Anda di halaman 1dari 12

SELOKA 5 (2) (2016)

Seloka: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

http://journal.unnes.ac.id/sju/index.php/seloka

PILIHAN BAHASA DALAM INTERAKSI PEMBELAJARAN BAHASA


INDONESIA BAGI PENUTUR ASING

Eko Widianto dan Ida Zulaeha

Prodi Pendidikan Bahasa Indonesia, Pascasarjana, Universitas Negeri Semarang, Indonesia

Info Artikel Abstrak


________________ ___________________________________________________________________
Sejarah Artikel: Pembelajaran BIPA merepresentasikan masyarakat dwibahasa. Kondisi tersebut diasumsikan
Diterima : memunculkan pilihan bahasa dalam interaksi pembelajaran. Tujuan penelitian ini adalah
September 2016 mendeskripsikan wujud pilihan bahasa, pola pemilihan bahasa, dan faktor-faktor yang
Disetujui : memengaruhi pilihan bahasa dan alasan pengajar serta pembelajar menggunakan pilihan bahasa
Oktober 2016 dalam interaksi pembelajaran BIPA. Data dikumpulkan dengan metode simak dilanjutkan
Dipublikasikan : menggunakan teknik simak bebas libat cakap, rekam, dan catat. Analisis data dilakukan dengan
November 2016 metode padan menggunakan teknik pilah unsur penentu. Dalam interaksi pembelajaran BIPA
________________ terdapat pilihan bahasa berupa 1) variasi tunggal bahasa meliputi Bahasa Indonesia ragam formal
Keywords: dan nonformal, serta bahasa Inggris; 2) alih kode; dan 3) campur kode. Pola pemilihan bahasa dilihat
language choice, indonesian berdasarkan tingkat pembelajaran dan proses terjadinya interaksi. Ditemukan pola peralihan
language learning for foreign situasional dan metaforik dalam wujud pilihan bahasa. Pilihan bahasa dipengaruhi oleh faktor
speakers, learning interaction internal dan eksternal. Faktor internal berupa latar belakang bahasa penutur, sedangkan faktor
____________________ eksternal berupa situasi, topik percakapan, dan maksud/tujuan tuturan. Adanya tiga wujud pilihan
bahasa yakni variasi tunggal bahasa, alih kode, dan campur kode selaras dengan tingkat/jenjang
pembelajaran BIPA.

Abstract
___________________________________________________________________
Indonesian Language Learning for Foreign Speakers (BIPA) represents a bilingual society. Such condition was
assumed to create language choice in the interaction of BIPA. This study was aimed to describe instances,
patterns, and factors of languange choice that shape the language choice itself and the teachers and learners’
motives in using language choice during the interaction of BIPA. The data were collected via observation method
and other advanced techniques such as uninvolved conversation observation technique, recording, and writing.
Furthermore, the data were analyzed using comparative method and determinant-sorting technique. The
instances of language choice which were found in the interaction of BIPA are 1) intra-language variation within
Indonesian language i.e. formal and informal Indonesian, and English; 2) code switching; and 3) code mixing.
The patterns of language choice were observed according to the levels of learning and the process of interaction.
There were two patterns which were found such as situational and metaphorical switching. The factors that
influenced the language choice are internal factor within the background of the learners’ language, and external
factors within situation, topic of conversation, and purpose of speech. The kind of language choice was relevant
with the levels of BIPA.

© 2016 Universitas Negeri Semarang


Alamat korespondensi: p-ISSN 2301-6744
Kampus Unnes Bendan Ngisor, Semarang, 50233
e-ISSN 2502-4493
E-mail: widiantoeko@yahoo.co.id

124
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

PENDAHULUAN Berdasarkan data yang tercatat oleh Depdiknas,


sejak tahun 1990-an terdapat 219 perguruan
Momentum penting dalam hubungan tinggi atau lembaga di 40 negara yang telah
multilateral antara Indonesia dengan negara- menyelenggarakan program pembelajaran BIPA.
negara lain, terutama di kawasan Asia Tenggara Adapun negara-negara yang tercatat sebagai
telah dimulai pada tahun 2016. Hal ini penyelenggara pembelajaran BIPA adalah
dibuktikan dengan terbentuknya Asean Economic Australia, Austria, Kanada, Belanda, Polandia,
Community atau lebih dikenal dengan sebutan Cekoslovakia, Denmark, Perancis, Jerman,
Masyarakat Ekonomi Asean (MEA). Dengan Italia, Rusia, Selandia Baru, Norwegia, Swedia,
komunitas ini, jalan bagi tenaga kerja asing Swiss, Inggris, Vatikan, Amerika, Suriname,
menuju Indonesia terbuka lebar. Tenaga kerja India, Jepang, China, Malaysia, Papua Nugini,
asing akan banyak datang ke Indonesia untuk Arab Saudi, Singapura, Korea Selatan, Filipina,
melakukan transaksi perekonomian, baik sebagai Vietnam, Thailand, dan Mesir (Kusmiatun,
pekerja maupun sebagai investor. MEA juga 2015).
membuka peluang besar bagi masyarakat Terkait dengan hal tersebut, Bahasa
Indonesia untuk bersinggungan langsung dengan Indonesia hingga pada saat ini telah diajarkan
bahasa, budaya, dan ideologi bangsa asing. kepada orang asing di berbagai lembaga, baik di
Jauh sebelum era MEA disepakati, dalam maupun di luar negeri. Di dalam negeri
Indonesia sudah menjadi destinasi warga negara pada saat ini tercatat tidak kurang dari 45
asing, baik dalam hal wisata, budaya, maupun lembaga yang telah mengajarkan Bahasa
investasi ekonomi. Oleh sebab itu, interaksi Indonesia bagi penutur asing (BIPA), baik di
antara masyarakat Indonesia dengan warga perguruan tinggi maupun di lembaga-lembaga
negara asing sudah terjadi di Indonesia. Hal ini kursus. Sementara itu, di luar negeri, Pengajaran
berpengaruh pada posisi Bahasa Indonesia. BIPA telah dilakukan oleh sekitar 36 negara di
Bahasa Indonesia menjadi salah satu hal yang dunia dengan jumlah lembaga tidak kurang dari
dipelajari oleh warga negara asing. Bahasa 130 buah, yang terdiri atas perguruan tinggi,
Indonesia dipelajari dengan berbagai tujuan, baik pusat-pusat kebudayaan asing, KBRI,
sebagai alat komunikasi dalam kegiatan wisata, dan lembaga-lembaga kursus (badan bahasa
pendidikan, ekonimi, budaya, maupun lain kemdikbud.go.id 2016).
sebagainya. Kusmiatun (2015) juga menambahkan
Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi bahwa visi BIPA adalah pemberdayaan pengajar
warga negara asing disebut sebagai pembelajaran dan pembelajarnya melalui pengajaran yang
Bahasa Indonesia bagi penutur asing (BIPA). berkelanjutan, terstruktur, dan sistematis dalam
Pembelajaran BIPA menjadi salah satu bagian pengembangan secara profesional. Selain itu,
dalam pembelajaran bahasa. BIPA merupakan BIPA juga menjadi penguatan bagi identitas
pembelajaran bahasa dengan subjek penutur nasional. Bahasa menunjukkan bangsa. Bahasa
asing. Pembelajaran BIPA lebih dipandang pada Indonesia adalah salah satu lambang identitas
faktor pembelajarnya. Orang-orang yang menjadi negara. BIPA merupakan suatu jalan untuk
pembelajar BIPA adalah orang asing, bukan mengenalkan sekaligus menguatkan identitas
penutur Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia bangsa, yakni Bahasa Indonesia. Visi lainnya
merupakan bahasa asing bagi pembelajar, baik adalah BIPA menjadi dukungan bagi pengajaran
sebagai bahasa kedua, bahasa ketiga, keempat, bahasa dan budaya Indonesia secara global. Di
atau lainnya. Dengan pembelajaran BIPA, orang dalam pengajaran BIPA, budaya tidak
asing diharapkan mampu menguasai Bahasa terlepaskan. Keduanya, bahasa dan budaya
Indonesia atau berBahasa Indonesia (Kusmiatun, menjadi bagian erat dan saling mendukung
2015). sebagai sebuah program pengajaran.
Pembelajaran BIPA bukan fenomena baru Pembelajaran BIPA merupakan salah satu
dalam perkembangan Bahasa Indonesia. bagian dari pembelajaran bahasa asing (B2). Oleh

