Anda di halaman 1dari 11

LAPORAN DAN PENDAHULUAN ASUHAN

KEPERAWATAN RHD

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 2

SRI ASTIA HARIS ADE NOVIRA

FITRI RAMDAYANI

KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa karena berkat

limpahan rahmat, hidayah serta inayah-Nya makalah kami yang berjudul “Laporan

Pendahuluan dan Asuhan Keperawatan RHD” dapat terselsaikan. Tak lupa pula kita

kirimkan shalawat serta salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW sebagai

sosok teladan bagi seluruh umat islam.

Penyusunan makalah ini dalam rangka memenuhi kewajiban kami sebagai

mahasiswa untuk melaksanakan tugas yang telah diberikan oleh dosen dan terus

mencoba untuk menimba ilmu. Oleh karena itu kami mengucapkan banyak terima

kasih kepada dosen yang telah senantiasa memberikan bimbingan serta arahan kepada

kami.

Dalam penyusunan makalah ini, kami menyadari bahwa makalah kami ini

belum sempurna dan tidak luput dari kesalahan. Kami dari tim penyusun

mengharpkan kritik dan saran sehingga kami dapat meminimalisir kesalahan. Kami

juga berharap semoga apa yang kami sajikan di makalah ini dapat bermanfaat dan

menambah pengetahua para pembaca. Akhir kata sekian dan terima kasih.

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

Makassar1 Oktober 2019

Penyusun

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS i


DAFTAS ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................................. i


DAFTAR ISI ................................................................................................................ ii

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................................ 1

A. Latar Belakang .................................................................................................. 1

B. Rumusan Masalah ............................................................................................. 2

C. Tujuan Masalah ................................................................................................. 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA................................................................................. 3

A. Definisi HIV/AIDS ........................................................................................... 3

B. Etiologi HIV/AIDS ........................................................................................... 3

C. Patofisiologi HIV/AIDS .................................................................................... 4

D. Manifestasi klinis HIV/AIDS ............................................................................ 5

E. Pemeriksaan Diagnostik HIV/AIDS ................................................................ 6

F. Penatalaksanaan HIV/AIDS .................................................................................... 7

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN ................................................................... 11

A. Pengkajian.......................................................................................................... 11

B. Diagnosa Keperawatan ...................................................................................... 11

C. Intervensi keperawatan ...................................................................................... 11

BAB IV PENUTUP ..................................................................................................... 8

D. Kesimpulan ........................................................................................................ 15

E. Saran .................................................................................................................. 15
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................ 16

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS ii


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perawatan paliatif bukan perawatan kuratif, tapi bersifat suportif,
perawatan berorientasi gejala. Ini mungkin diperlukan pada setiap saat dalam
perjalanan pengembangan penyakit untuk meringankan penderitaan pasien dan
meningkatkan kualitas hidup. Perawatan paliatif penting bagi pasien dengan
kondisi medis, walaupun tidak aktif di rumah sakit. Ini dapat digunakan
bersamaan dengan perawatan khusus penyakit, misalnya HIV/AIDS
(Authorstream, 2014)
Berdasarkan data WHO (2017), Human Immunodeficiency Virus (HIV)
terus menjadi isu kesehatan masyarakat global utama, yang telah menewaskan
lebih dari 35 juta orang sejauh ini. Pada tahun 2016, satu juta orang meninggal
akibat HIV secara global. Ada sekitar 36,7 juta orang yang hidup dengan HIV
pada akhir tahun 2016 dengan 1,8 juta orang baru terinfeksi pada tahun 2016
secara global. HIV menargetkan sistem kekebalan tubuh dan melemahkan sistem
pertahanan tubuh terhadap infeksi dan beberapa jenis kanker. Seiring virus
menghancurkan dan merusak fungsi sel kekebalan tubuh, individu yang
terinfeksi secara bertahap menjadi imunodefisiensi. Tahap paling lanjut dari
infeksi HIV adalah Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS), yang dapat
memakan waktu 2 sampai 15 tahun untuk berkembang tergantung pada individu.
AIDS didefinisikan oleh perkembangan kanker, infeksi, atau manifestasi klinis
berat lainnya (Anggaini, 2019).
Di Indonesia, diambil dari data Pusdatin Kemenkes RI (2016) HIV/AIDS
pertama kali ditemukan di Propinsi Bali pada tahun 1987. Pola penularan HIV
menurut jenis kelamin memiliki pola yang sama seperti beberapa tahun terakhir

