Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

BIMBINGAN DAN KONSELING


“EKSISTENSI DAN KEDUDUKAN BK DI SEKOLAH”

OLEH
ZAKIYATI SALMA
17031121

DOSEN PEMBIMBING
Drs. Asmidir Ilyas, M. Pd, Kons.

UNIVERSITAS NEGERI PADANG


2019
KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kepada ALLAH SWT yang telah
memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis bisa menyelesaikan
makalah yang berjudul “Eksistensi dan kedudukan BK di sekolah”. Untaian
shalawat dan salam tidak lupa dituturkan kepada junjungan kita, Nabi
Muhammad SAW.Penulis membuat makalah ini bertujuan untuk
menyelesaikan tugas yang diberikan oleh dosen.
Dalam penulisan makalah ini, berbagai hambatan telah penulis alami.
Oleh karena itu terselesaikannya tugas makalah ini tentunya bukan semata-
mata karena kemampuan penulis sendiri, melainkan karena danya pihak lain
yang terkait membantu.Semoga dengan adanya makalah ini diharapkan agar
pembaca dapat mengetahui lebih banyak lagi ilmu yang dipelajari dari makalah
ini.
Penulis juga tidak lupa meminta maaf jika ada kesalahan atau
kekurangan dalam penyusunan makalh ini karenamanusia adalah tempatnya
salah dan kesempurnaan hanyalah milik ALLAH SWT, untuk itu penulis
meminta kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca.
Semoga makalah ini bermanfaat bagi kita semua. Sekian terima kasih

Padang, Agustus 2019

Penulis

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ............................................................................... i
DAFTAR ISI .............................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................... 1
A. Latar Belakang ................................................................................ 1
B. Rumusan Masalah ........................................................................... 2
C. Tujuan ............................................................................................. 2
BAB II PEMBAHASAN ........................................................................... 3
A. Eksistensi BK di Sekolah ................................................................ 3
B. Kedudukan BK di Sekolah .............................................................. 5

BAB III PENUTUP ................................................................................... 8


A. Kesimpulan ..................................................................................... 8
B. Saran ................................................................................................ 8
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................ 9

ii
BAB I

PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Tujuan pendidikan nasional adalah mencerdaskan kehidupan bangsa dan
mengembangkan manusia Indoensia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman
dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur,
memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani,
kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab
kemasyarakatan dan kebangsaan.
Dengan adanya pendidikan, maka akan timbul dalam diri seseorang
untuk berlomba-lomba dan memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam
segala aspek kehidupan. Pendidikan merupakan salah satu syarat untuk lebih
memajukan pemrintah ini, maka usahakan pendidikan mulai dari tingkat SD
sampai pendidikan di tingkat Universitas
Pada intinya pendidikan itu bertujuan untuk membentuk karakter
seseorang yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Akan
tetapi disini pendidikan hanya menekankan pada intelektual saja, dengan
bukti bahwa adanya UN sebagai tolak ukur keberhasilan pendidikan tanpa
melihat proses pembentukan karakter dan budi pekerti anak.
Bila kita kembali kepada hakekat pendidikan maka pendidikan pada
esensinya juga bertujuan untuk membantu manusia menemukan hakekat
kemanusiaannya. Proses humanisasi ini adalah proses pembebasan, yaitu
pembebasan manusia dari belenggu stuktur sosial, hegemoni kekuasaan, cara
pikir yang salah, doktrin tertentu dan sebagainya. Namun dalam
kehidupannya manusia membuat aturan atau landasan hukum agar pendidikan
itu berjalan sistematis dan memenuhi harapan daripada tujuan pendidikan itu
sendiri.
Dalam negara hukum seperti negara kita Indonesia ini, setiap tindakan
pemerintahan baik dalam pengaturan maupun dalam pelayanan harus
berdasarkan atas hukum (peraturan perundang-undangan), karena dalam
negara-negara terdapat asas legalitas. Asas ini menentukan bahwa tanpa
adanya dasar wewenang yang diberikan oleh suatu peraturan perundang-
undangan yang berlaku, maka segala macam aparat pemerintah tidak
memiliki wewenang yang dapat mempengaruhi atau mengubah keadaan atau
posisi hukum warga masyarakatnya.
Negara Republik Indonesia mempunyai berbagai peraturan perundang-
undangan yang bertingkat, mulai dari UUD 1945, Undang-Undang, Peraturan
Pemerintah, Ketetapan, keputusan, sampai peraturan daerah. Kesemuanya
mengandung hukum yang patut ditaati, dimana UUD 1945 merupakan hukum
yang tertinggi, sementara peraturan perundang-undangan yang lain harus
tunduk pada UUD 1945.

