Anda di halaman 1dari 63

MAKALAH SWAMEDIKASI

SELESMA, INFLUENZA, DAN RHINITIS ALERGI

OLEH:

KELAS B

KELOMPOK 3

RIFANI RESKI PASCANI N014191022

INDRI DIAN SUKMAWATI N014191023

SRIMARNI MALLISA N014191026

MURNIATI HA N014191027

ERICHA APRIYANTI N014191028

SEMESTER AWAL 2019/2020


PROGRAM STUDI PROFESI APOTEKER
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2019
KATA PENGANTAR

Bismillahir Rahmanir Rahim

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat Rahmat Hidayah dan

Karunia-Nya kelompok tiga dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini.

Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW,

kepada keluargaanya, para sahabat, hingga kepada umatnya.

Makalah ini merupakan hasil dari kerja sama semua anggota kelompok

tiga yang penuh dengan kesungguhan dan tanggung jawab. Topik dalam makalah

kami adalah Selesma, Influenza dan Rhinitis Alergi. Hal tersebut tidak lepas dari

rasa kebersamaan dan kebutuhan dalam mencari ilmu serta mengembangkan ilmu

pengetahuan. Hal tersebut juga tidak terlepas dari bimbingan Dosen pengampuh

mata kuliah Swamedikasi ibu Dr. Latifah Rahman, DESS., Apt. Atas bimbingan

dan ilmu yang diberikan, kami dengan hormat mengucapkan banyak terima kasih.

Kami menyadari akan keterbatasan kami dalam menyusun makalah ini.

Kami menyadari, masih ada beberapa kekurangan dalam pengumpulan materi,

penyusunan materi dan penyusunan Bahasa dan kalimat dalam makalah ini.

Sehingga kami selaku penyusun makalah mengharapkan kritik dan saran dari

pembaca makalah ini yang sifatnya membangun untuk pembuatan makalah

selanjutnya.

Akhir kata kami mengucapkan terima kasih atas kesempatan pembaca

dalam membaca makalah ini. Semoga dengan makalah ini, dapat berguna untuk

i
keperluan pengembangan ilmu pengetahuan dan bermanfaat dalam bidang

pendidikan dan bidang lain yang berhubungan.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Makassar, 28 September 2019

Kelompok Tiga

ii
DAFTAR ISI
halaman
KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI iii

BAB I PENDAHULUAN 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 3

II.1 Selesma 3

II.1.1 Definisi 3

II.1.2 Patofisiologi 4

II.1.3 Gejala 6

II.1.4 Diagnosis 6

II.1.5 Penatalaksanaan Terapi 6

II.1.5.1 Terapi Farmakologi 7

II.1.5.2 Terapi Non Farmakologi 8

II.2 Influenza 9

II.2.1 Definisi 9

II.2.2 Etiologi 9

II.2.3 Patofisiologi 10

II.2.4 Gejala 13

II.2.5 Diagnosis 14

II.2.6 Penatalaksanaan Terapi 14

II.2.6.1 Terapi Farmakologi 14

II.2.6.2 Terapi Non Farmakologi 16

iii
halaman

II.3 Rhinitis Alergi 17

II.3.1 Definisi 17

II.3.2 Etiologi 18

II.3.3 Patofisiologi 19

II.3.4 Gejala 23

II.3.5 Diagnosis 25

II.3.6 Penatalaksanaan Terapi 28

II.3.6.1 Terapi Farmakologi 28

II.3.6.2 Terapi Non Farmakologi 29

BAB III SWAMEDIKASI 31

III.1 Obat Sintesis 31

III.1.1 Dekongestan 33

III.1.2 Antihistamin 34

III.1.3 Antitusif 36

III.1.4 Ekspektoran 38

III.1.5 Analgetik Antipiretik 38

III.1.6 Kortikostiroid 40

III.1.7 Kombinasi 40

III.2 Ramuan Pengobatan Herbal 45

III.2.1 Selesma dan Influenza 45

III.2.2 Rhinitis Alergi 48

iv
III.3 Sediaan Jadi Obat Herbal 51

v
BAB I

PENDAHULUAN

Perkembangan berbagai jenis penyakit, mendorong masyarakat untuk

mencari alternatif pengobatan yang efektif dalam terapi, tapi efisien dalam hal

biaya, sehingga berkenaan dengan hal tersebut, pengobatan sendiri menjadi

alternative yang diambil oleh masyarakat.

Self-medication (pengobatan sendiri) adalah penggunaan obat-obatan

dengan maksud terapi tanpa saran dari profesional atau tanpa resep (Osmene dan

Lamikanra, 2012). Pengobatan sendiri termasuk memperoleh obat-obatan tanpa

resep, membeli obat berdasarkan resep lama yang pernah diterima, berbagi obat-

obatan dengan kerabat atau anggota lingkaran sosial seseorang atau menggunakan

sisa obat-obatan yang disimpan di rumah (Adhikary et al, 2014).

Untuk melakukan pengobatan sendiri secara benar, masyarakat harus

mampu mengetahui jenis obat yang diperlukan untuk mengatasi penyakitnya,

mengetahui kegunaan dari tiap obat, sehingga dapat mengevaluasi sendiri

perkembangan sakitnya, menggunakan obat tersebut secara benar (cara, aturan,

lama pemakaian) dan tahu batas kapan mereka harus menghentikan self-

medication dan segera minta pertolongan petugas kesehatan, mengetahui efek

samping obat yang digunakan sehingga dapat memperkirakan apakah suatu

keluhan yang timbul kemudian itu suatu penyakit baru atau efek samping obat dan

mengetahui siapa yang tidak boleh menggunakan obat tersebut (Depkes, 2008).

Dasar hukum swamedikasi adalah No.919/MENKES/PER/X/1993, secara

sederhana swamedikasi adalah upaya seseorang dalam mengobati gejala sakit atau

1
penyakit tanpa berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu. Namun bukan berarti

asal mengobati, justru pasien harus mencari informasi obat yang sesuai dengan

penyakitnya dan apoteker-lah yang bisa berperan di sini. Apoteker bisa

memberikan informasi obat yang objektif dan rasional. Swamedikasi boleh

dilakukan untuk kondisi penyakit yang ringan, umum dan tidak akut. Setidaknya

ada lima komponen informasi yang yang diperlukan untuk swamedikasi yang

tepat menggunakan obat modern, yaitu pengetahuan tentang kandungan aktif obat,

indikasi, dosis, efek samping, dan kontra indikasi (Depkes RI, 2006).

Swamedikasi yang biasa dilalukan masyarakat Indonesia adalah

swamediaksi gejala influenza. Kebanyakan masyarakat Indonesia hanya

mengetahui gejala-gejala seperti hidung berair atau tersumbat, demam, batuk,

sakit kepala, bersin-bersin dengan rasa gatal adalah influenza padahal gejala-

gejala tersebut bisa juga mengarah kepada penyakit seperti selesma dan rhinitis

alergi. Terdapat banyak pilihan obat untuk mengobati penyakit-penyakit saluran

pernapasan tersebut yang dijual bebas di toko ataupun apotek di Indoensia

Oleh karena itu dalam makalah ini kami akan menjelaskan perbedaan

antara selesma, influenza dan rhinitis alergi serta pengetahuan yang diperlukan

untuk pengoobatan sendiri. Beberapa mekanisme terjadinya penyakit saluran

pernapasan, penyebab untuk menghindari penyakit tersebut, manifestasi klinik

yang diperlukan serta penanganan farmakologi maupun non farmakologi.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Selesma

II.1.1 Definisi

Istilah selesma biasa mengacu pada kumpulan gejala saluran pernapasan

atas yang disebabkan oleh berbagai patogen virus. Gejala termasuk hidung

tersumbat, rinorrhea, bersin, sakit tenggorokan, batuk, demam ringan, sakit

kepala, danmalaise (Thompson, 2013).

Selesma mungkin merupakan penyakit infeksi yang paling lazim terjadi

pada manusia. Diperkirakan bahwa sekitar lebih dari 1 milyar orang yang

mengalami selesma pertahunnya di Amerika. Penyakit ini paling sering

menjangkiti anak-anak dan terjadi sekitar 6 hingga 10 kali pertahunnya. Hal ini

berkaitan dengan sistem imunitas tubuh mereka yang belum berkembang secara

sempurna. Adapun pada orang dewasa, penyakit ini terjadi sekitar 2 hingga 4 kali

pertahunnya, walau cakupannya bervariasi secara luas. Sedangkan rata-rata pada

orang tua yang berusia 60 tahun ke atas angka kejadiannya hanya 1 kali

pertahunnnya (Todar, 2009). Meskipun selesmaumumnya dianggap ringan dan

terbatas, selesma biasa dikaitkan dengan beban ekonomi yang luar biasa akibat

kehilangan produktivitas dan biaya pengobatan (Thompson, 2013).

Patogen yang paling sering dikaitkan dengan gejala selesma adalah

rhinovirus. Rhinovirus (berasal dari bahasa latin rhin, berarti "hidung") memiliki

lebih dari 100jenis tipe virus yang berbeda dan berkontribusi sebesar 40%-

3
50%dari kasus di lapangan. Patogen lain yang bertanggung jawab termasuk

corona virus dan respiratory syncytial virus (RSV) (Thompson, 2013).

Ketiadaan vaksin untuk selesma disebabkan karena beberapa virus penyebab

selesma tidak memberikan kekebalan abadi contohnya pada RSVserta

coronavirus sehingga dapat mengakibatkan infeksi berulang. Alasan lainnya yaitu

meskipun virus lain menghasilkan kekebalan abadi, ada begitu banyak serotipe

dari virus ini, sehinga pemberian vaksin tidak akan menghasilkan dampak yang

nyata dalam mengurangi frekuensi penyakit ini (Thompson, 2013).

Selesma dapat menyebar dengan cara menghirup tetesan batuk atau bersin

oleh orang yang terinfeksi atau dengan kontak langsung pada sekret hidung orang

yang terinfeksi. Oleh karena itu, kebersihan yang buruk dan rasa ingin tahu

mungkin menjadi faktor yang menyebabkanpeningkatan kerentanan anak-anak

terhadap selesma. Mencuci tangan akan membersihkan virus-virus tersebut dari

tangan.

II.1.2 Patofisiologi

Selesma diketahui dapat disebabkan oleh beberapa virus, adapun untuk

pembahasan patogenesis penyakit ini akan lebih dikhususkan untuk rhinovirus

karena kejadiannya lebih besar dibandingkan virus-virus yang lain.

Penularan selesma dapat terjadi melalui inhalasi aerosol yang mengandung

partikel kecil, deposisi droplet pada mukosa hidung atau konjungtiva, atau melalui

kontak tangan dengan sekret yang mengandung virus yang berasal dari

penyandang atau dari lingkungan. Cara penularan antara virus yang satu berbeda

dengan yang lainnya, rhinovirus ditularkan melalui kontak tangan dengan sekret,

4
yang diikuti dengan kontak tangan ke mukosa hidung atau konjungtiva.

Patogenesis selesma sama dengan patogenesis infeksi virus pada umumnya, yaitu

melibatkan interaksi antara replikasi virus dan respon inflamasi pejamu. Meskipun

demikian, patogenesis virus-virus saluranpernafasan dapat sangat berbeda antara

satu dengan yang lainnya karena perbedaan lokasi primer tempat replikasi virus.

