Anda di halaman 1dari 16

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat

limpahan rahmat, hidayah serta inayah-Nya makalah kami yang berjudul


“Asuhan Keperawatan Dengan gangguan Sistem Kardiovaskuler” dapat
terselesaikan. Tak lupa pula kita kirimkan shalawat serta salam kepada
junjungan kita Nabi Muhammad SAW sebagai sosok teladan bagi seluruh umat
islam.

Penyusunan buku ini dalam rangka memenuhi kewajiban kami sebagai


mahasiswa untuk melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh dosen dan
terus mencoba untuk menimba ilmu. Oleh karena itu kami mengucapkan banyak
terima kasih kepada dosen yang telah senantiasa memberikan bimbingan serta
arahan kepada kami.

Dalam penyusunan buku ini, kami menyadari bahwa buku kami ini belum
sempurna dan tidak luput dari kesalahan. Kami dari tim penyusun mengharpkan
kritik dan saran sehingga kami dapat meminimalisir kesalahan. Kami juga
berharap semoga apa yang kami sajikan di buku ini dapat bermanfaat dan
menambah pengetahua para pembaca. Akhir kata sekian dan terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Makassar, 4 September 2019

Penyusun

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak i


KATA PENGANTAR .............................................................................................................. i
DAFTAR ISI............................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................................... 1


A. Latar Belakang ............................................................................................................ 1
B. Tujuan Penulisan ........................................................................................................ 1

BAB II PEMBAHASAN ......................................................................................................... 3

A. Definisi Rheumatic Heart Disease .............................................................................. 3

B. Etiologi Rheumatic Heart Disease .............................................................................. 4

C. Manifestasi Klinis Rheumatic Heart Disease ............................................................. 4

D. Patofisiologi Rheumatic Heart Disease ....................................................................... 6

E. Komplikasi Rheumatic Heart Disease ........................................................................ 6

F. Pemeriksaan Diagnostik Rheumatic Heart Disease .................................................... 7


G. Penatalaksanaan Rheumatic Heart Disease ................................................................ 8

H. Pengkajian Rheumatic Heart Disease ......................................................................... 8


I. Diagnosa Keperawatan yang mungkin muncul ........................................................ 10
J. Rencana Keperawatan ............................................................................................... 11

BAB III PENUTUP .............................................................................................................. 13

A. Kesimpulan ............................................................................................................... 13

B. Saran ......................................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ............................................................................................................ 14

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak ii


A. Latar Belakang

Penyakit reumatik merupakan kelainan katup jantung yang menetap akibat demam reumatik
sebelumnya. Penyakit ini terutama mengenai katup mitral (75%), Aorta (25%), jarang mengenai katup
trikuspid dan tidak pernah menyerang katup pulmonal. Setiap tahunnya rata-rata ditemukan 55 kasus dengan
demam rematik akut (DRA) dan PJR. Diperkirakan prevalensi PJR di Indonesia sebesar 0,3-0,8 anak sekolah
5-15 tahun (William 2016).

DRA merupakan penyebab utama penyakit jantung didapat pada anak usia 5 tahun sampai dewasa
muda di Negara berkembang dengan keadaan sosio ekonomi rendah dan lingkungan buruk. Keterlibatan
jantung menjadi komplikasi terberat dari DRA dan menyebabkan morbiditas dan mortalitas yang signifikan.
Dengan 60% dari 470.000 kasus DRA per tahun akan menambah jumlah kejadian PJR yang 15 juta jiwa.
Penderita PJR akan beresiko untuk kerusakan jantung akibat infeksi berulang dari DRA dan memerlukan
pencegahan. Morbiditas akibat gagal jantung, stroke dan endocarditis sering pada penderita PJR dengan
sekitar 1,5% penderita rheumatic carditis akan meninggal per tahun. DRA dan PJR diperkirakan berasal dari
respon auto imun, tetapi patogenesa pastinya belum jelas. Diseluruh dunia DRA diperkirakan terjadi pada 5-
30 juta anak-anak dan dewasa muda. 90.000 akan meninggal setiap tahunnya. Mortalitas penyakit ini di
dunia adalah sebesar 1-10% (William 2016).