125
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

sebab itu, pembelajaran BIPA dilaksanakan karena kendala kebahasaan, pembelajaran BIPA
dengan tujuan yang berbeda-beda. Artinya, setiap juga tidak akan berlangsung dengan baik.
pembelajar BIPA memiliki motivasi berbeda- Dengan demikian, dibutuhkan penggunaan
beda dalam mempelajari Bahasa Indonesia. bahasa yang efektif dalam interaksi pembelajaran
Tujuan pembelajaran BIPA adalah membentuk BIPA untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
pembelajar yang memiliki kemampuan Pembelajaran BIPA diasumsikan dapat
berbahasa secara wajar. Hal ini berkaitan erat merepresentasikan masyarakat tutur dwibahasa,
dengan budaya yang senantiasa melekat pada bahkan multibahasa. Kedwibahasaan dan
substansi bahasa. Selain persoalan karakteristik keanekabahasaan dapat muncul dalam
personal pembelajar, persoalan budaya juga ikut pembelajaran BIPA karena pembelajar berasal
terlibat dalam penciptaan pembelajaran BIPA. dari beragam latar belakang bahasa. Kondisi ini
Terutama ketika pembelajaran BIPA merupakan cermin masyarakat yang beragam
diselenggarakan di Indonesia. Pertimbangan budaya. Para pembelajar dan pengajar termasuk
sosial budaya menjadi sangat penting. dalam masyarakat tutur lebih dari satu bahasa
Pembelajaran tidak hanya mengajarkan cara (Zulaeha, 2013). Artinya, pembelajaran BIPA
berkomunikasi. Akan tetapi, pembelajaran juga dipenuhi oleh penutur dwibahasa. Hal ini
berfungsi sebagai penanaman wawasan disebabkan Bahasa Indonesia berposisi sebagai
mengenai sosial dan budaya Indonesia. Dengan bahasa kedua, bahkan ketiga atau seterusnya bagi
demikian, pembelajaran BIPA lebih bermakna pembelajar. Dengan demikian, kondisi tersebut
bagi pembelajar (Krashen, 1985; Stern, 1987; memunculkan pilihan bahasa dalam interaksi
Winkel, 1987; dan Rahmina, 2002). pembelajaran BIPA (Aslinda et al. 2007).
Setiap pembelajaran seringkali terganggu Pilihan bahasa juga dibutuhkan pengajar
oleh berbagai polemik. Begitu pula dengan BIPA dalam interaksi pembelajaran. Tanpa
pembelajaran BIPA. Pembelajaran BIPA tidak pilihan bahasa yang baik, pembelajaran tidak
terlepas dari permasalahan yang salah satunya akan berlangsung dengan efektif. Bahasa menjadi
adalah penggunaan bahasa dalam pembelajaran. suatu komponen penting dalam interaksi
Terutama dalam tahap dasar dan menengah. Hal pembelajaran. Pilihan bahasa adalah kondisi
ini disebabkan oleh faktor latar belakang seseorang dalam masyarakat dwibahasa atau
pembelajar. Pembelajar BIPA berasal dari latar multibahasa yang berbicara dua bahasa atau lebih
belakang bahasa, sosial, dan budaya yang dan harus memilih yang mana yang harus
berbeda-beda. Keadaan tersebut menjadi suatu digunakan (Fasold, 1989 dan Coulmas, 1998).
persoalan penting bagi pengajar BIPA. Pengajar Ada perbedaan penggunaan istilah antara
BIPA mengalami kesulitan dalam berkomunikasi pilihan bahasa dan pilihan kode di kalangan
dengan pembelajar pada saat proses linguis. Sebagian linguis menggunakan istilah
pembelajaran. Kesulitan tersebut dapat terjadi pilihan kode pada tataran bahasa dalam
pada saat pembelajar tidak memahami suatu penggunaan (language in use). Akan tetapi,
kosakata atau konsep dalam Bahasa Indonesia. beberapa ahli bahasa lain menggunakan istilah
Kusmiatun (2015) menjelaskan bahwa pilihan bahasa sebagai wujud rasionalitas dari
pengajar BIPA memang tidak diharuskan implikasi kemunculan dwibahasawan atau
menguasai bahasa asing. Akan tetapi, multibahasawan. Kedua istilah yang berbeda
kemampuan untuk bercakap dalam bahasa siswa tersebut lazim digunakan. Artinya, istilah bahasa
BIPA merupakan sebuah aset yang membantu. maupun kode dapat digunakan dalam tataran
Hal ini menunjukkan bahwa peran bahasa yang penggunaan suatu bahasa/language in use
digunakan oleh pengajar BIPA di kelas sangat (Fasold, 1989; Fishman, 2006; dan Holmes,
penting. Dengan bahasa yang efektif, 2012).
pembelajaran BIPA akan berlangsung dengan Ada tiga kategori pilihan bahasa, yaitu
baik dan sesuai tujuan. Begitu juga sebaliknya, (1) memilih salah satu variasi dari bahasa yang
apabila terjadi proses kegagalan komunikasi sama (intra-language variation); (2) melakukan alih

