Anda di halaman 1dari 3

1. Khalifa Umar bin Khattab.

Kebutuhan (need/hajat) bisa dipahami sebagai sesuatu yang harus dipenuhi untuk kelangsungan hidup manusia.
Sebagai contoh: bila kebutuhan seseorang tidak terpenuhi misalnya seperti ibadah, makan, minum. Maka akan memberikan
dampak yang sangat fatal. Seseorang yang kelaparan atau kehausan karena tidak makan dan minum, bisa mati. Seseorang
yang tidak memiliki keyakinan agama atau tidak melaksanakan ajaran agamanya membuat hidupnya hampa.

2.
Sumber hukum Ekonomi Syariah :
a. Al Quran
Sumber hukum Islam yang abadi dan asli adalah kitab suci Al Quran. Al Quran merupakan amanat sesungguhnya
yang disampaikan Allah melalui ucapan Nabi Muhammad SAW untuk membimbing umat manusia. Amanat ini
bersifat universal, abadi dan fundamental.
Contoh penerapannya: Al Quran memberikan hukum-hukum ekonomi yang sesuai dengan tujuan dan cita-cita
ekonomi Islam itu sendiri. Al Quran memberikan hukum-hukum ekonomi yang dapat menciptakan kestabilan
dalam perekonomian itu sendiri.
b. Hadist
Dalam konteks hukum Islam, sunnah yang secara harfiah berarti “cara, adat istiadat, kebiasaan hidup” mengacu
pada perilaku Nabi SAW yang dijadikan teladan, sunnah sebagian besar didasarkan pada praktek normatif
masyarakat di zamannya.
Contoh penerapannya: sebagai sumber ekonomi Islam, sunnah memberikan gambaran perilaku Rasulullah dalam
melakukan kegiatan ekonomi dalam kehidupan sehari-hari yang dilakukan Beliau, dan sesuai dengan tujuan syar’i.
c. Ijma’
Ijma’ adalah suatu prinsip isi hukum baru yang timbul sebagi akibat dalam melakukan penawaran dan logikanya
menghadapi suatu masyarakat yang meluas dengan cepat.
Contoh penerapannya: hukum mengenakan wig dan menyambung rambut adalah haram, nishab dan cara
hitungan zakat antara kerbau dan sapi adalah sama, boleh menggunakan sejenis cat selain warna hitam untuk
rambut, hukum menyukur jenggot sampai habis adalah makruh sebaiknya hanya merapikan saja.
d. Ijtihad dan Qiyas
Ijtihad merupakan penafsiran kembali dasar hukum ekonomi Islam seperti Al Quran dan hadist untuk disesuaikan
dengan kondisi yang ada.
Qiyas adalah persamaan hukum suatu kasus dengan kasus lainnya karena kesamaan illat hukumnya yang tidak
dapat diketahui melalui pemahaman bahasa secara murni.
Contoh penerapannya: hukum meminum arak adalah haram. Arak tidak ada pada zaman Rasulullah, yang ada yaitu
khamr dan arak adalah sama (memabukkan, menjijikkan, kotor, dsb). Dengan demikian hukum meminum arak
adalah haram.
e. Maslahah Mursalah
Tidak ada ketegasan hukum dalam Al Quran dan Hadist sehingga kita dapat melihat apakah hal tersebut lebih
banyak maslahatnya atau mudharatnya.
Contoh penerapannya: pemerintah mengatur usia perkawinan, pengaturan ini berjuan untuk menjaga maslahat
yakni kesehatan pasangan dan keturunannya.
f. Istishab dan Istihsan
Istishab adalah memperlakukan hukum yang sudah berlaku atau kembali ke hukum asal sampai terdapat dalil yang
menunjukkan perubahannya.
Istihsan adalah menghitung-hitung sesuatu dan menganggapnya kebaikan menurut akal pada mujtahid.
Contoh penerapannya: istihsan dalam jual beli salam (barang belum ada pada waktu pembeli membayar
harganya), juga dalam perburuhan, perkebunan/pertanian dan barang baru mau dibuat kan pada waktu akad.
Semua akad ini, barang belum ada, tetapi dibolehkan agama atas dasar istihsan, karena masyarakat memang
membutuhkannya.
g. Al Urf
Al Urf merupakan Istilah Islam yang dimaknai sebagai adat kebiasaan, atau secara etimologi urf berarti sesuatu
yang dipandang baik dan diterima oleh akal sehat. Al Urf merupakan sumber hukum dari ushul fiqih yang diambil
dari Al Quran, yang dipahami sebagai sesuatu yang baik dan telah menjadi kebiasaan masyarakat.