B. Tujuan Penulisan

1. Untuk menguraikan definisi Rheumatic Heart Disease


2. Untuk menguraikan etiologi dari Rheumatic Heart Disease

3. Untuk menguraikan manisfestasi klinis Rheumatic Heart Disease


4. Untuk menguraikan patofisiologi Rheumatic Heart Disease
5. Untuk menguraikan komplikasi Rheumatic Heart Disease

6. Untuk menguraikan pemeriksaan diagnostic Rheumatic Heart Disease


7. Untuk menguraikan penatalaksanaan Rheumatic Heart Disease

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 1


8. Untuk menguraikan pengkajian Rheumatic Heart Disease
9. Untuk mengetahui diagnosa keperawatan Rheumatic Heart Disease

10. Untuk mengetahui rencana keperawatan Rheumatic Heart Disease


11. Untuk menjelaskan Web Os Causation (WOC)

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 2


A. DEFINISI

Demam rematik (DR) adalah suatu penyakit yang diakibatkan oleh respons imunologis lambat yang
terjadi setelah infeksi kuman Streptococus hemolyticus grup A. Penyakit jantung rematik (PJR) adalah
penyakit jantung sebagai akibat gejala sisa dari DR, yang ditandai dengan terjadinya cacat katup
jantung.Penyakit ini merupakan penyebab kelainan katup yang terbanyak terutama pada anak sehingga
mengurangi produktivitas dan kualitas hidup. Gejala sisa demam rematik pada katup jantung yang
menimbulkan kerusakan katup jantung (Rahmawati,dkk 2012).

Demam reumatik akut adalah konsekuensi autoimun dari infeksi streptokokus grup A. Demam
reumatik akut menyebabkan respon inflamasi umum dan penyakit yang mengenai jantung, sendi, otak dan
kulit secara selektif. Penyakit jantung reumatik adalah lanjutan dari demam reumatik akut. Kerusakan katup
jantung, khususnya katup mitral dan aorta setelah demam reumatik akut dapat menjadi persisten setelah
episode akut telah mereda. Keterlibatan katup jantung tersebut dikenal dengan penyakit jantung reumatik/
rheumatic heart disease (RHD) (Alyssa,Roro 2017).

DRA adalah penyakit usia muda, terutama anak anak sebelum masa pubertas. Usia tersering
DRAadalah 6-15 tahun dimana pada hampir 50% kasus ditemukan antistreptolisin O lebih dari 200 U Todd,
yang menunjukkan seringnya infeksi berulang pada rentang umur ini. Insidensi jarang pada anak dibawah 5
tahun ataupun orang dewasa diatas 35 tahun. Sering nya infeksi berulang pada masa remaja dan dewasa
muda serta efek kumulatif dari infeksi berulang ini diperkirakan menyebabkan penyakit jantung rematik
(Rahayuningsih 2011).

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 3


B. ETIOLOGI

Penyebab terjadinya penyakit jantung reumatik diperkirakan adalah reaksi autoimun (kekebalan tubuh)
yang disebabkan oleh demam reumatik. Infeksi streptococcus β hemolitikus grup A pada tenggorok selalu
mendahului terjadinya demam reumatik baik demam reumatik serangan pertama maupun demam reumatik
serangan ulang.Infeksi Streptococcus beta-hemolyticus grup A pada tenggorok selalu mendahului terjadinya
demam rematik, baik pada serangan pertama maupun serangan ulang. Karakteristik dari demam rematik
adalah reccurence atau cenderung terjadi berulang. Selain itu penyakit jantung rematik juga disebabkan oleh
reaksi autoimun dimana tubuh tidak bisa membedakan antara antigen bakteri streptokokus dengan antigen
jaringan jantung, dari penelitian ditemukan adanya kesamaan polisakarida bagian dinding sel bakteri
streptokokus tipe A dengan glikoprotein dalam katup jantung yang mendukung terjadinya infeksi yang
bermanifestasi terjadinya miokarditis dan valvulitis pada komplikasi demam rematik. (Udjianti, 2010).

