detail dan dikaji lebih dalam mencari perbedaan ruang yang tersedia dan
ruang yang dibutuhkan atau merupakan analisa sebuah.
4. Fase Geligi Pergantian merupakan tahapan erupsi gigi permanen dan
tanggalnya gigi sulung.
5. Foto Rontgen merpakan
Foto : adalah gambaran diang yang dihasilkan oleh suatu alat yang
merekam dalam waktu tertentu
Rontgen : adalah alat potert dengan radiasi gelombang elektromagnetik
sinar X yang dapat menembus bagian – bagian dalam tubuh.

STEP 2 (Problem Identification)

1. Apa hubungan kewarganegaraan dengan analisis kebutuhan ruang?


2. Apa fungsi model studi untuk analisis kebutuhan ruang?
3. Mengapa foto rontgen penting untuk melakukan analisis kebutuhan ruang?
4. Metode analisis apa saja yang bisa digunakan?
5. Mengapa dilakukan metode analisis yang berbeda?
6. Faktor apa yang menajdi pertimbangan rencana perawatan?

STEP 3 (Brainstorming)

1. Apa hubungan kewarganegaraan dengan analisis kebutuhan ruang?


Hubungan kewarganegaraan harus diketahui karena lebar Mesial-Distal
dari masing – masing kewarganegaraan berbeda dan metode analisa yang
digunakan juga berbeda. Misal pada Indonesia memakai Tabel Sitepu yang
sebagian besar digunakan di Melayu
Hubungan kewarganegaraan juga digunakan untuk memprediksi
kebutuhan ruangnya.
3

2. Apa fungsi model studi untuk analisis kebutuhan ruang?


Fungsi dari model studi adalah :
- Untuk mempermudah analisayaitu menghitung pengukuran,
meneggakan diagnosa dan menentukan rencana perawatan.
- Melihat overjet dan overbite
- Melihat relasi moral dan caninus
- Melihat apakah ada pergeseran garis median
- Mengukur lebar M-D gigi RA dan RB
- Menegakkan diagnosa dan apakah akan dilakukan pencabutan atau
ekspansi saja
Diskrepansi < 4mm : tidak dilakukan pencabutan
Diskrepansi 5 – 9 mm : border line. Boleh dilakukan pencabutan boleh
tidak
Diskrepansi >10 mm : dilakukan pencavutan
3. Mengapa foto rontgen penting untuk melakukan analisis kebutuhan ruang?
- Biasanya dilakukan pada anak – anak usia 9 tahun atau pada fase gigi
geligi pergantian
- Untuk mengetahui ukuran lebar M-D gigi yang belum erupsi
- Perhitungan dapat dibandingkan antara gigi yang ada di model dengan
gigi yang ada di foto rontgen
- Untuk membantu analisis
- Untuk mengetahui ada tidaknya benih dan waktu erupsi

4. Metode analisis apa saja yang bisa digunakan?


a. Metode Nance : untuk analisa gigi geligi pergantian dan permanen
b. Metode Moyers : pada gigi geligi pergantian, untuk melihat ukuran
lebar M-D anterior permanen
c. Metode Sitepu : mirip metode moyers, cenderung melihat RA
d. Metode Bolton : pada gigi geligi permanen . untuk menentukan rasio
anterior dan rasio total
e. Metode Lundstorm : pada gigi geligi permanen
4

f. Metode Howes : pada gigi geligi permanen

5. Mengapa dilakukan metode analisis yang berbeda?


Karena pada skenario kedua pasien tersebut mengalami fase gigi geligi
yang berbeda sehingga menggunakan metode yang berbeda atau bisa saja
sama.
Pada fase gigi geligi pergantian butuh evaluasi penyesuaian gigi – gigi
pergantian.