1
B. RUMUSAN MASALAH
a. Bagaimanakah eksistensi BK di sekolah?
b. Bagaimanakah kedudukan BK di Sekolah?

C. TUJUAN
Untuk memenuhi tugas yang diberikan oleh dosen di mata kuliah
“Bimbingan dan Konseling” dan untuk menambah wawasan serta
memecahkan rumusan masalah yang di hadapi dan mampu menggunakan
keterampilan proses untuk memahami dan mengkomunikasikan hasil
pemahaman tentang eksistensi dan kedudukan BK di sekolah.

2
BAB II
PEMBAHASAN

A. Eksistensi BK di Sekolah

Eksistensi BK di sekolah melalui empat elemen program bimbingan dan


konseling komprehensif Gysbers & Henderson. Empat elemen dalam
program bimbingan dan konseling komprehensif, meliputi isi program,
kerangka kerja organisasional, sumber, dan pengembangan, managemen, dan
akuntabilitas.
1. Isi Program
Meninjau tujuan pendidikan di lingkungan sekolah dan negara,
diperlukan untuk mengetahui keterampilan dan sikap apa yang harus
dikembangkan bagi siswa, sebagai hasil dari partisipasinya dalam
kegiatan dan layanan program bimbingan dan konseling komprehensif.
Sering kali yang menjadi tujuan dalam bimbingan dan konseling
yaitu fokus pada prestasi akademik, pengembangan karir, dan
pengembangan pribadi/sosial. Meskipun demikian, kita tetap dapat
meninjau pada standar yang dibuat oleh American School Counselor
Association National Model untuk diadaptasi dalam program bimbingan
dan konseling komprehensif di lingkungan sekolah.
Di dalam American School Counselor Association National Model
(ASCA) ada beberapa model yang salah satunya dapat digunakan untuk
program di sekolahmu. Namun itu akan berjalan dengan baik, ketika
mempertimbangkan pula dengan isu dan keadaan pada saat
mengidentifikasi siswa di sekolah dan label yang akan digunakan untuk
mengelompokkan standar.
2. Kerangka Kerja Organisasional: Komponen Struktural
Komponen stuktural merupakan bagian yang penting dalam
kerangka kerja organisasional karena mendiskripsikan tentang jenis
program dan memyediakan dasar filosofis untuk hal tersebut. Komponen
stuktural menetapkan program, rasional program, dan daftar asumsi yang
mana mendasari program tersebut.
Menetapkan. Menetapkan program layanan bimbingan dan
konseling dengan mengidentifikasi pentingnya bimbingan dan konseling
dalam proses dan menggambarkan pendidikan, yang berarti penguasaan
kompetisi siswa akan sebagai hasil dari keterlibatannya dalam program.
Rasional. Rational menunjukkan pentingnya program BK sama
pentingnya dengan program lain di sekolah. Hal tersebut fokus pada
alasan mengapa siswa membutuhkan untuk mendapatkan kompetensi
bimbingan dan konseling dan memiliki akses untuk memperoleh bantuan
dari konselor sekolah, berhubungan dan memberikan program bimbingan
dan konseling komprehensif. Hal di atas harus berdasarkan pada tujuan
dari sekolah, masyarakat, dan negara.