126
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

kode (code switching); dan (3) melakukan campur diperhatikan dalam pembelajaran BIPA,
kode (code mixing). Tiga kategori pilihan bahasa terutama pembelajaran BIPA pada tingkat dasar
tersebut sangat berpotensi muncul di dalam (semenjana) dan menengah (madya) karena
interaksi pembelajaran BIPA. Tiga kategori penutur pada jenjang tersebut masih minim
pilihan bahasa tersebut dapat menjadi senjata menguasai kosakata Bahasa Indonesia.
pengajar BIPA untuk mengelola dan Pilihan bahasa terjadi akibat kehadiran
berkomunikasi dalam pembelajaran dwibahasawan. Dwibahasawan dapat
(Wardhaugh, 2010; Chaer, 2010; dan Rokhman, memunculkan pilihan bahasa dalam bentuk alih
2013). kode maupun campur kode. Selain itu, pilihan
Ada beberapa faktor yang memengaruhi bahasa juga terjadi karena ada tujuan yang ingin
seseorang dalam menggunakan pilihan bahasa. dicapai oleh penutur. Dalam penggalan tuturan
Faktor-faktor tersebut antara lain (1) partisipan di atas, pembelajar bertanya tentang konsep kata
(mitra tutur), terkait dengan penguasaan bahasa kerja pada pengajar dengan menggunakan bentuk
atau kecakapan, status sosial ekonomi, usia, jenis campur kode. Kemudian, pengajar menjawab
kelamin, kedudukan, pendidikan, latar belakang dengan bentuk alih kode. Hal ini digunakan
etnis, hubungan kekerabatan, keakraban, untuk memberikan pemahaman mitra tutur
hubungan kekuasaan, dan sikap terhadap bahasa; tentang topik yang dibicarakan. Dengan
(2) situasi komunikasi, terkait dengan jenis demikian, pilihan bahasa terjadi akibat faktor
kosakata, tempat, tingkat keresmian situasi, dan partisipan dan tujuan tuturan (Fasold, 2013;
kehadiran dwibahasawan atau ekabahasawan; Fishman, 2013).
(3) isi pembicaraan, terkait dengan topik; serta Penggunaan pilihan bahasa menjadi
(4) fungsi interaksi, terkait dengan tujuan bagian penting dalam interaksi pembelajaran
menaikkan status, menciptakan jarak sosial, BIPA. Komunikasi dalam pembelajaran tidak
mengucilkan seseorang, dan meminta atau berjalan dengan baik tanpa adanya bahasa yang
memohon (Ervin-Tripp, 1977; Mutmainah, saling dipahami oleh penutur dan mitra tutur,
2008). dalam hal ini pengajar dan pembelajar. Pilihan
Hymes (1964) juga menyatakan bahwa bahasa seorang pengajar BIPA berpengaruh
suatu peristiwa tutur harus memenuhi terhadap keberhasilan pembelajaran. Dengan
delapan komponen yang dirangkai dalam pilihan bahasa yang tepat, komunikasi dalam
akronim SPEAKING yang masing-masing bunyi interaksi pembelajaran berlangsung dengan baik.
merupakan fonem awal dari komponen- Pembelajar BIPA dapat memahami setiap
komponen yang dimaksud seperti 1) setting and tuturan pengajar dengan mudah. Pentingnya
scene, (latar dan suasana tutur); 2) participants pilihan bahasa dalam interaksi pembelajaran
(peserta tutur); 3) ends (maksud dan tujuan BIPA menjadi kajian yang menarik untuk diteliti,
tuturan); 4) act sequence (bentuk dan isi tuturan); terutama dalam perspektif sosiolinguistik.
5) key (cara tutur); 6) instrumentalities (jalur dan Adapun tujuan dalam penelitian ini adalah
kode bahasa); 7) norm of interaction and 1) menemukan dan mendeskripsikan wujud
interpretation (norma bertutur); dan 8) genre (jenis pilihan bahasa yang digunakan dalam interaksi
atau bentuk tuturan) pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur
Beberapa faktor tersebut relevan dengan asing; 2) menemukan dan mendeskripsikan pola
keberadaan pembelajaran Bahasa Indonesia bagi pemilihan bahasa dalam interaksi pembelajaran
penutur asing. Pembelajaran BIPA memikiki Bahasa Indonesia bagi penutur asing; dan
partisipan dengan beragam etnis, bahasa, latar 3) menemukan dan mendeskripsikan faktor-
belakang sosial, dan lainnya. Selain itu, faktor yang memengaruhi pilihan bahasa serta
pembelajar BIPA juga merupakan alasan pengajar dan pembelajar menggunakan
dwibahasawan atau multibahasawan yang belum pilihan bahasa dalam interaksi pembelajaran
menguasai Bahasa Indonesia. Keadaan ini Bahasa Indonesia bagi penutur asing.
menunjukkan bahwa pilihan bahasa perlu