6. Faktor apa yang menajdi pertimbangan rencana perawatan?


- Foto rontgen
- Model studi
- Kemampuan operator
- Alat ukur
5

STEP 4 (Mapping)

Analisis
Kebutuhan
Ruang

Indikator

Macam –
Cara
macam Metode
Perhitungan
Analisis
Kebutuhan Alat
Ruang

Available Space
Diskrepansi

Required Space
6

STEP 5 (Learning Objective)

1. Mahasiswa Mampu Memahami Konsep, Tujuan, Fungsi Analisa


Kebutuhan Ruang
2. Mahasiswa Mampu Memahami Macam – macam Metode Analisa
Kebutuhan Ruang Sesuai Kasus Yang Terjadi
3. Mahasiswa Mampu Memahami Macam - macam Rencana Perawatan
Ortodonti

STEP 6 (Self Study)

STEP 7 (Reporting/ Generalisation)

1. Mahasiswa Mampu Memahami Konsep, Tujuan, Fungsi Analisa


Kebutuhan Ruang
A. Konsep analisa kebutuhan ruang
Analisis kebutuhan ruang merupakan prosedur pengukuran ruang yang
dibutuhkan dalam setiap lengkung (Almuzian, 2013). Berikut beberapa hal
yang berkaitan dengan analisis kebutuhan ruang yaitu:
- Diskrepansi ruang adalah ketidakseimbangan antara ruang yang
dibutuhkan dengan ruang yang tersedia pada lengkung gigi pada masa
gigi pergantian.
- Ruang yang dibutuhkan (Required space) adalah jumlah lebar
mesiodistal gigi kaninus, premolar satu dan premolar kedua yang belum
erupsi/sudah erupsi, serta keempat gigi insisivus.
- Ruang yang tersedia (Available space) adalah ruang di sebelah mesial
molar pertama permanen kiri sampai mesial molar pertama permanen
kanan yang akan ditempati oleh gigi-gigi permanen pada kedudukan
yang benar yang dapat diukur pada model studi.
7

Analisis ruang diperlukan untuk membandingkan antara ruang yang


tersedia dan ruang yang dibutuhkan untuk mengatur gigi sebagaimana
mestinya. Perbandingan antara ruan yang tersedia dan ruang yang
dibtuhkan ditentukan, apakah di dalam lengkung terjadi kekurangan ruang
yang akhirnya terjadi crowding, ataukah tersedia cukupruang untuk
menampung gigi – gigi atau kelebihan ruang yang akan membuat celah di
antara gigi – gigi (Laviana, 2009).

B. Tujuan prosedur analisa kebutuhan ruang


- Untuk menentukan rencana perawatan dimana terdapat masalah
kekuranga
- Untuk memutuskan apakah akan dilakukan pencabutan atau
memperluas lengkung gigi/ekspansi
- Untuk mengetahui perbedaan ukuran gigi antara mandibula dan maxilla
- Untuk membantu dalam mempertimbangkan hubungan overbite dan
overjet yang terjadi
- Untuk mengidentifikasi oklusi yang tidak tepat karena ukuran gigi yang
tidak sesuai (Laviana, 2009).

C. Faktor pertimbangan analisa kebutuhan ruang


a. Letak benih dan waktu erupsi (biasanya bisa di periksa menggunakan
foto rontgen.
b. Besar lengkung rahang (menggunakan brush wire.
c. Besar (ukuran) gigi geligi (menggunakan jangka sorong
d. Usia pasien
Pencatatan umur diperlukan untuk :
- Mengetahui apakah pasien masih dalam masa pertumbuhan atau
sudah berhenti
- Pertumbuhan gigi-geligi masih termasuk periode gigi susu/ decidui,
campuran/mixed atau tetap/ permanent.
8