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS 1


yaitu lebih banyak terjadi pada kelompok laki-laki dibandingkan dengan
kelompok perempuan. Namun ratio perbandingan antara dua kelompok tersebut
semakin kecil, artinya jumlah infeksi HIV pada kelompok perempuan semakin
mendekati jumlah infeksi HIV pada laki-laki. Hingga Juni 2016, jumlah infeksi
HIV yang dilaporkan sebesar 6.873 pada kelompok perempuan dan 10.974 pada
kelompok laki-laki (Anggaini, 2019).
B. Rumusan Masalah
1. Apa definisi dari HIV/AIDS?
2. Hal apa saja yang dapat menyebabkan kita terserang HIV/AIDS?
3. Bagaimana proses perjalanan virus HIV di dalam tubuh?
4. Apa saja tanda dan gejala pada pasien HIV/AIDS?
5. Bagaimana penegakan diagnosa HIIV/AIDS dengan pemeriksaan diagnostik?
6. Bagaimana penatalaksanaan medis dan non medis untuk HIV/AIDS?
C. Tujuan Penulisan
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan HIV/AIDS dan perawatan paliatif
2. Memahami penyebab dari HIV/AIDS
3. Memahami proses perjalanan virus HIV di dalam tubuh
4. Memahami tanda serta gejala yang ditimbulkan oleh HIV/AIDS
5. Memahami jenis pemeriksaan diagnostik dalam penegakan diagnosa
HIV/AIDS
6. Memahami hal-hal yang dapat dilakukan dalam penatalaksanaan HIV/AIDS

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS 2


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi
B. Etiologi

Penyebab terjadinya penyakit jantung reumatik diperkirakan adalah reaksi


autoimun (kekebalan tubuh) yang disebabkan oleh demam reumatik.
Infeksi streptococcus β hemolitikus grup A pada tenggorok selalu
mendahului terjadinya demam reumatik baik demam reumatik serangan
pertama maupun demam reumatik serangan ulang.Infeksi Streptococcus
beta-hemolyticus grup A pada tenggorok selalu mendahului terjadinya
demam rematik, baik pada serangan pertama maupun serangan ulang.
Karakteristik dari demam rematik adalah reccurence atau cenderung terjadi berulang
(Udjianti, 2010). Selain itu penyakit jantung rematik juga disebabkan oleh reaksi
autoimun dimana tubuh tidak bisa membedakan antara antigen bakteri streptokokus
dengan antigen jaringan jantung, dari penelitian ditemukan adanya kesamaan
polisakarida bagian dinding sel bakteri streptokokus tipe A dengan glikoprotein
dalam katup jantung yang mendukung terjadinya infeksi yang bermanifestasi
terjadinya miokarditis dan valvulitis pada komplikasi demam rematik.

C. Patofisiologi
D. Demam reumatik adalah suatu hasil respon imunologi abnormal yang
disebabkan oleh kelompok kuman A beta-hemolitic treptococcus yang
menyerang pada pharynx. Streptococcus diketahui dapat menghasilkan tidak
kurang dari 20 produk ekstrasel yang terpenting diantaranya ialah streptolisin
O, streptolisin S, hialuronidase, streptokinase, di fosforidin nukleotidase,
deoksiribonuklease serta streptococca erythrogenic toxin. Produk-produk
tersebut merangsang timbulnya antibodi.
E. Demam reumatik yang terjadi diduga akibat kepekaan tubuh yang
berlebihan terhadap beberapa produk tersebut. Sensitivitas sel B antibodi
memproduksi antistreptococcus yang membentuk imun kompleks. Reaksi
silang imun kompleks tersebut dengan sarcolema kardiak menimbulkan
respon peradangan myocardial dan valvular. Peradangan biasanya terjadi pada
katup mitral, yang mana akan menjadi skar dan kerusakan permanen.