127
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

METODE PENELITIAN penyebab munculnya pilihan bahasa dalam


proses interaksi. Adapun pilihan bahasa yang
Terdapat dua pendekatan yang digunakan muncul dalam pembelajaran BIPA adalah variasi
dalam penelitian ini, yaitu pendekatan teoretis tunggal bahasa, alih kode, dan campur kode.
dan pendekatan metodologis. Pendekatan 1) Variasi Tunggal Bahasa
teoretis yang digunakan dalam penelitian ini Terdapat beberapa bahasa yang muncul
adalah pendekatan sosiolinguistik. Artinya, data dalam interaksi pembelajaran BIPA. Akan tetapi,
dianalisis dengan kajian ilmu sosiolinguistik. Hal Bahasa Indonesia menjadi bahasa utama dalam
ini bertujuan untuk mendeskripsikan data interaksi pembelajaran. Hal ini disebabkan
melalui paradigma ilmu sosiolinguistik. Bahasa Indonesia berkedudukan sebagai bahasa
Ada beberapa teknik pengumpulan data yang sedang dipelajari dalam kelas BIPA.
yang digunakan dalam penelitian ini. Teknik Adapun variasi tunggal bahasa yang muncul
tersebut disesuaikan dengan metode penelitian dalam interaksi pembelajaran BIPA adalah
yang digunakan. Dalam metode simak, terdapat Bahasa Indonesia ragam formal dan nonformal
dua jenis dalam teknik simak, yaitu teknik dasar serta bahasa Inggris. Variasi tunggal bahasa yang
dan teknik lanjutan. Teknik dasar berupa teknik terjadi pada interaksi pembelajaran BIPA dapat
sadap/penyadapan, yaitu peneliti menyadap dilihat pada penggalan tuturan berikut.
penggunaan bahasa seseorang. Adapun teknik (1) Konteks: pengajar (P1) dan pembelajar
lanjutan dalam teknik simak ialah simak bebas (P2) bertanya jawab tentang sakit yang
libat cakap (SBLC), rekam, catat, dan pernah dirasakan, seperti batuk, pilek,
wawancara. sakit tenggorokan, dan lainnya dalam
Data yang telah didapat diuji pembelajaran bertema jamu tradisional di
keabsahannya menggunakan teknik triangulasi. kelas BIPA Turki Universitas Negeri
Kemudian, data tersebut dianalisis menggunakan Semarang.
teknik pilah unsur penentu (PUP). Teknik
tersebut merupakan teknik dasar dari metode P1 : Pernah sakit, ya? Sakit? Di Indonesia pernah
padan. Adapun teknik lanjutan yang digunakan sakit apa?
adalah teknik hubung banding menyamakan [pәrna sakit ya. sakit. di endonesiya pәrna
(HBS) dan teknik hubung banding sakit apa]
memperbedakan (HBB). Setelah data dianalisis, ‘Di Indonesia pernah sakit? Sakit apa?’
data disajikan secara informal. Penyajian data P2 : Flu.
secara informal dapat dilakukan dengan cara [fәlu]
menggunakan kata-kata biasa. Penyajian tersebut ‘Flu’
berbentuk deskriptif dan menggunakan P1 : Aishe pernah sakit apa?
terminologi yang bersifat teknis. [aisɛ pәrna sakit apa]
‘Aishe pernah sakit apa?’
HASIL DAN PEMBAHASAN P3 : Flu.
[fәlu]
Wujud Pilihan Bahasa dalam Interaksi ‘Flu’
Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur P1 : Flu itu berarti sakit apa? Batuk? Kalau
Asing hidung? Pilek. Kalau flu, sakit di hidung.
Interaksi pembelajaran BIPA Kalau di leher? Leher ada tenggorokan.
memunculkan penggunaan bahasa yang Kalau tenggorokan sakit? Biasanya sakit
menarik. Baik pengajar maupun pembelajar buat nelen, nelan. Namanya sakit
memilih bahasa yang digunakan dalam interaksi tenggorokan, namanya radang
pembelajaran. Hal ini disebabkan, subjek dalam tenggorokan.
pembelajaran BIPA merupakan dwibahasawan. [fәlu itu bәrarti sakit apa. batuk. kalau
Keadaan tersebut merupakan salah satu hiduᶇ, pilәk. kalau fәlu sakit hiduᶇ. kalau di