- Gigi yang sudah erupsi sudah sesuai dengan umur pasien (menurut
umur erupsi gigi).
- Menetapkan jenis alat ortodontik yang tepat untuk digunakan (alat
cekat atau lepasan, alat aktif atau fungsional)
- Untuk memperkirakan waktu /lama pe rawatan yang diperlukan.
Apakah perawatan bisa segera dilaksanakan atau harus ditunda,
berapa lama dibutuhkan perawatan aktif dan berapa lama
diperlukan untuk periode retensi.
e. Jenis kelamin
f. Ras atau suku : Pencatatan suku bangsa diperlukan karena suatu
kelompok suku bangsa atau ras tertentu akan mempunyai ciri-ciri
spesifik yang masih termasuk normal untuk kelompok tersebut
(misalnya suku bangsa Negroid sedikit protrusif masih termasuk
normal).
g. Analisis model studi : Analisi model studi adalah penilaian tiga dimensi
terhadap gigi geligi pada rahang atas maupun rahang bawah, serta
penilaian terhadap hubungan oklusalnya. Kedudukan gigi pada rahang
maupun hubungannya dengan geligi pada rahang lawan dinilai dalam
arah sagital, transversal, dan vertikal. Analisis model studi secara
umum dilakukan dalam tiga dimensi yaitu dalam arah:
- Sagital, meliputi: hubungan molar pertama, kaninus, dan insisif
tetap, yaitu maloklusi kelas I, kelas II, atau kelas III Angle; ukuran
overjet, prognati atau retrognati maksila maupun mandibula, dan
crossbite anterior.
- Transversal, meliputi: pergeseran garis median, asimetri wajah,
asimetri lengkung gigi, dan crossbite posterior
- Vertikal, meliputi: ukuran overbite, deepbite, openbite anterior
maupun posterior, dan ketinggian palatum (Laviana, 2009).

2. Mahasiswa Mampu Memahami Macam Metode Analisa Kebutuhan


Ruang Sesuai Kasus Yang Terjadi
9

A. Metode di Gigi Geligi Permanen


a. Metode Nance/Analisis Arch Length Discrepancy (ALD)
Analisis ALD merupakan salah satu cara penetapan kebutuhan ruang
untuk pengaturan gigi-gigi dalam perawatan ortodontik. Analisis ini juga
merupakan penyederhanaan dari metode analisis Set up model yang
dikemukakan oleh Kesling (1956). Tujuan analisis ini adalah untuk
mengetahui perbedaan panjang lengkung rahang dengan panjang lengkung
gigi sehingga diketahui berapa selisihnya agar dapat ditentukan indikasi
perawatannya (Laviana, 2009).
Metode ini mempunyai prinsip dasar yang sama dengan metode
Kesling, yaitu menetapkan diskrepansi antara lengkung gigi yang
direncanakan dengan besar gigi yang akan ditempatkan pada lengkung
tersebut pada saat melakukan koreksi maloklusi. Perbedaannya adalah,
pada metode Kesling dilakukan langsung pada model dengan memisahkan
gigi - gigi yang akan dikoreksi dengan cara menggergaji masing - masing
mahkota gigi dari bagian processus alveolarisnya setinggi 3 mm dari
marginal gingiva, kemudian menyusun kembali pada posisi yang benar.
Diskrepansi ruang dapat diketahui dari sisa ruang untuk penempatan gigi
Premolar pertama dengan lebar mesiodistal gigi tersebut untuk masing -
masing sisi rahang (Laviana, 2009).
Pada metode determinasi lengkung dilakukan dengan cara tidak
langsung yaitu dengan mengukur panjang lengkung ideal yang
direncanakan pada plastik transparan di atas plat gelas, kemudian
membandingkan dengan jumlah lebar mesiodistal gigi yang akan
ditempatkan pada lengkung tersebut. Dengan metode ini perencanaan
perawatan akan lebih mudah dilakukan karena tidak perlu membuat model
khusus (Set up model), jadi langsung bisa dilakukan pada model studi
(Laviana, 2009).
Langkah pertama dalam analisis ini adalah mengukur lebar mesial
distal terbesar gigi menggunakan jangka berujung runcing atau jangka
sorong. Analisis Nance mengukur mesial distal setiap gigi yang berada di
10

mesial gigi molar pertama permanen atau ukuran lebar mesiodistal gigi
geligi ditentukan dengan mengukur jarak maksimal dari titik kontak
mesial dan distal gigi pada permukaan interproksimalnya ataupun diukur
pada titik kontak gigi yang bersinggungan dengan titik kontak gigi
tetangganya. Jumlah lebar total menunjukkan ruangan yang dibutuhkan
untuk lengkung gigi yang ideal. Pengukuran dilakukan pada gigi molar
pertama kiri sampai molar kedua kanan pada setiap rahang (Laviana,
2009).