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS 3


F. Demam reumatik terjadi 2-6 minggu setelah tidak ada pengobatan atau
pengobatan yang tidak tuntas karena infeksi saluran nafas atas oleh kelompok
kuman A betahemolytic. Mungkin ada predisposisi genetik, dan ruangan yang
sesak khususnya di ruang kelas atau tempat tinggal yang dapat meningkatkan
risiko. Penyebab utama morbiditas dan mortalitas adalah fase akut dan kronik
dengan karditis.

G. Manifestasi Klinis HIV/AIDS

Gejala jantung yang muncul tergantung pada bagian jantung yang terkena. Katup mitral
adalah yang sering terkena, menimbulkan gejala gagal jantung kiri: sesak napas dengan
krekels dan wheezing pada paru. Beratnya gejala tergantung pada ukuran dan lokasi lesi.
Gejala sistemik yang terjadi akan sesuai dengan virulensi organisme yang menyerang. Bila
ditemukan murmur pada seseorang yang menderita infeksi sistemik, maka harus dicurigai
adanya infeksi endokarditis.

Demam reumatik merupakan kumpulan sejumlah gejala dan tanda klinik. Demam
reumatik merupakan penyakit pada banyak sistem, mengenai terutama jantung, sendi, otak
dan jaringan kulit. Tanda dan gejala akut demam reumatik bervariasi tergantung organ yang
terlibat dan derajat keterlibatannya. Biasanya gejala-gejala ini berlangsung satu sampai
enam minggu setelah infeksi oleh Streptococcus.

Perjalanan klinis penyakit demam reumatik / penyakit jantung reumatik dapat dibagi
dalam 4 stadium.

1. Stadium I
Berupa infeksi saluran nafas atas oleh kuman Beta Streptococcus Hemolyticus Grup A.

Keluhan : Demam, Batuk, Rasa sakit waktu menelan, Muntah, Diare dan Peradangan pada
tonsil yang disertai eksudat.

2. Stadium II
Stadium ini disebut juga periode laten, ialah masa antara infeksi streptococcus dengan
permulaan gejala demam reumatik, biasanya periode ini berlangsung 1 – 3 minggu.

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS 4


3. Stadium III
Yang dimaksud dengan stadium III ini ialah fase akut demam reumatik, saat ini
timbulnya berbagai manifestasi klinis demam reumatik /penyakit jantung reumatik.
Manifestasi klinis tersebut dapat digolongkan dalam gejala peradangan umum dan
menifestasi spesifik demam reumatik /penyakit jantung reumatik.

Gejala peradangan umum : Demam yang tinggi, lesu, anoreksia, berat badan menurun,
kelihatan pucat, epistaksis, athralgia, rasa sakit disekitar sendi dan sakit perut.

4. Stadium IV
Disebut juga stadium inaktif. Pada stadium ini penderita demam reumatik tanpa
kelainan jantung / penderita penyakit jantung reumatik tanpa gejala sisa katup tidak
menunjukkan gejala apa-apa.

Pada penderita penyakit jantung reumatik dengan gejala sisa kelainan katup jantung,
gejala yang timbul sesuai dengan jenis serta beratnya kelainan. Pasa fase ini baik penderita
demam reumatik maupun penyakit jantung reumatik sewaktu-waktu dapat mengalami
reaktivasi penyakitnya.

Kriteria WHO Tahun 2002-2003 untuk Diagnosis DRA dan PJR (Berdasarkan Revisi

Kriteria Jones) 8

1. Demam Reumatik serangan pertama: Dua mayor atau satu mayor dan dua minor
ditambah dengan bukti infeksi Streptococcus beta hemolyticus group A sebelumnya
2. Demam Reumatik serangan berulang tanpa PJR: Dua mayor atau satu mayor dan dua
minor ditambah dengan bukti infeksi Streptococcus beta hemolyticus group A
sebelumnya
3. Demam Reumatik serangan berulang dengan PJR: Dua minor ditambah dengan bukti
infeksi Streptococcus beta hemolyticus group A sebelumnya
4. Korea Reumatik: Tidak diperlukan kriteria mayor lainnya atau bukti infeksi
Streptococcus beta hemolyticus group A