128
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

lɛhɛr. lɛhɛr ada tәᶇgɔrɔkan. kalau kemunculan dwibahasawan atau


tәᶇgɔrɔkan sakit biyasaňa sakit buwat nәlәn, multibahasawan dalam kelas BIPA. Pengajar
nәlan. namaňa sakit tәᶇgɔrɔkan, namaňa maupun pembelajar melakukan alih kode berupa
radaᶇ tәᶇgɔrɔkan]. Bahasa Indonesia ke dalam bahasa Inggris, atau
‘Flu itu berarti sakit apa? Batuk? Kalau sebaliknya. Terdapat dua alih kode yang
hidung? Pilek. Kalau flu berarti sakit di dideskripsikan, yaitu alih kode sementara dan
hidung. Kalau di leher? Di leher ada alih kode permanen. Alih kode sementara
tenggorokan. Kalau tenggorokan sakit buat digunakan oleh pengajar ataupun pembelajar
menelan? Namanya sakit tenggorokan atau untuk mencapai maksud tuturan seperti mencari
radang tenggorokan’. padanan kata yang sulit dipahami. Selain itu, alih
kode sementara juga digunakan sebagai langkah
Penggalan tuturan (1) terjadi antara P1 dan pengondisian pembelajaran BIPA sebagaimana
P2. Pada penggalan tuturan tersebut, terdapat pandangan teori pembelajaran bahasa kedua
wujud Bahasa Indonesia ragam nonformal. (B2). Sementara itu, alih kode permanen
Tuturan tersebut terjadi di kelas BIPA untuk digunakan setelah pengajar atau pembelajar
mahasiswa Turki di Universitas Negeri menggunakan bahasa asing dalam bentuk
Semarang. Terdapat Bahasa Indonesia ragam perntanyaan atau konfirmasi terkait topik atau
nonformal pada tuturan P1. Bahasa Indonesia kosakata dalam pembelajaran. Adapun contoh
nonformal tersebut dapat diidentifikasi melalui alih kode dapat dilihat pada penggalan tuturan
wujud kata/frasa yang dipilih atau digunakan (2).
oleh P1 dalam bertutur. Frasa yang digunakan (2) Konteks : pembelajar (P2) mengusulkan
merupakan Frasa yang muncul dalam bahasa kepada pengajar (P1) agar kelas diakhiri
lisan, meskipun tidak sesuai dengan kaidah karena sudah lapar. Penggalan tuturan
kebahasaan yang benar. terjadi di kelas Darmasiswa Universitas
Bahasa Indonesia ragam nonformal Diponegoro.
tersebut digunakan oleh P1 dalam tuturannya,
‘Flu itu berarti sakit apa? Batuk? Kalau hidung? Pilek. P2 : Kita sudah selesai, kita sudah lapar.
Kalau flu, sakit di hidung. Kalau di leher? Leher ada [kita sudah sәlәsai. kita sudah lapar]
tenggorokan. Kalau tenggorokan sakit? Biasanya sakit ‘Kita sudah selesai karena kita sudah lapar’
buat nelen, nelan. Namanya sakit tenggorokan, P1 : Saya juga lapar. I’m very hungry. Baik. Kita
namanya radang tenggorokan’. Terdapat frasa ‘buat mau makan?
nelen’ dalam penggalan tuturan tersebut. Frasa [saya juga lapar. aɛm wɛri aᶇri. bai? Kita
tersebut merupakan bentuk bahasa ragam mau makan]
nonformal dari frasa ‘untuk menelan’. Dalam ‘Saya juga lapar. Saya sangat lapar. Baik,
bahasa ragam nonformal, kata ‘nelen’ berasal dari kita mau makan?’.
kata ‘telan’ atau ‘menelan’. P2 : Kita mau makan di Warung Selaras.
Selain dilihat melalui penggunaan [kita mau makan di waruᶇ sәlaras]
frasa/kata, Bahasa Indonesia ragam nonformal ‘Kita ingin makan di Warung Selaras.’
juga dapat dilihat dari bentuk struktur kaliman
yang digunakan. Struktur kalimat yang Penggalan tuturan (2) terjadi antara
digunakan dalam tuturan tersebut tidak sesuai pembelajar (P2) dengan pengajar (P1) di
dengan kaidah kebahasaan. Struktur kalimat Universitas Diponegoro Semarang. Bahasa yang
yang digunakan berupa konstruksi lisan, muncul dalam interaksi pembelajaran BIPA
sehingga menunjukkan ketidakformalan suatu adalah Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
tuturan. Terdapat alih kode dalam penggalan tuturan di
2) Alih Kode atas. Alih kode dilakukan oleh P1 dalam
Alih kode terjadi dalam tuturan pengajar tuturannya, ‘saya juga lapar. I’m very hungry’. P1
maupun pembelajar. Hal ini sebagai akibat dari melakukan peralihan kode dari Bahasa Indonesia

129
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

berupa ‘saya lapar’, ke dalam bahasa Inggris ‘I’m campur kode juga digunakan oleh pembelajar.
very hungry’. Alih kode ini dilakukan P1 dalam Terdapat penyisipan pada tataran kata, frasa,
merespons tuturan P2 pada saat interaksi idiom, baster, dan klausa dalam campur kode
pembelajaran. Setelah itu, P1 kembali yang muncul. Berikut contoh penggalan tuturan
menggunakan Bahasa Indonesia pada tuturan dalam interaksi pembelajaran BIPA yang
berikutnya. Hal ini dapat dilihat pada tuturan mengandung campur kode.
‘Baik, kita mau makan?’. Kondisi tersebut (3) Konteks: Pembelajar (P2) bertanya kepada
menunjukkan bahwa alih kode yang dilakukan pengajar (P1) tentang konsep menyeduh
oleh P1 bersifat sementara. P1 kembali teh dalam pembelajaran membaca bertema
menggunakan Bahasa Indonesia setelah beralih jamu atau obat tradisional Indonesia di
ke dalam bahasa Inggris. kelas BIPA Turki Universitas Negeri
Wujud alih kode dapat dilihat berdasarkan Semarang.
penggunaan dua bahasa dalam suatu tuturan.
Seperti pada penggalan tuturan di atas, P1 P2 : Seduh dua kantung bagaimana, Miss?
menggunakan dua bahasa dalam tuturannya, [sәduh duwa kantuᶇ bagaemana mis]
yaitu Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. P1 ‘Seduh dua kantung bagaimana maksudnya
menggunakan bahasa Inggris setelah Bu?’
menggunakan Bahasa Indonesia pada tuturan P1 : Nah, seduh dua kantung. Satu gelas, dua
sebelumnya. Setelah itu, P1 kembali kantung dimasukkan, diberi hot water.
menggunakan Bahasa Indonesia. Dengan [nah sәduh duwa kantuᶇ. satu gәlas duwa
demikian, terdapat dua bahasa dalam satu kantuᶇ dimasu?kan dibәri hɔt wɔtә]
tuturan P1, yaitu Bahasa Indonesia dan bahasa ‘Nah, seduh dua kantung, ada satu gelas,
Inggris yang digunakan secara sementara. dua kantung dimasukkan dan diberi air
Alih kode sementara ini digunakan oleh P1 panas’.
untuk menunjukkan terjemahan kalimat ‘Saya
juga lapar’. P1 beralih kode ke dalam bahasa Penggalan tuturan (3) terjadi di dalam
Inggris untuk menekankan kalimat yang interaksi pembelajaran BIPA Universitas Negeri
sebelumnya diucapkannya. Meskipun setelahnya Semarang. Terdapat campur kode dalam bentuk
P1 kembali ke dalam Bahasa Indonesia sebagai penyisipan frasa pada penggalan tuturan tersebut.
wujud pembelajaran BIPA. Hal ini selaras Pada campur kode yang dilakukan oleh pengajar
dengan teori pembelajaran bahasa kedua yang (P1), terdapat penyisipan frasa pada tuturan ‘nah,
memandang bahwa bahasa target juga sebaiknya seduh dua kantung. Satu gelas, dua kantung
digunakan sebagai bahasa pengantar dalam dimasukkan, diberi hot water’. Frasa bahasa Inggris
pembelajaran. Oleh sebab itu, alih kode dari berupa hot water disisipkan dalam kalimat Bahasa
Bahasa Indonesia ke dalam bahasa asing Indonesia yaitu ‘nah, seduh dua kantung. Satu
sebaiknya dilakukan secara sementara oleh gelas, dua kantung dimasukkan, diberi’. Campur
pengajar/pembelajar dalam pembelajaran BIPA. kode tersebut terjadi pada kelas BIPA mahasiswa
Dengan harapan pembelajaran BIPA lebih Turki di Universitas Negeri Semarang dalam
bermakna dan tidak melakukan interferensi pembelajaran keterampilan membaca.
bahasa lain (asing) dalam bahasa Indonesia. Campur kode tersebut dapat diidentifikasi
3) Campur Kode melalui susunan kalimat atau penggalan tuturan.
Campur kode muncul dalam interaksi Terdapat dua bahasa yang digunakan oleh
pembelajaran BIPA sebagai salah satu gejala penutur dalam satu kalimat. Dua bahasa tersebut
ditemukannya penutur dwibahasawa. Campur adalah Bahasa Indonesia dan bahasa Inggris.
kode yang muncul dalam interaksi pembelajaran Percampuran dua bahasa tersebut dilakukan
BIPA adalah percampuran antara Bahasa dalam satu fungsi kalimat atau tuturan. Hal ini
Indonesia dengan bahasa asing, khususnya dapat dilihat pada tuturan P1, yaitu ‘diberi hot
bahasa Inggris. Selain digunakan oleh pengajar, water’. Pada penggalan tuturan tersebut terjadi