Gambar 1. Cara pengukuran lebar mesiodistal gigi dengan


menggunakan caliper menurut Nance. Sumber: Laviana, Avi. Analisis
model studi, sumber informasi penting bagi diagnosis ortodontik.
Bandung: FKG Universitas Padjadjaran. 2009.

Selanjutnya panjang lengkung rahang diukur menggunakan


kawat lunak seperti brass wire atau kawat kuningan. Kawat ini dibentuk
melalui setiap gigi, pada geligi posterior melalui permukaan
oklusalnya sedangkan pada geligi anterior melalui tepi insisalnya.
Jarak diukur mulai mesial kontak molar pertama permanen kiri hingga
11

kanan. Penilaian dilakukan dengan cara membandingkan ukuran panjang


lengkung gigi ideal dengan panjang lengkung rahang. Jika hasilnya
negatif berarti kekurangan ruangan, jika hasilnya positif berarti terdapat
kelebihan ruangan (Laviana, 2009).

Gambar 2. Pengukuruan panjang lengkung menurut Nance menggunakan


brass wire melibatkan gigi geligi di mesial molar pertama. A. Rahang
atas, B. Rahang bawah. Sumber: Laviana, Avi. Analisis model studi,
sumber informasi penting bagi diagnosis ortodontik. Bandung: FKG
Universitas Padjadjaran. 2009.

Keuntungan (Laviana, 2009):

 Dapat digunakan untuk fase geligi pergantian karena lengkung yang


digunakan dapat diukur dengan brushwire meskipun kondisi rahang
sedang dalam fase perkembangan.

 Metode ini dapat digunakan pada kondisi rahang yang telah tumbuh
sempurna karena fase gigi permanen telah tumbuh sempurna.
b. Metode Lundstorm (Segmental)
Metode ini dapat digunakan apabila terdapat beberapa gigi yang
letaknya tidak sesuai dengan lengkung geligi, contohnya adanya gigi-gigi
yang mengalami rotasi maupun versi. Lengkung rahang dibagi menjadi 6
12

segment masing-masing 3 segmen pada regio kiri dan kanan. Pembagian


segmen bisa dilihat pada gambar (Laviana, 2009).
Prosedur :
1. Membagi lengkung gigi menjadi enam segmen, dengan dua gigi
persegmen, termasuk gigi molar permanen pertama
2. Mengukur panjang lengkung gigi dengan menjumlahkan ukuran
mesiodistal gigi untuk rahang atas: 16-26, rahang bawah: 36-46
- Diukur satu persatu menggunakan jangka yang kedua
ujungnyaruncing ke arah lebar gigi yang paling besar
(aproksimal/mesiodistal).Posisi jangka dari arah atas tegak lurus
kepada daerah tersebut.
- Pada garis lurus yang telah disediakan pada status atau dapat
dibuatsendiri, masing-masing pengukuran gigi dipindahkan dan
dijumlahkan.
3. Menjumlahkan lebar masing-masing gigi pada setiap segmen
4. Mengukur ruangan mesiodistal yang tersedia pada studi model
setiapsegmen
- Pengukuran dengan jangka yang kedua ujungnya runcing, dari
mesialmolar kedua kanan pada puncak papil gusi pada tiap segmen
- Pada garis lurus yang telah disediakan pada status atau dapat
dibuatsendiri, masing-masing pengukuran rahang dipindahkan
dandijumlahkan
5. Selisih antara keduanya menunjukkan keadaan ruangan yang tersisa.
(Laviana, 2009).
13

Gambar 3. Teknik pengukuran panjang lengkung rahang secara segmental


menurut Lundstrom.