C. MANIFESTASI KLINIS

Penderita umumnya megalami sesak nafas yang disebabkan jantungnya sudah mengalami gangguan,
nyeri sendi yang berpindah- pindah, bercak kemerahan di kulit yang berbatas, gerakan tangan yang tak
beraturan dan tak terkendali (korea), atau benjolan kecil-kecil dibawah kulit. Selain itu tanda yang juga turut
menyertainya adalah nyeri perut, kehilangan berat badan, cepat lelah dan tentu saja demam. Berikut ini ialah
tanda-tandanya dan kriteria diagnosis (Kowalak 2017) :

1. Kriteria Mayor
a. Karditis
Karditis adalah komplikasi yang paling serius dan paling sering terjadi setelah poli artritis.
Pankarditis meliputi endokarditis, miokarditis dan perikarditis. Pada stadium lanjut, pasien mungkin
mengalami dipsnea ringan-sedang, rasa tak nyaman di dada atau nyeri pada dada pleuritik, edema, batuk dan
ortopnea. Pada pemeriksaan fisik, karditis paling sering ditandai dengan murmur dan takikardia yang tidak
sesuai dengan tingginya demam. Gagal jantung kongestif bisa terjadi sekunder akibat insufisieni katup yang
parah atau miokarditis, yang ditandai dengan adanya takipnea, ortopnea, distensi vena jugularis, ronki,
hepatomegali, irama gallop, dan edema perifer.Friction rub pericardial menandai perikarditis. Perkusi
jantung yang redup, suara jantung melemah, dan pulsus paradoksus adalah tanda khas efusi perikardium dan
tamponade perikardium yang mengancam (Rahayuningsih 2011).

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 4


b. Poliartritis Migrans
Merupakan manifestasi yang paling sering dari rheumatic fever, terjadi pada sekitar 70% pasien
rheumatic fever. Gejala ini muncul 30 hari setelah infeksi Streptococcus yakni saat antibodi mencapai
puncak. Radang sendi aktif ditandai dengan nyeri hebat, bengkak, eritema pada beberapa sendi. Nyeri saat
istirahat yang semakin hebat pada gerakan aktif dan pasif merupakan tanda khas. Sendi yang paling sering
terkena adalah sendi-sendi besar seperti sendi lutut, pergelangan kaki, siku, dan pergelangan tangan. Gejala
ini bersifat asimetris dan berpindah-pindah (poliartritis migrans). Peradangan sendi ini dapat sembuh spontan
beberapa jam sesudah serangan namun muncul pada sendi yang lain. Pada sebagian besar pasien dapat
sembuh dalam satu minggu dan biasanya tidak menetap lebih dari dua atau tiga minggu (Rahayuningsih
2011)
c. Chorea Sydenham/Vt. Vitus’ Dance
Chorea sydenham terjadi pada 13-14% kasus rheumatic fever dan dua kali lebih sering pada
perempuan. Gejala ini muncul pada fase laten yakni beberapa bulan setelah infeksi Streptococcus (mungkin
6 bulan). Manifestasi ini mencerminkan keterlibatan proses radang pada susunan saraf pusat, ganglia basal,
dan nukleus kaudatus otak. Periode laten dari chorea ini cukup lama, sekitar tiga minggu sampai tiga bulan
dari terjadinya rheumatic fever. Gejala awal biasanya emosi yang lebih labil dan iritabilitas. Kemudian
diikuti dengan gerakan yang tidak disengaja, tidak bertujuan, dan inkoordinasi muskular. Semua bagian otot
dapat terkena, namun otot ekstremitas dan wajah adalah yang paling mencolok. Gejala ini semakin diperberat
dengan adanya stress dan kelelahan, namun menghilang saat beristirahat (Rahayuningsih 2011).
d. Eritema Marginatum
Eritema marginatum merupakan ruam khas pada rheumatic fever yang terjadi kurang dari 10%
kasus. 12 Ruam berbentuk anular berwarna kemerahan yang kemudian ditengahnya memudar pucat, dan
tepinya berwarna merah berkelok-kelok seperti ular. Umumnya ditemukan di tubuh (dada atau punggung)
dan ekstremitas (Rahayuningsih 2011).
e. Nodulus Subkutan
Nodulus subkutan ini jarang dijumpai, kurang dari 5% kasus. Nodulus terletak pada permukaan
ekstensor sendi, terutama pada siku, ruas jari, lutut, dan persendian kaki. Kadang juga ditemukan di kulit
kepala bagian oksipital dan di atas kolumna vertebralis. Nodul berupa benjolan berwarna terang keras, tidak
nyeri, tidak gatal, mobile, dengan diameter 0,2-2 cm. Nodul subkutan biasanya terjadi beberapa minggu
setelah rheumatic fever muncul dan menghilang dalam waktu sebulan. Nodul ini selalu menyertai karditis
rematik yang berat (Rahayuningsih 2011).