130
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

penyisipan frasa bahasa Inggris ke dalam fungsi Pola Pemilihan Bahasa dalam Interaksi
Bahasa Indonesia. Campur kode tersebut Pembelajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur
dilakukan untuk memudahkan pemahaman Asing
pembelajar. Selain itu, penyisipan frasa berupa
hot water dapat menjadikan tuturan antara Berdasarkan Jenjang Pembelajaran
pengajar (P1) dan pembelajar lebih ekonomis. Pembelajaran BIPA dilaksanakan dalam
Campur kode lazim digunakan dalam interaksi tiga jenjang, yaitu tingkat dasar, menengah, dan
pembelajaran BIPA. Kemunculan campur kode lanjut. Tiga jenjang tersebut memiliki
dalam interaksi pembelajaran BIPA disebabkan karakteristik yang berbeda-beda. Bahasa yang
oleh kondisi-kondisi tertentu seperti digunakan dalam interaksi pembelajaran tiap
maksud/tujuan tuturan, situasi, dan topik yang jenjang juga berbeda-beda. Hal ini disebabkan
sedang dibicarakan. Campur kode yang muncul kemampuan pembelajar dalam menguasai
dalam pembelajaran BIPA antara lain sisipan Bahasa Indonesia berbeda-beda. Oleh sebab itu,
kata, frasa, idiom, baster, dan klausa. Adapun dalam mengidentifikasi pola pemilihan bahasa
campur kode yang dominan muncul dalam dalam interaksi pembelajaran BIPA dapat dilihat
interaksi pembelajaran BIPA yaitu campur kode berdasarkan jenjang atau tingkat pembelajaran.
sisipan kata dan frasa. Hal ini disebabkan Pola pemilihan bahasa yang dominan muncul
penyisipan kata maupun frasa digunakan untuk adalah pola peralihan situasional. Adapun pola
menujukkan padanan kata/frasa yang tidak pemilihan bahasa dalam interaksi pembelajaran
diketahui pembelajar dalam pembelajaran BIPA. BIPA berdasarkan jenjang pembelajaran dapat
dilihat pada bagan berikut.

AK & CK Dari b.
Inggris ke b. PS
Dasar Indonesia

Pembelajaran AK & CK Dari b.


Menengah Indonesia ke b. PS
BIPA
Inggris

PS
Lanjut
VTB (b. Indonesia)

PM

Gambar 1. Pola Pemilihan Bahasa Berdasarkan Tingkat Pembelajaran


Keterangan :
AK : Alih Kode
PS : Pola Peralihan Situasional
CK : Campur Kode
PM : Pola Peralihan Metaforik
VTB : Variasi Tunggal Bahasa

131
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

Berdasarkan Terjadinya Interaksi pembelajar lainnya (P3). Dengan


Selain dilihat berdasarkan tingkat mengidentifikasi pilihan bahasa pada proses
pembelajaran, pola pemilihan bahasa dalam terjadinya interaksi (stimulus-respons), dapat
interaksi pembelajaran BIPA juga dapat dilihat diketahui pola pemilihan bahasa yang dominan
berdasarkan terjadinya interaksi. Terdapat muncul. Dua pola tersebut yaitu pola peralihan
pengajar dan para pembelajar sebagai penutur situasional dan pola peralihan metaforik. Pola
dan mitra tutur di dalam interaksi pembelajaran peralihan situasional muncul secara dominan
BIPA. Oleh sebab itu, pola pemilihan bahasa dibandingkan dengan pola peralihan metaforik.
dalam interaksi pembelajaran BIPA dapat dilihat Pola pemilihan bahasa dalam interaksi
dari tuturan antara pengajar (P1) dengan pembelajaran BIPA berdasarkan jenjang
pembelajar (P2), pembelajar (P2) dengan terjadinya interaksi dapat dilihat pada bagan
pengajar (P1), dan pembelajar (P2) dengan berikut.