c. Metode Bolton
Bolton mempelajari pengaruh perbedaan ukuran gigi rahang bawah
terhadap ukuran gigi rahang atas dengan keadaan oklusinya. Rasio yang
diperoleh membantu dalam mempertimbangkan hubungan overbite dan
overjet yang mungkin akan tercapai setelah perawatan selesai, pengaruh
pencabutan pada oklusi posterior dan hubungan insisif, serta oklusi yang
tidak tepat karena ukuran gigi yang tidak sesuai. Rasio keseluruhan
diperoleh dengan cara menghitung jumlah lebar 12 gigi rahang bawah
dibagi dengan jumlah 12 gigi rahang atas dan dikalikan100. Rasio
keseluruhan sebesar91,3 berarti sesuai dengan analisisBolton, yang akan
menghasilkan hubungan overbite dan overjet yang ideal. Jika rasio
keseluruhan lebih dari 91,3 maka kesalahan terdapat pada gigi rahang
bawah. Jika rasio kurang dari 91,3 berarti kesalahan ada pada gigirahang
atas. Pada tabel Bolton diperlihatkan gambaran hubungan ukuran gigi
rahang atas dan rahang bawah yang ideal. Pengurangan antara ukuran gigi
yang sebenarnya dan yang diharapkan menunjukkan kelebihanukuran gigi.
14

Rasio anterior diperoleh dengan cara menghitung jumlah lebar 6 gigi


rahang bawah dibagi dengan jumlah 6gigi rahang atas dan dikalikan100.
Rasio anterior 77,2akan menghasilkan hubungan overbite dan overjet yang
ideal jika kecondongan gigi insisif baik dan bila ketebalan labiolingual tepi
insisaltidak berlebih. Jika rasio anterior lebihdari 77,2 berarti terdapat
kelebihan ukuran gigi-gigi pada mandibula. Jika kurang dari 77,2 maka
terdapat kelebihan jumlah ukuran gigi rahang atas (Rakosi, 1993; Proffit,
2000).

Tabel 1. Tabel Bolton digunakan untuk mengetahui ukuran ideal enam


gigi anterior dan keduabelas gigi, baik pada rahang atas maupun rahang
bawah (Rakosi, 1993).

d. Metode Howes
Metode Howes digunakan untuk mengetahui apakah basis apikal
cukup untuk memuat gigi geligi pasien. Didasarkan pada hubungan lebar
lengkung gigi dengan panjang perimeter lengkung gigi dan hubungan
basal arch dengan coronal arch.
15

Rasio = PMBAW x 100.


TM
 Panjang lengkung gigi (Tooth Material/ TM) : Jumlah lebar mesiodistal
gigi dari M1 kiri sampai dengan M1 kanan.
 Lebar lengkung basal premolar atau fosa kanina (Premolar Basal Arch
Width/ PMBAW): Diameter basis apikal dari model gigi pada apeks gigi
premolar pertama  diukur menggunakan jangka sorong atau jangka
berujung runcing.
 Rasio 44% : basis apikal cukup lebar untuk menampung semua gigi.
 Rasio < 37% : terjadi kekurangan lengkung basal  perlu pencabutan
gigi P
 Rasio >37% : dapat dilakukan ekspansi premolar.
 Rasio 37% - 44% :kasus yang meragukan, mungkin dilakukan
pencabutan gigi atau pelebaran.
Analisis Howes berguna pada saat menentukan rencana perawatan
dimana terdapat masalah kekurangan basis apikal dan untuk
memutuskan apakah akan dilakukan: (1) pencabutan gigi, (2)
memperluas lengkung gigi atau (3) ekspansi palatal. Dasar pemikirannya:
 Keadaan berjejal tidak hanya disebabkan ukuran gigi terlalu besar tetapi
juga disebabkan lengkung basal tulang rahang terlalu kecil, hanya pada
rahang atas.
 Ada hubungan lebar lengkung gigi dengan panjang perimeter lengkung
gigi
 Ada hubungan basal arch dengan coronal arch.
Howes memikirkan suatu rumusan untuk mengetahui apakah basis
apikal cukup untuk memuat gigi geligi pasien. Bertujuan untuk
menentukan rencana perawatan dimana terdapat masalah kekurangan
basis apikal dan untuk memutuskan apakah akan dilakukan pencabutan
gigi, memperluas lengkung gigi atau ekspansi (Salzmann, 1977).
16

e. Metode Pont
Pont memikirkan sebuah metoda untuk menentukan lebar lengkung
ideal yang didasarkan pada lebar mesiodistal mahkota keempat insisif
rahang atas. Pont menyarankan bahwa rasio gabungan insisif terhadap
lebar lengkung gigi melintang yang diukur dari pusat permukaan oklusal
gigi, idealnya adalah 0,8 pada fosa sentral premolar pertama dan 0,64 pada
fosa sentral molar pertama. Pont juga menyarankan bahwa lengkung
rahang atas dapat diekspansi sebanyak 1-2 mm lebih besar dari idealnya
untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya relaps. (Salzmann, 1977).