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 5


1. Kriteria Minor
a) Demam
b) Artralgia (nyeri sendi)
c) Interval PR yang memanjang
d) Leukositosis
e) Peningkatan laju endap darah
D. PATOFISIOLOGI

Demam reumatik adalah suatu hasil respon imunologi abnormal yang disebabkan oleh kelompok
kuman A beta-hemolitic streptococcus yang menyerang pada pharynx. Streptococcus diketahui dapat
menghasilkan tidak kurang dari 20 produk ekstrasel yang terpenting diantaranya ialah streptolisin O,
streptolisin S, hialuronidase, streptokinase, di fosforidin nukleotidase, deoksiribonuklease serta streptococca
erythrogenic toxin. Produk-produk tersebut merangsang timbulnya antibodi.
Antigen streptokokus group A berikatan dengan reseptor dalam jantung,otot,otak,jantung,dan
persendian sehingga terjadi respon auto imun. Karena kesamaan yang terdapat antara antigen streptokokus
dan antigen sel tubuh sendiri,antibodi dapat menyerang secara keliru sel-sel tubuh yang sehat tersebut.
Karditis dapat menyerang endokardium,miokardium,atau perikardium selama awal fase akut . Belakangan
,katup jantung dapat mengalami kerusakan sehingga terjadi penyakit katup yang kronis.
Perikarditis menimbulkan efusi serofibrinous. Miokarditis menyebabkan lesi khas yang di namakan
Aschoff bodies (timbunan fibrin yang dikelilingi oleh jaringan nekrosis ) di dalam jaringan interstisial
jantung dan menimbulkan pembengkakan sel dan fragmentasi kolagen interstisial. Lesi ini kemudian secara
progresif menyebabkan nodul fibrotik dan pembentukan jaringan parut interstisial.
Endokarditis menyebabkan pembengkakan lipatan katup , erosi di sepanjang garis penutupan lipatan
katup , dan penimbunan darah ,trombosit,serta fibrin yang berbentuk menyerupai manik-manik.Pada
akhirnya ,lipatan katup itu mengalami pembentukan sikatrik,kehilangan elastisnya da mulai saling melekat
satu sama lain (Kowalak,dkk 2017).
E. KOMPLIKASI
Komplikasi yang mungkin terjadi pada demam reumatik dan penyakit jantung (Kowalak ,dkk 2017) :
1. Kerusakan katup mitral dan katup aorta
2. Pankarditis (pericarditis , miokarditis, dan endocarditis )
3. Gagal jantung

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 6


F. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

Pemeriksaan ini membantu penegakan diagnosismdemam reumatik dan penyakit jantung reumatik (Kowalak
,dkk 2017) :

1. Pemeriksaan laboratorium

Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan ASTO (anti-streptolisin O),


peningkatan laju endap darah (LED),dan terjadi leukositosis.

Dari pemeriksaan laboratorium darah di dapatkan :

a. Peningkatan ASTO ( anti-streptolisin O)

RHD diawali dengan infeksi bakteri Streptococcus beta-hemolyticus golongan A pada kerongkongan.
Infeksi ini menyebabkan penderita mengeluh nyeri kerongkongan dan demam. bakteri Streptococcus yang
ada akan melakukan perlengketan yang kuat (adherence) di daerah sekitarnya dan merangsang pengeluaran
antibodi (Ig-G). Antibodi yang dihasilkan akan mengikat kuman Streptococcus dan membentuk suatu
kompleks imun dan akan menyebar ke seluruh tubuh, terutama ke jantung, sendi, dan susunan saraf.

b. Peringkatan laju endap darah (led)