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS 5


5. PJR (stenosis mitral murni atau kombinasi dengan insufisiensi mitral dan/atau
gangguan katup aorta): Tidak diperlukan kriteria lainnya untuk mendiagnosis sebagai
PJR
Manifestasi DRA atau RHD bisa berupa variasi gejala yang bisa terjadi sendiri atau
bersamaan, diantaranya:

a. Nyeri tenggorokan :
Hanya 35-60% penderita DRAyang ingat adanya infeksi saluran nafas atas pada
beberapa minggu sebelumnya. Kebanyakan tidak mengobati keluhannya.3,7

b. Polyarthritis :
Risiko artritis adalah 75% pada serangan pertama demam rematik, dan resiko ini
semakin meningkat dengan peningkatan usia. Artritis merupakan manifestasi utama pada
92% usia dewasa. Artritis pada DRAbiasanya simetris dan mengenai sendi utama seperti
lutut, siku, pergelangan tangan, dan pergelangan kaki. Beberapa sendi sekaligus bisa terkena
biasanya radang pada sendi lain akan mulai sebelum radang sendi sebelumnya mereda
sehingga timbul gambaran seolah-olah nyeri sendi berpindah pindah (migratory).

c. Sydenham chorea
Terjadi pada 25% kasus DRAdan sangat jarang pada dewasa.Terutama pada anak
perempuan. Sydenham chorea pada DRAterutama karena molekular mimikri dengan
autoantibodi yang bereaksi terhadap ganglion otak. 3-7 Insidensi sydenham chorea muncul
dalam 1-6 bulan setelah infeksi streptokokus, progresif secara perlahan dan memberat
dalam 1-2 bulan.Kelainan neurologis berupa gerakan involunter yang tidak terkoordinasi
(choreiform), pada muka, leher, tangan dan kaki. Disertai dengan gangguan kontraksi
tetanik dimana penderita tidak bisa menggenggam tangan pemeriksa secara kuat terus
menerus (milk sign).

d. Erythema marginatum
Muncul dalam 10% serangan pertama DRAbiasanya pada anak anak, jarang pada
dewasa.Lesi berwarna merah, tidak nyeri dan tidak gatal dan biasanya pada batang tubuh,
lesi berupa cincin yang meluas secara sentrifugal sementara bagian tengah cincin akan
kembali normal.

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS 6


e. Nodul subkutan
Nodul subkutan muncul beberapa minggu setelah onset demam rematik, dan biasanya
tidak disadari penderita karena tidak nyeri.Biasanya berkaitan dengan karditis berat,
lokasinya di permukaan tulang dan tendon, serta menghilang setelah 1-2 minggu.

f. Karditis
Frekuensi karditis 30-60% pada serangan pertama, dan sering pada anak anak.Karditis
adalah satu satunya komplikasi DRAyang bisa menimbulkan efek jangka
panjang.Kelainannya berupa pankarditis, yaitu mengenai perikardium, epikardium,
miokardium dan endokardium. Pada DRA sering terjadi pankarditis yang ditandai dengan
perikarditis, myokarditis dan endokarditis.

Manifestasi klinis pada penyakit jantung rematik adalah komplikasi dari


demam rematik berupa (Jones, 1982 & Sharon 2011 & Brunner & Suddart ):

o Peradangan pada jantung yang berakibat pada munculnya miokarditis dan


endokarditis
o Dapat berupa gagal jantung, termasuk didalamnya dyspnea, edema,
takikardia, dan yang lebih parah adalah murmur jantung
o Gejala kardiak penderita penyakit jantung rematik :
 Infeksi `dan peradangan jantung : sesak napas, dada terasa tidak
nyaman, nyeri dada, bengkak atau edema, batuk saat
berbaring/ortopnea
 Karditis yaitu suatu peradangan jantung yang ditandai dengan adanya
bising jantung atau terjadinya takikardia, kondisi dimana jantung
berdetak lebih dari 100 kali per menit
 Murmur yaitu kondisi dimana jantung mengeluarkan suara bising yang
disebabkan oleh gangguan katup jantung atau yang disebut insufisiensi
jantung.

H. Pemeriksaan Diagnostik
I. Penatalaksanaan

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS 7


BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

Palliative Care pada Pasien HIV/AIDS 8