f. Metode Diagnostic Set Up/Kesling


Teknik untuk menggambarkan bagaimana mengatasi masalah
ruang dalam tiga dimensi, yaitu dengan melepaskan gigi dari tulang basal
model dan menempatkannya kembali ke dalam kedudukan yang lebih
baik. Cetakan awal tidak digunakan untuk teknik ini, tetapi disimpan untuk
model studi. Pemotongan dilakukan hingga batas tulang alveolar, lalu
dilakukan pemotongan dalam arah vertikal hingga margin gusi
menggunakan gergaji kecil sehingga memungkinkan pemecahan gips
tanpa menimbulkan kerusakan di daerah titik kontak antara dua gigi.
Selanjutnya gigi diatur menggunakan lilin sesuai dengan posisi yang
diinginkan. Untuk menjaga agar gigitan tidak berubah, dibuat gigitan lilin
dalam keadaan oklusi sentrik dan pemotongan tidak dilakukan pada
seluruh gigi. Pada saat penyusunan kembali, analisis sefalometri
digunakan untuk memperkirakan letak dan angulasi gigi insisif.
Diagnostic setup akan memperlihatkan jumlah ruang yang tersedia dan
yang tersisa sehingga dapat membantu dalam memilih gigi mana yang
akan diekstraksi serta bagaimana pergerakan gigi untuk menutup ruang
tersebut (Laviana, 2009).
17

Gambar 4. Model Studi Awal

Gambar 5. Gigi yang telah dipotong menggunakan tang atau gergaji


diberi tanda dengan menggunakan pensil

Gambar 6. Gigi disusun dalam lengkung ideal dengan menggunakan


malam merah
18

Gambar 7. Diagnostic set-up model (Purwono, 2016).

Kekurangan ruang dihitung apabila kekurangannya lebih dari ½


lebar P1 maka dilakukan pencabutan, namun apabila kekurangan ruang
kurang dari ½ lebar P1 maka dilakukan ekspansi (Abraham, dkk., 2010)

g. Metode Kesimetrisan Lengkung Gigi dalam Arah Sagital dan


Transversal
Lengkung gigi yang kedudukannya tidak simetris, biasanya bisa
terlihat sejak pemeriksaan estetika wajah, namun bentuk lengkung yang
tidak simetris bisa juga dijumpai pada wajah yang simetris. Pada beberapa
kasus, bisa juga dijumpai keadaan asimetri hanya pada lengkung giginya
saja, sementara lengkung rahangnya normal (Rakosi, 1993; Proffit, 2000).

Gambar 8. Penilaian kesimetrisan lengkung gigi A. Symmetograph,


B. Untuk menilai kesimetrisan lengkung gigi, kedua jarum penunjuk pada
symmetographdiletakkan pada bidang median raphe (Rakosi, 1993).
19

Cara untuk mengetahui kesimetrisan lengkung gigi pada rahang


adalah menggunakan symmetograph. Symmetograph diletakkan di atas
permukaan oklusal gigi dengan bidang orientasi mid palatal raphe lalu
kedudukan gigi di kwadran kiri dengan kanan dibandingkan dalam arah
sagital dan transveral. Berdasarkan hasil analisis ini dapat diketahui gigi
geligi di kwadran mana yang memerlukan ekspansi atau pencabutan untuk
mengembalikan kesimetrisan lengkung (Rakosi, 1993; Proffit, 2000).