Tes laju endap dilakukan untuk melihat perkembangan penyakit peradangan yang sedang dialami
pasien. Infeksi tenggorokan ini seringkali terjadi akibat bakteri yang namanya streptokokus grup A. Pada
semua orang, infeksi seperti ini akan menimbulkan reaksi imun atau reaksi kekebalan tubuh untuk melawan
bakteri ini. Nah, pada orang-orang yang ”berbakat”, reaksi imun ini tidak hanya akan membantai si bakteri
streptokokus, tetapi juga akan menyerang tubuh sendiri. Terutama pada bagian-bagian tubuh tertentu, seperti
sendi, jantung, kulit dan otak, sehingga timbul reaksi inflamasi atau peradangan.

c. Leukositosis

Leukositosis adalah kondisi medis di mana seseorang memiliki jumlah sel darah putih terlalu banyak.
Leukositosis dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti peradangan, infeksi, alergi, hingga kanker darah.

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 7


2. Radiologi
Pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada jantung.
3. Pemeriksaan Ekokardiografi dapat mendeteksi kerusakan pada katup serta efusi pericardial dan dapat
mengukur besar rongga rongga jantung di samping memberikan informasi tentang fungsi fentrikel
4. Pemeriksaan Elektrokardiogram
Menunjukan interval P-R memanjang.
5. Kateterisasi jantung memberi informasi tentang kerusakan katup dan fungsi ventrikel kiri
G. PENATALAKSANAAN

Penderita dianjurkan untuk tirah baring dirumah sakit, selain itu Tim medis akan terpikir akan
penanganan kemungkinan terjadinya komplikasi seperti gagal jantung. Endokarditis bakteri atau trombo-
emboli. Pasien akan diberikan diet bergizi tinggi yang mengandung cukup vitamin.

Penderita Penyakit Jantung Rematik (PJR) tanpa gejala tidak memerlukan terapi. Penderita dengan
gejala gagal jantung yang ringan memerlukan terapi medik untuk mengatasi keluhannya. Penderita yang
simtomatis memerlukan terapi surgical atau intervensi invasive. Tetapi terapi surgical dan intervensi ini
masih terbatas tersedia serta memerlukan biaya yang relative mahal dan memerlukan follow up jangka
panjang.

H. PENGKAJIAN

Pengkajian dilakukan dengan melakukan anamnesis pada pasien. Data-data yang dikumpulkan atau
dikaji meliputi :
1. Identitas Pasien
Pada tahap ini perlu mengetahui tentang nama, umur, jenis kelamin, alamat rumah, agama, suku
bangsa, status perkawinan, pendidikan terakhir, nomor registrasi, tanggal MRS, pekerjaan pasien, dan nama
penanggungjawab.
2. Riwayat Keperawatan.
a. Awalan Serangan

Asal mula perkembangan suatu penyakit.

b. Keluhan Utama

Yang menjadi keluhan utama saat ini di derita oleh pasien.

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 8


3. Riwayat Kesehatan Masa Lalu.

Riwayat penyakit yang pernah diderita pasien.

4. Riwayat Psikososial Keluarga.

Hospitalisasi akan menjadi stressor bagi anak itu sendiri maupun bagi keluarga, kecemasan meningkat
jika orang tua tidak mengetahui prosedur dan pengobatan anak, setelah menyadari penyakit anaknya, mereka
akan bereaksi dengan marah dan merasa bersalah.