VTB, AK, CK PS
P1 P2

Interaksi
Pembelajaran P2  P1 AK & CK PS
BIPA

PS
P2  P3
VTB, AK, CK

PM

Gambar 2. Pola Pemilihan Bahasa Berdasarkan Terjadinya Interaksi


Keterangan :
AK : Alih Kode
PS : Pola Peralihan Situasional
CK : Campur Kode
PM : Pola Peralihan Metaforik
VTB : Variasi Tunggal Bahasa
P1 : Pengajar
P2 : Pembelajar
P3 : Pembelajar lainnya

Faktor yang Memengaruhi Pilihan Bahasa tuturan. Berikut penjelasan mengenai keempat
dalam Interaksi Pembelajaran Bahasa faktor tersebut.
Indonesia bagi Penutur Asing
Ada beberapa faktor yang memengaruhi Latar Belakang Bahasa Penutur/Participant
pilihan bahasa dalam interaksi pembelajaran Munculnya pilihan bahasa dalam interaksi
BIPA. faktor-faktor tersebut yaitu 1) latar pembelajaran BIPA dapat dipengaruhi oleh latar
belakang bahasa penutur/participant; 2) situasi; belakang bahasa penutur. Penutur dalam
3) topik percakapan; dan 4) maksud/tujuan pembelajaran BIPA, khususnya pembelajar

132
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

merupakan dwibahasawan. Oleh sebab itu, pilihan bahasa dalam suatu interaksi. Topik
kondisi tersebut dapat memunculkan pilihan percakapan yang belum dipahami oleh
bahasa dalam proses interaksi. Bahasa Indonesia pembelajar juga dapat memunculkan kosakata-
dalam pembelajaran BIPA berkedudukan sebagai kosakata yang sulit dipahami oleh pembelajar.
bahasa asing bagi mereka. Di sisi lain, Dalam hal ini, pengajar dapat menggunakan
penguasaan Bahasa Indonesia para pembelajar pilihan bahasa sebagai alternatif komunikasi.
juga masih minim. Kondisi tersebut Pilihan bahasa dapat digunakan sebagai cara
memunculkan terjadinya pilihan bahasa seperti menyampaikan padanan kata yang sulit
alih kode dan campur kode. Akan tetapi, tidak dipahami oleh pembelajar.
menutup kemungkinan juga terjadi variasi Ada beberapa topik atau tema dalam
tunggal bahasa dalam interaksi pembelajaran pembelajaran BIPA. Topik tersebut yaitu,
BIPA. (1) kegiatan sehari-hari; (2) kegiatan di dalam
Terdapat beberapa jenis dwibahasawan rumah; (3) kegiatan di sekolah/kampus; (3)
dalam interaksi pembelajaran BIPA. pariwisata; (4) kesehatan; (5) budaya; (6)
Dwibahasawan tersebut yaitu (1) dwibahasawan pendidikan; dan lain sebagainya. Topik tersebut
Inggris-Spanyol; (2) dwibahasawan Inggris- disesuaikan dengan empat keterampilan
China/Mandarin; (3) dwibahasawan Turki- berbahasa yaitu (1) menyimak; (2) berbicara; (3)
Arab; dan (4) dwibahasawan Jepang-Inggris. membaca; dan (4) menulis. Topik tersebut
Keempat dwibahasawan tersebut memiliki diintegrasikan ke dalam tiga jenjang/tingkat
karakteristik tersendiri dalam menguasai Bahasa pembelajaran baik dasar, menengah, dan lanjut.
Indonesia. Kendala yang dihadapi oleh tiap Setiap topik memiliki karakteristik bahasa dan
dwibahasawan juga berbeda-beda. Oleh sebab kosakata yang berbeda-beda. Oleh sebab itu,
itu, pilihan bahasa yang digunakan oleh setiap topik tersebut dapat memengaruhi pilihan bahasa
dwibahasawan juga berbeda. Dengan demikian, dalam interaksi pembelajaran BIPA.
perlu ditilik pilihan bahasa yang muncul pada
tiap dwibahasawan dalam interaksi pembelajaran Maksud/Tujuan Tuturan
BIPA. Pilihan bahasa dalam interaksi
pembelajaran BIPA juga dapat dipengaruhi oleh
Situasi tujuan tuturan. Tujuan tuturan dapat
Situasi dalam pembelajaran juga memunculkan penggunaan pilihan bahasa seperti
memengaruhi kemunculan pilihan bahasa. variasi tunggal bahasa, alih kode, mapun campur
Situasi menjadi konteks yang memengaruhi kode. Tujuan tuturan tersebut dapat berupa
penggunaan pilihan bahasa pengajar maupun (1) apersepsi; (2) mengajukan pertanyaan/
pembelajar dalam interaksi pembelajaran BIPA. bertanya; (3) menjawab pertanyaan;
Situasi tersebut dapat berupa kesulitan pengajar (4) memerintah; dan (5) menjelaskan. Dalam hal
dalam menyampaikan pembelajaran, kesulitan ini, kegiatan tersebut dilakukan oleh P1, P2, dan
pembelajar dalam memahami suatu konsep atau P3 pada proses atau tahapan pembelajaran.
kosakata, tingkat atau jenjang kelas BIPA, dan
lain sebagainya. Situasi tersebut dapat SIMPULAN
diklasifikasikan ke dalam (1) jarak antarpenutur; Pilihan bahasa merupakan hasil dari
(2) situasi resmi; dan (3) situasi tidak resmi. proses memilih salah satu bahasa yang dikuasai
oleh penutur dwibahasa maupun multibahasa.
Topik Percakapan Dengan pilihan bahasa, penutur dapat dilihat
Topik percakapan dapat memengaruhi kebijaksanaannya dalam menggunakan
penggunaan pilihan bahasa dalam interaksi kemampuan berbahasanya sesuai kebutuhan,
pembelajaran BIPA. Topik percakapan situasi, dan kondisi. Pilihan bahasa terjadi akibat
merupakan inti dalam percakapan. Oleh sebab kemuculan penutur dwibahasa atau multibahasa
itu, konteks ini dapat memengaruhi terjadinya dalam proses komunikasi. Berdasarkan temuan