Replikasi rhinovirusterutama di epitelnasofaring. Infeksi dimulai dengan deposit

virus di mukosa hidung melalui duktus lakrimalis, lalu berpindah kenasofaring

posterior akibat gerakan mukosilier. Didaerah adenoid, virus memasuki

sel epitel dengan cara berkaitan dengan reseptor spesifik di epitel. Setelah berada

didalam sel epitel, virus bereplikasi dengan cepat. Hasil replikasi dapat dideteksi

8-10 jam setelah inokulasi virus intranasal. Selyang terinfeksi akan melepaskan

interleukin (IL)-8 yang merupakan chemoattranct bagi polimorfonukleus (PMN).

Mediator inflamasi, seperti kini dan prostaglandinmenyebabkan vasodilatasi,

peningkatan permeabilitas kapiler, dan sekresi kelenjar eksokrin sehingga timbul

gejala klinis hidung tersumbat dan sekret hidung yang merupakan gejalaselesma.

Stimulasi kolinergik menyebabkan peningkatan sekresi kelenjar mukosa dan

bersin.

Terjadi pembekakan pada submukosa hidung yang disertai vasodilatasi

pembuluh darah. Terdapat infiltrasi leukosit, mula-mula sel

mononukleus kemudian juga polimorfonukleus. Sel epitel superfisial banyak yang

lepas dan regenerasi epitel sel baru terjadi setelah lewat stadium akut.

5
II.1.3 Gejala

Gejala selesma mulai timbul dalam waktu 1-3 hari setelah terinfeksi.

Biasanya gejala awal yang muncul berupa rasa gatal atau sakit di tenggorokan,

atau rasa tidak nyaman di hidung. Penderita mulai bersin-bersin, hidung berair,

dan merasa agak tidak enak badan. Biasanya tidak ada demam, tetapi demam

ringan dapat timbul di awal terjadinya penyakit. Pada awalnya hidung

mengeluarkan sekret yang encer, jernih, dan sangat banyak. Selanjutnya sekret

menjadi lebih kental, berwarna kuning-hijau dan jumlahnya tidak terlalu banyak.

Beberapa penderita mengalami batuk ringan. Gejala akan mereda dan hilang

dalam jangka waktu 4 sampai 10 hari, meskipun batukseringkali tetap ada hingga

minggu kedua.

II.1.4 Diagnosis

Diagnosa selesma biasanya didasarkan pada gejalanya yang khas. Adapun

jika terjadi demam tinggi, sakit kepala parah, ruam, kesulitan bernafas, atau nyeri

dada menunjukkan bahwa terjadi komplikasi. Pemeriksaan laboratorium biasanya

tidak diperlukan untuk penyakit ini. Jika dicurigai terjadi komplikasi maka akan

dilakukan tes darah dan rontgen.

II.1.5 Penatalaksanaan Terapi

Selesma merupakan penyakit ringan yang bersifat self limiting yang

menyerang system saluran pernapasan atas dan termasuk kedalam penyakit

ringan, sehingga pengobatannya dapat dilakukan dengan swamedikasi. Pada

umumnya pasien sering mengobati sendiri dengan obat tanpa resep atau obat

herbal diimbangi dengan terapi non farmakologi. Sasaran terapi selesma yaitu

6
pengurangan gejala selesma, perbaikan kondisi dan fungsi pasien menjadi lebih

baik serta pencegahan penyebaran penyakit. Adapun terapi selesma yang dapat

dilakukan secara swamedikasi yaitu sebagai berikut:

II.1.5.1 Terapi Farmakologi

Swamedikasi selesma menggunakan obat dengan terapi farmakologi yang

tidak dapat mencegah, mengobati dan mengurangi lamanya serangan selesma,

tetapi hanya untuk mengurangi gejala- gejala selesma. Terapi famakologi selesma

meliputi dekongestan, antihistamin, antitusif, ekspektoran dan anlgesik-

antipiretik.

a. Dekongestan

Dekongestan adalah terapi utama selesma yang memiliki mekanisme kerja

membuka saluran hidung dengan memperkecil pembuluh darah pada hidung dan

mengurangi edema mukosa. Adapun contoh obat dekongestan yang digunakan

dalam swamedikasi yaitu xylometazoline, pseudoefedrin dan oximetazolin.

b. Antihistamin

Penggunaan antihistamin pada penanganan gejala selesma diindikasikan

untuk menghilangkan bersin dan hidung berair. Adapun antihistamin yang

digunakan pada selesma yaitu antihistamin generasi pertama. Kerja antihistamin

yaitu mencegah histamine berikatan dengan reseptor H1. Selain itu, antihistamin

generasi pertama juga menghalangi aktivitas pada sistem saraf dan sistem

parasimpatik yang merangsang pengeluaran mucus.Adapun contoh antihistamin

yang dapat diperoleh tanpa resep dokter yaitu klorfeniramin maleat,

deksklorfeniramin maleat, prometazin HCl dan tripolidin.

7
c. Analgesik- Antipiretik

Penggunaan analgesic- antipiretik memiliki indikasi mengurangi gejala

selesma seperti demam, nyeri, kedinginan dan merasa tidak baik. Obat analgesic

yang dapat digunakan dalam berswamedikasi terhadap selesma yaitu golongan

obat NSAID. Adapun contoh obat NSAID yaitu asetaminofen (Paracetamol),

ibuprofen dan asetosal.

d. Antitusif dan Ekspektoran

Apabila pasien mengalami batuk ketika dilanda selesma dapat diterapi

dengan antitusif atau ekspektoran tergantung dari jenis batuk menyertai selesma

pasien. Jika pasien mengalami batuk kering dan tidak berdahak maka diberikan

antitusif seperti dextromethorpan dan difenhidramin HCl. Namun jika pasien

disertai dengan batuk berdahak maka diberikan ekspektoran seperti Gliserin

Guaiakolat (guaifenesin).

II.1.5.2 Terapi Non Farmakologi

Selain terapi farmakologi untuk tindakan mengurangi gejala selesma pada

pasien dapat dilakukan terapi non farmakologi. Adapun terapi non

farmakologi yang dapat dilakukan yaitu sebagai berikut:

 Meningkatkan pemasukan asupan cairan tubuh


 Istirahat yang cukup
 Memperbaiki asupan gizi yang cukup dan seimbang
 Mengkonsumsi air hangat atau jenis ramuan herbal yang dapat

menghangatkan tubuh serta merangsang pengeluaran mukosa hidung.

II.2. Influenza

II.2.1 Definisi

8
Influenza adalah infeksi virus akut yang disebabkan oleh virus influenza,

dan menyebar dengan mudah dari orang ke orang. Virus ini beredar di seluruh

dunia dan dapat mempengaruhi orang tanpa memandang usia dan jenis kelamin.

Flu sendiri merupakan suatu penyakit yang self-limiting, dimana bila tidak terjadi

komplikasi dengan penyakit lain, maka setelah 4-7 hari penyakit akan sembuh

sendiri. Daya tahan tubuh seseorang akan sangat berpengaruh terhadap berat

ringannya penyakit tersebut. Daya tahan tubuh dipengaruhi oleh pola hidup

seseorang (BPOM, 2006).

II.2.2 Etiologi

Dikenal tiga jenis influenza musiman (seasonal) yakni A, B dan Tipe C. Di

antara banyak subtipe virus influenza A, saat ini subtipe influenza A (H1N1) dan

A (H3N2) adalah yang banyak beredar di antara manusia. Virus influenza

bersirkulasi di setiap bagian dunia. Kasus flu akibat virus tipe C terjadi lebih

jarang dari A dan B. Itulah sebabnya hanya virus influenza A dan B termasuk

dalam vaksin influenza musiman. Influenza musiman menyebar dengan mudah

Saat seseorang yang terinfeksi batuk, tetesan yang terinfeksi masuk ke udara dan

orang lain bisa tertular. Mekanisme ini dikenal sebagai air borne transmission.

Virus juga dapat menyebar oleh tangan yang terinfeksi virus. Untuk mencegah

penularan, orang harus menutup mulut dan hidung mereka dengan tisu ketika

batuk, dan mencuci tangan mereka secara teratur .

Virus influenza A inang alamiahnya adalah unggas akuatik. Virus ini dapat

ditularkan pada spesies lain dan dapat menimbulkan wabah yang berdampak besar

pada peternakan unggas domestik atau menimbulkan suatu wabah influenza

9
manusia. Virus A merupakan patogen manusia yang paling virulen di antara ketiga

tipe infleuenza dan menimbulkan penyakit paling berat, yang paling terkenal di

Indonesia adalah flu babi (H1N1) dan flu burung (H5N1) (Spickler, 2009).

Virus influenza B hampir secara ekslusif hanya menyerang manusia dan lebih

jarang dibandingkan virus influenza A. karena tidak mengalami keragaman

antigenik, beberapa tingkat kekebalan diperoleh pada usia muda, tapi sistem

kekebalan ini tidak permanen karena adanya kemungkinan mutasi virus. Virus

influenza C menginfeksi manusia, anjing dan babi, kadangkala menyebabkan

penyakit yang berat dan epidemi lokal. Namun, influenza C jarang terjadi

disbanding jenis lain dan biasanya hanya menimbulkan penyakit ringan pada anak

-anak (Spickler, 2009).

II.2.3 Patofisiologi

Infeksi virus yang menyebar melalui droplet pernapasan. Partikel virus

mengikat sel-sel epitel pernapasan yang kaya reseptorvirus. Neuraminidase pada

virus Membantu proses infeksi dengan melepaskan partikelvirus yang telah terikat

lendir pada permukaan sel epitel.

Gambar 2. Invasi dan repilkasi virus Influenza

10
Virus mengikat sel melalui interaksi antara glikoprotein hemagglutinin

dengan gula-asam sialik pada permukaan sel epitel di paru-paru dan tenggorokan

(gambar 2) (1). Virus masuk ke dalam sel dengancara endositosis. Dalam

endosom asam, bagian dari protein hemaglutinin menggabungkan amplop virus

dengan membran vakuola, melepaskan molekul RNA viral (vRNA), protein

aksesori dan RNA-dependent RNA polymerase ke dalam sitoplasma (2). Protein ini

dan vRNA membentuk kompleks yang diangkut ke dalam nukleus, di mana RNA-

dependent RNA polymerasememulai transkripsi complementary positive-sense

Crna (3a dan b) . Crna akan diekspor ke sitoplasma dan diterjemahkan (langkah

4), atau tetap berada dalam nukleus. Protein virus yang baru disintesisakan

disekresikan melalui aparatus Golgi ke permukaan sel (dalam kasus

neuraminidase dan hemagglutinin, 5b) atau diangkut kembali ke dalam nukleus

untuk mengikat vRNA dan membentuk partikel genom virus baru (langkah 5a).