5. Pengkajian Pola Gordon (Pola Fungsi Kesehatan).


a. Pola eliminasi akan mengalami perubahan yaitu BAB lebih dari 4 kali sehari, BAK sedikit atau jarang.
b. Pola nutrisi diawali dengan mual, muntah, anoreksia, menyebabkan penurunan berat badan dan
hemoglobin pasien. Pola tidur dan istirahat akan terganggu adanya takikardia karena riwayat infeksi
saluran nafas yang akan menimbulkan rasa tidak nyaman.
c. Aktivitas akan terganggu karena kondisi tubuh yang lemah dan adanya nyeri akibat gangguan fungsi
sendi dan kelemahan otot yakni dibantu oleh orang lain.
d. Persepsi kesehatan pasien tidak mengetahui penyebab penyakitnya, higienitas pasien sehari-sehari
kurang baik.
e. Kognitif atau perceptual pasien masih dapat menerima informasi namun kurang berkonsentrasi karena
tekanan darah menurun, denyut nadi meningkat, dada berdebar-debar.
f. Persepsi diri atau konsep diri pasien mengalami gangguan konsep diri karena kebutuhan fisiologisnya
terganggu sehingga aktualisasi diri tidak tercapai pada fase sakit.
g. Peran hubungan pasien memiliki hubungan yang baik dengan keluarga dan peran pasien pada
kehidupan sehari-hari mengalami gangguan.
h. Manajemen koping atau stress pasien mengalami kecemasan yang berangsur-angsur dapat menjadi
pencetus stress. Pasien memiliki koping yang adekuat.
i. Keyakinan atau nilai pasien memiliki kepercayaan, pasien masih tahap belajar beribadah.
6. Pengkajian ADL (Activity Dailiy Living)
7. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Psikologis yakni keadaan umum yang tampak lemah, kesadaran composmentis sampai
koma, suhu tubuh tinggi, nadi cepat dan lemah, adanya sesak nafas, nyeri abdomen, mual, anoreksia,
penurunan hemoglobin, kelemahan otot, akral dingin.
b. Pemeriksaan Sistematik
Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 9
1) Inspeksi : Mata cekung, ubun-ubun besar, selaput lendir, mulut dan bibir kering, berat badan
menurun, dada berdebar-debar.
2) Perkusi : Adanya distensi abdomen dan nyeri tekan sendi.
3) Palpasi : Turgor kulit kurang elastis, denyut nadi meningkat.
4) Auskultasi : Terdengarnya suara bising katup, perubahan suara jantung.
8. Pemeriksaan Tingkat Tumbuh Kembang.

Pada anak RHD akan mengalami gangguan karena anak malnutrisi sehingga berat badan menurun.

9. Pemeriksaan Penunjang.

Pemeriksaan penunjang yang diperlukan adalah sebagai berikut :

a. Pemeriksaan laboratorium
Dari pemeriksaan laboratorium darah didapatkan peningkatan ASTO, peningkatan laju endap darah
(LED), terjadi leukositosis, dan dapat terjadi penurunan hemoglobin.
b. Radiologi
Pada pemeriksaan foto thoraks menunjukan terjadinya pembesaran pada jantung.
c. Pemeriksaan Echokardiogram
Menunjukan pembesaran pada jantung dan terdapat lesi.
d. Pemeriksaan Elektrokardiogram
Menunjukan interval P-R memanjang. Hapusan tenggorokan ditemukan streptococcus hemolitikus β
grup A.
I. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa yang mungkin muncul (PPNI 2016) :
1. Nyeri akut berhubungan dengan agen-agen pencedera
2. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelemahan otot, tirah baring atau imobilisasi
3. Gangguan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan peredangan pada kulit
4. Penurunan curah jantung berhubungan dengan gangguan katup jantung (stenosis/regurgitasi
aorta, pulmonalis, trikuspidalis atau mitralis).

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 10


J. RENCANA KEPERAWATAN

Diagnosa intervensi Rasional


keperawatan
Nyeri akut 1. Identifikasi skala nyeri 1. untuk mengetahui derajat nyeri pada
berhubungan 2. Berikan teknik pasien sehingga dapat dilakukan
dengan agen-agen nonfarmakologis untuk intervensi yang tepat.
pencedera mengurangi rasa nyeri 2. sebagai analgetik tambahan
3. Berika lingkungan yang tenang 3. memberikan distraksi dalam tingkat
dan tindakan aktivitas individu.
kenyamanan,seperti perubahan 4. Analgetik berfungsi meningkatkan
posisi,dukungan emosional. ambang nyeri
4. Kolaborasi pemberian
analgetik,jika perlu

Intoleransi aktivitas 1. Identifikasi defisit tingkat 1. untuk memberi batas pergerakan yang
berhubungan aktifitas dapat membahayakan pasien
dengan kelemahan 2. Identifikasi sumber daya untuk 2. untuk meningkatkan kemampuan
otot, tirah baring aktifitas yang diinginkan beraktivitas
atau imobilisasi 3. Fasilitasi focus pada 3. memberikan kenyaman yang berfokus
kemampuan, bukan defisit pada kesembuhan
yang dialami 4. untuk mengurangi tingkat pergerakan
4. Jelaskan metode aktifitas fisik yang dapat membahayakan.
sehari-hari jika perlu