Contoh penerapannya: masyarakat dalam melakukan jual beli kebutuhan ringan sehari-hari seperti garam, tomat,
gula, dsb. Dengan hanya menerima barang dan menyerahkan harga (uang) tanpa mengucapkan ijab dan qabul.
Ilmuwan Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyah, dan Al Ghazali.
3. 5 hubungan ushulul fiqh dan muamalah:
1) Memberikan pengertian dasar tentang kaidah-kaidah dan metodologi para ulama mujtahid dalam menggali
hukum.
2) Menggambarkan persyaratan yang harus dimiliki seorang mujtahid, agar mampu menggali hukum syara’ secara
tepat.
3) Memberi bekal untuk menentukan hukum melalui metode yang dikembangkan oleh para mujtahid, sehingga dapat
memecahkan berbagai persoalan baru.
4) Memelihara agama dari penyimpangan dan penyalahgunaan dalil.
5) Mengetahui keunggulan dan kelemahan para mujtahid, sejalan dengan dalil yang mereka gunakan.
3 kaidah ushulul fiqh berkaitan dengan “Niat”
1) Diwajibkannya niat dalam berwudhu, mandi, shalat dan puasa.
Penggunaan kata kiasan (kinayah) dalam talak. Seperti ucapan seorang suami kepada istrinya. : ‫( انت خالية‬engkau
adalah wanita yang terasing). Jika suami bertujuan menceraikan dengan ucapannya tersebut, maka jatuhlah talak
kepada istrinya, namun jika ia tidak berniat menceraikan maka tidak jatuh talak-nya.
2) Sesuatu yang memerlukan penjelasan, maka kesalahan dalam memberikan penjelasan menyebabkan batal.
Contoh kaidah: seseorang yang melakukan shalat dhuzur dengan niat ashar atau sebaliknya, maka shalatnya
tersebut tidak sah.
3) Seseorang yang makan sahur dipenghujung malam dan ragu akan keluarnya fajar maka puasa orang tersebut
hukumnya sah. Karena pada dasarnya masih tetap malam (Al aslu baqa-u al-lail). Sesorang yang makan (berbuka)
pada penghujung siang tanpa berijtihad terlebih dahulu dan kemudian ragu apakah matahari telah terbenam atau
belum, maka puasanya batal. Karena asalnya adalah tetapnya siang (al ashl baqa-u al-nahr)
4. 5 transaksi terlarang dalam ekonomi syariah
1) Gharar dalam kualitas
Misalnya seorang pembeli sudah membuat kesepakatan untuk membeli anak kambing yang masih berada di dalam
kandungan. Pada kasus ini, baik penjual maupun pembeli tidak mengetahui dengan pasti apakah nantinya anak
kambing ini akan lahir dengan sehat, cacat, atau bahkan mati. Sehingga terdapat ketidakpastian akan barang yang
diperjualbelikan.
2) Gharar dalam harga
Misalnya A menjual motornya kepada B dengan harga 8juta jika dibayar lunas dan 10juta jika dicicil selama
10bulan. Pada kasus ini, tidak ada kejelasan mengenai harga mana yang dipakai. Bagaimana jika B dapat melunasi
motornya dalam waktu kurang dari 10bulan, serta harga mana yang akan dipakai. Maka hal inilah yang menjadi
suatu ketidakpastian dalam transaksi.
3) Gharar menyangkut waktu penyerahan
Misalnya Agung sudah lama menginginkan hp (telepon genggam) milik Elsye. Hp tersebut bernilai 4juta dipasaran.
Suatu saat, hp tersebut hilang. Elsye menawari Agung untuk membeli hp tersebut seharga 1,5juta dan barang akan
segera diserahkan begitu ditemukan. Dalam kasus ini, tidak ada kepastian mengenai kapan hp tersebut akan
ditemukan, dan bahkan mungkin tidak akan ditemukan. Hal ini menimbulkan gharar dalam waktu penyerahan
barang tranksaksi.
4) Gharar dalam kuantitas
Misalnya seorang petani tembakau sudah membuat kesepakatan jual beli dengan pabrik rokok atas tembakau yang
bahkan belum panen. Pada kasus ini, kedua belah pihak baik dari petani tembakau maupun pihak pabrik rokok
mengalami ketidakpastian mengenai berapa pastinya jumlah tembakau yang akan dipanen. Sehingga terdapat
gharar atas barang yang ditransaksikan.
5) Maysir
Pelarangan maisir oleh Allah SWT dikarenakan efek negatif maisir. Ketika melakukan perjudian seseorang
dihadapkan kondisi dapat untung maupun rugi secara abnormal. Suatu saat ketika seseorang beruntung ia
mendapatkan keuntungan yang lebih besar ketimbang usaha yang dilakukannya. Sedangkan ketika tidak beruntung
seseorang dapat mengalami kerugian yang sangat besar. Perjudian tidak sesuai dengan prinsip keadilan dan
keseimbangan sehingga diharamkan dalam sistem keuangan Islam.