3
3. Sumber Program
Meskipun sumber lingkungan sekolah lokal berbeda, sumber yang
sangat penting wajib dilaksanakan secara penuh dalam program
bimbingan dan konseling komprehensif. Sumber yang dibutukan
termasuk personal, finansial, dan politikal.
Sumber personal. Sumber personal dalam program bimbingan
dan konseling komprehensif berhubungan dengan konselor sekolah,
kepala staff program bimbingan dan konseling (koordinator BK), guru,
ahli pendidikan lainnya, administrator, guru atau wali, siswa, anggota
masyarakat, dan personil tenaga kerja dan bisnis. Semuanya memiliki
peran dalam program bimbingan dan konseling.
Walaupun konselor sekolah sebagai pemberi layanan yang utama
dalam layanan bimbingan dan konseling dan koordinator program,
keterlibatan, kerjasama, dan dukungan dari guru dan administrator sangat
dibutuhkan untuk kesuksesan program yang telah disusun dalam kegiatan
bimbingan dan konseling.
Keterlibatan, kerja sama, dan dukungan dari orang tua atau wali,
anggota masyarakat, dan personil tenaga kerja dan bisnis juga diperlukan
untuk partisipasi siswa secara menyeluruh dalam program bimbingan dan
konseling.
Sumber finansial. Kesesuai dan sumber finansial yang memadai
juga penting dalam program bimbingan dan konseling komprehensif.
Kategori sumber finansial untuk program mencakup tentang anggaran
belanja, bahan, peralatan, dan fasilitas.
Anggaran belanja dalam program bimbingan dan konseling
dibutuhkan untuk membiayai dan mengalokasikan biaya secara
menyeluruh untuk pengembangan dan tingkat kelas di lingkungan
sekolah.
Bahan dan peralatan dibutuhkan untuk kegiatan bimbingan dan
konseling dengan menerapkan empat komponen program secara
menyeluruh. Fasilitas yang didesain dengan baik untuk setiap bangunan,
diorganisasikan untuk memenuhi kebutuhan program bimbingan dan
konseling juga diperlukan.
Sumber politikal. Sumber politikal dalam program bimbingan dan
konseling perkembangan mencakup kebijakan wilayah, negara yang
bersangkutan dan hukum federal, aturan dan regulasi dewan pendidikan
lokal dan negara, dan pernyataan asosiasi profesional dan standar.
Kebijakan dewan pendidikan yang jelas dan singkat diperlukan
untuk kesuksesan dari pelaksanaan bimbingan dan konseling di
lingkungan sekolah. Mereka menyatakan suatu dukungan dan kursus
tindakan, atau membimbing yang didasarkan untuk mempengaruhi dan
menentukan keputusan di lingkungan sekolah yang menyinggung
program bimbingan dan konseling harus mengambil bagian yang
berhubungan dengan hukum, aturan dan regulasi, dan standar yang telah
ditulis, diadaptasi, dan diimplementasi.
4. Pengembangan, Managemen, dan Akuntabilitas
Elemen pengembangan, managemen, dan akuntabilitas dalam
program bimbingan dan konseling komprehensif menjelaskan tentang

4
lima fase transisi yang mengacu pada pelaksanaan program bimbingan
dan konseling secara menyeluruh. Fase tersebut yaitu merencanakan,
mendesain, mengimplementasi, mengevaluasi, dan meningkatkan.
Elemen ini juga mencakup beberapa tugas pengelolaan yang
dibutuhkan untuk melengkapi setiap fase transisi yang menggambarkan
proses perubahan untuk mengembangkan secara efektif dan merata.
Elemen ini mendiskripsikan tentang bagaimana program
bimbingan dan konseling komprehensif dapat dipertanggungjawabkan
melalui program, personel, dan evaluasi semua hasil yang mengarah pada
peningkatan program untuk membuat komponen program bimbingan dan
konseling lebih efektif.

B. Kedudukan BK di Sekolah

Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari pendidikan di


Indonesia. Sebagai sebuah layanan profesional, kegiatan layanan bimbingan
dan konseling tidak bisa dilakukan secara sembarangan, namun harus
berangkat dan berpijak dari suatu landasan yang kokoh, yang didasarkan pada
hasil-hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Dengan adanya pijakan
yang jelas dan kokoh diharapkan pengembangan layanan bimbingan dan
konseling, baik dalam tataran teoritik maupun praktek, dapat semakin lebih
mantap dan bisa dipertanggungjawabkan serta mampu memberikan manfaat
besar bagi kehidupan, khususnya bagi para penerima jasa layanan (konseli).
Landasan yuridis atau hukum pendidikan di dalam bimbingan dan
konseling, yaitu asumsi-asumsi yang bersumber dari peraturan perundang-
undangan yang berlaku, yang menjadi titik tolak dalam rangka praktek
pendidikan atau studi pendidikan bimbingan dan konseling.
1. Landasan Yuridis Formal
a. UU nomor 20 tahun 2003
Konselor atau Bimbingan Konseling mempunyai payung hukum
yang secara eksplisit dinyatakan dalam Undang-undang (UU) No.
20/2003 pasal 1 ayat 6. Hal ini mengindikasikan bahwa Konselor
(Bimbingan Konseling) mempunyai posisi yang sejajar dengan tenaga
pendidik lainnya (guru, dosen, tutor, dan widyaiswara) namun dalam
konteks tugas dan ekspektasi kinerja yang berbeda dan unik. Kalau
ditelusuri terkait ketentuan perundang-undangan, mulai dari Undang-
undang (UU) nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan
Nasional (SISDIKNAS), sampai pada Peraturan Pemerintah (PP)
nomor 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, dan
berlanjut kepada Undang-undang (UU) nomor 14 tentang Guru dan
Dosen, ternyata tidak dapat ditemukan pengaturan tentang konteks
tugas dan ekspektasi kinerja yang dapat digunakan sebagai kerangka
pikir untuk penyusunan standar kompetensi dan pendidikan
profesional konselor atau Bimbingan Konseling (BK).