Penurunan curah 1. Identifikasi tanda/gejala 1. Sangat penting ada pengkajian tanda


jantung sekunder penurunan curah penurunan curah jantung.
berhubungan jantung (meliputi peningkatan 2. Indikator kuat klinis dari
dengan gangguan berat bada, hepatomegaly, keadekuatan curah jantung.
katup jantung distensi vena Pemantauan memungkinkan deteksi
(stenosis/regurgitasi jugularis,palpitasi,ronkhi basah dini/tindakan terhadap

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 11


aorta, pulmonalis, moliguria,batuk,kulit pucat ) dekompensasi.
trikuspidalis atau 2. Monitor tekanan darah 3. Menurunkan volume darah yang
mitralis). 3. Posisikan pasien dengan posisi kembali ke jantung (preload),yang
fowler dengan kaki ke bawah memungkinkan
atau posisi nyaman. oksigneasi,menurunkan dyspnea dan
4. Anjurkan beraktivitas fisik regangan jantung.
sesuai toleransi. 4. Melakukan kembali aktivitas secara
5. Rujuk ke program rehabilitas bertahap mencegah pemaksaan
jantung. terhadap cadangan jantung.
5. Penanganan/perbaikan penyakit
katup jantung mungkin perlu untuk
meningkatkan curah jantung atau
mengontrol/mengatasi dekompensasi
jantung.

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 12


A. KESIMPULAN

Rematoid heart disease (RHD) merupakan penyebab terpenting dari penyakit jantung yang di
dapat, baik pada anak maupun pada dewasa. Rematoid fever adalah peradangan akut yang sering
diawali oleh peradangan pada farings. Sedangkan RHD adalah penyakit berulang dan kronis. Pada
umumnya seseorang menderita penyakit rematoid fever akut kira-kira dua minggu sebelumnya pernah
menderita radang tenggorokan. Ada faktor mayor dan minor dalam penyakit RHD.

RHD merupakan komplikasi dari demam rematik dan biasanya terjadi setelah serangan demam
rematik. Insiden penyakit jantung rematik telah dikurangi dengan luas penggunaan antibiotic efektif
terhadap streptokokal bakteri yang menyebabakan demam rematik.

B. SARAN

Jika kita lihat di atas bahwa penyakit RHD sangat mungkin terjadi dengan adanya kejadian awal
yaitu demam rematik (DR). Tentu saja pencegahan yang terbaik adalah bagaimana upaya kita jangan
sampai mengalami demam rematik (terserang infeksi kuman streptokokus beta hemolyticus). Ada
beberapa factor yang dapat mendukung seseorang terserang kuman tersebut, diantaranya factor
lingkungan seperti kondisi kehidupan yang jelek, kondisi tinggal yang berdesakan dan akses kesehatan
yang kurang merupakan determinan yang signifikan dalam distribusi penyakit ini.

Variasi cuaca juga mempunyai peranan yang besar dalam terjadinya infeksi streptokokus untuk
terjadi DR. Seseorang yang terinfeksi kuman streptokokus beta hemolyticus dan mengalami demam
rematik harus diberikan terapi yang maksimal dengan antibiotiknya. Hal ini menghindarkan
kemungkinan serangan kedua kalinya atau bahkan menyebabkan penyakit jantung rematik.

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 13


Tim pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Diagnosa Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan:Dewan
Pengurus Pusat PPNI

Tim pokja SDKI DPP PPNI. (2016). Standar Intervensi Keperawatan Indonesia. Jakarta Selatan:Dewan
Pengurus Pusat PPNI

Udjianti, W.J (2010),Keeperawatan Kardiovaskuler,Jakarta : Salemba Medika.

Willam ,2016. Penyakit Jantung Rematik , Volume 4 No.3.Journal Medula Unila.

Alyssa,Roro ,2017 . Penyakit Jantung Rematik pada Anak Laki-laki Usia 8 Tahun. Volume7 No 2.Journal
Medula Unila.

Rahmawaty Nk,Burhanuddin Iskandar,Husain Albar. 2012. Risiko serangan berulang pasien DR/PJR.Vol 14
No 3 .Sari Pediatri.

Rahayuningsih,Endah Sri , 2011. Demam Rematik Akut. Pendidikan ilmu kesehatan anak berkelanjutan .

Buku Saku Asuhan Keperawatan Anak 14