Anda di halaman 1dari 7

TOPIK 4

MENGAMATI KELEMBABAN UDARA DI DALAM KULKAS (LEMARI


PENDINGIN)

A. TUJUAN
Tujuan Praktikum Fisika Dasar Topik 4 Mengamati Kelembaban
Udara di dalam Kulkas (Lemari Pendingin) adalah mahasiswa dapat
mengetahui bagaimanakah kondisi kelembaban udara di dalam kulkas (lemari
pendingin) bila dibandingkan dengan kondisi udara di luar kulkas.

B. TINJAUAN PUSTAKA
Kelembaban merupakan ukuran kehadiran uap air di udara. Jumlah
uap air mempengaruhi proses-proses fisika, kimia, dan biologi di alam.
Jumlah uap air di udara dapat mempengaruhi kenyamanan manusia begitupun
proses produksi di industri dan secara umum berpengaruh terhadap
lingkungan makhluk hidup. Ada dua tipe sensor kelembaban yang ada di
pasaran adalah sensor kapasitif dan resistif. Kelembabab resistif biasanya
menggunakan bahan-bahan oksida keramik seperti TiO2 sedangkan sensor
kelembaban kapasitif menggunakan bahan-bahan polimer seperti PMMA.
Sensor kelembaban lainnya didasarkan atas perubahan sifat optik bahan
terhadap perubahan kelembaban, diantaranya menggunakan hydrogen yang
mengalami pembengkakan ketika menyerap uap air (Maddu, 2006).
Banyaknya molekul air di udara dapat berubah-ubah dan diwujudkan
ke bentuk fisis tekanan uap air di dalam udara. Kelembaban maksimum yang
terjaga adalah tekanan uap air di udara yang mengalami kejenuhan. Tingkat
kejenuhan sangat dipengaruhi oleh temperatur. Kelembaban relative adalah
perbandingan jumlah uap air yang dikandung udara terhadap jumlah uap air
maksimum (Wardana, 2013).
Variable-variabel kelembaban, kandungan uap air atmosfer dapat
diperlihatkan dengan berbagai cara. Tekanan uap yang dinyatakan dalam
milibar, telah diuraikan. Tetapi dalam penggunaan yang lebih sering, satuan
lainnya dipakai untuk menyatakan kandungan uap air. Besaran-besaran
tersebut bersama-sama dengan tekanan uap dikenal sebagai variabel
kelembaban atau humiditas. Di samping tekanan uap, satuan berikut ini
digunakan untuk menjelaskan kandungan uap air udara basah yaitu: humiditas
spesifik, dari suatu kantung udara adalah perbandingan massa uap air
terhadap massa total dari udara basah. Humiditas relatif, satu ukuran
bagaimana dekatnya udara untuk menjadi jenuh pada temperatur tertentu.
Humiditas absolute (mutlak) dinyatakan sebagai massa uap air di dalam satu
volume udara yang tetap. Temperatur titik embun selalu lebih rendah dari
temperatur udara dan titik embun sama (Andani, 1995).
Kelembaban udara menggambarkan bkandungan uap air di udara yang
dapat dinyatakan sebagai kelembaban mutlak, kelembaban nisbi (relatif)
maupun deficit tekanan uap air. Kelembaban mutlak adalah kandungan uap
air per satuan volume. Kelembaban nisbi membandingkan antara
kandungan/tekanan uap air actual dengan keadaan jenuhnya atau pada
kapasitas udara untuk menampung uap air. Kapasitas udara untuk
menampung uap air tersebut ditentukan oleh suhu udara. Sedangkan defisit
tekanan uap air adalah selisih antara tekanan uap jenuh dan tekanan uap
aktual. Sebagai contoh, laju penguapan dari permukaan tanah lebih ditentukan
oleh defisit tekanan uap air daripada kelembaban mutlak maupun nisbi.
Sedangkan pengembunan akan terjaid bila kelembaban nisbi telah mencapai
100% meskipun tekanan uap aktualnya relatif rendah (Handoko, 1995).
Kelembaban absolut didefinisikan sebagai tekanan parsial P uap air.
Kelembaban relatif didefinisikan sebagai hasil bagi dari tekanan uap air dan
tekanan saturasi pada suhu yang ada (Frauenfelder, 1963). Penyimpanan
benih di daerah tropis sering mengalami kendala terutama karena masalah
kelembaban yang tinggi. Oleh karena itu dalam penyimpanan benih,
khususnya benih ortodok pemilihan materi kemasan sangat penting, agar
kadar air benih tidak mengalami perubahan selama penyimpanan dan
vsisibilitas benih dapat dipertahankan (Rahayu, 2007).
Banyak faktor yang mempengaruhi stabilitas protein selama
penyimpanan. Antara kelembaban dan suhu sangat penting. Banyak laporan
menyebutkan dampak suhu dan kelembaban pada perlindungan dan
donaturasi akibat tekan termal disebabkan oleh proses pengeringan
(Zarrintan, 2006).
Unit mesin kulkas dibedakan dalam 2 macam susunan yaitu unit
mesin kulkas yang terbuka dan unit mesin kulkas yang tertutup. Pada
umumnya unit kulkas yang terbuka digunakan untuk keperluan kamar dingin
ukuran besar yang digunakan bagi perusahaan-perusahaan. Yang
dimaksudkan dengan unit mesin kulkas terbuka adalah keadaan motor listrik
dengan kompresornya terpisah. Kulkas-kulkas yang digunakan untuk
keperluan rumah tangga memakai unit mesin kulkas yang terutup dan lebih
dikenal dengan nama sealed unit yang artinya motor listrik beserta
kompresornya disimpan atau ditempatkan di dalam suatu bejana yang tertutup
rapat, sehingga adanya suatu jaminan gas freon tidak dapat keluar (bocor).
Keuntungan dari unit mesin kulkas tertutup mempunyai susunan kronstruksi
yang sangat sederhana, dimana dari motor listrik itu juga merupakan bagian
kulkas dari kompresor (Diks, 2004).
Prinsip operasi lemari es, AC, dan pompa kalor adalah kebalikan
mesin kalor. Masing-masing dioperasikan untuk mentransfer kalor dari
lingkungan dingin ke lingkungan panas. Kerja W selalu dilakukan oleh motor
kompresor yang memampatkan cairan. Lemari es yang sempurna yang tidak
ada kerja yang dibutuhkan untuk mengambil kao dari daerah suhu rendah ke
daerah suhu tinggi, tidak mungkin. Ini merupakan dalil Calsius untuk hukum
termodinamika kedua. Kalor tidak dapat mengalir secara spontan dari obyek
yang dingin ke obyek yang kalor. Untuk melakukan setiap kerja secara baik,
kerja harus dilakukan. Jadi, tidak mungkin ada lemari es yang sempurna
(Giancoli, 1997).
Dalam kenikmatan konsumen dari makanan, persepsi cripness sama
pentingnya untuk kesegaran , sayangnya bagi produsen kerucut, bahan
kerucut rentan terhadap penyerapan air (Goerlitz, 2007).
C. METODE PENELITIAN
1. Alat
a. Kulkas
2. Bahan
a. Krupuk 3 jenis
3. Cara kerja