5. Perbedaan akad Bank Syariah:
a. Akad Wadiah Yaddhamanah dan Amanah
Akad dimana si penerima titipan (pihak Bank Syariah) dapat memanfaatkan barang titipan tersebut dengan seizin
pemiliknya (nasabah) dan menjamin untuk mengembalikan titipan tersebut secara utuh setiap dibutuhkan oleh si
pemilik (nasabah), namun segala bentuk atas kehilangan dan kerusakan yang terjadi pada barang titipan selama
hal ini bukan akibat dari kelalaian atau kecerobohan penerima titipan (pihak Bank Syariah) dalam memelihara
titipan tersebut maka si penerima titipan (pihak Bank Syariah) tidak akan bertanggungjawab atas hal tersebut.
b. Akad Wadiah Yaddhamanah dan Mudharabah
Akad dimana si penerima titipan (pihak Bank Syariah) dapat memanfaatkan barang titipan tersebut dengan seizin
pemiliknya (nasabah) dan menjamin untuk mengembalikan titipan tersebut secara utuh setiap dibutuhkan oleh si
pemilik (nasabah), dimana nanti hasil pengelolaan dana tersebut baik keuntungan maupun kerugian akan dibagi
menurut kesepakatan diawal.
c. Akad Mudharabah dan Musyarakah (Lending)
Akad antara Bank Syariah dengan Nasabah yang membutuhkan pembiayaan, dimana Bank Syariah dan Nasabah
secara bersama membiayai suatu usaha proyek yang dikelola secara bersama atas prinsip bagi hasil sesuai dengan
penyertaan dimana keuntungan dan kerugian dibagi sesuai kesepakatan diawal.
6. 5 metode dalam mengeluarkan fatwa
1) Metode pendekatan Nash Qath’i
Dilakukan dengan berpegangan kepada nash Al Quran atau Hadist untuk sesuatu masalah apabila masalah yang
ditetapkan terdapat dalam Nash Al Quran ataupun Hadist secara jelas. Sedangkan apabila tidak terdapat dalam
Nash Al Quran maupun Hadist maka penjawaban dilakukan dengan pendekatan Qauli dan Manhaji
2) Metode pendekatan Qauli
Pendekatan dalam proses penetapan fatwa dengan mendasarkannya pada pendapat para Imam Mazhab dalam
kitab-kitab fiqih terkemuka (Al Kutub Al Mu’tabarah). Pendekatan Qauli dilakukan apabila jawaban dapat dicukupi
oleh pendapat dalam kitab-kitab fiqih terkemuka (Al Kutub Al Mu’tabarah) dan hanya terdapat satu pendapat
(qaul), kecuali jika pendapat (qaul) yang dianggap tidak cocok lagi untuk dilaksanakan (ta’assur) atau karena alasan
hukumnya (‘illah) berubah. Dalam kondisi ini diperlukan telaah ulang, sebagaimana yang dilakukan oleh ulama
terdahulu, karena itu mereka tidak terpaku terhadap pendapat ulama terdahulu yang telah ada bila pendapat
tersebt sudah tidak memadai lagi untuk dijadikan pedoman.
3) Metode Manhaji
Pendekatan dalam proses penetapan fatwa dengan mempergunakan kaidah-kaidah pokok (Al Qowaid Al
Ushuliyah) dan metodologi yang dikembangkan oleh Imam Mazhab dalam merumuskan hukum suatu masalah.
Pendekatan manhaji dilakukan melalui ijtihad secara kolektif (ijtihad jama’i), dengan menggunakan metode
mempertemukan pendapat yang berbeda, memilih pendapat yang lebih akurat dalilnya, menganalogkan
permasalahan yang muncul dengan permasalahan yang telah ditetapkan hukumnya dalam kitab-kitab fiqh (ilhaqi)
dan istinbathi.
4) Metode Ta’lili
Metode ini digunakan untuk menggali dan menetapkan hukum terhadap suatu kejadian yang tidak ditemukan
dalilnya secara tersurat. Istinbat ini ditunjukkan untuk menetapkan hukum suatu peristiwa dengan merujuk kepada
kejadian yang sudah ada hukumnya karena adanya kesamaan illat.
5) Metode Istishlahi
Metode ini digunakan untuk menggali, menemukan, dan merumuskan hukum syara’ dengan cara menerapkan
hukum kulli untuk peristiwa yang ketentuan hukumnya tidak terdapat dalam nash, belum diputuskan dengan ijma’
dan tidak memungkinkan dengan qiyas atau istihsan.

Anda mungkin juga menyukai