133
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

dalam penelitian ini, dapat dideskripsikan Ketiga, pilihan bahasa dalam interaksi
beberapa simpulan sebagai berikut. pembelajaran BIPA dipengaruhi oleh faktor
Pertama, pilihan bahasa dalam interaksi internal dan eksternal. Faktor internal berupa
pembelajaran BIPA berupa (1) variasi tunggal latar belakang bahasa penutur/participant.
bahasa meliputi Bahasa Indonesia ragam formal Sementara itu, faktor eksternal yang
dan nonformal; (2) alih kode; dan (3) campur memengaruhi pilihan bahasa dalam interkasi
kode. Pilihan bahasa muncul dalam interaksi pembelajaran BIPA adalah situasi, topik
pembelajaran Bahasa Indonesia bagi penutur percakapan, dan maksud/tujuan tuturan.
asing (BIPA) disebabkan oleh kehadiran penutur Faktor-faktor tersebut mengakibatkan
dwibahasawan maupun multibahasawan. Oleh penggunaan pilihan bahasa oleh pengajar
sebab itu, dalam interaksi pembelajaran BIPA maupun pembelajar dalam interaksi
ditemukan pilihan bahasa. Alih kode dan campur pembelajaran BIPA. Adapun faktor yang paling
kode digunakan secara dominan dalam interaksi berpengaruh pada penggunaan pilihan bahasa
pembelajaran BIPA tingkat dasar dan menengah. yaitu latar belakang pembelajar meliputi
Sementara itu, variasi tunggal bahasa digunakan 1) bahasa pertama (B1); 2) etnis; 3) kebudyaan;
secara dominan dalam interaksi pembelajaran dan pendidikan pembelajar. Selain itu, bidang
BIPA tingkat lanjut. keahlian pengajar meliputi bidang ilmu Bahasa
Kedua, pola pemilihan bahasa dalam Indonesia atau nonBahasa Indonesia juga
interaksi pembelajaran BIPA adalah pola memengaruhi pilihan bahasa dalam interaksi
peralihan situasional dan pola peralihan pembelajaran BIPA
metaforik. Kedua pola tersebut dilihat melalui
tiga jenjang/tingkat pembelajaran BIPA. Tiga
tingkat pembelajaran BIPA tersebut adalah DAFTAR PUSTAKA
(1) pembelajaran BIPA tingkat dasar; Aslinda dan Leni S. 2007. Kedwibahasaan,
(2) pembelajaran BIPA tingkat menengah; dan Dwibahasawan, dan Diglosia. Bandung: Refika
(3) pembelajaran BIPA tingkat lanjut. Setiap Aditama.
Chaer, Abdul dan Leonie A. 2010. Sosiolinguistik
jenjang/tingkat pembelajaran memiliki
Perkenalan Awal. Jakarta: Rineka Cipta.
karakteristik yang berbeda-beda. Salah satu yang
Coulmas, F (edt). 1998. The Handbook of Sociolinguistics.
unik di setiap tingkatan tersebut adalah
Oxford: Blackwell Publishing.
penggunaan bahasa dalam interaksi Ervin-Tripp, S. 1977. Child Discourse. New York:
pembelajaran. Tiap tingkat memiliki pola Academic Press.
pemilihan bahasa yang berbeda-beda. Pada Fasold, Ralph dan Deborah S. 1989. Language Change
tingkat dasar, pilihan bahasa yang muncul adalah and Variation. Washington D.C: Georgetown
alih kode dan campur kode dari bahasa asing University Press.
(Inggris) ke Bahasa Indonesia. Sementara itu, Fasold, Ralph dan Jeff C.L. 2013. An Introduction to
Language and Linguistics. New York: Cambridge
pada tingkat menengah juga ditemukan alih kode
University Press.
dan campur kode. Akan tetapi, alih kode dan
Fishman, J.A. 2006. Do Not Leave Your Language Alone:
campur kode dari Bahasa Indonesia ke bahasa The Hidden Status Agendas Within Corpus
asing. Artinya, bahasa yang dominan digunakan Planning in Language Policy. London: Lawrence
dalam tingkat ini adalah Bahasa Indonesia. Erlbaum Associates.
Adapun pada tingkat lanjut, pilihan bahasa yang Fishman, J.A. 2013. Current Multilingualism:
ditemukan adalah variasi tunggal bahasa berupa Contribution to The Sociology of Language. Boston:
Bahasa Indonesia ragam formal dan nonformal. Walter de Gruyter.
Selain itu, pola pemilihan bahasa yang muncul Holmes, J. 2012. An Introduction to Sociolinguistics:
Fourth Edition. London dan New York:
adalah pola peralihan situasional dan metaforik.
Routledge.
Adapun pola pemilihan bahasa yang dominan
Hymes, D. 1964. Language In Culture And Society. New
dalam interaksi pembelajaran BIPA adalah pola
York: Harper and Row Publisher.
peralihan situasional.

134
Eko Widianto dan Ida Zulaeha / SELOKA 5 (2) (2016)

Krashen, Stephen D. dan Tracy D.T. 1985. The Stern, H.H. 1983. Fundamental Concepts of Language
Natural Approach Language Acquisition in the Teaching. Oxford: Oxford University Press.
Classroom. New York: Pergamon Press. Sudaryanto, 2015. Metode dan Aneka Teknik Analisis
Kusmiatun, A. 2015. Mengenal BIPA (Bahasa Indonesia Bahasa: Pengantar Penelitian Wahana
Bagi Penutur Asing) dan Pembelajarannya. Kebudayaan Secara Linguistis. Yogyakarta:
Yogyakarta: K-Media. Sanata Dharma University Press.
Moleong, L.J. 2010. Metodologi Penelitian Kualitatif Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Pendidikan:
Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosdakarya Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D.
Offset. Bandung: Alfabeta.
Rahmina, I. 2002. Strategi Belajar Mengajar BIPA. Wardhaugh, R. 2010. An Introduction to Sociolinguistic:
Bandung: Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sixth Edition. Oxford: Willey-Blackwell.
Sastra Indonesia. Winkel, W.S. 1987. Psikologi Pengajaran. Jakarta:
Rokhman, F. 2013. Sosiolinguistik: Suatu Pendekatan Gramedia.
Pembelajaran Bahasa dalam Masyarakat Zulaeha, I. 2013. “Innovation models of Indonesian
Multikultural. Yogyakarta: Graha Ilmu. Learning in Multicultural Society” dalam
Journal of Procedia-Social and Behavioral Sciences
103, 506-514.

135