5
b. Permendikbud nomor 111 tahun 2014
Permendikbud No. 111 tahun 2014 tentang Bimbingan dan
Konseling pada Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah.
Permendikbud ini menjadi rujukan penting, khususnya bagi para Guru
BK/Konselor dalam menyelenggarakan dan mengadministrasikan
layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah.
sebagaimana diisyaratkan dalam Pasal 6 ayat 1 yang menyebutkan
bahwa: “Komponen layanan Bimbingan dan Konseling memiliki 4
(empat) program yang mencakup: (a) layanan dasar; (b) layanan
peminatan dan perencanaan individual; (c) layanan responsif; dan (d)
layanan dukungan sistem”. Melihat keempat komponen layanan yang
dimaksud dalam pasal tersebut, di sini tampak jelas bahwa konsep dan
kerangka kerja layanan Bimbingan dan Konseling yang dikehendaki
oleh peraturan ini adalah Pola Bimbingan dan Konseling
Komprehensif, sebagaimana digagas oleh Gysber, dkk dan telah
digunakan di berbagai negara lain.
Peraturan menteri ini juga sebagai pijakan atau rujukan Guru
Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam melaksanakan tugas
Layanan Bimbingan dan Konseling di sekolah terutama permasalahan
jam masuk kelas yang selama ini menjadi perdebatan. Dalam pasal 6
ayat (4) dijelaskan bahwa ” Layanan Bimbingan dan Konseling
sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang diselenggarakan di dalam
kelas dengan beban belajar 2 (dua) jam perminggu”.

2. Landasan Yuridis Informal


a. Landasan Psikologis
Landasan psikologis merupakan landasan yang dapat memberikan
pemahaman bagi konselor tentang perilaku individu yang menjadi
sasaran layanan (klien).Secara luas untuk bisa hidup bahagia, manusia
memerlukan keadaan mental psikologis yang baik (selaras, seimbang).
Dalam kehidupan nyata, baik karena faktor internal maupun eksternal,
apa yang diperlukan manusia bagi psikologisnya itu bisa tidak
terpenuhi atau dicari dengan cara yang tidak selaras dengan ketentuan
dan petunjuk Allah. Untuk kepentingan bimbingan dan konseling,
beberapa kajian psikologi yang perlu dikuasai oleh konselor adalah
tentang: (a) motif dan motivasi; (b) pembawaan dan lingkungan, (c)
perkembangan individu; (d) belajar; dan (e) kepribadian
b. Landasan Sosial Budaya
Landasan sosial-budaya merupakan landasan yang dapat
memberikan pemahaman kepada konselor tentang dimensi kesosialan
dan dimensi kebudayaan sebagai faktor yang mempengaruhi terhadap
perilaku individu. Seorang individu pada dasarnya merupakan produk
lingkungan sosialbudaya dimana ia hidup. Sejak lahirnya, ia sudah
dididik dan dibelajarkan untuk mengembangkan pola-pola perilaku
sejalan dengan tuntutan sosialbudaya yang ada di sekitarnya.
Kegagalan dalam memenuhi tuntutan sosial-budaya dapat
mengakibatkan tersingkir dari lingkungannya.