Adapun bagi protein virus lainnya, memilikikegunaan tersendiri dalam sel inang

berupa menurunkan mRNA seluler dan menggunakan nukleotida untuk sintesis

vRNA dan juga menghambat translasi mRNA sel inang.

vRNA negative-sense akan membentuk genom virus baru, RNA-dependent

RNA transcriptase, dan protein virus lainnya dirakit menjadi virion. Molekul

hemagglutinin dan neuraminidase akan berkelompok membentuk suatu tonjolan

di membran sel. vRNA dan protein virus akan meninggalkan nukleus dan

memasuki tonjolan membran ini (6). Tunas virus dewasa lepas dari sel dalam bola

membran fosfolipid inang, memperoleh hemagglutinin dan neuraminidase dengan

11
membran ini mantel (7).Seperti sebelumnya, virus melekatpada sel melalui

hemaglutinin. Setelah merilis virus influenza baru, sel inang akan mati.

Ukuran virus sangatlah kecil sehingga hanya dapat dilihat dengan

menggunakan mikroskop elektron.Dalam virus influenza terdapat material-

material genetik yang berisi informasi yang kemudian akan diduplikasi utnuk

membentuk virus yang sama. Virus memiliki lapisan pelindung protein yang akan

melindungi material genetik di dalam virus, saat virus berada dalam tubuh hewan

atau manusia. Kemudian pada bagian luar sel terdapat selubung yang membuat sel

dapat menginfeksi seldengan cara berikatan dengan lapisan luar sel.

Pada selubung virus terdapat spike-spike yang berfungsi untuk mengikat sel

dengan reseptor seperti kunci dan gembok, dan untuk melepaskan ikatan

tersebut.Saat seseorang yang bersin, bersin tersebut mengandung droplet yang

berisi virus-virus influenza yang kemudian akan terhirup oleh orang lain. Droplet

tersebut akan masuk ke saluran pernafasan kemudian akan mengalami kontak

dengan reseptor pada membran lalu kemudian berikatan menyebabkan virus

masuk ke dalam sel. Virus tersebut kemudian melepaskan material-material

genetiknya yang akan masuk ke dalam nukleus untuk membentuk material-

material genetik yang baru. Di dalam sel ini, virus akan membentuk komponen-

komponen virus yang baru yang kemudian terjadi perakitan virusbaru. Virus-virus

baru yang terbentuk tersebut akan kembali berikatan dengan reseptor yang

selanjutnya akan terlepas dari reseptor, lalu menginfeksi sel-sel lainnya (Nucleus

medical media, 2013).

II.2.4 Gejala

12
Gejala influenza biasanya diawali dengan demam tiba-tiba, batuk (biasanya

kering), sakit kepala, nyeri otot, lemas, kelelahan dan hidung berair. Pada anak

dengan influenza B dapat menjadi lebih parah dengan terjadinya diare serta nyeri

abdomen. Kebanyakan orang dapat sembuh dari gejala-gejala ini dalam waktu

kurang lebih satu minggu tanpa membutuhkan perawatan medis yang serius.

Waktu inkubasi yaitu dari saat mulai terpapar virus sampai munculnya gejala

kurang lebih dua hari (Abelson, 2009). Pada masa inkubasi virus tubuh belum

merasakan gejala apapun. Setelah masa inkubasi gejala-gejala mulai dirasakan

dan berlangsung terus-menerus kurang lebih selama satu minggu. Hal ini akan

memicu kerja dari sistem imun tubuh yang kemudian setelah kurang lebih satu

minggu tubuh akan mengalami pemulihan hingga akhirnya benar-benar sembuh

dari influenza (Spickler, 2009). Untuk orang-orang dengan faktor resiko tinggi

seperti usia di atas 65 tahun, atau orang-orang dengan penyakit tertentu seperti

penyakit kronis pada hati, paru-paru, ginjal, jantung, gangguan metabolik seperti

diabetes melitus, atau orang yang sistem imunnya rendah berpotensi mengalami

keparahan. Kadang sulit untuk membedakan flu dan salesma pada tahap awal

infeksi ini, namun flu dapat diidentifikasi dengan adanya demam mendadak dan

rasa lelah atau lemas (Spickler, 2009).

Prognosis pada umumnya baik, penyakit yang tanpa komplikasi berlangsung

1-7 hari. Kematian terbanyak oleh karena infeksi bakteri sekunder. Bila panas

menetap lebih dari 4 hari dan leukosit > 10.000/ul, biasanya didapatkan infeksi

bakteri sekunder (WHO, 2009).

II.2.5 Diagnosis

13
Pengujian pada sampel darah atau sekret pernapasan dapat digunakan untuk

mengidentifikasi virus influenza. Tes ini terutama dilakukan jika pasien tampak

sangat sakit atau ketika dicuragai terjadinya gejala ini disebabkan oleh sebab yang

lain.

II.2.6 Penatalaksanaan Terapi

Influenza adalah suatu penyakit infeksi virus saluran pernapasan yang

menyerang saluran pernapasan bagian atas. Flu ditularkan melalui percikan udara

pada saat batuk, bersin dan tangan yang tidak dicuci setelah kontak dengan cairan

hidung atau mulut. Pada umumnya orang yang memiliki daya tahan tubuh yang

akan kuat dapat sembuh sendiri tanpa menggunkan obat. Adapun penatalaksaan

terapi yaitu anjuran istirahat dan banyak minum sangat penting ditambah dengan

pengobatan simptomatis digunakan untuk menghilangkan gejala yang terasa berat

atau mengganggu. Terapi farmakologi dan non farmakologi sangat ideal untuk

menghilangkan gejala- gejala pada influenza.

II.2.6.1 Terapi Farmakologi

Untuk menangani influenza dapat digunakan obat- obat yang dapat

mengurangi atau menghilangkan gejala- gejala influenza yang sangat berat

seperti, hidung tersumbat, batuk, demam, sakit kepala dan lain sebagainya.

Adapun obat yang dapat digunakan berswamedikasi pada influenza yaitu

anelgetik- antipiretik, dekongestan, antihistamin, antitusif atau ekspektoran.


a. Analgetik- antipiretik

Golongan obat Analgetika non narkotika disebut juga analgetik antipiretik.

Analgetika menimbulkan efek analgetik dengan cara menghambat secara

langsung dan selektif enzim-enzim pada sistem saraf pusat yang mengkatalisis

14
biosintesis prostaglandin, seperti siklooksigenase, sehingga mencegah sensitisasi

reseptor rasa sakit oleh mediator-mediator rasa sakit, seperti bradikinin, histamin,

serotonin, prostasiklin, prostaglandin, ion-ion hidrogen dan kalium,

yangmerangsang rasa sakit secara mekanis atau kimiawi.

Antipiretik menimbulkan efek dengan meningkatkan eliminasi panas, pada

penderita dengan suhu badan tinggi, dengan cara menimbulkan dilatasi pembuluh

darah perifer dan mobilisasi air sehingga terjadi pengenceran darah dan

pengeluaran keringat. Contoh obat analgetik- antipiretik yang dapat digunakan

berswamedikasi dengan influenza yaitu asetaminofen (paracetamol), asetosal dan

ibuprofen.

b. Dekongestan

Dekongestan merupakan golongan simpatomimetika yang bekerja pada

reseptor adrenergik. Daya kerjanya sebagai vasokontriksi yaitu mengecilkan

pembuluh darah yang membengkak pada lapisan mukosa hidung. Dengan

demikian, obat dekongestan melapangkan saluran nafas dan mengurangi hidung

tersumbat. Adapun sediaan dekongestan yang dapat digunakan dalam

berswamedikasi dengan influenza yaitu xylometazoline, pseudoefedrin,

oximetazolin dan xylometazolin.

c. Antihistamin

Penggunaan antihistamin memiliki tujuan yaitu menghilangkan atau

mengurangi gejala yang diakibatkan oleh sekresi kelenjar lendir yang berlebihan

dan menyebabkan hidung tersumbat oleh cairan lendir dan mata terasa gatal. Obat

15
antihistamin yang sering digunakan dalam berswamedikasi influenza yaitu

klorfeniramin maleat, deksklorfeniramin maleat, prometazin HCl dan tripolidin.

d. Antitusif atau Ekspektoran

Baik selesma ataupun influenza memiliki gejala yang hamper sama,

sebagai contoh selesma memiliki gejala batuk begitupun dengan influenza.

Sehingga terapi obat untuk menghilangkan gejala influenza sama saja dengan

selesma yaitu antitusif atau ekspektoran tergantung jenis batuk yang menyertai

influenza tersebut. Jika pasien mengalami batuk kering dan tidak berdahak maka

diberikan antitusif seperti dextromethorpan dan difenhidramin HCl. Namun jika

pasien disertai dengan batuk berdahak maka diberikan ekspektoran seperti

Gliserin Guaiakolat (guaifenesin).

II.2.6.2 Terapi Non-Farmakologi

Pasien yang mengalami influenza disarankan untuk melakukan terapi non

farmakologi seperti tidur dan istirahat yang cukup, tidak disarankan untuk

melakukan aktivitas yang berat, memenuhi asupan maan yang cukup dan teratur,

memperbanyak asupan minum air dan mengkonsumsi sayur atau buah yang kaya

akan vitamin. Hal tersebut dimaksudkan untuk memberikan kesempatan tubuh

untuk memperkuat sistem daya tahan tubuh dan menghalau semua virus yang

berpotensi menyerang tubuh.

II.3. Rhinitis Alergi

II.3.1 Definisi

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi

pada pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitisasi dengan alergen yang sama

16
serta dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan

alergen spesifik tersebut (von Pirquet, 1986). Menurut WHO ARIA (Allergic

Rhinitis and its Impact on Asthma) tahun 2001, rinitis alergi adalah kelainan pada

hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah

mukosa hidung terpapar alergen yang diperantarai oleh IgE.

Klasifikasi rinitis alergi Dahulu rinitis alergi dibedakan dalam 2 macam

berdasarkan sifat berlangsungnya, yaitu:

1. Rinitis alergi musiman (seasonal, hay fever, polinosis)


2. Rinitis alergi sepanjang tahun (perenial)

Gejala keduanya hampir sama, hanya berbeda dalam sifat berlangsungnya

(Irawati, Kasakeyan, Rusmono, 2008). Saat ini digunakan klasifikasi rinitis alergi

berdasarkan rekomendasi dari WHO Iniative ARIA (Allergic Rhinitis and its

Impact on Asthma) tahun 2000, yaitu berdasarkan sifat berlangsungnya dibagi

menjadi :

1. Intermiten (kadang-kadang): bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau

kurang dari 4 minggu.


2. Persisten/menetap bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan atau lebih dari 4

minggu.

Sedangkan untuk tingkat berat ringannya penyakit, rinitis alergi dibagi menjadi:

1. Ringan, bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktifitas harian,

bersantai, berolahraga, belajar, bekerja dan hal-hal lain yang mengganggu.


2. Sedang atau berat bila terdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut

diatas (Bousquet et al, 2001).

17
II.3.2 Etiologi

Rhinitis alergi melibatkan interaksi antara lingkungan dengan predisposisi

genetik dalam perkembangan penyakitnya. Faktor genetik dan herediter sangat

berperan pada ekspresi rinitis alergi (Adams, Boies, Higler, 1997). Penyebab

rinitis alergi tersering adalah alergen inhalan pada dewasa dan ingestan pada

anakanak. Pada anak-anak sering disertai gejala alergi lain, seperti urtikaria dan

gangguan pencernaan. Penyebab rinitis alergi dapat berbeda tergantung dari

klasifikasi. Beberapa pasien sensitif terhadap beberapa alergen. Alergen yang

menyebabkan rinitis alergi musiman biasanya berupa serbuk sari atau jamur.