B. Metode di Gigi Geligi Pergantian


a. Metode Nance
b. Analisa Gambaran Radiografi
Metoda ini memerlukan gambaran radiografi yang jelas dan tidak
mengalami distorsi. Distorsi gambaran radiografi pada umumnya lebih
sedikit terjadi pada foto periapikal dibandingkan dengan foto panoramik.
Namun, meskipun menggunakan film tunggal, seringkali sulit untuk
menghindaridistorsi terutama pada gigi yang panjang seperti kaninus,
sehingga pada akhirnya akan mengurangi tingkat akurasi (Graber, 1994).

Gambar 9. Untuk menghitung perbesaran yang terjadi dilakukan


pembandingan antara ukuran pada A. Model studi dengan, B. Gambaran
radiografi periapical (Graber, 1994).
Dengan penggunaan berbagai tipe gambaran radiografi yang
semakin umum, sangat penting untuk menghitung pembesaran yang
terjadi. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengukur obyek yang dapat
dilihat baik secara radiografi maupun pada model. Pada umumnya, gigi
yang dijadikan tolak ukur adalah molar sulung. Perbandingan sederhana
20

untuk mengetahui ukuran gigi sebenarnya yang belum erupsi adalah


sebagai berikut : perbandinganukuran lebar molar sulung sebenarnya
dengan ukuran gigi tersebut pada gambaran radiografi sama dengan
perbandingan lebar premolar tetap yang belum erupsi dengan ukuran lebar
premolar pada gambaran radiografi. Ketepatan pengukuran bergantung
pada kualitas radiografi dan kedudukan gigi di dalam lengkung. Teknik ini
juga dapat digunakan untuk gigi lain baik pada maksila maupun mandibula
(Moyers, 1988; Proffit; 2000; Graber, 1994).

c. Tabel probabilitas/ moyers


Moyers memperkenalkan suatu analisis dengan dasar pemikiran
bahwa berdasarkan studi yang dilakukan beberapa ahli, terdapat hubungan
antara ukuran kelompok gigi pada satu bagian dengan bagian lainnya.
Seseorang dengan ukuran gigi yang besar pada salah satu bagian dari
mulut cenderung mempunyai gigi-gigi yang besar pula pada tempat lain.
Berdasarkan penelitian, ukuran gigi insisif permanen rahang bawah
memiliki hubungan dengan ukuran kaninus dan premolar yang belum
tumbuh baik pada rahang atas maupun rahang bawah. Gigi insisif rahang
bawah telah dipilih untuk pengukuran pada analisis Moyers karena gigi ini
muncul lebih dulu di dalam rongga mulut pada masa geligi campuran,
mudah diukur secara akurat, dan secara langsung seringkali terlibat dalam
masalah penanganan ruangan (Laviana, 2009).
Analisis Moyers banyak dianjurkan karena mempunyai kesalahan
sistematik yang minimal. Metoda ini juga dapat dilakukan dengan cepat,
tidak memerlukan alat-alat khusus ataupun radiografi, dan dapat
dilaksanakan oleh pemula karena tidak memerlukan keahlian khusus.
Walaupun pengukuran dan penghitungan dilakukan pada model, tetapi
mempunyai tingkat ketepatan yang baik di dalam mulut. Metoda ini juga
dapat dilakukan untuk mengalisis keadaan pada kedua lengkung rahang
(Laviana, 2009).
21

Gambar 10. Pengukuran ruangan yang tersedia untuk gigi 3, 4, 5


dilakukan setelah keempat geligi anterior menempati kedudukan yang
benar pada lengkung rahang.

Tabel 2. Tabel probabilitas Moyers digunakan untuk memperkirakan


ukuran 3, 4, 5 yang akan erupsi, baik pada rahang atas maupun rahang
bawah. Droschl membedakan ukuran 3, 4, 5 berdasarkan jenis kelamin.