6
Lingkungan sosial-budaya yang melatarbelakangi dan melingkupi
individu berbeda-beda sehingga menyebabkan perbedaan pula dalam
proses pembentukan perilaku dan kepribadian individu yang
bersangkutan. Apabila perbedaan dalam sosial-budaya ini tidak
“dijembatani”, maka tidak mustahil akan timbul konflik internal
maupun eksternal, yang pada akhirnya dapat menghambat terhadap
proses perkembangan pribadi dan perilaku individu yang besangkutan
dalam kehidupan pribadi maupun sosialnya.
c. Landasan Ilmu Pengetahuan dan Tekhnologi
Pelayanan bimbingan dan konseling merupakan kegiatan
profesional yang memiliki dasar-dasar keilmuan, baik yang
menyangkut teori-teorinya, pelaksanaannya, maupun pengembangan-
pengembangan pelayanan itu secara berkelanjutan. Landasan ilmiah
dan teknologi membicarakan sifat keilmuan bimbingan dan konseling.
Bimbingan dan konseling sebagai ilmu yang multidimensional yang
menerima sumbangan besar dari ilmuilmu lain dan bidang teknologi.
Sehingga bimbingan dan konseling diharapkan semakin kokoh. Dan
mengikuti perkembangan ilmu dan teknologi yang berkembang pesat.
Disamping itu penelitian dalam bimbingan dan konseling sendiri
memberikan bahan-bahan yang yang segar dalam perkembangan
bimbingan dan konseling yang berkelanjutan.
d. Landasan Globalisasi
Landasan globalisasi dalam konseling termasuk ke dalam landasan
yang amat penting karena dalam melakukan bimbingan dan konseling
tentu harus menyesuaika dengan zaman dan budaya yang berlaku.
Selain globalisasi sangat berpengaruh pada manusia modern saat ini
sehingga tidak dapat dipungkiri bahwa landasan globalisasi menjadi
salah satu acuan.

7
BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
Bimbingan dan konseling merupakan kegiatan yang bersumber pada
kehidupan manusia. Eksistensi dari bimbingan dan konseling yang ada di
sekolah meliputi beberapa program yang diharapkan agar dapat membantu
permasalahan-permasalahan yang ada pada peserta didik.
Kedudukan bimbingan dan konseling disekolah telah terlampir pada UU
no 20 tahun 2003 dimana konselor memiliki peran yang sama dengan tenaga
pendidik lainnya. Kemudian permendikbud no 111 tahun 2014 juga menjadi
landasa hukum dan juga pijakan atau rujukan guru bimbingan dan konseling
atau konselor dalam melaksanakan tugas layanan bimbingan dan konseling di
sekolah terutama permasalahan jam masuk kelas yang selama ini menjadi
perdebatan. Dalam pasal 6 ayat (4) dijelaskan bahwa ” Layanan Bimbingan
dan Konseling sebagaimana dimaksud pada ayat (3) yang diselenggarakan di
dalam kelas dengan beban belajar 2 (dua) jam perminggu”.
Selain landasan secara hukum atau formal, bimbingan dan konseling juga
memiliki landasa informal yaitu; landasan psikologi, sosial budaya, ilmu
pengetahuan dan tekhnologi serta landasan globalisasi.

B. SARAN
Penulis mengucapakan Alhamdulillah karena dapat menyelesaikan tugas
ini dengan tepat waktu dan sebisa penulis. Apabila terjadi kesalahan dalam
pengetikan bahasa, huruf ataupun kata-kata, penulis mohon maaf yang
sebesar-besarnya. Untuk itu,penulis mengharapkan kritik dan saran dari
pembaca agar nantinya penulis bisa memperbaiki kesalahan tersebut. Penulis
akan bersenang hati apabila pembaca mau berpartisipasi memberikan kritik
dan saran mengenai makalah ini.

8
DAFTAR PUSTAKA

https://portal-ilmu.com/eksistensi-bk-di-sekolah-melalui-empat-elemen-program-
bimbingan-dan-konseling-komprehensif/. diakses pada tanggal (25 agustus).
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2014/11/05/permendikbud-no-111-tahun-
2014-tentang-bimbingan-dan-konseling/. diakses pada tanggal (25 Agustus).
https://mintotulus.wordpress.com/2014/11/05/permendikbud-nomor-111-tahun-
2014-tentang-bimbingan-dan-konseling-pada-pendidikan-dasar-dan-menengah/.
diakses pada tanggal (25 Agusutus).
https://uswatunkhasanah018.wordpress.com/2017/06/10/%E2%80%8Blandasan-
psikologis-dan-landasan-yuridis-bimbingan-dan-konseling/. diakses pada tanggal
(25 Agustus).
Syafaruddin, S., Syarqawi, A., & Siahaan, D. N. A. (2019). Dasar-dasar
bimbingan dan konseling: Telaah Konsep, Teori dan Praktik.