Rinitis alergi perenial (sepanjang tahun) diantaranya debu tungau, terdapat dua

spesies utama tungau yaitu Dermatophagoides farinae dan Dermatophagoides

pteronyssinus, jamur, binatang peliharaan seperti kecoa dan binatang pengerat.

Faktor resiko untuk terpaparnya debu tungau biasanya karpet serta sprai tempat

tidur, suhu yang tinggi, dan faktor kelembaban udara. Kelembaban yang tinggi

merupakan faktor resiko untuk untuk tumbuhnya jamur. Berbagai pemicu yang

bisa berperan dan memperberat adalah beberapa faktor nonspesifik diantaranya

asap rokok, polusi udara, bau aroma yang kuat atau merangsang dan perubahan

cuaca (Becker, 1994).

Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas:

1. Alergen Inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan,

misalnya debu rumah, tungau, serpihan epitel dari bulu binatang serta

jamur.

18
2. Alergen Ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan,

misalnya susu, telur, coklat, ikan dan udang.


3. Alergen Injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya

penisilin atau sengatan lebah


4. Alergen Kontaktan, yang masuk melalui kontak dengan kulit atau

jaringan mukosa, misalnya bahan kosmetik atau perhiasan (Kaplan,

2003).

II.3.3 Patofisiologi

Rhinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan

tahap sensitisasi dan diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase

yaitu immediate phase allergic reaction atau reaksi alergi fase cepat (RAFC) yang

berlangsung sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya dan late phase

allergic reaction atau reaksi alergi fase lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4 jam

dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktivitas) setelah pemaparan dan dapat

berlangsung 24-48 jam.

19
Gambar 2.1 Patofisiologi alergi (rinitis, eczema, asma) paparan alergen

pertama dan selanjutnya (Benjamini, Coico, Sunshine, 2000).

Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau

monosit yang berperan sebagai sel penyaji (Antigen Presenting Cell/APC) akan

menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Setelah

diproses, antigen akan membentuk fragmen pendek peptide dan bergabung

dengan molekul HLA kelas II membentuk komplek peptide MHC kelas II (Major

Histocompatibility Complex) yang kemudian dipresentasikan pada sel T helper

(Th0). Kemudian sel penyaji akan melepas sitokin seperti interleukin 1 (IL-1)

yang akan mengaktifkan Th0 untuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2. Th2 akan

menghasilkan berbagai sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5, dan IL-13.

IL-4 dan IL-13 dapat diikat oleh reseptornya di permukaan sel limfosit B,

sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan memproduksi imunoglobulin E

(IgE). IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE

di permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini

menjadi aktif. Proses ini disebut sensitisasi yang menghasilkan sel mediator yang

tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah tersensitisasi terpapar alergen yang sama,

maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen spesifik dan terjadi degranulasi

(pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat terlepasnya mediator

kimia yang sudah terbentuk (Performed Mediators) terutama histamin. Selain

histamin juga dikeluarkan Newly Formed Mediators antara lain prostaglandin D2

(PGD2), Leukotrien D4 (LT D4), Leukotrien C4 (LT C4), bradikinin, Platelet

20
Activating Factor (PAF), berbagai sitokin (IL-3, IL-4, IL-5, IL-6, GM-CSF

(Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor) dan lain-lain. Inilah yang

disebut sebagai Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC).

Histamin akan merangsang reseptor H1 pada ujung saraf vidianus

sehingga menimbulkan rasa gatal pada hidung dan bersin-bersin. Histamin juga

akan menyebabkan kelenjar mukosa dan sel goblet mengalami hipersekresi dan

permeabilitas kapiler meningkat sehingga terjadi rinore. Gejala lain adalah hidung

tersumbat akibat vasodilatasi sinusoid. Selain histamin merangsang ujung saraf

Vidianus, juga menyebabkan rangsangan pada mukosa hidung sehingga terjadi

pengeluaran Inter Cellular Adhesion Molecule 1 (ICAM1).

Pada RAFC, sel mastosit juga akan melepaskan molekul kemotaktik yang

menyebabkan akumulasi sel eosinofil dan netrofil di jaringan target. Respons ini

tidak berhenti sampai disini saja, tetapi gejala akan berlanjut dan mencapai

puncak 6-8 jam setelah pemaparan. Pada RAFL ini ditandai dengan penambahan

jenis dan jumlah sel inflamasi seperti eosinofil, limfosit, netrofil, basofil dan

mastosit di mukosa hidung serta peningkatan sitokin seperti IL-3, IL-4, IL-5 dan

Granulocyte Macrophag Colony Stimulating Factor (GM-CSF) dan ICAM1 pada

sekret hidung. Timbulnya gejala hiperaktif atau hiperresponsif hidung adalah

akibat peranan eosinofil dengan mediator inflamasi dari granulnya seperti

Eosinophilic Cationic Protein (ECP), Eosiniphilic Derived Protein (EDP), Major

Basic Protein (MBP), dan Eosinophilic Peroxidase (EPO). Pada fase ini, selain

faktor spesifik (alergen), iritasi oleh faktor non spesifik dapat memperberat gejala

21
seperti asap rokok, bau yang merangsang, perubahan cuaca dan kelembaban udara

yang tinggi (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008).

Secara mikroskopik tampak adanya dilatasi pembuluh (vascular bad)

dengan pembesaran sel goblet dan sel pembentuk mukus. Terdapat juga

pembesaran ruang interseluler dan penebalan membran basal, serta ditemukan

infiltrasi sel-sel eosinofil pada jaringan mukosa dan submukosa hidung.

Gambaran yang ditemukan terdapat pada saat serangan. Diluar keadaan serangan,

mukosa kembali normal. Akan tetapi serangan dapat terjadi terus-menerus

(persisten) sepanjang tahun, sehingga lama kelamaan terjadi perubahan yang

ireversibel, yaitu terjadi proliferasi jaringan ikat dan hiperplasia mukosa, sehingga

tampak mukosa hidung menebal. Dengan masuknya antigen asing ke dalam tubuh

terjadi reaksi yang secara garis besar terdiri dari:

1. Respon primer
Terjadi proses eliminasi dan fagositosis antigen (Ag). Reaksi ini bersifat

non spesifik dan dapat berakhir sampai disini. Bila Ag tidak berhasil

seluruhnya dihilangkan, reaksi berlanjut menjadi respon sekunder.


2. Respon sekunder
Reaksi yang terjadi bersifat spesifik, yang mempunyai tiga kemungkinan

ialah sistem imunitas seluler atau humoral atau keduanya dibangkitkan.

Bila Ag berhasil dieliminasi pada tahap ini, reaksi selesai. Bila Ag masih

ada, atau memang sudah ada defek dari sistem imunologik, maka reaksi

berlanjut menjadi respon tersier.


3. Respon tersier

22
Reaksi imunologik yang terjadi tidak menguntungkan tubuh. Reaksi ini

dapat bersifat sementara atau menetap, tergantung dari daya eliminasi Ag

oleh tubuh.

Gell dan Coombs mengklasifikasikan reaksi ini atas 4 tipe, yaitu tipe 1,

atau reaksi anafilaksis (immediate hypersensitivity), tipe 2 atau reaksi

sitotoksik, tipe 3 atau reaksi kompleks imun dan tipe 4 atau reaksi

tuberculin (delayed hypersensitivity). Manifestasi klinis kerusakan

jaringan yang banyak dijumpai di bidang THT adalah tipe 1, yaitu rinitis

alergi (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008).

II.3.4 Gejala

Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan bersin berulang.

Sebetulnya bersin merupakan gejala yang normal, terutama pada pagi hari atau

bila terdapat kontak dengan sejumlah besar debu. Hal ini merupakan mekanisme

fisiologik, yaitu proses membersihkan sendiri (self cleaning process). Bersin

dianggap patologik, bila terjadinya lebih dari 5 kali setiap serangan, sebagai akibat

dilepaskannya histamin. Disebut juga sebagai bersin patologis (Soepardi,

Iskandar, 2004). Gejala lain ialah keluar ingus (rinore) yang encer dan banyak,

hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang disertai dengan

banyak air mata keluar (lakrimasi).

Tanda-tanda alergi juga terlihat di hidung, mata, telinga, faring atau laring.

Tanda hidung termasuk lipatan hidung melintang – garis hitam melintang pada

tengah punggung hidung akibat sering menggosok hidung ke atas menirukan

pemberian hormat (allergic salute), pucat dan edema mukosa hidung yang dapat

23
muncul kebiruan. Lubang hidung bengkak. Disertai dengan sekret mukoid atau

cair. Tanda di mata termasuk edema kelopak mata, kongesti konjungtiva, lingkar

hitam dibawah mata (allergic shiner). Tanda pada telinga termasuk retraksi

membran timpani atau otitis media serosa sebagai hasil dari hambatan tuba

eustachii. Tanda faringeal termasuk faringitis granuler akibat hiperplasia

submukosa jaringan limfoid. Tanda laringeal termasuk suara serak dan edema pita

suara (Bousquet, Cauwenberge, Khaltaev, ARIA Workshop Group. WHO, 2001).

Gejala lain yang tidak khas dapat berupa: batuk, sakit kepala, masalah penciuman,

mengi, penekanan pada sinus dan nyeri wajah, post nasal drip. Beberapa orang

juga mengalami lemah dan lesu, mudah marah, kehilangan nafsu makan dan sulit

tidur (Harmadji, 1993).

Karakteristik
Sifat gejala klinik pada rinitis alergi

gejala klinik Intermiten Persisten

Kongesti hidung Bervariasi Selalu, predominan

Sekresi nasal Cair, sering terjadi Lebih kental, terjadi post

nasal drip, bervariasi

Bersin Selalu Bervariasi

Gangguan penciuman Bervariasi Sering terjadi

24
Gejala pada mata (gatal, Sering terjadi Jarang terjadi

berair)

Asma Bervariasi Sering terjadi

Sinusitis kronis Kadang-kadang Sering terjadi

II.3.5 Diagnosis

Diagnosis rhinitis alergi ditegakkan berdasarkan:

1. Anamnesis
Anamnesis sangat penting, karena sering kali serangan tidak terjadi

dihadapan pemeriksa. Hampir 50% diagnosis dapat ditegakkan dari

anamnesis saja. Gejala rinitis alergi yang khas ialah terdapatnya serangan

bersin berulang. Gejala lain ialah keluar hingus (rinore) yang encer dan

banyak, hidung tersumbat, hidung dan mata gatal, yang kadang-kadang

disertai dengan banyak air mata keluar (lakrimasi). Kadang-kadang

keluhan hidung tersumbat merupakan keluhan utama atau satu-satunya

gejala yang diutarakan oleh pasien (Irawati, Kasakayan, Rusmono, 2008).