Prosedur analisisnya adalah dengan mengukur lebar mesial distal


terbesar keempat insisiv rahang bawah satu per satu, lalu menggunakan
jumlah keseluruhan angka tersebut untuk melihat kemungkinan ukuran
gigi kaninus, premolar pertama, dan kedua yang akan erupsi untuk
masing-masing rahang berdasarkan tabel probabilitas dari Moyers sebesar
75%. Droschl kemudian mengembangkan penelitian dan membedakan
22

nilai tersebut berdasarkan jenis kelamin pria dan wanita. Kemudian ukuran
tersebut dibandingkan dengan sisa ruangan yang tersedia setelah keempat
gigi insisif atas dan bawah disusun pada kedudukannya yang benar pada
rahang. Ruangan yang tersedia bagi gigi 3, 4, 5 diukur dari distal insisif
lateral setelah gigi tersebut menempati kedudukannya yang benar, hingga
mesial molar pertama tetap. Jumlah ruang yang harus tersedia pada rahang
juga harus diperhitungkan untuk penyesuaian hubungan gigi molar
(Laviana, 2009).

d. Tanaka-johnston
Tanaka dan Johnston mengembangkan cara lain penggunaan
keempat insisif rahang bawah untuk memperkirakan ukuran kaninus
dan premolar yang belum erupsi. Menurut mereka, metoda yang
mereka temukan mempunyai keakuratan yang cukup baik dengan
tingkat kesalahan yang kecil. Metoda ini juga sangat sederhana dan
tidak memerlukan tabel atau gambaran radiografi apa pun.
Perkiraan ukuran lebar kaninus dan premolar pada satu kuadran
mandibula sama dengan setengah ukuran keempat insisif rahang bawah
ditambah 10,5 mm Sedangkan perkiraan lebar ukuran kaninus dan
premolar pada satu kuadran maksila sama dengan ukuran keempat insisif
rahang bawah ditambah 11,0 mm. (Salzmann, 1977).
Alat bantu yang digunakan dalam menganalisa kebutuhan ruang
terdiri dari:
- Model studi
- Rontgenogram
- Tabel perkiraan
- Jangka
- Symentograph
- Brass wire
- Penggaris
23

3. Mahasiswa Mampu Memahami Macam Rencana Perawatan Ortodonti


Menurut Profitt, 2007, jika dari hasil perhitungan kebutuhan ruang
didapatkan:
 Kekurangan tempat : s.d. 4 mm  tidak diperlukan pencabutan gigi
permanen.
 Kekurangan tempat : 5 - 9 mm  kadang masih tanpa pencabutan gigi
permanen, tetapi seringkali dengan pencabutan gigi permanen.
 Kekurangan tempat : > 10 mm  selalu dengan pencabutan gigi
permanen.
24

DAFTAR PUSTAKA

Abraham B, Mhatre K, Patni V. 2010. Diagnostic set-up: simply accurate. The J


of Indian Orthod Soc. 44(4):138-4.

Almuzian, M. 2013. Space Analysis in Orthodontics. University of Glasgow.


https://www.slideshare.net/almuzian/space-analysis-and-tooth-size-
analysis-in-orthodontic-73192387.

Graber, T. M. 1994. Orthodontic Current Principles and Techniques. Edisi II.


Philadelphia : Mosby Year Book.

Laviana, Avi. 2009. Analisi Model Studi, Sumber Informasi Penting Bagi
Diagnosis Ortodonsi. Bandung : FKG Universitas Padjadjaran.

Moyers, R. E. 1988. Handbook of Orthodontics. Edisi IV. Chicago : Year Book


Medical Publisher.

Proffit, W.R., B. E. Larson, dan D. M. Sarver. 2000. Contemporary Orthodontic.


Edisi III. St. Louis : Mosby, Inc.

Proffit, W.R., Fields, H.W., Ackerman, J.L., Bailey, L.J., Tulloch, J.F.C. 2007.
Contemporary Orthodonthics. Mosby. St. Louis.

Purwono, Bellandara S.P. 2016. Kesesuaian Antara Metode Analisis Ruang Dari
Kesling Dan Arch Length Discrepancy (Ald). Skripsi. Makassar:
FKG Universitas Hasanudin.

Rakosi, T., I. Jonas, dan T. M. Graber. 1993. Color Atlas of Dental Medicine,
Orthodontic-Diagnosis. Edisi I. Germany: Thieme Medical
Publishers.

Salzmann, M.J. 1977. Principle of Orthodontics. 7th. Ed. CV. Mosby Co. London