Penyiapan tiga jenis kerupuk


sebanyak 4 buah untuk
masing-masing perlakuan

Peletakan tiga jenis kerupuk


di tempat yang berbeda, yaitu
dalam kulkan(freezer, chiller,
termpat sayur) dan diluar
kulkas

Perlakuan selama 10 jam

Pengamatan kerenyahan
masing-masing kerupuk

Pencatatan data hasil


pengamatan

Gambar 3.1 Diagram Alir Proses Pengukuran Kelembaban Udara Pada Kerupuk
DAFTAR PUSTAKA

Diks, M.E. 2004. Teknik Pendingin dan Reparasinya. Bumi Aksara. Jakarta.
Frauenfelder, P., P. Huber. 1963. Introduction to Physics Volume 1 Mechanics,
Hyfrodynamics Termodynamics. Pergamon Press. New York.
Giancoli, Douglas C. 1997. Fisika Jilid 1 Edisi Empat. Erlangga. Jakarta.
Goerlitz, Christine D., W. James Harper., Jeannine F. Delwiche. 2007.
Relationship of Water Activity to Cone Crispness As Assessed by
Positional Relative Rating. Journal of Sensory Studies 22.
Handoko. 1995. Klimatologi Dasar Landasan Pemahaman Fisika Atmosfer dan
Unsur-Unsur Iklim. Pustaka Jaya. Jakarta.
Maddu, Akhiruddin., Kun Modjahidin., Sar Sardy., Hamdani Zain. 2006.
Pengaruh Kelembaban terhadap Sifat Optik Film Gelatin. Makara Sains,
Vol. 10, No. 1.
Rahayu, Esti., Eeny Widajati. 2007. Pengaruh Kemasan, Kondisi Ruang dan
Periode Simpan terhadap Viabilitas Benih Caisin Brassica chinensis L.
Bul. Agron, Vol 35, No. 3.
Trewartha, Glenn T., Lyle H. Horn. 1995. Pengantar Iklim Edisi Kelima. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Wardana, Mochamad Adi., Melania S Muntini., Agus Muhammad Hatta. 2011.
Perancangan dan Pembuatan Sistem Pengukuran Kelembaban Udara
Menggunakan POF. Pusat Penelitian Fisika-LIPI. ISSN 2088-4176.
Zarritan, Mohammad Hussein., Hak-Kim Chan., Farnaz Monazjjemzadeh. 2006.
The Effect of Humidity and Compactional Pressure on the Wheat Germ
Lipase Activity. Iranian Journal of Pharmaceutical Research (2006)4 : 245-
248.
Lampiran :
DOKUMENTASI TOPIK 4
MENGAMATI KELEMBABAN UDARA DI DALAM KULKAS

Gambar 4.2 Perlakuan kerupuk dalam freezer

Gambar 4.2 Perlakuan kerupuk luar kulkas


Gambar 4.3 Perlakuan kerupuk dalam chiller