Perlu ditanyakan pola gejala (hilang timbul, menetap) beserta onset dan

keparahannya, identifikasi faktor predisposisi karena faktor genetik dan

herediter sangat berperan pada ekspresi rinitis alergi, respon terhadap

pengobatan, kondisi lingkungan dan pekerjaan. Rinitis alergi dapat

ditegakkan berdasarkan anamnesis, bila terdapat 2 atau lebih gejala

seperti bersin-bersin lebih 5 kali setiap serangan, hidung dan mata gatal,

25
ingus encer lebih dari satu jam, hidung tersumbat, dan mata merah serta

berair maka dinyatakan positif (Rusmono, Kasakayan, 1990).


2. Pemeriksaan Fisik
Pada muka biasanya didapatkan garis Dennie-Morgan dan allergic

shinner, yaitu bayangan gelap di daerah bawah mata karena stasis vena

sekunder akibat obstruksi hidung (Irawati, 2002). Selain itu, dapat

ditemukan juga allergic crease yaitu berupa garis melintang pada dorsum

nasi bagian sepertiga bawah. Garis ini timbul akibat hidung yang sering

digosok-gosok oleh punggung tangan (allergic salute). Pada pemeriksaan

rinoskopi ditemukan mukosa hidung basah, berwarna pucat atau livid

dengan konka edema dan sekret yang encer dan banyak. Perlu juga dilihat

adanya kelainan septum atau polip hidung yang dapat memperberat gejala

hidung tersumbat. Selain itu, dapat pula ditemukan konjungtivis bilateral

atau penyakit yang berhubungan lainnya seperti sinusitis dan otitis media

(Irawati, 2002).
3. Pemeriksaan Penunjang
a. In vitro
Hitung eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau meningkat.

Demikian pula pemeriksaan IgE total (prist-paper radio imunosorbent

test) sering kali menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda alergi

pada pasien lebih dari satu macam penyakit, misalnya selain rinitis

alergi juga menderita asma bronkial atau urtikaria. Lebih bermakna

adalah dengan RAST (Radio Immuno Sorbent Test) atau ELISA

(Enzyme Linked Immuno Sorbent Assay Test). Pemeriksaan sitologi

hidung, walaupun tidak dapat memastikan diagnosis, tetap berguna

sebagai pemeriksaan pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam

26
jumlah banyak menunjukkan kemungkinan alergi inhalan. Jika basofil

(5 sel/lap) mungkin disebabkan alergi makanan, sedangkan jika

ditemukan sel PMN menunjukkan adanya infeksi bakteri (Irawati,

2002).
b. In vivo
Alergen penyebab dapat dicari dengan cara pemeriksaan tes cukit

kulit, uji intrakutan atau intradermal yang tunggal atau berseri (Skin

End-point Titration/SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan

dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi yang

bertingkat kepekatannya. Keuntungan SET, selain alergen penyebab

juga derajat alergi serta dosis inisial untuk desensitisasi dapat

diketahui (Sumarman, 2000). Untuk alergi makanan, uji kulit seperti

tersebut diatas kurang dapat diandalkan. Diagnosis biasanya

ditegakkan dengan diet eliminasi dan provokasi (“Challenge Test”).

Alergen ingestan secara tuntas lenyap dari tubuh dalam waktu lima

hari. Karena itu pada Challenge Test, makanan yang dicurigai

diberikan pada pasien setelah berpantang selama 5 hari, selanjutnya

diamati reaksinya. Pada diet eliminasi, jenis makanan setiap kali

dihilangkan dari menu makanan sampai suatu ketika gejala

menghilang dengan meniadakan suatu jenis makanan (Irawati, 2002).

II.3.6 Penatalaksanaan Terapi

Rinitis alergi adalah salah satu penyakit alergi tipe 1 pada mukosa hidung, yang

ditandai dengan bersin berulang, rhinorrhea, dan hidung tersumbat. Gejala rinitis

alergi dapat dicetuskan oleh berbagai faktor, diantaranya adalah udara dingin

27
debu, uap, bau cat, polusi udara, tinta cetak, bau masakan, bubuk detergen, serta

bau minuman beralkohol.Penatalaksanaan rhinitis alergi dapat dilakukan baik

secara farmakologi atau non farmakologi. Tujuan utama penatalaksanaan rinitis

alergi adalah mengurangi gejala. Pemilihan terapi dilakukan berdasarkan

keparahan gejala, tipe penyakit, dan gaya hidup.

II.3.6.1 Terapi Farmakologi

a. Anti Histamin

Histamin adalah mediator utama timbulnya gejala rinitis alergi pada fase

cepat dan dibentuk di dalam sel mast dan basofil ( preformed mediatoy). Histamin

dapat dikeluarkan dalam dalam waktu singkat, mempunyai efek vasoaktif yang

poten dan kontraksi otot polos melalui Hl reseptor pada target organ. Antihistamin

merupakan antagonis histamiin reseptor H1 yang bekerja secara inhibisi

kompetitif pada reseptor Hl dan menjadi preparat farmakologik yang paling sering

dipakai sebagai terapi pertama dalam pengobatan rinitis alergi. Adapun obat

antihistamin yang sering digunakan dalam swamedikasi rhinitis alergi yaitu

klorfeniramin maleat, deksklorfeniramin maleat, prometazin HCl dan tripolidin.

b. Dekongestan

Dekongestan secara primer dapat mengurangi sumbatan hidung dan efek

minimal dalam mengatasi rinore dan tidak mempunyai efek terhadap bersin, gatal

di hidung maupqn di mata. Pseudoefedrin merupakan stereoisomer efedrin dan

mempunyai kerja yang sama dengan efedrin, tetapi memiliki efek minimal

terhadap tekanan darah atau jantung dan SSP. Pemberian pseudoefedrin dapat

mengatasi hiperemi jaringan, edem mukosa dan meningkatkan patensi jalan napas

28
hidung. Obat ini berguna untuk mengatasi rinitis alergi bila dikombinasikan

dengan antihistamin. Adapun sediaan dekongestan yang dapat digunakan dalam

berswamedikasi dengan influenza yaitu xylometazoline, pseudoefedrin,

oximetazolin dan xylometazolin.

II.3.6.2 Terapi Non-Farmakologi

Secara umum penatalaksanaan rhinitis alergi terdiri dari 3 cara yaitu

menghindari atau eliminasi alergen dengan cara edukasi, farmakoterapi dan

imunoterapi, sedangkan tindakan operasi kadang diperlukan untuk mengatasi

komplikasi seperti sinusitis dan polip hidung. Terapi non farmakologi dapat

dilakukan dengan cara sebagai berikut:

 Penghindaran Alergen

Cara ini berfujuan mencegah terjadinya kontak antara alergen dengan IgE

spesifik yang terdapat dipermukaan sel mast atau basofil sehingga

degranulasi tidak terjadi dan gejala dapat dihindarkan. Perjalanan dan

beratnya penyakit berhubungan dengan konsentrasi alergen di lingkungan.

 Edukasi
Setiap pasien rhinitis alergi perlu diberikan pengetahuan tentang rhinitis

alergi, perjalanan penyakit dan tujuan pelaksanaannya. Pasien juga harus

diberikan informasi mengenai keuntungan dan efek samping yang

mungkin terjadi untuk mencegah ekspektasi yang salah dan meningkatkan

kepatuhan pasien terhadap obat yang diresepkan.

29
BAB III

SWAMEDIKASI

III.1 Obat Sintesis

Tidak ada terapi spesifik untuk pengobatan selesma, influenza, dan


rhinitis alergi. Semua pengobatannya bersifat simptomatis karena pada
dasarnya selesma, influenza, dan rhinitis alergi adalah penyakit yang bisa
sembuh sendiri (self-limiting). Obat penurun panas, dekongestan dan pengencer
dahak, antialergi dapat diberikan bila gejala sangat mengganggu.
Berikut pengobatan untuk selesma, influenza, dan rhinitis alergi :
1. Selesma :
 Antihistamin : klorferinamin maleat, deksklofeniramin maleat, prometazin
HCL
 Analgetik antipiretik : Paracetamol dan ibu profen
2. Influenza
 Dekongestan nasal : oximetazolin, xylometazoline
 Dekongestan oral : xylometazoline pseudoefedrin
 Antihistamin : klorferinamin maleat, deksklofeniramin maleat, prometazin
HCL
 Antitusif : Dextromethorphan, Difenhidramin HCL
 Ekspektoran : Gliserin Guaiakolat (Guafenisin)
 Analgetik antipiretik : Paracetamol, ibu profen
3. Rhinitis alergi
 Antihistamin : klorferinamin maleat, deksklofeniramin maleat, prometazin
HCL
 Dekongestan oral: efedrin, Fenilefrin, pseudoefedrin
 kortikosteroid : deksametason, prednisone, betametason
 Kombinasi antihitamindengan dekongestan oral

30
III.1.1 Dekongestan

Dekongestan digunakan untuk Mengurangi hidung tersumbat. Adapun Hal


yang harus diperhatikan ketika mengguankan obat ini yaitu Hati-hati pada
penderita diabet juvenil karena dapat meningkatkan kadar gula darah, penderita
tiroid, hipertensi, gangguan jantung dan penderita yang menggunakan antidepresi.
Mintalah saran dokter atau Apoteker. Obat yang tergolong dekongestan yaitu :
oxymetazoline, xylometazoline dan pseudoefedrin

1. Nama sediaan Afrin® 0,05 %

Produsen Bayer Indonesia


Bentuk sediaan Nasal Spray
Indikasi Untuk meringankan hidung tersumbat seperti
rhinitis akut, shinusitis akut dan kronik, Rhinitis
alergi
Komposisi sediaan 0,05 % Oxymetazoline dalam 10 mL
Dosis dan aturan pakai  Dewasa : sediaan 0,05 %, semprotkan 1-3
kali kemasing-masing lubang hidung
sebanyak sebanyak 2 kali sehari (pagi dan
menjelang tidur malam)
 Anak-anak usia 6 tahun atau lebih :
sediaan 0,05 %. 1-3 tetes/semprot
kemasing-masing lubang sebanyak 2 kali
sehari (pagi dan menjelang tidur malam)
 Anak-anak 2-5 tahun : sediaan 0.025 2-3
tetes/semprot kesetiap lubang hidung
sebanyak 2 kali sehari (pagi dan menjelang
tidur malam)
Efek samping Hidung dan mata terasa kering
Kontraindikasi Pada pasien hipetensi dan gagal jantung
Perhatian - Jangan melebihi dosisi yang dianjurkan
- Jangan digunakan untuk pemakaian lebih dari 3
hari berturut-turut
- Jangan digunakan bersama
- Hindarkan dari jangkauan anak-anak

31
Gambar sediaan

Golongan obat Obat Bebas Teerbatas


2. Nama sediaan Disudrin®
Produsen Medifarma/Pediatrica
Bentuk sediaan Syrup 15 mg/5 ml
Indikasi Dekongestan Oral
Komposisi sediaan Pseudoefedrin HCl
Dosis dan aturan pakai  Dosis dewasa 4 x 60 mg/ hari
 Anak-anak > 12 tahun 3 x 30 mg sehari
 Anak-anak 6-12 tahun 3 x 15 mg sehari
 Anak-anak 2-5 tahun 3 x 7,5 mg sehari
Efek samping Susah tidur, palpitasi, pusing, mual, muntah
hipertensi.
Kontraindikasi Hipersensitivitas, hipertensi berat, mendapat anti
depresan tipe MAO inhibitor, dan neonatus
Gambar sediaan

Golongan obat Obat Bebas Terbatas


3.Nama sediaan Erlavin®
Produsen PT Erela
Bentuk sediaan Cairan tetes hidung
Indikasi Dekongestan Oral
Komposisi sediaan Xylometazoline HCl
Dosis dan aturan pakai Dewasa dan anak-anak > 12 tahun : 1 tetes tiap
rongga hidung setiap pemakaian 3 kali sehari
Efek samping Sensasi menyengat, bersin, kekeringan mulut,

32
insomnia, denyut jantung cepat, hipertensi
Kontraindikasi Glaucoma, rhinitis kering, operasi trans nasal atau
transoral
Gambar sediaan

Golongan obat Obat bebas terbatas

III.1.2 Antihistamin

Antihistamin adalah zat-zat yang dapat mengurangi atau menghalangi efek


histamin terhadap tubuh dengan jalan memblok reseptor histamin. Obat yang
tergolong antihistamin antara lain: Klorfeniramin maleat/klorfenon/ CTM,
Deksklofeniramin Maleat, Prometazin HCL.

1. Nama sediaan Orphen ®


Produsen PT Solas
Bentuk sediaan Tablet
Indikasi Antihistamin
Komposisi sediaan Klorferinamin Maleat
Dosis dan aturan pakai Dosis dewasa: 4 mg digunakan 4 – 6 jam sekali.
Maksimal penggunaan 24 mg per hari.
Dosis anak-anak:
Umur 1 – 2 tahun: 1 mg 2 kali sehari.
Umur 2 – 5 tahun: 1 mg 4 – 6 jam sekali.
Maksimal 6 mg per hari.
Umur 6 – 12 tahun: 2 mg 4 – 6 jam sekali.
Maksimal 12 mg per hari.
Diatas 12 tahun: sama dengan dosis dewasa.
Efek samping Tekanan pada sistem saraf pusat yang memicu
sakit kepala. Mengantuk, Mual dan muntah, Nyeri
perut, Gangguan atau sulit buang air kecil,
Gangguan penglihatan, Sembelit atau konstipasi,
Hidung, tenggorokan dan mulut terasa kering,
Nafsu makan berkurang.
Kontraindikasi Riwayat hipersensitivitas/alergi terhadap
chlorpheniramine atau jenis antihistamin lainnya.
Penderita asma akut, glaukoma sudut sempit, ulkus
peptikum stenosis, mengalami gejala hipertropi

33
prostate, atau mengalami obstruksi saluran kemih.
Gambar sediaan

Golongan obat Obat bebas terbatas


2. Nama sediaan Alegi ®
Produsen PT Lapi
Bentuk sediaan Tablet
Indikasi Antihistamin
Komposisi sediaan Dexamethasone dan Dexclorpheniramine Maleate
Dosis dan aturan pakai  Aturan pakai : desawa : 1 tablet 3-4 kali
sehari
 Anak-anak 6-12 tahun : ½ tablet 3-4 kali
sehari
 Anak-anak 2-6 tahun ¼ tablet 3-4 kali
sehari
Efek samping Ganguan gasroinsterstinal, mulut kering, retensi
cairan adan elektrolit dan reaksi metabolit.
Kontraindikasi Infeksi jamur sistemik, tukak lambung aktif,
herpes simplek ocular pasien yang mendapat
terapi MAOI, neonates, bayi premature.
Gambar sediaan

Golongan obat Obat keras


3.Nama sediaan Prometazin ERA®
Produsen PT Sanofi
Bentuk sediaan Tablet
Indikasi Antihistamin
Komposisi sediaan Promethazine
Dosis dan aturan pakai Dewasa: 25 mg yang dikonsumsi pada malam
hari. Dapat ditingkatkan menjadi 25 mg, dua kali
sehari jika diperlukan.
Anak usia 2-5 tahun: 5-15 mg per hari, dibagi
menjadi 1-2 kali dosis.

34
Anak usia 6-10 tahun: 10-25 mg, dibagi menjadi
1-2 kali dosis per hari.
Efek samping Mengantuk, pusing, kelelahan, lebih jarang
vertigo, Mulut kering, Pernapasan depresi pada
pasien di bawah usia 2 dan pada mereka dengan
fungsi paru terancam, Sembelit.
Kontraindikasi Pada ibu hamil dan ibu menyusui, penyakit hati
dan jantung
Gambar sediaan

Golongan obat Obat bebas terbatas

III.1.3 Antitusif

Obat yang digunakan untuk Penekan batuk cukup kuat kecuali untuk batuk
akut yang berat. Contoh obat yang masuk dalam golongan ini yaitu
dextromethorphan dan difenhidramin HCL (ikadril DMP ).
1. Nama Sediaan Dextromethorphan®
Produsen PT Kimia Farma
Bentuk Sediaan Tablet dan Sirup
Indikasi Antitusif kuat
Komposisi Dextrometorphan
Sediaan
Dosis dan Aturan  Dosis anak 4 – 6 tahun: 2,5– 5 mg sebanyak 3
Pakai – 6 kali per hari, maksimal 30 mg/hari.
 Dosis anak 6 – 12 tahun: 5 – 10 mg sebanyak 6
kali per hari atau 15 mg sebanyak 3 – 4 kali
per hari.
 Dosis dewasa: 10 – 30 mg sebanyak 3 – 6 kali
per hari, maksimal 120 mg per hari
Efek Samping Mengantuk, Pusing, Mual, Muntah
Kontraindikasi Alergi (asma, biduran) dan pada
penderita fenilketonuria.

Gambar Sediaan

35
Golongan Obat Obat Bebas Terbatas
2. Nama Sediaan Vadres ®
Produsen PT Phapros
Bentuk Sediaan Tablett
Indikasi Antitusif
Komposisi Difenhidramin
Sediaan
Dosis dan Aturan Dewasa : 1-2 kapsul (25-50 mg) setiap 8 jam, Anak :
Pakai ½ tablet (12,5 mg) setiap 6-8 jam.
Efek Samping Rasa kantuk, Gelisah, Disorientasi, Euforia, Kejang,
Vertigo, Penglihatan kabur, Penglihatan ganda,
Telinga berdenging, Menurunkan fungsi kognitif pada
pasien orang tua, Jantung berdebar, Tekanan darah
rendah, Konstipasi, Tekanan darah rendah, Nafsu
makan menurun, Gangguan waktu menstruasi, Mulut
kering, Mukosa hidung kering, Tenggorokan terasa
kering, Dahak kental, Agranulositosis, Anemia
hemolitik, Trombositopenia.
Kontraindikasi Hipersensivitas , gangguan fungsi hati, terapi bersama
dengan MAOI
Gambar Sediaan

Golongan Obat Obat Bebas Terbatas

36
III.1.4 Ekspektoran

Ekspektoran adalah oaby yang digunakan Mengencerkan lendir saluran

napas. obat yang masuk kedalam golongan obat ini yaitu gliserin guaiakolat

(guafenisin).

1. Nama sediaan Guaifenesin®


Produsen PT Trifa
Bentuk sediaan Tablet
Indikasi Ekspektoran
Komposisi sediaan Guaifenesin
Dosis dan aturan Dewasa : 2-4 x 200-400 mg sehari.
pakai
Efek samping Pusing, mengantuk, sakit kepala, kulit kemerahan,
mual, muntah, dan nyeri perut.
Kontraindikasi Hipersensivitas
Gambar sediaan

Golongan obat Obat bebas terbatas

III.1.5 Analgetik antipiretik


1. Nama Sediaan Sanmol ®
Produsen PT Sanbe Farma
Bentuk Sediaan Tablet, Sirup
Indikasi Antipiretik
Komposisi Paracetamol
Sediaan
Dosis dan Aturan  tablet dewasa : 1-2 tablet, anak-anak : ½ tablet
Pakai  Sirup : anak 1-2 tahun 5 ml, 2-6 tahun : 5-10
ml, 6-9 tahun ; 10-15 ml, 9-12 tahun : 15-20
ml
 Tetes anak < 1 tahun 0,6 ml, 1-2 tahun : 0,6-
1,2 ml, tablet forte dewasa dan anak > 12
tahun 1 tablet, maksimal 4 gram/ hari
 Semua dosis diberikan 3- 4 kali sehari
Efek Samping Reaksi hematologi, reaksi kulit dan reaksi alergi

37
lainnya, kerusakan hati (pengguna jangka lama dan
overdosis)
Kontraindikasi Hipersensivitas, dan angguan fungsi hari berat
Gambar Sediaan

Golongan Obat Obat bebas


2. Nama Sediaan Buffect Forte®
Produsen PT Sanbe Farma
Bentuk Sediaan Tablet, Suspensi dan Injeksi
Indikasi Antipiretik dan analgetik
Komposisi Ibuprofen
Sediaan
Dosis dan Aturan  tablet dewasa dan anak 8-12 tahun 1tablet, 3-7
Pakai tahun tahun ½ tablet, 1-2 tahun ¼ tablet diberikan
3-4 kali sehari
 Bufect oral suspensi dewasa 2 sendok suspensi
3-4 kali sehari, anak-anak 1 sendok makan
suspensi 3-4 kali sehari.
Efek Samping Mual, muntah, diare, kontipasi, , nyeri abdomen, atau
rasa terbakar pada perut bagian atas, ruam kulit,
bronkoasme, trombositopenia, limfopenia, dan
gangguan penglihatan
Kontraindikasi Hipersensitivitas terhadap AINS lain, ulkus peptic,
pasien mengalami asma dan utrikaria
Gambar Sediaan

Golongan Obat Tablet 400 mg ibuprofen (Obat Keras)


Suspesni (Obat bebas terbatas)

38
III.1.6 Kortikosteroid
1. Nama sediaan Dexamethasone®
Produsen PT Kimia Farma
Bentuk sediaan Tablet
Indikasi Kortikosteroid
Komposisi sediaan Dexamethasone
Dosis dan aturan Dewasa : 0.5 - 10 mg dalam dosis terbagi.
pakai Anak (0 - 1 tahun) : 0.1 - 0.25 mg, 2 kali per hari.
Anak (1 - 5 tahun) : 0.25 - 1 mg, 2 kali per hari.
Anak (6 - 12 tahun) : 0.25 - 2 mg, 2 kali per hari.
Efek samping Acne atau jerawat pada kulit, Moon face (wajah
membulat, pada penggunaan jangka panjang),
Insomnia (gangguan tidur), Vertigo,
Peningkatan nafsu makan, Peningkatan berat
badan, Gangguan penyembuhan luka, Depresi,
Euphoria (rasa senang yang berlebihan), Tekanan
darah tinggi, Peningkatan resiko terjadinya infeksi,
Peningkatan tekanan intraokular (tekana dalam
bola mata), Mual dan muntah.
Kontraindikasi Dexamethason tidak boleh diberikan pada
penderita herpes simplex pada mata ; tuberkulose
aktif, peptic ulcer aktif atau psikosis, osteoporosis,
diabetes mellitus, hipertensi, insufisiensi ginjal,
infeksi akut atau kronis. Jangan diberikan pada
wanita hamil karena akan terjadi hipoadrenalin
pada bayi yang dikandungnya atau dapat diberikan
dengan dosis yang serendah-rendahnya.
Golongan obat Obat keras

III.1.7 Obat-obat kombinasi


1. Nama Sediaan Bodrexin® Pilek Alergi

Produsen PTTempo Scan Pacific

Bentuk Sediaan Sirup 56 mL

Indikasi Meringankan pilek alergi, bersin-bersin, dan hidung


tersumbat

Komposisi Tiap sendok takar (5 ml) mengandung :


Sediaan Pseudoephedrine HCI 7,5 mg, Chlorpheniramine
Maleate 0,5 mg.

Dosis dan Aturan Anak 2-5 tahun : 1 sendok takar (5 ml) 3 kali sehari
Pakai Anak 6-12 tahun : 2 sendok takar (10 ml) 3 kali

39
sehari

Efek Samping Gangguan pcncernaan, gangguan psikomotor,


takikardia, aritmia, mulut kcn’ng, palpitasi, retensi
urin, sakit kepala, insomnia, eksitasi, tremor, sulit
berkemih dan mengantuk

Perhatian Hati-hati penggunaan pada penderita dengan


gangguan fungsi ginjal, glaukoma, hipertrof prostat,
hipertiroid, retensi urin, gangguan jantung dan
diabetes mellitus. Tidak dianjurkan penggunaan pada
anak usia dibawah 2 tahun, wanita hamil dan
menyusui.

Kontraindikasi Penderita hipersensitif terhadap komponen obat ini,


penderita dengan tekanan darah tinggi

Gambar Sediaan

Golongan Obat Obat Bebas Terbatas

2. Nama sediaan Decolgen® Tablet

Produsen PT Media Farma

Bentuk sediaan Tablet

Indikasi Flu disertai sakit kepala berat dan


meringankan gejala flu
lainnya seperti demam , hidung tersumbat, serta
bersin.

40
Komposisi sediaanAcetaminophen 650 mg, Pseudoephedrin HCl
30 mg, Chlorpheniramin maleat 2 mg.
Dosis dan aturan Dewasa 1 kaplet , Anak 6-12 tahun ½ kapl.
pakai Diberikan 3 kali sehari.

Efek samping  Mengantuk.


 Gangguan pencernaan.
 Penurunan napsu makan.
 Mual dan muntah.
 Pusing.
 Gangguan psikomotor.
 Jantung berdetak cepat dan berdebar-debar
Kontraindikasi  pasien yang mengonsumsi inhibitor monoamin
oksidase (MAOi)
 Hipersensitivitas terhadap komponen yang ada
pada Decolgen.
 Pasien pada kondisi berikut: penyakit koroner
berat atau penyakit kardiovaskuler (meliputi infark
miokardium, yaitu kondisi sumbatan pembuluh
darah pada jantung), hipertensi berat, dan
takikardi ventrikel.
 Pemberian berulang dikontraindikasikan pada
pasien dengan penyakit anemia atau gangguan
jantung-paru, ginjal, dan penyakit hati.
Gambar sediaan

Golongan obat Obat bebas terbatas

3. Nama sediaan Mixagrip®

Produsen PT Dankos Farma

Bentuk sediaan Tablet

Indikasi Meredakan dan meringankan gejala influenza seperti


demam, sakit kepala, hidung tersumbat, dan bersin-
bersin

Komposisi sediaan Per kapl Paracetamol 500 mg, Phenylephrine HCl 15


mg, Chlopheniramin maleat 2 mg

41
Dosis dan aturan Dewasa 1-2 kapl Anak ½-1 kapl.3-4 kali sehari
pakai

Efek samping Mengantuk, pusing, mulut kering, serang seperti


epilepsi (dosis besar), ruam kulit.

Kontraindikasi Hipertiroid, hipertensi, peny koroner, nefropati,terapi


MAOI

Interaksi Obat Antihistamin dapat berpotensiasi dengan depresan


SSP lainnya. Efek diperpanjang oleh MAOI,
Penggunaan Paracetamol jangka panjang dapat
berpotensi sebagai antikoagulan oral.

Gambar sediaan

Golongan obat Obat bebas terbatas

4. Nama sediaan Procold®

Produsen PT Kalbe Farma

Bentuk sediaan Kaplet

Indikasi Meringankan gejala flu seperti demam, sakit kepala,


hidung tersumbat, dan bersin-bersin

Komposisi sediaan Asetaminophen 500 mg


Pseudoephendrin HCl 30 mg
Chlorpheniramin maleat 2 mg

Dosis dan aturan Dewasa 1 kapl Anak ½ kapl. Diberikan 3 kali sehari
pakai

Efek samping Gangguan GI, gangguan psikomotor, takikardia,


kerusakan hati, palpitasi, retensi urin, mulut kering.

Kontraindikasi Terapi MAOI, usia lanjut

Interaksi Obat Penggunaan bersama antidepresan tipe penghambat

42
MAO dapat menyebabkan krisis hipertensi

Gambar sediaan

Golongan obat Obat bebas terbatas

5. Nama sediaan Neozep Forte®

Produsen PT Medifarma Lab

Bentuk sediaan Kaplet

Indikasi Flu dan Rhinitis Alergi

Komposisi sediaan Phenylpropanolamin HCl 15 mg, Paracetamol


250 mg, Salicylamid 150 mg, Chlorpheniramin
maleat 2 mg, Ascorbic acid 25 mg

Dosis dan aturan Dewasa 1 tablet 3-4 kali sehari Anak > 6 tahun ½
pakai dosis dewasa

Gambar sediaan

Golongan obat Obat bebas terbatas

III.2 Ramuan Pengobatan Herbal

III.2.1 Selesma dan Influenza

1. Sambiloto

43
Spesies : Andrographis paniculata Nees
Kandungan : Secara kimia mengandung flavonoid dan lakton. Pada
lakton, komponen utamanya adalah andrographolide, yang juga
merupakan zat aktif utama dari tanaman ini. Tanaman sambiloto memiliki
kandungan andrographolide yang dapat meningkatkan imunitas disaluran
pernafasan atas sehingga efektif untuk penyembuhan gejala common cold.
Cara pembuatan sediaan :
- Cara penggunaan sambiloto cukup bervariasi salah satu cara yaitu
dengan mengambil daun sambiloto segar sebanyak 1 genggam tangan
kemudian ditumbuk dan ditambahkan ½ cangkir air matang lalu saring
dan siap diminum.
- Cara yang lain yaitu sebanyak 3 gram tanaman kering sambiloto atau
25 gram bahan segar direbus.
Aturan pemakaian: Diminum 2 kali/hari sebelum makan. Penggunaan
herbal sambiloto akan efektif digunakan selama 3-5 hari setelah gejala
awal muncul.
2. Bawang Putih

Spesies : Allium sativum Linn


Kandungan : Bawang putih mengandung alisin yang mempunyai daya
antibiotika cukup ampuh dengan cara merusak protein kuman penyakit
sehingga kuman penyakit mati. Bawang putih juga mangandung scordinin

44
yang memiliki kemampuan meningkatkan daya tahan tubuh dan
pertumbuhan.
Cara pembuatan sediaan :
- Hancurkan atau cincang 5 siung bawang putih. Campurkan dengan 5
sendok makan madu dan tambahkan secangkir air suam-suam kuku.
Biarkan selama 10 menit lalu saring.
- Tambahkan irisan bawang putih pada kuah sup hangat, hal ini karena
irisan bawang putih akan melepaskan senyawa allicin yang merupakan
antibiotik alami yang akan membunuh virus dan infeksi bakteri.
Aturan pemakaian : Campuran harus segera diminum.

3. Bawang Bombay

Spesies : Allium cepa L.


Kandungan : Bawang bombay adalah sumber mineral dan mineral
mikro seperti sulfur, sebagai pelengkap vitamin C dan B serta flavonoid,
yang merupakan obat antiviral yang kuat. Bawang bombay juga memiliki
khasiat antibakterial.
Cara pembuatan sediaan :
- Potong-potong satu buah bawang bombay ukuran sedang dan campur
dengan 3 sendok makan madu. Tambahkan air dan masaklah. Biarkan
selama 3 jam, kemudian disaring.
Aturan pemakaian : Diminum 5-10 sendok makan sehari.
4. Jahe

45
Spesies : Zingiber officinale Rosc.
Kandungan : Minyak atsiri seperti cineol, linalool, gingerol, limonene,
citral, dan lain-lain.
Cara pembuatan sediaan :
- 50 gram rimpang jahe dimemarkan, 2 batang serai dimemarkan, dan 5
butir lada putih ditumbuk kasar. Semua bahan direbus dengan 600 ml
air hingga mendidih selama 5 menit. Setelah itu disaring dan
ditambahkan gula jawa.
Aturan pemakaian : Diminum hangat-hangat 2 kali sehari.
5. Meniran

Spesies : Phyllanthus urinaria L.


Kandungan : Mengandung filantin, hipofilantin, kalium, daman, dan
tanin.
Cara pembuatan sediaan :
- Daun atau akar meniran yang telah dikeringkan sebanyak 5 gram
direbus dengan 3 gelas air hingga tersisa 1,5 gelas.
Aturan pemakaian : Diminum 2 kali sehari pada pagi dan sore hari.

III.2.2 Rhinitis Alergi

1. Ramuan Temulawak dan Legundi


- Temulawak

Spesies : Curcuma xanthorrhiza

46
Kandungan : Rimpang temulawak mengandung kurkumin, xhantorizol,
kurkuminoid, minyak atsiri dengan komponen a-kurkumen, germaktan, ar-
tumeron, β-atlantanton, d-kamfor.

- Legundi

Spesies : Vitex trifolia


Kandungan : Daun legundi mengandung minyak atsiri yang tersusun
dari seskuiterpen, terpenoid, senyawa ester, alkaloid, glikosida flavon,
glukosida dan senyawa hidrokarbon.

Cara pembuatan sediaan :


- Daun legundi direbus sebanyak 5,2 gram dan temulawak 4,2 gram
dengan air 250 ml.
Aturan pemakaian : Diminum 3 kali sehari
2. Ramuan Sambiloto, Kunyit, dan Temulawak
- Temulawak

Spesies : Curcuma xanthorrhiza

47
Kandungan : Rimpang temulawak mengandung kurkumin,
xhantorizol, kurkuminoid, minyak atsiri dengan komponen a-
kurkkumen, germaktan, ar-tumeron, β-atlantanton, d-kamfor.

- Sambiloto

Spesies : Andrographis paniculata Nees


Kandungan : Secara kimia mengandung flavonoid dan lakton.
Pada lakton, komponen utamanya adalah andrographolide, yang juga
merupakan zat aktif utama dari tanaman ini.
- Kunyit

Spesies: Curcuma longa Linn. Syn


Kandungan : Rimpang kunyit mengandung minyak atsiri yang
terdiri dari seskuiterpen dan turunan fenilpropana turmeron, kurlon
kurkumol, atlanton, bisabolen, aril kurkumen, zingiberen, guanicol.
Cara pembuatan sediaan :
5 lembar daun sambiloto segar, 1 ruas jari kunyit yang sudah dikupas
dan diiris, 1 ruas jari temulawak yang sudah dikupas dan diiris.
Direbus semua bahan dalam 2 gelas air hingga tersisa 1 gelas air.
Aturan pemakaian : Minum 1-2 kali sehari sebelum makan.

48
III.3 Sediaan Obat Jadi Herbal

1. Sinuris

Nama sediaan : Sinuris

Komposisi :

Tiap Kapsul Mengandung ekstrak yang setara dengan :

- 0,6 gram simplisia Hedyotis corimbosa herba


- 0,4 gram simplisia Curcuma domestica rhizoma
- 0,4 gram simplisia Plantago major folium
- 0,4 gram simplisia Andrographis paniculata herba
- 0,2 gram simplisia Curcuma xanthoriza rhizoma

Bentuk sediaan : Kapsul


Kegunaan : Membantu meredakan gejala selesma.
Aturan pakai : 3 x 2 kapsul perhari
2. Tolak Angin Flu

Nama sediaan : Tolak Angin Flu

49
Komposisi : Adas,Kayu Ules Daun Cengkeh, Daun Mint,
Madu, Phyllanthi Herba, Valerianae Radix,
Echinacea, Ginseng, Fructose, Sucrose
Bentuk sediaan : Cair
Kegunaan : Mengatasi flu dan berbagai gejalanya seperti pilek,
batuk, demam, dan pusing.
Aturan pakai :
- Langsung diminum atau dicampur dengan 1/2 gelas air hangat
- Diminum 3 kali sehari 1 sachet setelah makan
3. Tolak Angin

Nama sediaan : Tolak Angin

Komposisi : Adas,Kayu Ules, Daun Cengkeh, Jahe, Daun


Mint, Madu
Bentuk sediaan : Cair
Kegunaan : Membantu mengatasi berbagai gejala masuk
angin, seperti : mual, pusing, flu, dan demam, serta
menjaga daya tahan tubuh saat beraktifitas atau
melakukan perjalanan jauh.
Aturan pakai :
- Diminum 1 sachet setiap hari untuk menjaga daya tahan tubuh.
- Diminum 2 sachet setiap hari selama 7 hari atau hingga kondisi
membaik.
4. Herbal Alami Selesma

50
Nama sediaan : Herbal Alami Selesma

Komposisi : Zingiberis Rhizoma, Kaempferiae Rhizoma, Hirtae


Herba, Centellae Herba, Achyranthi Folium,
Blumae Folium, Curcumae aeruginosae Rhizoma,
Anisi Fructus, Zingiberis purpurei Rhizoma,
Parkiae Semen, Coptici Fructus, Myristicae
Semen, Alyxiae Cortex, Glycyrrhizae Radix.
Bentuk sediaan : Cair
Kegunaan : Air mancur jamu Selesma 35A berfungsi untuk
membantu meredakan demam. Membantu
meredakan batuk, pilek, dan meriang.
Aturan pakai : Diminum setiap hari 2 kali sebanyak 1
bungkus. Bila perlu diminum 3 kali sehari
sebanyak 1 bungkus.

5. Jamu Selesma

51
Nama sediaan : Jamu Selesma

Komposisi : Zingiberis Rhizoma, Curcumae Rhizoma,


Retrofracti Fructus, Usneae Thallus, Myristicae
Semen
Bentuk sediaan : Cair
Kegunaan : Jamu sidomuncul Selesma berfungsi mengurangi
gejala demam salesma yang terjadi terutama pada
saat-saat perubahan cuaca dengan gejala-gejalanya
: suhu badan naik, pusing kepala, mata pedas,
hidung tersumbat.
Aturan pakai :

- 2 x sehari 1 bungkus sampai gejala-gejalanya menghilang.


- 1 bungkus diseduh dengan air hangat
6. Fitogura Flu & Batuk

Nama sediaan : Fitogura Flu & Batuk

52
Komposisi :
Tiap kapsul mengandung ekstrak :
- Nigella sativa semen 300 mg
- Clereodendron serratum 100 mg
- Selaginella deoderleinii 25 mg
- Cymbopogon citratus 100 mg
- Hedyotis corymbosa 25 mg
Bentuk sediaan : Kapsul
Kegunaan : Secra tradisional digunakan untuk obat flu herbal,
batuk berserta gejalanya dan gangguan pernapasan
Aturan pakai : 3 x 1-3 kapsul sehari
7. Stimuno Forte

Nama sediaan : Stimuno Forte

Komposisi : Estrak Phyllanthus niruri ( meniran ) 50 mg.


Bentuk sediaan : Kapsul
Kegunaan : Membantu sistim imun tubuh agar bekerja lebih
aktif dan dapat memperbanyak produksi antibodi
sehingga kekebalan tubuh lebih kuat
Aturan pakai : 3 x 1 kapsul sehari

DAFTAR PUSTAKA

Abelson, B., 2009, Flu Shots, Antibiotics, & Your Immune System, (online),
(http://www.drabelson.com/PDF/Flu.pdf).

53
Adams G., Boies L., Higler P., 1997. Buku Ajar Penyakit THT. Edisi ke enam.
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Jakarta: 135-142.

Adi, Lukas. T. 2007. Terapi Herbal Berdasarkan Golongan Darah. Jakarta:


AgroMedia.

Adhikary, M., Tiwari, P., Singh, S., & Karoo, C. (2014). Study of self-medication
practices and its determinant among college students of Delhi University
North Campus, New Delhi, India. International Journal of Medical Science
and Public Health, 3(4), 406-409.
Akoso, B.T & Galuh, H.E. 2010. Bebas Pilek dan Flu. Yogyakarta: Kanisius.

Anonim. (2016). MIMS Petunjuk Konsultasi, Edisi 16. Jakarta: PT. Bhuana Ilmu
Populer.
ARIA -World Health organisation initiative, allergic rhinitis and its impact on
asthma. J allergy clinical immunology : S147-S276.

Badan POM, 2006. Pedoman Cara Pembuatan Obat yang Baik. Jakarta: BPOM.

Becker EW. 1994. Microalgae Biotechnology and Microbiology. Melbourne:


Cambridge University Press. Hal 293.

Berardi, R., 2004, Handbook of Nonprescription Drugs, Edisi IV, American


Pharmacist Assosiation, Amerika. Hal: 919-920.

Bosquet, J., Maesano, I.A., Carat, F., Leger, D., Rugina, M., Pribil, C., Hasnaoui,
A.E., Chanal, I., 2005. Charactheristics of Intermittent and Persistent
Allergic Rhinitis. DREAMS Study Grup. Clin Exp Allergy 35 : 728-732.

Bridges, 2002, Prevention and Control of Influenza Recommendation and reports


2002.
Canonica, G.W, 2003. Evaluation and Management of Patients with Asthma and
allergic Rhinitis: Exploring The Potential Role for Leukotrine Receptor
Antagonist. Clin Exp All Rev, 3: 61-6.

54
Departemen Kesehatan RI, 2006, Pedoman Supervisi dan Evaluasi Obat Publik
dan Perbekalan Kesehatan. Cetakan Kedua. Jakarta: Dirjen Binfar dan
Alkes.
Departemen Kesehatan RI, 2008, Pedoman Pengelolaan Perbekalan farmasi di
Rumah Sakit. Jakarta : Direktorat Jenderal Bina Kefarmasian dan Alat
Kesehatan.
DiPiro J.T., Wells B.G., Schwinghammer T.L. and DiPiro C. V., 2012,
Pharmacotherapy Handbook, 9th edition., McGraw-Hill Education
Companies, Inggris.
Harmadji S, 1993. Gejala dan Diagnosa Penyakit Alergi THT. Dalam : Kumpulan
Makalah Kursus Penyegar Alergi Imunologi di Bidang THT, Bukit Tinggi.

Husni, Teuku, 2008, Peningkatan Hidup Penderita Rinitis Alergi Paska


Imunoterapi Spefik, Jurnal Kedokteran Syiah Kuala, Vol 8(3).

Irawati N, 2002. Panduan Penatalaksanaan Terkini Rinitis Alergi, Dalam :


Kumpulan Makalah Simposium “Current Opinion In Allergy andClinical
Immunology”, Divisi Alergi- Imunologi Klinik FK UI/RSUPN-CM,
Jakarta:55-65.

Irawati N, Kasakeyan E, Rusmono, N, 2008. Alergi Hidung dalam Buku Ajar Ilmu
Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala Leher. Edisi keenam.
Jakarta: FKUI,.

Kaplan AP dan Cauwenberge PV, 2003. Allergic Rhinitis In : GLORIA Global


Resources Allegy Allergic Rhinitis and Allergic Conjunctivitis, Revised
Guidelines, Milwaukeem USA:P, 12

Kerthyasa, T.G & Indri, Y. 2013. Sehat Histolik Secara Alami. Bandung: Qanita.

Koda Kimble, M.A., 2009. Applied Therapeutics The Clinical Use of Drugs.
Lippincott Williams & Wilkins, Philadephia.
Lee, H.-S., et al., Chlorpheniramine-induced anaphylaxis diagnosed by basophil
activation test. Asia Pacific Allergy, 2015. 5(3): p. 177-180.

55
Lorensia, Amelia dan Nina Purnama Sari, 2017, Efektivitas Edukasi Untuk
Meningkatkan Pengetahuan Masyarakat Dalam Penanganan Rinitis
Alergi, Jurnal Ilmiah Manuntung,Vol 3 (2), 122-132.
Osemene, K. P., & Lamikanra, A. (2012). A study of the prevalence of self -
medication practice among university students in Southwestern Nigeria.
Tropical Journal of Pharmaceutical Research, 11(4), 683-689.
Purwaningsih, E. 2006. Bawang Putih. Bekasi: Ganeca Exact.

Rusmono N, 2008. Epidemiologi dan Insidensi Penyakit Alergi di Bidang Telinga,


Hidung dan Tenggorakan, Dalam: Kumpulan Makalah Kursus
Penyegaran Alergi Imunologi di Bidang THT, PIT PERHATI, Bukit Tinggi,
pp.1-5.

Septriana, M., Novita, P., & Herra, S. 2018. Terapi Rhinitis Alergi Dengan
Akupuntur Serta Herbal Legundi dan Temulawak. Journal of Vocational
Health Studies. 60-66.

Supriyatna, dkk. 2015. Fitoterapi Sistem Organ : Pandangan Dunia Barat


Terhadap Obat Herbal Global. Yogyakarta: Deepublish.

Soepardi.E.A, N.Iskandar, J.Bashiruddin, R.D.Restuti. Buku Ajar Ilmu Kesehatan


Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Vol VI(6). Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia. 2011.

Sweetman, Sean C. (2009). Martindale The Complete Drug Reference 36th Ed,
Pharmaceutical Press, USA.
Tjay, T.H., dkk, 2006, Obat-Obat Penting: Khasiat, Penggunaan, dan Efek-Efek
Sampingnya , Edisi keenam, Cetakan Pertama, PT Elex Media
Komputindo Kelompok Gramedia, Jakarta

Widyawati, T. 2007. Aspek Farmakologi Sambiloto (Andrographis paniculata


Nees). Majalah Kedokteran Nusantara. Volume 40 : 217.

56
57